[Special Event: Out of Playroom] Rebellionis

Ditulis oleh Angela Ranee

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre dystopia.

.

Bunyi letusan terdengar sesaat setelah jari telunjuk Blythe tidak lagi menahan pelatuk. Pemuda di hadapannya roboh, terbatuk-batuk, dan mengerang kesakitan sebelum akhirnya membisu dengan peluru bersarang di luka pada dadanya yang sudah membusuk sejak lama. Gadis itu berjalan mendekat, kemudian meletakkan dua jemarinya di sisi kanan leher mayat untuk memastikan bahwa nadinya sudah tidak berdenyut lagi.

Gadis berambut pirang itu kembali berjalan dalam langkah-langkah yang perlahan namun waspada, menyusuri ladang rumput yang semakin mengering, dengan sepasang mata yang selalu awas akan bahaya yang siap menyerangnya kapan saja.

Sebuah suara grasak-grusuk dari kejauhan menghentikan langkah Blythe. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, bahkan ke atas meski yang ia dapati hanyalah langit kelabu.

Blythe mengambil langkah ke arah barat. Dari radius kurang dari sepuluh kilometer, tampak jelas di depan mata kelabunya apa yang menjadi sumber suara barusan. Sesosok wanita tambun dengan leher dan dada membusuk menggeram liar bagai hewan buas yang tengah bertarung. Seorang remaja perempuan berpakaian sama seperti Blythe berdiri lunglai di hadapannya, dengan tangan kiri yang terluka akibat gigitan. Sepasang maniknya mendadak terlihat panik ketika bertemu pandang dengan milik Blythe, berharap dirinya hanyalah sekadar fatamorgana. Wanita tambun itu juga menatap mereka, kemudian kembali menggeram tanda tak suka.

Ketika Blythe menarik pelatuk, remaja perempuan itu mengerang lirih sarat pasrah. Dua peluru dilepaskan dalam waktu yang sangat singkat; satu mengenainya, satunya lagi mengenai sosok yang telah membuatnya terluka. Wajahnya mencium tanah dan dalam sisa napasnya yang satu-satu, ia masih berharap semuanya hanya ilusi belaka.

***

Semuanya berawal dari erupsi Gunung Yellowstone. Sejak dulu, para ahli telah meramalkan bahwa apabila gunung yang terletak di Wyoming, Amerika Serikat itu meletus, maka ada kemungkinan besar seluruh kehidupan makhluk hidup di muka bumi akan punah. Hanya ada dua hal yang tidak bisa mereka ramalkan: 1) Gunung Yellowstone akan mengalami erupsi di tahun 2083, serta 2) abu vulkanik yang dimuntahkan alih-alih menyebabkan penyakit pernapasan, malah membawa sebuah jenis penyakit baru yang kini menyerang hampir lima puluh persen dari seluruh populasi manusia di dunia.

Mereka menyebutnya “virus Yellowstone”, setelah menemukan bahwa abu vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung tersebut membawa virus yang selama ini telah berkembang biak di perutnya. Virus masuk ke tubuh manusia ketika mereka menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh abu vulkanik Gunung Yellowstone, kemudian menyerang sistem kerja tubuh dalam waktu yang terbilang sangat singkat.

Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus ini selalu diawali sesak napas, lalu muncul ruam kulit di sekitar leher dan dada yang lambat laun berubah menjadi luka menganga menjijikkan, sementara kulit sang penderita menjadi sepucat mayat. Virus tersebut menghambat saluran pernapasan tubuh sehingga otak kekurangan oksigen dan mengalami disfungsional. Disfungsional otak inilah yang kemudian mengakibatkan penderita menjadi kehilangan akal sehat dan liar, membuat mereka selalu memiliki keinginan untuk memangsa sesama manusia. Belum ditemukan obat penangkal virus Yellowstone hingga saat ini, sehingga satu-satunya cara untuk mengakhiri penyebaran virus secara temporer adalah dengan menembak mati tepat di dada atau leher penderita yang terluka.

