Gadis Aprikot di Musim Panas

othpgcychfc-annie-spratt.jpg

credit pic_Annie Spratt on unsplash

cherryelf © 2017

.

Kamar 4×4 meter. Berjendela satu. Tertutupi tirai kelabu. Matahari sedang membara di luar sana. Tapi, Phit lebih senang memboroskan listrik daripada tepapar terik. Mungkin itu kenapa Phit bermata sipit.

Phit terduduk di kursi kayu kesukaannya. Standing easel di muka, membentang kanvas polos. Dipandanginya kanvas itu lama, seakan lukisannya akan jadi jika ia terus berdiam diri. Kebiasaan yang Phit lakukan sebelum melukis. Yang tak biasa adalah satu jam penuh kesia-siaan tanpa segores garis pun. Harusnya dengan aroma cat minyak yang memutari ruangan, kursi kayu kecil kesukaan, dan pensil lukis di tangan, sudah bisa melahirkan ide dalam kepalanya.

Dengan kesal, Phit melempar punggung ke sandaran. Dia bukan pelukis manja, Phit tahu itu. Idenya tidak bergantung pada sebanyak apa ia menghabiskan waktu di luar. Phit bahkan mampu melukis danau, meski seumur hidupnya tidak pernah melihat danau sungguhan–pengecualian jika kolam ikan di rumah kakeknya bisa disebut danau.

Tapi akhir-akhir ini, ia sulit melukiskan gambar dalam imajinya. Ia ragu ingin mulai dari kanan atau kiri, atas atau bawah, lengkung atau lurus. Beruntungnya, ia tidak lupa cara memegang kuas.

“Sialan!”

Meski terdengar aneh, tapi Phit tipe lelaki yang jarang mengumpat, karena tidak ada hal yang membuatnya ingin mengumpat. Kecuali kalau makanan pesanannya tidak segera datang ketika perutnya menderingkan sirene darurat, atau terpeleset saat ia buru-buru pergi, atau ketika ia menemukan kotoran Tim di tempat tidurnya–tidak aneh kucing Persia abu-abu itu lupa letak kamar mandi jika menilik usianya yang menginjak masa menopause.

Dan hal yang luar biasa, jika persoalan hilang rasa bisa masuk dalam kategori alasan yang dapat membuatnya mengumpat.

Phit menyerah. Ia kembalikan pensil lukisnya ke atas meja bersama kuas dan sepaket cat yang berserakan. Disibaknya tirai dalam sekali tarik. Debu terlepas melayang-layang. Phit bertanya-tanya, kapan terakhir kali ia membersihkan jendela. Kadang aroma cat minyak membuatnya maklum, sampai tak memedulikan debu. Padahal partikel ringan itu bisa saja merusak hasil karyanya.

Dari jendela lantai dua, Phit menemukan jalan terisi lenggang. Musim panas yang gila-gilaan ini agaknya membuat orang sadar, bahwa tidur siang itu kenikmatan. Sebagian mungkin sedang mendinginkan badan di kafe atau di dekat gerobak es krim. Sisanya terjebak di meja kerja dengan setumpuk kejenuhan.

Phit merasa lega dia tidak harus mengalami yang terakhir. Seperti para seniman, Phit berjiwa bebas. Ia tidak ingin terikat jam kerja dan sederet aturan. Tetapi, terkadang hidup tidak memberikan pilihan. Akhir-akhir ini, karena tidak ada lukisan yang pantas untuk diperlihatkan, hampir tidak ada dolar yang masuk ke rekeningnya. Phit beruntung dia hidup hanya untuk menopang dirinya sendiri. Tapi jika ketidakproduktifannya ini berkepanjangan, Phit bisa jadi harus mengangkut barang-barangnya yang tak seberapa ke rumah sosial.

Kegundahan Phit terhenti ketika matanya menemukan tetangga barunya keluar rumah. Bukan pemandangan aneh kalau saja gadis itu tidak menarik kursi dan membawa gunting taman di bawah terik.

Phit iseng untuk terus memperhatikan gadis itu. Dia tidak tahu berapa banyak menit yang ia anggurkan hanya untuk menonton gadis itu memangkas tanaman. Tapi, cara gadis itu duduk dan bergerak gesit diantara batang-batang semak belukar membuatnya tertarik.

