Suave [5]

by fikeey

Baby I’m perfect for you, so let’s start right now.

Seharusnya kegiatan ini bisa selesai dalam waktu sedikitnya lima belas menit; well, setengah jam apabila terdapat banyak pilihan dan satu jam paling lama apabila sifat perfeksionisnya berhasil mengambil alih. Iya, sesimpel itu sebenarnya. Masuk, bicara pada petugas di belakang konter, lalu memilih, bayar, pulang. Dan masalahnya dengan Sadie bisa dengan cepat terselesaikan.

Tapi nyatanya di sinilah Yoongi—duduk di belakang setir, lagu slow rock dari radio menjadi latar belakang dengan volume pelan, dan kesepuluh jemari pucat yang tak berhenti berdebum di permukaan dasbor. O, Tuhan. Setelah dipikir lagi seharusnya Yoongi tidak melajukan mobilnya ke sini walaupun kemarin idenya terdengar bagus—brilian malah.

Karena Min Yoongi tidak mengunjungi toko bunga. Tidak sekali pun. Tidak dalam kondisi seputus asa apa pun. Tidak. Tidak. Tidak.

Namun kemudian ingatan berupa insiden dua hari yang lalu bermain lagi di kepala lantas mengolok-oloknya tanpa ampun. Well, walaupun ego Min Yoongi setinggi bangunan Burj Khalifa, pria itu rela menghancurkannya dengan sekali jentikan jari apabila segalanya berhubungan dengan Sadie. Jadi ia menghela napas panjang-panjang dan melarikan sebelah tangan untuk mematikan mesin mobil.

It’s now or never, Champ. Lagi pula jalanan sekitar sini sepi.

Ada denting halus yang berasal dari atas kepalanya ketika Yoongi membuka pintu kaca bertuliskan nama toko. Pada detik pertama ia melangkahkan kakinya masuk, bau-bauan menyengat namun menenangkan memenuhi indra penciumannya ditambah dengan pemandangan berupa warna-warni bunga yang tak mampu ia beri nama satu per satu. Hell, ia bahkan sudah berhenti selama beberapa detik di luar tadi karena terlalu serius menentukan pilihan: bunga apa yang harus ia berikan untuk Sadie?

Penjaga tokonya adalah seorang wanita di umur lima puluhan, memiliki senyum yang ramah, dan postur tubuh penyayang. Iya. Mudah ditebak dari caranya menyapa Yoongi yang masih mempertahankan ekspresi tolol itu di wajahnya—dwimanik yang terbuka lebar dan mulut menganga.

For your lover I assume?

Yoongi mengangguk pelan. “Yeah.”

Dan detik berikutnya—seperti layaknya fiksi yang mengambil latar di sebuah toko bunga, sudah pasti sang penjaga menjelaskan apa gerangan arti masing-masing simbol. Untuk menyatakan cinta, untuk menyatakan sayang, untuk menyatakan cinta dan sayang tapi bertepuk sebelah tangan, bahkan untuk menyatakan cinta dan sayang tapi terlambat.

Yoongi tengah mendengarkan sang pemilik toko menjelaskan arti bunga lili—atau anggrek? O, persetan. Lima belas bunga terlewat dan Yoongi tidak sedikit pun mengingat beda penampakan bunga mawar tipe A dan tipe B.

“Jadi apakah ada yang menarik perhatianmu?” tanya si wanita. Semuanya menjelaskan tentang kalimat ‘aku cinta padamu’ dalam berbagai situasi tapi sumpah demi Tuhan bukan bunga jenis itu yang ia cari—faktanya, Yoongi belum sempat bertanya tapi bahasa bunga itu sudah keburu dijelaskan padanya.

Berdeham pelan, Yoongi menegakkan punggung dan melipat kedua tangannya di konter. “Um … ini memang akan terdengar bodoh dan tak masuk akal, tapi …,” ia membiarkan kalimatnya menggantung dan menilai ekspresi sang lawan bicara sebelum melanjutkan, “bisakah kau mencarikanku bunga yang memiliki arti ‘maafkan aku melupakan kencan kita karena aku tertidur’ atau ‘bisakah kau menjawab teleponku sekali saja?’”

[Buying flowers for the other]

Taking her to a fancy restaurant?

Nope, she’s going to beat me to it.” Yoongi menghela napas. “Lagi pula, ini tidak akan terdengar luar biasa apabila sahabatmu sendiri adalah pemilik restoran yang dimaksud.” Ia melempar kalimat itu sembari menatap Seokjin yang membalasnya dengan senyum kecil.

Well ya, ia tahu Seokjin bisa membantunya kelewat banyak bahkan sampai pada titik menjadikan restorannya sebagai tempat makan privat untuknya dan Sadie tapi tidak. Bukan ini hal yang ingin Yoongi lakukan.

