So(u)lo

by Primrose Deen

Tak hanya aku, tapi juga dia.

Melewatkan malam tahun baru di Solo nampaknya bukanlah keputusan yang cukup buruk. Kendati hanya semalam, rindu yang bersarang di celah-celah tak kasat mata di dalam hati setidaknya dapat sedikit surut. Sebenarnya sudah cukup lama, sih, aku menyimpan rencana untuk bertandang ke kota yang telah menjelma menjadi sahabatku ini. Ah, tapi pekerjaan memang selalu menjadi penghalang sialan nomor satu.

Solo sudah cukup banyak berubah. Banyak gedung-gedung tinggi bermunculan di jantung kota ini. Bahkan di dekat kampusku sekarang sedang ada proses pembangunan gedung tinggi yang entah akan dijadikan apa. Perbaikan infrastruktur telah dilakukan di mana-mana. Akses transportasi umum sudah semakin mudah. Solo yang dulu masih memiliki cita rasa tradisional cukup kental kini telah disentuh modernisasi.

Solo telah menjadi saksi bisu perjalanan empat tahun mengecap pahit dan manisnya pendidikan demi menjadi apa yang kujalani saat ini. Tak hanya perjalanan demi sebuah gelar di belakang nama, namun perjuangan untuk menuju rumah gadis itu dan menjadikannya pendaming di pelaminan.

Hmm, gadis itu selalu berhasil membawaku menyusuri lorong waktu demi bernostalgia, tak peduli waktu dan tempat.

Kala itu, kami sama-sama masih menyandang status mahasiswa, namun berbeda jurusan. Dia satu angkatan di bawahku. Kami bersua kali pertama saat kami sama-sama menjadi dewan mahasiswa universitas. Pertemuan yang frekuentif disertai keterlibatan satu sama lain dalam menjalankan program kerja mampu memangkas distansi di antara kami, entah bagaimana.

Dia yang bercita-cita menjadi seorang dokter spesialis bedah menjalani jatuh bangunnya di jurusan pendidikan dokter. Aku masih ingat, bagaimana ia bercerita panjang lebar pada seisi sekretariat Dewan Mahasiswa perihal betapa sulitnya mata kuliah traumatologi dan takutnya ia menghadapi OSCE (Objective Structural Clinical Examination) setiap akhir semester serta ujian blok setiap tengah dan akhir semester.

Namanya Asa. Bukan asa yang berarti harapan, melainkan jiwa—diambil dari Bahasa Sanskerta. Ia lahir dan tinggal di Solo sampai sekarang, tepatnya di Kampung Batik Laweyan. Jadi tak heran jika logat Jawanya begitu kental di tiap-tiap silabel perkataannya kendati ia sedang berbicara Bahasa Indonesia. Jika aku diminta untuk mendeskripsikan Asa, dia memang seperti jiwa Solo; lemah, lembut, ramah, cerdas, dan selalu memiliki tempat tersendiri di hati. Pokoknya tipe istri idaman. Senyumnya yang manis berpadu dengan lesung pipinya yang sedalam sumur membuat wajahnya sesejuk ubin masjid setiap kali dipandang. Masakannya pun enak. Apa lagi garang asem buatannya yang luar biasa nendang. Coba bayangkan, melihat Asa menyajikan makanan sepulang dari bekerja bersama dengan senyum ikhlas penuh dedikasi itu, siapa yang tidak kepincut?

Asa bertubuh kecil. Tingginya hanya sebatas daguku. Penampilan favoritnya—dan yang paling sering ia kenakan—adalah rok bruklat selutut yang ia padukan dengan turtleneck atau blus warna pastel, tergantung musimnya. Sepatu yang ia gunakan tergantung mood-nya saja. Terkadang sneaker wedges atau sneaker biasa, terkadang ia juga mengenakan flat shoes. Menurutku, Asa paling cantik setiap kali ia mengumpulkan semua helai remanya menjadi satu ikat yang agak tinggi di belakang kepala. Auranya memancarkan sosok gadis cerdas, ceria, dan hangat secara bersamaan.

