Mila and Jules

by S. Sher

(mini event: truk pantura)

Rupanya kayak ratu, hatinya kayak as*

Picture © Edgar Berg || Parental guidance and trigger warning!

“Mila, wait.” Kalimat pertama yang kuucapkan ketika Mila membuka pintu apartemenku dan seorang wanita, yang baru saja mengecup pipiku sementara tangannya mengelus rambut pirang pendekku, melangkah keluar. Perlu kutekankan, aku tidak berniat membuat gadis itu lebih lama jadi pacarku sejatinya.

“Oh, don’t be sorry.” Mila berjalan masuk, matanya nyalang. “I only want you for your money.”

Then, I only want you for sex.” Muak, lelah, marah atas segala sikap manisku pada gadis gila ini. “Think of it as a payment.”

Mila menamparku, kemudian reflekku adalah melempar tatap benci serta mencium bibirnya—menggigitnya.

One last time. I’ll give you a very big amount of money.”

Aku mengunci pintu dibalik tubuh gadis itu, memojokkan Mila pada kayunya, dan merobek paksa gaun pendek yang tengah ia kenakan. Ada air mata yang mengalir ketika bibirku bertemu dengan miliknya. Mila berusaha melepaskan diri, namun kedua tangannya segera aku genggam erat menggunakan tangan kiriku, dan setelahnya ia hanya bisa memohon.

“Mean Girls”, sebuah film yang tentunya sangat terinspirasi dari orang-orang pada kehidupan nyata. Kita punya gadis-gadis cantik yang tidak punya hati, lantas ada para pengikutnya yang sama-sama jahat atau terkadang kelewat bodoh—walau aku tidak yakin ada yang seabstrak Karen Smith. Masalahnya, adalah ketika di kampus kalian memiliki dua Regina George dan mereka berteman dekat, bukannya bermusuhan untuk memperebutkan gelar gadis terpopuler, menakjubkan—juga mengerikan.

Mila, dengan tubuh seksinya yang melenggok elegan bersama barang mahal di seluruh tubuh membuat banyak lelaki populer—mengakui atau tidak sikap setannya—masih mau berpcaran dengannya. Lantas ada temannya bernama Jules, membiarkan helai rambut brunette-nya tergerai indah pula membiarkan banyak bagian tubuhnya terekspos, sampai-sampai para gadis yang membencinya pun tetap ingin menjadinya. Mereka, memikat pun menarik; di saat bersamaan juga keji.

Gadis berambut keemasan bernama Mila memiliki  kenikmatan duniawi semenjak ia hidup di bumi, uang; wajah cantik; juga popularitas, kemudian kebiasaan untuk menindas orang-orang di sekitarnya dimulai kala ia beranjak remaja. Ketika seseorang yang tidak dikenalnya mengobrak-abrik lokernya, ia mendorong gadis tersebut hingga terjatuh di lorong ramai, menyiramnya dengan kopi di tangan, dan tidak kurang temannya memvideokan semua itu. Setelah itu dirinya menjadi lebih dikenal; ada rasa senang yang unik menjalarinya ketika ia tahu orang-orang bersikap manis di hadapannya, namun mereke menyembunyikan takut—toh, orang tuanya tidak tahu lantaran terlalu sibuk.

Jules di sisi lain, memiliki lebih, namun ia tidak menikmati semua itu karena rumahnya kaku pun dingin, orang tua yang suka bertengkar dan tidak begitu memedulikannya. Ia hanya menjadi bayang-bayang di setengah kehidupannya. Kemudian ketika bertemu dengan Mila yang mau menyapanya terlebih dahulu, menjadikannya pusat atensi banyak orang—ketika sebelumnya ia tidak punya—memiliki kenyamanan dan sebuah rasa pengakuan ketika menghina seseorang. Pada suatu sisi ia bahkan lebih kejam daripada Mila, menenggelamkan seseorang ke danau, menyebarkan video tentang seorang dosen muda pula murid, bahkan sampai membakar rambut seseorang—hebatnya, ia sebegitu pintar untuk mengalkulasi jebakannya dan tidak melakukannya secara langsung.

Dan lucunya, sebenci apa pun aku terhadap mereka, hubungan kami bukan sekadar tahu, namun lebih dari teman.

Sebagaimana banyak pertemanan pada masa kuliah, hal tersebut jarang bertahan hingga belasan tahun, apalagi pertamanan seperti Mila dan Jules yang selalu dibumbui drama. Jules lulus lebih cepat daripada Mila—salah satu hal yang membuat gadis berambut brunette itu unggul dari Mila adalah otaknya—namun setelah itu keberadaannya menjadi rahasia dunia. Mila sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi, atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli karena ia harus mencari teman baru untuk diajak berpesta.

Banyak orang bilang, Jules memasuki psychiatric floor pada sebuah rumah sakit, sebagian menyugestikan bahwa ia hanya melarikan diri ke negeri lain dan menghambur-hamburkan duit orang tuanya. Kebenarannya? Yang pertama.

Pada suatu malam di penghujung kelulusan Jules, ia bertengkar hebat dengan Mila. Hal tersebut dimulai karena Mila mengetahui bahwa “sahabatnya” yang memberi tahu tentang masalah yang ia dibuat lantaran berpacaran, mengisengi beberapa junior di kampus, dan nilai-nilainya yang mulai memburuk; hingga ayah Mila mencabut akses kartu kredit anaknya pula melarangnya pergi ke pesta selama beberapa saat. Gadis dengan rambut keemasan tersebut memaki pun menertawai Jules, berkata bahwa tentu ia tidak pernah peduli seutuhnya pada temannya; mana ia tahu siapa saja keluarga Jules, apa makanan kesukaannya, di mana tempatnya lahir. Pertemanan mereka hanya sekadar permainan, dan Jules tidak berada dalam daftar sesuatu yang menopang hidup Mila.

