The Chronicles of Titanic

By Keii, 2016.

credit pic : pility.com

Bagaimana jika kukatakan, Titanic tidak tenggelam karena gunung es?


Bunyi gerungan ketel uap dari dek dasar rupanya menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuk Ashford Lee. Pemuda berdarah Asia itu menyandarkan punggungnya di teralis yang mengamankannya dari kemungkinan terjatuh pada permukaan perairan Southampton, Britania Raya. Berdiri sejauh delapan belas meter dari permukaan air laut tentu menjadi sebuah pengalaman emas tersendiri untuk pria tersebut. Pasalnya, dalam kondisi yang lebih normal, kegiatan Ash hanyalah duduk-duduk santai di sudut perkantoran usang London sembari membagikan angket-angket rahasia gerakan revolusi Inggris. Namun angin April kelihatan ingin menuliskan kisah dinamis untuk Ash. Sebuah cerita baru yang langsung dimulai tatkala sebuah paket misterius datang ke losmen sewaannya di Gray’s Inn, London.

.

Cerutu yang baru setengah habis dihisap Ash kala itu langsung saja dikebumikannya di atas satu-satunya asbak kuningan yang ia miliki. Paket tersebut tidak berisi apa pun kecuali selembar kertas biru serta sebuah manuskrip tipis bersampul kulit yang—sebetulnya—tak ingin dilihatnya lagi. Seakan belum cukup misterius, tak lama setelah Ash selesai membaca suratnya, kertas biru tersebut mendadak terbakar dengan sendirinya.

Geladak utama RMS Titanic, 10 April. Ash masih ingat.

Aksara singkat dalam surat yang telah terbakar tersebut sukses membawanya ke geladak utama dari sebuah kapal raksasa yang pernah tercatat sejarah. Sebuah mahakarya hasil perpaduan jeli dari seni, teknologi, dan politik: RMS Titanic. Untuk beberapa menit singkat, Ash sempat ragu untuk menyinggahi kapal gigantik tersebut. Akan tetapi, rasa penasarannya mengalahkan berjengkal-jengkal keraguan yang sempat menyinggahi dadanya.

Sebagai permulaan, Ash sempat mondar-mandir menyesari setiap bagian kapal, mengagumi keindahan desain interior sekaligus mencari tahu kejanggalan yang diinginkannya. Bukan mau menyalahkan diri sendiri, tapi ketika ada paket misterius berbalut keanehan datang ke Gray’s Inn, maka sudah pasti ada yang salah. Semua orang yang pernah meminta bantuan Ash, pasti memiliki masalah besar. Ia mafhum tapi agak jengkel sedikit. Di geladak utama, cerutu yang tengah Ash nikmati kini sudah hampir membakar bibirnya. Namun demikian, ia tak kunjung membuang benda tersebut. Sesekali dikeluarkannya arloji murah yang ia punya hanya untuk menghitung—yah, menunggu bukan merupakan kosakata favoritnya.

Lagipula, Ash tidak pernah suka dengan air. Mungkin sudah menjadi tabiat turun-temurun, penyihir abad kesembilan belas tidak pernah ada yang benar-benar suka dengan air. Bukan takut, hanya tidak suka. Jenis perasaan tidak menyenangkan seperti ketika seorang balita memuntahkan sayur sawi pertamanya.

“Ashford Lee?”

Cerutu Ash hampir meluncur bebas ke lantai kayu saat seorang pemuda tampan berambut hitam menepuk pundaknya. Belum cukup menghasilkan kesan pertama yang jelek, pemuda tersebut mencuri cerutu yang tengah dihisap Ash kemudian menyembunyikannya di balik jas katun hitam berkerah kaku yang ia kenakan. Seketika, cerutu tersebut menghilang, sama sekali tak meninggalkan asap atau membakar jas mahalnya.

“Aku Mark,” ujar sang pemuda usai pertunjukkan singkatnya. Manik hitamnya berkilat-kilat penuh keyakinan saat ia mengulurkan tangannya dengan sopan pada Ash. Senyumnya mengembang dari kedua sudut bibirnya, memaksa kedua pipinya memunculkan lekukan kecil di tengah.

Ash adalah pemuda yang tidak menyukai basa-basi. Meski masih jengkel perihal cerutunya, ia membalas uluran tangan Mark, tanpa etiket standar yang biasanya ditunjukkan para aristokrat di atas kapal mewah. Lagipula, Ash tidak perlu bertanya siapa Mark dan bagaimana pemuda itu menemukannya di sini. Sihir rendahannya tadi sudah cukup jelas untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa yang diinginkannya.

“Jadi, apa yang perlu kukerjakan?” tanya Ash kemudian. Ia memasang tampang tak menyenangkan yang pernah dimilikinya. Tujuannya? supaya pemuda bernama Mark ini mau cepat-cepat menjelaskan situasi padanya. Ash perlu menimbang untuk mengambil langkah selanjutnya dengan cepat.

Namun, belum juga ia mendapatkan jawaban, fokus Ash teralihkan.

Ekor matanya malah tertarik pada seorang gadis muda yang kebetulan melintas di dek sekitar anjungan. Gadis tersebut mengenakan crinoline krem dengan motif etnik ala Portugis. Rambutnya yang pirang dan bergelombang dihias sempurna dengan sebuah tutup kepala berwarna putih polos. Ia berjalan pelan sekali—mungkin hati-hati, atau semata kesusahan menguasai crinoline-nya. Sesaat sebelum gadis itu hilang di belokan pertama setelah ia keluar dari anjungan, Ash melihat sekelebat tanda berupa garis elips berwarna hijau terang di bagian lehernya.

Mark diam-diam memerhatikan gerakan Ash. Ia dengan sengaja tak lantas menjawab pertanyaan Ash karena ia sendiri tak mahir menjelaskan. Ash adalah penyihir jenius dan paling berpengalaman yang pernah ia tahu. Membiarkan Ash—secara visual—sadar akan ancaman, jauh lebih efektif daripada menyampaikannya via lisan.

“Gadis itu ditandai,” komentar Ash cepat—sesuai ekspektasi Mark. Pemuda itu dengan cekatan memindai sekelompok penumpang kelas satu dan dua yang berlalu-lalang di dekatnya. Dari setiap pria dengan kemeja berkerah tinggi nan kaku hingga wanita dengan balutan gaun dan korset menyiksa, Ash selalu menemukan sebuah garis elips berwarna hijau di bagian-bagian tubuh mereka yang terlihat: punggung tangan dan leher.

“Hampir semua orang ditandai,” Mark mengamini. Air wajahnya tak berubah, seakan ia terbiasa dengan kejadian seperti ini.

“Kau menginginkan aku untuk mengurus mereka?”

“Tidak,” Mark menggeleng pasti. Semburat tawa tersembunyi di balik jas mahalnya saat ia bicara. “Tidak persis. Seseorang menginginkan kita untuk mengurus mereka. Itu yang benar.”

“Menteri Sihir?”

“Pejabat Parlemen Nasional.”

Ash mengerutkan dahinya keheranan.

“Manusia?”

“Ya. Terkejut?”

“Bagaimana bisa manusia tahu soal fenomena ini dan eksistensi penyihir?”

“Sederhana,” Mark melirik pada arloji perak yang ia taruh di dalam saku. Ia membuka tutup arlojinya kemudian tersenyum hambar ketika melihat benda tersebut tak berfungsi. “Arloji sihirku tidak pernah mati sebelumnya. Hanya ada satu alasan ketika sebuah benda sihir langka tiba-tiba tak bekerja: penyihir ada di ambang keruntuhan.”

“Ulah manusia?”

“Bukan. Kau harusnya sudah tahu ketika melihat tanda hijau itu. Kau lebih tahu dari siapa pun, Ash.”

“Goblin?”

Saat Mark mengangguk pelan, Ash menghela napasnya. Bahunya melorot seketika; teringat sejarah panjang yang tak pernah ia sukai.

“Inilah sebabnya aku tidak pernah suka dengan Goblin. Gencatan sejata dengan kaum Elvish itu harusnya tak pernah ada,” komentarnya jengkel.

Mark paham betul kerutan kecewa di wajah Ash. Kalau diberi kesempatan untuk berkisah, Mark sudah pasti akan menulis biografi Ash—ia mengagumi Ash lebih dari siapa pun. Pemuda di hadapannya ini adalah tokoh terkenal pada zamannya. Saat Ashford Lee mengundurkan diri dari posisi strategisnya di Kementerian Sihir, Mark baru berusia lima belas. Ia terlalu muda untuk mengetahui apa yang terjadi saat itu, tapi jelas sekali bahwa alasan di balik mundurnya Ash dari Kementerian adalah gencatan senjata dengan Elvish. Ash adalah tokoh yang paling vokal menentang proyek tersebut. Banyak sekali orang yang bilang kalau alasan pribadilah yang membuat Ash bertindak demikian—diketahui bahwa keluarga Ash meregang nyawa saat bertarung dengan Elvish di masa lalu. Namun, saat itu Mark tidak percaya.

Terlepas dari parasnya yang tak menua—semua penyihir punya kemampuan seperti itu—Ashford Lee adalah orang yang dikagumi Mark sejak remaja; sosok penyihir jenius yang dipedomaninya sampai saat ini. Meskipun Ash menghilang dan tak banyak melakukan kegiatan sihir yang berarti, kejeniusan itu tak lekang dari daftar kompetensinya. Ash dapat membaca situasi dengan cepat, memperhitungkannya, dan memberi keputusan tanpa perlu Mark jelaskan.

