Suave [6 – END]

by fikeey

You are the best thing, that’s ever been mine.

Sadie adalah jiwa pertama yang ia cari ketika gempuran tepuk tangan para pengunjung terdengar makin menjauh seraya kakinya menapak tangga demi tangga menuju ruang ganti. Pertunjukannya sukses dan walaupun Yoongi tidak mengambil terlalu banyak waktu panggung dengan memberikan sebagian besar keleluasaan itu pada artis kontemporer dan pemula, ia tetap merasakan perutnya bergejolak bangga. Dan tiba-tiba terbayar sudah segala rasa lelah yang selama enam bulan ini melingkupinya pun secuil rasa bersalah setiap kali ia memberi kritik langsung kepada para junior.

Well, Jimin pernah berkata padanya bahwa ia sempat mengobrol dengan seseorang di kamar mandi dengan mata merah dan bahu turun. Yoongi bertanya bagaimana rupanya dan detik kemudian ia menghela napas pendek. “Aku mengatakan suaranya terlalu lembut untuk nada yang kubuat, tapi aku yakin ia bisa. Ia hanya enggan mengeluarkan seluruh kemampuannya.”

“Mungkin kau terlalu keras padanya?” Jimin mengambil kemungkinan dan Yoongi sejujurnya super setuju dengan pendapat sahabatnya. Ya. Ia bisa jadi pengkritik paling pedas kadang.

Sosok Sadie dengan telak menariknya dari puluhan jabatan tangan dan ucapan terima kasih para penampil maupun junior yang selama ini bekerja dengannya, atau yang pernah membeli karyanya, bahkan satu dua yang kebetulan sempat mengobrol. Yoongi menyambut uluran tangan Sadie, menyandarkan dagunya ke bahu wanita itu sebelum mendaratkan sapaan di pelipisnya. Di belakang Sadie, enam sahabatnya yang lain masing-masing mengacungkan ucapan selamat.

Great job, seriously.” Namjoon menepuk bahunya. “Edith says hi. Tapi ia memintaku untuk merekam permainanmu.”

Hell, Yoongi akan memberikan DVD penampilannya secara cuma-cuma seperti biasa! Iya, ‘kan?” Hoseok terbahak dan Yoongi hanya bisa membalasnya dengan anggukan ringan serta ulasan senyum.

“Kita perlu mengadakan perayaan kalau begitu!” Jimin memutuskan di tengah-tengah tepukan bahu yang menerjang Yoongi.

Lamb skewers, lamb skewers.”

“Oi, tunggu hingga aku pulang dari Milan, please?

I’ll cook something!”

Dan setelah beberapa ucapan selamat serta janji untuk bertemu di kemudian hari, Yoongi berakhir dengan hanya Sadie di sebelahnya. Ia tahu akan ada sesuatu yang penting terjadi hari ini—Sadie tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya sebaik Namjoon dan sahabat-sahabatnya yang lain—dan ia berterima kasih diam-diam karena telah diberikan privasi. Well, alasan Namjoon yang pamit demi menyiapkan bahan ujian untuk mahasiswanya dan acara makan malam keluarga Jimin, pft, Yoongi terlalu lama berteman dengan mereka untuk mengetahui mana alasan betulan mana yang tidak.

Jadi ketika semuanya sudah pergi, ia berbalik menghadap Sadie. “They’re inside, right?

Wanita di hadapannya mengangguk. “Ya, dan mereka sangat bangga padamu, Yoon. Sangat bangga,” katanya; tak lupa melapisi tiap kalimat dengan nada menyemangati. “Kau bukan lagi remaja labil yang pergi dari rumah untuk melakukan hal yang dulu hanya bisa kau bayangkan, oke? You did it, and you don’t have any ugly excuses left to chicken out right now.”

Yoongi menghela napas. “Come with me?” tanyanya sembari mengulurkan lengan.

Sadie tersenyum dan menyambutnya. “Tentu,” katanya. “Nenekku juga ada di sana bersama yang lain.”

Okay, here we go.

[Meeting family members]

Jika Sadie bisa memutar balik waktu ataupun mencegah sesuatu terjadi, maka satu hal itu adalah kembali ke saat Yoongi berdiri di pintu apartemennya dengan senyum lebar sambil menunjukkan tiket perjalanan feri ke pulau Jeju. Ha. Siapa sangka ia bisa menang undian dari permainan sinting di supermarket; sesuatu seperti belanja sekian won untuk dapat satu undian dengan hadiah utama tiket feri.

