[Special Event: Out of Playroom] Pesanan

Ditulis oleh Liana D.S.

Untuk event ospek Writers’ Secrets dengan genre horror.

.


Angin berembus agak lebih kencang dari biasanya di luar penginapan. Langit telah menggelap sejak sebelum senja turun akibat awan mendung. Hawa gerah yang khas menjelang hujan membuat petugas di balik meja terima tamu mengibas-ngibaskan tangan dekat leher, kepanasan. Dikeluhkannya segala hal yang bisa dikeluhkan mengenai penginapan tua tersebut, mulai dari ventilasi buruk penyebab kegerahannya hingga nyala lampu yang terlalu redup, meski semua keluhan itu hanya terungkap di batin. Dalam pikirannya yang jenuh, tidak ada hal yang menurutnya baik saat itu, terutama pemanjangan shift mendadaknya untuk menggantikan seorang pegawai lain.

Kedatangan seorang tamu pada pukul setengah enam petang mungkin menjadi satu-satunya pengecualian dari segala hal buruk yang didaftar si penerima tamu tadi.

Sang tamu seorang wanita, mengenakan kimono yang kelihatan sudah berumur tapi juga mahal, dan ia datang sendiri tanpa rombongan kerja atau pasangan (sebagai informasi, kebanyakan tamu penginapan sedang dalam perjalanan bisnis atau di tengah masa bulan madu). Seorang petugas menawarkan bantuan untuk membawakan kopornya menuju meja terima tamu dan dia menerima bantuan itu dengan senyum ramah nan cantik. Dari dekat, perempuan itu bahkan lebih cantik lagi.

Namun, si penerima tamu mendengar sesuatu yang ganjil ketika wanita itu angkat bicara.

“Aku Ito Ayumi, kemarin aku sudah pesan kamar.”

Masalahnya tidak berada pada suara si perempuan sendiri, melainkan desisan amat samar yang mengiringi akhir kalimatnya.

Sebagaimana orang-orang yang mendengar suara tak lazim, mulanya si penerima tamu menganggap suara itu tidak benar-benar ada. Barangkali ia hanya terlalu capek sehingga berhalusinasi, atau itu sebenarnya bunyi alat pembersih yang sedang dipakai di lantai dua, atau bunyi pendingin ruangan rusak. Si penerima tamu membiarkan sang wanita menandatangani buku tamu begitu saja, tetapi setelah selesai, sang wanita kembali bicara …

“Baik, aku bisa langsung ke kamarku, bukan?”

… dan desis tak jelas tadi terdengar kedua kalinya.

Si penerima tamu mencoba bicara dengan wajar, menjelaskan fasilitas apa saja yang bisa didapatkan sang tamu di penginapan dan bagaimana cara menghubungi petugas bila membutuhkan sesuatu, padahal sebetulnya, ia mulai merasa tak nyaman. Ia memaksa diri untuk percaya itu bunyi alat rusak dari lantai atas yang kebetulan terdengar membarengi si wanita. Tidak mau ia menghubung-hubungkan hal itu dengan berbagai mitos aneh di penginapan yang  dijaganya.

Usai sang tamu masuk ke kamar, suasana kembali tenang. Si penerima tamu menyeruput kopinya, berharap pahitnya minuman itu dapat membuatnya menyingkirkan pikiran-pikiran yang tak perlu.

***

Makanan ringan dan teh disajikan pukul tujuh. Kata pelayan, si wanita sudah memesan makanan untuk diantar nanti sesudah ia mandi, sekitar pukul delapan.

“Apa sebetulnya dia akan mengundang teman-temannya kemari, ya? Pesanannya banyak sekali, mustahil dia memakan semuanya sendiri.”

“Entahlah. Bisa saja, sih, kalau perutnya gampang melar macam perutmu, Hana,” kelakar si penerima tamu dan temannya merengut. “Memang dia pesan berapa set makan malam?”

“Empat set.”

