[Special Event: Out of Playroom] Kaluta a Jeho Tradice

Ditulis oleh Angelina Triaf

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre adventure.

Menurutmu, apakah kami bisa bertahan selama enam bulan sendirian di alam liar?

0o0

Hal yang lumayan dibenci oleh Kaluta adalah tanah becek sehabis hujan di malam sebelumnya. Kadang-kadang ia sampai terpeleset dengan bokong yang mencium akar-akar besar di hutan dekat pemukiman. Beruntung jika tak ada orang lain yang melihat, tetapi biasanya teman-temannya akan dengan senang hati menjadi penonton atas kejadian tersebut.

Sama halnya dengan hari kemarin, Kaluta telah bangun sejak matahari belum menunjukkan sinarnya, menyempatkan diri berdoa sejenak pada dewa semoga hari ini akan menjadi hari yang indah. Lalu sang kakak yang hanya terpaut satu tahun darinya itu mengajaknya untuk mencari kayu bakar bersama, terkadang mereka juga memburu binatang malam yang hendak kembali ke sarangnya.

Syukurlah kali ini ia tak menjadi kikuk mendadak dan terpeleset untuk yang kesekian kali. Dengan selamat dapat kembali ke rumah membawa cukup banyak ranting-ranting berukuran sedang untuk ibunya memasak pagi ini. Kakaknya terlihat memanggul hewan besar jenis pengerat berkantung di bahu kanan dan membawa beberapa dahan berukuran besar di tangan kiri.

“Letakkan di situ saja, pagi ini kita akan makan daging yang masih tersisa semalam.”

Wanika―kakaknya Kaluta―mengangguk dan langsung menaruh hewan yang dibawanya seperti apa yang diperintahkan sang ibu. Ia lalu mengambil daging buaya yang tinggal tersisa bagian tubuh sampai ekornya untuk diberikan kepada wanita itu. Walaupun seorang laki-laki, ia cukup sering membantu ibunya di dapur sebentar sebelum melakukan aktivitas seperti biasanya.

Di samping bilik ruangan yang berfungsi sebagai dapur itu, Kaluta baru saja selesai menata ranting yang ia bawa. Matanya menelisik ke segala arah, mencari kapak buatan sang ayah yang biasanya menggantung tepat di atas tumpukan kayu bakar.

“Kak, apa kau tahu kapak ada di mana?”

Tepat sekali ketika Wanika baru saja keluar untuk menghampirinya, berpikir sejenak tentang kapak yang Kaluta maksud. “Mungkin dibawa oleh Ayah? Sebentar, sepertinya masih ada satu lagi di dapur.”

Kaluta melamun, memandangi pemukimannya dan hutan secara bergantian―kebetulan rumahnya berada di bagian pinggir dekat hutan. Ia jadi teringat ucapan ayahnya beberapa hari lalu, tentang sebuah tempat yang pernah beliau datangi dulu saat muda.

“Ini,” ucap Wanika dengan tangan yang memberikan kapak pada Kaluta. “Aku akan bergabung dengan pemuda yang lainnya. Kalau sudah selesai datanglah ke sana.”

“Iya.”

Langkah Wanika semakin membuatnya menjauh, bersamaan dengan kesadaran Kaluta yang rupanya sedari tadi belum kunjung kembali. Kini ia memosisikan diri di hadapan beberapa dahan besar yang tadi kakaknya kumpulkan, membelahnya satu per satu sampai ukuran yang pas untuk dipakai memasak.

Hari demi hari dilalui seperti ini, membantu orangtua di pagi hari lalu bermain dengan teman-teman saat siang hingga berkumpul di sekeliling api unggun ketika malam menjelang bersama penduduk yang lainnya. Di musim kemarau mereka akan membuat upacara pemanggilan hujan sederhana demi kebaikan hati sang dewa.

