Suatu Sore di Kantor

by aminocte

Aku sebenarnya penasaran, tetapi aku ragu membukanya di sini.

Ruang kerjaku sepi. Jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Semua rekan kerjaku sudah pulang. Komputer sudah kumatikan, semua barang bawaan sudah kumasukkan dalam tas. Tinggal sebuah paket terbungkus kertas kado bermotif bintang yang masih tergeletak di atas meja. Di atasnya ada nama dan alamatku. Tadi salah seorang rekan kerjaku yang menyerahkan paket itu kepadaku. Katanya, pengirim paket ini adalah Profesor R yang pernah mengajar kami di kampus. Aku mengerutkan dahi karena setahuku aku tidak terlalu dekat dengannya. Saat mengatakan hal itu, dia tersenyum penuh arti. Aku sempat menanyakan alasannya untuk tersenyum seperti itu, tetapi dia enggan menjawab. Reaksinya membuatku merasa kikuk. Kuputuskan untuk tidak membahas paket itu lagi dengannya.

“Kalau kamu penasaran, buka saja,” ujarnya.

Aku tersenyum sedikit, mengabaikan sarannya. Paket itu isinya cukup berat. Mungkin isinya buku atau alat elektronik. Aku sebenarnya penasaran, tetapi aku ragu membukanya di sini. Apalagi kalau rekan-rekan kerja lain sampai melihat. Lagipula, hanya karena paket ini dikirim oleh profesorku dulu, bukan berarti aku harus senang, ‘kan? Lain halnya jika yang mengirim paket ini adalah Profesor Y atau Asisten Profesor Z, mungkin aku lebih senang karena aku dekat dengan mereka dan mereka tahu hadiah seperti apa yang kusukai.

Mungkin sebaiknya kubuka paket itu di rumah. Namun, bagaimana kalau sampai ibuku tahu? Ibuku punya rasa ingin tahu yang luar biasa, melebihi rasa ingin tahuku terhadap hubungan bahasa Sansekerta dengan bahasa Yunani. Mengapa ‘lima’ dalam bahasa Sansekerta disebut ‘panca’, sedangkan dalam bahasa Yunani disebut ‘penta’? Tidakkah keduanya mirip? Nah, jika ibuku menyambangi kamarku tepat saat paket ini kubuka dan isinya berserakan di atas kasur, beliau tidak akan cukup sabar untuk menungguku menyembunyikannya. Pertanyaan demi pertanyaan akan menghujaniku, mulai dari siapa yang mengirim paket itu, kapan paket itu sampai di tanganku, hingga mengapa aku bisa menerima paket dari Profesor R yang notabene adalah teman SMA ibuku. Aku bisa menjawab dua pertanyaan pertama, tetapi tidak untuk yang terakhir. Kemudian, ibuku pasti akan menyuruhku untuk mengucapkan terima kasih dan mengirim hadiah balasan.

Untuk alasan itulah, akhirnya kuputuskan untuk membuka paket itu sebelum pulang. Kuperhatikan sejenak, paket itu ternyata dibungkus dengan sangat rapi. Dengan hati-hati, aku memutus pita perekat yang menghubungkan lipatan-lipatan kertas pembungkusnya hingga bisa kulepas tanpa harus merusaknya. Sebuah buku berjudul 1984[1] menyapa mataku. Aku mengigit bibir. Bagaimana bisa Profesor R tahu bahwa aku begitu menginginkan buku ini? Di bawahnya adalah CD album All My Demons Greeting Me As A Friend oleh AURORA[2]. Aku pernah mendengarkan dua lagu AURORA di YouTube dan kupikir keduanya sangat sesuai dengan buku itu. Gelap, sedikit mistis, dan mengingatkanku dengan karya-karya distopia. Aku tersenyum membayangkan betapa sesuainya hadiah ini dengan preferensiku sambil mengira-ngira mengapa Profesor R bisa mengenalku sejauh itu. Kupikir aku harus membalas kebaikannya dengan mengirim hadiah balasan meskipun aku tidak tahu harus mengirim apa. Mungkin kain etnik atau kerajinan khas tempat tinggalku. Aku bisa bertanya kepada ibuku soal itu.

