Swinging Pendulum (2 of 2)

by Lt. VON and Io

[cr image: here]

.

[Previous]

.

“Hear my soul speak.

Of the very instant that I saw you,

Did my heart fly at your service.”

(Shakespeare, The Tempest: Act 3, Scene 1)

.

Estelle.

Jujur dikatakan, Estelle Corvin sebenarnya tidak tertarik dengan urusan pasangan hidup.

Perihal yang satu itu benar-benar menempati jejeran paling akhir dalam prioritas hidupnya. Namun sepekan ini, entah mengapa kegelisahan mengusik terkait akan hal tersebut; memenuhi pikiran dan menimbulkan pergolakan yang tidak bisa ditepis begitu saja.

Atensi gadis bersurai pirang itu melekat pada jendela kaca besar yang menghiasi ruang tempatnya berada. Di luar nampak jelas kebun bunga favorit sang ibu di sela hijau daun yang mengitari. Matahari bersinar malu-malu di balik gumpalan awan kelabu yang menutupi langit London pagi ini.

Pemandangan apik yang biasa menjadi obat penenang itu tetap tak mampu mengusir resah yang perlahan mulai mengganggu keseharian si gadis.

Estelle meremas pelan bahunya, di mana tanda pasangan hidupnya berada—seutuhnya tersembunyi di balik kemeja satin tanpa lengan berwarna biru tua yang dipadukan dengan rok hitam.

Jake Brice Vaughan.

Untaian huruf berwarna cokelat kenari saling menyambung membentuk kaligrafi elegan terlihat kontras bersanding dengan kulit putih bak pualam. Nama itu telah terukir semenjak dirinya dilahirkan ke dunia ini delapan belas tahun yang lalu, nyaris membuat ayah dan ibunya terkena serangan jantung karena baik keduanya tahu benar nama siapa itu yang terpoles di kulit anak bungsu mereka.

Oh, Countess Corvin benar-benar berharap pasangan hidup Estelle bukanlah dia. Namun sedikit penggalian informasi dengan hasil yang tidak diragukan lagi kebenarannya menandaskan harapan tersebut. Earl Corvin hanya menggelengkan kepala dan berkomentar: Well, setidaknya kita tahu tidak ada apa pun yang mengikat putri kita untuk harus berakhir bersama pasangan hidupnya.

Pasangan hidup adalah satu-satunya orang yang dapat menyayangimu dengan sepenuh hati, mencintai dengan segenap jiwa raga. Namun itu tidak berarti kau dan dia dapat menjalin hubungan khusus, pun tidak ada jaminan perasaan yang kau miliki terhadap pasangan hidupmu akan terbalas. Karena itulah, kendati terlahir dengan tanda pasangan hidup terukir jelas di salah satu anggota tubuh, tak sedikit orang yang memilih untuk mengabaikannya dan menciptakan kisah cinta mereka sendiri—kisah cinta yang tidak terikat dengan kebimbangan sepihak maupun takdir.

Earl dan Countess Corvin adalah contoh nyata bagi mereka yang tidak mau dipusingkan oleh pasangan hidup. Apa yang mereka miliki bagi satu sama lain sudah cukup dirasa untuk mengikat ke dalam pelaminan dan menempuh jenjang kehidupan lebih lanjut. Putra sulung mereka, Elliot, hanya sekali melirik rangkaian aksara di lengannya sebelum kemudian mengalihkan pandang, jelas sekali tidak tertarik dengan apa yang tertulis di sana. Dan kini, pasangan suami-istri Corvin itu benar-benar berharap Estelle menunjukkan apatis yang sama terhadap tanda yang terlukis di kulitnya.

Karena, hei, Jake Brice Vaughan adalah putra bungsu keluarga Vaughan yang sudah terkenal akan bisnisnya dengan mafia. Hell, mereka adalah mafia. Keluarga Corvin memang terbiasa berurusan dengan mafia—suatu hal yang tidak dapat dihindari mengingat pekerjaan Earl Corvin—tapi itu bukan berarti mereka ingin memiliki calon menantu yang berasal dari golongan tersebut.

