Rough

by LDS

credit pic: http://www.ize.co.kr

.

Jung Yoonoh populer di sekolah karena wajah dan bakatnya, tetapi Choi Yuna baru sadar bahwa Yoonoh jauh lebih berkilauan pada jarak kurang dari sepuluh meter.

Berada di kelas yang sama dengan bintang multitalenta Seoul Global High tidak pernah Yuna bayangkan sebelumnya, biarpun peringkat paralelnya yang bertahan di posisi lima besar selama empat semester membuatnya dan Yoonoh bisa dibilang sederajat. Hampir seluruh siswa Seoul Global High menganggap Yoonoh sosok yang sulit disentuh, terlepas dari kepribadian hangat dan pengalaman kepanitiaannya yang luar biasa sejak kelas satu. Bagi mereka, alih-alih teman sebaya, Yoonoh lebih seperti sebuah cita-cita. Oleh karena itu, ketika Yuna melihat si pemuda Jung memasuki kelas dalam langkah ringan, ia langsung berhenti memukuli Lee Seokmin dengan buku catatan dan terpaku.

(Jangan tanya mengapa Yuna memukuli Seokmin. Sejak mulai dekat di klub paduan suara saat kelas satu, mereka biasa bercanda tanpa alur jelas dan tahu-tahu diwarnai ‘serangan’ yang merupakan bagian dari gurauan.)

Dipandang intens oleh dua pasang mata dari bangku terdepan, Yoonoh jadi agak salah tingkah. Ia tersenyum kikuk, mengucapkan selamat pagi, tetapi senyum kikuk saja cukup bagi Yoonoh untuk memerahkan pipi gadis-gadis, tidak terkecuali Yuna yang sebelumnya tidak tertarik padanya. Mengapa, Yuna sendiri bertanya-tanya. Anak matanya sempat bergeser ke samping, menghindari kontak langsung dengan Yoonoh, tetapi hanya sekejap lantaran ia merasa tak sopan jika harus membalas salam dengan mata yang tak fokus.

“Selamat pagi, Yoonoh ….”

Harusnya, Seokmin mengucapkan balasan salam yang sama, jadi wajar kalau Yuna menyikutnya sembunyi-sembunyi karena dia diam. Suasana antara mereka berdua dan Yoonoh makin canggung gara-gara Seokmin yang melongo macam penggemar fanatik bertemu idolanya. Beruntung Yuna tidak harus jadi pemecah keheningan. Yoonoh maju duluan, mengulurkan tangan ke arah Seokmin, kali ini senyumnya lebih terlihat ramah dibanding kikuk. Cerita-cerita tentang sikap bersahabat Yoonoh terbukti benar sekarang—dan denyut jantung Yuna lagi-lagi terlewat satu.

“Kurasa ini bukan pertama kali kita bertemu, tetapi kita tidak pernah berkenalan langsung, bukan? Aku Jung Yoonoh, dari kelas 2-A. Salam kenal … dan, um, jangan memandangku seolah-olah aku ini wali kelas galak begitu, hehe.”

Yuna selama ini mengira cara Yoonoh membawa diri lebih tinggi satu tingkat dibanding teman-teman sebayanya, ternyata tidak. Kegugupan Yoonoh masih kentara, tetapi ia justru bertambah manis karena itu dan dalam sekejap, Yuna merasa Yoonoh tidak berbeda dengan kebanyakan anak kelas tiga SMA. Mendadak Yuna tidak lagi minder di depan sang bintang, lantas mengulurkan tangan pula, siap menjabat tangan Yoonoh …

… sayangnya Seokmin lebih cepat. Pemuda mancung itu menangkup telapak Yoonoh layaknya seorang pemenang tender menyalami direktur perusahaan besar yang mempergunakan jasanya: mantap, cenderung tegang.

“Aku Lee Seokmin dari 2-E dan ini Choi Yuna dari 2-C. Salam kenal, kami merasa sangat terhormat bisa sekelas denganmu!”

