Sehnsucht

©Lt. VON 2017

.

My heart is broke, but I have some glue.

Kurt Cobain

.

(Warning for some adult language and minor violence)

“Kau tahu sesuatu tentang kematian Aithne.”

Suara lembut bernada tuduhan dari Eleanor memutus keheningan yang sejak sepuluh menit lalu diisi seadanya oleh embusan napas panjang-panjang.

Saat itu sudah sore, langit separuh biru muda dan jingga. Eleanor tengah duduk berteduh di tepi lapangan klub memanah bersama seseorang yang berpakaian senada dengannya—hitam polos. Mereka baru saja menghadiri pemakaman atlet pemanah terhebat dan tercantik yang dimiliki klub mereka, Aithne Wild.

Acara pemakaman berlangsung cukup lama, mengingat kematian si yang punya hajat cukup mendadak dan tragis, sehingga ucapan bela sungkawa yang disampaikan panjangnya tiga kali lipat lebih bertele-tele. Semata demi mempertahankan atmosfer berkabung di antara para pelayat—alih-alih bergosip.

Matahari telah begitu tinggi ketika acara selesai. Keduanya memutuskan untuk kembali ke klub, tempat para anggota mulanya berkumpul, sebelum berangkat bersama-sama ke areal pemakaman yang tak jauh dari sana. Lantas membunuh waktu dengan beberapa ronde permainan, sembari sesekali menggali memori tentang si gadis bersurai cokelat madu sebahu dengan manik hijau muda yang baru saja dikebumikan.

Dari rumor yang tersebar di antara para pelayat, rupanya mayat si gadis ditemukan seorang pemulung di tepi sungai Thames. Jasadnya membengkak dan membusuk, hingga nyaris tidak dapat dikenali tanpa bantuan petunjuk cincin yang ia kenakan pada jemari telunjuk kanan—di bagian dalam cincin terdapat inisial nama sang mantan kekasih, Gabor Gallagher. Surai yang acapkali berkibar diterbangkan angin dan mengilat ditempa matahari berubah lepek dan keabu-abuan karena bercampur lumpur. Kondisinya tidak bisa lebih mengenaskan dengan leher yang hancur dan salah satu soket matanya kosong.

Keluarga Wild tergoncang hebat; terutama Mrs. Wild yang histeris bukan main saat berita buruk tersebut pertama kali sampai di telinganya. Bahkan dikabarkan sudah ada tiga dokter kejiwaan yang dipanggil ke kediaman mereka dalam sehari, karena dokter pribadi keluarga tidak lagi sanggup menangani sang nyonya. Kabar tersebut dianggap tidak berlebihan, mengingat kosongnya kursi beliau di sisi Mr. Wild—tampak ringkih dengan paras pucat pasi, dan harus duduk di kursi roda sepanjang acara pemakaman—yang kemudian diwakilkan oleh kedua saudari Aithne.

Sementara jingga mulai mendominasi kubah langit di atas mereka, Jake mereguk habis air mineral yang sisa setengah botol sebelum kemudian menanggapi tuduhan Eleanor.

“Atau bahkan mungkin aku terlibat?” tanyanya datar.

Selebihnya tidak ada perubahan signifikan pada air muka lelaki bersurai cokelat kemerahan tersebut. Keseluruhan otot di wajahnya menunjukkan gurat lelah serupa atlet yang baru menyelesaikan latihan harian, bukannya raut kesedihan mendalam dari seorang lelaki yang baru saja menghadiri pemakaman sang kekasih pada umumnya.

Kulit wajah yang normalnya kekurangan warna kini dipenuhi semburat merah setelah beberapa ronde pertandingan, juga karena tempaan sinar matahari sore. Sisi kiri wajahnya yang menghadap Eleanor dipenuhi peluh seukuran biji jagung yang berlomba meluncur melintasi pelipis, melewati tulang pipi, dan berakhir menggantung di ujung dagu lancip—menanti saat yang tepat untuk terjun bebas ke permukaan tanah nun jauh di bawah.