Mengira bahwa si wanita sengaja datang lebih dulu untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum rombongannya tiba, si penerima tamu tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Ia kembali disibukkan dengan urusan reservasi sampai pukul sembilan (sempat ia berpikir, kok masih ada yang mau menginap di tempat reyot begini?), sehingga sementara, ia mengabaikan satu-satunya tamunya hari itu. Kebalikannya, beberapa pelayan justru kelihatan sibuk; mereka tak henti-hentinya berlalu-lalang, mengantarkan pesanan ….

Tunggu.

Setelah melayani reservasi terakhir malam itu, si penerima tamu menutup telepon dan bertanya pada kawannya yang hendak membawa baki berisi peralatan makan kotor ke dapur.

“Belum selesai?”

“Hm? Maksud—oh, iya, kalau kau bertanya tentang pesanan Nona Ito, kami memang belum selesai,” ujar si pelayan, dengan bahunya mengisyaratkan beberapa pelayan lain yang mondar-mandir. “Dia baru saja memesan empat set kaiseki ryori [1]lagi.”

“Wow. Tagihannya pasti akan sangat besar.” Si penerima tamu membelalak heran. “Memang jam berapa rombongannya datang, Ruki? Kelihatannya ia buru-buru sekali memesan banyak, padahal tidak enak kalau tidak langsung dinikmati.”

Gadis pelayan tadi mengerutkan bibir. “Itulah yang aku tidak mengerti,” ucapnya lirih sebelum menengok ke kanan dan ke kiri, lalu mendekati meja terima tamu. “Dia bisa pesan kamar lebih besar kalau betulan mau mengajak rombongan, tetapi lihatlah, dia pilih kamar yang biasa saja. Lagi pula, apa dia mengatakan akan mengajak rombongan saat check in? Tidak, kan? Yang aneh lagi, dia telah menghabiskan dua set makan malamnya sebelum memesan lagi …. Nih, sudah mau kucuci mangkuk dan gelasnya. Apa dia berencana akan memakan semua pesanannya sendiri? Kalau dijumlah, totalnya ada delapan set, lho.

Entah karena gaya bicara rekannya yang sok misterius atau fakta mengejutkan tentang baki alat makan kotor yang dibawa sang rekan, si penerima tamu kembali gelisah.

“Yah … mungkin dia hanya lapar setelah perjalanan jauh dan kesal akibat keterlambatan teman-temannya. Perempuan bisa jadi ganas kalau kelamaan menunggu, sepertimu yang kalap melahap jatah donburi kami setiap Yasuo melupakan janji kencan kalian.”

“Sialan, tidak usah curhat terselubung begitu! Sudah, ah, aku balik ke dapur dulu!”

Di hari biasa, sikap sang kawan yang mengentak-entakkan kakinya sebal setelah dicemooh bisa menjadi hiburan tersendiri bagi sang penerima tamu, sayangnya hari ini berbeda. Perempuan di lantai atas yang barusan memesan delapan set makan malam itu … tidak sungguhan akan menghabiskan semuanya, kan? Entah mengapa, membayangkan wanita berperawakan mungil memiliki nafsu makan sebesar itu membuat si penerima tamu bergidik.

Jangan-jangan … gashadokuro[2]?

Itu tebakan yang bodoh, tentu saja. Andai seseorang masih percaya pada keberadaan siluman tengkorak penjelmaan rasa lapar manusia di zaman ponsel pintar ini, si penerima tamu akan menertawakan orang tersebut habis-habisan, termasuk dirinya sendiri. Gashadokuro cuma berkeliaran dalam dongeng seram anak-anak yang susah disuruh tidur, bukannya beralih rupa jadi perempuan muda dan memesan kamar di penginapan uzur. Kalau monster tengkorak itu kelaparan, lebih masuk akal kalau ia langsung menyantap orang-orang yang ada di penginapan ini ketimbang repot-repot membayar delapan set makan malam lengkap, bukan?

Ada-ada saja aku ini.

Dan, jam-jam shift malam si penerima tamu kembali bergulir tanpa kecemasan.

