[Special Event: Out of Playroom] Lost in Fenghuang

Ditulis oleh shiana

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre horror.

Bagaimana lagi, keduanya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Fenghuang—sampai saat ini tiba.


Yixuan mengantuk. Kakinya sudah lelah diajak berjalan tak tentu arah. Kalau ia adalah seorang hiperbolis, mungkin Yixuan akan mengatakan kalau tungkainya bakal protol satu-satu bila Wenhan bersikeras menyeretnya sekali lagi menelusuri jalanan yang penuh dan tampak sempit itu.

Dan pada kenyataannya, memang itulah yang ia katakan kepada Li Wenhan, sobatnya tersayang.

Tapi Yixuan malah mendapat jawaban berupa, “Eii, berhentilah merengek. Kita akan sampai sebentar lagi,” sambil Wenhan menggigit camilan yang sempat mereka beli sebelumnya. Yixuan memutar mata, mengamati bagaimana kawannya bisa-bisanya makan selahap itu. Coba lihat Yixuan; ia bahkan tidak punya nafsu untuk menjejali perut sedari siang.

Omong-omong, jawaban Wenhan itu sudah berulang kali ia dengar selama seharian penuh, dan lihat sekarang, mereka malah tampak seperti turis terlantar. Berkeliling sana-sini dan berakhir berselonjor di pinggiran jalan. Kesalahan terbesar jelas terarah pada Wenhan—dalang dibalik ketersesatan mereka di Fenghuang1—kota kuno di Cina yang tidak menarik bagi Yixuan. Sementara itu, ia mengaku gagal sebagai seseorang yang lahir di tanah Cina.

Bagaimana lagi, keduanya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Fenghuang—sampai saat ini tiba.

“Carilah penginapan dulu,” gumam Yixuan kesal. “Kenapa temanmu itu tidak membantumu sama sekali, sih? Mengirim orang untuk menjemput kita, mungkin?”

Yixuan mendesah. Di sekeliling mereka hanya ada pemandangan kota Fenghuang yang tidak terlalu disukainya. Berkali-kali ia mengamati sekitar—berharap untuk setidaknya merasa terkesan—tapi deretan diaojiaolou2 berupa toko-toko dan restoran, pemandangan Tuojiang3 jauh di depan, lampu kuning kemerah-merahan, dan segelintir orang yang hilir mudik sangatlah terlihat biasa saja.

Wenhan menjilati saus pada jemarinya, mulutnya menggembung ketika ia menjawab. “Kau tahu ‘kan aku tidak suka merepotkan orang? Lagi pula dia sedang tidak ada di rumah, jadi rumahnya sekarang kosong. Dengan dia yang sudah mau menampung kita, mana mungkin aku ingin membuatnya lebih repot lagi?”

Tidak masuk akal, pikir Yixuan. Berusaha memahami jalan pikiran Wenhan sama saja membuat kepala pusing, Yixuan alih-alih merasakan sesuatu dalam badannya yang memberontak ingin keluar. Ah, sial, ia memang sudah menahannya semenjak berjam-jam lalu. Badannya lantas meliuk-liuk bak cacing kepanasan. “Carikan aku kamar mandi,” kata Yixuan cepat. Wenhan melongo.

“Ha?”

“Kamar mandi! Cepat.”

Sembari menunggu Wenhan yang tak kunjung kembali, Yixuan tertidur di pinggiran toko yang sudah tutup.

Guncangan pada bahunya mengundangnya sadar kembali, disusul munculnya wajah Wenhan di bawah penerangan lampu temaram yang membuatnya tampak sedikit kabur.

“Wah, kau benar-benar payah,” adalah kalimat pertama yang Wenhan ucapkan. Ia berhenti sejenak. “Aku sudah memutuskan, kita akan lanjut mencari besok. Hari sudah malam dan aku kebetulan mendapat penginapan yang cocok saat mencari kamar mandi untukmu. Murah meriah.”

Selega apa pun yang Yixuan rasakan, ia tak menunjukkannya. Wajahnya hanya sedikit ceria ketika ia berdiri, tapi kemurungan tak hilang dari guratnya. “Pilihan bagus. Ayo, ke sana.”

Yixuan tidak mengharapkan yang muluk-muluk. Dalam hal ini, penginapan yang akan ia jadikan tempat untuk istirahat tidak haruslah mewah, tapi kenyamanan adalah nomor satu.

Saat mengekori Wenhan yang memimpin jalan, perasaan Yixuan makin waswas sebab mereka makin jauh meninggalkan keramaian. Betul, ia memang memiliki ketakutan yang lebih besar dibanding orang-orang. Dan kini, menatap rumah yang berdiri kokoh (Yixuan agak sangsi soal ini) di hadapannya  mengundang pikiran-pikiran seperti ketika kau sendirian di rumah dengan keadaan listrik mati.

Ah, benar. Rumah di hadapannya lebih mirip bangunan kekurangan listrik.

“Kau yakin ini tempatnya?” Yixuan mencoba untuk memastikan.

Wenhan sayangnya mengangguk. “Ayo, masuk.”

Adalah seorang lelaki tua yang menyambut mereka dengan ramah kala memasuki rumah itu. Hal pertama yang Yixuan amati adalah pakaiannya, yang mengingatkannya akan para Taoist. Yixuan hanya menebar anggukan dan senyum singkat, membiarkan Wenhan mengambil alih sesi basa-basi. Yixuan lantas berlari kecil menuju arah yang sempat Wenhan tunjuk setelah konversasi singkat dengan sang pemilik rumah—bagaimanapun ia harus menuntaskan apa yang belum sempat ia keluarkan.