“Sejujurnya aku pernah mendengar rumor tentang ‘Elvish berniat menguasai dunia sihir dan dunia manusia’ tapi tidak kusangka secepat ini. Apakah mereka yang telah ditandai akan mati segera?” tanya Ash. Ia memutar-mutar topi di tangannya, sementara pipa uap besar di atas anjungan mulai meraung-raung lebih kencang. Tak lama, suara semakin bising lantaran pekikan pluit kencang dan  teriakan selamat tinggal yang menggema di mana-mana. Mark harus meninggikan sedikit volume suaranya agar terdengar oleh Ash.

“Mereka tidak akan mati,” jawab Mark. Ia memosisikan tubuhnya tepat di samping kanan Ash. “Jika dan hanya jika kita bertindak sesuai rencana. Isu yang kau dengar tadi memang benar; Kementerian Sihir telah jatuh, Elvish jenis Goblin mulai menyerang manusia. Namun begitu, mereka tidak akan membunuhnya sesederhana itu. Para Goblin adalah penipu ulung. Mereka ingin menguasai tubuh para manusia melalui tanda hijau yang mereka buat. Sebuah sistem cuci otak—mereka menyebutnya Mage. Goblin memanfaatkan kondisi bawah sadar manusia untuk membuat kerusakan, mengadu domba para manusia, menghancurkan sistem kepemerintahan, menyebarkan teror dan ketakutan. Yang kita lihat hari ini adalah serangan perdana mereka. Katakanlah, uji coba. Jika berhasil, mereka akan mengambil alih seluruh kesadaran penumpang Titanic dan memulai serangan ketika Raksasa Besi ini sampai di New York. Jika gagal, mereka akan menghancurkan semua produk gagalnya—dalam situasi ini, mungkin mereka akan membunuh para manusia di sini.”

Ash berdecak penuh ketidaksetujuan. Hanya mendengarnya saja, ia sudah sangat muak.

“Jadi, kau menginginkan aku untuk membebaskan para manusia di Titanic dari sihir Goblin?”

“Persis. Tapi kita punya masalah kecil. Tanda hijau pada tubuh manusia-manusia itu terkoneksi langsung dengan musuh. Jadi, kita tidak bisa menyerang sembarangan. Prioritas utama adalah membebaskan sihir tersebut dari tubuh penumpang Titanic. Setelahnya, kembalikan kutukan hijau itu pada Goblin yang melakukannya. Counterattack.

“Itu tindakan bodoh, kurasa. Serangan balik pada para Goblin? Itu saja sama seperti kita sedang menari di depan wajah mereka. Mereka akan tahu apa yang terjadi, membatalkan proyek, dan membunuh semua orang di sini.”

Mark terkekeh kemudian menepuk pundak Ash.

“Aku melakukan beberapa riset sebelum berani mengirim surat itu padamu, Sir. Goblin adalah kaum terlemah dan terbodoh dari semua peri yang ada. Kemampuan sihirnya tidak sekuat itu untuk mengendalikan manusia. Agar didapatkan hasil yang maksimal, mereka menyalurkan semua sihir yang mereka punya pada manusia melalui tanda hijau yang kita lihat tadi. Jadi, sekali kita menghancurkan tanda hijau tersebut, sihir Goblin akan terdiskoneksi dan mereka akan melemah, dalam beberapa kasus, bisa langsung tewas.”

Ash mengerutkan kening tak paham. Bahunya ia gerakan sedikit untuk menyingkirkan lengan Mark dari sana. Sejujurnya, Ash tak nyaman dengan perilaku Mark yang ternyata sedikit pecicilan. Kontras sekali dengan penampilan dan wajah flamboyannya.

“Ada banyak Goblin di kapal ini. Kita tidak tahu Goblin yang mana terkoneksi dengan manusia yang mana. Kita juga tidak bisa menghabiskan banyak tenaga untuk melawan puluhan makhluk lemah seperti Goblin. Melemahkan mereka dan membiarkan mereka mati pelan-pelan merupakan satu-satunya jalan keluar. Pimpinan mereka tentu akan merasakan kejanggalan, tapi prosesnya tidak instan. Jika kita melakukannya perlahan selama Titanic berlayar, aku malah yakin aksi kita tidak akan diketahui.”

Ash menyunggingkan senyum simpul.

“Pertanyaannya: kenapa kau memilihku untuk pekerjaan ini?”

“Karena tidak ada yang membenci Elvish sebesar dirimu, Sir. Lagipula…” Mark tersenyum jahil, “kau kelihatannya sangat membutuhkan uang.”

.

.

Ash tengah berada di kamarnya, bernostalgia dengan sebuah manuskrip tatkala Mark menerobos pintu dan muncul di tengah kasurnya dengan segelas wine di tangan.

“Ada insiden di dalam kabin nahkoda. Kapten kapal dibunuh. Kini, mereka memakai nahkoda cadangan. Kasusnya masih dalam proses investigasi. Titanic tidak akan berhenti di Queenstown sesuai rencana, untuk menghindari pelaku keluar dari kapal,” Ujar Mark. Tangannya tak berhenti menggoyangkan gelas wine. “Kita tak diperkenankan keluar dari kamar hingga esok hari,” tambahnya.

Ash tidak menyahut atau melirik barang sekilas pada pemuda yang sudah merelakan kamar mewah pribadinya ditempati berdua. Alih-alih, Ash masih sibuk meringkas isi manuskrip di atas selembar kertas putih.

Kala purnama keempat, Hecate melemah. Raksasa Titan akan mengamuk. Poseidon menunjukkan kekuasaannya. Zeus akan mengembalikan apa yang telah hilang, tapi pahlawan hanya ada satu.” Ash membaca tulisannya. Bulu kuduknya merinding saat ia kembali mengulangnya atas permintaan Mark.

“Apakah itu semacam ramalan?” komentar Mark. “Aku mencoba memecahkan kode-kode di manuskrip itu selama bertahun-tahun, dan kau langsung mengerti dalam beberapa hari. Sesuai yang kuekspektasikan dari Ashford Lee. Omong-omong, Sir, kau mengerti maksudnya?”

“Dari mana kau mendapatkan manuskrip ini?” Ash melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sempat lupa untuk bertanya karena keasyikan menerjemahkan manuskripnya. Padahal sejak paket tersebut datang di Gray’s Inn, Ash selalu bertanya-tanya bagaimana bisa manuskrip yang sudah dibakarnya bertahun-tahun silam, muncul kembali di tangan orang lain tanpa cacat. Apalagi, sebelum ia membakarnya dahulu, manuskrip tersebut hanya berisi satu penggalan kalimat: Peri baik hanya ada dalam dongeng, tapi pahlawan dimana-mana—sebuah kalimat singkat yang dipedomani Ash sampai akhir—selain itu, sisanya hanya lembaran demi lembaran kosong tanpa makna.

“Aku menemukannya di bawah bantal.”

“Apa?” Kalau ada jawaban yang lebih rasional lagi, Ash pasti tidak akan kembali bertanya. “Di bawah apa?”

“Aku baru lima belas tahun saat itu. Aku sedang kesulitan tidur setelah mendengar kau mengundurkan diri dari Kementerian Sihir. Aku penggemar beratmu, Sir. Jadi, malam itu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan pikiran. Saat kembali ke kamar karena mulai mengantuk, tahu-tahu buku itu sudah ada di sana.” Mark menceritakan kembali masa kecilnya dengan tersenyum. “Aku selalu percaya pada istilah ‘orang-orang terpilih’. Saat kedua orang tuaku tak mengerti apa yang aku bicarakan, aku akhirnya menyimpan buku itu. Berharap seseorang dapat menerjemahkannya untukku. Secara kebetulan, aku masuk Kementerian Sihir, tepat di Divisi Riset dan Pengembangan Sihir, sama dengan tempat kerjamu dahulu. Saat aku membenahi gudang bawah tanahnya, aku menemukan foto usangmu, Sir. Kau duduk di balik meja yang dipenuhi dengan berkas. Di bawah kertas-kertas kuning itu, terselip sebuah manuskrip yang sampulnya sama persis dengan manuskrip yang kumiliki. Karena itulah aku berasumsi bahwa kurang-lebih kautahu apa yang ada di dalam sini. Kita pernah memiliki manuskrip yang sama persis.”

Ash tadinya tak ingin membiarkan Mark banyak bicara. Namun, ia sangat tertarik dengan binar mata Mark yang penuh dengan tekad; seakan bertemu dengan dirinya adalah pencapaian terbesar yang pernah direngkuh Mark dalam hidupnya. Walaupun sebetulnya Ash tidak mengenal Mark, namun ia diam-diam mengagumi keteguhan pemuda itu dalam memercayai sesuatu. Apa yang diutarakannya penuh dengan kejujuran, membuat Ash tertarik untuk berbagi sebuah kejujuran mengenai dirinya pada sang pemuda.

“Bukan mirip. Ini manuskrip yang sama, kurasa. Aku mendapatkannya secara ajaib ketika aku bermain dengan teman sebayaku, puluhan tahun lalu, saat aku belum mengenal sihir. Yang tahu mengenai manuskrip tersebut hanya aku dan kedua orang tuaku. Lantas entah mengapa kami diburu. Kedua orang tuaku tewas saat melindungi manuskrip itu. Aku diteror oleh sesuatu yang tak tampak. Seluruh teror itu berhenti saat aku mulai masuk Kementerian Sihir. Aku melakukan beberapa riset sampai akhirnya aku menemukan dalang di balik teror tersebut.”