Asa merupakan keturunan Tionghoa-Jawa. Ayahnya adalah seorang keturunan Tionghoa, sedangkan ibunya adalah orang Jawa asli. Asa masih memiliki kakek dan nenek yang setiap tahun tak pernah absen merayakan Tahun Baru Imlek di rumah sembari menjamu kue bulan untuk para tamu. Aku pernah bersua dengan kakek dan neneknya yang memiliki toko elektronik di daerah Pasar Gede—pusatnya para keturunan Tionghoa menjamur di Solo. Mereka berdua memiliki sepasang mata yang sipit yang kemudian menurun sampai kepada Asa, sehingga tak ayal bahwa kedua mata Asa selalu berubah menjadi segaris kala ia tersenyum lebar atau tertawa—dan itu cantik.

Pagi itu, Asa mengajakku untuk sarapan bersama di tempat yang menjual nasi liwet kesukaannya—yang katanya juga menjadi jawara di Kota Solo ini. Sebuah rumah makan lesehan sederhana namun kaya akan pembeli yang terletak di daerah Keprabon pun menyambut kami. Jejeran abjad berukuran besar yang tercetak di spanduk melafalkan nama rumah makan ini; “Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Asli”. Dilihat dari namanya, nampaknya warung ini memiliki versi KW-nya. Entahlah, aku hanya asal-asalan menebak saja.

“Mas, kalau pengen makan sesuatu, atau rindu masakan rumah, bilang Asa aja, ya. Nanti Asa coba masakin, walaupun harus googling dulu,” celetuknya ketika kami sedang menunggu nasi liwet pesanan kami disajikan untuk sarapan.

Aku yang sedang menyeruput teh tawar panas nyaris saja tersedak mendengar perkataannya barusan. Tentu saja seketika aku geer. Perutku bergejolak. Mungkin tak hanya berisi sekawanan kupu-kupu, melainkan sekawanan burung merpati.

“Iya, Sa. Makasih, lho. Repot-repot segala.”

Entah aku yang terlalu percaya diri atau bagaimana, tapi menurutku dia tampak tersipu-sipu. Senyum seakan-akan menyembul di sudut-sudut bibirnya. Kedua pipi yang bersemu bagai buah kesemek yang hampir ranum membuatnya tambah kelihatan lucu.

Kendati orang Solo asli, Asa tak memiliki rasa jemu untuk menikmati angin malam sembari menyantap bertusuk-tusuk bakso bakar pedas di atas tikar yang digelar oleh si penjual yang banyak menjamur di Alun-alun Selatan Keraton Solo. Ditemani dengan segelas teh hangat—padahal kami selalu minta teh panas—dan semangkuk wedang ronde, kami bertukar cerita perihal kesibukan masing-masing. Sejujurnya, aku kurang menyukai keramaian. Namun, demi Asa yang tak bisa lepas dari keramaian, aku pun menyisihkan rasa tak nyaman itu barang sebentar.

Tak hanya nongkrong di Alun-alun Selatan Keraton Solo, aku pun menjadi orang yang setiap tahun rutin diajak oleh Asa mendatangi pasar malam dalam rangka Sekaten[1] yang digelar di Alun-Alun Utara. Wahana favoritnya adalah ombak banyu—benar-benar berbanding terbalik dengan sifatnya yang kalem. Sebelum pulang, ia biasanya mengajak untuk mampir melihat-lihat perkakas rumah tangga yang dijual sangat murah; tiga item dihargai sepuluh ribu rupiah saja.

“Nggak beli harum manis kaya cewek-cewek lain? Terus dimakan sambil difoto, lanjut upload di Instagram?”

“Nggak lah, Mas. Lagi pula lebih enakan martabak telur,” jawabnya sambil pringas-pringis. “Ngapain juga difoto, nanti malah ditanyain aku pergi sama siapa.”

“Kenapa nggak bilang aja? Malu, ya, pergi sama aku?”

“Malu lah. Wong Mas bukan siapa-siapaku kok pergi berdua. Nggak enak aja.”

Lha maunya aku jadi siapamu, Sa?”

Lambat laun, Asa semakin sibuk. Ia cukup hoki lantaran mendapatkan bagian untuk menjalani praktik sebagai co-assistant di Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari kampus. Asa bekerja sangat keras demi kedua orangtuanya yang tinggal memiliki dirinya seorang. Semua harapan kini dibebankan di kedua pundaknya yang kecil. Tak heran, memang, lantaran kehilangan adiknya beberapa tahun yang lalu nyatanya melahirkan bekas luka dan trauma yang mendalam pada kedua orangtuanya.