‘Merasa sangat terhormat bisa sekelas denganmu?’ Puih, kata-kata itu tidak semestinya muncul di perkenalan! Berlebihan sekali, Seokmin! keluh Yuna dalam hati, menahan malu sebab Yoonoh membelalak, lalu kembali tersenyum kikuk sembari mengatakan ‘aku juga senang bisa sekelas denganmu’. Sudah bagus Yoonoh mencoba mencairkan suasana, mengapa Seokmin mengisi ulang ruang di antara mereka dengan kecanggungan, sih? Yuna mengeluhkan hal ini usai Yoonoh duduk di bangkunya di belakang, tetapi Seokmin ganti menggenggam tangan Yuna, mata bocah itu berbinar-binar.

“Yuna, ini bukan mimpi? Tadi betulan Jung Yoonoh yang menyalamiku?”

“Iya, tadi itu Yoonoh. Kau kenapa, sih? Biasa saja, dong. Kau tidak lihat Yoonoh ketakutan gara-gara kau yang mendadak jadi patung?”

“Tapi, Yuna, dia itu Jung Yoonoh, lho! Jung Yoonoh!” Pada tahap ini, Seokmin jadi amat mirip gadis remaja yang sedang membanggakan artis tampan kesayangannya. “Mantan kapten tim basket sekolah yang membawa timnya menjuarai kompetisi regional! Mantan Ketua Divisi Seni di OSIS dua periode lalu! Pernah menjuarai olimpiade kimia tingkat nasional juga! Kalau responmu setelah disalami orang seperti dia biasa saja, berarti kau yang aneh!”

“Kau ini tidak ada kapok-kapoknya mengejekku, ya! Setelah bilang aku aneh, habis ini kau mau mengataiku apa lagi, heh?!”

Perdebatan konyol Yuna dan Seokmin berlanjut setelah sempat terjeda oleh kedatangan Yoonoh, buku catatan kembali menyerang secara membabi buta di sela tawa keduanya.

“Yuna-ya, sudah cukup …. Kau tidak malu sama ketua kelas kita yang baru?”

“Tidak!” Yuna, masih tertawa, melayangkan satu serangan lagi pada Seokmin sebelum meletakkan bukunya puas. “Tapi, memangnya siapa ketua kelas kita yang baru? Kita kan belum mengadakan pemilihan ketua kelas?”

“Ketua kelas kita yang baru tentu saja Yoonoh. Aura ketua kelasnya saja sudah terasa waktu masuk tadi, kan? Dan, kau perlu tahu kalau khusus di kelas 3-A ini, pengurus kelas akan dipilih dewan guru. Kalau bukan Yoonoh, siapa memangnya yang akan mereka pilih?”

“Hah?” Manik Yuna melebar kaget. “Jadi, maksudmu, pemegang jabatan ketua dan sekretaris kelas akan ditentukan oleh dewan guru? Mengapa begitu?”

“Tidak tahu. Mungkin—tanpa bermaksud sombong, nih—karena kelas ini dilabeli kelas unggulan? Ketua dan sekretaris penting untuk jalannya sebuah kelas. Mereka juga akan mewakili wali kelas pada beberapa waktu, jadi yang dipilih tidak boleh sembarang orang, apalagi ini kelas 3-A.” Dua belah telapak tangan Seokmin tahu-tahu bertemu di depan wajah. “Tuhan, semoga dewan guru menunjuk Choi Yuna sebagai sekretaris yang baru ….”

Puk! Satu pukulan tambahan melayang ke lengan atas Seokmin.

“Kok aku?! Kau saja sana! Dikira gampang apa jadi sekretaris kelas?”

“Oh, ayolah. Kalau kau menjabat sebagai sekretaris kelas, siapa tahu kita berdua bisa lebih dekat dengan Yoonoh?”

Sebentar. Skenario ini klasik, menggunakan temanmu untuk mencuri kesempatan mengagumi lelaki yang kau suka, tetapi rasanya ada yang salah.

