Suave [2]

by fikeey

The touch of your hand says you’ll catch me wherever I fall. You say it best, when you say nothing at all.

“Seokjin is lucky because I always have some soft spots for my inner circle of friends.” Yoongi menggerutu diiringi embusan napas sementara ia berkutat dengan dasi merah marun yang kini melingkar di lehernya. Tiap bagian kecil busananya sudah rapi dan berada di tempat—kemeja, celana, jas, bahkan Sadie sempat menawarkan untuk menyemprot satu, dua kali parfum favoritnya.

Yang tentu ditolak oleh Yoongi karena menurutnya seluruh parfum koleksi Sadie berbau kelewat feminin.

It’s his birthday, Yoon. Wajar kalau ia meminta para tamunya mengenakan semacam dresscode,” kekeh Sadie yang berada beberapa langkah dari figur Yoongi. Area kamar mandi wanita itu terasa agak sesak sekarang karena dipenuhi dua orang. Bukan maksud untuk komplain sih, tapi menurutnya lucu ketika Yoongi tiba-tiba memutuskan untuk menjemputnya lebih awal supaya Sadie bisa membantunya bersiap.

Yoongi menghela napas—putus asa dengan usahanya membetulkan dasi, jadi ia akan membiarkan Sadie mengurus hal itu. “Ulang tahun sekaligus perayaan kecil-kecilan untuk pembukaan restoran barunya,” responsnya. “Tapi tetap saja ini berlebihan, demi Tuhan. Ini adalah pesta khusus kami bertujuh, oke? Entah pikiran macam apa yang tiba-tiba muncul di kepalanya dengan meminta dresscode formal begini.”

Sadie terbahak, menjauhkan ujung aplikator eyeliner cairnya untuk memandang Yoongi dari kaca. “Lihat dirimu. Mirip bocah mungil yang menggerutu karena Mom mencium pipinya di depan teman-teman,” canda wanita itu. Sisa rambut yang menggantung di kanan kiri wajahnya ikut bergoyang kala tubuhnya bergetar akibat menahan tawa.

Yeah, setidaknya aku tak mencoba untuk mempertegas mataku menggunakan spidol papan tulis.”

“Ini eyeliner cair, Yoon, demi Tuhan.”

“Tetap saja mirip spidolku.”

“Terserah.” Sadie akhirnya memutar bola mata, mendiamkan pria di sebelahnya hingga si oknum memilih untuk mengalah supaya masalah dengan dasinya teratasi. Namun kemudian ia menyadari bahwa Yoongi tengah memperhatikannya lamat-lamat di cermin; iya, seintens itu hingga dahinya berkerut.

“Jangan memakainya terlalu banyak, please.” Suaranya kelewat lembut waktu berkata. Sadie melemparkan ekspresi penuh tanya sebagai respons. “Kau mengingatkanku pada dosenku di universitas yang senang sekali memukul bokong para mahasiswa.”

I hate you.”

I love you too.”

[Making fun of one another]

It’s one of those days. It’s one of those times.

Waktu dimana Sadie akan meminta Yoongi menginap di apartemennya, merengek supaya pria itu tidak meninggalkannya tiba-tiba, dan tidur di dekatnya. Yoongi tak berpikir dua kali untuk meraih jaket dan kunci mobil ketika suara serak wanita itu terdengar di telepon, hasil dari menangis dalam kurun waktu panjang—Yoongi menebak—lalu hampir tumbang lagi ketika nadanya kembali goyah.

Sadie berantakan. Itu hal pertama yang menyambut Yoongi ketika ia membuka pintu apartemen menggunakan kunci cadangan.

Pria itu tak menyalahkannya, tidak sedikit pun. Ia diam-diam merasa lega melihatnya dalam keadaan begini dibanding dua hari yang lalu. Well, ya, Yoongi mengikuti ke mana pun Sadie pergi secara harfiah; karena langkahnya kelewat oleng dan pandangan matanya kosong. Ia tidak ingin menyaksikan wanitanya ambruk di hadapan para pelayat lain karena Sadie yang bisu dan berwajah datar sudah cukup membuatnya khawatir.

