A Piece of Her Floor

A Piece of Her Floor © Fantasy Giver
Hetalia – Axis Power © Hidekaz Himaruya
.

Let me love who I want to love

.

warning:

lots of swearing, please read wisely

.

.

“Bajingan, ke mana saja kau?”

Sebelum Gilbert sempat melakukan apa pun yang muncul dalam otaknya yang kabur karena kantuk, Elizaveta sudah menyerbunya dengan sebuah pelukan besar. Aroma mawar mendobrak indera penciumannya sementara tubuhnya terdorong ke belakang sebelum pegangan pintu terlepas dan birainya mengayun sendiri. Bunyi bantingan yang selanjutnya terjadi, tentu saja.

Satu-satunya hal yang ingin Gilbert temukan ketika ia baru bangun di tengah bulan Juli yang terik adalah sebotol beer dingin dari kulkas. Elizaveta, sebaliknya, menjadi opsi terakhir yang baru diambilnya apabila kiamat datang hari itu. Tapi memang—untuk kali ini saja, ia boleh disebut sebagai orang paling pesimistis—terkadang realita dalam dunia ini tidak sesuai dengan angan-angan.

Persetan, seharusnya ia bangun lebih pagi dan ikut adiknya ke kantor saja tadi.

Wanita bersurai cokelat madu itu melepaskan dirinya. Manik hijaunya membulat dan senyuman muncul begitu saja. Sekilas semuanya terasa benar; seperti dulu, ketika mereka masih sibuk bermain perang-perangan di taman atau menjalani hari-hari khas remaja atau ketika Elizaveta memuji lukisan-lukisan waktu senggang Gilbert. Namun ketika wanita itu menyugar rambutnya ke belakang, sesuatu yang tersemat di jarinya menghapus selera Gilbert untuk menjalani hari.

“Kukira kau tak akan menemuiku lagi,” ujarnya malas. Pria itu berbalik, menyeret langkahnya menuju sofa empuk di ruang tengah, lalu menjatuhkan diri di sana dengan posisi tengkurap. Busanya bergoyang ketika sang wanita Hongaria ikut menjatuhkan diri pada sisa-sisa spasi di antara tungkai Gilbert.

“Kaulah, Gilbert Beilschmidt, yang mungkin tidak akan menemuiku lagi,” balas Elizaveta dengan kepal yang mendarat di betis Gilbert telak. “Tega-teganya kau tidak datang di hari pentingku.”

“Aku banyak acara.” Suaranya teredam bantal.

Elizaveta mendengus kesal. “Hingga mengurbankan aku?”

“Kalau memang harus.”

“Sialan kau.”

Beban di dekat kakinya langsung menghilang.

Tidak, tidak, Gilbert tidak akan menahan apabila Elizaveta memutuskan untuk minggat dari apartemennya. Ia malah akan bersyukur dan merayakan semuanya nanti. Sayangnya, Gilbert tahu Elizaveta tidak akan pulang sebelum ia puas menyiksa pria itu dengan segala cara yang bisa dilakukannya.

Gilbert menutup matanya sejenak, kembali mengumpulkan apa yang sebulan ini telah tercecer ke mana-mana dan membuatnya hancur berantakan. Sebagai seorang pria yang memiliki harga diri—atau gengsi, menurut versi Ludwig, adiknya—yang sebanding dengan pesawat berlapis emas, Gilbert merasa seluruh topik yang melayang sembarangan terlalu basi untuk diungkit. Sudah busuk dan pantasnya dikubur saja di dalam tanah.

Tapi hati tidak bisa dibohongi. Kadang tetap ada rasa yang menggumpal dalam kepalanya; mengganjal dan begitu menyebalkan. Beberapa butir emosi yang membuatnya berubah melankolis dalam sekejap dan mengganggu kesehariannya yang biasa. Rasa-rasa yang menariknya pada status disorientasi sesaat.

Baiklah, ia memang pengecut karena melarikan diri dalam beberapa momentum, tetapi sekarang adalah saat untuk menghadapi kenyataan. Sebab seseorang yang tangguh dan keren seperti dirinya pasti bisa menghadapi situasi, ‘kan?

Saat Gilbert sudah mengubah posisinya menjadi duduk, Elizaveta baru kembali dari arah dapur. Segelas jus jambu berada dalam genggamannya seolah ini rumah mereka dan dia bebas melakukan apa saja yang dikehendaki. Gilbert mengacak rambutnya yang masih mencuat ke segala mata angin, tak berusaha untuk memperbaiki rupanya. Sudahlah, toh ia tak pernah mencoba menjadi orang lain di hadapan wanita itu.