“Biar kuluruskan. Kau mendoakanku jadi sekretaris kelas agar kau bisa lebih dekat dengan Yoonoh? Mengapa kau tidak mendoakan dirimu sendiri jadi sekretaris kelas?”

Seokmin nyengir kuda. “Hei, seorang laki-laki kurang telaten untuk mengurus dokumen-dokumen penting, sedangkan anak perempuan ‘kan lebih teratur ….”

Pandai betul mencari alasan. Memang namanya penggemar fanatik akan selalu menemukan jalan untuk diperhatikan idolanya, termasuk ‘mengumpankan’ teman. Yuna tidak keberatan mengeratkan hubungan antara Seokmin dan Yoonoh, masalahnya adalah caranya. Masa iya dia harus mengemban tanggung jawab sebegitu besar, padahal tugas utamanya cuma menjadikan Seokmin dekat dengan Yoonoh? Yuna gadis yang tidak serius pun tidak fokus, mana bisa menjalankan pekerjaan bergengsi sebagai sekretaris kelas?

Diam-diam, Yuna memanjatkan doa lain untuk menangkal doa sahabatnya.

***

“Tidak pernah mengikuti organisasi apa pun, tetapi nilai sikapnya sangat baik, mari kita sambut sekretaris kelas kita yang baru, Choi Yuna!”

Jung Jihoon alias Guru Jung, sesuai penuturan kakak-kakak senior, adalah wali kelas yang seru. Yuna berpikir demikian pula hingga pemangku jabatan sekretaris kelas diumumkan oleh sang guru. Begitu nama Yuna disebut, Seokmin mengepalkan tangan di bawah meja dan bilang ‘yes!’ dalam volume rendah, sementara Yuna mengerjap cepat tak percaya. Butuh waktu baginya meresapi betapa riuh tepuk tangan anak-anak sekelas biarpun sekretaris mereka jauh dari kata populer, pertanda mereka antusias menyambut sekretaris yang baru …

… atau itu semata-mata ungkapan syukur karena bukan mereka yang terpilih untuk menjalankan tugas besar ini.

Guru Jung memberi Yuna isyarat untuk maju dan menerima map hitam berisi lembar harian kelas. Yuna berdiri dengan gugup. Sempat ia lirik Seokmin sekali, berharap memperoleh kata-kata penyemangat atau apa, namun dia malah mendapati raut terharu ala penyanyi pop yang memenangi penghargaan Daesang. Perut Yuna tambah terkocok rasanya.

Map hitam harian kelas terasa kasar permukaannya, sekasar permulaan tahun ajaran baru ini di kelas 3-A bagi Yuna. Tatkala berbalik menghadap empat belas rekan sekelasnya, Yuna merasa map yang dipeluknya memberat. Mengurus empat belas kepala sambil mempersiapkan ujian masuk universitas, kira-kira akan seperti apa?

***

“Selanjutnya, mungkin sebagian besar kalian sudah menduga ini. Nilai sikap dan jam terbang tinggi di organisasi, ditambah prestasi akademis yang juga luar biasa …. Ucapan selamat berikutnya adalah untuk presiden baru 3-A, Jung Yoonoh!”

***

Apa Seokmin itu cenayang?!

Tidak, Yuna menggeleng. Seperti yang Guru Jung katakan, terpilihnya Yoonoh merupakan sesuatu yang gampang ditebak. Kendati begitu, sambutan terhadap Yoonoh tidak kalah riuh dengan Yuna tadi. Yang berbeda, Yoonoh tidak tampak terkejut; ia bangkit dengan tenang dari kursinya dan melangkah tanpa beban untuk menjejeri Yuna. Seokmin di bangkunya lagi-lagi memasang muka konyol, bibirnya bergerak-gerak membentuk kata ‘hebat!’, dan Yuna, andai bukan seorang gadis beretika, jelas akan mengacungkan jari tengahnya pada si wajah kotak. Bisa-bisanya bersenang-senang di atas penderitaan orang!