Dan menemukan wanita itu kerap terbangun setiap dua jam sekali bukanlah hal asing selama masa menginapnya di sini.

Yoongi bukanlah seorang light-sleeper tapi ia bisa berlaku demikian apabila dibutuhkan. Jadi ketika area di sebelahnya lagi-lagi mengusik, seluruh saraf motoriknya kini dalam keadaan aktif.

Come here, you’re freezing.”

Ia beringsut ke belakang figur Sadie yang terduduk sembari melepaskan satu, dua napasnya; dan tak perlu menebak dua kali untuk tahu bahwa wajahnya masih basah karena air mata. Yoongi membenamkan wajahnya di rambut Sadie—yang menguarkan aroma vanila manis seperti biasa—dan mengutarakan kalimat penenang. Ia mengayunkan pegangannya di tubuh Sadie, ke kiri dan ke kanan dalam tempo lambat; terus begitu hingga alunan napas si wanita terasa stagnan serta tidak lagi terburu.

I miss Pop.” Sadie berbisik di tengah-tengah ruangan yang temaram. “He asked me to come visit him again but I’m in the middle of work and I’m stressed out and I gave him empty promises that I would come at the weekend. But then the next day the hospital called me and ….” Wanita itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “He and Gramps are all that I’ve got, and now …. I’m a bad granddaughter, ain’t I?

Yoongi memilih untuk tak menjawab pertanyaan terakhir Sadie pun merasa setuju dengan maksud yang dikandung di dalamnya. Tangan kanannya bergerak pelan, menyingkirkan segenggam rambut yang menutupi wajah wanita itu.

It’s not your fault. Stop blaming yourself like that, hm?” Yoongi menggumam. Ada sunyi yang menggantung ketika Yoongi menumpu dagunya di bahu wanita itu. “He loves you very much and I bet he doesn’t want to see you like this. So please, stop crying, okay? Your eyes will be as big as a three months worth groceries in the morning.”

Sadie melepaskan gelak tawa lemah pada kalimat terakhir Yoongi, menampar pelan lengan pria itu yang melingkar di pinggangnya. Ia lantas membiarkan punggungnya bersandar, menghirup dalam-dalam aroma cologne prianya.

My friends said hi.” Yoongi memulai lagi. “Jika kau ingin, mereka hendak berkunjung besok. Entah. Seokjin bahkan bilang akan memasakkanmu sesuatu, how’s that sound?

All six of them?” Sadie mengkonfirmasi.

Pria itu mengangguk. “Is that alright?

Yeah.” Wanita itu mendongak dan melepaskan senyum. “Yeah of course. And thank you, Yoon, thanks a lot for being here.”

[A death of someone close]

Seokjin benar-benar menepati janjinya waktu ia bilang pada Yoongi akan membuatkan sesuatu untuk Sadie—dan karena akan ada mulut-mulut lapar lain, ia bahkan meminta izin datang lebih awal ke apartemen wanita itu.

“Aku menggunakan jatah cutiku hari ini.” Seokjin mengumumkan dengan senyum lebar ketika Yoongi membukakan pintu. “Lagi pula orang-orang di dapur sudah melewati batas standar mereka untuk bekerja sendiri tanpa bantuanku jadi full day-off!

Di hadapannya, Yoongi menyunggingkan lengkung tipis di bibir. “Seriously, Jin, thank you,” katanya sembari menepuk bahu pria yang lebih tua. “Kau datang sendiri?”

Yeah, Julie said hi. Pengambilan gambar untuk edisi natal, atau tahun baru aku lupa.” Isi lima buah kantong plastik berukuran jumbo yang semula ditenteng Seokjin kini mulai memenuhi permukaan meja Sadie, sementara si pria tinggi mendengarkan lamat-lamat penjelasan Yoongi soal dapurnya. “Alrightey! Hei, ke mana Sad—o, hi, Sadie!”