Merepotkan—dan jelas tidak sehat untuk tekanan darah.

Estelle memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri. Ia menyandarkan punggung pada sofa empuk berlengan kesayangannya dan melarikan jemari pada surai pirang yang tergerai bebas. Bibir pink itu membentuk garis tipis simetris, kerutan halus terpeta di dahi. Apa yang dirasakannya ini benar-benar mengganggu—terlebih jika terkait dengan tanda di bahunya. Orang bilang instingmu akan tahu bahwa jarak antara kau dan pasangan hidupmu mengecil, tapi Estelle ragu akan insting macam apa yang dibicarakan. Kiranya gelisah tidak termasuk dalam daftar.

Apakah ia hanya merasa paranoid?

There you are, Darling.”

Nada rendah bariton yang tertangkap oleh indra pendengaran seketika membuka kelopak mata Estelle. Atensinya tertuju pada seorang pria jangkung yang tengah menyandarkan bahu pada daun pintu cokelat yang tebal nan kukuh. Pria itu bersurai pirang, dengan alis rapi menaungi dwimanik tajam abu merkuri. Seulas senyum tipis menghiasi wajah yang terukir nyaris sempurna itu. Ia mengenakan celana hitam dan kemeja merah marun yang membungkus tubuh proporsionalnya dengan baik. Sepotong jas hitam tersandar malas di lengannya.

Suara halus sol sepatu beradu dengan lantai kayu mendekat. Secara instingtif Estelle mendongak, menerima kecupan singkat yang dibubuhkan oleh sang kakak di dahi. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kakaknya.

Brother, you’re early. Meeting with your clients?

Elliot mengiyakan. Ia melarikan jemarinya pada surai halus si adik dengan penuh sayang. Pria itu merogoh saku celana dan dalam diam menyodorkan sebuah ikat rambut yang menarik perhatiannya pada perjalanan bisnis ke Jepang tiga hari lalu.

Oh, cantik sekali,” kata Estelle, manik abunya berbinar menelusuri detail aksesori yang masih berada di telapak tangan sang kakak. “Untukku?”

Alis Elliot terangkat, melempar pandang ‘Menurutmu?’ yang mengundang senyum manis di wajah si adik.

Thank you, Brother.

Elliot mengacak rambut Estelle. “Ibu sempat melayangkan komentar bahwa akhir-akhir ini kau kelihatan gelisah,” kata si pria kemudian. Nada tenang itu diwarnai oleh sepercik kekhawatiran. “Ada apa?”

Ah.

Tentu saja sang ibu dapat dengan mudah membaca air mukanya seberapa keras pun ia menutupi.

“Tidak ada yang perlu dicemaskan, Kak. Aku baik-baik saja.”

Kerutan halus menghiasi dahi Elliot. “Benarkah itu?”

Estelle mengangguk tanpa melepaskan pandang dari kakaknya.

Ada keraguan yang terpantul di manik abu Elliot, namun sejenak kemudian ekspresinya melunak. Dengan senyum tipis tersungging di bibir, ia akhirnya berkata, “well then, just remember that you can talk to me anytime and about anything, Darling.”

Lekuk senyum yang menghiasi wajah Estelle lenyap kala Elliot berpaling darinya. Manik abu Estelle bergulir mengikuti punggung sang kakak yang menjauh. Atensinya terpaku pada lengan Elliot, di mana tanda pasangan hidupnya terlukis; kaligrafi elegan berwarna emas merangkai nama Eleanore Isolda Moore. Sering ia melihat tanda tersebut tanpa halangan apa pun dan dari pengakuan kakaknya sendiri, keinginan untuk menemukan pasangan hidup bisa dikatakan tak lebih dari nol.

