Prussian Blue [01]

Prussian Blue © fikeey & Fantasy Giver

Warning:
Language using and triggering materials. Please read wisely.

All my friends are heathens. Take it slow.

Bagi beberapa detektif di Kantor Kepolisian Kota Seoul, hari tenang merupakan sebuah momen langka saat tak ada berkas kasus yang mampir ke meja dan memperkenankan mereka untuk mengajukan satu, dua yaum izin cuti. Hari yang demikian akan diagung-agungkan layaknya janji kedatangan malaikat di akhir zaman dan kalau bisa dikenang selamanya serta digunakan dengan semaksimal, sebaik, nan sebijaksana mungkin.

Akan tetapi, definisinya menjadi agak melenceng bila sudah berkenaan dengan Jeon Jungkook. Menurutnya hari tenang adalah kala ia bisa duduk di kubikel dengan sekaleng soda dari vending machine depan kantor, dan memulai laporan-laporan investigasi yang menumpuk di atas bahunya. Ia memang akan pulang lebih sore dari biasanya—dan dengan pikiran yang lebih enteng pula—tapi tidak berarti Jungkook akan membenahi jadwal makannya yang berantakan.

Ha, padahal dia punya maag akut.

You’re a freak, you know that?” Itu cercaan yang selalu diujarkan Park Jimin, rekan sekaligus pimpinan timnya setiap kali suatu kasus selesai—tanpa disusul kasus baru, sembah kerang ajaib—dan Jungkook lebih memilih mengerak di depan komputer ketimbang menikmati sengatan hangat sinar mentari.

Jungkook hanya melirik Jimin lewat ekor mata, melanjutkan pelarian jemarinya di mesin ketik sambil menggeleng pelan. “Dan kalau aku tidak salah, aku sedang bicara pada seseorang yang lebih memilih datang ke kantor ketimbang liburan di pantai?” balas si lelaki yang lebih muda santai.

“Itu karena aku tak punya pekerjaan di rumah.” Jimin menyugar helaian rambutnya yang sewarna kacang hikori. Tubuhnya ia maju dan mundurkan hingga menimbulkan ketuk-ketuk berisik dari kaki kursi. “Siapa tahu ada yang menarik di sini sebentar lagi. Kita tunggu saja. Bisa jadi para wanita yang ketakutan karena rumahnya dirampok. Atau polisi cantik dari distrik lain. Atau tukang antar makanan dari restoran cepat saji dekat rumah sakit—kau tahu ‘kan pelayan di sana semuanya wanita dan mereka ultra manis-manis?”

Perlu kekuatan yang spektakuler bagi Jungkook untuk tidak memutar bola mata. Jimin dan kesukaannya pada perempuan terkadang menyusahkan sekali. Untung teman; andaikata bukan, Jungkook pasti sudah menjebloskan pria itu ke penjara atas tuduhan ganda pelecehan dan penistaan dari komentar-komentarnya yang terkadang kelewat batas.

You’ve finished your report, then?” tanyanya berusaha mengalihkan topik, karena—sekali lagi—berbeda dengan setengah detektif di ruangan ini, wanita bukanlah topik favorit Jungkook. O, tidak—bukan karena Jungkook menyimpang, kok. Ia hanya sedang merasa tidak butuh wanita selama bisa memanjat karier setinggi mungkin.

Nope.” Jimin menggeleng pelan. “No report on day off, I’m not like you, you dumb freak.

Respons Jungkook berupa dengusan pelan.

Dipikir-pikir, dunia ini punya cara kerja yang aneh. Jungkook bertemu Jimin sejak zaman pelatihan dan terkadang lelaki itu masih bertanya-tanya kenapa ia bisa bertahan, bahkan berakhir satu tim dengan oknum sinting ini. Padahal seharusnya Jungkook sudah bisa merasakan keabnormalan Jimin sejak pertama kali berjumpa. Senyum yang mengangkut dua lemak pipinya naik tidak bisa disebut biasa saja—yang terkandung di sana tak lain terdiri atas akal bulus, gangguan, ide gila dan … yah, kedewasaan, kalau kau tahu maksudku. Bukan sekali-dua kali Jimin berperilaku aneh; menggoda Jungkook seperti om-om haus daun muda.

Bercanda, sih, memang, namun katakan bagaimana Jungkook tidak merinding?

Mungkin salah satu hal yang bisa dibanggakan dari pimpinan timnya adalah kemampuan deduksi yang luar biasa. Jungkook mengamati sedari awal bahwa Jimin punya kecenderungan untuk cepat mengambil keputusan dalam berbagai investigasi mereka. Dia hanya perlu berdiri di tengah-tengah tempat kejadian perkara, lalu dalam waktu dua puluh menit, pria itu sudah bisa menentukan mana yang harus diteliti dan mana yang lebih baik diabaikan. Sebuah perlakuan yang bisa dihitung gegabah menurut Jungkook—sebab ia lebih suka memeriksa sampai detil-detilnya kendati terkadang membuang waktu—akan tetapi melihat betapa si pria bertubuh pendek itu sebenarnya mengambil berbagai pertimbangan atas kesimpulannya, di akhir, keputusan Jimin tak pernah salah. Jungkook berangsur-angsur memercayainya sekarang.

O, dan jangan lupakan kemanjuran nasihat Jimin! Advis Pria Busan ini luar biasa berguna jika otaknya sedang lurus. Bilamana Jungkook sedang ada masalah, dia tinggal bercerita saja pada Jimin, kemudian mengikuti perkataannya, lalu semua masalah akan sirna seketika. Terlampau magi.

Oke, oke, iya, Jungkook akui personalitas Jimin impas.

He’s a good friend, after all.

