Impossible Love Expert

by ZulfArts

featured image © James Douglas

(mini event: truk pantura)

“Cinta ditolak, dukun terbahak.”

Orang tuaku bilang, jangan pernah percaya pada tahayul.

Aku pun tak berniat mencari tahu tentang hal-hal mistis lebih lanjut. Tapi belakangan ini, manusia dalam realita nyatanya mengerikan. Aku bahkan dapat merasakan hawa menyeramkan setiap kali bertemu mereka. Terutama mereka yang bertindak sebagai paranormal yang pernah kupercaya untuk menyelesaikan masalah.

Aku tak berniat membuat kalian semua bingung dengan permulaan tentang tahayul, aku lebih memilih membereskan seisi rumah seorang diri daripada menghabiskan waktu bercerita tentang hal mistis. Tidak, tidak. Aku tidak akan menceritakan hal yang menyeramkan seperti hantu atau iblis, melainkan mereka yang sepertinya dirasuki sampai-sampai berubah jadi orang menyebalkan.

Jadi begini, beberapa minggu ini aku selalu mendapati diriku sendiri memerhatikan seorang pemuda. Dia sering memakai jaket berwarna abu-abu atau biru tua. Perawakannya jangkung dan telinganya sering disumbat dengan headset. Setiap berjalan, aku selalu mendapati dia tengah berkutat dengan ponselnya. Entah untuk bermain Pokémon Go!, atau urusan lain yang tak ku ketahui.

Terkadang aku bertanya-tanya, apakah aku melakukan kesalahan besar pada hidup sebelumnya? Kenapa harus Theo?

Walaupun ia memiliki hobi yang menarik seperti senang bermain gitar dan sesuatu tentang motor, otomotif, sejenis itu, yang benar-benar tak ku pahami, namun ia senang sekali melekatkan pelanggaran pada tubuhnya. Aku dapat mengabsen satu per satu, kalau kalian ingin tahu. Rambut ikalnya sering kedapatan melebihi batas normal, celananya ia modif jadi ketat—yang membuatku iri karena kakinya benar-benar ramping-, kaus kakinya yang berwarna-warni, dan oh, jangan lupakan kalau setiap hari ia selalu datang terlambat ke sekolah.

Tidak, tidak. Bukan berarti aku berteman dengannya dan tahu banyak tentang dia. Aku hanya mengamati. Ya, mengamati. Bukan berarti aku seorang stalker handal juga, sih. Tapi mari sebut saja aku begitu jika itu membuat kalian senang. Hubunganku dengan Theo tidak lebih dari sekadar mengetahui eksistensi masing-masing. Bukan tipikal yang akan sering berbincang apalagi pulang bersama walaupun rumah kami terletak pada arah yang sama.

Semua ini sebenarnya hanya tentang waktu yang perlahan akan mengikatkan benang merah pada kelingking kami. Sebut saja aku optimis, karena aku benar-benar berharap pemuda itu mendapati jantungnya berdetak dengan tempo kacau juga ketika melihatku. Berlebihan, memang—dan terdengar memaksa. Tapi biarlah, biar kalian tahu bagaimana aku menyukai Theo saat ini.

Bisa dibilang aku optimis dan percaya diri, tapi ketika aku ingin menyapa pemuda itu, nyaliku ciut seketika. Telingaku rasanya dipenuhi suara detak jantung yang membuatku kehilangan fokus. Mulutku juga tampak tak ingin melakukan hal itu.

Dan apa yang akan dilakukan ahli kimia ketika sebuah reaksi memerlukan terlalu banyak waktu dan bahan yang akan menghamburkan semuanya? Yup, katalis.

Aku memercayai Aya sebagai katalisatorku. Sebenarnya aku menambahkan sedikit paksaan juga, sih. Dia terus mengoceh jika ia belum tentu berhasil menjadi seorang katalisator ketika dia bahkan hanya menjalani kencan selama dua kali selama hidupnya. Ugh, aku benar-benar geram ketika dia bicara begitu. ‘Hanya’, katanya?! Tolong garis bawahi kata ‘hanya’ karena itu benar-benar menjengkelkan. Kenapa dia harus berkata begitu ketika aku bahkan tak pernah berkencan dengan siapa pun? Pada tingkatnya, mungkin Aya sudah menjadi seorang love expert dari sudut pandangku.

Alasan itulah yang membuat Aya mengangguk pasrah untuk membantuku. Aku cukup pintar juga ‘kan tentang meminta tolong? Lagipula, aku benar-benar membutuhkan Aya saat ini. Setidaknya dia tidak kaku ketika berhadapan dengan orang lain. Dan lagi, dia tak akan gugup ketika harus berbincang dengan Theo, terlebih karena tak ada perasaan apa pun darinya untuk pemuda itu.

Berkat gadis itu, aku mendapatkan beberapa informasi tentang warna kesukaan Theo, minuman yang sering dibelinya di kantin, juga kenyataan bahwa ia mempunyai dua adik. Mulut Aya sudah pegal mengulang perkataan yang sama atas permintaanku, tapi telingaku tak kenal lelah jika itu semua tentang Theo.

Jika diumpamakan, Aya bukan hanya sebagai katalisator dalam kisah ini. Ia juga berperan sebagai … kalian tahu? Dukun?

Aku berbicara begitu karena Aya seperti dapat melihat segala sesuatu yang tak dapat kulihat tentang Theo. Aku juga membayarnya dengan segelas lemon squash setiap ia bercerita. Benar-benar terlihat seperti transaksi antara dukun dan pelanggannya yang putus asa, ‘kan? Atau tidak juga, karena aku tetap optimis tentang Theo sampai saat ini.

Aya bilang, ia akan memulai aksinya untuk menanyakan tentang aku kepada Theo. Serius, mendengarnya saja sudah membuatku tak bisa tidur semalaman. Aku tak sabar untuk saat istirahat esok hari, karena aku akan mendengar berita besar dari Aya. Seseorang, tolong hentikan detak jantung abnormal ini! Aku benar-benar tak bisa fokus!

“Jadi, kau bertanya bagaimana pendapatnya tentangku?”

“Tentu.”

“Dan …?” Aya tersenyum!

“Dia bilang, kau cukup hebat karena otakmu dan segala keingin tahuanmu akan sesuatu. Dia bahkan menyebutmu keturunan Albert Einstein karena menurutnya kau cukup jenius untuk ukuran anak SMA.”

“Dia benar-benar bilang begitu?! Theo berbicara seperti itu?!” Aku tak bisa menahan untuk tidak membesarkan pupil mata dan mengangkat pipiku.

“Tapi,”

“Ada tapinya?”

“Tentu.” Entah mengapa peasaanku sedikit kurang enak ketika Aya menginterupsi kebahagiaanku.

“Ketika aku bertanya apakah kau tipenya, dengan segala rasa bersalah dalam diriku, dia menggelengkan kepalanya.”

Aku tercengang, “kenapa?! Bukankah aku terlihat keren di matanya?”

“Aku merasa bersalah karena aku akan tertawa sekeras mungkin setelah ini. Tapi dia bilang ‘mungkin dia akan telihat lebih menarik ketika sudah menjalani operasi plastik.’ Pffft ….”

Mungkin aku benar-benar harus menuruti orang tuaku untuk tidak mempercayai seorang dukun dan melakukan usaha sendiri sebelum mendapati dukun itu terbahak di depan wajahmu sendiri.

Fin.

Advertisements

One thought on “Impossible Love Expert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s