***

Dini hari, lampu lobi berkedip-kedip seperti akan meletus. Biarpun begitu, si penerima tamu tetap nyenyak tertidur di balik mejanya, tidak terusik bahkan oleh keletak-keletok selop kayu yang menuruni tangga. Baru setelah merasakan guncangan pada bahunya, si penerima tamu terbangun dengan sedikit enggan. Matanya mengerjap-ngerjap, menyesuaikan diri dengan pencahayaan sekitar, hingga akhirnya ia dapat mengenali paras ayu tamunya di hadapan.

“Maaf, apakah aku bisa minta bantuan Anda? Tadi aku mencoba menelepon, tetapi tidak ada yang mengangkat.”

Namun, rupanya desisan yang mengganggu tadi sore belum mau enyah dari wanita ini. Si penerima tamu terjaga penuh karenanya, kemudian bertanya parau sembari sebisa mungkin mengabaikan desisan di balik suara tamunya.

“Ah, ya, apa yang bisa saya bantu?”

Sang tamu mengulas senyum tipis. Tampaknya ia agak ragu memulai.

“Maaf, malam ini saya merepotkan sekali. Saya memesan banyak makanan sebelumnya dan menyibukkan para pelayan, tetapi sekarang, saya ingin minta tolong lagi pada mereka. Apakah kira-kira mereka berkenan? Ini kan jam istirahat.”

“Tidak masalah, Nona. Landasan kerja kami adalah kepuasan para tamu, jadi Anda tidak perlu merasa sungkan atau merepotkan kami. Anda sampaikan saja permintaan Anda melalui saya, nanti akan saya teruskan pesan Anda ke dapur.”

Boleh saja si penerima tamu berkata demikian, tetapi kecurigaan dan ketakutan tak diundang bersembunyi dalam kalimatnya. Mungkinkah perempuan ini minta diantarkan makanan lagi? Tidak cukupkah delapan set menu yang sebelumnya? Gila. Akan tetapi, terlambat untuk menarik tawaran yang sudah diajukan. Perempuan itu terlanjur meminta tolong …

“Saya senang sekali Anda bisa membantu. Berarti saya boleh memesan makanan lagi?”

… dan usai si penerima tamu mengangguk, wanita itu menyebutkan pesanannya.

***

“Bolehkah saya mendapatkan satu manusia utuh yang masih segar?”

***

Kontan si penerima tamu mematung. Lidahnya kelu. Ia tidak ingin memercayai kata-kata yang barusan mampir ke telinganya, tetapi wanita di seberang meja bergeming dengan seulas senyum di wajah seolah manusia adalah kudapan malam yang wajar.

“Maaf?”

“Manusia. Bisakah saya mendapatkan satu? Kalau tidak ada yang segar, yang sudah agak lama juga tidak apa-apa selama belum lewat sehari.”

Wanita ini ternyata benar-benar ganjil. Si penerima tamu mundur tiga langkah dari meja, wajahnya berubah pucat. Gigil merambati tubuhnya dalam sekejap. Kengerian yang tergambar pada rautnya amat dinikmati oleh wanita di seberang meja—dan dengan rambut tergerai, mendadak si wanita terlihat lebih mengerikan.

“Jangan bilang manusia tidak termasuk menu makan malam di penginapan ini.”

Gashadokuro bisa jadi merupakan khayalan para ahli kisah semata, tetapi masih ada berjuta-juta makhluk ganas yang sanggup menelan satu pria dewasa bulat-bulat … makhluk ganas yang nyata. Salah satu dari mereka memiliki rambut lebat melebihi punggung yang dapat memanjang dan bergerak sendiri seperti lengan. Rambut perempuan itu sendiri telah melilit kedua pergelangan kaki si penerima tamu tanpa disadari, kemudian naik ke badan, terus, terus ….

Sebelum sempat si penerima tamu berteriak, sang tamu cepat menyumpal mulutnya dengan segumpal rambut. Seringai si wanita melebar ketika calon mangsanya menggeliat tanpa suara.

“Padahal saya mau membayar mahal kalau pesanannya tersedia. Malam ini, dengan sangat menyesal saya akan mencuri makanan dari penginapan ini.”

Para pelayan tertidur pulas dekat dapur. Penjaga penginapan semuanya bersiaga di depan, terlalu jauh dari lobi. Tak heran usaha si penerima tamu melepaskan diri sia-sia saja. Jalinan rambut wanita itu melilit raganya sangat kuat, mengangkatnya dari lantai, dan menggerakkannya ke belakang.

