Suave [4]

by fikeey

Even when the night changes. It will never change me and you.

Yoongi tahu tindakannya luar biasa egois ketika ia menekan tombol ‘kirim’ di sudut kiri bawah layar ponselnya; lantas menyingkirkan benda mungil tak berdosa itu ke nakas tempat tidur dan menarik selimut.

Sebuah pesan singkat untuk Sadie dan bahkan lebih singkat lagi untuk Namjoon—yang ia tahu akan tersebar di kamar obrolannya kurang dari sepuluh menit ke depan. Getar singkat dan layar yang berkedip-kedip menjadi jawaban atas pertanyaan bisunya—pasti beberapa sahabatnya saling melempar pertanyaan seputar: “Kau tidak apa-apa?” atau “Apakah terjadi sesuatu?”

Tapi sesungguhnya Yoongi hendak menendang semua perhatian itu jadi sebisa mungkin ia tak memedulikan bunyi notifikasi pun dorongan kecil untuk mengintip. Tidak. Pria itu tak bisa mengambil risiko kalau-kalau ada panggilan atau pesan dari pihak tertentu kembali meracuni pikirannya dan berakhir dengan mental breakdown lain. Tidak, tentu tidak. Sudah cukup lima jam terakhir ini ia habiskan tanpa melakukan apa pun sementara pikirannya berangsur lelah setiap detik.

Yoongi tak ingat kapan tepatnya ia mulai membiarkan dirinya diselimuti kantuk dan akhirnya menyerah. Yang ia tahu, pada detik pertama ia kembali membuka mata dan merasa awas dengan lingkungan sekitar, langit di balik jendela sudah gelap dan tirainya setengah tertutup. Lampu meja di nakas memendarkan cahaya temaram sementara penerangan utama di ruangan tengah beristirahat. Selimut masih membungkus tubuhnya namun ada tambahan massa lain di sebelah figurnya.

Care to share something with me?” Alunan suara Sadie berperan sebagai penangkal pikiran negatif di kepala Yoongi dan pria itu merasakan perutnya bergolak ketika konversasi tadi pagi kembali lagi. “Are you okay, Yoongi?” Sadie pastilah merasakan sesuatu dan fakta bahwa wanita itu menyebut namanya secara penuh, ia tahu ia berutang penjelasan.

No. I’m not okay.” Suara Yoongi teredam selimut. Dan ya, ia tidak baik-baik saja. Tidak setelah panggilan telepon pagi ini dan seberapa kuat pun ia menegarkan diri, Sadie pasti bisa menebak ada yang salah. “They called me this morning.”

Pria itu merasakan tangan Sadie yang tengah memberikan usapan ringan di kepalanya berhenti sejenak sebelum berhasil menguasai diri dan menyuarakan pertanyaan kecil. “Dan?”

“Konversasi canggung.” Jawabannya lebih terdengar seperti cemooh; bahkan bibir Yoongi melengkungkan senyum miring. “Mereka mengetahui tanggal pertunjukannya—entah dari mana—lalu ….” Lalu ada janji yang terselip bahwa mereka akan hadir dan menonton.

Yoongi memilih untuk diam dan ia berterima kasih sebesar-besarnya pada Tuhan karena Sadie tidak mengajukan pertanyaan lain. Sentuhan wanita itu di puncak kepala menjadi satu-satunya hal yang seolah menjaganya tetap waras dan mencegah pikiran negatif memberondongnya. Indra penciumannya dipenuhi oleh parfum favorit Sadie dan di tengah ruangan yang sunyi, Yoongi menelurkan pertanyaan pertamanya.

Stay the night, please?

Pria itu bisa menebak senyum kecil Sadie. “Of course, Yoon.”

[Needing the other]

It’s his parents. They called him this morning.” Sadie berujar pelan—hampir berbisik—pada Namjoon lewat ponsel yang berada di antara bahu kanan dan telinga; sementara kedua tangannya sibuk mengalirkan air ke bak pencuci.

Ia mendengar Namjoon merutuk pelan setelah pesannya tersampaikan. “Hubungan mereka memang tak terlalu baik sejak Yoongi memutuskan untuk mengejar karir di bidangnya sekarang.” Lalu si lawan bicara menghela napas. “Yoongi tak cerita maksud orangtuanya menelepon? Jujur, Sadie, aku tak pernah melihatnya seperti ini.”

Kedua alis wanita itu mengerucut dan helaan napasnya terdengar frustrasi. “Orangtuanya mengetahui jadwal pertunjukannya, Joon, dan mereka berjanji akan hadir untuk menonton. Apa menurutmu ini hal yang buruk?” tanyanya balik dan sebelum ia menyadari, suaranya berangsur pelan di setiap kalimat. Bahkan air dari keran terasa dua kali lebih dingin sekarang.