Ia mengenakan setelan serba hitam, senada dengan gaun selutut yang tengah Eleanor kenakan, namun tuksedonya telah lama ditanggalkan. Terkulai di spasi yang tercipta di antara mereka berdua dan menyisakan kemeja sutra berkerah tinggi dengan lengan panjang, membungkus rapat tubuh si pemakai dari leher hingga pergelangan tangan.

Pikiran Eleanor bercabang seketika. Akankah ia lebih maklum jika mendapati Jake meringkuk sendiri di sudut kamar gelap dengan tubuh gemetar disertai air mata yang mengalir deras, daripada ia yang tenang dan tak terguncang seperti ini?

“Apakah kau terlibat, Jake?”

“Tidak.” Yang ditanya bergerak menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, lantas melanjutkan, “tidak secara langsung.”

Bukannya terperanjat atau beranjak pergi, Eleanor justru mendengus kesal seolah telah menduga jawaban yang akan ia dapatkan. “Aku sudah pernah bilang padanya jangan dekat-dekat iblis seperti Vaughan. Tapi dia tidak mau dengar dan malah menuduhku cemburu. Dasar gadis serakah!”

Jake terkekeh kecil. Jemari telunjuknya mengukir pola acak pada permukaan tutup botol di genggaman. “Oh ya, wanita memang makhluk yang serakah.”

“Meski begitu kau tetap memacarinya.”

“Bagaimana mungkin aku menolak gadis yang menghampiriku dengan bekas tamparan di pipinya?”

Masih terekam jelas dalam memori Jake, detail wajah gadis yang ia temui di lorong pintu masuk klub setelah pesta kemenangan untuk timnya usai digelar. Dengan wajah separuh lebam—entah terkena pukulan benda tumpul, atau tamparan beruntun dari telapak tangan raksasa beringas—si gadis berusaha menyunggingkan senyuman paling manis.

Well, itu salahnya karena berkencan dengan lelaki payah dan pemarah macam Gabor Gallagher. Si congkak itu terlalu gegabah, hingga takdir menahan timnya satu poin di belakangmu.”

Jake mengangguk ringan tanpa arti. Samar-samar bayang keriuhan penonton kembali hadir bersama dengan raut kecewa luar biasa milik Gabor Gallagher—lelaki dengan rambut brunet keriting, wajah kotak, dan rangka fisik yang jauh lebih jangkung dan berisi dibanding Jake.

Saat itu arena lomba panahan yang digelar di ruang terbuka dibanjiri riuh tepuk tangan dan sorakan kala anak panah terakhir yang Jake lepaskan memberikan kemenangan bagi timnya. Umpatan Gabor tertelan bersama derap langkah orang-orang yang merangsek mendekat dan sukses menghalau jarak pandang untuk sekedar mengamati kemana perginya si lawan dengan tergesa. Tidak pernah terlintas bahwa saat itu si kasar Gabor menghilang untuk menyalurkan kekesalannya pada sang kekasih—Aithne.

Lima menit berlalu dalam senyap, sebelum ada yang kembali memecahkan kebisuan.

“Aku juga tahu bahkan setelah dua minggu kami bersama, Aithne masih berhubungan dengan Gallagher. Sudah pasti ia yang mendesak gadis menyedihkan itu untuk menggeledah kamarku.”

Eleanor enggan menanggapi dan hanya memberikan pandangan penuh tanya, ‘Kau sedang memainkan peran antagonis atau protagonis, sih?’’

“Oh, Eleanor Flynn, berpikirlah secara dewasa. Pacaran bukan berarti menikah, oke? Karena kami sepasang kekasih tidak lantas aku bertanggung jawab atas susah-senang, sakit-sehat, atau bahkan hidup-mati Aithne.”

Memutar mata tanda jengah, Eleanor mengabaikan ceramah yang dilontarkan kepadanya. “Katakan padaku kesalahan macam apa yang ia perbuat malam itu.”

Jake menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, ambiguitas yang ia layangkan untuk menutupi kekonyolan Aithne tidak akan membebaskannya begitu saja dari radar keingintahuan Eleanor. Hal ini membuktikan bahwa kecurigaan Jake atas tindak-tanduk ganjil si gadis rumahan yang kukuh menahannya di klub dengan kedok beberapa ronde pertandingan, rupanya terbukti benar.

