[Special Event: Out of Playroom] The 400° Door

Ditulis oleh ZulfArts

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre science fiction.

Pernah ada yang berkata, jangan mencoba bermain-main dengan pekerjaanmu, apalagi dengan risiko yang nantinya akan menggunung. Tapi kalau harus menyangkut orang yang dicintai, siapa yang bisa menyangkal jika dia tak akan segan berbuat apa pun? Terlebih jika ternyata otaknya pintar dan mempunyai teman yang mungkin bisa membantunya. Seperti apa yang akan dilakukan Maddy Rumford saat ini.

Beberapa hari yang lalu, Maddy mengirimkan pos-el pada kawannya. Ia tengah mencoba menghancurkan otaknya sendiri hanya untuk mencari tahu hal-hal apa saja yang mungkin bisa ia lakukan untuk dapat membuat pintu yang bisa mengantarnya pergi ke dimensi lain tempat ayahnya hilang setahun yang lalu. Atau lebih hebatnya, sebuah mesin waktu yang dapat membawanya ke masa lalu, tepat saat ayahnya harus pergi agar ia dapat mencegahnya. Edmund—kawannya—tak segan meluncur dari kampusnya cepat-cepat untuk segera bersua dengan gadis itu, mengenakan kemeja lusuh dan celana denim belel yang merupakan pakaian sehari-harinya.

“Tidak masuk akal, Maddy! Apa tak ada tema penelitian lain yang dapat kau kerjakan selain portal menuju dimensi lain?!” teriak Edmund dengan pipi berbintiknya yang mulai memerah.

“Tak ada yang tak masuk akal, Edmund. Kecuali jika kau tak hidup di abad ke-22 dengan teknologinya yang super canggih. Apalagi aku, Maddy Rumford, yang menyusun rencana ini. Aku yakin otakku tak akan meleset terlalu jauh dari peluang keberhasilan,” ujar gadis itu mencoba menenangkan. Rambut kemerahannya ia ikat layaknya ekor kuda, dengan kacamata juga jas laboratorium yang menjadi seragam kerjanya, bukan tak mungkin gadis itu mendapat pujian sebagai orang kelewat pintar. Ditambah logo NASA pada jasnya itu, aduh.

“Aku tak bisa berkata-kata jika harus berurusan dengan otakmu. Milikku mungkin hanya sebesar kacang pistacio. Dan aku tak akan menyangkal kalau Maddy Rumford, peraih Master of Science terbaik sekampus di umur kedua puluhnya, tak akan meleset terlalu jauh dari peluang keberhasilan. Tapi, wormhole itu … tak masuk akal untukku, Maddy.” Edmund masih mengerutkan keningnya sembari sesekali bergeleng tanda tak setuju. Ia memang masih bersusah-payah untuk menaiki tebing guna meraih gelar sarjana sains, saat Maddy malah sudah lulus beberapa bulan yang lalu sebagaimana gelar yang tadi Edmund sebutkan. Padahal mereka pernah menduduki taman kanak-kanak yang sama, di umur yang sama.

“Kau mungkin mengira wormhole tak akan pernah bisa dibuat. Coba kau ingat kembali teori Stephen Hawking tentang perjalanan waktunya. Setiap sudut di dunia ini dibangun oleh lubang cacing yang begitu kecil, dengan ukuran satu miliar-triliun-trilionths per satu sentimeter. Dan coba tebak, aku berhasil menemukan jawabannya untuk memperbesar lubang cacing dan membuat kita dapat melewati dimensi ruang dan waktu!” jelas Maddy sembari sesekali membenarkan surai yang keluar dari ikatnya. Namun ternyata Edmund masih keukeuh dengan gelengan kepalanya juga kening yang berkerut.

“Ini semua untuk ayahku, Edmund. Percuma aku menjadi salah satu peneliti termuda NASA jika ia tak bisa menepuk kepalaku seperti dulu dan memberikan pujian kalau aku telah bekerja keras. Kalaupun kita tak bisa menjelajahi waktu untuk mencegah ayahku yang pergi keluar angkasa dua belas tahun yang lalu, kuharap percobaan yang kita buat dapat mengantarkanku ke tempat di mana ayahku berada sekarang.”