Ada satu hal yang Kaluta benci sekaligus sukai; berpindah pemukiman ke tempat lain. Biasanya ada beberapa alasan, ketika bahan makanan di lingkungan itu sudah mulai habis atau dirasanya sudah tak aman lagi lantaran banyak binatang buas atau pemburu tak dikenal yang tahu-tahu datang.

Hal yang dibencinya ketika berpindah tempat adalah betapa repotnya saat merapikan barang-barang yang perlu dibawa juga bagaimana nanti mereka mendirikan pemukiman baru di sana. Harus mengumpulkan dedaunan dan kayu yang banyak untuk membangun gubuk, mencari titik kawasan yang tepat untuk berburu hewan dan kalau dewa sedang berbaik hati biasanya mereka akan menemukan tumbuhan jenis baru yang ternyata bisa ditanam di pekarangan untuk dijadikan bahan makanan.

Kebalikannya, ia sangat suka menemukan sesuatu yang baru. Saat berpindah tempat Kaluta selalu memerhatikan sekeliling ketika berjalan dalam rombongan. Melewati hutan dan tak jarang diharuskan untuk menyeberangi sungai. Pernah waktu itu mereka bertemu dengan sekumpulan buaya yang berakhir dengan tombak di kepala buaya-buaya itu. Jangan remehkan kekuatan para lelaki suku Aborigin.

“Kaluta, tolong bawakan beberapa kayu bakar!”

Tak terasa tinggal dua buah dahan lagi. Kaluta meninggalkan kapaknya menancap di salah satu dahan lalu mengambil beberapa kayu untuk diberikan pada ibunya. Ia tak mendapati kuali besar di atas tungku seperti biasa. Rupanya wanita itu tak sedang memasak sesuatu yang berkuah. “Itu apa, Bu?”

“Daging yang Ayah bawa kemarin siang, masih ada separuh badan lagi. Akan lebih enak jika dimakan dengan jamur.”

Memang dasarnya Kaluta tidak tahu-menahu tentang bahan makanan di dapur layaknya sang kakak, kepalanya hanya bisa refleks mengangguk tanda mengerti. Kaluta pun kembali keluar rumah untuk meneruskan membelah kayu yang tinggal sedikit lagi.

“Kaluta!”

Agak jauh di dekat rumah Bibi Muai, Kaluta dapat dengan jelas melihat salah satu temannya kini tengah berjalan ke arahnya. Bersamaan dengan potongan dahan terakhir, ia meletakkan kapak tadi di atas tumpukan kayu bakar lalu menyambut kedatangan orang itu.

“Kepala Suku mencarimu.”

“Apa?”

Kaget, itu pasti. Pasalnya, untuk apa Kepala Suku mencarinya? Tak biasanya begini.

“Ini berkaitan dengan tradisi mendewasakan diri itu.”

Mulutnya membulat, kembali mengingat-ingat tentang apa yang kawannya ini ucapkan. Kegiatan mendewasakan diri bagi suku mereka ialah ketika para anak pemuda yang sekiranya dianggap cukup dewasa melakukan perjalanan seorang diri selama enam bulan ke sebuah gurun pasir terdekat. Berhubung tempat tinggal mereka berpindah-pindah, tak ada yang pernah tahu pasti di mana dan berapa jarak yang harus ditempuh untuk menuju ke gurun tersebut.

“Jadi, apakah aku akan melakukan tradisi itu untuk tahun ini?” tanya Kaluta, ada perasaan senang sekaligus takut di saat yang bersamaan.

“Mungkin? Kudengar akan ada banyak pemuda yang melakukannya tahun ini.”

“Tapi tetap saja harus berkelana seorang diri,” timpal Kaluta, memancing cengiran dari sang kawan.

“Baguslah kalau kau sudah tahu. Ya sudah, ayo cepat.”

