Bebaskan Mimpimu di Angkasa

Bebaskan Mimpimu di Angkasa © Fantasy Giver

.

“Someday we’ll decide when we want to live out our lives.”

.

.

“Aku sudah ngomong ke Ibu kalau aku ingin jadi pilot, tapi Ibu malah marah.”

Danang mengawali konversasi sore itu dengan memindahkan karung kumalnya ke dekat pot tanaman, lalu menyelonjorkan kaki pelan setelah menendang bungkus mie instan yang entah kena apa sampai meninggalkan lendir. Dia punya beberapa luka tak terawat di tungkainya—tak begitu parah, sih. Kecil, namun pasti meninggalkan bekas. Sahabatnya, Agus, sibuk menggigit-gigit sedotan bekas minuman berharga seribu rupiah yang dibelinya dekat SD.

“Memangnya dia bilang apa?”

Danang mendengkus sinis mengingat ucapan ibunya kala ia mengajukan mimpi. Kalau normalnya seorang ibu akan mendukung anak-anaknya dalam menggapai cita-cita, keadaan yang mereka alami adalah anomali. Keterbalikkan atas apa yang sebetulnya umum, namun tersembunyi dan menjadi aib rakyat. Siapa yang ingin merasakan hidup seperti ini? Tidak ada.

“Ya biasalah. Kita enggak punya duit. Jangan mimpi ketinggian. Daripada banyak omong, mending cepat pergi dari rumah, ngumpulin botol plastik buat dijual,” jawab pemuda itu dengan gigi menggertak. “Ternyata hidupku memang nggak jauh-jauh dari sampah. Sampah beneran, sampah omongan, sampah masyarakat, mimpi yang jadi sampah. Hah.”

Danang sedang emosi dan Agus tak merespons. Akibatnya, spasi di antara dua bocah tujuh belas tahun itu diisi geming. Danang memetik selembar daun dan mencabik-cabik lembarannya hingga tak berbentuk, sementara Agus terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri kendati maniknya sibuk memerhatikan bakaran sarap di ujung lapangan.

Di sini, hal semacam itu adalah pemandangan biasa—justru menjadi aneh kalau mereka tiba-tiba melihat gedung yang berjajar alih-alih gundukan sampah. Di dekat gerbang masuk TPA, bisa ditemui warung nasi campur sepuluh ribuan. Iya, sangat tidak bersih. Namun tak apa; keduanya masih hidup dan sehat walafiat, kok. Masih berkeliaran berdua dan lebih sering berkomunikasi dengan para pengkulak rongsok ketimbang anak seusia mereka. Bahkan teman-teman di sekolah saja jarang ada yang mau mendekat. Bau, katanya.

O, benar. Memang sebuah kehidupan yang menjemukan.

Tanpa mimpi, tanpa asa—walau niat ada.

Tinggal usaha, berarti. Permasalahannya, usaha apa yang bisa mereka kerjakan?

“Nang, ayo minggat dari sini.” Kali ini Agus yang menemukan jawaban, memecah hening seraya membuang sedotan plastiknya ke atas pot. Jeda berlangsung selama pemuda itu menarik napas dalam-dalam—aroma tengik dari berbagai campuran kotoran telah biasa merangsek hidungnya, jadi dia tak lagi terganggu.

“Setelah kupikir berulang-ulang, kalau kita terus di sini, kita nggak akan pernah berkembang. Aku kepingin pergi ke Jakarta—jadi sarjana politik, terus lanjut kerja di DPR. Biar Indonesia bisa lebih adil, deh, paling enggak.”

“Hah? Yang benar kamu?” Danang mendecak sangsi. Mereka tak punya modal apa-apa. Dan Jakarta? Bagai pungguk merindukan bulan, kali. “Kita mau tinggal di mana? Mau ngapain di sana? Kalau jadi jembel juga, mending aku di sini deh, Gus.”

“Ya … kalau jembel, sih, aku nggak tahu, ya. Tapi namanya juga usaha dari awal, pasti susah dululah, Nang,” balas Agus sambil menunduk. Dia diam sejenak, lalu tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menggeleng heboh.

