Starburst

Feature image source: Unsplash

© Catstelltales

Menurutku, Max hanyalah kutu buku penggila apa pun yang berasal dari era sembilan puluhan—secara harfiah ia berkeliling perumahan demi meminta para tetangga menandatangani petisi untuk dikirimkan ke perusahaan komputer agar mereka kembali memproduksi CPU dengan soket disket. Gara-garanya aku harus terlibat perang batin antara menolak kembalinya 3 ½ Floppy A dan menjatuhkan piala persahabatan kami dari helikopter, atau memberikan dukungan moral pada Max dan menjatuhkan diriku sendiri dari helikopter ke lembah bernama Kami Menyaksikan Alien Memanggang Creme Brulee dengan Oven Kami.

Aku memilih yang kedua. Bukan berarti aku langsung menyetujui hipotesis alien yang memanggang creme brulee di oven siapa pun, tapi karena aku yakin aku tidak bisa hidup tanpa kue sus cokelat buatan ibunya yang kerap ia bawakan untukku di dalam balutan kertas roti. Di hadapan ibunya dan kue sus cokelat, aku mengucapkan ikrar bahwa aku akan mendukung Maximillian Kesayangan Momma apa pun yang terjadi. Dan berhubung ‘yang terjadi’ di sini berarti menjerumuskan diri lewat mesin waktu demi tercapainya masyarakat madani 3 ½ Floppy A, maka apa boleh buat.

“Tinggal sebelas tanda tangan lagi,” jawab Max ketika aku merasa perlu menanyakan kemajuan petisi itu. Sebelas dari seratus, wow, dengan jumlah sebanyak itu penggemar alien jelas akan mulai berpikir untuk menguasai Bumi. Tapi seratus tentu saja tidak dapat dihitung sebagai syarat, kecuali sebuah disket bisa menyimpan serial The Big Bang Theory hingga bermusim-musim.

Max dan aku mengayuh sepeda ke tempat favoritnya—perpustakaan umum, oh dan mengapa orang-orang tidak merasa heran. Ia selalu terang-terangan menyelinap ke deretan DC Comic dan mencomot segepok untuk dibaca, mengabaikanku satu jam demi menikmati panel-panel bergambar (yang pernah kuperhatikan berisi otot, otot, dan otot, dan cahaya-cahaya atau mungkin laser, entahlah, dan balon kata yang seru).

“Sava …”

Ada suatu saat dimana kuharap Max menjelma menjadi tipikal yang berambut pirang, bermata biru cerah, dan jadi gelandang tim futbol sekolah. Ada masa-masa dimana kuharap ia tidak punya otak dan hanya memikirkan apa yang ada di balik rok pemandu sorak.

“Sava …”

Kadang kuharap ia sedangkal itu, karena, dan hanya karena aku mau ia mengalihkan pandangan dari dunianya padaku. Bukannya aku naksir Max, tapi oh tolonglah, aku ini murid A-List. Cewek-cewek meniru gayaku dan cowok-cowok memasang taruhan untuk bisa mengencaniku—jangan pikir aku tidak tahu. Aku sudah mencoba menyingkirkan fantasi bahwa suatu saat semua itu akan meninggalkanku karena aku terlalu lama mengekori Max dan galaksinya.

“Sava!”

Oh tunggu. Aku tidak bisa masuk ke galaksinya. Ia jauh berada di luar Bima Sakti.

“Halo? Bumi kepada Savannah?”

Lambaian telapak tangan Max tepat di depan hidung membuatku bereaksi berlebihan. Dan dari semua reaksi keren yang sering kutampakkan pada orang-orang, aku malah menghela napas berat dan merebahkan pelipisku ke atas meja.

“Katakan kalau kau sudah selesai. Aku ngantuk.”

Savage Savannah—Savannah si Jahat.”

“Tidak jahat. Cuma ngantuk.”

“Jadi makan sundae-nya mau diundur?”

Aku mengangkat wajah, memandangnya dengan dahi berkerut, kalau-kalau ia kerasukan dan aku setidaknya harus menjaga jarak.

“Kau yakin sedang bicara dalam bahasa yang sama denganku?”

“Yeah, kupikir sesekali kita perlu nongkrong di kedai sundae.”

“Kau alergi laktosa,” aku yakin alisku kian bertaut, sama seperti ketika aku dihadapkan dengan integral parsial kurang ajar yang merusak semua jajaran nilai-nilaiku di sekolah. “Jangan kira aku lupa bagaimana ibumu ingin mengadopsiku karena menyukai kue sus yang tidak bisa kaunikmati, karena kau …” kutunjuk hidungnya, “… alergi laktosa.”