Menyempatkan diri untuk pamit pada sang ibu, akhirnya Kaluta berjalan mengikuti temannya menuju rumah kepala suku yang berada di bagian tengah pemukiman. Ada banyak gantungan serupa jimat dan tombak serta benda-benda tajam lainnya buatan sendiri yang juga menggantung di sekeliling rumah, itulah yang membuat rumah sang Kepala Suku menjadi khas dan mudah dibedakan dari yang lainnya.

“Duya, kau juga akan berkelana tahun ini bersamaku?” Hanya iseng, Kaluta jadi menanyakan hal konyol itu pada sang kawan.

“Aku lebih muda darimu, jangan bercanda. Tapi … mungkin aku akan berangkat tahun depan? Kita lihat saja.”

Membalas dengan tawa konyol, memang itulah jawaban yang seharusnya Kaluta dapatkan dari Duya. Melihat dari situasi, sepertinya Kaluta akan melakukan perjalanan bersamaan dengan kakaknya karena mereka hanya terpaut satu tahun.

“Kaluta!”

Benar, ‘kan? Wanika melambaikan tangan padanya dari depan kediaman kepala suku. Ada sekitar tiga pemuda lainnya yang seumuran keduanya, serta beberapa lelaki dewasa termasuk ayahnya dan sang Kepala Suku.

“Kau lama sekali, Nak.” Sang ayah menyentil keningnya, sementara si korban sentilan hanya tertawa kecil dibuatnya. Semua sudah lengkap berkumpul, Kepala Suku meminta mereka untuk duduk melingkar di atas tanah, hendak mendiskusikan apa yang akan menjadi topik pembicaraan untuk hari ini.

“Mari semuanya, kita panjatkan puja pada Dewa yang agung.”

Seperti biasa, suasana khidmat tercipta ketika semua memanjatkan doa. Leluhur selalu mengajarkan pada mereka tentang betapa pentingnya berdoa demi keselamatan atas segala apa yang hendak dilakukan.

“Hari ini kita berkumpul untuk membicarakan tentang tradisi bagi anak-anak lelaki yang sebentar lagi akan beranjak dewasa.” Pembukaan oleh Kepala Suku diperhatikan dengan saksama oleh yang lainnya. Begitu pula dengan Kaluta, mendengar kabar tentang ia yang akan berangkat untuk menjalani tradisi tahun ini membuat detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya.

“Tahun ini akan ada lima orang yang melakukan pengembaraan menuju gurun,” lanjut Kepala Suku dengan tenang. “Untuk Balu, Kula, Wanika, Sata dan Kaluta, kalian akan memulai perjalanan lusa saat matahari terbit.”

Semua masih terlihat tenang, para orang dewasa menunjukkan ekspresi bangga yang tersirat. Bagaimana tidak, sebentar lagi anak mereka akan menjalani tradisi yang dianggap perlu dalam proses menuju dewasa, apalagi mereka adalah laki-laki yang kelak akan memimpin keluarga masing-masing.

Detilnya adalah, mereka akan melakukan perjalanan seorang diri menuju gurun pasir dan diharuskan untuk hidup mandiri di sana selama enam bulan. Membangun tempat tinggal sendiri, mencari makanan serta berusaha mempertahankan hidup kalau-kalau bertemu dengan binatang buas. Semua itu untuk menguji apakah mereka layak untuk disebut telah dewasa atau tidak.

“Baiklah, untuk sekarang cukup. Silakan mempersiapkan segala keperluan kalian di rumah mulai sekarang.”

Semua orang bubar dan kembali ke rumah masing-masing, begitu pula dengan Kaluta dan Wanika yang berjalan bersama dengan sang ayah.

“Tak kusangka bahwa dua anakku akan pergi bersamaan tahun ini untuk waktu yang cukup lama.”

Bangga dan sedikit sedih, itulah yang Kaluta dan Wanika tangkap dari ucapan sang ayah. Mereka tersenyum kecil, membiarkan pria paruh baya itu berjalan mendahului mereka secara alamiah.

