[Special Event: Out of Playroom] The Broken Promise

Ditulis oleh dhila_kudou

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre hystorical fiction.

*

Selasa, 28 Februari 1570

Matahari baru keluar sepenuhnya dari ufuk timur. Cicit kawanan burung yang sebelumnya menemani perjalanan Zaid mulai tertutupi oleh suara riuh pasar, tujuan lelaki itu pagi ini. Ia mengikat kudanya di salah satu pohon sebelum berjalan mengiringi dua orang utusan kerajaan. Mereka sedang melakukan kegiatan rutin mengawasi perdagangan—terutama rempah-rempah—yang dilakukan setiap bulan.

Melihat keadaan masyarakat di luar istana yang semakin membaik membuat Zaid tersenyum. Bagaimana tidak? Semenjak sistem perdagangan tidak lagi dikuasai oleh Portugis, keuntungan yang diperoleh pedagang dan petani pribumi jadi meningkat. Belum lagi kabar perjanjian damai antara kerajaan dan Portugis yang tersiar semakin melengkapi kebahagiaan masyarakat Ternate.

Sosok di balik keberhasilan perjanjian perdamaian itu bernama Sultan Khairun. Beliau penguasa kerajaan Ternate yang disegani oleh pribumi pun sebagian orang Portugis yang tinggal di daerah ini. Beliau juga dikenal sebagai orang yang cukup toleran dengan kegiatan yang dilakukan Portugis di tanah Ternate—di luar kelancangan mereka yang selalu ikut campur urusan istana. Sebut saja pendirian benteng pertahanan dan gereja untuk menyebarkan agama Kristen yang mereka bawa, dengan sebuah syarat: mereka hanya diperbolehkan menyebarkan ajaran agama tersebut kepada masyarakat yang masih menganut paham Atheis.

Di awal kepemimpinannya, Sultan Khairun masih menahan diri untuk tidak memberangus Portugis dengan harapan mereka akan menyadari kekeliruannya dan memohon perdamaian. Hal itu membuat rakyat Ternate—setidaknya bagi Zaid—bisa menghirup udara segar walau dalam keadaan terjajah.

Namun  mereka malah melanggar persyaratan itu. Puncaknya saat mereka membaptis diam-diam orang terdekat Sultan. Tak ayal, Sultan geram dan  melakukan perlawanan. Perang pun pecah di mana-mana. Masyarakat bergerilya dan tak lama Portugis tersudut dan terancam. Mereka akhirnya bertekuk lutut, berjanji tidak akan mencari gara-gara dengan kerajaan lagi. Janji tersebut diikrarkan antara Sultan dan Gubernur Portugis—yang Zaid saksikan sendiri saat bertugas mengawal Sultan di acara itu.

Keberhasilan tersebut membuat Sultan semakin dicintai oleh rakyatnya. Setiap kali utusan istana datang ke pasar, pasti masyarakat akan datang menghampiri untuk  sekadar mengirimkan salam pada Sultan. Namun di antara mereka ada seseorang yang dianggap Zaid begitu istimewa. Namanya Tuan Zulkarnain, ketua persatuan pedagang pasar yang sering menitipkan sekarung besar cengkeh untuk diserahkan kepada Sultan.

“Zaid! Kemarilah!”

Pemuda berambut legam itu segera menoleh. Panjang umur, Tuan Zulkarnain tengah melambaikan tangan ke arahnya. Setelah meminta izin sebentar, Zaid menghampiri kios milik lelaki paruh baya itu dan langsung menjabat tangannya.

“Kabarnya kau menemani Sultan semalam, benar?”

“Ah, itu hanya keberuntungan sahaja, Tuan.”

“Kau terlalu rendah hati, Anak Muda. Berarti kau dinilai mampu oleh Sultan untuk menemaninya di agenda penting itu.”

Zaid mengibaskan tangannya sambil tersipu. Matanya tidak mampu menutupi kebahagiaan yang ia rasakan. Tak bisa dipungkiri, agenda semalam merupakan pencapaian tertinggi untuknya. Ia menundukkan badannya.

“Ah, ini aku titipkan sesuatu lagi untuk Sultan. Katakan bahwa aku benar-benar bangga kepada beliau.”

“Sultan pasti akan sangat senang menerima ini, Tuan,” ujar Zaid ketika menerima karung dari tangan Tuan Zulkarnain. Lelaki paruh baya itu tersenyum sambil mengusap pipinya yang entah sejak kapan terlihat basah.

“Kau … jaga Sultan baik-baik untuk kami.”

Zaid menyunggingkan senyum sambil menepuk pundak lelaki paruh baya di hadapannya. “Tentu saja, Tuan.”