Yoongi luar biasa senang kala itu dan Sadie tentu merasakannya pula. Prianya tak berhenti berbicara bagaimana ini adalah liburan yang baru sempat ia lakukan bersama sahabat-sahabatnya sejak musim panas tahun lalu, jadi ia menyetel ponselnya ke mode loudspeaker dan melakukan panggilan grup. Sadie tak bisa menahan senyumnya sendiri ketika dua menit kemudian dapurnya diisi dengan suara berisik hanya dari ponsel Yoongi.

Tapi jika semua itu dibayar dengan dirinya yang harus berlari-lari di lorong rumah sakit dan bertanya di mana ruangan nomor sekian berada, Sadie tak tahu harus marah atau menangis sejadi-jadinya.

Wanita itu sudah kepalang tahu lingkaran teman Yoongi kadang gemar melakukan hal spontan, mungkin menuju sinting. Entah ide siapa yang berisi tentang berkendara sambil menambah liburan ke kota lain sebelum pulang ke Seoul. Yoongi terdengar bersemangat di telepon, berkali-kali mengatakan: “Kita harus mencobanya kapan-kapan, oke?” namun panggilan telepon berikutnya justru memaksa Sadie untuk mencari tahu apakah pria itu masih baik-baik saja atau tidak sekarang.

Kamar 625 hanya beberapa meter di depan dan ia menangkap sosok Eve yang duduk di salah satu kursi. Sadie memperlambat langkah ketika Eve mendongak dan menawarkan senyum. “He’s alright. All of them are alright. Seokjin dan Jimin yang terparah, sejujurnya, mereka duduk di depan. Tapi semuanya baik-baik saja. Dokter sudah berbicara pada kami dan Josie sudah mengkonfirmasi.”

Thanks God.” Sadie menghela napas dan ia buru-buru mengiakan ketika Eve bertanya apakah ia ingin diantar ke ruangan Yoongi.

Dan di sanalah prianya; duduk menyandar pada tumpukan bantal dengan kepala dibelit perban serta beberapa plester di wajah dan tangan. Sadie mengambil kursi kosong di sebelah tempat tidur sementara Yoongi menatap figurnya lamat-lamat. Wanita itu sudah melatih seluruh kemarahan yang hendak ia tumpahkan tapi nyatanya yang keluar dari mulut adalah: “I hate you so much right now.”

I know.” Yoongi membalas pendek dan tersenyum. O, Tuhan, ingin sekali Sadie mengangkat mangkuk berisi potongan apel di nakas dan melemparnya ke pintu.

Don’t talk to me.”

You’re the one who talk.

Stop. Is this how you repay me for worrying about you when you literally told me you all want to replaying that good old time?

I’m sorry.” Yoongi membalas pelan—dan suaranya dilapisi oleh rasa bersalah yang terus-menerus muncul ke permukaan. Kendati demikian, pria itu masih tak menghilangkan senyum kecil dari wajahnya. “Aku ingin melakukan ini setelah kembali dari liburan, sebenarnya. Dan ini berhubungan dengan ide Jimin yang pernah kuceritakan. Kau tahu apa yang kulakukan di sana? Asking for advice like, literally asking. Aku tidak tahu bagaimana atau kapan mengatakannya tapi mereka bilang lakukanlah selagi ada kesempatan, jadi ….”

Sadie mendongak ketika Yoongi membiarkan kalimatnya menggantung. Wanita itu menaikkan sebelah alisnya dan Yoongi menangkap gelagat itu sebagai tanda untuk melanjutkan.

Have you seen a mummy proposing to his other half?

Iya. Dan Sadie tak bisa menghilangkan senyum lebar itu dari wajahnya semenit pun hingga esok pagi.

[Falling in love]

Sadie bukanlah seseorang yang kooperatif di pagi hari; tidak ketika ia terbangun dengan rasa pening berdenyut di tiap inci kepala, tidak ketika ia menyadari bahwa hari ini adalah hari Senin yang notabene memaksanya harus berangkat lima belas menit lebih awal jika tidak ingin mendapat tatapan galak di kantor nanti.