Si gadis menunduk, jemarinya bermain dengan aksesori rambut yang baru saja diterima dari sang kakak. Sepekan yang lalu, bayangan akan pasangan hidup sama sekali tidak terlintas dalam benaknya. Namun kini, rasa waswas selalu menyergap setiap ia melihat tanda di bahunya—seolah mengisyaratkan bahwa saat di mana ia bertemu dengan pasangan hidupnya akan tiba dalam waktu dekat. Dan Estelle tidak menyukai perasaan tersebut, karena boleh saja ia tidak tertarik menemukan pasangan hidup, namun itu bukan berarti ia terhindar dari keingintahuan akan seperti apa sebenarnya orang yang telah dipilih takdir untuknya.

*

Estelle menyusuri koridor berkarpet beludru dengan langkah ringan. Ia berniat menikmati waktu luang bersama bunga-bunga cantik koleksi ibunya. Mungkin dengan benar-benar berada di tengah kebun bunga itu akan membantu menenangkan pikiran. Melintasi entrance hall, rungunya menangkap bel yang berbunyi. Gadis itu memutar arah, tanpa ragu menuju pada pintu ganda kukuh yang tertutup rapat. Sekelebat pertanyaan muncul dalam pikiran, siapa yang berkunjung di waktu pagi seperti ini? Tamu-tamu sang ayah maupun sang ibu biasanya datang di waktu afternoon tea.

“May I help you?”

Ada sesuatu yang mengganjal di benak kala Estelle mendaratkan pandang pada manik cokelat kenari pria yang tengah berhadapan dengannya sekarang.

“Halo, aku perlu bertemu dengan Earl dan Countess Corvin. Aku yakin mereka ada di rumah karena aku telah mengumumkan kedatanganku tepat satu jam yang lalu.”

Kerut terpeta di dahi Estelle. Apa maksud pria ini, bahwa ia mengumumkan kedatangannya satu jam yang lalu? Urusan mendesak, kah? Dan siapa dia sehingga ayah dan ibunya menerima kunjungan yang bisa dibilang mendadak ini? Terlebih … apakah dia berkata jujur? Estelle memandang si pria dengan sorot menyelidik.

Jelas melihat keraguan pada ekspresinya, pria itu melanjutkan,

“Baiklah, kalau itu tidak cukup. Can you see this?” Ia menurunkan kerah turtleneck hitam yang dikenakan di balik tuksedo senada, sembari kemudian memutar sedikit lehernya agar ia dapat melihat apa pun itu yang ada di sana.

Seketika napas Estelle tercekat.

“Aku harus membicarakan hal ini dengan kedua orangtuamu.”

Belum cukup dikejutkan oleh lambang keluarganya yang menghiasi sisi kanan leher si pria, kalimat selanjutnya yang diudarakan serasa menyumbat saluran pernapasan Estelle.

“Dan, perkenalkan, namaku Jake. Jake Brice Vaughan.”

Vaughan.

Jake Brice Vaughan.

Her soulmate.

Wha—how on Earth did he find her?!

Kelu di lidah membuat Estelle kehabisan kata-kata. Beruntung pelayan yang bergegas menghampiri menyadarkan si gadis bahwa ia telah berdiri di depan pria itu tanpa berkata apa pun selama beberapa saat.

Seperti orang bodoh, batin Estelle. Ia membiarkan si pelayan mengambil alih dan segera melangkahkan kaki menuju kebun. Niat awalnya untuk menenangkan diri sepertinya akan berujung dengan kegagalan mengingat siapa yang saat ini tengah berada di rumahnya, menghadap kedua orangtuanya.

Oh, Estelle tahu siapa pasangan hidupnya ini. Jake Vaughan, putra dari keluarga mafia Vaughan. Mereka telah lama beroperasi di Inggris. Ayahnya tidak pernah berhadapan dengan keluarga itu, mengingat keluarga Corvin sendiri dasarnya tidak peduli dengan mafia atau apa pun itu yang menyangkut bisnis gelap asalkan eksistensinya tidak meresahkan Sri Ratu maupun mengancam negara. Jadi, apa alasan dia kemari? Dia bilang ingin membicarakan masalah tanda di belakang lehernya dengan kedua orangtuanya, namun itu menimbulkan sejuta pertanyaan lain dalam benak Estelle.