Untuk sehari, ruang tengah apartemen wanita itu penuh dengan orang-orang—well, teman-teman dekat Yoongi untuk lebih jelas, yang khusus menyediakan sehari penuh dari jadwal masing-masing.

Suara Sadie hampir goyah ketika tiba waktu makan siang dan semuanya berkumpul sembari menentukan tempat paling nyaman untuk makan—meja di pantry hanya muat untuk dua orang.

It’s okay and we’re glad.” Seokjin angkat suara setelah sang empunya ruangan menelurkan sederet ucapan terima kasih atas segalanya. “You’re our friend too.” Dan sisa kepala di ruangan itu mengangguk berbarengan sebelum kata-kata “Dessert!” menggaung di udara.

Pukul delapan malam dan akhirnya apartemen Sadie benar-benar sepi, ditutup dengan lambaian tangan Seokjin sekaligus kata-kata supaya wanita itu baik-baik saja. Ketika punggung pria tinggi itu benar-benar menghilang di belokan menuju lift baik Sadie maupun Yoongi sama-sama menghela napas dan kembali ke balik pintu.

Satu jam terakhir dihabiskan dengan kerja kecil-kecilan mengembalikan keadaan ruang tengah Sadie seperti semula—berkat usulan sahabat Yoongi yang lain; tidak sopan meninggalkan apartemen seseorang dalam keadaan berantakan katanya. Lalu Yoongi menambahkan sambil berbisik ke telinga Sadie: “Ia hanya tidak tahan dengan lingkungan yang tak rapi.”

Yoongi menjatuhkan bokongnya di sofa, diikuti Sadie beberapa menit setelahnya dengan dua gelas jus jeruk dingin dari tiga buah minuman karton yang khusus dibawakan Seokjin. Keduanya duduk dalam diam sebelum akhirnya Sadie buka suara.

Stay again, please?” Pertanyaannya terdengar samar di antara derum lembut lalu lintas di bawah sana.

Jawaban Yoongi berupa kecup ringan di pelipis Sadie sebelum berdiri dan mengumpulkan gelas kotor mereka yang berakhir di bak cuci.

[Sleeping in]

Text me if you need something later.

I’ll pick you up, so don’t act stupid by taking the subway home.

Don’t forget your lunch.

Take care, yeah?

I’ll be by the phone, give me a call.

Tidak. Yoongi tidak mengutarakan secara gamblang seluruh kalimat di atas pun menulisnya ke atas kertas dan menyelipkannya ke tas kerja Sadie, tidak. Ia bukan siswa SMA yang memiliki segudang kata-kata cheesy ketika wanitanya masih berkabung setelah kepergian orang tersayangnya.

Yoongi menggantinya dengan bangun pagi-pagi; memastikan air hangat di kamar mandi berfungsi dengan baik, menyeret kaki ke pantry untuk membuat sarapan sederhana, dan kembali ke kasur untuk membangunkan figur yang masih bergulung di bawah selimut. Ia menunggu dengan sabar di sofa sembari berkutat dengan laptop hingga Sadie muncul di pintu kamar—sudah rapi dan membawa serta aroma parfum favoritnya.

Kunci mobil di tangan kanan sementara Sadie sudah selesai dengan sarapan. Yoongi melingkarkan dua lengannya di pinggang Sadie, berdiri menghadapnya, dan menjatuhkan sapaan paginya di pelipis wanita itu sebelum salah satu dari mereka mengayunkan lengan dan membuka pintu.

Come. I’ll drive you.”

[Hugging]

Min Yoongi memang bukan definisi seorang pria kaya bergelimang harta yang mendatanginya di atas kuda putih dan membawa pedang, tidak.