Meletusnya Gunung Yellowstone berhasil meruntuhkan tidak hanya peradaban di Amerika, melainkan di seluruh dunia. Dunia telah memasuki era baru, dimana tidak ada lagi sekat-sekat pembatas yang disebut “negara”. Sistem pemerintahan baru yang disebut “Imperium” telah dibuat untuk memimpin populasi manusia yang masih tersisa, di bawah pimpinan Prases Pilate. Peradaban baru paska erupsi Gunung Yellowstone ini disebut “Novae Terrae”, yang dalam bahasa Latin dapat diartikan sebagai “dunia baru”.

Populasi manusia yang ada sekarang tidak serta-merta ditempatkan pada satu kamp yang sama. Mereka ditempatkan di tiga kamp yang berbeda berdasarkan sektor industri yang mereka kuasai. Sektor pertama merupakan sektor pertanian, peternakan, dan tekstil. Sektor kedua merupakan sektor pertambangan, perkayuan, dan perminyakan. Sementara sektor ketiga merupakan sektor teknik mesin, listrik, dan persenjataan.

Terhitung sudah lebih dari satu dekade semenjak erupsi, yang bahkan sampai detik ini pun belum juga berakhir meski tidak separah dulu. Virus Yellowstone masih mewabah dan menjadi permasalahan utama, baik bagi pemerintah maupun masyarakat, terlebih karena obatnya belum juga ditemukan. Karenanya, Imperium membentuk sebuah pasukan bernama “Viri Adolescentes”, atau yang lebih sering disebut sebagai VA Squad. VA Squad adalah tim yang terdiri dari muda-mudi berusia 15-21 tahun yang dipersiapkan oleh Pilate sendiri untuk memberantas para penderita virus Yellowstone yang siap menyerang kapan saja. Para anggota pasukan ini akan dikarantina di kamp khusus untuk dilatih menggunakan senjata dan bela diri. Setiap tahunnya, akan hadir mereka dari masing-masing kamp yang direkrut menjadi anggota VA Squad, menggantikan mereka yang telah tewas dalam menjalankan tugasnya.

Namun tiga tahun terakhir, VA Squad telah kehilangan fungsi awalnya sebagai pasukan pemberantas penderita virus Yellowstone. Tiga tahun silam, tim peneliti telah berhasil menemukan injeksi bagi para penderita virus Yellowstone, serta antivirus bagi masyarakat Novae Terrae yang belum terkontaminasi virus. Sayang, injeksi yang mereka buat tidak dibagikan secara cuma-cuma. Setiap akhir tahun, diadakan turnamen bagi para anggota VA Squad, dimana akan dipilih tiga dari masing-masing kamp sektor industri untuk diadu dalam turnamen tersebut. Tidak hanya diharuskan saling membunuh, mereka juga akan menghadapi para penderita virus Yellowstone yang siap mengancam keberlangsungan hidup mereka kapan saja. Tidak ada kerja sama tim, tidak ada kawan, yang ada hanyalah lawan yang harus mereka jatuhkan. Pada akhirnya, hanya akan ada satu yang bertahan, yang kemudian berhak mendapatkan injeksi serta antivirus untuk dibagikan kepada rakyat kampnya.

Semua anggota VA Squad tentu saja memprotes tindakan kejam yang telah diambil oleh Pilate, namun apa yang bisa mereka lakukan untuk melawan keputusan sang presiden? Begitu pula dengan Blythe, anggota VA Squad dari sektor dua. Kini yang bisa Blythe lakukan adalah menjalankan apa yang menjadi perintah dari Pilate, yaitu membunuh Miguel dari sektor tiga dan Jordan dari sektor satu.

Membunuh mereka, yang dulu merupakan anggota timnya, dan kini dipaksa untuk menjadi musuh satu sama lain.

***

Blythe baru saja melepas satu lagi peluru di dada seorang anak laki-laki penderita virus Yellowstone, ketika didengar olehnya suara langkah kaki yang begitu jelas. Menjelang petang, kabut semakin turun ke permukaan bumi. Blythe mengedarkan pandangan sejauh yang ia bisa. Peluru pistolnya sudah hampir habis dan Blythe harus menyiapkan senjata lain yang bisa ia gunakan untuk menyerang siapa pun yang nantinya bakal ia hadapi.

Bang!