Oh, ya. Mr. Jacobus Rumford. Ayah dari Maddy Rumford. Tipikal ayah yang akan meninggalkan rapatnya di kantor untuk menyemangati anaknya dalam perlombaan menggambar, lebih memilih menonton anaknya tampil saat acara perpisahan dibanding menandatangani proposal para peneliti, atau menghabiskan waktunya di rumah seharian tanpa menghiraukan teleponnya yang terus berdering menyuruhnya segera ke kantor. Maddy berpuluh-puluh kali membuat ayahnya nyaris dipecat, namun ia tak menyesal akan semua itu. Berkat semua pembolosan ayahnya, gadis itu bisa lebih percaya diri dan dapat mengatur otak pintarnya agar tak keluar dari kewarasan. Kalau bukan karena ayahnya, ia tak mungkin dapat bekerja di NASA seperti apa yang sang ayah harapkan.

Edmund tak lagi mengerutkan keningnya. Ia ingat betul bagaimana Mr. Jacob memperlakukannya juga dengan baik. Di saat ia harus kembali ke NASA, ia rela terlambat untuk mengelus puncak kepala Edmund dan Maddy yang bertengkar karena berebut mainan sampai benar-benar berhenti dari isakannya. Semuanya berjalan dengan indah sampai Mr. Jacob memiliki misi untuk pergi ke luar angkasa dan dinyatakan hilang setahun sebelum Maddy resmi bekerja di NASA.

“Oh, baiklah, jika harus berurusan dengan Mr. Jacob. Satu pertanyaan lagi, apa kau benar-benar yakin kalau percobaan ini akan berhasil?” Dahinya kembali mengerut.

“Akan ada banyak es krim coklat di kamarmu setelah kita berhasil.” Oh, es krim coklat itu … Maddy memang pandai membuat lawannya tak berkutik.

xxx

Edmund mungkin tak akan pernah menginjakkan kaki di kantor NASA secara gratis kalau bukan karena Maddy menambahkannya di daftar tamu untuk menjadi kolega pertamanya. Ia benar-benar menjadi kacang pistacio, semua orang yang ada di kantor itu berpakaian rapi dan formal. Kalau bukan memakai jas laboratorium, pasti setelan jas atau blazer. Para pegawai NASA agaknya membuat Edmund salut karena tak ada satu pun dari mereka yang berdiam diri untuk bersantai di kursinya.

Mereka sampai di ruangan yang katanya ruangan junior di sana. Ruangan Maddy bisa dibilang luas dan sangat tipikal-Maddy-sekali karena meja tamu yang ada di sana dipenuhi buku dan kertas yang berserakan. Pasti hasil berpikirnya selama bekerja.

“Maaf, ruanganku sedikit kurang tertata belakangan ini,” ujarnya seolah menyadari tatapan Edmund yang menyiratkan ‘apa tak ada petugas pembersih ruangan di NASA?’

“Oh, tentu. Aku bisa memaklumi,” balas Edmund seraya duduk di antara buku dan kertas yang juga bertumpuk di kursi.

“Baiklah, langsung kumulai saja. Wormhole ini dapat tercipta dengan adanya bintang netron yang dialiri listrik bertegangan tinggi. Sebenarnya aku harus mengambil risiko tinggi untuk percobaan ini. Tentang bintang netron yang tadi kubilang, aku belum mendapat perizinan untuk bisa mengambilnya melihat posisiku di sini yang masih junior,” jelasnya sembari menyiapkan dua cangkir kopi. Mesin pembuat kopi memang sengaja dibawa gadis itu dari rumahnya mengingat ia jarang sekali pulang. Ia tak tahu seberapa tinggi rumput di halaman rumahnya, atau seberapa tebal debu yang menempel pada kacanya. Kalau saja ayahnya ada, rumah itu pasti setidaknya tak akan disebut sebagai rumah angker karena jarang ditinggali.