“Kau dengar? Dua hari lagi kita harus hidup seorang diri tanpa bantuan siapa pun.” Wanika membuka percakapan dengan sang adik yang ternyata melamun.

“Menurutmu kita bisa melalui ini nanti?” tanya Kaluta dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.

Wanika terlihat berpikir sebentar. “Tentu saja bisa. Buktinya Ayah dan pria lainnya masih hidup bersama kita sampai sekarang.”

Gurauan diselipkan di sana, tapi tak dipungkiri bahwa keduanya merasakan hal yang sama. Senang dengan tantangan yang akan mereka lalui, tetapi takut juga dengan pengandaian tentang kegagalan yang mungkin saja terjadi.

Yang pasti, mereka berdua tak bisa mundur lagi dari tradisi. Semuanya akan berjalan dengan baik jika mereka sekarang mempersiapkan semuanya dengan baik pula.

0o0

Ayah membantu mereka dalam menyiapkan apa saja yang diperlukan keduanya; pakaian secukupnya, alat-alat untuk bertahan hidup, juga sang ibu yang kini tengah sibuk di dapur demi mempersiapkan bekal secukupnya untuk mereka bawa di perjalanan.

“Ayah jadi ingat saat melakukan perjalanan seperti kalian. Waktu itu kebetulan pemukiman kita terletak tak jauh dari gurun dan Dewa sepertinya sedang berbaik hati padaku.”

Benar, Kaluta dan Wanika teringat lagi akan letak pemukiman mereka yang entah apakah berada dekat dengan sebuah gurun atau tidak. Beruntung jika iya, kalau tidak? Mereka terpaksa harus mencari jalan dengan insting dan pengetahuan tentang bertahan hidup di alam liar seperti yang pernah diajarkan oleh para orang dewasa.

“Ayah,” panggil Kaluta cukup pelan.

“Iya, Nak.”

“Menurutmu, apakah kami bisa bertahan selama enam bulan sendirian di alam liar?”

Kaluta memang lebih penakut daripada sang kakak, terbukti dari keseharian mereka selama ini. Maka tak heran jika pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya begitu saja.

Seperti orangtua pada umumnya, ayah mereka tersenyum hendak memberikan semangat untuk si bungsu. “Kalian pasti bisa. Selama kalian mengikuti apa yang telah kami ajarkan, semuanya akan baik-baik saja.”

Ajaibnya, ucapan bernada tenang dari beliau membuat Kaluta dan Wanika lebih percaya diri dari sebelumnya. Setelah bersenang-senang dengan kawan-kawan di sekeliling api unggun beberapa waktu lalu, memainkan didgeridoo dengan suara merdu, keduanya akan memulai perjalanan mereka saat matahari terbit keesokan harinya.

Sekali lagi meyakinkan diri bahwa mereka akan baik-baik saja dan pulang dengan rasa bangga yang bisa ditunjukkan pada penduduk lainnya.

0o0

Kelima pemuda dibawa berpencar oleh masing-masing dua orang dewasa yang menemani. Mereka akan memulai perjalanan dari arah yang berbeda sesuai dengan petunjuk kepala suku. Kebetulan Kaluta diantarkan oleh ayahnya sendiri beserta tetangga mereka yang sudah akrab ia panggil paman.

“Dari sini kau harus berjalan sendirian,” ujar ayah sembari menepuk bahunya. Di tangan beliau terdapat dua buah tombak yang cukup panjang dengan mata tombak yang sangat runcing. Ayahnya mengasah tombak itu beberapa jam sebelum Kaluta pergi, dalam artian harus bangun kisaran dini hari dan menahan kantuknya demi hal tersebut.

“Mungkin kau bertanya-tanya kenapa Ayah lebih memilih memberikanmu tombak kembar ini ketimbang bumerang kesayanganku yang selalu tergantung di dalam bilik kamar.”