Makhluk apa dia sebenarnya?

Delapan set makan malam pesanan si wanita, rupanya, adalah kunci menuju jawaban dari pertanyaan ini. Tidak ada manusia yang sanggup menghabiskan sebegitu banyak makanan, apalagi seseorang dengan postur cenderung kecil seperti wanita ini … kecuali jika ada sesuatu yang memaksanya makan. Sesuatu yang rakus, yang menggerakkan tiap helai rambut sebagai perpanjangan nafsu makannya, yang tidak mengikuti kebiasaan ‘bersantap sedikit’ layaknya wanita kebanyakan, dan tidak pernah merasa kenyang.

Seluruh tubuh si penerima tamu telah berada di belakang kepala si perempuan. Rambut-rambut yang bergerak dengan sendirinya tersibak, menampakkan sebuah mulut besar yang menempel pada kepala dengan gigi taring berjejer di dalam, siap mengunyah daging baru.

Desis yang mendesirkan darah si penerima tamu sepanjang malam ini terdengar amat jelas di telinganya untuk terakhir kali.

“Aku lapar ….”

***

Lampu lobi meletus, segalanya tak terlihat, tetapi gemeretak tulang yang diremukkan gigi beriring bunyi percikan darah cukup menjelaskan apa yang terjadi dalam kegelapan.

TAMAT

.

.

.

.

.

based on the myth of futakuchi-onna (lit. two-mouthed woman)

[1] kaiseki ryori: set makanan multi menu khas Jepang, masing-masing menu biasanya disajikan dalam porsi kecil

[2] gashadokuro: roh berwujud tengkorak raksasa penjelmaan orang-orang yang mati kelaparan

Advertisements

17 thoughts on “[Special Event: Out of Playroom] Pesanan

  1. kak li, halo! semoga masih inget aku ya 😄

    baru sadar ternyata aku udah lama ih ga baca tulisan kakak 😅 apalagi kalo ga salah kak li jarang nulis genre horor ya? ini mantep sih, rasanya kayak aku ikutan ketarik ke cerita 😄😆 tapi kayaknya lebih enak dibaca kalo penerima tamunya dikasih nama hehe ini pendapatku aja kak liii

    mari tetap menulis kak! 😉😉😉

    Liked by 1 person

    1. halo ^^ sepertinya penname mu telah berubah (?) lama tak jumpa ya hahaha
      penerima tamunya ga aku kasih nama karena aku aslinya bingung bikin nama cowok :p kamu tau, aku hampir memasang nama nakamoto yuta di situ *ampun mas yutaaa
      keep writing too!

      Like

  2. Aku keinget monster item di kartun yuki yang makannya banyak banget, dapet banget feel horror begitu “satu manusia segar” disebut. Nice as always, li.

    Like

    1. halo rizki, lama tak jumpa hehe
      aku senang kamu menganggap ini horor, sungguh challenge ospek ini out of playroom sekaleee aku juarang bikin horor non mainstream T.T

      Like

    2. well, at least yo’ve done it!
      karena aku juga susah bikin horror soalnya, kmrn ikut event pun akhirnya hanya berakhir dengan cerita seperti itu.
      so, you must be proud of your own story! keep cheering!

      Like

    1. aku ga suka nyelipin foto horor kaleee orang aku sendiri takutan :p btw halo pat! aku merasa melihat namamu di lay birthday project apa aku blm komen ya? comeback dooongs

      Like

    2. aku trauma kak wahaha XD
      ah sudahlah, itu hanya abal-abal yang maksa nulis. aku juga juga lama nggak ketemu kakli, sibuk yah senpai? huhu

      Like

  3. huuuuuuuu 8 servings! gamaen-maen. Selamat kaklianaaa udah menyelesaikan ospeknya dengan sangat apik yuhuuuuuu 😉 😀

    p.s : aku kalo dikasih genre horror udah ketakutan duluan kaliyaa X) you did such a good job, kakaaaaak ❤

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s