Tuan Zulkarnain menjabat tangan pemuda Zaid sekali lagi. Entah mengapa jabatan tangan tersebut terasa lebih lama daripada biasanya.

Setelah meletakkan sekarung cengkeh pemberian Tuan Zulkarnain di dapur istana, Zaid bergegas menuju pos penjaga istana untuk beristirahat. Saat pemuda berkulit legam itu hendak menutup pintu, Hasan mengehentikannya dan menyerobot masuk.

“Kau habis dari mana?” tanyanya kepada Hasan yang sedang menenggak satu gelas penuh air putih. “Bukannya kau tidak ada jadwal piket hari ini?”

“Kepala Prajurit baru saja mengumpulkan kami di lapangan.”

Zaid menaikkan sebelah alisnya. “Untuk apa? Memangnya ada tugas baru?”

“Memangnya kau tidak tahu kalau Sultan akan pergi ke Benteng Gamlamo? Katanya ada jamuan makan malam dengan Gubernur Portugis.”

“Bagaimana bisa? Mengapa aku tidak dimasukkan ke rombongan nanti malam?”

“Ya, mana aku tahu? Toh prajurit yang diutus lebih sedikit dari biasanya. Sultan memintanya sendiri.”

“Kau sendiri ikut, Hasan?”

“Tidak.” Hasan tertawa kecil. Namun tiba-tiba dahinya berkerut. “Mengapa kau mendadak murung seperti itu,  Zaid?”

Zaid sedikit kelabakan ketika Hasan berhasil menebak isi hatinya. Ada kekecewaan  yang tercermin dari wajahnya. Ya, dia selalu mengincar setiap agenda Sultan di luar istana. Baginya menemani Sultan secara langsung adalah tugas mulia dan tidak boleh disia-siakan. Jiwa mudanya sulit terpuaskan walau sudah sering mendapatkan tugas itu.

“Jangan bersedih hati, Zaid. Bukankah kau baru saja menemani Sultan kemarin saat melakukan perjanjian damai. Mungkin Kepala Prajurit ingin memberimu istirahat sejenak,” ujar Hasan menenangkan.

Namun Zaid tetap tidak puas. “Aku akan menemui Kepala Prajurit agar bisa memasukkan namaku ke pasukan nanti malam,” tekad Zaid dengan penuh semangat. Pemuda berumur dua puluh tahun itu merasa punya tanggung jawab besar untuk menjaga Sultan sebaik-baiknya.

Terlebih setelah mengingat perkataan Tuan Zulkarnain tadi pagi.

“Kau … jaga Sultan baik-baik untuk kami.”

Tangan kekar Zaid menggenggam tali kemudi, memacu kudanya hingga persis berada di belakang kereta yang dinaiki Sultan. Nyala obor menjadi satu-satunya penerang menuju Benteng Gamlamo, tempat jamuan makan malam diadakan. Jalan menuju benteng yang sepi tak lantas membuat mereka lengah. Pemuda itu mengingat jelas pesan Kepala Prajurit untuk selalu mewaspadai ancaman yang bisa datang tiba-tiba walaupun kata perdamaian telah diikrarkan.

Sesampainya di pintu gerbang benteng, sekumpulan prajurit Portugis yang bersiaga serentak menyilangkan senjata menghadang rombongan kerajaan. Salah seorang dari mereka bergerak maju  seraya menghardik dengan  bahasa pribumi yang terbata, “hanya Sultan. Sultan masuk, yang lain di sini!”

Zaid terkejut dan merasa tidak terima, begitu juga prajurit lainnya. Tapi sebelum semuanya bergerak menyerang, Sultan mengayunkan sebelah tangannya, menahan agar mereka tidak melakukan perlawanan.

“Baiklah, tetapi aku ingin membawa salah satu prajurit bersamaku.”

Kini jantung Zaid berdegup kencang. Dia sangat ingin menemani Sultan Khairun ke dalam benteng. Bayangan ‘hanya berdua’ membuat darahnya berdesir hebat. Sultan Khairun pun memindai para pengawal yang bersiap di belakangnya.

“Zaid, kau yang akan mendampingiku ke dalam!”

Mendengar namanya dipanggil membuat pemuda itu senang tak terkira. Ia melompat turun dari kudanya dan melangkah tegap menghampiri Sultan. Tanpa mengulur waktu, mereka pun dibawa masuk ke Benteng Gamlamo. Mereka disambut empat orang pengawal benteng yang bersenjata lengkap. Zaid segera menyiagakan senjatanya. Setelah berjalan sejauh beberapa meter, ia kembali memastikan bahwa tidak satu pun dari prajurit Portugis itu bergerak menyerang. Lelaki itu pun mulai tenang.

