Kisah Kasih Paijo

by Angela Ranee

(mini event : truk pantura)

Cinta ditolak, dukun bertindak.

.

Namanya Paijo, tapi suka minta dipanggil Jo biar terkesan gaul. Pemuda asal Ungaran ini sudah menjadi teman dekatku semenjak kami masih duduk di bangku SMA. Tubuhnya tinggi nan kurus, dengan kulit gelap serta telapak kaki kasar lantaran terlampau sering main sepak bola telanjang kaki semasa SMA dulu. Soal tampang Jo memang tidak semenawan personel boyband asal Korea Selatan kesukaan adik perempuanku, tetapi lebih baik ketimbang wajahku yang sudah amburadul sejak lahir.

Sejak SMA, Jo terkenal dengan julukan bucin alias “budak cinta”. Jo adalah tipikal pria yang mudah jatuh cinta dan rentan baper, apalagi kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Pernah suatu kali dirinya mengancam mau gantung diri di ring basket (yang mana aku sendiri tidak paham bagaimana caranya) lapangan sekolah tatkala cintanya ditolak oleh Arin, anak IPA pindahan dari Banjarmasin yang memang cantik bukan main. Sayang, Arin tidak buta. Tentu saja, gadis sejelita Arin akan lebih memilih Adjie—kapten tim basket yang tampan pula uang sakunya tiap bulan bisa buat membiayai satu angkatan tur ke Bali.

Sekarang, Jo jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Jo kesengsem1 dengan Juminten, kembang desa (atau kembang kampung?) yang tinggal di sebelah kiri rumahku. Juminten anak rantau dari Banyumas, di Semarang seorang diri dan mengontrak rumah minimalis yang cat hijaunya sudah pudar dan mengelupas di mana-mana. Sembari berkuliah, Juminten nyambi2 membuka usaha jahit dan rajut. Memang sejak kedatangannya kurang lebih dua tahun silam, Juminten sudah bikin geger satu kampung karena kecantikan khas wanita Jawa-nya yang luar biasa memesona. Bapak-bapak yang sudah punya istri di rumah saja kadang suka khilaf, kalau pagi modus ingin mengantar Juminten ke kampus.

Seperti biasa, aku akan selalu menjadi pihak yang paling direpotkan ketika Jo tengah dimabuk asmara. Dimulai dengan frekuensi Jo dolan ke rumah yang meningkat drastis, hingga beberapa kolor kesayanganku yang disobek Jo untuk dijadikan alasan Jo menyambangi kontrakan Juminten.

Hari ini Jo berulah lagi. Kali ini giliran spreiku yang didzalimi, sementara si oknum malah bersorak kegirangan,”Ayo, Jon, kancani aku ngapeli Juminten!”4

Aku hanya bisa memutar bola mata kala Jo menyeretku keluar dari rumah. Dirinya bahkan tidak mau repot-repot memakai Swallow-nya, asal ngacir saja ke rumah Juminten.

“Sore, Mbak Jum,” sapa Jo sembari mengetuk pintu, suaranya dibuat-buat supaya terdengar berat namun tetap halus.

“Sore, Mas Paijo, Mas Joni,” Juminten yang sedang menyelesaikan rajutan sebuah tas tangan di ruang tamu mengumbar senyum, membuat hati Jo heboh menggelar atraksi barongsai meski Tahun Baru Cina sudah lewat lama sekali.

“Kemarin saya sudah bilang, panggil Mas Jo saja, Mbak Jum.”

Halah, aku nyaris mendengus mendengarnya, sementara Juminten hanya terkekeh pelan. “Ada apa, nih, sore-sore mampir?”

“Oh, ini, Mbak … Spreinya Joni sobek,” Jo nyengir sembari mengacungkan sprei Pikachu yang diuntel-untel5 sembarangan di tangan kanannya.

“Lagi?” Juminten sedikit mengerutkan dahinya. “Padahal dua hari lalu celananya barusan sobek, lho, Mas.”

“Hahaha … Ndak tahu juga ini si Joni, hidupnya memang kebanyakan atraksi,” Jo tergelak sembari menempeleng bagian belakang kepalaku. “Bisa tolong jahitkan, ndak, Mbak?”

“Coba saya lihat dulu, Mas,” Juminten meraih spreiku dari tangan Jo, tanpa sengaja membuat kontak fisik meski hanya sepersekian detik, tapi sudah cukup untuk bikin Paijo makin gila. “Wah, kalau cuma seperti ini, sih cepat, Mas. Ditunggu sebentar juga sudah beres.”

Sial, Juminten, kok malah bilang beg—

“Oke, deh! Kalau begitu saya sama Joni di sini saja ndak apa-apa, ta?”