Apakah dia tahu bahwa Estelle adalah pasangan hidupnya? Apakah dia ingin membuat suatu kesepakatan terkait tanda yang dimilikinya? Atau …?

Pikiran Estelle carut marut dalam berbagai skenario dan alasan mengapa Jake Vaughan datang kemari. Tak ayal kegusaran datang meluap, karena bisa-bisanya pria tersebut datang begitu saja dan mengguncang perasaan Estelle.

Menghentakkan kaki, ia mempercepat langkah menuju kebun. Sudahlah, toh nanti juga ia akan tahu maksud kedatangan pria itu. Tidak ada gunanya berkutat dengan sesuatu yang tidak pasti.

Atau setidaknya, itulah yang Estelle beritahukan pada dirinya sendiri untuk satu jam ke depan.

*

Cukup lama waktu yang Estelle habiskan di kebun sebelum seorang pelayan datang dan memberitahu bahwa sang ayah menginginkan presensinya di ruang minum teh. Mengucapkan terima kasih pada si pelayan, Estelle segera beranjak dari tempat duduknya dan mengarahkan dirinya menuju ruang minum teh yang terletak di sisi sebelah timur kebun. Selama perjalanan, batinnya bertanya-tanya akan alasan mengapa sang ayah tiba-tiba saja memanggilnya. Apakah ini ada kaitannya dengan pria itu?

Jangan bodoh. Tentu saja ini ada kaitannya dengan dia, Estelle. 

Menepis keraguan yang sempat hinggap selama sepersekian detik, Estelle yang tiba di depan ruangan yang dimaksud meraih kenop dan mendorong pintu itu ke dalam. Alis si gadis berjingkat kala mengetahui absensi kedua orangtuanya. Atensinya beralih pada sosok pria yang langsung bangkit dari kursi begitu dirinya memasuki ruangan.

Tatapan Estelle tertuju pada wajah si pria yang sekejap nampak menegang sebelum akhirnya urat di wajahnya melunak. Si gadis melihat bagaimana manik cokelat Jake Vaughan bergulir perlahan mengamati dirinya dari atas hingga ke bawah. Intensitas yang hadir di mata si pria memicu degupan jantung untuk berdetak sedikit lebih cepat. Tanda di bahunya seperti terbakar.

“Aku penasaran,” ucap Estelle perlahan, akhirnya memecah keheningan ruang yang sempat tercipta pun berusaha mengenyahkan ketegangan yang ia rasakan. Gadis itu memangkas jarak di antara keduanya dan melanjutkan, “akan apa yang kau katakan pada orangtuaku sehingga mereka memberimu izin untuk menemuiku seorang diri.”

Jarak mereka hanya tinggal beberapa jengkal kala enam kata yang menghentikan langkah Estelle terlontar dari mulut si pria,

“I would like to court you.”

“Excuse me?”

Estelle terpaku, membelalak. Salah dengar-kah ia, atau memang pernyataan itu baru saja keluar dari mulutnya?

“Oke, maaf, itu terlalu mendadak,” kata si pria, mengacak rambut dan tampak salah tingkah. Ia mengambil satu tarikan napas panjang—menenangkan diri. Kilat kekukuhan kemudian terpantul di manik cokelat itu, mengundang percikan rasa penasaran dalam diri Estelle.

“Aku minta maaf karena telah mengagetkanmu atas kedatanganku yang mendadak tadi pagi,” ucap Jake kemudian. “Dan karena memperkenalkan diriku seperti itu. Boleh aku mencoba sekali lagi?”

Gadis bersurai pirang itu memiringkan kepala, menimang-nimang. Sejenak kemudian anggukan menyusul permintaan tersebut, yang disambut oleh senyum timpang si pria. Jake meraih tangan Estelle, membungkuk dan memberikan kecupan ringan pada buku jari si gadis.