Just … just make sure that he’s alright for now.” Namjoon menjawab setelah beberapa detik yang hening; dan dalam hatinya Sadie bahkan sudah bertekad akan melakukan hal demikian. “Kita semua akan hadir di sana dan memastikan semuanya baik-baik saja. Untuk sekarang … lebih baik Yoongi memperhatikan keadaan dirinya dulu.”

Ya, betul begitu. Sadie menganggukkan kepala walaupun ia tahu sang lawan bicara tak bisa melihatnya. Well, tak heran jika kelompok pertemanan Yoongi menjadikan Namjoon sebagai gudang pemberi solusi.

Okay.” Sadie mengiakan sembari mengeringkan tangan; piring dan sendok sudah tertata dan setidaknya Yoongi sempat makan beberapa suap beberapa saat yang lalu. “I’ll make sure he’s okay.”

[Washing something]

Suhu tubuh pria itu belum menunjukkan angka yang bagus; terbukti dari raut wajah Jimin yang dipenuhi kerut khawatir sementara di hadapannya, Josie berbicara dengan suara rendah. Yoongi tak tahu apa yang mereka bicarakan—dan sesungguhnya ia tak peduli—karena kepalanya masih terasa berputar-putar sekarang dan lagi cuaca yang dingin sama sekali tak membantu.

Hal terakhir yang ia ingat adalah suara sahabat-sahabatnya di loudspeaker ponsel, bau sup yang membuatnya mual, dan Jimin yang sekonyong-konyong berlari menuju pintu dengan meninggalkan kalimat: “That must be Sadie.”

Yoongi terbangun kedua kalinya dengan suasana yang jauh lebih hangat, kepala yang tidak setengah jalan hampir meledak, dan rasa lapar di perut kala indra penciumannya menangkap sesuatu. Ia berguling dari sisinya hanya untuk disambut dengan suara gemerisik kertas dari bagian tempat tidur yang lain.

“Yoon? Are you awake?

Yeah.” Pria itu menjawab pendek, suaranya masih serak dan tak nyaman. “What time—“

“Hampir tengah malam.” Sadie menjawab sembari mengumpulkan berkas-berkas kerjanya ke sebuah map plastik yang Yoongi tangkap memiliki label bernama: Plan Bulan Februari. “Jimin menungguimu seharian dan ia meminta Josie memeriksamu. Demammu parah dan kau tak meneleponku.”

Yoongi tidak menyadari bahwa bibirnya tengah mengerucut sempurna pun ketika ia melayangkan sebelah tangannya dan meraih jemari Sadie. “Don’t want to make you worried.”

But having Jimin called me this morning saying you’re having this bad fever feels even worse, okay?” Wanita itu menghela napas. “Jangan lakukan lagi.”

I will, and I’m sorry.”

Sadie tak menjawab apa pun, hanya mengembalikan remasan tangan Yoongi dan menyisir helai gelap pria itu dalam gerakan lambat—terasa lembab; setidaknya menjadi tanda bahwa demamnya turun. “Are you hungry?

Yoongi mendongak, menatap Sadie dengan dwimaniknya yang kelu. “Very.” Dan dijawab dengan senyum kecil Sadie sebelum wanita itu beringsut menjauh untuk meraih nampan di nakas. “Are you staying?

Of course.” Sadie menjawabnya sambil memastikan bahwa Yoongi memegang sendok di tangan dalam posisi benar pun mangkuk yang stagnan. “I’m not letting you out of my sight.”

[One of them is sick]

Yoongi tahu ada yang tidak beres—sangat tidak beres—ketika ia mendapati Sadie tengah berada di apartemennya pada Jumat sore, duduk di sofa, dan keadaan ruangan yang seratus kali lebih rapi dari biasanya.

Bukan berarti ruangan apartemen Yoongi terlihat seperti kandang babi di hari-hari biasa, sih, tapi kali ini ia bisa membaui aroma citrus memenuhi ruangan, tumpukan DVD yang berjajar rapi, serta lampu dapur yang menyala. Sebentar. Apakah ia salah mencium atau tiba-tiba perutnya keroncongan?

“Hei, Yoon.” Sadie melemparkan senyum dari tempatnya duduk sebelum bangkit dan berjalan ringan ke arahnya. Wanita itu tidak mengutarakan apa pun sementara tangannya bekerja melepas syal yang melilit pun beanie yang bertengger di kepalanya. Yoongi masih belum membaca situasi bahkan ketika Sadie menariknya ke dapur dan mendudukkannya di salah satu kursi. “Your favorite dish.”