“Kau seharusnya jadi lebih rajin, Gil,” ujar Elizaveta setelah duduk di satu single sofa lain. “Bagaimana kau bisa dapat istri kalau kau masih terus bangun siang begitu?”

Gilbert mendengus. Pertanyaan yang benar: bagaimana bisa dapat istri kalau orang yang ingin kauperistri sudah dipinang orang lain?

“Selalu katamu?” jawabnya datar. “Asal kau tahu, aku baru tidur jam setengah lima tadi pagi. Itu sebabnya aku bangun siang. Lagi pula aku masih betah sendiri. Belum ada seseorang yang bisa mengimbangi kekerenanku.” Gilbert meraih sebungkus kretek di atas meja, menarik sebatang, lalu menyulutnya dengan lighter kuning lemon yang tak pernah berpindah dari entah-kapan. Asap segera berparade begitu ujung rokok mengundang bara.

“Hentikan idealismemu itu.”

“Tidak mau.”

Elizaveta tidak menjawab perdebatan itu; hanya memutar matanya, lalu meneguk jus dalam gelasnya. Ada kekecewaan yang muncul dari perut Gilbert. Ah, ada yang berubah. Biasanya wanita itu tidak mau mengalah sebelum ada yang melerai—ya, ya, memang keduanya terlalu ambisius dalam memenangkan perdebatan bertajuk sepele. Dan Gilbert senang. Itulah salah satu momen yang paling dia nikmati.

Gilbert memerhatikan Elizaveta beberapa sesaat sementara jarinya berputar-putar bersama lintingan tembakau. Mengamati segala gerak-geriknya, mulai dari caranya memainkan butir-butir embun di kaca hingga caranya bernapas. Belum ada yang berbeda dari fisiknya, untungnya. Belum ada yang bertambah atau berkurang.

Belum ada si mimpi buruk sehabis liburan yang biasanya muncul.

Dan Elizaveta menyadari hal itu. Jadi dia balas menatap. “Apa?” tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Tenggorokan Gilbert kering, tapi alasannya bukan karena dia belum sempat menegak air sehabis bangun. “Kapan kau pulang dari … Polinesia?”

Elizaveta lekas terkekeh. O Tuhan, Gilbert nyaris lepas kendali. “Kau tidak datang ke pernikahan kami, tapi tahu dimana kami berbulan madu?”

Bulan madu. Pilihan kata yang sempat Gilbert hindari tapi keluar juga pada akhirnya. Membayangkan Elizaveta berlibur berdua dengan pianis sok aristrokrat yang selama ini menjadi musuh abadinya mendidihkan darah pria itu dalam waktu yang mengejutkan. Bulan madu—ada momen-momen dimana hal-hal menyebalkan pasti terjadi, ‘kan?

Si pria Jerman menghisap dan menghembuskan asap kreteknya dua kali lebih dalam. “Kabar burung.” Ia kemudian mendecak, merasa terganggu dengan tatapan Elizaveta yang menghakimi. “Dan kalau kau tidak mau menjawab juga tidak akan berpengaruh dengan hidupku.”

“Oh, ayolah, Gil. Jangan terlalu sensitif,” Elizaveta menjawab ringan. “Aku pulang dua hari yang lalu. Tadinya ingin langsung menemuimu, tapi Roderich bilang kami perlu istirahat dulu. Oh ya, ada oleh-oleh untukmu dan Ludwig di rumah; aku kelupaan. Mau diambil kapan?”

Ke rumah mereka? Jika Gilbert sudah bosan hidup akan dia lakukan.

“Maumu apa, Liz? Membelikan oleh-oleh tapi menyuruhku mengambil sendiri ke rumahmu?”

“Ya … hitung-hitung sekalian membayar hutangmu yang belum terlunasi.”

Kedua alis Gilbert terangkat ke atas. Hutang apa? Kalau yang dimaksud Elizaveta adalah hutang menyatakan perasaannya, sekarang sudah terlalu terlambat. Oke, itu tadi lelucon penuh ironi, Gilbert tahu. Ia harus pergi ke dokter jiwa sehabis ini. Ada sesuatu yang Gilbert yakin sudah miring sekian derajat di dalam otaknya.

Lintingan berasap di antara telunjuk dan jari tengahnya telah memendek. Gilbert menghisapnya sekali lagi sebelum mengadukan ujungnya dengan permukaan asbak. Ia berdiri kemudian, berlalu menuju dapur sambil berkata kecut, “Hutang apa?”