Hell, bahkan pertemuan pertama mereka terjadi ketika hubungan Sadie dengan seseorang yang selama lima tahun dulu pernah bersamanya diputuskan begitu saja secara sepihak dan memalukan. Jika bukan karena Yoongi yang melepaskan kalimat mengejek gara-gara pasangan di dekat mejanya tengah berseteru, maka tidak mungkin saat ini Sadie tengah berada di depan pintu studio milik pria itu dengan hidangan takeout yang masih hangat.

Tiga kali ketukannya tidak dibalas dan panggilannya disambut kotak suara, jadi Sadie memutuskan untuk mengayunkan pintu yang tak dikunci—tipikal Yoongi.

“Yoon? Where were you? Here, I brought you—“

—lalu Sadie mendapati Yoongi dengan kepala terkulai di salah satu meja. Helainya menutupi sebagian dahi sementara pipi kanannya dijadikan tumpuan—siapa pun tolong hentikan Sadie sebelum wanita itu maju dan mencubit pipi Yoongi karena gemas.

Layar laptop di hadapannya tidak memunculkan apa-apa kecuali permukaan hitam jadi Sadie berpendapat prianya sudah tidur lumayan lama. Yah, well, walaupun berbekal fakta demikian, ia tetap tidak tega mengguncang bahu Yoongi untuk membangunkan.

Lantas wanita itu meraih salah satu kursi yang masih kosong, memosisikannya tepat di sebelah Yoongi, dan menarik kedua kakinya untuk bersila. Dan Sadie hanya duduk di sana, menelusuri tiap inci perawakan pria di hadapannya dalam diam.

Makanannya ia biarkan dingin. Toh di kota ini sudah banyak rumah makan yang beroperasi semalaman.

[Watching the other sleep]

—-—

  • foreword from Ronan Keating’s When You Say Nothing At All.
  • let’s play guessing the other’s occupations, shall we?
  • the playlist.

 

Advertisements

7 thoughts on “Suave [2]

  1. kak fikaaaa hehehehehe (cengengesan sampe besok) (slapped) aku barusan buka wp terus tulisan kakak muncul paling atas hehe langsung kubaca deh x)

    karakternya kemanisan deh kak kalo dikasih ke suga, ga cocok sama segala kehiphopannya dia :” HAHA tapi at some point pas juga sih, kayak suka ketiduran sama nunjukin kepeduliannya lewat tindakan bukan omongan ehe ehe

    jin di sini punya restoran, terus pacarnya … model? betul tidak kaaak? jadi penasaran sama occupationnya bocah-bocah yang lain x) keep writiiiing kak 🙂

    Like

    1. aaaaaaaaa halooo nad! x)

      ahahaha iya ya emang ini yoongi kaya abis nelen gula sekilo jadinya too much sweetness in him hahaha xD yaallah min yoongi emang literally sangat sangat sangat dengan suasana tukang bobo yha haha. kecapean dianya, seharian di studio abisan wkwk. IYAH. yaampun dia tuh emang kayanya tipe yang action speaks louder than words nggak sih huhu:’)

      yapyap. jin’s a chef dan julie model hehehe. betul betul betuuuuul! ehehe. terima kasih yaaa nad suda mampir baca dan komeen 😀

      Like

  2. Manis banget dibaca pagi-pagi, ah, enaknya jadi sadie weheheh. Part fave pas lagi sedih grgr kepergian sahabatnya trus suga selalu ada gitu ya cheesy not cheesy ((apasih)) wkwk keep writing ya kakfik!

    Like

    1. (lowkey pengen jadi kaya sadie) (lha hahahaha). indeed yoongi mah selalu ada (aduh apaan sih fika balesnya hahaha abaikan nis xD) makasi yaaa niswa suda mampir baca dan komeen 😀

      Like

  3. Min Yoongi adalah definisi selimut angetttt!!!! Nyaman dan tidak untuk dilepaskan bahkan biar jam menunjukkan pukul 7 pagi hauffftttt </3

    Karena lebih dari apa pun air anget itu lebih so sweet daripada teks message alabyu doang ❤ ❤ ❤

    KAFIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMPUNI AKU BAPEUR

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s