Take her to an exhibition?” Namjoon buka suara. Sebelah tangannya meraih croissant yang masih hangat di tengah-tengah meja; lalu menebar senyum meminta maaf ketika kain sweternya menyenggol wadah tusuk gigi.

Yeah, exhibition. Eve can help you with that.” Hoseok menambahkan sembari sibuk merapikan kembali kecelakaan kecil yang dibuat Namjoon beserta kebiasaannya menyenggol sesuatu. Namun Yoongi lagi-lagi menggelengkan kepala tanda tidak setuju—atau belum.

Di sebelah pria itu, Taehyung mengempaskan cangkir kopinya ke meja—seolah baru saja mendapat ilham. “Take her to a movie.”

Boring.” Enam suara dipadukan menjadi satu.

Take her to my movie?

We all watched it twice already.” Yoongi memutar bola matanya. “I can even remember your lines and you’re the main actor.”

So there’s this desert in Nevada—“

“Jeon, I’m not taking her to Nevada if that’s what you mean.” Yoongi memotong kalimat si anggota termuda sementara lima yang lain sibuk menahan tawa. Namjoon bahkan melarikan tangannya, mengacak rambut Jungkook sementara yang dimaksud duduk bersandar meniup poni.

Seokjin—seperti biasa—berperan sebagai penengah. “Ingat musim panas tahun lalu? Sadie terkena heatstroke dan Yoongi panik luar biasa,” katanya, lalu disambut anggukan setuju dari tiap titik. “Membawanya ke Nevada sama saja menyuruh Yoongi mati pelan-pelan.”

Guys, ayolah, kalian melupakan satu kejutan yang bisa mengalahkan benda atau kalimat apa pun.” Dari tempatnya di sebelah Taehyung, Jimin menelurkan suara dibalut nada kemenangan. Ia membetulkan posisinya, mencondongkan tubuh ke depan, lantas melipat kedua tangan di meja rendah. “You’re not going to regret it, I guaranteed.” Dan pandangannya dengan telak menyuruh urat penasaran Yoongi menegang.

And the thing is …?”

Something involves a ring, a finger, and a diamond.”

[Competing]

Who told you to buy a human-sized mirror when the lift is broken, for God’s sake?

“Yoon, liftnya rusak setelah kau datang menjemputku dan kita pergi, oke?”

Who told you to rent a room on the fifth floor?

“Seseorang menyuruhku untuk menghemat biaya penyewaan apartemen dan kebetulan pihak gedung menawarkanku ruangan setengah harga apabila aku mengambil ruangan di lantai lima alih-alih lantai dua.” Sadie menjawab dengan satu tarikan napas, memastikan kalimat sarkasmenya sampai di telinga si lawan bicara yang masih memberengut, dan menyembunyikan senyumnya sendiri. Langkahnya terhenti sejenak ketika Yoongi mengulurkan tangan untuk membuka pintu tangga darurat menuju lantai tiga sebelum permainan ‘siapa yang menyuruh’ ini kembali berlanjut.

Who told you to—“

Asking you to help me with this thing? I don’t know, because you’re my boyfriend?

Dan Sadie yakin dengan bisunya Yoongi, ia tahu pria itu tengah mati-matian menahan diri karena tersipu. Ha. Mereka memang jarang menggunakan ungkapan demikian secara terang-terangan namun ketika salah satu membawanya ke permukaan, maka yang lain akan diam tertegun lalu pipinya memerah.

Screw this, I’m old. Give me a minute.”

Sadie membantu Yoongi menyandarkan cermin barunya ke dinding sementara lampu neon di ruangan itu menjadi saksi atas figur keduanya yang duduk bersisian sambil meregangkan otot tangan dan kaki. “I’ll make you everything. Kulkasku baru kuisi kemarin. Kita makan setelah ini, oke Yoon?”

Min Yoongi yang kelelahan adalah tipe Min Yoongi yang akan berubah manja seperti kucing angora kurang kasih sayang.

“Buatkan aku puding dan minuman juga.”

“Ya, tentu.”

“Dan popcorn.”

Anything.” Sadie tersenyum. “Dua lantai lagi, ya? Ayo.”

Give me a kiss first.”

Oh my God, Min Yoongi!”

[Being old together]

Yoongi berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat rencana balas dendam paling rapi, paling menyakitkan, dan paling menyenangkan hingga ia bisa tertawa-tawa di atas penderitaan orang. Iya, pria itu sudah merangkai segalanya selama dua jam terakhir ini sembari duduk di permukaan lantai basement yang kaku, dingin, dan tangan terikat.