Setelah lulus, aku memutuskan untuk melanjutkan S2. Aku ingin menimba ilmu sebanyak mungkin agar aku mampu mendapatkan pekerjaan yang baik kelak. Aku ingin menjadi orang yang pantas dipercaya oleh kedua orang tua Asa untuk menggantikan mereka menjaganya.

Setidaknya, itu adalah impian sederhanaku.

Aku dan Asa memang gandrung wisata kuliner di Solo. Salah satu kuliner jawara di Solo yang sering kami datangi adalah gudeg cakar Bu Kasno di daerah Margoyudan yang populer seantero Solo. Saking populernya, kami harus ikhlas mengantre sekitar tiga puluh menit. Warung gudeg cakar ini memang beroperasi di jam yang kurang lazim untuk orang menyantap makanan berat, yaitu sekitar pukul satu hingga dua pagi. Kendati demikian, tetap banyak pembeli yang berdesakan demi memuaskan perut mereka.

“Mas, Babah sama Mamak kepengin aku nikah setelah selesai co-assistant,” ujar Asa tiba-tiba, sesaat setelah pesanan gudeg cakar kami datang.

Harus kuakui, aku kurang menyukai kebiasaan Asa yang suka berbicara serius di saat sebelum makan seperti ini. Pembicaraannya mudah sekali melesapkan nafsu makanku.

Sekuat tenaga, aku berusaha untuk mendatarkan ekspresi wajahku. “Kenapa kok tiba-tiba gitu?”

“Katanya mereka kepengin ada yang njagain aku lebih dari mereka. Babah sama Mamak sudah tua. Makanya khawatir terus.”

“Lalu? Kamu jawab apa?”

Asa menyeruput susu jahe hangatnya, lantas melanjutkan, “Ya aku minta waktu buat mikir. Makanya sekarang aku bilang ke kamu, Mas.”

Begitu kentara bahwa Asa sedang memintaku untuk menikahinya. Segera.

“Nggak bisa nunggu dulu sekitar dua tahun lagi setelah aku lulus S2? Aku belum punya pekerjaan tetap, Sa.”

“Nggak apa-apa, Mas. Kata Babah, nanti kerjaan bisa dicari sambil jalan,” jawabnya penuh keyakinan, dengan dwimaniknya yang mematri pandanganku.

  Kebanyakan warga Solo atau para pesinggahnya lebih memilih untuk menyerap atmosfer pergantian tahun dengan menjadi bagian dari tumpah ruahnya keramaian di Jalan Slamet Riyadi. Nyaris sepanjang jalan dipadati berbagai kalangan usia baik hanya sebagai pengunjung maupun para penjaja penghilang lapar dan dahaga. Layar-layar tancap menampilkan film untuk ditonton sembari menunggu momentum pergantian tahun.

Tepat pukul 12 tengah malam, kembang api berwarna-warni meluncur dan menari di langit Solo. Ah, Asa paling suka menonton kembang api. Masih tergambar jelas di ingatanku bagaimana bias warna-warni kembang api di langit itu memantul di wajah Asa yang sedang antusias menatapnya. Sungguh, itu adalah salah satu pemandangan terindah. Aku bersyukur, setidaknya aku pernah melihatnya, kendati hanya dua kali saja.

Sekitar pukul dua dini hari, aku memutuskan untuk melajukan motorku ke daerah Margoyudan. Aku menghentikan motorku di warung udeg cakar Bu Kasno yang sedari dulu selalu menjadi salah satu destinasi kuliner favoritku—dan dia. Perutku tiba-tiba melolong minta diisi dan dadaku yang dipenuhi kerinduan menuntut untuk disembuhkan.

Ketika pesananku tiba—setelah sekian lama menunggu lantaran membludaknya pembeli—sebuah suara yang sudah tak asing menyapa runguku. Anehnya, suara itu seakan-akan mampu menembus ruang-ruang di jantung dan menimbulkan nyeri serta desiran lembut di aliran darahku secara bersamaan.

“Mas Atma?”

Aku menatap kedua mata sipit yang tak lain adalah si empunya suara barusan. Kedua mata itu membentuk sebuah garis seiring kurva di bibirnya melengkung, lantas menampilkan gigi-giginya.

“Astaga, Sa. Kamu di sini juga?”