Sebuah peluru bersarang pada batang pohon di hadapan Blythe, sesaat setelah didengar olehnya bunyi tembakan yang begitu nyaring. Suara langkah kakinya terdengar makin dekat, diiringi oleh suara kekehan yang tidak asing di telinga Blythe.

“Keparat,” umpat Blythe tatkala menoleh ke belakang dan mendapati sosok pemuda jangkung berambut jet black di sana.

“Begitu caranya menyapaku,” pemuda itu membiarkan kalimatnya menggantung di udara untuk beberapa saat, “kawan?”

Miguel Kerrington memainkan pistol di tangan kanannya, seraya mengambil langkah mendekat ke arah Blythe yang masih berdiri di tempat tanpa gerakan tambahan. Miguel, pemuda dari sektor mekanik, listrik, dan persenjataan. Pemuda yang dulu selalu Blythe andalkan untuk memodifikasi senjata yang mereka gunakan untuk membasmi para penderita virus Yellowstone, kini menjadi sosok berambisi tinggi yang tampaknya cukup tega untuk menghabisi Blythe dalam sekali tembak.

“Kenapa diam saja? Kau tidak merindukanku?” Miguel merentangkan kedua tangan lebar-lebar. “Tidak mau memberiku satu pelukan setelah sekian lama?”

“Kau memang tidak waras,” gumam Blythe dengan rahang mengeras, menambah ketegasan pada garis wajahnya.

“Oh, kau menolak?” Miguel menunjukkan ekspresi sedih yang dibuat-buat. “Sayang sekali, Blythe Matthews. Padahal ini bisa jadi kesempatan terakhirmu untuk memelukku.”

Mendengar ucapan Miguel, Blythe merasa tidak perlu lebih banyak lagi membuang-buang waktu. Ia meraih salah satu tangan Miguel yang masih terentang, memelintirnya, seraya mendaratkan satu pukulan keras pada rahang tajam pemuda itu, lantas satu lagi di bibirnya.

“Mungkin setelah ini aku tidak akan menyesal bila aku harus membunuhmu,” ucap Blythe dingin. Tangannya kembali mengepal keras kala melihat bibir Miguel yang berdarah menyeringai licik.

“Pukulanmu boleh juga,” puji Miguel dengan nada sarkastik. “Oh, kau berniat membunuhku sekarang? Aku yakin seratus persen, Matthews, kau akan menyesal sesaat setelah kau melihat ini.”

Miguel menggerak-gerakkan kedua tangannya, membentuk gestur-gestur yang ia lupa kapan terakhir kali ia gunakan untuk berkomunikasi dengan Blythe. Untuk sesaat, sepasang manik Blythe memicing penuh tanya. Tatapan matanya beralih pada milik Miguel. Pemuda itu menaikkan satu alis, yang kemudian disambut anggukan pasti dari Blythe.

Selanjutnya, yang dilihat Pilate di monitor pemantau adalah seorang pemuda dan gadis yang berlari beriringan menuju arah yang sama.

Arah selatan.

***

Bang! Bang! Bang!

Tiga peluru Jordan lepaskan berturut-turut, masing-masing bersarang di dada tiga orang penderita virus Yellowstone yang kini tergeletak bagai bangkai hewan di tanah. Berasal dari sektor pertanian, peternakan, serta tekstil, Jordan tidak dibesarkan dengan keahlian memegang senjata dan bela diri. Dalam dua turnamen sebelumnya pun, anggota VA Squad dari sektor satu selalu gugur, yang mana membuat populasi rakyat sektor satu menjadi yang paling sedikit bila dibandingkan dengan dua sektor lainnya.

Jujur saja, bukan kemauan Jordan bergabung dengan VA Squad. Bukan kemauan Jordan menjadi peserta turnamen. Bukan pula kemauan Jordan menjadi rival dua orang yang dulu merupakan kawan satu timnya sendiri. Jordan benci memegang senjata, Jordan benci melihat orang-orang mati tak berdaya, terutama apabila ialah yang menjadi penyebab kematian mereka.

Jordan baru saja hendak mengisi peluru di pistolnya ketika seseorang menerkamnya dari belakang. Pemuda itu mengerang kesakitan sekaligus kaget dan segera berguling demi mendapati bahwa sosok yang baru saja menerkamnya adalah—

“Mom?”