“Untuk langkah pertama, kurasa kita bisa meminta pertolongan Paman James agar memberikan izin untuk mengambil sampel bintang netron.”

“Tunggu, Paman James itu adalah …?”

“Teman kerja ayahku. Dan dia adalah orang yang memegang kunci ruangan bahan-bahan berbahaya. Kurasa kalau kita menceritakan rencana kita untuk menyelamatkan Ayah, ia akan menyetujuinya,” ujar Maddy sembari mengingat kenangan saat ia merayakan ulang tahun kelimanya—yang kelebihan satu hari—bersama dengan ayahnya dan juga Paman James.

“Lebih terdengar seperti ‘ayo permainkan isi kepalanya dengan kenangan masa lalu’ untukku. Kukira otak jeniusmu tak akan digunakan untuk hal kriminal.” Edmund terkikik. Seingatnya, Maddy Rumford adalah tipikal anak baik yang bahkan tak mau berbuat usil sedikit pun untuk bersenang-senang.

“Bukan aku yang melakukan hal kriminal, Edmund. Tapi kita.”

xxx

James sedang dalam percakapan telepon ketika Maddy dan Edmund izin masuk ke ruangannya. Ruangannya lebih luas dari milik Maddy, karena ia sudah mendedikasikan keringatnya berpuluh-puluh tahun di NASA. Ada mesin pembuat kopi juga di mejanya, setipe dengan milik Maddy. Tapi yang membuat Edmund semakin yakin dengan James yang sudah berumur adalah adanya pemutar kaset antik di sudut ruangannya. Ayolah, ini awal abad ke-22, pemutar kaset bahkan sudah terdengar kuno di abad sebelumnya. Kalau Edmund harus berandai-andai, mungkin ia akan membawa semua game console di rumahnya dan meletakkannya di setiap sudut ruangan. Mungkin juga itu adalah ide yang buruk, mengingat NASA bukanlah tempat yang cocok untuk bermain game.

James menutup teleponnya. “Memerlukan sesuatu?”

“Aku tak selalu datang untuk meminta bantuan, Paman. Tapi kali ini, aku sangat butuh bantuanmu.” Edmund dan Maddy menumpu beban mereka di atas kursi.

“Ya, kau benar, Maddy. Biasanya kau kemari untuk menceritakan mimpi burukmu atau sekadar berbasa-basi karena otakmu pening.” Tungkai James melangkah lalu ikut duduk di hadapan mereka. “Jadi … apa yang bisa kubantu? Dan siapa pemuda ini?”

“Kami butuh sampel bintang netron, Paman. Dan ini Edmund. Teman kecilku. Aku yakin paman akan ingat kalau aku bilang ‘baju hangat biru berbulu’.”

“Hey! Itu wol! Ayolah, pakaianku tak seburuk itu,” sergah Edmund. Namun melihat kemeja butut dan celana belelnya, mungkin Maddy dan Paman James ada benarnya juga.

“Oh! Baju hangat biru berbulu! Wah, sepertinya aku sudah benar-benar berumur,”—ya, tepat seperti apa yang Edmund pikirkan—“dulu kau hanya setinggi pinggangku!”

“Ya, Paman. Aku tumbuh dengan baik,” ujar Edmund masih merasa kesal.

“Dan apa tujuanmu tadi? Bintang netron? Kalian pasti tahu sendiri jawabanku, melihat tak ada satu pun perizinan dari atasan yang menginginkanku memberi kalian sampel bintang netron.” Ia hampir kembali pergi dari tempatnya dan mengusir kedua anak muda di depannya.

“Ini demi ayahku, Paman.”

“Ya, demi Mr. Jacob!”

James kembali menumpu tubuhnya pada kursi. “Apa yang akan kalian lakukan untuk Jacob?”

“Aku yakin jika ayah masih hidup saat ini. NASA terlalu cepat berspekulasi, Paman. Sensor pesawatnya mungkin rusak dan ia terperangkap di sebuah planet. Ia mungkin sedang dalam kesulitan saat ini.” Dwimanik Maddy mulai berkaca-kaca dan suaranya mulai tersendat. Sudah bertahun-tahun lamanya ia menyimpan sendiri kekhawatirannya. Semenjak ibunya meninggal, ia tak lagi memikirkan hal lain selain kondisi ayahnya saat ini.

