Suave [3]

by fikeey

‘Cause I really don’t care where you are. I just wanna be there where you are.

“Hei, Yoon.”

“Hm?”

“Jika salah satu dari kita tiba-tiba hilang dan tidak ada satu pun rekam foto, video, maupun petunjuk apa-apa, bagaimana kau meyakinkan polisi bahwa orang yang kau cari benar-benar ada di dunia?”

Yoongi menghentikan kegiatan jemari di permukaan tuts pianonya hanya untuk membalikkan badan dan melempar pandangan super aneh kepada Sadie; yang saat itu sibuk dengan lembaran rencana majalah sebulan ke depan. Manik kokoanya menunggu agar si lawan bicara setidaknya mengoreksi pertanyaan absurd itu, namun setelah beberapa saat akhirnya Yoongi menyerah.

“Kepalamu tidak terantuk sesuatu, ‘kan?”

Sadie baru bereaksi ketika kalimat Yoongi ganti menggantung di udara; walaupun hanya gelengan kepala inosen, sih.

Jadi pria itu menghela napas, meleburkan atensinya kepada Sadie.

“Mungkin aku akan coba menggambarmu,” katanya. “Sebagai alasan bahwa aku mengenalmu dan pernah bertemu denganmu.”

“Kau akan menggambar wajahku?” Sadie balik bertanya, lembar kerjanya ikut-ikutan terlupa.

Yoongi mengangguk singkat. “Kondisi yang kau katakan adalah kita tidak memiliki gambar atau video apa pun, benar?” Dan jawaban dari Sadie adalah anggukan kepala ringan tanpa kontak mata. “Well, drawing a portrait of you, it is.”

Do you even know how to draw?

Sebelum pria itu sempat menyadari, ia tengah melangkahkan tungkainya menuju posisi duduk Sadie di belakang meja rendah lantas mengambil tempat tepat di hadapan si lawan bicara. Yoongi memerhatikan wanitanya yang masih serius mengawasi lembar demi lembar isi rencana. “Aku hanya perlu menggambar hal-hal yang penting saja. Kau tahu, aksen khas yang ada padamu tentu saja.”

“Dan aksen khas itu adalah?”

Yoongi menahan tawanya sejenak. “Mari kita lihat,” lalu ia menumpu dagunya di atas permukaan tangan. “Rambut arang sebahu, alis kanan yang lebih tinggi, bekas luka di dahi kanan karena pernah terantuk kaca kamar mandi ….”

Sadie tidak merespons—wanita itu perlahan menurunkan pandangan dan mengarahkannya ke arah mana pun selain si lawan bicara, tapi Yoongi menyadari hal demikian dan justru menambahkan deskripsi pada daftar kecilnya.

“… dan selalu tersipu apabila diperhatikan lamat-lamat.”

[Drawing the other]

Malam tahun baru bagi Yoongi adalah mengistirahatkan sejenak dirinya dari waktu panjang di studio, tidak ada orang yang perlu ia kritik habis-habisan, dan software andalan yang kadang mengalami crash seolah meneriakkan protes bahwa, hei, aku juga butuh istirahat. Malam tahun baru artinya mengobati perasaan rindu pada sofa empuk di ruang tengah apartemennya bersama popcorn instan dan sederet film yang belum sempat ia saksikan.

Yoongi berpikir untuk pulang—dalam arti sebenarnya—namun kemudian pikirannya melayang kembali pada insiden dua tahun lalu; yang tak pernah ingin ia putar lagi sebenarnya, tapi seolah Dewi Fortuna selalu ingin memainkan keadaan orang, pria itu berakhir memikirkannya lagi, lagi, dan lagi.

Di layar teve yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu, Indominus Rex baru saja dilahap dinosaurus air ketika nada dering ponselnya bersahutan dengan aum si hewan raksasa.

Sadie.