O, sikap ini! Agus baru saja menemukan poin eureka—senyumnya tiba-tiba meluas dan nyawanya seolah berlipat ganda. Danang yang sudah hafal tingkah temannya cuma bisa menebak-nebak ide gila, inovatif, tak masuk akal apa lagi yang muncul di serebrum si karib.

“Kita bisa kerja dulu di mana gitu, Nang, sambil cari sekolah. Part time di Jakarta ‘kan banyak. Aku nggak masalah jadi office boy, misalkan, lalu kamu jadi montir tambal ban. Kita tinggal di mes, lalu uangnya kita tabung dan kalau sudah waktunya aku bisa ikut ujian universitas dan kamu cari-cari peluang sekolah pilot murah.”

Mulut Danang terbuka; membentuk gua berstalagmit tulang. “Kamu sudah gila, ya, Gus?”

“Ih, apaan, sih? Ya enggaklah! Nang, bangun! Buat apa kita di sini terus—hidup nggak akan maju. Masa depan kita bakal tetap jadi limbah seperti yang kamu bilang.” Kini ganti Agus yang mendecak. “Kalau kamu masih mikirin makmu, kuberi tahu, ya; bukan makmu yang berhak nentuin masa depanmu. Kamu, lho! Dan menurutku, ini satu-satunya kesempatan kita.”

Danang kembali menarik napas dan mengembuskannya lamat-lamat. Ide Agus radikal, tapi menarik. Dia selalu seperti itu—dan sialnya, Danang adalah salah satu oknum yang mudah terpengaruh.

Sungguh Danang sadar bahwa cita-citanya tak akan pernah punya kesempatan kalau dia bertahan di sini. Pemuda itu tidak akan pernah merasakan terbang sebelum mati seperti yang dirapalkan dalam doa-doanya tiap malam. Nilai cemerlang di ijazahnya tak akan pernah digunakan dan sepanjang umurnya ia akan hidup dikelilingi sampah. Tapi, pergi juga bukan pilihan yang mudah. Siapa yang bisa menjamin dia tidak hilang arah? Jakarta penuh godaan; Danang takut tersesat. Belum lagi perasaan ibunya.

Berani bertaruh ibunya akan murka jika ia mengajukan ide Agus, mungkin juga Danang bakal dapat hadiah beberapa pukulan di tubuh. Sampai kapan Beliau tidak akan merestui—Danang tak yakin. Agus, sih, sudah tinggal sendiri sejak orang tuanya meninggal setahun yang lalu, jadi dia lebih bebas. Danang yakin Agus akan pergi ke Jakarta dan mengejar mimpi meski tanpa dirinya. Pun mengingat tabiat Agus yang pantang menyerah, Danang tahu pemuda itu akan mencapai gelar sarjananya.

Sedikit gengsinya tak mau Agus sukses sendirian. Dia ingin juga.

Meski, ya, harus diakui jalannya lebih berlubang mengingat anggaran sekolah pilot yang membuat jantungnya nyaris beku—tapi ini keinginannya. Kekurangan finansial bisa diakali, mengutip kepala sekolah SMA Danang yang sangat dia hormati. Sekarang pertanyaannya, salahkah Danang kalau dia ingin mencoba? Entah nasib akan mengasihaninya atau dia akan kembali ke sini, dia ingin sekali merasakan keluar dari kungkungan keterbatasan. Sebentar saja.

Sulit memutuskan, dia tahu. Memilih satu di antara opsi macam ini tak pernah semudah mengumpulkan lima kilo kardus dan botol minuman.

Tiba-tiba saja, lamunan pertimbangan Danang disentak oleh Agus yang menepuk pundaknya.

“Nang, jangan terlalu banyak mikir, nanti malah nggak jadi,” ujarnya tegas dengan sedikit senyum congkak. Pemuda itu merogoh kantong celananya, menemukan sebungkus permen karet dan mengulurkannya pada si sahabat. “Lagi pula, kamu nggak sendirian di Jakarta. Masih ada aku. Kita bisa hidup bareng-bareng.”

Ah, ya, Agus betul juga.

