Find Her

pic

credit pic here

By Cheery

(mini event : truk pantura)

Lika-liku laki-laki tak laku-laku

.


Menggaet seorang cewek bukanlah perkara sulit bagi Gilang Danendra. Posisinya sebagai seorang penggebuk drum serta play maker tim basket cukup untuk membuatnya digilai hampir separuh siswi-siswi di sekolah. Tapi masalahnya, Gilang selalu naksir cewek yang salah.

Gilang bisa saja dengan mudah mengencani Elle—si kapten penari sorak-sorak—namun gadis pertama yang didekatinya justru si cemerlang dalam segala hal, Ratu.

Ayolah, aku yang sembilan peringkat di atas Gilang saja menyerah untuk menjadi teman Ratu. Pernah sekali aku mengajaknya mengobrol dan berujung pada ia yang mengajakku berdiskusi tentang politik. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya kumengerti. Ia benar-benar sukses membuatku seperti orang tolol.

Dan apa? Gilang ingin pendekatan dengannya? Bukannya apa-apa, tapi kusarankan makhluk alergi buku seperti Gilang mundur teratur saja. Tapi dasarnya Gilang memang bebal, jadi aku memenuhi permintaan untuk membantunya belajar, agar terlihat mengesankan, katanya.

Gilang dengan teratur belajar di rumahku sepulang sekolah sampai pukul delapan malam selama dua minggu. Aku merasa berhasil ketika untuk pertama kalinya nilai ujian matematika Gilang menyentuh angka delapan. Yah, sebenarnya Gilang bukan tidak pandai, hanya saja ia menaruh minat lebih pada musik dan olahraga.

Meski begitu, tetap saja Gilang mengalami penolakan tragis. Aku hanya tertarik pada cowok yang lebih pandai dariku, seperti itulah pernyataan Ratu yang Gilang ceritakan padaku sambil meremas bungkus mi instan untuk santap malam.

Kisah romansa keduanya dimulai ketika kelas kami kedatangan siswi pindahan. Wajahnya manis, berambut pendek, dan memiliki perawakan yang ideal. Jalasena Nararya, begitu ia memperkenalkan namanya. Terdengar agak maskulin untuk nama perempuan.

“Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama,” kata Gilang sore itu saat kami mendengarkan lagu bersama yang membuatku menghadiahinya satu toyoran kepala. Hari-hari selanjutnya, ia gencar menebar senyum manis yang rasa-rasanya ingin kubungkam dengan kaus kaki buluk favoritnya.

Gilang ingin mengantarkan Sena pulang selepas jam sekolah, namun CRV putih selalu berhenti di depan gerbang tepat waktu. Gilang ingin memberi sebotol air mineral pada Sena saat pelajaran olah raga, tapi Sena masih berlari mengitari lapangan bahkan saat Gilang merasa kakinya sudah gemetar. Dan ketika Gilang protes pada Pak Pras karena meminta Sena untuk mendemonstrasikan beberapa gerakan taekwondo bersama Reno, toh nyatanya Sena membanting Reno dengan mudah.

“Kupikir dia terlalu tangguh untukmu,” bisikku pada Gilang, masih terpaku atas pemandangan yang tersaji.

“Aku makin bersemangat, tuh.” Gilang balas berbisik.

Setelah melalui penantian, peluang akhirnya mendatangi Gilang. Sepertinya Sena tidak dijemput hari itu. Terpancar dari raut kesalnya saat menelepon seseorang di depan gerbang sekolah. Tak mau menyia-nyiakan, Gilang dengan sigap menawarinya tumpangan.

Sayangnya, hari itu tak berjalan lancar. Esoknya saat akan berangkat sekolah, ia terlihat menggunakan hoodie dan topi. “Oh, Lang, aku baru tahu kalau Jalasena Nararya itu salah satu penghargaan dalam dunia militer,” kataku memberinya fakta yang baru kutemukan, belum berminat untuk menanggapi penampilan tidak biasanya.

“Ya, Ayah Sena punya satu bintang di masing-masing pundaknya dan kakak lelakinya berpangkat letnan.” Gilang membuka hoodie beserta topinya, “Mereka menyebut ini potongan 3-2-1. Sial, kenapa kamu baru memberi tahu sekarang, sih?”

“Hahahahaha.” Aku menyemburnya dengan tawa. “Wow. Ada apa dengan rambut yang selalu kujambak itu?” tanyaku.

“Mentalku benar-benar belum siap untuk model rambut seperti ini.” Gilang mengurut keningnya.

Dan begitulah kisahnya dengan Sena berakhir.

Perjalanan asmara Gilang selanjutnya tetap penuh liku. Pernyataan cinta ditolak, naksir pacar orang, hanya dianggap sebagai kakak, dan mengajakku berkencan ketika kami duduk di semester empat perguruan tinggi. Tenang saja, kalian tidak sedang menyimak kisah klasik temen jadi demen, kok.

Setelahnya, aku tidak mendapati Gilang menyukai seseorang lagi. Sampai di semester akhir, selepas sidang ia bercerita padaku kalau sedang menyukai seorang gadis. Tapi kali ini berbeda. Caranya bercerita dan tersenyum sungguh berbeda ketika ia menceritakan Ratu, Sena, dan yang lainnya. Terasa lebih spesial? Kupikir ia sudah menemukannya.

Empat tahun berlalu, kini aku berada di kediamannya untuk acara keluarga. Aku menatap foto pernikahannya yang dipasang di ruang keluarga, tersenyum mengingat bahagianya ia kala itu. “Kamu nggak menyesal dulu pernah menolakku, ‘kan?” tanyanya tiba-tiba berdiri di sampingku.

“Lucu, ya. Dulu kamu sering naksir cewek tapi nggak pernah berhasil. Sekarang kamu dapat istri yang bahkan lebih cantik dariku.”

“Kamu, tuh, yang lebih lucu. Tidak pernah cerita apa-apa padaku, tahu-tahu sudah mau dilamar saja, mana sama kakakku pula. Jujur, ya, bukankah aku jauh lebih ganteng dari Kak Galang?”

“Aku dengar, lho, Lang.” Suara bass dari belakang kami menginterupsi.

“Hehehe, nggak kok, Kak. Tadi maksudnya semoga nanti keponakanku ganteng kayak omnya,” dalihnya sambil melirik perutku yang membuncit.

“Sayang—eh, semuanya, acaranya sudah mau dimulai.” Suara lain yang terdengar lembut menyapa kami, Arlyn. Gilang menghampirinya lalu mengecup singkat di dahi. “Malu, ah,” Arlyn memukul bahu Gilang.

“Hahaha, ayo.” Gilang merangkulnya lalu mendahului kami.

Aku tertawa kecil memperhatikan mereka sampai terdengar, “Mau kucium juga?”

“Apa, sih?!” Aku mengambil langkah cepat mendahului.

“Mukamu merah, tuh.”

Duh, tidak usah diperjelas begitu, dong.

.

Fin.

Advertisements

9 thoughts on “Find Her

  1. halo, kak cherry! ini lucu lhooo ehehehe. bukan friendzone, tapi menceritakan kisah cinta si temennya dan gimana mereka berakhir dan ternyata dia malah berakhir sama kakaknya! hahahaha xD aku sukaaa! semangat terus kak cherry! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s