“Jake Vaughan, son of Jerome and Jacquelin Vaughan—” Jake mendongak, mengunci netra dengan Estelle. “—at your service.”

Ah.

Bibir Estelle meliuk membentuk senyuman—tersentuh. Ia menghargai bagaimana Jake berusaha untuk memperkenalkan diri dengan benar dan meminta maaf atas sikap yang ditunjukan beberapa jam lalu. Mungkin ia akan bertanya, apa landasan perubahan sikap pria di depannya ini.

Then again, she probably already knew what the answer is.

“Estelle Corvin,” sambut si gadis, melunak. “A pleasure, Mr. Vaughan.”

“Call me Jake.” Pria itu kemudian menambahkan, “please.

“Then, I suppose you may call me Estelle.”

Gadis itu mengambil tempat duduk dan mengisyaratkan Jake untuk melakukan hal yang sama. Ia meraih cangkir teh baru dan mulai menuangkan cairan sewarna tembaga itu perlahan. Estelle mengambil dua kotak gula dan mengaduk pelan tehnya. Kala mendongak, ia menangkap Jake tengah memperhatikan dirinya—kembali dengan intensitas yang tidak bisa dibilang dangkal. Estelle mengangkat alis.

“Jake?”

“Ah ….” Jake mengedik, tampak mengenyahkan apa pun itu yang tengah berkecamuk di pikiran. Ia lalu berkata, “Aku benar-benar serius tadi saat aku bilang ingin mengenalmu lebih dalam.”

“Apakah ini mengenai tanda yang kau miliki?”

“Benar.”

“… Boleh aku melihat tandamu?” pinta Estelle kemudian. Ada kebimbangan yang melintas di wajah pria itu, sebelum akhirnya permintaan itu disusul oleh sebuah anggukan. Maka untuk yang kedua kalinya, ia menurunkan kerah turtleneck-nya, menunjukkan pada Estelle tanda berwarna keperakan yang terlihat mencolok menghiasi sisi kanan lehernya.

Dari sudut matanya si gadis bersurai pirang melihat keterkejutan yang melintas di wajah Jake kala dirinya bangkit memutari meja dan duduk di sebelah si pria. Sebelum Jake sempat bereaksi lebih lanjut, jemari Estelle menyentuh tanda itu—sepasang gagak yang saling berhadapan dengan aksara C di tengah-tengah. Simbol keluarganya terpatri dengan detail yang menakjubkan. Ia menelusuri tiap lekuk yang terpoles di sana dengan lembut—penuh dengan kehati-hatian dan ketertarikan yang tidak sedikit. Ibu jarinya mengusap pelan tanda itu.

“Estelle?” Suara Jake terdengar tercekat.

“Oh, maaf,” kata Estelle, namun ia tidak menghentikan gerakan ibu jarinya. Tanpa disadari bibirnya meliuk membentuk senyum geli melihat telinga Jake yang memerah. “Kau merasa tidak nyaman?”

Uh … not really.”

Tawa halus keluar dari mulut si gadis bersurai pirang. Keheningan sejenak menguasai sebelum akhirnya ia kembali membuka suara.

“Bagaimana kau tahu bahwa tanda ini tidak mengarah ke kakakku?”

Jake bergidik ngeri—dan Estelle tak sanggup merasa tersinggung atas kakaknya karena ia tahu benar sifat Elliot yang bisa sangat menyebalkan bila berhadapan dengan orang tak dikenal.

“Pikiran buruk itu sempat terlintas,” aku si pria kemudian. “Tapi semua petunjuk yang berhasil kukumpulkan mengarah kepadamu.”

“Petunjuk?”

I was … digging around, so to speak. I knew the fact that your brother’s soulmate is someone named Eleanore Moore.” Jake memilih kalimatnya dengan hati-hati. “Dan ini akan terdengar murah sekali, tapi saat aku tahu bahwa kau adalah pasangan hidupku, aku tidak bisa melepaskan ide untuk bersamamu.”