Mereka bisa terus bersama, saling mendukung dan saling melindungi. Sejak dulu selalu begitu. Danang yakin—dan ia berharap—tuntutan serta tekanan di ibukota dapat memperkuat persahabatan mereka; menjadi solusi ketika masalah datang. Sebuah sandaran dan pegangan untuk menjalani langkah-langkah awal mengurai benang takdir.

Semoga tak seburuk itu.

“Iya, tapi ….” Danang menutup mata, “… selama aku dapet izin dari Ibu, ya, Gus.”

“Yah, masih lama, dong?” Danang segera mendelik dan Agus tertawa singkat. Dia menarik pundak sahabatnya mendekat, menopangkan tubuhnya pada sebelah tangan yang bebas di belakang tubuh, lantas memandang pada langit yang menggelap. “Kuberi waktu tiga bulan buat kamu meyakinkan makmu, ya, Nang. Kalau nggak dapat dan kamu masih nggak mau pergi, maaf banget tapi aku harus berangkat sendiri.”

Danang mengangguk khidmat.

Mungkin memang tak ada salahnya mencoba.

.

Fin

.

.

A/N:

  • halo semuanya! senang rasanya bisa kembali! 🙂
  • inspired by laskar pelangi – nidji, as you see. dan sebenernya entry buat prompt challenge di blog pribadi dengan prompt “Someday we’ll decide when we want to live out our lives.” seperti openingnya (prompt milik kak theboleroo/adelma)
  • maaf kalau kakuuuu
Advertisements

9 thoughts on “Bebaskan Mimpimu di Angkasa

  1. Eviiiin, aw. Jadi keinget Arai sama Ikal, one of the sweetest friendship everrh ;A; dan aku suka kalimat Danang yg ‘hidupnya ga jauh2 dr sampah’. Naas tp lucuk x,D
    kujuga kadang merenung kalau liat anak2 di pinggir perempatan. Mana kadang interaksi mrk sama ibuknya itu ga kayk ibu sama anak. Kasar gthu ;w; gimanapun jg mrk masih anak2

    // ada kata mendengkus itu maksudnya mendengus ya. trus ‘yang’ nya ada yg kurng ‘g’ hehe
    yang ‘jembel’ itu maksudnya ‘gembel’ kah?

    Like

    1. halooo, kak cherry! hehe. iyaaaaaaa laskar pelangi tuh bacaan masa kecil yang super bermutu, salah satu motivasi buat ngejar mimpi dan terus menulis juga (dulu bilangnya biar bisa keluar negeri kayak andrea hirata) HAHAHAHA iya, kak. aku suka sedih kalau ngeliat anak kecil di pinggir jalan, apalagi waktu itu pernah hujan-hujan dan dia masih minta di lamput merah, huhu 😦 aku paling ga betah deh kalau udah liat anak kecil 😦

      anywayyy, iya mendengkus itu sinonim mendengus, kak cherry. terus jembel itu bentuk bakunya gembel (yang ada di kbbi, aku juga baru tau). makasih koreksian yang-nya yaa kak! kakak semangat teruuus! ❤ ❤

      Like

    2. hahah iya, dulu pas MA, diminta guru gmbar cita2 masa depannya, aku gambar universitas sorbonne, niat bnget xD
      kmren aku cari jembel di kkbi online ga ada, ini aku cek di komputer ada x,D /judging my phone/

      Like

  2. tulisan yang pas dibaca bikin nabil mikir: iya juga ya?
    kak eviiiin nulisnya jago banget ih hebaaat, nabil jadi lebih suka orific khas indonesia gini loh gimana xd habisnya, mungkin tau keadaan aslinya gimana kali ya jadi pas dibaca nikmatin banget 🙂 perdebatan batin si danang juga kerasa bangeeeeet, kealamin lagiii. kita kan sering ragu-ragu tapi sebenernya mau hehe xd pokoknya laffff dis to de max lah ♥♥

    Like

    1. iyaaa, bil, pokoknya kamu semangat terus yaa ngejar psikologi mumpung punya kesempatan :)) aku tau kamu bisaaaa! ❤

      aah, nabil juga hebat kook. iya kalau setting-nya indo tuh jadi terasa lebih related karena lokal kali ya, hahahaha x'D makasih banyak nabil cantik! ditunggu kamu come back-nya, tapi semangat terus ujian-ujiannya! ❤ ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s