“Ia menyelinap ke kamarku, lalu tertangkap basah. Bukan salahku kalau kemudian ia berakhir di bawah pisau bedah ibu dan kakakku.”

Bibir Eleanor terkatup rapat, menanti dengan tamak kelanjutan kisah yang enggan Jake beberkan.

“Aithne berniat mengenyahkan seluruh anak panah yang kupakai khusus untuk pertandingan. Semacam mencoba menemukan miniatur mesin roket di dalamnya, atau beberapa trik sabotase mutakhir yang tidak terdeteksi panitia perlombaan. Kurasa selain ancaman dari Gallagher, ia juga sedang delusi akibat kebanyakan melahap buku sci-fi.”

Jake melemaskan otot lehernya, sebelum kembali memusatkan pandangan pada wajah oval gadis di sisinya.

“Kau juga sebaiknya tidak terlalu menggilai kisah detektif, El. Mereka akan membuatmu terobsesi memecahkan kasus yang bukan urusanmu.”

Manik kenarinya menatap lekat obsidian yang berkilat goyah untuk sepersekon, namun segera kembali tenang. Dari ujung pandangannya, ia melihat dengan jelas punggung tangan Eleanor gemetar.

“Berhenti merogoh saku tuksedoku. Kau hanya akan menemukan sekotak permen karet dan kunci mobil. Tidak ada pisau lipat ataupun penumbuk daging yang bisa dijadikan barang bukti. Jadi jaga tanganmu, atau aku tidak akan membiarkanmu lolos di lain kesempatan.

“Sudah sore. Kurasa ini saatnya kau pulang dan merelakan kekasih barumu membusuk di penjara.” Jake bangkit seraya melepaskan gulungan lengan kemejanya.

“’Cause while we talked, those evidences that you’re looking for has arrived in the Gallaghers’. And who knows how many years he has to spend his life now, rooting in the prison?”

Eleanor terpaku di tempat, sementara Jake meraih tuksedo miliknya. Jemari tirus lelaki tersebut bergerak lincah merogoh setiap saku dan menyisir lipatan kerah, sebelum mengenakannya kembali.

“And I’d kindly suggest you to change your oh so old-fashioned method anytime soon, for the use of tapper nowadays is too out of date. Don’t you think so, my dearest cousin?”

Pengendalian diri Eleanor runtuh seketika kala benda seukuran liontin meluncur dari genggaman Jake yang kemudian dihancurkan berkeping-keping dengan sekali injak.

.

Jarum jam dinding menunjukkan pukul delapan malam lewat lima menit saat Jake kembali dari mengambil barang miliknya yang tertinggal di mobil, lalu mendapati Aithne tidak lagi berada di ruang tamu, di mana si gadis semula menunggu dengan tenang. Ia mencoba mengetuk pintu toilet, namun tidak ada jawaban. Pencariannya terhenti kala gonggongan Skyler, anjing peliharaannya, terdengar dari lantai dua.

‘Bloody hell, no!’

Jake bergegas mendaki undakan anak tangga dan di sana, di dalam kamarnya, ia melihat si gadis terbaring tak bernyawa. Dress navy blue yang dikenakan Aithne masih utuh, hanya saja kali ini ada tambahan noda merah gelap menghiasi leher jenjangnya. Warna yang sama tampak mengotori moncong si anjing ketika menghampiri tuannya yang membeku di bibir pintu.

Melangkah melewati Skyler, Jake menemukan presensi sang ibu yang tengah sibuk mengelap beberapa barang di atas meja miliknya dengan cekatan.

Well, Jake, kuakui seleramu boleh juga.” Mrs. Vaughan memandang putranya yang baru saja tiba di tempat kejadian perkara dengan seuntai senyum lembut miliknya. “Tapi sayang, sepertinya keluarga Wild lupa mengajari putri sulung mereka tata krama bertamu yang baik.”

Mum ….”

“Dia menyelinap ke kamarmu, Dear. Lancang menyentuh anak panah kesayanganmu, sebelum kemudian mematahkan beberapa diantaranya. Bukan salah Sky kalau ia menyerang gadis itu hingga lehernya patah.”