“Karena status keluargaku?”

“Bukan,” kata Jake, dan Estelle agaknya tersentak dengan ketajaman yang membungkus di sana beserta kegusaran yang terlihat di wajah si pria.

My parents, they are soulmates.” Jake meneruskan, melembutkan suaranya.Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana mereka saling mengasihi, mencapai kebahagiaan yang melampaui ekspektasi. Aku menginginkan apa yang mereka miliki saat ini.”

“Jadi kau menemui orangtuaku untuk membicarakan masalah ini?”

“Ya.”

Estelle diam sesaat, lalu melanjutkan, “Melihat kau masih di sini, apa pun itu yang katakan berhasil meyakinkan mereka. Yang kutanyakan, apa kau yakin dengan keputusanmu itu?” katanya pelan, manik abu bergulir mengamati tanda di sisi leher si pria. “Bagaimanapun juga, ini hanyalah sebuah tanda. Aku tahu siapa kau sebenarnya, Jake. Dan kupikir, meskipun omerta[1] tidak berpengaruh untuk keluargaku, ini tidak sebanding dengan risiko yang akan kau hadapi nantinya, benar?”

Ia tersentak saat telapak tangan Jake melingkari pergelangan tangannya. Jake memutar tubuh, berhadapan langsung dengan si gadis bersurai pirang dengan keseriusan tergambar jelas di wajah.

“Mungkin ini hanya sebuah tanda bagimu,” kata Jake, mengunci pandang dengan Estelle dan memberikan remasan lembut pada tangan kecil yang tengah digenggamnya. “Tapi tidak bagiku. Karena itulah aku siap memikul risiko apa pun itu yang datang dengan keputusanku ini.

“Aku paham cara pandangmu berbeda mengenai masalah ini, tapi bisakah kau memberi kesempatan untukku? Terlebih, sejauh ini kau tidak menunjukkan reaksi negatif terkait tanda yang kita miliki.”

“Hmm.” Estelle melempar pandang pada tanda yang kini tertutup oleh kerah turtleneck hitam Jake. “Bicara soal tanda, kau tidak penasaran dengan milikku?”

Jake mengerjap, untuk sesaat ia tampak gugup. “Well, jika kau tak keberatan menunjukkannya padaku….”

Sementara Estelle merasakan panas merembet di pipi, namun ia mengabaikannya. Ia mengalihkan atensi, pura-pura tertarik dengan lukisan kuda hitam yang berada di seberang ruangan. “Di bahu kananku.”

“Apa?” Bingung mewarnai suara Jake.

“Tandaku. Ada di bahu kananku,” ulang Estelle. Ia mengerling ke arah Jake, melihat atensi si pria yang kini tertarik pada bahu yang tertutup oleh kemejanya. Tak lama pemahaman terpantul pada dwimanik cokelat itu, disusul kemudian semburat merah di pipi. Entah kenapa pemandangan tersebut memenuhi perut Estelle dengan dentuman kupu-kupu yang berpesta ria.

“I—uh, it’s all right. You don’t need to show it to me.  I believe in you.”

Alis si gadis berjingkat. Ia menatap si pria dalam diam—menimbang. Dan genggaman Jake pada tangannya mengerat.

You … are really cute, aren’t you?

… Excuse me?

Tawa lepas dari mulut Estelle kala melihat ekspresi keheranan yang menghiasi wajah Jake. Oh, sungguh, pria yang satu ini benar-benar menggemaskan.

Dan penuh dengan kejutan.

“Aku tidak menertawakanmu,” jelas si gadis yang melihat kerut terpeta di dahi si pria. “Kau cukup berbeda dari orang-orang yang kujumpai selama ini. Baru pertama kali aku melihat seseorang yang menaruh kepercayaan begitu tinggi pada takdir.”

Jake membuka mulut, namun Estelle terlebih dahulu mengisyaratkan si pria untuk tidak menyela.