Iya, katakan Yoongi tidak peka karena pria itu baru menyadari apa maksud tersembunyi dari perlakuan Sadie hari ini—menawarkan mencuci piring, menyiapkan air hangat, duduk bersisian di sofa sambil menonton film horor (yang notabene menjadi genre yang paling Sadie benci), bahkan terlewat perhatian dengan menyuruh Yoongi tidur ketika ia baru menguap satu kali.

Yoongi duduk di ujung tempat tidurnya sementara Sadie sibuk membereskan pekerjaan yang tadi siang sengaja ia bawa kemari dengan sedikit kalimat penegas: “Aku bawa mobil. O, dan aku akan memastikan kau sarapan makanan asli besok pagi. Tak usah mengantarku ke depan, kau tidurlah.”

Jadi pria itu berdeham kala tangan kanan Sadie mencapai pintu. “So what do you want?

Sadie berhenti di tengah-tengah—masih belum membalikkan badan setelah jelas-jelas tertangkap basah. Yoongi ingin sekali menertawainya habis-habisan tapi melihat lengkungan jenaka bibir Sadie, ia mengurungkan niatnya dan kembali pada ekspresi menghakimi.

Come shopping with me this weekend, please?

[Spoiling the other]

Kencan pertamanya dulu bersama Sadie tidaklah bertempat di sebuah restoran mewah yang menyediakan segudang makanan buatan chef profesional pun suasana yang mampu membuatmu merasa seperti miliarder selama dua jam. Tidak. Bukan karena kantongnya menyedihkan atau seleranya buruk, lebih karena kencan pertamanya terjadi ketika Yoongi menculik wanitanya dari acara pagelaran runway atau apalah itu namanya.

Keduanya berakhir duduk di kedai kecil—dengan latar belakang aroma soju dan pekik klakson dari jalan raya. O, bahkan mereka juga menyaksikan pertengkaran kecil orang mabuk versus orang yang lebih mabuk; jadi Yoongi menarik lengan Sadie demi tempat duduk yang jauh dari arena pertempuran. Bibi pemilik kedai harus dua kali memastikan bahwa pasangan berpakaian formal ini tidak salah tempat—Sadie dengan gaun pastelnya dan Yoongi bersetelan lengkap dari acara after party.

Namun kemudian cekcok di kedai kecil itu nyatanya berakhir runyam dan Yoongi harus menundukkan kepala ketika sebuah gelas melayang ke arah mereka. Hah. Dengan lembaran won di meja serta makanan setengah habis, keduanya bertolak menuju supermarket terdekat.

“Aku luar biasa lapar,” keluh Sadie waktu itu. “Atasanku memaksa supaya kami tidak makan apa pun tadi siang agar gaunnya muat. Hah. Tahi kuda.” Oke, sepertinya beberapa teguk soju benar-benar sudah membuat wanita itu sedikit oleng.

Yoongi memutar otaknya demi mengingat resep paling sederhana yang pernah Seokjin ajarkan—persetan, resep masakan yang dulu sering menyelamatkannya semasa kuliah pun tidak apa-apa, karena Sadie yang—hampir—mabuk dan lapar adalah jenis Sadie yang benar-benar perlu makan. Wanita itu bahkan memaksa akan naik ke keranjang dorong apabila Yoongi tidak selesai memelototi jenis daging yang perlu ia beli.

Dan penderitaannya hampir berakhir ketika mereka sampai di bagian bumbu. Sebentar lagi, Champ. You can do it.

Tapi toh sesampainya mereka di apartemen dan Yoongi mulai membuka satu per satu belanjaannya hari ini; Sadie melangkahkan kakinya menuju konter, mengangkat tubuhnya naik, dan memerhatikan lamat-lamat punggung prianya.

Masakannya tak jauh dari ramen instan dan beberapa kaleng minuman bersoda—Sadie bersikeras ingin memasak bersama saat kencan kedua mereka, jadi ia meminta Yoongi menyimpan daging dan sebagian besar pelengkapnya untuk digunakan kemudian.

“Bisakah kita melakukan kencan kedua besok?”

Di tempatnya, Yoongi hampir tersedak. “Ya, tentu.”

[Shopping together]

—-—

  • bear with me, masih sisa 2 chapter lagi :’)
Advertisements

2 thoughts on “Suave [4]

  1. MIN YOONGI YANG SAKIT AKU YANG CEMAS PADAHAL AKU BUKAN SADIE???????

    T^T

    Aaah, terpecahkan sudah kenapa Min Yoongi so lonely di malam tahun baru … ((jadi makin ingin peluk))
    Dan sejauh ini 3 part sebelumnya lebih menunjukkan Yoongi yang super duper care, dan taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Kafika menyuguhkan mega giga care girlfriend Sadieeeeeee </3 </3 </3

    Semoga kaleyan bahagia selalu gaes :'

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s