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat dengan berpikir dan mengira-ngira, aku memasukkan kedua benda itu ke dalam tas. Kertas pembungkusnya kulipat rapi dan kuselipkan di antara dompet dan komputer tabletku agar ibuku tidak mengetahui bahwa aku baru saja menerima hadiah dari teman sekolahnya itu. Namun, kalau misalnya aku bertanya hadiah apa yang sesuai untuk Profesor R, ibuku mungkin akan curiga. Kalau beliau tidak curiga, itu bagus, tetapi dengan kepekaannya yang sangat tinggi, kemungkinannya tidak lebih dari nol koma satu persen. Alasan apakah yang harus kukemukakan? Atau haruskah aku mengaku saja? Lagipula mengaku tidaklah semembahayakan kelihatannya.

Kulihat jam dinding sekali lagi. Sudah pukul empat lewat lima belas menit. Kuputuskan untuk segera pulang. Koridor-koridor yang kulalui begitu lengang. Hanya satu-dua ruangan yang lampunya masih menyala. Mungkin ada banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Tak ada orang yang harus kusapa sehingga langkah kakiku terasa lebih ringan daripada biasanya. Senyumku mengembang dan bertahan demikian lama. Bahkan ketika mengisi absen pun, aku tak bisa berhenti tersenyum.

Saat aku meneruskan perjalanan menuju pintu utama, aku tersentak. Seseorang tersenyum penuh arti kepadaku.

“Aku yakin kamu sudah membuka paket itu.”

Aku tertegun untuk beberapa saat. Apakah dia penguntit atau apa? Bukankah dia sudah meninggalkan ruangan sejak setengah jam yang lalu?

“Bagaimana? Kamu suka?”

Ya, sebenarnya aku sangat menyukai hadiah itu, tetapi apa urusannya untuk tahu? Aku mengangguk sekadarnya sebagai ganti jawaban positif untuk pertanyaannya itu.

“Sebenarnya, Profesor R sempat bertanya kepadaku mengenai hadiah yang mungkin sesuai dengan seleramu. Kamu tahu, ‘kan, dia pernah menjadi pembimbing skripsiku. Dia tahu kita bekerja di kantor yang sama, mungkin itu alasannya.”

Aku diam saja, tidak tahu harus berkata apa. Mungkin seharusnya aku berterima kasih kepada rekan kerjaku ini selain kepada Profesor R.

“Kamu mungkin ingin tahu kenapa aku memilih kedua benda itu. Sederhana saja, aku pernah melihatmu menonton video AURORA di YouTube dan kupikir Profesor R bisa mendapatkan CD itu dengan mudah tanpa khawatir kehabisan uang. Lalu, aku tak sengaja melihat post-it yang kamu tempelkan di layar komputermu. Ada beberapa judul buku di sana, tetapi kupilih yang berada di urutan teratas.” Dia mendeham sejenak. “Bicaralah sesuatu. Aku jadi merasa canggung.”

“O-oke. Kalau begitu, apa kamu tahu kenapa Profesor R mengirim hadiah ini? Aku bukan siapa-siapanya dan ini membuat semuanya jadi kurang masuk akal.”

Senyumnya mengembang sekali lagi.

“Aku juga tidak tahu. Tidak pantas jika aku yang bertanya. Mungkin kamu bisa bertanya sendiri kepadanya.”

“Itu bukan solusi yang baik.”

“Mungkin kamu pernah membantunya. Profesor R memang biasa membalas kebaikan orang lain dengan memberi hadiah.”

Membantu Profesor R? Bantuan seperti apa yang pernah kuberikan kepadanya? Oh, tunggu. Apakah membantunya mempersiapkan seminar nasional bulan lalu itu termasuk kriteria?

“Yah, mungkin saja begitu walaupun aku tidak yakin. Lalu, bagaimana sebaiknya aku membalas hadiah ini? Benda apa yang Profesor R suka? Kamu pasti tahu.”

Dia tersenyum simpul.

“Nanti kuberi tahu. Bersenang-senanglah dengan hadiahmu.”

“Terima kasih dan ….”

“Dan?” tanyanya dengan kedua alis terangkat.

“Dan terima kasih untuk pilihanmu. Aku sangat menyukainya.”