Tapi toh lembaran majalah pre-rilisnya akhir tahun kemarin diberi nilai tinggi dan mampu membuat atasannya menyunggingkan senyum tambahan sepanjang satu milimeter, jadi mungkin hardikannya nanti tidak akan terlalu galak kalau-kalau ia terlambat.

Satu-satunya aktivitas pagi favorit Sadie adalah berjalan menuju dapur, menyeduh teh, dan menunggu hingga ruangan itu penuh dengan aroma kesukaannya. Iya. Pisahkan dirinya dengan teh pagi dan seharian kau akan berhadapan dengan makhluk yang bahkan lebih buas dari tyrannosaurus-rex.

Tapi kemudian kakinya terantuk sesuatu—entah karena ia masih mengantuk atau lemarinya tiba-tiba berpindah posisi. Sadie hendak merutuk namun kata-katanya berhenti di tenggorokan ketika menyadari ruang tamunya penuh dengan kotak-kotak besar; beberapa memiliki label, beberapa lagi tidak. Ia menangkap salah satu bertuliskan: ‘buku’ lalu ‘music sheets’ bahkan ‘photos with those idiots’ dan yang lainnya, karena semakin Sadie membacanya satu per satu semakin aneh pula tulisan yang tertera di sana.

Sadie duduk di sofanya, tidak sedikit pun ada niat menghentikan senyum kecil yang merangkak menuju wajahnya ketika pikirannya mengingat kapan dan mengapa ruang tengahnya kini dipenuhi boks-boks raksasa.

Jadi selain benda berkilauan yang memeluk jari manisnya, Sadie memiliki alasan lain untuk merasa terus-terusan bahagia hari ini.

Tapi tentu, ia butuh teh dulu sekarang.

[Moving in together]

“Kau pernah mendapat D pada mata kuliah kalkulus?” Sadie bertanya dengan nada inosen di suatu siang sementara keduanya duduk berjauhan di ruang tengah dan masing-masing berhadapan dengan sebuah boks besar.

Dari balik boks bagiannya, Yoongi menghela napas. “Ya, itu karena tempat duduk Namjoon dipindahkan. Dosen kami tahu Namjoon berperan sebagai malaikat penyelamat setiap mata kuliah ini jadi ia diminta duduk sendirian di muka kelas sementara kami menulis surat perpisahan di lembar jawaban.”

Tawa Sadie membuncah kemudian.

“Hoseok bahkan menggambar penghuni Bikini Bottom di kertasnya dan ia mendapat E.” Yoongi melanjutkan sembari memilah-milah novel lamanya. “Jimin mengumpulkan kertas dengan gambar Luffy dan mendapat C. Mungkin karena gambarnya lebih bagus dibanding Hoseok.” Ia menghentikan kegiatannya sebentar sebelum melanjutkan. “Kau tahu apa yang lebih memalukan?”

“Hm?” Sadie menggumam.

“Saat kami ketahuan memalsukan tanda tangan orangtua Taehyung untuk mendapat izin tinggal di dorm kampus.” Yoongi terbahak. “Membersihkan kamar mandi satu gedung selama seminggu. Baunya seperti kandang babi mabuk yang ditinggali sekelompok sapi penderita antraks.”

Yoongi sempat menghindar ketika Sadie melempar bantal sofa karena sekali tertawa, wanita itu akan sulit berhenti bahkan sampai perutnya sakit dan ia mulai menangis. Ia tak tahu kapan akhirnya Sadie kembali tenang namun beberapa saat kemudian ruangan itu dipenuhi oleh lagu-lagu dari playlist wanitanya dan mereka telah kembali pada kegiatan masing-masing.

Buku-buku lamanya sudah ia pisahkan sesuai genre—dan abjad bahkan—jadi Yoongi menoleh pada Sadie yang masih sibuk memeriksa barang-barang pria itu sewaktu kuliah.

Where do I put my books?

Sadie mendongak dari tempatnya duduk. “Our,” katanya dengan nada menekan. “Where do I put our books.”

Awalnya Yoongi tidak mengerti maksud Sadie pun wajah wanita itu yang tiba-tiba berubah cerah, namun kemudian ia merasakan perutnya jumpalitan dan seperti terbang ke langit kesembilan—ew, berlebihan.

Hey, it rhymes.