Sebenarnya Kaluta tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ayahnya berikan. Ia yakin, apa pun itu adalah benda terbaik yang telah beliau pikirkan matang-matang untuk kedua anaknya.

“Ayah sangat tahu bahwa Wanika lebih pandai menggunakan bumerang di alam liar. Jadi, Ayah harap kau juga bisa menggunakan dua tombak ini dengan bijak. Jangan salah memilih tumbuhan dan burulah hewan seperlunya untuk kau makan, jangan berlebihan.”

Kaluta berdoa sebentar pada dewa, memohon keselamatan atas hidupnya. Di sinilah perjalanannya dimulai. Langkah kakinya membawa Kaluta menjauh dari batas pinggir pemukiman. Di luar dugaan, ternyata ia bisa berjalan dengan sangat santai membelah hutan di hadapannya.

Aku sudah pernah berkelana jauh di daerah ini, kudengar dari Duya jika gurun terletak di seberang sungai.

Suara hutan telah menjadi akrab di telinganya. Semalam juga tak turun hujan sehingga Kaluta tak harus berjalan di atas tanah yang becek, salah satu faktor yang membuat suasana hatinya tetap baik untuk melakukan perjalanan.

Ibu juga membawakanku bekal yang kemungkinan akan bertahan selama tiga hari. Aku harus bisa sampai di gurun sebelum persediaan habis.

Ia terus berpikir dalam tiap langkahnya, merencanakan dengan matang hal apa saja yang harus dan akan ia lakukan untuk bertahan hidup. Matanya menelusuri pemandangan hutan. Pohon-pohon besar mulai semakin banyak terlihat, menandakan bahwa ia semakin jauh masuk ke dalam hutan.

Tak ada yang tahu, bahwa Kaluta sering diam-diam pergi menjajal hutan bersama dengan Duya dan pemuda lainnya. Daerah ini masih familiar baginya, itu mungkin yang menjadikan Kaluta merasa santai dalam perjalanan kali ini.

Ada banyak hal yang bisa ia lihat, tetapi didominasi dengan semak belukar dan juga batang-batang pohon tinggi yang menjulang sampai langit. Di sisi kanan, ia mendapati seekor burung tak dikenal yang bertengger di atas sebuah dahan. Tak jauh dari sana, samar Kaluta juga melihat sebuah gerakan yang masih belum jelas apa itu.

“Itu apa .…” gumamnya pelan, membuatnya menghentikan langkah untuk sejenak.

Barulah Kaluta sadari jika benda yang bergerak itu adalah .…

Ular.

Menyadari dugaannya benar, buru-buru ia kembali melangkah menjauhi pohon itu tanpa ingin tahu bagaimana nasib si burung kemudian.

Sungguh tak diduga bahwa Kaluta nyatanya belum merasakan lapar padahal ia belum makan apa pun hari ini. Kaluta kelewat bersemangat, ternyata ketakutannya dua hari kemarin tak banyak terbukti. Instingnya sebagai pemuda suku Aborigin mulai terbangun sepanjang perjalanan ini.

Apakah aku dan Duya benar-benar berjalan sejauh ini? Daerah ini masih belum terasa asing. Kaluta kembali dengan pikirannya tantang hutan ini. Seingatku akan ada aliran kecil cabang sungai tak jauh dari sini. Ibu membawakanku beberapa kantung air kosong untuk menyimpan air.

Benar saja, Kaluta rasa ia baru berjalan sebentar sejak memikirkan hal itu, namun sudah terdengar suara air mengalir di depan sana. Ia mengeluarkan kantung yang tadi dimaksudnya kemudian menaruhnya di aliran air, membiarkan kantung itu terisi penuh. Kaluta juga memutuskan untuk beristirahat sejenak di sana, duduk menyandar akar pohon terdekat sembari menatap langit yang lumayan tertutup dedaunan di atas pohon tinggi.

Langit beranjak jingga, membuat Kaluta tersadar bahwa ia sudah cukup lama berjalan dari pemukiman dan duduk di sini.