Kami diam di tempat untuk beberapa saat sebelum dia pamit pulang dengan nada yang begitu canggung. Aku tidak mengerti mengapa dia harus secanggung itu. Kugelengkan kepala melihat sosoknya yang menjauh. Berbagai pemikiran menerpa benakku, tetapi kutepis semuanya. Jam di ponselku mungkin telah menunjukkan pukul setengah lima. Saatnya untuk pulang.

fin.

Catatan kaki:

[1] Novel distopia karya George Orwell. Berlatar AirStrip One (dulunya Britania Raya), pemerintahan di sana dipimpin oleh Big Brother, pemimpin Inner Party yang menggerakkan Polisi Pikiran untuk membasmi kebebasan berpikir (Wikipedia).

[2] Penyanyi asal Norwegia kelahiran 1996, debut pada 2012 (Wikipedia).


Catatan penulis:

  • Maaf baru kembali setelah sekian lama 🙂
  • Mungkin ini tidak cukup baik, tetapi semoga tidak terlalu buruk.
Advertisements

10 thoughts on “Suatu Sore di Kantor

  1. Halo, kak Ami! Long time no see 🙂 tadinya kukira ini semacam misteri gitu tentang isi paketnya, mulai dari bom, petunjuk pembunuhan sampe potongan mayat udah aku pikirin 😄 enggak taunya aku terlalu gegabah hahaha. sempet mikir jangan-jangan profesor R nih lagi pdkt sama ibunya si aku (iya, maaf kak X) ) tapi salah lagi. kerasa khas-nya kak ami 😀 walau iya agak keliatan kalo kakak udah lama gak nulis. singkat dan padat 🙂 seeya kakami

    P.s : mau dong dapet paket gratis plus dipilihin sama rekan sejawat yang ternyata diam-diam memperhatikan 😄

    Like

    1. Haloo dhiluu. Long time no see. Haha aku mah ga jago thriller dhiil. Tapi sebenarnya kemungkinan pedekate itu sempat terlintas di pikiranku sih sebelum ceritanya jadi belok hahahaha. Makasih dhiluu keep writing yaa.

      (aku juga mau lho punya rekan kayak gitu 😀 )

      Liked by 1 person

  2. Daripada curiga ke profesornya, lebih curiga ke temen kerjanya hehe walau identitasnya belum jelas selain dia perhatian sih

    ditunggu karya lainny ya, ami :))

    Like

  3. haloooo, kak ami!

    ini aku udah siap-siap dengan genre horor tau soalnya bacanya jam segini. hehehe. eh taunya malah agak-agak bittersweet gitu, ya. si profesor yang minta bantuan infor tentang apa yang disuka si aku ke si rekan kerja, padahal rekan kerjanya mah (kayaknya) punya rasa ke si akunya hahahaha xD eh tapi pas baca kedua kali, ini rada ambigu juga sih. apakah si rekan kerja canggung gegara profesor R nanya (yang berarti si pemerhati ini sebenernya lebih ke si prof) atau sesuai makna yang pertama kali masuk. hehehe.

    great work, kak ami! keep writing! ❤

    Like

    1. Haii eviin~~
      Haha aku malah ga kepikirmau bikin ini jadi cerita horor lho 😀 iya agak-agak bittersweet ini. Kalau niatku pas bikin ceritanya sih jawabanmu yang pertama, vin hehe. Makasih eviin, keep writing juga yaa ❤

      Like

  4. Kak ami hai, kak amiiii ♥ kak masa nabil pertama ngira si profesor ini pedofil kak? ampuuuuun ampuuun hehe, habisnya ngapain tiba-tiba ngasih paket gitu. terus sama kaya kak dhilu, kirain misteri tentang isi paketnya e e e e ternyata tidak begitu rupanya. asik ih, nabil mah suka kalau romens diselip-selipin gini, kesannya malah nendang dan kuat haha 😂 selamat datang kembali kak ami ♥ (walaupun telat sih)

    Liked by 1 person

    1. Nabil haloo. Wah, aku nggak nyangka ada interpretasi seperti itu (padahal sempat khawatir juga karena ngapain juga profesor kasih hadiah sebegitunya). Aku ga jago misteri ah nabil, bisanya cuma kode-kode gaje hahaha. Makasih Nabil atas sambutannya (maaf balasannya juga telat) ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s