Dan sebaris nama itu sanggup membuat ujung bibirnya melawan gravitasi. Mangkuk popcorn disingkirkan dan Yoongi memastikan jemarinya bebas dari remah ketika menjawab.

Happy new year!” Suara Sadie memenuhi rongga telinganya; dengan latar belakang vokal lain berupa tepukan tangan dan riuh rendah orang-orang yang saling mengucapkan. O, ya. Sadie tengah berada jauh dari Seoul. Itu pasti keluarga besarnya.

Happy new year.” Yoongi balik mengucapkan, suaranya teduh. “Have a good time there?

Yeah.” Ada lebih banyak suara berisik sebagai tambahan dan Yoongi membayangkan figur Sadie yang sibuk mencari tempat sunyi untuk meneruskan pembicaraan. “Have you eaten? You’re not drilling a hole on your bed aren’t you?

Yoongi mencuri lihat menu takeout yang sudah susah payah ia dapatkan beberapa jam yang lalu—well, tempat makan besar maupun kecil banyak yang memutuskan untuk tak beroperasi jadi ia harus jalan lebih jauh untuk menemukan satu. Masih tak tersentuh. Mungkin keadaannya sudah dingin sekarang.

“Ya, baru saja.” Pria itu menjawab santai.

“Kau makan tengah malam?” Sadie tertawa kecil. “Kau tak lupa mengucapkan selamat tahun baru pada keluarga dan seluruh sahabatmu, ‘kan? O Tuhan, dan sampaikan juga ucapan ulang tahunku pada Taehyung! Terlambat dua hari.” Yoongi tersenyum karena ia bisa merasakan wajah Sadie tertekuk akibat lupa.

“Akan kusampaikan,” balasnya pendek. “Dan ya, aku sudah menyampaikan ucapan tahun baru pada semuanya.” Dan ikatan di perutnya makin melilit.

Notifikasi grupnya bahkan sudah berisik dua jam sebelum tengah malam dan Yoongi yakin sempat menyelipkan stiker happy new year di tengah-tengah pembicaraan dan ucapan-ucapan dari enam orang lainnya. Sedangkan untuk objek yang pertama ….

Pembicaraannya tidak berlangsung lama. Sadie menyudahinya setelah—lagi-lagi—mengingatkan Yoongi untuk memperhatikan kesehatannya, mengucapkan selamat tahun baru pada lebih banyak orang yang ia kenal, dan makan tepat waktu. Ya. Yoongi se-tak peduli itu pada dirinya hingga Sadie kadang khawatir sendiri.

Sampai hari ini pun masih.

Buktinya menu takeout di meja rendah ruang tengahnya dapat dipastikan utuh hingga besok pagi.

[Having a lazy day]

Hal terakhir yang Yoongi inginkan di awal tahun adalah berada di luar apartemen, duduk di hadapan tuts hitam putih yang seolah mengejek, dan berada di tengah-tengah—well—keramaian; karena auditorium ini terdengar sangat berisik kendati tempat duduk penonton lebih banyak kosong.

Mengutip kata-katanya beberapa minggu lalu, ya, Yoongi memang memiliki sisi lemah tersendiri terhadap lingkaran kecil sahabatnya; jadi ketika salah satu dari mereka menelepon dan meminta bantuan (dan lagi ini menyangkut universitas lamanya) Yoongi kesulitan untuk menolak.

Dan di sinilah dirinya, duduk tanpa semangat sambil memainkan beberapa nada yang kemungkinan sesuai untuk pentas awal tahun. (Psh, siapa pula yang berpikiran mengadakan pentas di awal—iya, terlalu awal malah—tahun begini). Di tengah panggung, Hoseok bolak-balik mengecek gerakan penari latar berbusana penghuni hutan; Jimin berdiri di depan seseorang yang tengah melakukan seriosa; dan Taehyung memberikan pengarahan pada kelompok pemain utama.

Yoongi menghela napas. Jika bukan karena sahabatnya sendiri yang menarik dirinya ke sini, maka ia akan berada di bawah gulungan selimut dan membayar tidur.