[Doing chore around the house]

You know how my friends met with their significant other?” Yoongi bertanya di satu malam dengan nada pelan. Hari ulang tahunnya, dan beberapa jam yang lalu apartemen mereka dipenuhi oleh dua belas orang dan kue ulang tahun gigantis—sudah pasti buatan Seokjin.

Sadie menaikkan sebelah alis, meminta Yoongi untuk melanjutkan.

“Tidak semuanya romantis, hell, tidak ada yang romantis bahkan. Dan ketika kami saling bercerita pasti akan ada satu dua yang memasang ekspresi tak biasa,” jelasnya. “Kau tahu bagaimana Namjoon bertemu Edith? Di atas rollercoaster. Namjoon kalah taruhan dan harus naik wahana itu sebanyak tiga kali berturut-turut dan kali kedua, ia bertemu Edith yang gemetaran luar biasa.”

Di sebelahnya, Sadie tersenyum. “Yang lain?”

“Jimin.” Yoongi melanjutkan. “You know how flirty he is. Ketika ia membuat tulang kakinya cidera akibat pertunjukan yang terus-menerus dan kami membawanya ke rumah sakit, he shocked the hell out of us by suddenly running towards someone. Awalnya kami mengira Josie adalah saudara atau teman lama tapi kemudian Jimin bilang kalau tiba-tiba ia ingin berlari ke sana dan bicara dengannya.” Dan tawa rendah Yoongi menggantung di udara. “Jimin kembali sambil terpincang-pincang.”

And us?

Us?” Yoongi mengulangi pertanyaan wanitanya dan disambut dengan anggukan pelan. “Kau tahu? Aku bersyukur kau diputuskan secara sepihak dan memalukan waktu itu.”

“Jadi kau bisa berdiri dan mengeluarkan kata-kata rutukan kasar?”

“Ya, tentu.” Yoongi memamerkan senyumnya. “Tapi memang kelakuannya kelewat berengsek.”

Oh my God, Yoon!” Sadie terbahak sembari menampar pelan lengan pria di hadapannya.

Tapi toh memang benar dan walaupun pertemuan pertamanya dengan Min Yoongi sudah terlewat berbulan-bulan yang lalu, Sadie masih setia mengulang kembali setiap rangkai kejadiannya. Sadie bahkan masih menyimpan kertas kecil kumal yang digunakan Yoongi untuk memberikan nomornya; ketika pria itu menawarkan tumpangan pulang setelah menemukan dirinya duduk menyandar seperti orang sinting di lorong menuju kamar mandi bar.

Memalukan memang—sangat malah. Hah.

“Yoon.”

“Hm?”

“Jangan tarik selimutku lagi.”

Do we need to provide respective blanket?

Agreed.

[Pillowtalk]

—fin.

  • foreword from Taylor Swift’s Mine.
  • yey kelar! thank you buat yang udah ngikutin dari part 01 hehe 😀
Advertisements

One thought on “Suave [6 – END]

  1. INI MEREKA YANG AKHIRE NIKAH TRUS SIAPA AKU HINGGA MERASA BAHAGIA DAN BANGGA??????? T^T BERASA JADI ORTUNYA HEUHEU JALAN PANJANG 6 CHAPTER INI SUKA DUKA, DEMAM MERIANG, SEMUA DILALUI DAN AKHIREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE ADA KOTAK KOTAK PINDAHAN DAN ‘OUR BOOKS’
    .
    .
    .
    SIRAM SAJA DENGAN AIR PANAS MAKA BUBUR INSTAN ANDA SIAP SANTAP! ‘-‘)b
    Menjadi bubur ayam lengkap dengan suwiran ayam dan kerupuk udang so sedap so mantap jiwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Kafika astaganagabonar ini tuh lengkap banget dan both Sadie sama Yoongi melengkapi satu sama lain sampai aku tidak tega menculik Yoongi ke KUA bikos both of them deserve a happy ending!!! ❤

    Kafika thanks for creating this adorable journey of Yoongi and Sadie dan membuatku makin … termotivasi (?) untuk hidup lebih baik dan menemukan Yoongiku suatu saat nanti~ SYALALALALALALALA

    ❤ ❤ ❤

    KECE SEKALI INI KECEEE!!!

    KAFIKA KEEP WRITING! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s