Ia tidak bisa menghitung apa-apa saja kekompakan di antara mereka, tapi entah kebetulan, entah disengaja, jus Elizaveta tandas sehingga ia mengekor beberapa langkah di belakang Gilbert menuju sink. Meletakkan gelasnya di sana, wanita itu menjawab, “Memberiku dan Roderich ucapan selamat. Mungkin juga hadiah.”

Gilbert tak berminat menanggapi. Bagaimana ia bisa menyiapkan hadiah ketika yang dilakukannya hanyalah minum sampai lupa diri, tertidur di bar dan bangun dengan bau alkohol yang membuat semua orang mual? Satu-satunya yang ada di pikirannya saat itu adalah bagaimana menghentikan pendarahan pada lukanya yang menganga.

Sekarang sudah lebih membaik, memang, tapi bukan berarti sembuh. Tak akan pernah sembuh malah.

Gilbert membuka lemari makanan. Ada dua tangkup sandwich telur di sana. Ah, Ludwig sedang menjadi anak baik dengan membuatkan kakaknya sarapan. Atau ia memang tahu Elizaveta akan datang dan inilah yang menjadi penghiburan?

Sang pria albino mengambil satu, menjejalkannya langsung ke mulut dan mengunyah cepat. Elizaveta mendengus jijik sambil menyabuni gelasnya dengan sabun beraroma lemon. Lalu Gilbert mulai berimajinasi; seandainya ini benar rumah mereka dengan skenario yang berbeda, keduanya pasti sudah berperang busa. Gilbert yang memulai, tentu saja.

Keparat. Otaknya benar-benar menyebalkan.

“Kapan-kapan kusiapkan kalau ingat,” kata Gilbert. Mulutnya penuh, tapi ia meneguk air menggunakan gelas kuning favoritnya. Ada serbet yang menumpuk di meja—sesuatu di sana membuatnya terganggu selain eksistensi Elizaveta. Ia tahu ia tidak bisa menyingkirkan oknum yang satu, jadi memutuskan untuk membuang fokusnya pada satu hal itu. Gilbert menarik salah satu dan memertemukan kedua sudutnya. Melipatnya serapi mungkin.

“Kalau begitu akan kuingatkan setiap hari.” Suara Elizaveta yang renyah terdengar begitu dekat. Jantung Gilbert melompat begitu ia menoleh dan menemukan hidung Elizaveta. Napas mereka bahkan sempat beradu sebelum Gilbert menarik diri.

Gilbert segera berlalu. Masih ada dua serbet, tapi sudahlah; mereka bisa menunggu. Wajahnya yang terlalu mudah bersemu harus terlebih dulu diselamatkan. Langkahnya kelimpungan menuju kulkas, mengambil apa yang dibutuhkannya sedari membuka mata. Logam berbunyi klik, kaleng terbuka dan pria itu segera meneguk likuidnya banyak-banyak.

Pergerakan yang bagus. Langkah berikutnya: mencari topik baru. Gilbert merutuk dalam hati sebab seluruh hal yang ada di kepalanya berhubungan dengan pernikahan Elizaveta.

“Roderich—” Ada pahit yang berbisa. Gilbert seharusnya tidak mengucapkan namanya, “—memperlakukanmu dengan baik selama ini?”

Elizaveta rupanya melanjutkan pekerjaan Gilbert. Pria itu jadi heran. Sejak kapan dia suka mengerjakan detil-detil? Wanita itu bukan neat-freak seperti dia dan adiknya. Alih-alih membereskan, ia lebih sering mengacaukan. Roderich kah yang mengubah?

Ide itu membuat Gilbert muak.

“Dia manis dan sopan. Dia memperlakukanku seperti seorang wanita yang seharusnya. Dia suami idaman, kautahu.”

“Oh, right.” Kekesalan muncul, tapi ia masih bisa menahan diri untuk tidak menggertak.

Si wanita Hongaria hanya mengedikkan bahunya. Serbet terakhir berhasil dilipat dengan sukses, lantas ditumpuk di atas milik Gilbert. Matanya berkilat-kilat saat wanita itu melanjutkan, “So far so good, Gil. Kau harus cepat-cepat menyusul agar tahu rasanya.”

Ada pancaran yang berseri-seri. Ada bintang, supernova, lentera gulita yang Gilbert temukan di sana. Caranya berbicara mengenai Roderich, tatapan itu, senyumannya, semua berbeda dengan yang diberikan Elizaveta kepadanya. Semua itu terasa hambar dan menyakitkan, namun Gilbert harus berusaha menerimanya.