Apa aku sebaiknya makan dan tidur di sini?

Kaluta menimbang sejenak, memperhatikan sekeliling sebelum akhirnya berucap, “Ya, lebih baik beristirahat di sini saja.”

Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kulitnya; dua buah batu yang biasa ia gunakan untuk membuat api kala bermain dengan teman-teman di malam hari. Soal api unggun, bisa dibilang Kaluta cukup mahir membuatnya. Matanya menelusuri sekitar, mengambil beberapa ranting kecil kering lalu ditumpuknya bersama dedaunan cokelat. Hanya dalam beberapa gesekan, percikan api pun muncul dan membakar dedaunan di bawahnya.

Setelah api cukup besar untuk membuatnya hangat, dikeluarkanlah bekal yang telah ibunya siapkan lalu Kaluta makan dalam diam. Berada di tengah hutan seorang diri ternyata lumayan menyeramkan.

Aku yakin malam ini tak akan hujan, jadi bisa tidur seperti ini saja.

Perut yang kenyang membuat matanya mengantuk. Kembali ia mengumpulkan dedaunan kering untuk dijadikan alas tidur, dengan kepala yang terkulai di atas akar pohon bertumpu satu lengannya.

Hari pertama perjalanan dilalui dengan baik, semoga saja tak ada gangguan berarti yang akan menimpa Kaluta di hari mendatang.

0o0

Terbiasa bangun sebelum matahari terbit, Kaluta disambut dengan suara-suara khas hutan yang ia sukai. Burung-burung yang mulai terbang menyambut hari, serangga yang saling bersahutan dan masih banyak lagi. Tak lupa dengan suara air yang mengalir, Kaluta ikut tergoda untuk berlutut di pinggirannya, membasuh muka sembari melamun untuk menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Setelah merapikan segala macam bawaannya dan juga mengumpulkan air sampai terisi penuh lagi, Kaluta mulai berjalan menuju sungai besar yang pernah didatanginya bersama Duya.

Setelah menyeberangi sungai nanti kurasa letak gurun sudah dekat. Mungkinkah perasaanku benar? Semoga saja.

Sang ayah memang selalu mengajarkan Kaluta dan Wanika tentang bagaimana mereka menggunakan insting dengan jitu. Alhasil, Kaluta banyak terbantu dengan itu. Ia jadi semakin tak sabar untuk sampai di gurun dan memulai hidup baru untuk waktu yang cukup lama. Dengar-dengar, hewan-hewan gurun sangat menantang untuk ditangkap dan rasanya lumayan enak untuk dimakan.

Seharusnya sungai itu ada di …. 

Mulutnya membulat, melihat sungai yang terbentang di hadapannya. Ternyata semak belukar tadi adalah jalan pintas menuju sungai, sebelumnya ia melewati jalan lain sehingga terasa agak lama untuk sampai. Lagi-lagi instingnya untuk menerobos belukar membuahkan hasil.

Berenang atau membuat rakit? Kaluta berpikir sejenak, menimbang mana sebaiknya hal yang harus ia lakukan. Membuat rakit akan memakan waktu lama.

Ia memutuskan untuk berenang, toh aliran airnya tenang dan lebarnya tidak terlalu besar. Maka Kaluta mulai mempersiapkan dirinya, melakukan pemanasan agar tidak kram mendadak saat berada di tengah nanti.

Tas kulitnya diikat dengan bagian kantungnya berada di atas kepala. Tombak kembarnya pun disambungkan dan terikat di punggungnya. Menghitung sampai tiga, Kaluta menceburkan dirinya ke dalam air. Rasanya sejuk, bisa dibilang pengganti mandi yang belum dilakukannya pagi tadi.

Selain mahir menyalakan api, Kaluta juga ahli berenang di sungai yang dalam. Terlebih lagi aliran air sungai ini cukup tenang sehingga tak terlalu menyulitkannya. Hanya saja, ujung tombaknya sesekali terantuk oleh gerak kakinya sendiri.