“Pentas?” Wajah Sadie menunjukkan ekspresi penuh tanya di layar ponsel Yoongi, sementara ibu jari pria itu terpeleset hingga menekan not yang salah.

Yeah.” Anggukan pelan sebagai jawaban. “Dan Namjoon menjanjikan kami tempat duduk paling depan sebagai ucapan terima kasih karena membantu mahasiswanya.” Lalu tangan kanannya bergerak membetulkan posisi lembaran lagu. “Kau diundang, omong-omong.”

I’ll make sure to spare my time!” Dan sekali lagi—setelah selama ini ia kira sudah cukup Sadie memberikan ekspresi itu padanya—Yoongi diam-diam mengagumi bagaimana dwimanik si lawan bicara melengkung menyerupai bulan sabit. “Sebentar. Pentasnya bercerita tentang negeri dongeng?” Pertanyaan Sadie menggantung dan pria itu tersadar sedang menarikan jemarinya di atas tuts.

Masih melanjutkan setengah lagunya, Yoongi mengangguk pendek. “Yeah, I guess. Cinderella and the Seven Dwarfs.”

Lalu detik berikutnya, tawa Sadie memenuhi lingkungan di sekitarnya; berasal dari speaker ponsel yang kala itu berada pada volume suara tinggi—Hoseok yang berkali-kali berteriak pap pap pap pap serta Taehyung yang berseru dengan pitch tinggi menirukan dialog penyihir wanita menjadi latar belakang. Yoongi mengangkat sebelah alisnya, bertanya dalam bisu: “Kau kenapa?”

It’s Snow White and the Seven Dwarfs, Yoon.”

Dan pria itu yakin ada air mata yang bergumul di sudut-sudut mata Sadie. Hal yang biasa terjadi apabila wanita itu terlalu banyak tertawa.

Whatever.” Yoongi mengangkat bahu tak peduli; dalam diam masih menarikan jemarinya karena ia tahu Sadie sangat menyukai genre lagu begini. Dan menilik dari bagaimana wanitanya membetulkan posisi di balik gulungan selimut, mungkin tak sampai sepuluh menit sebelum Sadie memberi senyum kecil dan pergi tidur.

Sementara Yoongi mati-matian menghindari senyum Jungkook yang menyebalkan dan terang-terangan menahan lidahnya melempar sebaris ejekan dari balik lensa kamera di bangku penonton.

That brat.

[In a fairytale]

Now I know why you pick this trilogy over everything else.” Sadie berbicara pelan sementara di hadapan mereka, perang baru saja pecah setelah aum panjang terompet dari kaum orcs.

Yoongi—dengan semangkuk besar popcorn di pangkuan serta Sadie yang menyenderkan kepala di bahunya—melepaskan senyum sekaligus merasakan kuduknya meregang ketika kedua belah pihak peserta perang bertemu di tengah-tengah. “And?

So you have an excuse to stay inside all day.”

Did you forget that these elves, and men, and the dwarfs are all badasses?

Yeah, that too.”

And this white-hair old dude is my hero?

Yeah.

And—

Yes, Frodo Baggins is your buddy, I know.”

The Lord of the Rings Trilogy, indeed. All hail.

[Geeking out over everything]

Memarkir mobilnya di depan gedung auditorium terasa luar biasa asing; ketika yang masih bercokol di kepalanya adalah ingatan tentang bagaimana ia dulu hanya mahasiswa ingusan yang tinggal di asrama, pesta murahan akhir minggu, dan kegiatan nirfaedah lain. Yoongi mengenal enam sahabatnya yang lain pada beberapa kesempatan berbeda dan tak pernah terpikir secuil pun di kepalanya mereka masih bersama-sama hingga sekarang.