… iya, terikat di belakang tubuhnya selama hampir satu setengah jam.

“Apakah aku lupa atau Jimin memang tidak mengatakan apa pun soal kelakuan sepupu kecilnya yang mirip psikopat berdarah dingin?” Yoongi mendengus. Bokongnya hampir beku dan mengingat ini masih bulan Januari, duduk tanpa alas, dan berada dalam keadaan menyedihkan lantas memaksa otaknya untuk menyiapkan balasan super jahat.

Dari belakang tubuhnya, Yoongi merasakan Sadie menggeleng. “Tidak, setahuku tidak. Ia hanya bilang bahwa sepupunya senang bermain penjahat dan sandera; dimana ia berperan sebagai penjahat. Itu saja.”

“Tolong berikan alasan mengapa aku menerima permohonan Jimin sementara ia pergi ke luar bersama Josie dan menikmati hidangan di restoran Seokjin.”

“Uh ….” Sadie membiarkan suaranya bergantung di udara. “Kau bilang bahwa Jimin pernah membantumu ketika kau kehabisan ide untuk sesuatu? Kau menjelaskan seperti itu ketika meneleponku.” Lalu Yoongi merasakan tubuhnya menegang, ah ya, dan pertemuannya bersama enam sahabatnya yang lain akhir Minggu kemarin terbayang lagi. Jimin memang memberinya ide paling fantastis, Yoongi mengakui. “Ada yang salah, Yoon?”

“T-tidak, tidak.” Dan pria itu benci bagaimana ia terdengar tak yakin—ditambah tergagap pula. “Kau tak melihat ada benda tajam atau apa pun? Tanganku kebas, demi Tuhan, dan bokongku beku.”

Sadie melepaskan tawa rendah dan Yoongi bisa membayangkan wanita itu mati-matian menahannya. “Bantu aku bergerak, kupikir aku melihat gunting di dekat lemari cat,” katanya; dan Yoongi mengiakan tanpa berpikir dua kali.

Dua puluh menit mereka habiskan. Dua puluh menit waktu yang panjang demi membuat gunting mungil-hampir-rusak yang Sadie temukan untuk memotong tali tambang tebal yang mengikat kedua tangan mereka. Hal pertama yang Yoongi lakukan setelah berhasil bebas adalah meregangkan ototnya, memastikan bokongnya tidak betulan membeku, dan tentu saja … merutuk sepenuh hati. Ia tak akan berhenti sebelum Sadie mengulurkan tangan dan membekap mulutnya.

“Kau mengajarkan yang tak baik, Yoon, bagaimana kalau sepupu Jimin mendengarnya dan mempraktikan kata-kata itu di depan orangtuanya?”

“Itu balasan bagi orangtua yang meminta tolong pada keponakannya dan keponakan yang meminta tolong pada sahabatnya untuk menjaga seorang psikopat kecil.” Yoongi menjawab asal, lantas menuju anak tangga pertama.

Detik pertama kemunculan mereka disambut oleh pekik seseorang yang dibuat-buat menjadi galak, pedang plastik yang dituding-tuding, serta serentet kalimat berisi: “Kembali ke basement untuk kuikat.”

Tapi, tidak. Yoongi’s tired of those bullshits, jadi ia membalikkan tubuh menuju piano gigantis di ruang tamu—yeah, kemampuan mengingat ruangnya sebagus itu ketika tadi sore Jimin mengajaknya berkeliling rumah. Sementara Sadie melancarkan segumpal penuh janji untuk menraktir piza—yang jelas-jelas dilarang, menurut Jimin—Yoongi melongokkan kepalanya dari pintu.

“Oi, Kid. Ingin merasakan dua jam berperan sebagai orang kaya dan memiliki panggung konser sendiri?”

Si anak lima tahun berwajah galak dan hidung penuh ingus menoleh lalu berjalan layaknya bos mafia—itu peran hari ini, katanya—menuju Yoongi. Memastikan si kecil sudah duduk di salah satu sofa sembari menumpu satu kaki di kaki lain, Yoongi mengalirkan nada-nada pelan ke ruangan. Awalnya si penonton bosan—Sadie bahkan sudah bersiap sembunyi—namun ketika Yoongi mencapai bagian klimaks lagu dan nadanya beringsut meninggi, ada dwimanik yang terfokus ke satu poin, mulut menganga, serta kesepuluh jemari menggenggam pinggiran sofa.

Sadie berpikir bahwa posisinya aman dan berbalik demi menyiapkan cokelat panas. Ia sudah ratusan bahkan ribuan kali menonton pagelaran kecil Yoongi namun wanita itu tetap tak bosan menggumamkan tiap nadanya selama bekerja.

Segalanya berakhir baik. Si anak tidur tepat waktu dan Jimin … membeku di bibir pintu.

