[Special Event: Out of Playroom] Survive or Die

Ditulis oleh son nokta

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre adventure.

Karena hukum adat lebih tajam dari mata pisau.

Untuk kesekian kalinya Antan bersama warga Punan lain bermigrasi mencari tempat tinggal baru. Walau sempat berkabung untuk beberapa waktu atas peristiwa yang merenggut nyawa sang ayah, tradisi tetaplah tradisi. Kematian tersebut tidak harus membuat Antan berlarut-larut tinggal di anak sungai Kapuas. Para leluhur yakin roh yang meninggal akan bergentayangan, sehingga mereka menghendaki agar masyarakat Punan selalu berpindah-pindah apabila ada yang meninggal.

Namun langit masih menyisakan duka yang dalam, hujan tampak enggan berhenti membahasi bumi. Barangkali siklus presipitasi ini akan terus berlanjut sampai Antan menyerah mendaki jalanan terjal menuju bukit Tilung.

Antan adalah lelaki yang tahan banting terhadap mata pisau, belati, sabit, dan material tembaga lain—katanya. Mustahil ia mau menyerah terhadap paksaan alam yang menggantikan peluh masamnya menjadi cairan berbau ganyir. Ini bukan hiperbola, karena realitasnya Antan jatuh ke kubangan lumpur sesaat setelah angin menerpa sebuah pohon yang hampir tumbang dan ia berusaha menghindarinya.

Dedaunan berdesik, mungkin mentertawakan kancut Antan yang berubah kecokelatan. Mungkin juga merasa nyinyir lantaran langkah Antan tertinggal jauh dari rombongan pelajur.

Sejak awal Antan menolak ikut pindah ke gua di atas bukit Tilung sana. Peduli setan jika ia digentayangi oleh mendiang Ayah sepanjang hidupnya, lagi pula Ayah adalah satu-satunya keluarga yang Antan miliki.

Tapi, melakukan hal demikian sama saja dengan menentang para leluhur.

Mati atau bertahan hidup.

“ … Kalimantan, coba kau cari hadangan atawa1 umbi di hutan sana.”

Suara itu menelisik masuk ke telinga Antan, terdengar jelas setelah daun mahoni menjatuhi sisa-sisa air hujan tadi malam tepat ke wajahnya.

Ia bangun mengambil mandau dan sabit yang kemudian ia sisipkan di tali pinggang. Biasanya mandau digunakan sebagai alat menangkap daging buruan. Lempengan besi yang telah ditempa dan berbentuk runcing pada mandau mampu membuat seekor babi hutan tergeletak di tanah hanya dengan melayangkannya ke tubuh babi tersebut. Walau sulit memperkirakan apakah tolakan yang dilakukan akan berhasil mengenai sang hewan buruan.

“Mama, Antan tulak2,” pamit Antan pada tetua di sukunya. Orang tua yang bertindak sebagai ibu bagi seluruh warga Punan.

Antan bersama para pemburu lain mengambil jalan memencar ke seluruh arah mata angin. Dengan demikian akan ada hasil tangkapan yang berbeda-beda saat mereka kembali berkumpul.

Selepas Antan menetapkan pergi ke arah barat, seorang lelaki yang seluruh rambut panjangnya dikepang satu menghampiri Antan. Tubuhnya tinggi hampir setara pohon belimbing pun kurus hampir sekurus batangnya.

“Kau kenapa lambat3 tadi malam?”

Lelaki itu dibuat menunggu oleh pandangan lurus Antan.

“Bermain di kubangan lumpur,” jawab Antan lantas mengencangkan tali di pinggangnya.

“HA HA HA.”

Lelaki itu bernama Paley, tawanya mirip suara jeritan kuda yang dipasung rantai besi. Pun begitu ia bimbang, apakah pantas dirinya mentertawakan Antan yang tengah berusaha terlihat baik-baik saja. Setelah semua kisah pahit di kehidupannya, kemudian kepergian keluarga terakhir yang ia miliki.

“Tingkahmu pasti mirip babi, tadi malam. Harusnya kau saja yang kutangkap jadi hadangan,” timpal Paley.

Antan menyodorkan sepasang tangan dengan gestur mencekik. “Lantas kugentayangi kau setiap malam.” Ia mengambil sabitnya yang dibungkus gulungan daun purun, “pakai ini!”

Tak ayal Paley berlari menjauh dari Antan seolah menghindari kemungkinan buruk yang terjadi padanya.

Menjelang senja ketika matahari hampir terbenam di pelupuk barat, Paley menggulingkan diri di atas akar pohon kayu api. Ada sensasi yang membuat ia merasa tengah dipijat oleh Mama. Tak ingin sendirian menikmati penemuan hebatnya, Paley berusaha menghentikan kegiatan Antan mengumpulkan ranting pohon dengan agak berteriak.

“Antan, umpat kah4?”