“Biar aku yang teruskan, Maddy.” Lalu Edmund menjelaskan rencana Maddy untuk membuat wormhole. Sesekali James menganggukkan kepalanya mengerti.

“Tapi … pembuatan wormhole di bumi itu sedikit tak masuk akal untukku.”

“Kau bisa memercayakan Maddy, Paman. Lagi pula itu teori lama yang dibuat manusia seabad yang lalu. Untuk apa ia jadi salah satu peneliti termuda di sini, dengan otak jeniusnya ia bekerja siang dan malam, lalu semuanya kandas karena kau tak mau membantunya? Semua ini kami lakukan agar Mr. Jacob kembali, Paman.” Maddy dan Edmund mungkin awalnya berencana untuk memanipulasi otak Paman James. Tapi nyatanya, hanya suara dari hati mereka yang berseru saat ini.

“Aku sangat mengapresiasi kecerdasan Maddy, Anak Muda. Tapi bintang netron itu benda berbahaya! Aku tak mau tanggung jawab jika akhirnya semua ini berujung pada kekacauan.” James enggan menatap langsung netra milik Maddy yang kini basah. Dalam lubuk hatinya, tentu ia ingin membantu Maddy, mengingat gadis itu sudah ia anggap bagai anaknya sendiri.

“Kumohon, Paman. Aku tahu kau juga ingin melihat ayahku kembali,” ujar Maddy di sela tangisnya. Ia menghapus air mata dengan punggung tangannya, yang membuat James tak tahan melihatnya.

James termenung sejemang, bintang netron memanglah barang yang berbahaya, tapi kalau semua ini untuk Jacob … pria tua renta itu juga menaruh banyak pengharapab agar kawannya kembali. “Oh, baiklah,” ujarnya sembari menghela napas berat. “Aku paling lemah kalau harus menolak permintaanmu, Maddy. Kalaupun aku bilang tidak, kalian akan tetap memaksaku, ‘kan? Mungkin setelah ini aku harus banyak berdoa agar dijauhkan dari rasa iba terhadap anak-anak seperti kalian. Biar kuambilkan sampel bintang netron yang kalian mau. Tunggu di sini!” James kali ini benar-benar melangkahkan kakinya. Edmund mencoba menenangkan Maddy yang kini terisak. Rasa khawatir yang selama ini ia pendam akhirnya tersampaikan juga.

Tak lama kemudian, James kembali dengan tabung yang memancarkan sinar keemasan di tangannya. Itu bintang netron. Materi yang sangat padat dan dapat dijadikan bahan pembuatan wormhole.

“Semua ini demi Jacob. Semoga kalian berdua berhasil. Dan tolong untuk tidak membuat kekacauan. Demi karierku.”

xxx

Maddy bersusah payah menelan air ludahnya sendiri. Inilah detik-detik yang selama ini dicarinya. Ia harus pandai mengatur napasnya sendiri untuk menenangkan diri.

“Selama aku menggeluti program sains, bentuk dari bintang masih menjadi sebuah ilusi untukku. Tapi ini … tapi ini nyata!” Edmund berdecak kagum. Sebenarnya ia masih bertanya-tanya, apakah ini hanya mimpi? Atau bintang yang sebenarnya telah memberikan radiasi amat besar sehingga sekarang ia berhalusinasi? Namun Edmund cepat-cepat kembali pada alam sadarnya, mencoba menerima dengan otak pistacio-nya kalau ini memang benar terjadi.

Yang harus dikhawatirkan saat ini adalah Maddy. Ia masih diam di tempatnya tanpa pergerakan. Dan hal itu membuat Edmund berkali lipat lebih khawatir.

“Kau tak akan menggagalkan rencanamu di detik-detik terakhir, ‘kan?” tanya pemuda itu. Maddy mengerjap, tersadar dari lamunannya.