Mendekati tengah sungai, Kaluta tak sengaja melihat sesuatu di kejauhan. Tak terlalu jelas, tapi pikirannya sudah mulai menebak-nebak apa gerangan sesuatu itu. Bergerak dengan konstan membentuk gelombang spiral, sepertinya bukan hal asing.

Ular! 

Barulah Kaluta sadar bahwa benda itu tengah bergerak ke arahnya, membuatnya sedikit panik dan kehilangan konsentrasi juga tenaga pada tangan dan kakinya.

Kenapa pula aku harus bertemu ular besar di dalam air?!

Kaluta memang pandai berenang. Tapi jika berenang dalam keadaan panik? Sepertinya ia belum pernah mengalami hal itu sebelumnya. Kaki dan tangannya dipaksa bergerak semakin cepat, tak memedulikan lagi ujung tombaknya yang masih sesekali menghambat pergerakan kakinya. Kaluta benar-benar panik. Masalahnya, ular akan bergerak lebih cepat di dalam air, terlebih ukurannya sangat besar dan panjang. Buktinya, dari kejauhan pun ia sudah bisa melihat dengan jelas badan meliuk juga warna gelap dari ular tersebut.

Ayolah, kenapa tak kunjung sampai ….

Mati muda tidak ada dalam agenda pengembaraannya ini. Yang ia inginkan hanya sampai di gurun dengan selamat dan memulai kebebasan seperti yang pernah dilakukan sang ayah dan pria lainnya. Merasa ancaman semakin dekat, Kaluta harus berpikir cepat untuk menghadapi situasi berbahaya ini. Ya, sepertinya tak ada pilihan lain.

Kaluta menghentikan lajunya, menenggelamkan diri sembari tangan berusaha melepaskan ikatan tombak dari tubuhnya. Setelah berhasil, tubuhnya kembali ke permukaan dengan kedua tombak telah berada dalam satu genggamannya.

Sayangnya, ular itu telah berada sangat dekat dengannya.

“Sial!”

Seperti ular pada umumnya, Kaluta kesulitan menghadapi serangannya. Sekali kena gigit mungkin ia harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia dan perjalanannya untuk menjadi dewasa.

Ular itu masih berusaha untuk menggigitnya, dengan badan yang agak dilingkarkan bermaksud untuk melilitnya. Kaluta benar-benar menjadi sang ahli hanya dalam beberapa menit, walaupun tubuhnya sangat lelah karena harus menjaga keseimbangan di atas air dengan satu tangan yang sibuk menggenggam dua tombak. Tak pernah ia sadari bahwa salah satu makanan kesukaannya ini akan menjadi begitu menyebalkan ketika masih hidup.

Tubuhnya semakin lelah, menghindari serangan dari kepala serta badan si ular secara bersamaan. Kaluta perkirakan bahwa panjang badan ular ini kira-kira bisa untuk melilit tubuhnya tanpa tersisa. Ia tak boleh mati seperti ini, tidak sebelum ia sampai ke tujuan.

“Akh!”

Satu gigitan berhasil mengenai pergelangan kakinya, membuat Kaluta refleks mengarahkan satu tombaknya pada si ular. Butuh beberapa kali tancapan sebelum akhirnya mata tombak yang tajam itu tepat mengenai pangkal kepala si ular.

Tak mau buang waktu lagi, pemuda itu kembali berenang secepat yang ia bisa. Walaupun fakta bahwa satu tombak dan kaki yang luka sangat menjadi hambatan, setidaknya ular itu tak akan kembali mengejarnya.

Akhirnya Kaluta berhasil menepi, langsung membaringkan tubuhnya yang kelelahan dengan rasa sakit di kakinya. Darah terlihat keluar cukup banyak dari sana. Ia tahu ramuan yang bisa membuat lukanya cepat sembuh, namun dengan keadaan darurat seperti ini Kaluta memutuskan untuk membalut saja lukanya dengan salah satu pakaiannya yang ia sobek menjadi dua bagian.