“Elvish?”

Ash mengangguk. “Aku tidak begitu mengetahui motifnya, tapi, kurasa ada hubungannya dengan ambisi mereka yang ingin menguasai dunia.”

“Klise.”

“Ya, tapi jika kau punya hasil riset yang berbeda, kau diperbolehkan bicara.”

“Ada, tapi bukan soal masa lalumu. Purnama keempat, kau tadi bilang? Kurasa maksudnya bulan keempat; bulan ini, April. Hecate akan melemah. Hecate adalah Dewi Sihir, ramalan itu hendak menyatakan bahwa Dewi Sihir melemah atau sihir sendiri yang melemah. Kauingat cerita tentang arlojiku, Sir? Kalau diingat-ingat, benda itu menjadi kacau sejak April ini. Penggalan dalam ramalan tersebut pasti merujuk pada fakta ini; penyihir melemah sejak April.”

Ash mengeluarkan cerutunya dari balik kemeja. Kini ia paham soal mengapa cerutunya cepat sekali habis dan hampir-hampir membakar bibirnya belakangan ini. Api yang digunakan adalah jenis Fayeroapi sihir yang kekal abadi. Fayero akan otomatis membangun kembali materi yang telah ia bakar, sehingga seharusnya, Ash tak harus mengganti cerutunya hingga berulang kali.

Fayero yang tidak berfungsi adalah fakta bahwa apa yang diutarakan Mark tadi merupakan kebenaran juga bagi dirinya.

“Nah, kalau soal Titan mengamuk, Poseidon dan Zeus, kurasa manuskrip usang ini ingin memberitahu soal sejarah dewa-dewi mitologi yang bangkit kembali,” ujar Mark. “Aku selalu berpikir kaum penyihir memiliki hubungan spesial dengan mitologi Yunani.”

“Aku pun demikian.” Ash memasukkan cerutunya ke dalam jas. Ia menutup manuskripnya kemudian berjalan menuju kopernya di atas kasur. “Tapi, mari kita singkirkan dulu kecurigaan tidak berdasar. Ada hal yang lebih penting dan harus segera dilaksanakan besok. Membebaskan para manusia dari sihir Elvish adalah prioritas. Mengingat sihir kita mulai melemah, kurasa akan sangat bagus jika segala sesuatunya dimulai lebih cepat.”

Mark melejitkan bahunya. Ia meniru apa yang Ash kerjakan:  membuka koper, mencari tongkat sihir, dan mengucapkan selamat tinggal pada baju-baju kesayangannya—karena ketika ia telah beraksi, tidak akan ada yang tersisa.

“Sebaiknya kau mengingat struktur bangunan kapal ini, Mark. Kita perlu banyak rencana B kalau berurusan dengan Elvish,” tambah Ash.

Mendengar namanya disebut, Mark menarik salah satu sudut bibirnya—memancarkan aura kepercayaan diri yang tak tertandingi.

“Aku tahu kau akan mengatakannya, Sir. B? Lupakan, kita punya sampai J.”

.

.

“Lima puluh dua.”

Mark menyeka peluh yang menetes dari dahinya setelah membaringkan sesosok tubuh di atas lantai. Dalam balutan busana kumal, terbaring di sana adalah salah satu penumpang kelas tiga. Entah apa yang dilakukan seorang pria lusuh di kamar besar yang harusnya hanya dihuni oleh penumpang dengan tiket kelas satu. Dugaan sementara, percobaan pencurian.

“Ini bahkan belum seperempatnya.” Ash menepuk pundak Mark, memberinya motivasi. Pemuda itu menyarungkan tongkat sihirnya. “Kali ini kemana?”

“Kelas dua. Kupikir ada lebih dari seratus orang yang ditandai di sana,” respons Mark. “Nah, Sir, bagaimana dengan gadis yang kita lihat siang tadi? Dia seharusnya ada di kelas satu. Tapi, dia tidak ada di mana pun di sekitar sini.”

Well,” Ash memainkan pergelangan tangannya, memunculkan cerutu dari sela-sela jemarinya. Ia menempatkan ujung cerutunya di bibir, menunggu api ajaib muncul di ujung satunya dan membakar benda tersebut perlahan. “Kita akan tahu ketika semua ini selesai.”

.

.

“Tuan…” seorang pria cebol berparas buruk bersujud di lantai, menyembah bayangan hitam nan besar dalam ketakutan. Meski ruangan begitu gelap, dan apa yang ada di hadapannya sama sekali tak nampak, si pria cebol tampak kengerian, seolah siapa pun bisa sewaktu-waktu menusuknya dari segala arah dalam kegelapan total.

“Ya, aku tahu,” jawab seseorang di balik kegelapan. Suaranya berat dengan intonasi yang sama sekali jauh dari kehangatan. Tak ada suara langkah terdengar, namun pria cebol tahu betul kalau sesuatu yang ada di depannya sedang berjalan ke arahnya. Tak lama, ia merasa tubuhnya ringan, melayang ke udara. Kulitnya yang keabu-abuan makin nampak tak hidup; darahnya membeku dan kulitnya mengerut. Pria tersebut mendadak kesulitan bernapas.

“Aku tadinya berharap padamu. Sekarang aku sama sekali tidak melihat sesuatu berguna yang pernah kaulakukan, Louise.”

“Ma…maafkan aku. A—aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menaiki kapal ini.”

“Tentu kau tidak tahu.” Sosok di dalam kegelapan tertawa di atas rasa takut yang makin membuat Louise bertekad untuk mati cepat-cepat. “Kau hanya Goblin tolol dan mereka penyihir. Tentu kau tidak tahu mereka dapat lolos dari pengawasanmu. Aku tidak sedang membahas itu, Louise. Yang aku pertanyakan adalah apa yang kaum Elvish lain lakukan di kapal ini? Kemana  para Boggles, para Fir Darrig, Phouka, Trolls? Kemana semua pasukan peri-periku? KEMANA MAKHLUK-MAKHLUK BODOH INI!”

Ketika suara melengking tadi terdengar di pekatnya kegelapan, Louise sudah menemukan beberapa giginya patah terantuk sebuah benda yang sangat keras. Ia dilempar dengan sangat kencang tanpa iba hingga tulang-tulang ratusan tahunnya mengalami beberapa kerusakan. Sosok manusia berkelamin pria yang susah payah ia tunggangi selama dua puluh empat jam terakhir sudah terpisah dari tubuh aslinya sendiri. Tubuh lemah manusia tadi sudah berdarah-darah, tersingkir ke dalam kegelapan. Louise kemudian mendengar suara gigitan, cabikan juga erangan kelaparan dari satu sudut dalam kegelapan yang tak bisa ia jangkau dengan matanya. Setidaknya Louise tahu, ada peri jenis Phouka di sana. Untungnya Phouka hanya makan sekali dalam sehari, sehingga ada kemungkinan ia bisa selamat hari itu.

“Aku percaya padamu Louise, jadi jangan kecewakan aku. Kumpulkan pasukanku dan perintahkan untuk segera melaksanakan Komando Paralisis!”

Makhluk berwarna hijau nan gempal yang tengah tersungkur pilu tadi membelalakkan matanya segera setelah ia mendengar perintah tuannya.

“Komando Paralisis apa tidak terlalu… mereka hanya dua penyihir, Tuan…”

Saat itu sosok misterius dalam kegelapan menyembul bagai pemantik yang baru dinyalakan. Tubuhnya tegap dan tinggi, rambutnya terdiri dari surai-surai cokelat yang dilapisi oleh minyak rambut mahal. Sepatu yang dikenakannya berbahan kulit, berhak kurang lebih tiga senti. Sekilas ia hanyalah manusia biasa—seperti layaknya penduduk London era tersebut. Namun ketika iris matanya memelototi Louise, ia bersumpah ada api yang menyala-nyala seolah seluruh tubuhnya adalah tungku yang siap membakar siapa saja. Berada beberapa meter darinya saja sudah membuat Louise kepanasan, seolah tubuhnya meluruh dan terbakar pelan-pelan.

“Jalankan saja perintahku, Louise. Atau kau akan menyesal.”

.

.

“Di sini aman.” Mark berjalan sangat pelan. Tangannya merambat pada tembok-tembok kayu di sepanjang koridor geladak kelas dua yang telah ia lewati. “Apa kita tidak bisa istirahat sejenak?”

“Apa kaupikir para Elvish akan beristirahat?” Ash bertanya kembali, menyisakan kalimat retoris yang sukar dijawab Mark.

“Aku lelah.”

“Tapi kau masih bisa menggunakan sihir. Kita tidak tahu apakah besok sihir ini masih berfungsi.”

“Kau berspekulasi.”

“Biasanya aku tepat.”

Mark melejitkan bahunya samar. Ia berjalan dengan pelan mendahului sosok Ash. Keduanya berjalan lurus hingga buritan. Ash memandang ke bawah, pada permukaan air gelap Atlantik. Warnanya biru kelam, menandakan betapa dalamnya dasar laut untuk dicapai dari permukaan. Ketika baling-baling memecah air di sana, cipratannya mengenai jubah yang dikenakan Ash sehingga ia mendesis.