Kini mereka berbelok ke kanan. Lorong kali ini hanya diterangi oleh cahaya yang menyeruak keluar dari pintu ruang utama yang terbuka lebar. Aroma masakan langsung menyerbu hidung Zaid.

Ini pasti jamuan makan malam yang sangat spesial untuk Sultan, batinnya.

Sultan pun masuk ke ruangan utama. Namun tanpa Zaid sadari terlebih dahulu, kedua pengawal Portugis yang menyertai mereka langsung menghalangi gerakannya.

“Hanya sampai di sini.”

“Apa?” tanya Zaid kaget.

Pintu besi di hadapan pemuda itu menutup dan menimbulkan bunyi dentuman logam yang sangat keras. Zaid sempat kehilangan akal mengingat Sultan kini di dalam tanpa pengawalan sama sekali.

Ia berusaha mendorong pintu tersebut, tetapi gerakannya terhenti saat bahunya ditarik paksa ke belakang. Matanya terbelalak melihat sepucuk sangkur terayun ke arahnya. Zaid segera menunduk dan melawan. Dengan tombak di tangannya, ia memukul perut pengawal pertama. Pengawal kedua ikut menerjang Zaid dengan tombak. Beruntung pemuda itu segera mengelak sembari menarik keris dari balik seragamnya. Kali ini pusat perhatiannya tertuju pada pengawal pertama yang mengayunkan sangkurnya secara ganas. Zaid menendang tangan pengawal tersebut hingga sangkurnya lepas dari genggaman. Ketika ia membalikkan badan, si pengawal kedua mengacungkan sangkurnya tinggi-tinggi dan langsung menghunuskan ke arah Zaid.

Zaid terhuyung ke belakang. Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kedua prajurit ini sendirian. Ah, tidak, ia salah menghitung. Ternyata ada delapan orang yang mengepungnya, menggagalkan rencananya kabur dari lorong demi mengulur waktu. Satu per satu mereka meluncurkan serangan hingga pemuda itu tidak berkutik. Ia sudah kehabisan darah akibat luka tusukan yang bersarang di perutnya. Zaid tersungkur ke lantai dan semuanya menjadi gelap.

Hal terakhir yang ia dengar adalah derai tawa menggelegar dari balik pintu ruangan utama. Sayangnya ia yakin suara itu bukan milik Sultan. Zaid merutuki dirinya sendiri. Janjinya kepada Tuan Zulkarnain dan rakyat Ternate untuk menjaga Sultan tak bisa ditepatinya. Pemuda itu merasa tidak berharga karena telah menyia-nyiakan kepercayaan Sultan kepadanya.

Pada tanggal 28 Februari 1570,  Sultan Khairun dijebak dalam sebuah jamuan makan malam yang hanya dikawal oleh segelintir pasukan. Jamuan makan malam tersebut diadakan oleh Kapten Lopes de Masquita sebagai perayaan perjanjian perdamaian antara Kerajaan Ternate dengan Bangsa Portugis. Beliau tidak memiliki prasangka apa-apa. Hingga akhirnya beliau diajak masuk ke ruangan utama seorang diri dan secara tiba-tiba ditusuk oleh salah seorang pasukan pengawal bernama Antonio Pimental. Sultan terbunuh dan meninggal seketika.

Wafatnya Sultan Khairun membuat rakyat Ternate marah besar. Dipimpin oleh Sultan Babullah, mereka menuntut balas dendam dan mengusir Portugis dari tanah Ternate selamanya.

THE END

Sumber:

Catatan penulis:

  • Ini cerita pertama saya yang bertemakan sejarah. Benar-benar tantangan terbesar bagi saya karena harus melakukan riset mengenai salah satu kejadian di abad ke 16 yang pastinya tidak mampu saya tuliskan kembali menjadi sebuah cerita yang sempurna. Jika ada kesalahan penyampaian informasi penting terkait fakta-fakta sejarah pada cerita saya di atas, saya mohon maaf.
  • Terima kasih kepada Q, kakput, para admin, serta nipahs semua yang telah banyak membantu dalam penulisan cerita ini :”
  • Saya Dhila, 96l. Selamat menikmati 😀
Advertisements

3 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] The Broken Promise

    1. Kak li haaai *waving2
      Huhu, iya kak, seriusan la lama di risetnya ToT. Syukurlaah kk ttp menikmati ceritanyaa, hehehee.
      Iya, emg bakal mudah ketebak sih *la blom jago melintir plot TT* apalagi historikal, gak berani melenceng jauh dari aslinya, wkwk.
      Terima kasih banyak lo kak lii udah baca dan mampiir ke cerita inii. Keep writing jugaa buat kakak ><

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s