It isn’t bad, I guess. Intriguing, even.” Estelle mengamati tangannya yang terpaut erat oleh tangan Jake. Suhu tangan pria di hadapannya ini lebih rendah darinya. Ia mendongak dan bibirnya meliuk membentuk senyuman hangat. Entah mengapa kekhawatiran yang sebelumnya berputar dalam pikirannya perlahan mulai menyusut. Apakah ini karena Jake adalah pasangan hidupnya? Atau karena kejelasan mulai menghapus ketidakpastian yang sebelumnya membelenggu? Tetap saja, masih banyak hal yang perlu mereka bicarakan setelah ini.

“Jadi kupikir, mungkin tidak ada salahnya menerima tawaranmu.”

Gadis itu melihat bagaimana mata Jake membulat. Membelalak.

“Kau tidak bercanda, ‘kan?”

Masih dengan senyuman yang menghiasi wajah, Estelle memiringkan kepala. Surai pirangnya menyapu dahi, sejenak menghalangi pandangan. “Apa aku terlihat seperti seseorang yang akan bercanda dalam keadaan seperti ini?”

Dan Estelle mendapati adanya harapan yang tergambar jelas di wajah si pria bersurai cokelat kemerahan. Di saat yang bersamaan ia tampak kehabisan kata-kata.

Cute. Very cute.

Don’t disappoint me, Jake.

Suara Estelle bagaikan sengatan untuk Jake memberikan atensi penuh, melenyapkan keterkejutan yang sempat hinggap dan membuat kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Dan untuk yang kedua kalinya pagi ini, pria itu mengecup buku jari Estelle—mengutarakan rasa terima kasih yang dapat Estelle lihat ketulusannya dengan sangat jelas.

“As my Lady wishes.”

*

Part 2 of 2 – End

*

Notes:

  1. Omerta – Code of silence among mafias regarding their ‘world’. Pelanggaran pada kode ini bisa berakhir dengan kematian si mafia yang melanggarnya.
  2. Dibuat pada awal bulan Agustus dan selesai di akhir bulan Oktober. Genre ini terlalu berat untuk Titan and bruh im not even kidding /cries
  3. Kapang perhaps you wanna say smth?
  4. Bruh, believe me you’re not the only one who suffers here. Ritual catok jari tiap kelar ngetik tidak terhindarkan … karena aku pribadi sudah lumayan lama tidak menulis genre roman. T^T
  5. Kolab kedua dan rasanya masih belum trauma kerja sama bareng Titan dan The Corvins. HAHAHAHAHA.
Advertisements

3 thoughts on “Swinging Pendulum (2 of 2)

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAH

    HATIKU MELELEH AHAHAHA ❤ ❤ ❤ Emang ya kalo anak perempuan yang di posisi keluarga kayak keluarga Corvin pasti ujung-ujungnya luluh. Come on, girls. ada apa dengan kalian?

    tapi aku gak nyalahin Estelle soalnya kalo yang dateng ke rumah macem si Jake dengan segala keberaniannya wah pasti jawaban akhirnya 'iya' hahahaha. They're too lovely, kakak-kakakkuuuu!! You both are too lovely too!

    Pokoknya aku baca ini tuh jadi dugun dugun (tjailah). Suka sama konsep soulmark-nya. Apalagi pake acara ada lambang keluarganya gitu!!!! AAAAAAAAAAAA. Dan paling suka sama scene ketika Estelle nyentuh langsung tanda namanya. Awwwwww ❤ ❤ ❤ kusuka kusuka kusukaaaaa

    p.s : ya Allah mau juga punya abang kayak Elliot.

    Liked by 1 person

    1. 34567 years later, and i finally replied this comment. MAAFKAN TITAN DHILU :”(((

      thank you karena sudah menyempatkan mampir, dhilu!! adskjsdhakjdh we’re so humbled. and yes, it’s rather hard to say no when jake is so frickin’ persistent. dan tbh, titan juga sebenernya ngeship mereka berdua HAHA maafkan titan regis :”

      laf laf dhiluu!! ❤ ❤ and elliot says hi!

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s