“Ini dingin, terlalu dingin,” keluhnya.

Mengabaikan rekannya, Mark memejamkan mata, mengingat ruang-ruang dalam tubuh kapal besar yang dipijaknya.

“Titanic memiliki denah yang tak kumengerti.” Mark menggaruk kepalanya. “Apa kau membawa peta atau kebetulan ingat denahnya?”

“Apa aku terlihat peduli pada hal-hal seperti itu?”

Mark tersenyum kecut. “Yah, aku seharusnya tak bertanya padamu.”

“Beberapa menit yang lalu aku mendengar seseorang mengatakan bahwa ia tahu harus lewat mana. Sekarang, belum sepuluh menit dan aku sudah tersesat.”

Ash tersenyum kecut, sedikit sarkasme dinilainya efektif untuk merancang ingatan seseorang, namun Mark tidak mengindahkannya. Ia tengah serius memainkan kesepuluh jemarinya kemudian mengira-ngira kiranya koridor mana yang harus ia lewati hingga ia bisa menemukan tangga ke geladak kelas tiga. Di hadapannya, ada lima pintu yang mengarah pada lima tujuan berbeda. Anehnya, hal tersebut tidak cocok sama sekali dalam ingatan Mark. Geladak kelas tiga hanya bisa dijangkau dari dua jalur, satu tangga di buritan dan satu tangga di haluan. Dan dua jalan tadi tidak pernah bercabang seperti ini.

“Aku pikir kita harus ambil yang tengah,” saran Ash.

“Kita kehabisan waktu, kita coba saja.”

Bermenit-menit selanjutnya dihabiskan dalam kesenyapan. Ash berjalan di belakang Mark, sedangkan Mark mengikuti kelok-kelok dari jalanan yang tersedia. Setelah sejam berjalan, Ash menghentikkan Mark dengan menepuk bahu pria tadi dua kali.

“Ada apa?” tanya Mark waspada.

“Kau mendengar sesuatu?”

Tidak ada maksud kelakar dalam kalimat Ash sehingga Mark kini menajamkan indera pendengarannya. Pertama-tama hanya kesenyapan yang berdesing keluar-masuk gendang telinganya lantas setelah beberapa detik terbiasa dengan suara itu, muncullah suara-suara lain. Musik dan teriakkan. Seperti sekumpulan orang sedang berpesta pora di suatu tempat dekat sekali dengan tempat mereka berdiri.

“Menurutmu dari mana, Sir?” Mark bertanya. Ash membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan arah tujuannya. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya kemudian merapalkan sebuah mantra.

Hugoninga!”

Bukan sebuah mantra hebat, tapi Mark tahu itu cukup efektif untuk memeriksa keberadaan manusia di sekitar mereka. Ash, dengan instingnya yang kuat, mencoba menemukan beberapa orang di dek kelas tiga. Pria itu tidak mengatakan apa-apa sejak tadi, tapi Mark tahu ia gelisah, sama sepertinya. Dek kelas tiga seharusnya menjadi yang teramai dan terpenuhi oleh manusia. Baik di lorong-lorong maupun kabin-kabin istirahat yang tersedia. Namun setelah beberapa menit sejak Ash dan Mark berjalan, tak ada satu pun tanda-tanda manusia di sekitar mereka. Wajar jika Ash sangat waspada dengan suara keramaian yang belum jelas asal-usulnya tersebut.

“Tidak ada cahaya keluar dari tongkatmu. Tidak ada manusia,” Mark menyimpulkan. “Suara itu… sepertinya agak berbahaya. Sebaiknya kita putar arah dan…”

“Kita harus ke sana.”

Mark terkejut. “Itu jebakan, Ash. Kau pasti tahu melebihi siapa pun.”

“Karena itu jebakan, makanya kita harus ke sana.” Ash bersikeras. Mark menyerah. Bukan lantaran tidak bisa, tapi dahulu sekali ia pernah diajarkan untuk selalu patuh atas perintah orang yang lebih tua. Apalagi orang itu adalah idolamu sendiri.

“Oke. Kemana pun asal jangan ke kuburanku, Sir.

.

.

Setelah berjalan, tersesat, bertemu jalan buntu, dan tersesat lagi, akhirnya suara ingar-bingar yang didengar keduanya kini semakin kencang di telinga, menandakan tempat yang dituju sama sekali tak jauh. Ash dan Mark melihat sebuah ruangan dengan pintu yang diukir tidak biasa. Mark mengidentifikasi bahaya sehingga ia menghunuskan tongkat sihirnya di depan dada, sudah bersiap untuk membuka pintu dan melihat apa yang tengah terjadi di sana.

Kerumunan orang-orang dengan baju sederhana yang tampak sama sekali tak menarik kini sedang berdansa, berpesta pora dan berjudi. Ada gadis, wanita hingga kakek-kakek tua yang terlihat menyemarakkan lantai dansa dengan gerakan-gerakan konyol dan aneh. Kadang mereka berputar, melingkarkan tangan di perut satu sama lain, bahkan berciuman di depan umum tanpa rasa malu. Kakinya mengentak aneh di atas lantai kayu, seolah sedang menarikan sebuah tap dance dan flamingo namun dengan kemampuan setara dewa mabuk.

Tidak kalah, di pojok salah satu ruangan, terdapat beberapa pria kekar dengan codet-codet mengerikan pada wajahnya tengah beradu nasib lewat judi kartu. Seorang pria tengah menangis di antara mereka karena baru saja kehilangan seluruh hartanya dalam judi tersebut.

Saat itu, Mark tak sengaja menjatuhkan sebuah piringan perak ke lantai kayu. Saat itu juga, musik berhenti, ruangan mendadak sesenyap kolong-kolong langit pedesaan terpencil. Seluruh pandangan tiba-tiba menghujam pada keduanya. Ash ingin mengumpat, namun ia terlambat. Banyak mata tadi kini perlahan berubah menjadi iris hijau dan hitam. Gerungan dan auman kelaparan bergema di mana-mana. Saliva dari pria tua yang tadi menangis di meja judi, kini menetes-netes di atas kartu reminya sendiri.

Tidak ada lagi pemuda yang bersenang-senang, tidak ada lagi gadis-gadis pemandu dansa. Tersisa kini adalah makhluk-makhluk jalang bersisik, berbau tak sedap, bersayap busuk dan bergigi runcing.

Mark menelan ludahnya.

“Apakah aku sudah bilang aku tak mau berjalan ke kuburanku, Sir?

.

.

BRUK.

Mark baru saja menjatuhkan manusia yang menyerupai kalajengking raksasa. Tubuhnya bercangkang hitam dan sekeras batu. Sihir pada makhluk tadi tidak bekerja sehingga Mark terpaksa menggunakan kekuatan fisik yang tersisa dari dirinya. Meski pelik, toh akhirnya ia memenangkan pertarungan luar biasa itu setelah menghancurkan sedikitnya dua belas meja kayu.

“Phouka tidak sehebat yang aku duga. Ada lagi?” Mark menoleh ke belakang, menyombong. Namun tepat saat itu ia dihadang makhluk buruk setinggi lima meter beraroma limbah busuk dengan perut teramat buncit. Makhluk tersebut memiliki telinga runcing seperti kaum peri pohon yang terkenal akan keramah-tamahannya—Dryads. Namun sayangnya, mereka bukan Dryads.

“Jadi, sekarang Troll?”

Mark mengangkat salah satu sudut bibirnya. Ia menyiagakan tongkat sihirnya kembali setelah lima Troll lain bergabung dengan temannya mengelilingi tubuh Mark. Troll adalah peri yang kuat. Kemampuan fisiknya dua kali lipat dari Phouka—jenis peri yang hanya pandai meniru-niru sifat dan bentuk binatang. Namun, setiap makhluk memiliki kekurangan, dan dalam kasus Troll, intelejensinya teramat parah. Jika Goblin adalah makhluk terbodoh dalam kaum Elvish, maka Troll adalah tiga kali lipatnya. Mark tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga, karena ia tahu ia akan kalah jika ia memaksakan diri. Sebagai ganti, ia memilih solusi aktif yang cekatan.

“Kalian akan memakanku, bukan?” tanyanya pada Troll lapar paling depan. Troll mengerti, namun ia tidak bisa menjawab karena makhluk tersebut bisu. Sebagian besar kaum Elvish adalah mereka yang bisu. Mereka baru akan bicara ketika mereka dapat tumpangan dari tubuh manusia; ketika mereka menjadi benalu dan mengontrol tuannya.

Troll berjalan selangkah, meneteskan air liur yang hampir saja diinjak Mark. “Ups, begini, begini. Ada enam dari kalian dan kalian semua ingin menyantapku?”

Troll paling depan menoleh ke lima temannya yang lain yang berdiri tepat di belakangnya. Ada bahasa-bahasa auman dan erangan yang tak bisa Mark artikan. Troll paling depan melakukan kontak selama sepersekian menit sebelum akhirnya ia memandang Mark lagi. Dengan percaya diri, Mark melejitkan bahu. “Seperti yang kulihat, aku kurus kering. Enam dari kalian tidak akan kenyang jika menyantapku secara bersamaan. Saranku, kalian bertarunglah. Yang menang akan berhadapan denganku, aku menunggu.”