Sebab ia, dengan mata kepalanya sendiri, menyaksikan bahwa Elizaveta bahagia. Dan itulah yang terpenting.

Ah, Gilbert sadar tidak akan menemukan wanita macam itu lagi dalam hidupnya.

Tanpa sadar, pria itu telah berjalan ke arah Elizaveta; tinggal setengah meter jarak mereka dan Gilbert harus berbangga atas kontrol dirinya dalam menahan kebutuhan liar untuk menangkup pipi itu dan menyatukan bibir mereka. Tapi ia membiarkan lengannya maju, menarik wanita itu dalam rengkuhannya, dan mengacak-acak rambutnya penuh sayang.

Sayang, ya. Ia sayang setengah mati pada Elizaveta. Ia begitu sayang hingga titik berpura-pura bahagia atas pernikahan wanita itu.

Janggal rasanya membayangkan tak ada lagi Elizaveta yang akan berkunjung di jam-jam sinting karena merasa kesepian di apartemennya. Atau Elizaveta yang mengacaukan ruang kerjanya. Atau yang bertengkar dengannya setiap detik, setiap waktu, hanya masalah sepele hingga akhirnya harus dilerai oleh orang-orang yang lebih waras. Kini wanita itu sudah menjadi milik orang lain dan ia memiliki kehidupan baru yang harus dijaganya.

Dan tidak, sampai dunia runtuh dan kembali lagi, prinsip untuk tidak mengucapkan selamat atau apa pun yang berhubungan dengan hidup bahagia bersama Roderich Edelstein akan tetap ada.

“Kau bersikap aneh, Gil.” Elizaveta berusaha keluar dari rengkuhan Gilbert, namun pria itu terlalu keras kepala.

Sialan, kenapa rasanya berat sekali untuk melepaskan?

“Apa yang kauharapkan ketika mengganggu jam tidur orang lain?” Ia hanya dapat berbisik parau, menyembunyikan ketidakberdayaan. “Omong-omong, jangan memikirkanku ketika bercinta dengan si aristrokrat itu, oke?”

Elizaveta menepuk punggung Gilbert. “Hanya dalam mimpimu.”

Ah, lukanya berdarah lagi.

.

Fin

.

.

A/N:

  1. Re-post dari blog pribadi.
  2. Bcs akhir-akhir ini saya suka dengan tema friendzone, even tho that sucks?
Advertisements

11 thoughts on “A Piece of Her Floor

  1. Suka banget. Suka banget. Suka banget :”) maaf nggak tau harus bilang apa huhu suka banget banget dan mulai awal sampe akhir ngalir parah ngga bisa ninggalin buat terus baca dan feelsnya :”) daebak kak keep writing!!! ❤❤ maaf komen sampis :”)

    Like

  2. ya ampuuun! dari berbagai skenario tentang percintaan, aku tuh paling suka yang kayak gini. nyakitin tapi nagih dan menggelitik hahahahaha. aku bisa ngebayangin pergerakan mereka berdua tau viiin sepanjang baca. you did a great job there. padahal aku gak tau Hetalia dan cuma pernah denger sekilas atau baca ‘Hetalia’nya aja di beberapa tempat (seringnya di blog kamu juga xD)

    Namanya cantik-cantik yaa aku suka ❤ ❤ ❤ Terus tak lupa ya ini perihnya pas banget di hati aku suka nih yang begini.

    ohiya vin, di atas aku sempet nemu kalimat 'beberapa sesaat sementara jarinya …..' itu emang sengaja pake 'sesaat' atau gimana yaa? 😀 pas kubaca somehow enakeun 'beberapa saat sementara' gitu ehehehe. Sama ada kata 'menghembuskan' yang harusnya 'mengembuskan' 🙂 tapi lepas dari itu ini tuh bener-bener enak dibaca dan disimpan dan diarsipkan hahahaha. aku ngesave di opera mini gituuu ❤ ❤ ❤

    your words are true magic, you are my lovely magic ❤ anyway, pssst, kita sama-sama ngepost fic di tanggal 20 ya omg! TWIN 4EVAAAA!