Wanita itu membalas tanya Jordan dengan geraman pula tatapan buas. Tiga tahun meninggalkan kamp untuk tinggal di kamp khusus VA Squad dan Jordan Gray tidak pernah menyangka bahwa ibunya menjadi salah satu penderita virus Yellowstone.

“MOM, TUNGGU!” Jordan menjerit ketika wanita yang leher dan dadanya dipenuhi luka menjijikkan itu kembali menyerangnya. Kuku-kukunya yang panjang berhasil mencakar lengan Jordan, meninggalkan bekas luka yang cukup panjang.

Dalam minimnya sisa waktu yang ada, Jordan masih berusaha menimang-nimang haruskah dirinya membunuh ibunya sendiri.

Argh, sialan!” umpat Jordan ketika ibunya hampir saja menggigit lehernya. Pemuda itu lekas berdiri, menyambar pistol cadangannya, dan bersiap melepas tembakan pada sang ibu. Tangannya yang berkeringat menarik pelatuk yang entah mengapa tiba-tiba terasa begitu berat.

“Maafkan aku, Mom …,” ucapnya lirih.

Bang!

Sosok sang ibu ambruk seketika, mengerang kesakitan untuk beberapa detik, kemudian membisu. Jordan menurunkan pistolnya secara perlahan, sembari bertanya-tanya dalam hati siapa yang baru saja melepas tembakan untuk menghabisi nyawa ibunya.

“Kau benar-benar payah,” ucap seorang gadis berambut pirang. Blythe Matthews.

Jordan tahu, seharusnya ia memukul gadis yang baru saja membunuh ibunya itu, kalau perlu mengikat granat di lehernya sekalian. Tapi Jordan masih terpaku di tempatnya berdiri, terlebih ketika dilihatnya sosok jangkung Miguel berdiri di sebelah Blythe.

Jordan mengangkat kedua pistolnya, menatap kedua mantan rekannya dengan tatapan setajam milik seekor elang yang sedang mengincar mangsa. Jordan menarik pelatuk ketika didengar olehnya Blythe mendengus remeh.

“Kau benar-benar bakal membunuh kami, Gray?” tanya gadis itu. “Bodoh.”

“Gray, Gray, kuharap kau belum lupa dengan cara berkomunikasi yang pernah kita gunakan sebelum turnamen sialan ini diadakan,” sambung Miguel. Tangannya kembali bergerak, membentuk gestur yang sama seperti yang sebelumnya ia tunjukkan kepada Jordan.

Beruntung, Jordan adalah seseorang yang cepat dalam memahami sesuatu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mengangguk dan berucap, ”aku ikut.”

***

“Apa yang dilakukan tiga bocah idiot itu?” Pontius, wakil Prases Pilate memandang layar monitor raksasa di hadapannya dengan geram. “Siapa yang bilang mereka boleh kerja sama?”

“Kau tidak perlu khawatir dulu,” sahut Pilate kalem. Dwimanik pria paruh baya itu beralih ke salah seorang ajudannya. Bibir tipisnya bergerak, melontarkan sebuah titah. ”Siapkan pasukan daruratnya.”

***

Mereka tidak seharusnya bergabung. Mereka adalah lawan satu sama lain dan seharusnya mereka saling membunuh sekarang. Miguel Kerrington dengan ambisi besarnya bisa jadi memenangkan turnamen tahun ini. Tapi Miguel tidak seperti Pilate. Membunuh penderita virus Yellowstone bukan perkara sulit baginya, tapi tidak dengan membunuh sesama anggota VA Squad.

Kenangan pahit akan turnamen tahun lalu, dimana adik perempuan Miguel terbunuh, menjadi alasan kuat mengapa Miguel memutuskan untuk mengakhiri semua kekejaman yang diterapkan Pilate. Miguel, Blythe, dan Jordan, ketiganya sama-sama menciptakan bahasa tubuh yang hanya diketahui oleh mereka untuk berkomunikasi. Dengan bahasa tubuh itulah Miguel mengajak Blythe pula Jordan untuk turut ambil bagian dalam aksi pemberontakan terhadap Pilate, yang mungkin hanya akan terjadi pada turnamen tahun ini.