Troll paling depan menggeram sementara lima kawannya yang lain mulai bergerak-gerak gelisah. Tak berselang lama, salah satu Troll yang berdiri di sisi kiri dari lima yang berderet, menyerang Troll di hadapannya. Disusul Troll lain yang berada di tengah, kemudian sisanya ikut bergumul dan saling meninju.

“Ya, terus lakukan seperti itu.” Mark menyemangati dengan jahil kemudian diam-diam ia meninggalkan mereka.

Mark kemudian berlari, ia membuat sebuat aurora kecil di atas kepala Ash ketika kerumunan Bogles—peri yang menyerupai manusia namun bernafsu membunuh seperti binatang—menyerangnya secara licik dari belakang. Bogles-Bogles tadi kemudian terjatuh tak berdaya setelah sebuah serangan balasan dari Ash menujam tepat di titik lemahnya, kepala. Bogles akan kehilangan sebagian besar daya tarungnya ketika kepalanya mengalami kerusakan sekecil apapun, oleh sebab itu Bogles lebih suka menyerang dari belakang, sembunyi-sembunyi.

“Itu keren,” puji Mark. Ash tak merepons. Ruangan besar itu menjadi sekacau isi kepalanya. Ada Troll yang bertarung satu sama lain, ada Bogles yang menggelepar di beberapa tempat, para Phouka yang mulai mendekati peri-peri yang sudah mati dan mencabik-cabik isi perut mereka, juga keberadaan para Fir Darrig—peri bersayap besar dan busuk, berukuran normal seperti manusia dengan taring runcing yang mencuat dari sisi kanan dan kiri mulutnya seperti Vampire—yang mulai turun tangan setelah seluruh sekutunya berhasil dilumpuhkan.

Ash dan Mark sudah kelelahan. Namun mereka berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkannya  satu sama lain.

“Bagus. Pertunjukkan yang sangat bagus.”

Seorang pria klimis dengan perawakan jangkung dan rambut cokelat berminyak menyembul dari balik kerumunan Fir Darrig. Sekilas, tidak ada yang aneh dengan pria tersebut, namun tak lama berselang, sosoknya berubah menjadi sosok gadis berparas cantik dengan gaun ber-crinnoline yang memiliki tanda hijau di lehernya (sosok gadis yang familer di mata Ash dan Mark). Setelah itu, sosoknya berubah menyerupai wajah Ash, kemudian Mark dan akhirnya memutuskan sebuah wajah asing sebagai wajah yang ia pilih untuk ditunjukkannya.

“Philial Sabberlooth dari Fir Darrig, penyihir berdarah campuran Elvish yang telah lama hilang. Kau di pihak Elvish sekarang? Ah, aku harusnya tahu ini ulahmu.” Ash berdecih. Mendadak ia menyayangkan memorinya sendiri. Philial adalah orang yang ia kagumi selama keduanya bekerja dalam Kementerian bertahun-tahun lalu. Namun kabarnya Philial telah berkhianat dan membantu kaum Elvish menguasai dunia. Namun Ash tak pernah percaya begitu saja hingga hari ini.

“Terima kasih biografi singkatnya. Aku suka daya ingatmu. Lama tak berjumpa, Ash. Apa begitu menyenangkan bekerja di Kementerian begitu lama?” Philial tertawa.

“Aku sudah lama berhenti.”

“Ups, maaf. Berita soal penyihir tidak begitu populer di lingkungan Elvish.”

Ash menyunggingkan senyum tipis. Tanpa mengindahkan cemoohan Philial pada dirinya, Ash mengacungkan tongkat sihir tepat di depan wajah pria itu.

“Dan, untuk apa ini?” Philial menyingkirkan ujung tongkat tersebut dengan jari telanjangnya. Energi yang dilontarkan sama sekali tak terlalu besar, namun tiba-tiba saja tongkat tersebut terpental ke tengah-tengah kerumunan Troll yang sedang bertarung. Philial menelengkan kepala kemudian mengentak-entakkan kakinya. Ia melihat ke arah Mark. “Kau begitu pintar untuk membuat makhluk-makhluk besar itu bertindak demikian. Aku senang jika kau berada di pihak kami.”

Mark melejitkan bahunya sementara Ash dengan gesit menjentikkan jari dan memanggil kembali tongkatnya. Keduanya lantas bersama-sama mengacungkan ujung tongkat tepat di hidung Philial, menggertak.

“Jiwa muda yang bagus.”

Philial mengeluarkan sebuah tongkat gemerincing dari balik jubahnya. Tongkat itu memanjang, sepanjang tongkat berjalan bagi orang-orang tua. Ia mengentakkan tongkat tersebut di atas lantai, sampai hujan batu kerikil menyerang Ash dan Mark. Keduanya berloncatan, terpisah. Ketika hujan batunya berhenti, Philial sudah berhadapan dengan Ash sementara Mark diarahkan untuk bertarung dengan tiga Fir Darrig sekaligus.

“Aku akan menyelesaikan persaingan abadi kita, sekaligus membuktikan ramalan itu, tentu kautahu ramalan mana yang kubicarakan. Oh, jangan tanya aku tahu dari mana, Ash. Pahlawan hanya ada satu, aku penasaran bagian itu. Jadi mari putuskan, kau atau aku yang menjadi pahlawan. Jika aku kalah, aku akan mati dan sejarah akan mencatat aku sebagai penjahat. Jika kau yang kalah, kau akan kubiarkan hidup tapi kau harus mengaku bahwa seluruh bencana ini adalah idemu. Bagaimana? Apa kau tertarik?”

Mark mendengar, ia ingin berbicara dan meneriakan kata tidak pada Ash. Namun sabetan keras dari sayap-sayap berbau got milik Fir Darrig telah menjauhkannya dari arena bertarung Philial dan Ash. Sebelum Mark terdorong semakin jauh, ia membuat sebuah pelindung besar; gelembung energi dengan pendar-pendar abu-abu. Ia bertahan di sana, memulihkan tenaganya sembari menunggu keputusan Ash.

Mark menajamkan pendengarannya tatkala dilihatnya bibir Ash mulai bergerak.

Gerakan tersebut membuat pemahaman mengejutkan bagi Mark. Ia meneriaki kata ‘tidak’ berulang kali sebelum akhirnya dua orang hebat tersebut bertarung ke area lain dengan cepat, menghilang dari pandangan Mark.

Tidak masalah. Syarat tambahan, apa pun yang terjadi, bebaskan penumpang Titanic dan juga rekan penyihirku. Anggaplah mereka bukan siapa-siapa.”

.

.

Mark dipukul mundur oleh makhluk-makhluk ganas yang menyerangnya. Kini ia berada di bibir haluan, hampir saja jatuh. Ada sesuatu yang aneh ketika keributan tersebut terjadi, Mark tiba-tiba saja berpindah ke geladak utama, tempat ia dan Ash pertama kali bertemu. Ketika Mark mencuri pandang ke dalam anjungan, ia tak bisa mendeteksi adanya manusia sama sekali di sana. Ketel uap yang seringkali melontarkan asap panas ke udara juga nampak mati, tak bekerja. Asumsi sederhananya, Titanic berjalan sesuai kehendak arus air sendiri.

Para penumpang mungkin sedang ditawan di suatu tempat sementara mereka semua bertarung di geladak utama. Buruk.

DUAGH!

Di sisi lain di atas geladak, Ash baru saja menerima pukulan telat pada hatinya hingga ia memuntahkan cairan bening di atas lantai kayu. Philial tertawa kegirangan. “Kau masih berada dalam efek paralisisku, namun kaubisa menghindari pukulan yang kuarahkan pada jantungmu. Wow, hebat sekali, Ash!”

Dahi Mark berkerut dari kejauhan saat ia mendengarnya. Seekor Fir Darrig menyerangnya dengan cekatan, mematuk-matuk kepalanya hingga terluka. Mark meneriakkan sebuah mantra lantas Fir Darrig tersebut terjatuh ke dalam lautan Atlantik Utara.

“Komando Paralisis, begitu aku menyebutnya. Sekali kau terperangkap, kau tidak akan bisa membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya mimpi. Pertanyaanku, tahukah kau tanggal berapa sekarang?”

Ash enggan menjawab namun ia ingat betul semua serangannya dimulai pada tanggal 11 April, sehari setelah nahkoda Titanic dinyatakan tewas.

“14 April, pukul sepuluh malam.” Philial menjelaskan sembari melayangkan serangan mendadak yang ditangkis dengan susah payah oleh Ash. Philial tersenyum atas ekspresi di wajah Ash. “Terkejut? Terkejut karena kau sudah berada tiga hari di dalam sana meski rasanya hanya beberapa jam saja? Itulah kekuatan paralisisku. Impresif bukan?”

Ash tak mengindahkannya, ia menggunakan kesempatan yang ada untuk melancarkan serangan balasan. Mantra-mantra asing di telinga Mark—yang baru selesai dengan Fir Darrig terakhirnya—dilontarkan bibir Ash berulang kali hingga Philial mengembangkan sayap yang ia sembunyikan di balik dua belikatnya.

Philial terbang rendah—Fir Darrig tidak bisa terbang terlalu tinggi. Ia tertawa terbahak-bahak atas serangan Ash. “Padahal aku mengharapkan sesuatu yang impresif dan memilih bertarung melawanmu. Kalian memang menyedihkan, bergantung pada pusaka-pusaka Kementerian kemudian terpuruk lemah ketika Parlemen membosankan itu runtuh. Lucu sekali.”