O—oh … Jake tidak bisa membantu apa pun jika memang demikian adanya. Ia menatap nanar anak panah yang patah jadi dua di lantai. Total jumlahnya tiga.

‘Bollocks!’

“Kalau kau mau, jantungnya—”

Blimey! No, Mum.” Pandangan Jake terkunci pada benda yang berkilau di jari telunjuk sang gadis. “Dia tidak begitu mencintaiku, pun sebaliknya.”

“Sayang warna kulitnya juga bukan favoritku.” Mrs. Vaughan menggumamkan beberapa kata seperti ‘terlalu pucat’, ‘lembek’, dan ‘kusam’ sembari melirik mayat si gadis, lalu kembali memandangi permukaan meja yang telah kembali tertata rapi dengan puas. “Baiklah, kalau tidak ada di antara kita yang menginginkan cinderamata dari gadis ini, maukah kau menyiapkan mobil sementara aku membereskannya, Dear?”

Senyum tipis yang mengiringi pengusiran halus tersebut diterima Jake dalam diam. Ia berbalik hendak keluar, namun terhenti karena menemukan presensi Jane, kakak perempuannya, di mulut pintu.

“Well … is it a sapphire, or an emerald?”

“The latter.”

Tidak membalas, Jane hanya diam mematung, pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak pergi. Pandangannya lekat pada sesuatu di belakang punggung Jake.

“Don’t be too excited, Jane. Please.”

“Pft. Let me remind you how skillful I am, Brother dear.”

Fin.

VON’s Note:

[Feature Image credit picture: here]

Advertisements

13 thoughts on “Sehnsucht

  1. Bikin melongo ya kak. Belakangan aku lagi namatin sherlock dan aku baca ini kayak baca buku terjemahan yang keren gitu. Suka banget. Kalimatnya lugas dan gak muluk-muluk. Enak dimengerti tapi masih punya sisi misteri. Gimanasih wkwk, intinya suka bangetlah. Bacaan bagus menjelang tidur hehe

    Liked by 1 person

    1. Halooo juga Kanisaaa!

      Kujuga turut senang bisa memanjakan kakak sebelum tidur ehehehe thanks a lot juga untuk feedbacknya! Maaf terlambat balas ya kanisa, tapi asli komen kakak masih ampuh untuk membakar semangatkuhhhh!!

      Nice to meet you, Kanisaaa! ♡♡♡

      Like

  2. KAK FILZZZZZZZKUUUUUUUUU ❤ UWOOOOW VAUGHAN FAMILY IZ BACK DAN INI MASIH SAMA MENAMPARNYA SEPERTI YANG BIASANYA.

    kak filzzzz, firstly happy new year yaa! semoga kakak dapet tahun yang menyenangkan tahun ini dan makin kece ce ce ce ce ce ce selalu. aku kangen banget sama kakak dan tulisan kakak, huhuuuu. lega deh bisa baca lagi di sini :"))

    huhu serem banget ya emang deh mrs. vaughan tuh ga ada yang ngalahin. udah jago jait pake kulit orang terus sekarang ngebiarin anjingnya matahin leher cewek 😦 hebatnya lagi buktinya dialiin ke si mantan pacar yang sekarang di penjara. parah sihhhh aku kalau di sana ga akan mau bergabung sama mereka, ehe ehe. btw ini british-nya terasa banget. makian juga makian british, terus blimey dan suasananya juga berasa banget england-nya.

    aku suka banget pembicaraan dan gaya jake ngomong sama eleanor di depan. jadi ini plus plus plus ehehe. semangat terus yaaa kak filzzzz! ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. HWALOOOHHHHH EVIIINNN HAPPY NEW YEAR JUGAAAAA ((masi Januari masi belom telat banget. Ehe. Ehe. Eheeee))

      TENGKYUSOMUCH EVIN KUJUGA KANGEN BANAAAAA KANGEN BOTH EVIN & FANTASY GIVER!!! ♡♡♡♡♡

      Peraturan nomer satu emang kaya yang Eleanor bilang: Jangan main sama Vaughan. Bahaya. Bisa-bisa pulang ga utuh (slaps)

      Thanks a lot juga sudah perhatian sama Vaughan, Eviiin :” they said thanks to you tooooo ♡ #sekalilagijanganmainsamaVaughan #eeeeeee

      KEEP WRITING TOO, EVIIIN!!!