“Lihatlah kalian berdua, serasi sekali,” goda Guru Jung, membuat senyum malu-malu kedua pengurus kelas merekah. “Aku penasaran, bagaimana perasaan kalian saat ini? Jung Yoonoh-ssi, sepatah-dua patah kata darimu, jika tidak keberatan?”

Guru Jung menyodorkan gulungan kertas entah apa yang dialihfungsikan sebagai mikrofon (sumpah, Yuna sedang berada di depan kelas atau di panggung penerimaan penghargaan penyanyi terbaik tahun ini, sih?) pada Yoonoh, yang diterima si ketua kelas baru dengan tawa kecil. Selera humor Guru Jung, yang mengejutkan, dapat diterima oleh Yoonoh, sehingga caranya memberikan pidato pun persis penerima penghargaan bergengsi di televisi. Ia memperdalam suaranya, terdengar berwibawa, tetapi dalam situasi seperti ini, jatuhnya suaranya malah jadi lucu.

“Saya dan Choi Yuna tentunya berterima kasih atas kepercayaan dewan guru kepada kami untuk memimpin kelas 3-A. Untuk kedepannya, kami mohon kerja sama dari teman-teman sekalian, orang-orang terbaik dari yang terbaik, agar kami dapat menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Saya juga berterima kasih pada keluarga dan para penggemar sekalian, saya harap kalian memberikan banyak cinta pada kolaborasi kami berdua di masa jabatan mendatang.”

Ini … promosi album teranyar?

Yuna refleks menutup mulut, menahan diri agar tidak menertawakan pidato Yoonoh yang agak ‘miring’, padahal teman-temannya yang lain sudah tergelak tak karuan. Siswa-siswa dari baris keempat bahkan sudah memimpin fanchant, menyerukan berulang-ulang nama lengkap Yoonoh dan Yuna secara bergantian. Seokmin mulai ikut-ikutan, tetapi ucapan Yoonoh berikutnya berhasil menenangkan kegilaan para penggemar.

“Tolong tenang semuanya, venue harus tetap aman dan tenteram sepanjang showcase.”

Akhirnya, Yuna tak tahan lagi. Kekehannya membaur di antara belasan tawa lainnya, termasuk tawa Guru Jung. Dalam keramaian itu, tak sengaja Yuna dan Yoonoh bertemu pandang. Sekilas saja, namun Yoonoh pandai memanfaatkan kesempatan. Ia tersenyum, kepalan tangannya sedikit terangkat, dan ia berbisik amat lirih.

“Mari berjuang.”

Jika ini adalah opera sabun, maka Yuna—yang berstatus sebagai pelancar ‘kisah cinta’ Seokmin dan Yoonoh—akan langsung terpesona, kemudian mengkhianati sang kawan agar dapat memiliki Yoonoh untuk dirinya sendiri. Beruntung, senyum Yoonoh itu tidak memiliki efek selain menghapuskan kebimbangan Yuna, juga memercikkan ketakjuban yang sedikit mendebarkan. Pernyataan ‘aku tidak akan bisa jadi sekretaris kelas’ dalam benak Yuna seketika ditukar dengan ‘mungkin, menjadi sekretaris kelas tidak seberat dugaanku’—dan optimisme memenuhi dada Yuna hingga tidak menyisakan ruang untuk rasa takut.

“Sering-sering ajak aku kalau kalian mendiskusikan kelas, oke?”

“Dasar kau, Lee Seokmin tukang nyempil,” decak Yuna setelah duduk di kursinya lagi, tetapi tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat manis.

Ada pengalaman baru menunggu Yuna. Yoonoh sukses membuatnya gembira menyongsong itu, alih-alih merasa cemas.

Di sisi lain, seseorang di bangku belakang, sang bintang sekolah, menemukan cahaya lain dalam senyum Yuna. Seberkas cahaya yang ia pancing menggunakan guyonan murah di depan kelas tadi kini makin terang … sanggup mendesirkan darah mudanya dan menghias raut berserinya dengan rona merah.