Philial mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi kemudian merapalkan mantra yang sangat rumit dan hampir tidak dapat diartikan. Troll dan segenap peri yang masih hidup kini berlarian menjauh dari geladak. Sebagian menjerit, sebagian menangis dan memohon-mohon pada Philial untuk menghentikan aksinya. Tak lama, gerungan ketel uap dari mesin-mesin dalam RMS Titanic mulai terdengar.

Ash berpegangan ke tepian teralis yang terdekat dan menyadari bahwasanya Titanic mulai beroperasi kembali, tanpa awak kapal. Philial masih belum selesai. Dengan sihir kuatnya, sekumpulan awan mendung berkumpul di atas Pesiar besar tersebut, membawa segenap guruh dan kilatan cahaya dari petir.

“Ups, buruk.” Mark bergumam rendah. Dengan ombak yang mulai beriak-riak semakin ganas, laju Titanic tanpa pengemudi menjadi semakin rawan saja. Kapal terombang-ambing ke kanan dan ke kiri hingga rasanya Mark ingin muntah. Philial di atas udara sudah tak nampak seperti manusia lagi. Selepas ia menuntaskan serangannya, tubuh itu kemudian berubah menjadi tubuh alaminya. Sosok bertaring dengan sayap bau dan mulut yang tak dapat bicara. Erangan keluar dari bibirnya, menandakan amarah. Senada dengan setiap suara ganas tadi, gemuruh kian menyemarakkan perjalanan Titanic malam itu.

“Mark!” Seru Ash. Pemuda tersebut baru saja melepaskan jubah beratnya dan kini mulai berjalan tertatih di tengah gempuran pusara angin kencang dari langit. Tangannya dengan kuat memegangi teralis besi sambil berusaha mencapai posisi Mark yang juga berada tertahan di sisi lain dari kapal. “Kita tak punya banyak waktu, Mark!”

Samar-samar, Ash berusaha berbicara lebih keras. Jubah panjangnya sudah tenggelam di kedalaman mengerikan Atlantik, dan ia menyaksikannya sendiri. Lantas Ash berpikir soal ramalan: Raksasa Titan akan mengamuk juga segala kaitannya dengan manuskrip yang telah ia baca.

God.” Ash bergumam. Dengan sekuat tenaga, ia berlari akrobatik, memusatkan seluruh tenaga di kakinya kemudian menendang teralis demi mendapat tenaga tolakan yang pas untuk keluar dari kibasan angin kencang akibat efek sihir hitam Philial.

“MARK!” Ash berteriak putus asa saat ia berada begitu dekat dengan pemuda yang nampak kebingungan ini. Belum sempat ia bicara, Mark sudah mendahuluinya dengan serentetan kata panik dari bibirnya. “Titan Raksasa, Sir. Titanic, RMS Titanic. Ini yang dimaksudkan oleh manuskrip itu!”

Ash mengamini. Jika ramalan dan asumsi mereka benar, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada Titanic dan akan berdampak sangat buruk bagi para penumpangnya. Menyadari bahwa kapal berlayar tanpa awak, Ash memerintahkan Mark untuk mengendalikan ruang kemudi di anjungan.

“Tapi, bagaimana denganmu?” tanya Mark sebelum ia beranjak pergi. Ash melonggarkan kemeja yang ia pakai kemudian menatap tongkat sihirnya yang semakin tidak bertenaga. “Aku akan menemukan cara untuk menghentikan makhluk itu.”

Mark mengerutkan dahi, “Apa kau yakin?”

“Sedikit.”

“Kau membuatku cemas.”

“Kuanggap itu pujian.”

Mark menepuk pundak Ash.

“Eh, tunggu,” Ash menghentikan langkah hati-hati Mark. “Bagaimana kau  mengalahkan peri-peri itu dengan cepat?”

“Siapa? Troll?”

“Bukan. Fir Darrig.”

“Serang matanya.”

“Semudah itu?”

Mark menyunggingkan senyumnya. “Semudah itu.”

.

.

Mark meninggalkan Ash yang sudah mulai berjibaku kembali dengan tongkat sihirnya. Ia sendiri kini dihadapkan pada situasi asing di mana panel-panel dan setir besar berdiri kokoh. Titanic terus melaju malam itu, memecah ombak yang mulai ganas. Mark bisa mendengar badan besi raksasa tersebut terantuk-antuk sesuatu di sisi kiri beberapa kali, tapi ia tak punya banyak waktu untuk memeriksa.

“Oke, ini terlalu cepat. Cari cara, Mark, cari cara!” Mark terkejut begitu melihat alat pengukur kecepatan kapal yang berada di antara tuas-tuas kokoh di hadapannya. Tercatat di sana, 242 knot per jam, sangat cepat untuk ukuran kapal dengan bobot besar seperti Titanic. “Tenang sayang, kau harus memelan sedikit.” Mark mencari-cari tuas yang tepat untuk menurunkan kecepatan Titanic. Dan pertama kalinya, ia tak berani berspekulasi untuk masalah ini.

Ia sama sekali tak mencoba untuk menarik tuas-tuas yang ada satu per satu. Ia pikir, ketika ia salah, maka bukan hanya nyawanya saja yang terancam. Nyawa ribuan penumpang Raksasa Titan ini ada di tangannya. Mark, dengan berhati-hati meraih buku panduan yang ada di sekitar tuas. Ia membaca dengan cepat halaman demi halaman, kemudian menemukan tuas pengatur kecepatan yang ia cari.

“Oh ini dia!” Mark menarik sebuah tuas pelan-pelan. “Lalu apa setelah ini… lalu apa…” Mark berpikir keras, kembali membuka buku panduan untuk mencari tahu langkah selanjutnya.

Tepat saat itu, tubuh Philial terjengkang keras ke jendela kaca yang berada tepat di hadapannya. Mark terlonjak sedikit karena gerakan tiba-tiba tersebut. Tak lama, Philial menerjang seorang pemuda yang nampak kepayahan di atas geladak. Ia terbang menukik, dengan bola-bola api di seluruh tubuhnya. Cahayanya nampak benderang, bagai kembang api di malam karnaval.

Para peri yang telah berhamburan, satu per satu turun ke laut, menceburkan diri dengan gerakan lebih gesit dari apapun. Mereka berakting ketakutan dan seolah tak ingin lagi berada di kapal besar tersebut lama-lama. Mark tak paham apa yang terjadi hingga akhirnya kapal besar tersebut bergoyang sekali lagi, hampir terbalik. Ia mengucek matanya tak percaya ketika melihat makhluk besar serupa gurita yang muncul ke permukaan. Seekor gurita berwarna cokelat yang ukurannya serupa dengan Titanic.

“Gwragged Annwn?”

Mark mengingatnya: Gwragged Annwn adalah jenis peri air yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun. Tak ada satu pun yang dapat mengira-ngira kapan dan untuk apa ia muncul ke permukaan dari dasar laut yang gelap.

Gwragged Annwn adalah penikmat kesenyapan. Jika ada yang membuatnya bangun, Mark yakin itu lantaran pertarungan Philial yang telah mengganggunya. Masalahnya jadi semakin runyam saja. Gurita besar pemarah tersebut kini berusaha menyeret Titanic beratus kilometer jauhnya dengan cepat. Memberikan efek mual bagi siapa pun yang masih bertahan di atas kapal.

Tak lama kemudian, benturan keras dengan suara yang cukup memekikkan telinga kemudian terjadi begitu saja. Mark terjengkang, kepalanya menabrak dinding besi hingga ia sempat ingin muntah. Saat kesadarannya sudah terkumpul, ia sadar dua hal.

Pertama, Ash terluka parah di geladak utama, tepat di sebelah bangkai seekor Fir Darrig yang gosong.

Kedua, Gwragged Annwn sudah kembali ke dasar laut, meninggalkan Titanic rusak di sisi gunung es besar.

.

.

‘CQD, Datang segera, kami telah menabrak gunung es.’

Mark mengirim telegram dengan putus asa. Ia telah menembakan beberapa roket setelah sebelumnya mendapat sinyal sonar dari kapal-kapal terdekat dengan Titanic. Ia ingin menangis, namun rasanya tak pantas. Di geladak sana, ribuan penumpang yang mulai tersadar dari sihir para Elvish, menangis dan menjerit histeris tatkala mereka mendapatkan kenyataan kapal yang mereka tumpangi mengalami kejadian serius.

Titanic baru saja menabrak gunung es dengan kecepatan lebih dari 20 knot per jam, menyebabkan kebocoran pada lima dari enam belas kompartemen krusial miliknya. Mesin-mesin uap sudah berhenti bekerja karena para petugas yang bertanggung jawab berhamburan naik ke geladak, berebut sekoci dengan para wanita dan anak kecil.

“Mark,” Ash datang dengan terengah-engah. Dilihatnya Mark yang terpungkur di ruang nahkoda, tak berdaya. “Apa ada telegram balasan?”

Mark menggeleng.

Ash menghela napas. Pribadi yang biasanya santai dan berwibawa tersebut kemudian berubah menjadi pemuda yang emosional. Ditendangnya sebuah kursi kayu terdekat hingga benda itu terpental beberapa sentimeter. Ash mengacak-acak rambutnya. “Andai saja sihir kita tidak tiba-tiba hilang seperti ini. Sial!”