    Your twinsister,
    Dhilu

    Like

    1. heyooooooo! my twinnie itsy bitsy! ❤ ❤

      hetalia itu sebenernya gampang kok dipahami, hehehehe. iya, aku emang sering nulis hetalia, dhil, jadi maaf ya kalo sampis eheeee,,,, dan setuju sama kamu, sih, namanya emang bagus-bagus! masalah penulisan, aku mungkin lagi kerasukan roh sesuatu sampe bisa nulis begini, soalnya tbh ini salah satu karyaku yang paling aku suka, hehehehe.

      ooo yang sesaat itu emang miss 😦 maaf ya, padahal juga udah kubeta berkali-kali. masih aja miss. terus yang mengembuskan itu pure aku bingung sih. kayak kenapa kata "hembus" lebur? soalnya aku pernah baca juga dipanduan yang bener itu menghembuskan, meski orang-orang seringnya nulis mengembuskan? yang bener yang man…. heee,,,,

      WAAAH kamu save di opera mini? huhuuuu, aku gatau lagi deh dhil, i feel so honoured, hee. makasih banyak yaa sayangku. karya-karya kamu ga kalah bagus dan ga kalah magic. aku masih inget banget dulu pertama kali baca tulisanmu, terus aku yang kayak 'OMG pekat-pekat magis!' hehehe.

      makasih banyak my twinnieeeee! i love you to the moon and back, kamu semangat terus yaa, sayang! ❤ ❤

      Like

  3. haii eviinn lama tak baca fiksimu …. tapi tetep yaa kece deh kalau yang bikin tuh kamu ;-*
    wah wah kasian sekali gilbert ditinggal nikah elizavesta, nyesek tuh pasti ngga ada abisnya hahaha ((jahat)) tapi elizavesta terlalu baik ya sepertinya buat ninggalin tuh temen patah hatinya, untung aja suaminya baik. coba kalau ngga, mungkin si gilbert tinggal nama.

    oke, evin. dari pada kubanyak omong, pokoknya kamu kudu tetep menulis!!! fighting!!! 😉

    Like

    1. haloooo, kak aneee! iya udah lama ga liat kakak, iiih, hehehe. kakak apa kabar? baik-baik kan? hehehe.

      iya nih kasian gilbert-nya ditinggal nikah, tapi salah sendiri sih ga punya guts buat keluar dari friendzone. hahahaha xD suaminya eli baik, kok, kak 🙂 cuma kalau masalah karakter, lebih seruan karakter gilbert soalnya si roderich kalem-kalem aja, haha.

      makasih kak anee!

      p.s: ini bukan tokohku :p

      Like

  4. EVIIIN HI!!! 😄😄

    Karena dari dulu aku suka yang tema friendzoned jadi ini… Cinta banget akunya. Gilbert itu karakter lucu yang dikasih porsi bitter sangat amat pas, tapi masih lovely pas sama Elizaveta mau diapain juga.

    Part terbaik adalah, Gilbert gak mau ngomong selamat dan selamat berbahagia sampai kapan pun, iya pura-pura seneng, tapi buat boong soal yang satu itu kayak no thank you HAHAHA.

    Anyway, keep making something awesome evin 💞💞

    Like

    1. TARII HI!

      astaga, so sorry aku baru bales sekarang soalnya baru cek-cek di ws lagi nih masalah komentar. daaaan … sama dong, aku juga suka cerita friendzone gitu, hiks 😦 dan emang gilbert ini sejatinya punya karakter arogan, sombong, narsis gitu lho tar, terus elizaveta-nya tuh cewek strong tomboy tapi tetep feminim. yha ngerti kaaan? dan mereka udah sahabatan dari kecil gitu (tipe-tipe sahabatan yang sering berantem, kata-kataan tp tetep saling sayang) gitu. lucu banget. terus, yes, gilbert emang kalau buat yang itu dia mikir kalau ngomong dia bakal nerima kenyataan bahwa liz udah menikah, which is dia gamau heheh.

      kamu juga, taar! keep writing yaa!

      Like

  5. Ini untuk pertama kalinya aku baca yg bukan fanfiction di blog, dan ternyata ekspektasi aku gk sesuai sama realita, kenapa ? Karena aku kira bakalan ngebosenin gk menarak tapiiii pas baca yg ini ternyata bagus banget, srek srek gimana gitu, ide ceritanya sih sering ketemu kyak gini tapi pas baca ya beda dn bedanya itu yg bikin keren, suka (y)

    Like

    1. halooo, indriber! maaf yaa aku baru bales sekarang, huhu, udah telat banget padahal ya. soalnya aku baru cek-cek ke ws lagi niih. btw salam kenal, indriber! aku evin! :))

      mmm sebenernya…. ini fanfiction, lho. fanfiction hetalia gitu, ada anime tentang sejarah dan tokohnya negara-negara. nah si gilbert ini personifikasinya prussia (jerman timur, sekarang udah dibubarin) sementara elizaveta personifikasinya hongaria. hehehe. aww makasih banget yaa indriber pujiannya! kamu semangat teruuus! :))

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s