“Tapi kau tidak.” Max bangkit sambil tersenyum, lantas mengacak rambut kecokelatan bukan-pirang-nya. Tinggi Max tidak sampai 170. Posturnya sangat mungil jika sedang berdiri di antara murid-murid lainnya. Ia kerap mengenakan kaos oblong berlapis kemeja flanel yang dimasukkan ke dalam jinsnya, menampakkan ikat pinggang, membelah tengah sisiran rambutnya, dan mengenakan keds. Berada di samping Max membuatku seakan sedang melompat ke film-film remaja era sembilan puluhan.

“Lagi pula,” kata Max. “Aku tidak harus makan sundae-nya. Dengar-dengar nacho di sana enak.”

Omong-omong aku suka caranya bilang ‘tapi kau tidak alergi laktosa’. Jadi aku bangkit seraya tersenyum, dan melangkah ke tempat penitipan barang.

“Baik sekali kau hari ini, Max,” ujarku—seratus persen menyindirnya. “Biasanya galaksimu sulit dijamah.”

Max mengekeh, mengukuhkan gayanya sebagai remaja sembilan puluhan yang terjebak mesin waktu ke masa depan.

“Tapi aku ini galaksi yang tidak beraturan,” ujarnya seraya mengambil langkah mundur agar dapat tetap bersimuka denganku. “Ketidakberaturanku disebabkan oleh gangguan dari galaksi lain—galaksimu. Dan tahu tidak, Sava, bahwa penggabungan galaksi bisa meningkatkan pembentukan bintang yang lantas dinamakan galaksi starburst?”

Barangkali kami seharusnya membicarakan sundae saja. Atau visi dan misi masyarakat 3 ½ Floppy A, apa pun. Asal jangan galaksi.

“Bagaimana kau menerjemahkan analogi galaksi starburst ini jika membicarakan kita, Sava?”

“Entahlah. Persahabatan?” aku menggulirkan bola mata. Akan kucekoki dia dengan es krim hingga buang-buang air.

Max bersedekap, tapi bibirnya mengulas senyum.

“Kurang lebih.”

Alisku terangkat jauh. “Apa maksudmu ‘kurang lebih’?”

Tapi ia hanya terkekeh-kekeh, lalu mendahuluiku ke kios sundae di seberang perpustakaan. Yeah, memangnya bagaimana cara Max mengeja namanya?

“Cepatlah, Sava! Kita masih harus mengumpulkan tanda tangan untuk petisi ini atau aku akan berubah pikiran soal sundae!”

—S-T-A-R-B-U-R-S-T.

FIN.

Berusaha menulis lagi. Semoga yang selanjutnya bisa lebih baik lagi.

Advertisements

4 thoughts on “Starburst

  1. Aduh, kaeciii! Hatiku tergetar setiap Maximillian manggil ‘Sava’. Aku juga sukaaa sama interaksi mereka, terutama cara bicara Max kalo lagi di ‘galaksi’ yang dibilang Savannah. Hahaha. Super lovely! ❤ ❤ ❤

    p.s : kayaknya hampir semua cewek bakal kesemsem sama kalimat panjang dari Max yang nyebut ketidakberaturannya ❤

    p.s.s : aku pada Max-Sava foreva ❤

    Like

  2. kak eciiiiiii, how i adore your writing style-lah…. hehehehe.

    suka banget deh gimana kak eci selalu nulis dengan gaya santai ala-ala teenlit impor (tapi pun kalau digabungkan dengan tema yang lebih dewasa tetep ngelebur) dan memasukan beberapa pop culture gitu, hehe. lucuuu. gemes sekali. dan sava–max ini juga ga kalah uculnya. aku suka gimana unik dan nerdy-nya si max dicampur gawl-nya sava tapi mereka masih bisa berinteraksi sedeket ini. semacam opposite attract, tapi kok manis banget hehehe. apalagi kakak masukin istilah-istilah yang bikin karakternya max makin kuat dibalur sama narasi yang bikin sava hidup. bagus bangeeet! ❤

    kakak baru mulai nulis lagi, kah? (sesuai a/n-nya) hehe. aku agak kerasa beberapa kalimat menggantung gitu, tapi untuk ukuran baru menulis lagi ini udah bagus bangeeeet!

    semangat terus yaa, kak eci!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s