“Ramalannya bekerja.”

Ash merenung atas kalimat yang diucapkan Mark tiba-tiba. Pria kurus itu menatap iris mata Ash dan mengulang kembali kalimatnya, “Ramalan itu benar-benar bekerja. Aku tidak merasakan sihirku lagi, dan Titanic akan tenggelam.”

GROOOOOK

Suara besar tadi asalnya dari dek-dek bawah di lambung kapal. Bukan kali pertama suara itu muncul, namun setiap suara tadi bergema, maka setiap orang akan semakin panik dan menjerit histeris.

“Apa ada yang bisa kita lakukan?” Tanya Mark. “Orang-orang ini tidak berdosa.”

Ash menegakkan tubuhnya, melihat kepedihan setiap orang di tengah bencana yang tidak terduga. Ash menarik arloji dari saku kemejanya kemudian mendesah. Tepat tengah malam. Harusnya malam ini para istri dan suami telah tertidur nyenyak di kamar mewah mereka. Para anak-anak sedang berada di dalam mimpi yang paling indah seumur hidupnya. Seharusnya, para pemain orkestra sedang berada di atas panggung, menghibur penumpang yang menyukai pertunjukkan malam hari ala Titanic. Namun yang terjadi adalah, mereka kini bergerombol dan saling dorong satu sama lain hanya demi sebuah sekoci yang hendak diturunkan ke atas air.

“Ash?” Panggilan Mark membawa Ash keluar dari perenungannya.

GROOOOOK.

Suara mengganggu itu lagi.

“Terus kirimkan telegram,” Ash mendesah. “Hanya itu yang bisa kita lakukan.”

.

.

GROOOOOOK.

“Aku sudah terbiasa dengan suara itu.” Ash melingkarkan tangannya ke sebuah besi yang terpancang di atap. Ia telah berpegangan kuat selama lima menit terakhir di sana. Ia tertawa sesekali, hanya untuk membuat suasana yang lebih baik di sekitar Mark.

Mark sayangnya tak tertarik. Ia beberapa kali menggigit bibir, menampakkan kegelisahannya meski ia berulang kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

GROOOOOOK.

Titan Besi tersebut sudah mulai menggila. Beberapa sekoci sudah turun dan menjauh dari raksasa tersebut dengan beberapa penumpang saja. Sebagian besar wanita dan anak-anak dapat diselamatkan. Para lelaki, masih mencari cara untuk menyelamatkan diri. Beberapa sudah pasrah, beberapa bertingkah gila dan sisanya hanya menangis.

Mark dan Ash memerhatikan dari anjungan tempat mereka berada. Titanic sudah tenggelam separuh. Haluan kapal besar ini sudah tak nampak, perlahan turun ke dasar Atlantik bersama dengan kurang lebih seribu penumpang yang masih terjebak di dek-dek penghubung.

“Kita harus ke buritan.” Mark menyarankan.

“Setuju.”

Keduanya, mulai bergerak. Keluar dari anjungan dan selamat sampai di teralis-teralis besi di sisi-sisi geladak Titanic. Ada dua hal yang harus diperhatikan, kekuatan benda yang dipakai untuk bergelantungan dan kekuatan otot lengan.

Mark memiliki dua-duanya, tapi diam-diam, Ash tidak.

Pertarungan sengitnya dengan Philial membuat beberapa tulang rusuknya patah. Jika bantuan tak datang dalam jenjang lebih dari dua puluh menit ke depan, ia tak bisa jamin dirinya akan melihat daratan.

Namun ia tak mengatakan apapun pada Mark. Baginya, pemuda itu tak berhak tahu.

GROOOOOK.

Teriakan histeris mulai terdengar lebih sering. Ash melongok pada orang-orang yang tengah bergelantungan pada tiang-tiang Titanic di sekitarnya. Seorang pria dengan mata biru, baru saja terjatuh dramatis ke dalam air ketika kemiringan Titanic hampir mencapai sembilan puluh derajat. Seorang pria tua di sebelahnya menangis dan mendekap tiang besi tersebut dengan sangat erat.

“Ash!” Mark meneriaki. Pemuda itu memberi kode agar mereka terus berpindah dari tiang satu ke tiang yang lain, terus ke atas hingga keduanya mencapai buritan. Ash kelelahan, ia sudah tak sanggup lagi.

“AAAAAAAAAA.”

Suara teriakan lagi. Datangnya dari sepasang kekasih yang memutuskan untuk terjun ke permukaan air. Ash tidak berpikir hal tersebut adalah ide yang bagus mengingat di bawah mereka ada sebuah baling-baling raksasa yang bisa membelah tubuh mereka menjadi berpuluh-puluh bagian. Tak lama berselang, seorang pria tua menyusul. Ia nampak terjatuh ke dalam air dari ketinggian lebih dari dua puluh meter. Tubuhnya terantuk beberapa besi yang mengapung sebelum akhirnya darah merah mewarnai lautan malam itu.

Ash mengerang. Rasa sakitnya sudah menjalari seluruh tubuh. Namun ia dalam posisi tak bagus, bergelantungan tanpa bisa bergerak lebih banyak.

“Naik ke atas sini!” Perintah Mark. Pemuda tersebut telah berada di bagian luar dari pagar buritan Titanic. Hal tersebut tentu tak masuk akal jika saja Titanic adalah kapal pesiar biasa yang hanya berlayar layaknya Olympic—Pesiar lain yang tak kalah mewah. Namun, kini Raksasa Besi tersebut telah berdiri vertikal, benar-benar vertikal. Bunyi-bunyi mengerikan kerap terdengar di tengah teriakan pedih dari para penumpang yang terjebak bersama dengan Mark dan Ash.

“Aku… tidak bisa…” Ash mengeluh. Ia berusaha bergerak, berayun dan meraih tangan Mark, namun sebelum ia dapat menggapai tangan itu, tubuhnya bagai dicabik-cabik. Kerusakan pada bagian dalam tubuhnya lebih mengerikan dari apa yang ia bayangkan.

Sir? Kau… terluka?” Mark menyadari kemeja Ash yang sudah berganti warna. Merah pekat kini membanjiri area punggung Ash, membuat pemuda itu mengerang pilu. Mark mengutuk dirinya sendiri. “Tunggu, aku akan menarikmu.”

Mark berbaring, menjulurkan tangannya untuk menggapai tubuh Ash tanpa membuatnya banyak bergerak. Kini bagi Mark, erangan rekannya tersebut lebih mengerikan dibanding suara-suara yang dibuat Titanic.

Menarik tubuh yang bergelantung di ketinggian dua puluh meter rasanya bukan ide yang bagus. Mark tidak pernah berhasil meski ia sudah berusaha dalam sepuluh menit berakhir. Ia hanya berhasil membawa Ash lebih dekat dengan tempatnya bertahan, tanpa sanggup menarik pemuda itu untuk berada di sisinya.

“Menyerahlah, bocah,” Ash berkata dengan terengah-engah. “Aku bisa bertahan di sini untuk lima menit ke depan.”

“Aku tidak suka kau berbicara seperti itu. Entah kenapa.”

“Semua yang hidup pasti akan mati,” sahut Ash. Mark menutup mulutnya rapat-rapat. Ia dalam dilema. Jika saja kekuatan sihirnya tak mendadak hilang seperti ini, mungkin saja keduanya bisa menggunakan sebuah sihir dan menyelamatkan apa yang bisa mereka selamatkan. Jauh di dalam hatinya, ia ingin Ash selamat.

Tapi sampai detik itu, Mark tak juga menemukan sesuatu yang dapat menyelamatkan pria di depannya.

“Apa kau punya cerutu?” Ash bertanya pada Mark, membuat pemuda itu tersadar dari kegelisahannya. Mark menggeleng. “Aku tak pernah suka asapnya. Aku tak punya, sudah kubilang.”

Ash mengeratkan genggaman tangannya pada besi-besi yang semakin licin. Bunyi GROOOOK kini mulai muncul sekali dalam tiga detik, lebih intens. Juga, jaraknya dengan permukaan air, kian memendek karena bagian buritan mulai tersedot masuk perlahan ke dalam dasar Atlantik.

Well, sebenarnya aku punya. Bisa ambilkan di saku kemejaku?”

Mark melihat sebatang cerutu di kemeja Ash, di antara darah yang mengotori kemejanya. Ia menariknya.

“Simpan untukmu. Kau harus belajar menyukainya,” saran Ash tatkala Mark hendak memberikan cerutu tersebut padanya.

Ash menatap ke bawah kakinya, pusaran air yang semakin kencang kini berkejaran, seolah akan melahapnya. Percikan dari pusaran tersebut mengenai sepatu hitamnya, lantas perlahan membasahi celana panjangnya.

“Aku tak pernah suka air,” Ash bergumam.

Sir.

“Biarkan aku bicara terus malam ini. Kau mungkin tidak akan pernah mendengarku lagi.” Ash menarik napas. Jemarinya mulai tak sanggup menahan bobot tubuhnya lebih lama lagi.

“Tapi, Sir…”

Pahlawan hanya ada satu, kauingat ramalannya? Memang harus ada yang tidak kembali ke daratan malam ini.” Ash menggertakan giginya, menahan rasa sakit. “Dan aku tahu siapa.”

Sir, you jump, i jump.”