Ia menyunggingkan senyumnya. “Oh, tentu saja tidak!”

Maddy meraih kabel berbeda warna yang terdapat di sana. Sebuah sumber arus listrik bertegangan tinggi yang telah dikembangkan peneliti terdahulu sehingga bisa dengan mudah disentuh tanpa membahayakan manusia. “Hitungan ketiga dan buka tabungnya.”

Edmund mengangguk, “Satu ….”

“Dua ….” Edmund dan Maddy sama-sama meneguk air ludah mereka. Setelah ‘satu’, dan segalanya akan terjadi.

“Tiga!” Edmund dengan sigap membuka tabungnya. Bintang netron itu melayang, dan kabel yang digenggam Maddy diarahkan pada kedua sisinya. Mereka berdua terpental, kepalanya pening karena terbentur.

Tapi pemandangan di depan mereka tak bisa disia-siakan begitu saja. Bagaimana bintang itu berputar dengan sangat cepat, sehingga dapat dengan mudah menerbangkan tumpukan kertas dan buku yang semula diam di dalam lemari. Kaca yang ada di sana juga pecah, membuat Edmund segera merangkak ke arah Maddy dan mendekapnya dengan erat agar tak lantas membuat gadis itu terluka.

Semuanya berjalan dengan cepat, sampai bintang itu kehilangan cahayanya dan membuat sebuah lubang hitam yang memakan setengah dari ruang laboratorium tercipta. Ini dia, wormhole yang dapat digunakan untuk jalan pintas antar tempat yang jauh, atau perjalanan antar waktu.

Mereka berdua menatap benda itu tanpa berkedip. Bahkan menganga beberapa detik. “Kau siap untuk menjemput ayahmu?” Edmund berdiri lebih dulu dengan wajah yang masih terkagum-kagum. Ia mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh Maddy. “Tentu.”

Maddy melangkahkan tungkainya lebih dulu. Namun, sebelum ia benar-benar bisa menyentuh wormhole itu, secarik kertas—yang entah dari mana asalnya—melayang di hadapan wajah gadis itu. Kertasnya usang, dengan pinggiran hangus dan sedikit berlubang. Terdapat sebuah kalimat yang tertera di sana.

‘Terima kasih, 400°’

“Umm … Edmund, apa kau sedang ingin bermain-main denganku? Karena aku tak akan segan menjebloskanmu ke dalam wormhole ini pertama kali,” yang keberhasilannya masih diragukan bahkan olehku sendiri.

“Sayangnya, tidak. Aku mungkin mengiyakan ajakan untuk melakukan hal kriminal pada penelitian pertamamu, tapi aku tipikal orang yang akan serius di saat aku memang harus begitu.” Edmund ikut mengintip kertas yang masih Maddy teliti.

“Aku yakin para peneliti tak akan menuliskan omong kosong untuk disimpan dalam arsip laboratorium. Dan aku juga yakin betul angin kencang yang tadi tercipta sudah tak dapat lagi menerbangkan kertas ini karena intensitasnya semakin surut dan bahkan hilang.” Maddy tak mengalihkan atensinya dari kertas itu. Sesekali membolak-balikkan tangan yang menggenggam kertasnya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa dijadikan hipotesis.

“Dan apa pula 400°? Suhu?”

“Apakah mungkin jika 400° menunjukkan koordinat suatu tempat, bukan di bumi, dan dihuni makhluk asing?” Edmund berbicara dengan suara bergetar. “Mungkin saja.”

“Kalau begitu … kita sudah membuka portal untuk makhluk-tak-tentu-wujud saat ini. Lihat!” ujarnya sembari menunjuk Maddy, tidak, tepatnya ruangan di belakang gadis itu yang kini diduduki makhluk-tak-tentu-wujud dengan aumannya. Sepertinya makhluk itu keluar dari sisi yang lain, atau entah bagaimana caranya. Yang pasti tak ada satu pun dari mereka yang menyadari kedatangan si makhluk sampai Edmund dengan tangannya yang bergetar menunjuk si Makhluk-tak-tentu-wujud.