“People will not fucking looking at you if at the first day you came I didn’t tell you how to act and what make-up is this and that. You have the money and the brain, but you are fucking tacky and ridiculous. You’re nothing without me.” Cacian Mila tentu tidak berhenti sampai di sana.

Semenjak itu, Jules memiliki tendensi untuk menyakiti diri sendiri, berpikir bahwa seberapa besar dia berubah, tidak ada yang pernah ingin menerima ia seutuhnya. Kemudian, pada suatu malam tubuhnya ditemukan di tengah sungai yang sangat dingin—berniat bunuh diri—dan saat itulah hidupnya di mulai di psychiatric floor.

Pada tahun terakhir kuliahnya Mila bertemu denganku pada liburan musim panas. Gerakannya, senyumnya, suaranya sangat memikat; ia menyenangkan untuk diajak mengobrol dan sangat pintar untuk membuat lelaki yang lulus memuaskan pun sudah hidup mapan sepertiku jatuh. Hanya butuh satu obrolan singkat agar aku meneleponnya, dan seminggu memandang gerak-geriknya sampai aku mau membawa seorang gadis yang lebih muda lima tahun dariku ke dalam kamar hotel. Semua berawal dari sana, tentang aku yang mulai mengetahui ceritanya bersama Jules, tentang aku yang menjadi bajingan.

Tiga bulan menjalani hidup bersama gadis yang tidak pantas hidup nyaman ini; memberikannya barang-barang mahal yang bisa memberi makan puluhan orang, terkadang ikut ke pesta di kampusnya dan tentunya menjadi trophy yang bisa ia pamerkan. Lantas semua berakhir hanya dalam satu malam.

Subuh itu aku tidak menemukan Mila di atas kasurku, agaknya ia sudah pergi saat tengah malam. Aku berjalan sembari mengumpulkan pakaianku yang berserakan di lantai, namun memilih untuk memakai bathrobe dan menuju dapur untuk mencari sisa-sisa cognac. Mungkin nanti siang aku akan mengunggah beberapa video kekejamannya dan mengirimkan uang beserta beberapa pakaian mahal untuk Mila, sebagai pemanis dari penghinaan terakhirku.

Ketika mereka melihat Mila, mungkin mereka akan berkata karma. Bukan. Ini balas dendam terencana karena beberapa orang harus sadar bahwa mereka tidak pantas mendapat bahagia.

Bahkan mungkin termasuk Jules, adikku yang sampai sekarang sudah melakukan sembilan belas kali usaha bunuh diri—terima kasih kepada Mila. Atau juga aku, yang baru saja menghancurkan harga diri seorang wanita hingga berkeping-keping; yang melarikan diri sekaligus memutus hubungan dari rumah berisi orang tua yang suka bertengkar dan seorang adik yang tidak mau diberi tahu, dan baru kembali ketika mereka berkata Jules menyebut namaku di antara selang-selang oksigen; yang sudah tidak ingat seberapa banyak dosa kubuat hingga setiap minggu meminta maaf pada Tuhan.

Sekali lagi, aku menenggak cognac.

End.

  1. Semoga gak kaku.
  2. Tau kenapa dikasih bintang ya di atas hehe.
  3. Dibuat sembari mengingat Mean Girls, It’s Kind of Funny Story, slide presentasi soal bullying, dan karena quote “Everyone deserve happiness.” berseliweran di tahun baru terus malah bikin sebel hahaha.
  4. Nama cowoknya Silas, gak sempet kesebut padahal milih namanya lama banget LOL. Ceritanya dia kayaknya cukup interesting buat di-explore hmmm.
  5. Ini berat ke Mila atau ke Jules ya?
Advertisements

8 thoughts on “Mila and Jules

  1. yasss tulisannya sher banget! visualisasi tokoh-tokohnya juga dapet banget di akuuu ❤ aku ngerasa ada beberapa part yang kurang smooth but it's okay, ga mengganggu kok. ada typo juga btw :p lagi wb kah sher? but sekali lagi it's okay, not a big problem. semangat teruuus sher, selamat tahun baru dan tetep nulis yaaa ❤ ❤

    ps: itu yang disensor huruf apa yah sher? aku polos nih ga ngerti kata-kata jorok :)))

    Like

    1. Hi kak 🙂

      Iya lagi wb pas nulis ini, lebih tepatnya sekarang mood nulis itu up and down banget hehe. Thank you kak, maaf banget lama balesnya.

      Huruf… U 😉 HAHAHA.

      Like

  2. Aku setuju sama Nad, soal typo tapi ini ga kaku kok, Sher. Kayaknya yang ini masih berat ke Mila ya dari segi eksplorasi karakternya.

    So, apakah kita akan baca lebih banyak tentang Silas dan Jules?

    Like

  3. Such an interesting story. Menurutku masih lebih explore mila ya ini, tapi masih cocok kok dikasi judul mila n’ jules. Sher gak pernah mengecewakan emang hehe

    Like

  4. Need sequel TT jujur aku rada gapaham dan butuh pencerahan di sini /maklum kapasitas otak/ Tapi bahasanya fic ini itu menarik dan aku jadi tertarik nonton mean girls.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s