Ash terkekeh pelan, dibarengi rasa sakit yang berusaha tak ia tampakkan. “Terdengar seperti kisah cinta konyol, ya? Aku jadi geli.”

Kapal semakin tenggelam ke dalam air dan korban-korban lain mulai berjatuhan. Ash telah melepaskan salah satu tangannya karena benturan keras yang asalnya dari bangkai kapal yang sudah tenggelam terlebih dahulu. Tangan Mark menjulur, meraihnya, berusaha mempertahankan Ash lebih lama lagi di sana.

Lantas Ash tertawa tiba-tiba, mengejutkan Mark. “Akhirnya aku tahu apa yang ramalan bodoh itu katakan soal Poseidon menunjukkan kekuasannya,” Ash mengarahkan telunjuknya ke pusaran air dari baling-baling raksasa yang berputar begitu kencang tepat di bawah kakinya. Pusaran tadi baru saja mencabik tubuh beratus orang yang terjatuh ke sana dan kini, siap menanti Ash. “Yah, aku tak pernah suka dengan air.”

Ash mendongak, melihat guratan wajah memohon dari Mark. Ia juga ingin hidup lebih lama lagi, namun jika ada yang harus mati malam ini, ia bersedia. Mark dan dirinya memiliki banyak kesamaan, tepat seperti apa yang diutarakan Mark pada awal pertemuan mereka, 10 April lalu. Ash merasa ia telah sampai di penghujung dari tugasnya. Mark bisa hidup lebih lama entah bagaimana, ia bisa merasakannya.

Tangannya mulai kram. Ash melepaskan satu-satunya pegangannya. Tangan Mark dengan sigap meraih tubuhnya, membuatnya bergantung sedikit lebih lama lagi. Ash dapat melihat jelas sorot mata pedih itu. Ia hafal betul, kehilangan.

GROOOOOOK.

“Mark.”

“Tidak, jangan bicara.”

“Mark…”

“Kumohon!”

Ash menyunggingkan senyumnya. Dengan kekuatan yang masih tersisa, ia mencengkeram punggung tangan Mark kuat-kuat, membuatnya terluka. “SIR!” Mark berteriak frustasi. Ash tetap tak mendengar. Tangan Mark yang menjawat kuat tangannya mulai berkeringat dan licin. Namun Ash begitu senang.

Suara mesin-mesin yang mulai terusik oleh air terdengar lagi. Waktunya sempit. Ash menarik tangannya sekuat tenaga.

SIR!” Mark memperingatkan. Ia mengulang kalimat yang sama setiap kali Ash mulai menyerah pada hidupnya. Lantas kilatan cahaya entah datang dari mana menyambar Mark sendiri. Membuat ia terkejut dan melepaskan genggamannya pada Ash.

Tubuh itu terjatuh. Perlahan. Tepat ke tengah pusat pusaran air raksasa. Mark berteriak putus asa, mencoba memanggil namanya berulang kali, berharap keajaiban dapat terlaksana di saat-saat seperti ini. Namun pemuda yang terjatuh tak merasa menyesal. Ia tersenyum, memberikan satu kenangan terakhir pada Mark, rekan yang baru dikenalnya selama empat hari.

Saat Mark menilik wajahnya, bibir Ash bergerak, membentuk sebuah rangkaian kata sebelum akhirnya ia menghilang di balik dinginnya air Atlantik. Mark menundukkan kepala, menyembunyikan rasa pilunya. Sosok yang ia bangga-banggakan selama belasan tahun terakhir, kini menghilang tepat di hadapannya.

“Senang mengenalmu, Mark.”

.

.

Mark duduk di sebuah bangku kayu. Di sisinya, ada orang-orang dengan seragam nautika berlalu-lalang. Mark bergeming, ia memerhatikan laut tenang kebiruan yang berada tepat di depan matanya. Sinar mentari menyoroti tubuhnya yang kedinginan. Mark melihat bendera besar di anjungan, ditulis di sana: RMS Carpathia.

Pemuda itu menundukkan kepala, memegangi cerutu kering yang telah ia amat-amati berjam-jam lamanya.

“Itu dia pemuda yang kuceritakan, Kapten. Dia ditemukan terombang-ambing di atas seekor ikan pari raksasa selama dua jam, sebelum sekoci penyelamat kita menemukannya.”

“Apa kau yakin dia manusia?”

“Entahlah. Kami berhasil menemukannya karena sebuah sinar benderang di bagian barat dari bangkai Titanic. Tapi ketika kami membawa pria ke atas sekoci, kami tak menemukan benda sejenis senter atau penerangan apapun. Yang ada di kantungnya hanya sebuah cerutu kering dan tongkat kecil yang patah. Ah, dan parinya juga sudah hilang setelah itu.”

“Apa kita bisa menginterogasinya?”

“Kurasa bukan ide yang tepat saat ini. Ia tidak begitu kooperatif.”

“Baiklah, setelah berlabuh di New York, kita akan mencari informasi darinya.”

Dua orang berseragam putih baru saja meninggalkan Mark. Berlagak tak acuh, Mark memainkan cerutunya di jemarinya kemudian mendesah ketika ekor matanya menangkap birunya lautan—lagi. Faktanya, Mark mendengar semuanya termasuk apa yang membuat kru kapal pesiar Carpathia— Pesiar penyelamat sisa penumpang Titanic—mencurigainya.

Jika datang hari interogasi, maka yang bisa Mark katakan adalah: Titanic tenggelam karena menabrak gunung es, lambung kapal penuh air dan tenggelam dua jam setelahnya. Mark tentu masih punya cukup sisa akal sehat untuk membungkam kenyataan soal peri-peri dan segala sesuatu tentang sihir yang ada di Titanic sejak awal. Biarlah hanya ia sendiri yang tahu.

Yang tersisa bagi Mark adalah teka-teki soal bagaimana dirinya bisa selamat. Setelah Ash jatuh, ia merasa seperti disambar petir—secara harfiah. Tubuhnya mengejang, lantas tongkat sihirnya berpendar tiba-tiba. Benda tersebut kemudian melayang dan terjatuh ke dalam air. Tak lama setelah ia kehilangan tongkat, pendar kebiruan menyala-nyala dari cerutu yang dipegangnya. Cerutu tersebut memberi sengatan-sengatan listrik pada Mark yang membuatnya pingsan saat terjatuh dari ketinggian lima belas meter dari sisa-sisa buritan Titanic.

Selebihnya, Mark tak ingat apapun.

Dipandangnya cerutu yang ia genggam kuat-kuat. Ada kemungkinan bahwa cerutu tadi adalah benda sihir yang menyelamatkannya secara tak langsung—memanggil pari raksasa atau membuat cahaya, barangkali. Asumsi tersebut membuatnya ingin tertawa. Mark yakin sekali cerutu tersebut ikut jatuh ke air bersamanya namun benda tadi sama sekali tidak basah

Mark memutuskan untuk mengawasi awan-awan di atas lautan Atlantik pagi itu. Binar matanya jernih, menyembunyikan air yang tak jadi ia tumpahkan kala ia pandangi cerutu kering tadi sekali lagi, untuk kesekian kalinya.

Mark terkekeh rendah.

“Kau benar-benar benci air ya, Sir.”

.

.

Zeus mengembalikan apa yang hilang.

Seorang pemuda duduk di atas batu karang berlumut. Ia mengatur napasnya, sembari memeriksa apakah ia masih bernapas dengan jantungnya. Pemuda tersebut memegangi dadanya, merasakan denyut-denyut yang seharusnya ada di sana. Meski tak ada kabar baik soal denyut tadi, pemuda tersebut faktanya masih hidup dan bisa melihat ikan-ikan sejenis hiu putih berlalu-lalang.

“Apa sekarang aku bernapas dengan insang?” Ash bertanya. Yang diajaknya bicara adalah seekor pari raksasa yang terus menerus memandanginya. “Kau bisa bicara bahasa inggris?”

Pari tersebut berenang menjauh.

“Oh kau tak bisa rupanya.” Ash berdiri. Di bawah kakinya adalah pasir yang bercampur dengan ganggang dan rumput laut berwarna hitam. Hiu-hiu berenang di sekitarnya namun seolah tak acuh akan presensi pemuda tersebut.

“Apa Zeus dalam ramalan memperlakukan yang hilang seperti ini? Aku hidup… tapi di bawah laut?”

Ash membuka tangannya, ia butuh penjelasan. Namun yang hilir mudik di hadapannya hanyalah kuda laut, hiu, dan ikan-ikan kecil bertanduk yang belum pernah ia lihat. Makhluk-makhluk ini menatapnya sekilas kemudian kembali menggerakan tubuhnya dan berenang menjauh dari Ash yang berdiri tanpa busana di atas karang besar di dasar lautan Atlantik.

Ia tak merasa dingin, tak merasa kesusahan bernapas. Sosoknya masih manusia, namun cara hidupnya sudah berubah banyak.

“Halo? Ada yang bisa menjelaskan ini padaku? Hiu, paus, ganggang, … siapa pun?” Ash berteriak. Tentu saja suaranya malah menakuti makhluk-makhluk yang disebutnya. Ash mengepalkan tangan, mengentak-entakkan kakinya dengan jengkel.

“MENGAPA IKAN YANG HIDUP DI PERAIRAN INGGRIS TIDAK MENGERTI BAHASA INGGRIS SAMA SEKALI?”

.

.

Fin.


Rewrited, dengan banyak perubahan.

nyun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s