[fin]

Advertisements

5 thoughts on “Rough

  1. AAAAAAAAAAA KAK LIANA INI LUCU SEKALI SUMPAH. ((kalau ada tombol like seratus udah kupejet semua atau kalau bisa kubikin rusuh, kubikin rusuh karena aku gemes bangeeeeeeeeeeet))

    high school life. tadi aku baca favor-nya kak eci, terus sekarang ini dan dua-duanya sama gemesnyaaaa. squishy banget yoonoh ihhhh tbh aku ga tau mereka-mereka ini sebenarnya siapa, tapi aku suka banget karakternya. apalagi down to earth dan malu-malunya dia DAN SELERA HUMORNYA DAN PIKIRANNYA DI BELAKANG!! we all have that one friend ya yang ganteng dan populer dan tidak terjamah tapi sebenernya ramah, but this is another level. terus aku juga suka hubungan yuna sama seokmin dan aku suka kakak ga menunjukan bahwa mereka punya love triangle. dan yuna-nya juga lucuuuu.

    aduh sumpah, kak liana ini manis banget. dan tulisan kakak bikin lebih manis lagi. humornya dapet sampe aku ketawa beberapa kali. deskripsinya vivid dan rapi. enjoy banget lah. beneran deh kalau ada 10000000 like kupejet semuaaaa!

    semangat terus yaa, kak liana! ❤ ❤

    Like

    1. eviiiin
      kok kamu komen *bhaks *ga
      iya gapapa aku tau ga ngikutin yg baru2 :p saya juga ngikutinnya baru blkgan :p
      anyways takpikir kamu bukan tipikal2 pembaca school life hahaha ternyata masih dibaca juga, aku senang kalau kamu suka berarti ini yha lumayan layak baca lah yaaa
      keep writing too!

      Like

  2. Halo, Kak!
    Aku sebenarnya udah pernah baca tulisan Kakak di wordpress lain tapi baru kali ini aku baca di sini. Temanku kasih link fic ini (semata-mata mau menunjukkan bahwa Jung Yoonoh perfect dimana saja dan kapan saja). Dan setelah kulihat casts nya, awalnya aku udah overjoyed karena kukira ini bakal Seokmin x Yuna (iya aku hard shipper dokju xD).
    Tapi setelah baca ficnya, jujur aku mencak-mencak sendiri. Emang sih awalnya “yah, bukan dokju” but this fic is so worth my morning! Manis bangetㅠㅠㅠㅠ dan Kakak menjabarkan si Yoonoh bener-bener clear. Aku bisa paham kalo dia bukan sekedar cowok pinter serba bisa dll tapi juga kikuk dan that’s where the cute thing exist. Apalagi pikirannya pas sudah di belakangㅠ huhuhu ini manis banget pokoknya!!

    Sukses terus Kak!
    – vickyeowl

    P.s. Deskripsi Seokmin sama Yuna lagi berantem becanda becanda itu sukses bikin aku squealing sendiri x)

    Liked by 1 person

    1. Jadi kyknya ada carat yg mau ditarik ke fandom nct ya nyahahaha tapi gapapa. Saya maklum kalau gak banyak yg ngeship jaehyuju Krn Yuna sdh terlalu nempel dgn deka, saya pun lumayan ngeship fufufu
      Anw makasih sdh mampir ya, ntar kalo ada versi dokjunya mangga mampir lagi 😀

      Like

  3. Uhuhuhu kak lianaaaa unyu banget sih ini duh duh manis ucul ala ala sma gitu aiduhh :3 diabetes aku kaaakk…
    Mana penggambarannya detail dan ugh itu makin bikin aku tak berdaya (?). Kusuka deh tipikal cowok populer kayak yoonoh aiguu ma heart :))
    Oiya finally nemu tulisan kakak di blog ini juga. Rasanya blog ini bakal jadi langganan deh ucucuww :3

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s