Selesai dari kamar mandi, Yixuan berjalan kembali ke bagian dalam rumah ketika tak sengaja ia menangkap sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka. Semula ia tak tertarik, tapi sesuatu di dalam sana membuatnya melangkah masuk.

Pandangan Yixuan yang semula gelap perlahan beradaptasi dengan minimnya penerangan di dalam. Hening dan senyap. Yixuan bahkan bisa mendengar deru napasnya sendiri. Ia lantas berkeliling, perlahan mulai terperangah dengan benda-benda aneh yang tergeletak di mana-mana. Yixuan tidak dapat menyebutkan nama-namanya, hanya ia tahu pasti bahwa semua benda itu merupakan keperluan untuk ritual atau semacamnya. Yixuan menelan ludah kala ia merasa bulu kuduknya meremang.

Ada suara halus dari dalam dirinya yang memerintah agar ia segera pergi. Pergi sekarang.

Yixuan berbalik. Dan berhenti. Matanya melihat sebuah peti besar di sudut ruangan yang lain. Yixuan melangkah ragu mendekati peti itu, membuka penutupnya perlahan.

Ia melongok ke dalam.

Matanya melebar. Genggamannya pada penutup peti nyaris tergelincir. Bau busuk bercampur bahan kimia menyerbu indera penciumannya.

Yixuan menelusuri isi peti, dari ujung satu ke ujung lain. Gambaran manusia dengan kulit putih pucat kehijauan yang dulu sering menghantui kepalanya kala ia masih kecil, kini mewujud nyata. Yixuan ingat benar akan memorinya sewaktu itu; ia biasa dijejali cerita-cerita menyeramkan akan mayat ganas yang hidup kembali, yang bisa dikontrol dengan secarik talisman kuning tertempel pada dahinya di masa Dinasti Qing.

Kini bayangan itu bukan sekadar pikiran semata. Makhluk itu … Yixuan sangat tahu namanya ….

Jiangshi4,” bisik Yixuan.

Kendati keinginannya untuk melesat kabur lebih besar, ia tak mampu menggerakkan kaki. Hawa dingin menyergap, peluh bermunculan. Yixuan mengulurkan tangannya ke dalam, gemetaran menyentuh kain kuning yang menutupi wajah sang jiangshi.

Baik, setelah ini, setelah kau membuktikan itu patung atau bukan, setelah ….

Gumpalan besar menyumbat jalan napas Yixuan begitu wajah nyata yang hancur terpampang jelas setelah ia menyingkap talisman itu sedikit.

Yixuan berusaha untuk tenang, tapi ia telah lama menahannya sehingga tanpa sadar ia menarik talisman itu. Jantungnya berpacu, menyadari aksi cerobohnya. Langkahnya mundur cepat dalam tempo berantakan.

Sepasang tangan kemudian mencuat dari dalam peti, bersamaan dengan bangkitnya seseorang dari lelap yang panjang.

Otaknya lumpuh kala pandangannya bertemu dengan dua soket mata yang gelap dan kosong.

Yang Yixuan tahu, sekon berikutnya, ia menutup kedua matanya erat.

end.

1  Fenghuang: Kota kecil yang terletak di Prefektur Xiangxi Provinsi Hunan China (Wikipedia).

2 Diaojiaolou: Stilted wooden houses from southwest China. The wooden building is built close to a mountain or above a creek or river. These houses are usually built on slopes with only supporting wood pillars and no foundations, and are 100 percent wood.

3 Tuo Jiang: A biggest river in Fenghuang, one of the branches of Wushui River.

4 Jiangshi: Humanoid mythical creature from Chinese mythology. The original Jiang Shi in Chinese mythology was more of a zombie that went around sucking the life force from its victims. It was only recently around the 1970s due to Western influences that the Jiang Shi in movies started sucking blood.

Shia’s notes:

  1. Halo! Sebelumnya makasih banyak buat WS dan para admin, khususnya Q, karena sudah membantu dan berbagi ilmu dalam dunia tulis-menulis. Shia sangat bersyukur. Special thanks to Kak Sher dan Kak Fika yang bersedia kurecokin, hehe.
  2. Untuk kalian yang menyempatkan membaca, makasih banyak. Maaf kalau masih ada kekurangan, kritik dan saran akan sangat diterima!
Advertisements

5 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Lost in Fenghuang

  1. Hello, shia! ini cherry 94 line. salam kenal dan selamat datang di ws ya.

    duh horor. aku jrang bnget nulis dan baca genre horor x,D menurutku ini udah ckup bgus sih, tp kalau adegan tegangnya dipanjangin dikit mungkn seru. penasarn jg nasib wenhan. kn dia yg punya inisiatif nginep di sana x,D

    okay, smangat trus ya shia

    Like

  2. PAKE ANAK UNIQ YA TUHAN
    *trs berharap wang yibo tu jiangshinya haha
    tapi bener kata mbak cherry di atas, adegan horrornya kurang panjang dikit, bikin cerita tuh anak berdua dikejar yibo–eh–jiangshinya dong?
    anyway, ini keren kok! soket mata kosong adalah hal yg paling kubenci dari hantu di film horor ;-;
    keep writing!

    Like

    1. HEHEHE HAI KAKLIAA. Uh, iya ya? Oke nanti akan kujadikan patokan buat cerita horror selanjutnya.
      Makasih kak udah mampir dan sarannyaaa juga. keep writing too kaklia!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s