Terhitung satu minggu sejak gadis itu menjadi tetangganya, baru kali ini Phit berkesempatan memperhatikan. Hari pertama pindah, gadis itu terlalu sibuk mengangkuti kardus-kardus yang berkali lipat lebih besar dari tubuh mungilnya. Sementara Phit terlalu sibuk menyelesaikan lukisannya–yang sampai sekarang belum terselesaikan.

Gadis itu menggeser kursinya untuk kesekian kali. Kini badannya tepat mengarah Phit. Sepertinya gadis itu merasa diperhatikan, karena tepat saat itu, wajahnya mendongak ke jendela rumah sebelah.

Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti. Gadis itu hanya mengulas senyum tipis, yang bahkan Phit meragu jika itu benar senyuman. Lalu ia kembali pada rutinitasnya menggunting ranting dan pucuk tanaman.

Phit terkesiap. Apa seperti itu gaya gadis jaman sekarang saat sedang diperhatikan lawan jenis. Dingin, tak acuh.

Sambil merengut, Phit berpikir. Sepertinya tidak salah jika ia meninggalkan ruangan penuh cat dan kebuntuan ini sebentar demi menyapa gadis musim dingin itu.

Phit mendengus akan panggilannya untuk gadis itu.

“Hai!” sapa Phit, selepas lima belas menit di depan cermin.

Manik almond itu memandang balik Phit. Membulat seolah ia baru sadar akan atensi Phit yang nyata berdiri di seberang pagar sepinggang.

“Hai,” balasnya pelan. Beruntung angin tidak sedang berhembus. Kalau iya, Phit yakin suara itu lenyap dibawa angin sebelum ia bisa menangkapnya.

“Memangkas semak di siang hari, apa tidak panas?”

 “Ini pohon aprikot,” balas gadis itu dengan wajah ini-apel-bukan-pisang, yang sukses membuat Phit berkeringat dingin.

Phit tidak terbiasa merendahkan diri, jadi dia membalas sebisanya dengan, “maaf,” pelan.

“Lagian ini masih awal siang. Tadi pagi aku sibuk bersih-bersih.”

Gadis itu terhentak sedikit. Mungkin teringat akan nasihat orang tua untuk tidak berbicara dengan orang asing.

Ketika hening mengambil alih. Phit menahan diri untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri. Pikirannya berlayar ke mana-mana sambil memerhatikan gerak tangan gadis itu.

Ketika sesuatu menerangi ruang gelap di pikirannya, tepat saat gadis itu berucap ringan, “Pohon aprikot paling baik dipangkas di musim panas.”

“Wah, benarkah?!”

Bukan tanggapan yang tepat untuk terlalu bersemangat. Tapi, Phit benar-benar sedang gembira.

Seperti hujan di musim panas yang terlewat dari prediksi, ide datang tanpa diminta. Phit tahu apa yang sangat ingin ia lukis hari ini.

“Eum, bolehkah aku melukis pohon aprikotmu…”

Gadis itu mendongak dan mengangkat satu alis.

“… dan kamu?”

“Bolehkah aku berpose sambil duduk?”

“Tidak masalah. Kalau boleh tahu, kenapa?”

“Darah rendah.”

 

Advertisements

7 thoughts on “Gadis Aprikot di Musim Panas

  1. halo, kak cherry! hihi, ini cute sekali ya si phit nyari inspirasi eh terus malah nemu cewek juga hahahaha :)) terus aku suka ih namanya phit, kayak nama thailand ya hahahahaha. good light story, kak cherry! keep writing 🙂

    Liked by 1 person

  2. tapi asik ya si phit ini sambil menyelam minum air wkwk XD kak cherry haluuuuu, nabil kangen ihhh ♥ di awal-awal banyak kalimat yang berima ya kak? nabil suka sekali, cantik aja gitu dibacanya 🙂 ide tulisannya juga kerasa “kak cherry banget” pokonya menyenangkan sekali untuk dibaca ♥

    Like

    1. haiiiii nabil, ♥ ♥ ♥
      makasih udah baca. aw,nabil perhatian aja deh. aku aja ga tahu tulisan yang ‘aku banget’ kayak gimana x,D

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s