Jakarta Malam

Jakarta Malam by titayuu

Photography by Stephen Hybarger

.

Di balik sepinya Jakarta di malam hari.

.

Tak pernah ada yang menarik dari Jakarta pukul satu malam selain lampu-lampu dari gedung tinggi dan kesunyian. Jalanan seolah mengubah diri sebagai lapangan luas dalam sekejap. Melupakan bagaimana ia lelah dipenuhi berbagai macam kendaraan lebih dari dua belas jam. Tengah malam adalah saat yang tepat untuk mengistirahatkan diri, kecuali aku yang masih duduk dalam mobil usai membeli kopi panas di kedai yang buka 24 jam sambil mendengar kompilasi instrumen dari pemutar musik.

Belakangan, istirahat bukan lagi prioritas utama. Sebelum pekerjaan mengizinkan dan berbagai macam kebutuhan menjelang hari pernikahan terpenuhi, aku tidak pernah merasa tidur nyaman seperti saat masih menjadi anak-anak. Ingin menuruti pemikiran yang bergelayut di kepala saat memejamkan mata, tapi Dion tentu akan memarahiku lagi dengan perkara yang sama. Seperti yang dilakukannya sekarang.

“Ini lagi di jalan, tenang saja,” ucapku sembari menyalakan mesin mobil, siap menjalankan kendaraan. “Kamu kan tahu aku bisa jaga diri.”

“Tapi tetap saja aku yang mesti tanggung jawab kalau kamu kenapa-kenapa,” kudengar dia menghela napas di balik telepon. “Gak baik cewek keluar tengah malam sendirian.”

Refleks tawaku pecah. Dion tidak pernah bersikap protektif sejak tahun lalu dia melingkarkan cincin di jari manisku. Dia tahu kalau aku bisa jaga diri bahkan tanpanya. Tak pernah meminta untuk mengantarku ke suatu tempat selama aku bisa melakukannya sendiri. Aku pun tidak pula berharap dijemput selain ia yang meminta. Melihat betapa ia mengkhawatirkanku akhir-akhir ini membuatku merasa agak asing, namun menyenangkan.

Gelas kertas—yang isinya nyaris habis—di atas dashboard sedikit bergeser ketika mobil melaju dalam keadaan pelan. Sambungan telepon masih menyala dan menghasilkan suara Dion yang sengaja kuatur dengan mode pengeras dari dalam ponsel. Dia masih mengomel, mengomentari ini-itu. Sedangkan aku masih mengemudi, menikmati jalanan yang lengang sembari sesekali menanggapi perkataannya dengan gumaman singkat agar dia berhenti sendiri.

“Pokoknya, aku gak mau kayak gini lagi,” katanya. Mungkin ini omelan terakhir hari ini, semoga saja. “Aku sebenernya juga gak bermaksud membatasi, tapi ini demi kebaikan, kan?”

“Iya, Pak!”

Pedal rem kuinjak perlahan di batas garis lampu lalu lintas. Sepanjang mata memandang tidak ada kendaraan yang melintas, hanya dua tunawisma yang berjalan terseret di trotoar. Namun sebuah mini bus berwarna hitam mendadak muncul di samping kendaraanku. Suara Dion masih memenuhi mobil selagi membahas persiapan pernikahan, tapi fokusku bukan berada  di sana. Minatku tertuju pada mobil itu.

Penglihatanku tidak bisa menembus kaca hitam mobil itu. Namun entah mengapa, mobil itu berguncang cukup kencang seolah sesuatu sedang terjadi di dalamnya. Lampu hijau belum terpampang, tapi mini bus itu telah melaju kencang—mungkin karena tatapanku kepergok oleh sang pengemudi. Otomatis, laju detak jantungku mengencang, aku pun ikut terseret dengan melajukan mobil dengan cepat.

“Halo, kamu masih di sana?”

Kucoba menenangkan diri selagi berkonsentrasi juga mengharap Dion tak lebih khawatir. “Yon, kayaknya nanti kamu bakal kutelepon lagi. Aku harus melakukan tugas mendadak. Maaf untuk kali ini.”

Karena sebelum mobil itu berlalu, lampu di dalamnya sempat menyala, dan seorang gadis segera membutuhkan bantuanku. Malam ini memang bukan jatahku untuk patroli sendirian, tapi aku tak ingin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi.  Meski setelah ini, Dion akan menceramahiku tanpa henti.

..

Advertisements

13 thoughts on “Jakarta Malam

  1. suka? enggak.
    sukak, iyak! pakai banget. awalnya mikir si cewek takabur banget kelewat percaya diri bisa jaga diri. haha, twistnya ciamik, cuman ada beberapa typos. apa ya, tadi, pokoknya salah satunya: dipenui. harusnya dipenuhi.

    Like

    1. Hai!
      iya karakter cewenya emang sengaja dibikin sangat percaya diri ehehe dan makasih koreksinya nanti segera diperbaiki..
      makasih udah bacaa!^^

      Like

  2. AAAAAA kak titaaa! maafkan aku baru bayar hutang sekarang, padahal janjinya udah dari 6 hari yang lalu ya hehehe.

    anyway anyway, ini aku suka sekaliiii! awalnya kukira kan kayak… wah ini dia kenapa coba keluar jam 1 malem, eh taunya lagi patroli ya. badass banget lagi patrolinya sendirian, terus ngejar penculik juga sendiri. hehehe. kusuka sekaliiii!

    setuju sama kak bee di atas, aku juga nemu beberapa typo termasuk dipenui itu. terus terus, bentuk baku-nya aja tuh saja, kak. atau kakak sengaja yang itu? lainnya sudah bagus banget kusuka kusuka kusuka! semangat terus yaa kak titaaa! ❤ ❤

    Like

    1. Hai evin! gak apa-apa kook.. sesempetnya kamu aja hehe
      Sebenernya si cewe udah bebas tugas dan mau pulang. tapi karena ada kejadian itu jadinya dia ngerasa harus ngejar juga xD
      iyaa aku kurang teliti masalah typo hehe makasih udah ingetiin! ❤

      Like

  3. Auwaaaaaa kak tita, ini ceweknya ga nyangka banget ternyata punya profesi jadi polisi. keren, keren banget! apalagi romensnya uhuuuuuuy, jadi pengen nikah ah kak tita mah wwkwkwk 😂 abisnya perfectly written banget, karakternya juga pada kuat jadi ke nabilnya asik. Si dion juga nih protektif banget, tapi emang wajar sih orang calonnya masih di luar jam 1 malem haha XD pokonya nabil suka banget banget sama ini ♥ selamat datang kembali kak tita (hugggggg)

    Like

    1. Hehehe nabill.. kamu masih kecil jangam kawin dulu xD
      Tapi emang kan ada larangan2 tertentu buat calon pengantin. Yang ga mau nikah aja cewe pulang malem bahaya xD

      Anw makasih udah baca nabiiill ♥

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s