Don’t ask me to babysit him again. Call Taehyung instead, he’s better with kids.” Yoongi menggerutu ketika Jimin mengantarkannya ke pintu.

No, I’ll make sure I won’t.” Jimin menelurkan senyum lebar. “But I can’t promise if my aunt will.”

Kill me instead.”

[Dealing with children]

Yoongi hampir lupa apabila menyangkut perayaan hari ulang tahun, maka bukan acara kecil-kecilan Seokjin yang perlu ia waspadai, tidak sedikit pun; melainkan milik Hoseok yang selalu membawanya pada ingatan masa lalu. Well, kemudian bayangan dirinya yang masih membawa ransel penuh buku ke mana pun, berkumpul di suatu klub malam murahan, lalu melakukan hal-hal di luar akal sehat kembali lagi.

Serius. Hoseok pernah membuat keenam sahabatnya merangkai koreografi selama dua menit penuh sebagai kado. Berikan ia kado itu atau menari secara live di meja bar. Yoongi bahkan berpikir untuk melakukan operasi wajah sekaligus membuat identitas baru setelah menunjukkan kadonya untuk Hoseok di tengah-tengah ruangan. Berengsek memang.

Yoongi berpikiran bahwa mungkin setelah masa-masa itu berlalu Hoseok akan sedikit lebih jinak dalam menentukan isi acara ulang tahunnya sendiri. Tapi tidak. Sedikit, sih, karena kali ini Hoseok tidak mengikutsertakan koreografi atau apalah itu namanya.

Sing us a song!” Hoseok berteriak dari balik gelas birnya; hidung memerah dan cara tertawa yang mulai tak terkendali.

Yoongi yang sedang tak mabuk sudah pasti akan melakukan segala cara untuk menolak—pura-pura sakit, atau akan menghadiri operasi katarak dalam satu jam, atau bahkan mencampur minuman Hoseok dengan obat tidur. Tapi yang kala ini sedang on board adalah Min Yoongi yang sedang mabuk dan Min Yoongi yang sedang mabuk adalah jenis Min Yoongi yang memiliki perbedaan 180 derajat dengan Min Yoongi tipe normal.

Jadi dengan berbekal senyum lebar—yang pasti akan ia sesali besok karena Jeon Jungkook yang baik hati tengah mengabadikan momen-momen ini—Yoongi meraih remote dari tangan Jimin dan mulai memilih.

Ketika ruangan itu penuh dengan suara memekakkan telinga dari speaker dan seluruh penghuni membaca judul lagu pilihan Yoongi, ada kelejat lain yang menyuruhnya berdiri di depan Sadie. Sementara enam sahabatnya menyerukan teriakan super berisik dan siulan tak berhenti, lalu Eve dan Josie menganga di posisi masing-masing, ekspresi Sadie adalah satu-satunya yang menarik perhatian.

Tidak, Sadie tidak duduk di sana dengan dwimanik penuh pandangan cinta—ew. Kenyataannya wanita itu memasang tampang terkejut, sebelah tangan mencengkram leher botol mineral kelewat erat, dan—

So 1, 2, 3 take my hand and come with me because you look so fine and I really wanna make you mine!”

Lalu ruangan kembali dipenuhi dengan siulan serigala dan teriakan sinting sebagai latar belakang. Wajah Sadie memerah setiap detik suara Yoongi keluar lewat loudspeaker, tarian kecil yang memaksa telapak tangannya berinteraksi dengan wajahnya, dan beberapa adlibs menyedihkan.

Jungkook masih setia mengambil gambar sambil sesekali terbahak sementara lima yang lain kelihatannya tidak akan menutup mulut untuk beberapa menit ke depan.

Big black boots, long brown hair—

O, Tuhan siapa pun datanglah kemari dan bunuh Sadie.

I said are you gonna be my girl?

Min Yoongi sialan.

[Trying to seduce the other]

—-—

  • foreword from One Direction’s Perfect.
  • prompt source; the playlist.
  • thank you for reading anw!
Advertisements

One thought on “Suave [5]

  1. “bisakah kau mencarikanku bunga yang memiliki arti ‘maafkan aku melupakan kencan kita karena aku tertidur’ atau ‘bisakah kau menjawab teleponku sekali saja?’”
    .
    .
    .
    Mas abis berendem pake gula berapa karung bisa se so sweet ini?????

    Heuheu kawan sepergaulan tidak kalah so sweet mampus sajalah bisa kena diabetes ><

    Apalagi waktu Yoongi ngehandle ponakannya Jimin (ya biar juga ada misuh, tetep, tapi) jadi semakin ingin menyeret ke KUA setempat. ❤ ❤ ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s