Kota Mati

2

Kota Mati

-cherryelf-

2016

.

Mereka menyebutnya Kota Mati. Bukan sebab kosong ditinggal penghuni. Bukan pula kumuh berpenyakitan. Jika diperhatikan penduduknya hidup berkecukupan. Diamati sebentar pun mereka tampak biasa-biasa saja. Tapi sedikit orang tahu bahwa di balik roman-roman ramahnya, mereka saling menyimpan beribu dendam dan rencana.

Bermula manakala si sakit hati merasa disakiti oleh perkataan yang lain. Maka rencana-rencana pembalasan akan memecuti empati mereka tanpa belas kasih. Sejurus kemudian, bergegaslah si sakit hati memenuhi nafsunya. Dari cara yang terkeji sampai yang halus berperasaan.

Esok paginya, ketika pelayat berduyun-duyun mengerumuni liang lahat, tidak akan ada yang tahu bahwa salah satu dari tangan yang terangkat mengamini doa adalah tangan yang sama yang beraksi semalam.

Polisi tidak lagi berfungsi karena diam-diam sibuk berkongsi menyusun kudeta pelengseran kaum atas. Sementara keputusan hakim bergantung pada seberapa kuat rupiah antar kedua belah pihak.

Kebenaran tersembunyi jauh di relung jiwa. Mungkin karena sang pemilik lebih gemar bercengkerama dengan kebusukan iblis, berkawan pada dosa yang telah menjadi pembenaran pada tiap langkah. Nama yang tersemat di tempat itu seolah telah mengutuk tiap jengkal persendian kota.

Hari itu Seneng menghabiskan satu halaman penuh laporan buku kematian. Penyebab kematiannya pun cukup beragam. Megap-megap di bawah sumur galiannya sendiri, tersuruk-suruk di kolong truk yang tengah melaju, dan paling memualkan, minum kopi campur racun tikus. Tidak ada yang tahu keberagaman itu datang dari tangan Yang Kuasa langsung atau lewat perantara tangan si pendendam.

Sebagai pegawai kecamatan Seneng cukup disibukkan. Ia tak mengeluh dan mencoba memahami makna dari balik semua ini. Barangkali malaikat pencabut ajal sedang mengadakan touring tahunan di Kota Mati. Atau mungkin iblis penyebar kebencian telah kawin, meyatu dengan bangsa manusia hingga perilaku dan otaknya sudah tiada beda.

Sore mengudara. Burung berciap-ciap di langit senja. Kemacetan mengular di jalan raya. Memupuk kelelahan bagi tiap pelaju yang kadung menumpuk. Pekak klakson memprotes tanpa tahu siapa yang diprotes. Orang kaya pemilik mobil pribadi, bapak penata jalan, atau pemerintah?

Salah satu yang bertahan di antara keributan itu ada Seneng yang pulang dengan tubuh berpeluh. Baju dinasnya lusuh. Siapa bilang pegawai negeri bersantai dengan jam kerja yang luang. Menghadapi berpuluh wajah dengan kapasitas kerja otak berbeda, kadang membuat mulutnya sampai berbusa-busa. Menjelaskan peraturan yang sama. Mendengar keluhan yang sama pula. Sampai telinganya otomatis menangkap maksud si pengadu bahkan sebelum mulut itu membuka.

Seneng hanya berharap istrinya telah selesai menghidangkan makan malam, membersihkan rumah dan menata anak-anak mereka untuk berjajar rapi di muka pintu. Ayah mana yang tidak akan senang kala sepulang kerja, sambutan yang ia terima adalah senyum dan ciuman takzim anak dan istri. Itu akan jadi penyembuh bagi kelelahannya melewati hari.

Lalu Seneng teringat telepon istrinya beberapa menit sebelum ia menguasai kemudi.

“Sanan balik ke berandalan itu lagi,” keluh istrinya nyaring. “Kau tahulah anak-anak pengangguran bertelinga tindik itu. Aku tak sudi anak lelakiku memiliki masa depan suram seperti mereka.”

Nada istrinya menurun namun cukup menusuk hati Seneng, “Apa tidak cukup kita mendidiknya selama ini?”

“Mungkin dia butuh waktu.”

“Sampai kapan?”

Seneng menyahut dalam hati, sampai kota ini mengganti namanya menjadi kota hidup atau setidaknya bangkit.

“Sekarang dia sedang mengurung diri di kamar.”

“Bagus. Itu artinya dia masih takut padamu.”

“Aku tidak yakin.”

“Tenang saja, aku akan bicara padanya nanti.”

 “Aku merasa terlalu keras padanya.”

“Dia anak lelaki dan sepatutnya kita bersikap demikian. Aku yakin kau sudah berbuat benar.”

Sebelum Seneng menambahkan, istrinya lebih dulu menyela. “Oh, dia sudah bangun. Aku akan mempersiapkan makan malam.”

“Baiklah. Semoga dia sudah tidak marah lagi.”

Ban mobil menggilas kerikil halaman depan. Lambat dan segan. Sementara jantung Seneng mendadak bertalu. Sinyal di otaknya tak menangkap apapun tapi perasaannya cukup membuat pikirannya kalut akan ketakutan yang semu.

Pintu terbuka sebelum jari Seneng mencapainya. Di depannya berdiri anak perempuan bungsungnya dengan wajah sembab.

“Bapak!” pekiknya di antara isak tangis.

“Sara, hei, ada apa, Sayang?”

“Ibu… ditusuk kakak….”

Mendengar racauan anaknya, dunia Seneng terasa berputar. Bayangan menulis nama istrinya sendiri di laporan kematian meremukkannya.

.

  • Hello, datang dengan sangat terlambat. Persembahan setelah lama tak bersua 🙂
Advertisements

6 thoughts on “Kota Mati

  1. Kak, aduh aku lgsg suka sama kata2nyaa. Sentilan2 kehidupannya juga. Endingnya jugaa.. hahahhaa
    Iya, lama gak bersua kyknya nih sama kakak. Keep writing ya kaak 😀

    Like

    1. aow, dhilaa. aku sendiri malah mau minta maaf atas ketidaknyamanannya. aku, cewek kaku yang nulis cerita kaku hahaha makasih sudah baca dan suka yaa <333

      Like

  2. AWAAAAAAAAAAAAAAAA SERU BANA INI!!!

    Adonan kata-katanya sedap aih serunya sampai sampai akhir! Kusuka eksekusinya dan ini kece pake banget!

    Keep writing ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s