—Gusti, aku salah apa coba di masa lalu? Kok ujian hidupku seberat ini. Siap-siap, deh, jadi obat nyamuk sementara Jo sibuk berjuang mendapatkan hati Juminten.

Tapi yang namanya manusia tidak bisa menolak malang. Sudah berusaha sampai titik darah penghabisan pun, kalau nasib berkata lain, kita bisa apa? Aku bahkan nyaris terkena serangan jantung kala Juminten tanpa sengaja bilang kalau dirinya sudah jadi calon istri orang.

Kendati Juminten dan kekasihnya di kampung baru akan menikah selepas Juminten jadi sarjana (yang mana masih lama dan ada kemungkinan pertunangan batal di tengah jalan), sepulang dari kontrakan Juminten magrib itu Jo tampak seperti orang yang habis dicium Dementor.

Dua minggu sudah berlalu dengan Jo yang tidak pernah sekalipun dolan3 ke rumah dengan sepeda motor bebeknya. Malam minggu ini aku iseng mampir ke rumah Jo di Ungaran, anaknya mau aku ajak keluyuran cari makan di daerah Ambarawa dan sekitarnya.

Tetapi alangkah terperanjat diriku ini begitu sampai di pekarangan rumah Jo yang tidak berpagar, mendapati pria yang rambutnya berantakan itu duduk di teras dengan tiga batang dupa serta selembar foto seorang gadis di tangannya. Siapa lagi kalau bukan Juminten?

Heh, wong edan, kowe lagi apa kaya ngono kuwi?”6 tegurku tanpa tedeng aling-aling, hidungku memicing mencium aroma dupa yang mirip bau pipis kucing liar.

Lagi sembahyang,”7 jawab Jo cuek, lanjut berkomat-kamit tanpa suara, entah apa yang ia ucapkan.

Sembahyang karo sapa? Kowe wis dadi wong musrik, ya?”8

Ck, kemarin aku habis dari dukun, minta jampi-jampi biar Juminten juga suka sama aku. Katanya setiap malam aku harus membaca mantra yang diberikan di depan foto Juminten sambil membakar tiga buah dupa.”

OooLha dasar wong edan tenan Paijo iki! 9 Tanpa banyak omong, aku menempeleng kepalanya sembari menyumpah-nyumpah tak karuan. Ya Gusti, Indonesia sudah tujuh puluh satu tahun merdeka, tapi masih ada saja orang seperti Paijo. Pantas Indonesia ndak maju-maju!

“Kamu kalau bodoh mbok, ya jangan kebangetan! Iki wis arep 2017, kok ya isih percaya karo dukun?! Aja mung gara-gara Juminten kowe dadi budak cinta, bisa marai lara pikir. 10 Nanti kalau kamu gila betulan, siapa susah? Aku lagi!”

Tapi apa daya, yang namanya Paijo, kalau sudah kepincut anak gadis apa pun kemauan hatinya harus dituruti, sekalipun dirinya harus menghalalkan cara-cara tak logis seperti mengandalkan jampi-jampi dari dukun. Ah, Kawan, mohon bantuan doanya agar aku bisa segera menyadarkan Paijo tanpa perlu menampar wajahnya, ya!

.

.

.

-fin.


Glosarium           :

  1. Kepincut.
  2. Sambilan, melakukan dua atau lebih pekerjaan/aktivitas sekaligus.
  3. Main.
  4. “Ayo, Jon, temani aku ngapelin Juminten!”
  5. Digulung dengan sembarangan/tidak rapi.
  6. “Heh, orang gila, kamu lagi apa seperti itu?”
  7. “Lagi berdoa.”
  8. “Doa sama siapa? Kamu sudah jadi orang musrik, ya?”
  9. Ooo… Memang gila betulan Paijo ini!
  10. …Ini sudah hampir tahun 2017, kok ya masih percaya dengan dukun?! Jangan hanya karena Juminten kamu jadi budak cinta, bisa bikin gila.”
Advertisements

One thought on “Kisah Kasih Paijo

  1. hai ranita kompor kesayanganku❤❤❤❤
    hm, ran aku mau to the point aja kalo ceritamu apik nian huhu aku gak strong tau tidak //nirfaedah nian chak
    aku suka aja gaya bahasamu itu loh ran, ringan, nggak bingungin, enak aja dibaca terus e tau tau udah ending kaya aku sama renjun ((edunh))
    suer aku orangnya gak jago komen yang berfaedah, taunya komen nyampah yang tidak guna jadi sebelum kamu sebel sama eksistensiku ini, aku pamit dolo ya hehehe
    semangat selalu ran😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s