Ada Namjoon dengan tubuh tingginya berdiri di pintu auditorium, barangkali sudah mengantongi tiket super VIP yang ia gadang-gadangkan sebagai ucapan terima kasih pada sahabat-sahabatnya. Notifikasi grup berkali-kali memecah hening—terakhir ia lihat, Jimin adalah orang pertama yang sampai bersama Josie, lalu Hoseok yang bertanya kalau-kalau ada yang lapar karena ia tengah menepi di drivethru, dan Seokjin terjebak macet. Dari layar ponsel, ada sederet emoji mobil—dari Taehyung, Yoongi yakin—lalu berganti dengan pesan lain: Parking—Jungkook, selalu singkat dan padat.

Yoongi baru akan mematikan mesin ketika tangan Sadie menghentikannya. “Dasimu, Yoon.” Wanita itu menghela napas sambil memerintahkannya memutar tubuh. Di posisinya, ia berusaha mengendalikan raut wajah; memerangi keinginan apa pun yang menyuruhnya untuk mengulas senyum karena setelah ratusan kali menyimpulkan dasi Yoongi, sang lawan bicara masih rajin mengoarkan story-telling tentang bagaimana cara melakukannya dengan baik dan benar.

“Kau tahu berapa kali pun aku mendengarkan step by step-nya, aku akan tetap memintamu memakaikannya padaku ‘kan?”

Dan Sadie membalasnya dengan bibir yang ditekuk.

[Teaching the other how to do something]

—-—

  • still down for guess the occupation game? hehe.
  • prompt source; the playlist.
  • thanks for reading!
Advertisements

3 thoughts on “Suave [3]

  1. kak fika…… kalo aku muncul terus di fic kakak kira-kira kakak bakal marah ga……:”)

    aku sebenernya lagi jarang banget buka wp, tapi setiap lagi buka kebetulan yang ada di atas-atas tuh tulisan kakak :”) aku jadi ke-trigger buat baca :”)))

    ga mau komenin ceritanya karena sudah rancak bana seperti biasa :” mau nebak kerjaan orang-orang ajaaa :3 namjoon kayaknya dosen ya, terus jungkook fotografer, hoseok dancer, jimin singer, taehyung … aktor? ehe ehe ga yakin sama yang hoseok jimin taehyung sih, tapi kayaknya masih berhubungan sama dance, nyanyi, sama akting?

    kak fika keep writing yaaa 🙂

    Like

    1. haloooo nad! yaampun ngga marah kokkk huhu sumpah i always treasure every comment coming hahaha, bikos kamu (dan mereka yang komen) udah nyempetin waktu buat setidaknya berbagi feedback, jadi aku nggak akan maraaaah (hugs hugs) :’)

      waaaaa bener kok! namjoon jungkook taehyung beneer hehe. jimin sebenernya ngga cuma singer aja, lebih ke performer bikos aku bayanginnya dia nyanyi iya, nari kontemporer iya. (sumpah masih keinget yang dia perform di gayo daejun ituuuu) (guling-guling). kalo hoseok lebih ke choreographer gitu hehe. yeay! udah ketebak berarti yaw, ehe. ini buat seri-seri selanjutnya yg satu timeline sama ini soalnya 😀

      terima kasih naaad! thank you thank you thank you udah mampir, baca, dan komeeen ❤

      Like

  2. Kafikaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aku mau jadi makanan biar juga didiemin sampe adem yang penting bisa nemenin Min Yoongi malem tahun baruan aaaaaaaaaaaaaaa kesepian banget mas sini kupeluuuukkk :’

    DAT TLOTR THO!!!!!
    KYAAAAAKK PROMOSI LEWAT MIN YOONGI SANGATLAH EFEKTIF UNTUK MENGOMPORI BIKOS AKU INGIN BACA?????????

    Okelah sip TLOTR masuk wish list hahahhahaha #iyaakubelumpernahbacacumanontonfilmnya #akupenuhdosa #minyoongiampuniakunikahiaku #gakdengbeliinbukunyaajacukup

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s