Derap langkah kaki yang terdengar dari kejauhan menghentikan ketiganya. Dalam sekejap ketiganya telah dikepung oleh belasan pria berpakaian serba hitam dan bersenjata. Mereka, pasukan khusus yang telah dipersiapkan oleh Pilate dalam keadaan darurat. Salah satunya untuk mengantisipasi terjadinya pemberontakan oleh peserta turnamen.

“Sekarang!” teriak Blythe. Selanjutnya, desing peluru bertubi-tubi yang memekakkan telinga memenuhi indera pendengaran setiap orang yang ada di sana. Satu demi satu anggota pasukan darurat itu tumbang dengan peluru bersarang maupun bekas tusukan benda tajam. Ini bukan akhir dari perjuangan mereka, tentu saja. Masih ada lawan yang harus mereka hadapi, lawan mereka yang sesungguhnya.

“Wow, kalian benar-benar membuatku terkesima.” Suara Pilate menggema ke seluruh penjuru. Sebuah hologram berlatar biru muncul di hadapan ketiganya, menampilkan sosok licik nan kejam di balik pelaksanaan turnamen selama tiga tahun ini. “Setelah semua yang aku lakukan untuk kalian, inikah yang menjadi balas budi kalian?”

“Keparat,” dengus Miguel. “Jangan kaget kalau sehabis ini kau yang jadi target kami.”

“Kaget? Tentu saja tidak.” Pilate tersenyum penuh arti. “Begitu juga dengan kalian, jangan kaget kalau sehabis ini takkan ada satu pun kamp yang mendapat jatah injeksi.”

“Karena cepat atau lambat, kalian akan segera mati.”

.

.

.

-fin.

Advertisements

8 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Rebellionis

  1. Halo, Rani!
    Aku udah lama nggak baca distopia dan menurutku ini baguus banget. Ceritanya seru, dan ‘world-building’-nya keren, juga detail. Ending-nya bikin aku penasaran, omong-omong. Apakah kalimat terakhir itu diucapkan oleh Pilate?

    Oya, mungkin sedikit masukan dariku tentang penggunaan beberapa kata dalam cerita ini:
    – disfungsional: aku cek kata ini belum ada di KBBI (mungkin bisa diusulkan untuk masuk), tapi kalau dalam bagian ini:
    “… sehingga otak kekurangan oksigen dan mengalami disfungsional. Disfungsional otak …”
    Kayaknya lebih tepat kalau menggunakan kata ‘disfungsi’, deh. Disfungsional itu lebih ke kata sifat, sejauh yang aku tahu (the family is dysfunctional; dysfunctional family).

    – presiden.: Di bagian sebelumnya dijelaskan kalau negara-negara sudah digantikan dengan ‘imperium’. Yang aku tangkap ‘imperium’ ini seperti pemerintahan dengan kekuasaan absolut. Sementara presiden itu lebih ke pemimpin negara republik, ‘kan ya. Sepertinya kata ‘pemimpin’ lebih luas maknanya dan sudah mewakili.

    Oke, sekian dariku. Semoga berkenan, Rani, dan maaf kalau ternyata justru aku yang salah di sini. Please let me know 🙂

    Liked by 2 people

    1. Halo, Kak Ami! Pertama, maaf karena balasanku yang agak telat huhu 😦

      -. Ya, kalimat terakhir diucapkan oleh Pilate.
      -. Waa aku kira disfungsional udah masuk di KBBI, ternyata belum toh. Makasih buat koreksiannya!
      -. Sebenernya di sini aku banyak menggunakan kata dari bahasa Latin. My bad, actually, yang nggak menyantumkan glosarium di akhir untuk memperjelas arti dari istilah-istilah tsb.

      1. Imperium, means “government” in Latin.
      2. Prases, means “president” in Latin.
      3. Novae Terrae, means “a brand new world” in Latin.
      4. Viri Adolescentes, means “brave youngsters” in Latin.