“Iya, Mas. Tadi dari jauh kaya kenal sama posturnya. Eh, ternyata beneran Mas Atma. Apa kabar?”

“Baik, kok. Kamu lagi tahun baruan, ya? Sendirian?”

Tepat setelah kedua bibirku meluncurkan pertanyaan tersebut, sesosok figur bertubuh tinggi muncul di belakang Asa. Ia mengurai senyum hangat yang sarat akan keramahtamahan. Tangan besarnya terulur menawarkan persahabatan padaku.

“Halo, aku Raga. Suaminya Asa.”

Sunyi menjeda. Menyisakan kecanggungan yang sarat akan alasan atas kesunyian yang tiba-tiba melanda itu.

“Anu, ini dokter senior waktu aku jadi co-assistant dulu, Mas.”

Asa; gadis sederhana yang begitu mencintai kota kelahirannya. Gadis yang menjadikan makanan manis seperti serabi notosuman dan martabak kota barat sebagai camilan favoritnya. Gadis yang kala suntuk dengan tugas-tugasnya akan pergi ke beberapa tempat favoritnya yaitu night market Ngarsopuro, Pasar Triwindu, Pasar Klewer, atau sesekali ke Taman Balekambang untuk melihat rusa yang berkeliaran di atas rerumputan hijau. Gadis yang gandrung berpergian dengan menggunakan Batik Solo Trans. Gadis yang hobi menonton film Ada Apa dengan Cinta berulang-ulang tanpa jenuh.

Asa; gadis itu tak hanya meniupkan jiwa pada Kota Solo yang ada di rekaman memoriku, namun juga nyeri yang belum ada penawarnya itu. Kendati suatu hari nanti aku akan mendapatkan penawar sakitnya, Asa akan selalu meninggalkan bekas luka tak kasat mata sebagai pertanda bahwa perasaan yang sama itu pernah ada pada suatu masa. Tak hanya aku, tapi juga dia.

Omong-omong, dia masih saja sama seperti dulu, ya. Suka menjadi alasan hilangnya nafsu makanku yang padahal sedari tadi menggebu-gebu.

end.

[1] Acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Solo dan Yogyakarta

Pic © Raditya Maulana

Notes:

  1. Semoga suka. Dah, gitu aja.
Advertisements

5 thoughts on “So(u)lo

  1. halo kak primrose (?) 😀 aku nadya 97l hehe. seneng banget baca ini, rasanya kayak diajak keliling solo. kakak nyeritainnya sabar banget. endingnya sedih ya btw 😦

    salam kenal kakk and have a nice day 🙂

    Like

  2. kak ariiiiiiiii haluuuu 🙂

    huhu ini bittersweet sekali, tapi condong ke bitter ya. awalnya kukira bakal happy ending, lho. eh taunya asa malah berakhir sama orang lain…… dan line di akhir-nya dong. “Kendati suatu hari nanti aku akan mendapatkan penawar sakitnya, Asa akan selalu meninggalkan bekas luka tak kasat mata sebagai pertanda bahwa perasaan yang sama itu pernah ada pada suatu masa. Tak hanya aku, tapi juga dia.” itu menampar sekali, lho. kayak related sama kehidupan setiap umat manusia bahwa ada aja orang yang udah terpisah namun tetap di hati. hahaha.

    mmm terus aku suka banget sama setting-nya. solo. aku belum pernah muter-muter solo sebenernya walaupun tiap tahun ke yogya dan di sini aku kayak kebayang gitu suasananya. riuh rendahnya. adatnya. daerah-daerah angkringan dan pasar malem di sana. kakak juga gambarinnya cantik banget plus mendetil jadi aku bayanginnya vivid. dan diksinya kak ari donggggg on top!

    semangat terus yaa, kak asa! keep writing! 🙂

    Like

    1. Eviiiiin! First of all, makasih banget dah nyempatin waktu buat baca. he he.
      Iya, Vin, karena itu based on true feeling. Eh? Hahaha.

      Yuk, main ke Solo! I’d love to bring you around.
      Sebenernya aku dulu pun setiap libur semester selalu stay seminggu di Yogyakarta. Tapi semenjak kakakku lulus S2 dan cabut dari sana, aku udah nggak pernah ke Yogya lagi. 😦

      Kamu semangat jugaaa! Keep writing!
      Asa is not me tho XD

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s