Bumerang

is-he-flirting-with-me

by son nocta

for Mini Event : Truk Pantura

“Jaga jarak, aku punya orang.”

 “Permisi, Mbak. Yakin nih tempatnya di sini?”

Sebuah pertemuan formal yang ia harapkan dapat berlangsung di ruang penjamuan teh justru berakhir di sebuah rumah makan padang di pinggir jalan. Memang itu bukanlah tempat yang buruk—jika hendak membuat suatu perubahan—untuk melaksanakan pertemuan relasi, tapi Fadil yakin ia sedang dikelabui.

Fadil mengurut pelipis, ia tidak bisa kehilangan akal sehatnya lebih dari ini.

“Memang mau di mana lagi?” ketus seorang gadis dengan segelas es jeruk nipis di hadapannya.

Sejemang Fadil menganga dan detik berikutnya ia meringis. “O-oh, baiklah …. Di samping Mbak kosong?”

Dean masih enggan melirik pria itu, “jauh-jauh aja sana.”

Dean adalah wanita yang kurang peduli terhadap orang di sekitarnya. Fadil mulai menyadari hal tersebut saat ia diterima di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Wanita itu adalah seorang HRD yang sempat bertugas sewaktu Fadil melakukan wawancara kerja. Fadil bisa mengingatnya dengan baik lantaran Dean—secara sepihak—memutuskan menerima ia sebagai karyawan sedang staf lain sibuk berargumentasi.

Fadil sangat bersyukur karena  apa yang Dean lakukan telah menciptakan akhir dari jatuh bangun perekonomiannya. Tapi ia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk mengucapkan terima kasih—perlu tambahan waktu untuk membuat Dean mengingat siapa itu Fadil. Karena batas ingatan manusia antara satu dengan lainnya adalah pengaruh mereka dalam menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Lantas dari ratusan karyawan di perusahaan, seberapa berpengaruhnya seorang Fadil bagi kehidupan Dean?

“Siapa namamu?” tanya Dean.

“Mau sensus ya, Mbak?” Fadil hanya berusaha mencairkan suasana. Kalaupun itu gagal, ia masih bisa memikirkan dagelan yang lain.

Tapi ia berhasil membuat Dean mendecih, menganggap lelucon yang tadi itu garing.

“Muhammad Fadilah Ramadhani, lahir di Medan, umur 24 tahun, sebentar …,“ Fadil diam-diam merogoh kartu tanda penduduknya, “… status lajang.”

Lagi-lagi Dean mengeluarkan suara menjengkelkan, “kau pikir sedang mendaftar di biro jodoh?”

Keduanya saling bertukar pertanyaan serta pendapat, lalu berakhir pada gelak tawa atau sesekali meringis, dan itu berlangsung selama berpuluh-puluh menit lamanya.

Yang satu agak kikuk, yang satu lagi terlalu jutek dan realistis. Jika apa yang dibicarakan Fadil memang layak untuk ditertawakan, maka Dean benar-benar akan tertawa. Tapi jika itu terkesan dibuat-buat, berpikirlah seribu kali kalau ingin melihat wajah masam Dean.

“Kamu ini terlalu penurut, Dil.” Dean kembali mengaduk air minumnya dengan sedotan.

“Mau saja diminta Dimas untuk datang menjadi badut. Sekarang apa lagi alasan yang ia gunakan?”

Sekarang Fadil sadar topik yang mereka bicarakan mulai menjauh dari apa yang ia harapkan.

“Pertemuan relasi untuk membicarakan investasi pembangunan pabrik baru di Kalimantan.”

Dean jelas terbahak, tapi tidak dengan lelaki di hadapannya.

“Mbak Dean ada hubungan apa sama Pak Dimas?”

Wanita itu tidak menjawab melainkan memutar-mutar cincin perak di jari manisnya. “Tidak banyak yang tahu, karena kami berniat merahasiakannya sampai undangan disebarkan.”

Sempat terbersit di pemikiran Fadil untuk memulai pendekatan dengan Dean jauh sebelum ia tahu bahwa pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan. Bahkan setelah mengetahui siapa yang bertindak lebih unggul dalam menarik hati wanita itu, nyali Fadil semakin ciut. Apalah dia yang hanya seorang OB dan terkadang menjadi asisten pengganti saat sekretaris direktur sedang cuti.

“Kalau boleh jujur aku tadi naksir lho sama Mbak, walau cuma sebentar.”

Karena Fadil ingin Dean ingat pernah mengenal dirinya, meskipun sebagai pria yang naksir wanita dalam kurun waktu 30 menit.

“Karyawan Dimas yang terdahulu juga pernah bilang begitu padaku. Dan besoknya mereka langsung di-drop out dari kantor.”

Meskipun berakhir jadi bumerang baginya.

Fin.

Advertisements

2 thoughts on “Bumerang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s