      Like

  3. KAK FILZAAAA. Aku punya hate and love relationship with this family, ibunya kelewat nyentrik (anaknya juga sih), tapi anaknya tuh nyentrik gemesin, ibunya pure nyeremin HAHAHA.

    TERUS AKU SUKA BANGET BAGIAN JAKE YANG KAYAK, “Oh-so-naive Eleanor, you shouldn’t to this.” Dari awal tau dia dijebak, tapi tetep aja Eleanornya yang kelabakan. Sama part pas Jane yang kayak, “Yes, dapet mata baru.” HAHAHA. The best parah 👍👍👍

    Keep making something awesome kak! ❤

    Liked by 1 person

    1. HALOH TARIIIIIIIIHHHHHH!!!

      Hatur nuhun sudah kemari biar juga bikin pengen ngiket vaughans buang ke laut demi menjaga kedamaian antar galaksi yha

      Jane kalo liat mata warna ijo kek kalo kita liat duit seratus ribu di lantai tak bertuan XD #siagasatuamankansemuamatahijau

      THANKS A LOT TARIIII!!! KEEP WRITING OWSOMISIOUS THINGS TOO! ❤

      Like

    1. Ka mala halooouuuhhh haloooo

      Yang bunuh yanh di sebelaaaahhh (muter heathens.mp3 dulu hayu wqwq)
      Thanks a lot kamala sudah bacaaaa awaaa aku tersapu-sapu baca komennyaa ><

      Nuhuniseyo balesannya lambreta kek gajah ngesot ya kak …. :<

      Like

  4. YOYOYO KAPANG HAHAHAHAH LONG TIME NO SEE ‘EM THE VAUGHANS!!

    Ahem. Maafkan kepslok jebol wkwk

    Slayin’ as always, Mrs Vaughan pls give my poor heart a break. And Jane is no better. Goodness gracious.

    Somehow, I got this feeling that Jake actually regretting the fact that Aithne is … shallow? and genuinely want to have a chance with her? Or it is just my imagination running wild? Nonetheless, great story! I’m literally itching to know more and more about this particular family HAHA

    also … are you sure Ela is Jake’s niece tho…? I remember you talked about her briefly, saying that she’s Jake’s cousin. ._.

    Liked by 1 person

    1. Io craving for some romance aaaawwwweeeeeee lemme ask Jake later (even tho I know for sure he won’t admit it right away but I will make him say it /tsha)

      YASH DAT FATAL ERROR THO THANK U SO MUCH FOR INFORMING DIZ TO ME I … I … I WANNNAAA LOCK MYSELF INSIDE ONE OF THE SHERRINFORD JAIL OR EVEN SHARE ONE WITH SHERLOCK’S SISTER #spoilers #oops

      Nah isokay really and I’m truly grateful sudah dinotis errornyaaaa #HULKHUGBRUHHHHH

      THANKS A LOT TITAN AND I MISS YOUR WRITING TOO!!!

      Like

  5. “Leher yang hancur dan soket mata yang kosong.”
    Wujubileeehhh, merinding aku bacanyaaaaa sumpaaaah. Mana baca sambil mati lampu, seketika langsung membeku gitu sambil berimajinasi liar wkwkw.
    Dan Mrs. Vaughan, entah gimana ngungkapinnya, kok rasanya pingin nyakaaarr!!! Duhhhhh
    Ah pokoknya aku suka ceritanyaa, bahasanya, deskripsi suasananya, tata bahasa dari percakapan tokohnya, semua sukaaaaaa.
    Sering-sering bikin yg misteri gini yaa, ditungguin deuh pokoknyaaa❤

    Liked by 1 person

    1. Halooo irumadaaan, terima kasih sudah baca dan memberi feedbaaack!

      Ditungguin kujadi nerveous nih (slaps)

      Anw mrs. Vaughan memang orangnya ala ala coolkas suka adem suka mengundang hasrat nyakar wuehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s