Ia bangun dan terduduk, membalut lukanya sembari berbicara sendiri. “Dewa, untung saja ular itu tidak memakanku hidup-hidup di dalam air. Aku benar-benar tak tahu bagaimana jadinya jika hewan itu berhasil―”

Ucapannya kembali terhenti, lagi-lagi karena matanya tak sengaja menangkap seekor hewan lain di kejauhan, tengah menatapnya dengan waspada.

Semoga dugaanku salah. Bagaimana bisa ada babi liar sebesar itu di sini?

Kaluta kembali panik. Ia membalut luka di kakinya dengan cepat lalu berusaha berdiri dengan berpegangan pada tombaknya yang tinggal satu. Mengatur napas sejenak, ia pun ikut memerhatikan gerak-gerik babi itu.

Sampai dirasanya ada yang tak beres, Kaluta refleks berlari masuk ke dalam hutan begitu sadar bahwa babi itu ternyata mengejarnya dengan cepat. Berusaha mengabaikan rasa sakit, Kaluta hanya terus berlari lurus secepat yang ia bisa. Ia tahu bahwa babi hutan bisa menjadi sangat agresif dan berpotensi membunuh manusia. Rasanya seperti keluar dari kandang singa tapi masuk dalam kandang harimau.

Dewa, sekali lagi tolonglah aku ….

Suara gesekan belukar di belakangnya menandakan bahwa babi itu masih mengejarnya. Ia tak cukup bodoh untuk menyempatkan diri menoleh ke belakang sementara semak belukar di hadapannya terlampau lebat.

Napasnya mulai tak karuan, Kaluta ingin berhenti berlari karena rasa lelah dan sakitnya. Kepalanya sudah tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Haruskah ia menyerahkan hidupnya pada kehendak takdir dan berhenti berlari begitu saja?

Kumohon, Dewa…

Menerobos satu belukar terakhir, pandangan Kaluta sudah kabur. Ia tak peduli lagi dengan sekitarnya. Tubuhnya langsung rubuh dan terbaring begitu saja di atas tanah.

Tapi tunggu, tekstur tanah ini dirasanya berbeda dari tanah yang berada di dalam hutan. Agak berpasir dan terasa lembut, seakan menggelitik kulitnya. Juga cahaya mentari yang menjadi lebih terang itu ….

Apa Dewa benar-benar membawaku bertemu dengan leluhur secepat ini?

Kaluta masih belum menyadari di mana ia saat ini, pasrah akan kelanjutan nasibnya karena ia yakin telah berdoa sepenuh hati pada sang pencipta. Dengan begitu, ia bisa memejamkan matanya dengan tenang, berusaha menghilangkan rasa lelah dan sakitnya perlahan.

FIN

  • Terima kasih pada semua rekan yang telah membantu mengerjakan fiksi ini. Semoga tidak mengecewakan 🙂
Advertisements

2 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Kaluta a Jeho Tradice

  1. WAWAWAAAA
    AKU NGGAK MAU KALUTA MATIIII
    btw halo angel ^^ bikin ini pasti membutuhkan tenaga ekstra ya haha, tapi aku suka bacanya, seru, terus kayak yg ‘elah habis ketemu ular ketemu lagi sama babi’ tapi begitu dia sampe gurun, weh
    baru dua hari aja udah kayak gitu yak gimana enam bulan? :p
    keep writing!

    Like

    1. thanks for reading^^ aloo kak liana huhu whai njel baru bisa bales komen sekarang /pundung/ ekstra sekali kak :’) hehe untung aja cuma ketemu ular sama babi ga ketemu mantan /terus disepak/ duh enam bulan di gurun pasti seru banget itu. makasih udah mampir kak ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s