“Kita tak ada waktu untuk istirahat, Mama sudah menunggu di atas sana!” ujar Antan datar. Dirinya sudah selesai menguliti babi hutan hasil tangkapannya, memikul ratusan ranting di atas pundak, dan semua peralatan berburunya sudah bersih dari darah hewan. Sekilas ia melihat apa yang dilakukan Paley. Lelaki berkepang satu itu ternyata tidak banyak membantu Antan kecuali untuk menebar celotehan di sepanjang perjalanan.

“Masih lama, Paley?” Ia nampak risih melihat kawannya kian larut dalam kenyamanan terapi akar kayu api.

Paley bergumam mengiyakan, telapak tangannya menyapu udara—memberitahu Antan agar kembali ke gua tanpa dirinya.

Itu berarti bukan urusan Antan lagi jika hal buruk terjadi pada Paley. Misalnya seekor macan muncul di saat lelaki itu tertidur pulas hingga tidak menyadari bahwa ia perlahan kehilangan sepasang tangan karena dilahap macan.

Antan berjalan cepat, menghindari rangkaian imajinasi di otaknya. Memikirkannya saja membuat dia merasa menjadi kawan paling jahat yang perlu diasingkan oleh penduduk Suku Dayak Punan. Antan bergidik ngeri. Ternyata bayangan tentang kematian Paley serta pengasingan dirinya jauh lebih menakutkan, dibanding langit yang berangsur menggelap dan menyisakan keheningan malam.

Burung hantu kini menjadi pelantun musik yang menemani perjalanan pulang Antan. Bersama dengan bulan yang muncul di balik awan, menuntun Antan menemukan jalan keluar. Terkadang Antan harus mengeluarkan sabitnya guna menebas tanaman menjalar yang menghalangi perjalanannya. Tidak jarang pula yang ia tebas adalah ular daun (lantaran kondisinya terlalu gelap).

Semuanya biasa bagi Antan, baik saat ia sendirian maupun bersama warga Punan lain.

Bertahan hidup atau mati. Sang mendiang ayah pernah memberikan dua pilihan ketika Antan tidak bisa melupakan kepergian ibunya.

Tapi dari serangkaian hal biasa yang Antan lakukan sudah cukup menggambarkan bahwa kematian membuat ia berpikir untuk terus bertahan hidup.

Semua warga Punan berkumpul di tengah tempat peristirahatan mengitari kayu bakar bekas api unggun tadi malam. Tak terkecuali Antan yang berdiri tegap di samping Mama. Ada satu hal yang ia khawatirkan. Tapi ia tidak ingin jika kekhawatirannya adalah penyebab semua orang dikumpulkan.

Dangar5!” seorang tetua menghentakkan tombaknya ke atas tanah.

“Ada pulang warga kita yang meninggal ….”

Bibir Antan mengantup rapat.

” … pemuda yang kira-kira ditinggal oleh rombongannya ketika berburu ….”

Itu Paley!

Antan tidak memperhatikan tuduhan demi tuduhan terkait pelaku pembunuhan seorang pemuda di hutan sana. Tapi pemuda itu Paley! Asumsinya benar bahwa tidak seharusnya ia membiarkan Paley yang sembrono itu sendirian di dalam hutan.

“Paley! Oh, Paley!”

Antan mengambil tombak siapa pun yang tengah menancap di tanah, membawanya berlari memasuki hutan hujan demi menemui jasad Paley—Paley kawannya. Kaki telanjang Antan menapaki jalanan licin dan hampir berkubang lagi di dalam lumpur. Dirinya larut dalam bayangan jasad Paley habis dimangsa oleh sekelompok harimau hutan.

Atau Antan sedang membayangkan bahwa cepat atau lambat dirinya akan diasingkan oleh seluruh warga Punan?

Fin.

 

  • 1 ”…hadangan atawa…” : “…kerbau atau…”
  • 2 tulak : pergi
  • 3 lambat : terlambat
  • 4 umpat kah? : mau ikut?
  • 5 Dangar! : Dengar!
Advertisements

3 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Survive or Die

  1. Hello, salam kenal. ini cherry 94line. maaf blum bsa nyapa di line dgn para penghuni baru ws hehe :))
    wah, baca ini aku ngerasa baca cerpen2 di koran. aroma kebudayaan dan keindonesiaan terasa. baru tahu loh aku kalau suku dayak punan punya adat nomaden tiap ada yg meninggal. nambah ilmu nih :3 dan aku jg suka bahasa suku yg km selip2in. tapi ada kata ‘hadangan’ itu memang bahasa dayakny hidangan ya? mungkn bsa km tambah ke footnotenya.

    kutunggu karyanya yg lain, smangat! 🙂

    Liked by 1 person

    1. Waaaahalo cherry />o<)/
      Maafkeun baru kebaca komentarnya huhuh ;;
      Wah makasih banyak untuk apresiasinya, aku masih nggak luput dari kekurangan kok /y
      Salam kenal ya, makasih udah mau baca dan berkomentar ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s