Mereka berdua berteriak dan spontan menjauhinya. Mahkluk-tak-tentu-wujud mengeluarkan listrik dari pori-porinya, membuat berbagai barang melayang bagai kekuatan telekinesis dan membuat keadaan di laboratorium kembali kacau. Ia menyambar tak tentu arah, sampai akhirnya mengenai Maddy yang tengah mencoba membuka pintu lab yang terkunci.

“Maddy!” Gadis itu terkapar tak berkutik. Edmund merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ayolah, ia bahkan belum mendapatkan gelar sarjananya. Ditambah sahabat kecilnya yang kini tak lagi bernyawa, juga misi pencarian Mr. Jacob yang ternyata gagal total.

Makhluk itu kembali menyambarkan listrik, lalu mengaum saat mendapati Edmund tengah merangkak ke arah Maddy. Oh tidak, pertanda buruk untuk paragraf berikutnya.

Fin.

Advertisements

9 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] The 400° Door

  1. JOEEEEEELLLLLLL, ARAH-ARAH MENUJU NEGARA MAJUU NICCCHHH. U IMPROVED A LOT, MA DEAAAAARRR ❤ ((INI SEMACAM PERASAAN BANGGA EMAK EMAK YG ANAKNYA MENANG SESUATU))

    Asliii nabil udah baca cerita kamu sejak nulis ff yg 4l4y dan sampee mulai nulis orific. DIZ IZ GUD!!!!! scifinya kerasa tapi tetep bisa dimengerti, ga perlu dibaca berulang-ulang. Sederhanaa padaaat, pokoke joossssss

    Narasinya enakeun, dialognya top, syudhaaaalaaah kamu syudaaaa hebaaat ❤ ❤

    Like

    1. AW SAYA NULIS INDONESIA MAJU UYEAY! MAKASYIIIIIIH NABIL TANPAMU APA JADINYA AQOE❤❤❤❤❤❤❤

      Like

  2. Zulfaa, bneran aku salut sama org2 yg bisa bikin scifii huhu. Buatku ini pas dan gampang dimengertii. Idenya mantep dan risetnya jempoll. aku dpt scifi udah nangis duluan yg ada, hahha.
    Selamat ya zulfa ospeknya udah dipublishh dan suksees.. keep writing yaaw! 😀

    Like

    1. Sebenernya saya juga udah mau nangis pas lagi research😂😂 makasiiiih kakdhil, keep writing jugaaa!❤❤❤❤❤

      Liked by 1 person

  3. WOW ZULFA

    Nulis scifi sama sekali bukan hal yang mudah kalo penulis gak suka research, bahkan tetep sulit kalaupun dia sudah research. tapi kamu. OMG. kalo aku sih keburu mabok di research deh! Salut banget! Jempolan!

    Begitu wormhole-nya tercipta aku mulai ragu karena hampir semua peneliti agaknya tahu kalo setiap percobaan itu gak melulu langsung berhasil. Thats why menurutku kamu bijak dalam membuat twist si makhluk tanpa wujud ❤

    a very nice science fiction indeed, you did a very good job, zulfaaa, dear! ehtapi kuliat ada typo tak disengaja niiih. ada kata 'pengharapan' yang ditulis 'pengharapab'. monggo dicek lagi hehehe. aduuh seneng deh baca tulisan inii kayak yang WOW AKU BENERAN TERHIBUR. APALAGI. ADA. EDMUND. awwwww ❤ aku selalu lemah sama nama 'edmund' semenjak narnia.

    you nailed it! ❤
    selamat udah kelar ospek! 😉

    Like

    1. Haaaai kakdhil! Kalo bukan karena bantuan admins mana bisa saya lancar research /brb sungkeman/ makasyiiiiih kak, dan iya saya juga baru nyadar ada saltik di sana😂 makasiiii koreksinya hoho… Gara gara narnia, nama Edmund jadi selalu terlihat tamvan dan berani😂😂😂 makasiih banyaaak sekali lagi kakdhil❤❤❤❤❤❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s