      Sedikit trivia mengenai nama Pilate. Pilate is actually a Roman name. Aku ngambil nama Pilate dari gubernur pada masa kekaisaran Romawi yang mewakili pemerintahan Romawi di Yerusalem untuk mengadili Yesus. Nama lengkapnya sendiri sebenarnya adalah Pontius Pilate (Pontius Pilatus), tapi nama Pontius di sini aku pake buat nama wakil dari Pilate sendiri.

      Tapi, makasih buat semua masukan dari Kak Ami, loh! Santai aja masukan dari Kak Ami sama sekali nggak nyinggung, malah aku seneng bacanya karena itu bisa bantu aku buat improve tulisanku selanjutnya.

      Last but not least, makasih sudah baca dan berkomentar ^^

      Liked by 1 person

  2. woooooooooow.
    berat berat berat.

    Aku suka banget ih! ❤ Selamat ya raniii, udah menyelesaikan ospek dengan kecenyaa! 😉 Karakter favoritku di sini Miguel Kerrington, tapi ada rasa sayang yg mengalir buat Jordan HAHAHAHAHA. Vulnerablenya Jordan pas diterkam ibunya tuh, aduh mas Jordan :'''' Gereget banget baca ini! Padahal aku lagi menikmati hujan sambil dengerin officially missing you, tapi kamu sukses bangkitin aku dari kesenduan ini! Congratulatiooonggg! 😀

    Like

    1. Halo, Kak Dhilu!
      Hayoo Kak Dhilu di #TeamMiguel apa #TeamJordan //halah Yha maklum lah Jordan vulnerable karena pengaruh lingkungan, beda sama Miguel yang kalo diliat dari sektornya udah dididik keras dari kecil.
      Wiiii aku udah lama ga denger officially missing you, jadi beneran kangen sama lagunya kan huvt :”
      Makasih yaa kak udah baca dan komen 😀

      Liked by 1 person

  3. Rani ini kece banget. Detil suasananya mancep dan mudah dipahami. plotya juga okee. Penyakit aneh dri letusan gunung berapi, Jordan yg harus bunuh ibunya, vaksin yang mahal, pemerintah yang kacau, dll. Aku berasa baca chapter awal dari sebuah novel 😀
    Selamat ya ranii ospeknya udah dipubliish! Keep writing ya 😀

    Like

    1. Halo, Kak Dhila!
      Waaa masa sihh? Aku jadi pengen bikin sekuel dari ini //gak usah ran dijamin makin hancur
      Btw aku belum sempat baca tulisan Kak Dhila nih huhu maafkeun aku yang lagi (sok) sibuk ini :”
      Makasih Kak udah baca dan komen! Kak Dhila juga keep writing 😀

      Liked by 1 person

  4. rani rani raniiii
    buset ini rasa resident evil dicross sama hunger games yak. bagian jordan yg mau nembak maknya sendiri itu nyesek bgt, tapi suka bagian mereka berontak di akhir.
    entah knp keingetan peeta sama katniss–engg, ya sudahlah, cerita ini tentu saja berbeda walau premisnya mungkin sama dgn endingnya hunger games
    anyway, cerita ospek kok banyak yg gantung ya, termasuk ini haha. gapapa. masih bagus kok! keep writing!

    Like

    1. Halo, Kak Liana!
      Well tbh aku pernah nonton resident evil (tapi lupa yang mana) waktu kelas 7 dulu dan aku gamudeng ceritanya sama sekali, ehehehe… Kalo hunger games aku nonton, kecuali mockingjay pt 2 bikos katanya endingnya mengecewakan //halah malah curhat
      Huhuhu ya namanya mak sendiri gimana yah, mau berubah jadi monster semenakutkan dan semenjijikkan apa juga tetep ga tega buat bunuh, tapi mau nggak mau Jordan ditekan keadaan :”
      Jujur di awal aku emang keinspirasi sama Hunger Games, tapi aku nggak kepikiran buat bikin mereka kaya peeta-katniss bikos I’m not a shipper tho hahaha… Yang aku pikirin waktu bikin tiga karakter di atas adalah golden trionya hogwarts malah xD
      Aku bikin gantung soale biar pembaca bisa berimajinasi sendiri gitu kira-kira kelanjutan nasib mereka gimana, hehehe…
      Makasih sudah baca dan komen kak! Keep writing jugaaa ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s