Sedang asyik mengetik reka ulang kejadian penggeledahan gudang penyimpaan senjata, tiba-tiba bunyi ponsel Jimin yang berisik membuat Jungkook menoleh. Sepertinya bukan telepon sebab Jimin tak mengangkatnya ke telinga, namun hanya membaca pesan di sana dengan alis berkerut.

You’ve got a booty call in the middle of the day?” Jungkook menjulurkan tubuhnya ingin mengintip, tapi dengan cepat Jimin mengangkat ponselnya ke udara. Maniknya menyipit.

“Kenapa? Kau cemburu kalau aku lebih populer di hadapan wanita dibanding dirimu?Jawaban itu disambut dengan decihan Jungkook yang memancing tawa Jimin kembali mengudara. “This is nothing importantjust some happy news from happiest people. Kau ‘kan tidak pernah bahagia, jadi aku tidak bisa membaginya padamu.”

Tadinya Jungkook masih ingin membalas ejekan Jimin, tetapi dua detik kemudian, Kim Seokjin, rekan lain dari laboratorium dan sekaligus dokter patologis forensik di kantor mereka, memasuki ruangan dengan bunyi pintu yang menjeblak keras. Ia menoleh ke sana kemari dan baru mengembuskan napas ketika melihat sosok Jimin dan Jungkook di balik kubikel. Ekspresinya yang mengeras membuat remarks Jungkook seketika dibawa angin.

I know you two will be here,” serunya sambil melangkahkan tungkai. Jungkook memundurkan kursi, mengamati kemeja putih Seokjin yang mulai menguning dan berpikir untuk menghadiahi pria itu beberapa pakaian baru saat ia berulang tahun nanti. Iya, Seokjin memang sudah dianggap Jungkook seperti kakak sendiri—apalagi dengan aksinya yang terkadang membawakan bekal makan siang bagi si lelaki atau oleh-oleh parfum alami buatan sang ayah jika ia baru pulang dari rumah.

Iya, Kim Seokjin datang dari keluarga sederhana: ibunya yang seorang guru SD mungkin mengajarinya untuk berperilaku baik selama ini, sementara ayahnya hanya punya usaha kecil di depan rumah yang menjual berbagai varian parfum alami. Seokjin sempat bercerita bahwa ia punya masa lalu yang buruk terkait tunjangan dan utang pendidikan, serta keinginannya menjadi dokter yang membebani perekonomian keluarga. Dan hal itulah yang menyebabkan pria itu menjadi pribadi pekerja keras yang tak pernah mau menyia-nyiakan pengurbanan ayah ibunya.

Dan ya, sejatinya, Jungkook selalu kagum padanya.

Begitu Seokjin sudah berada dalam tengka dua meter dari kubikel, Jimin mengantongi ponselnya, menoleh dan memasang ekspresi congkak. “Then why you sound like you’re so surprised?” Nadanya tak kalah arogan pula.

This kid really.” Seokjin tertawa renyah dengan sedikit aksen sarkas. Surai arangnya bergerak ketika tertiup kipas angin yang bergerak di samping meja Jungkook. “Jim, maukah kau … sekaliiii saja merasakan tidur di kadaverku?”

Jimin membalas dengan tawa yang tak kalah satir. “Boleh,” tuturnya sambil mengangguk dan membuat kurva asimetris. Ah, sebuah provokasi. “Asal kau mau mencoba peluruku sekali juga, ya.”

Tak tahan, Seokjin mengakhiri drama murahan itu dengan satu jitakan di punuk kepala Jimin.

O, iya, Jungkook sudah terbiasa dengan keadaan demikian, makanya ia diam saja. Kalau ikut campur, nanti salah-salah malah bisa ketularan sinting. Dia ‘kan tidak mau dicap sebagai detektif imbisil.

Untuk menetralisasi suasana sebelum berubah makin anarkis, Jungkook mendongak dan bertanya pada Seokjin. “Kau mencari kami? Ada masalah?”

Yes, and I think you’ll like this, Jeon. Interesting work stuff.” Seokjin menggerakan lehernya turun dan matanya sedikit menyipit kala ia tersenyum. “Tapi sebelumnya, kurasa kau harus mendengar masalahnya langsung dari pimpinan. Kapten Yoon menunggumu di ruangannya, Jim—dia bahkan nyaris menyuruhku menjemputmu di rumah kalau kau tidak berada di tempat. Aku akan menunggu di sini dengan Jungkook.”

Sounds serious.” Jungkook menaikkan kedua alisnya.

Terribly.” Si dokter menarik napasnya dan mengantongi kedua tangan di saku celana saat ia mulai bersandar ke dinding tripleks dalam ruang tersebut. Lantas, melihat Jimin belum bergerak bahkan setelah sepuluh detik, Seokjin melotot pada si ketua tim, menunjuk pria itu lewat dagunya. “Dude, you should go and get the case!

Jimin mengangkat kedua alisnya dan menarik kepala mundur—apabila ada tali di lehernya sekarang, ia persis terlihat seperti anjing tua pemalas yang enggan diajak jalan-jalan sore. “But we’re on our day off!” serunya tak terima.

Then why are you here?

“Aku menunggu sesuatu yang menarik, tentu saja!” Jimin kemudian tersadar akan ucapannya dan mencolok pipi Jungkook menggunakan telunjuk. “Tapi kalau dia, sih, memang karena sudah gila.”

Perlu sebuah tendangan di paha dari yang tertua di antara mereka hingga Jimin mampu mengangkat pantat dan menyambar jaket denimnya dari sandaran kursi. Langkahnya malas, terseret-seret dan tak lurus—jika orang lain melihat, mungkin Jimin sudah dituduh sebagai pecandu alkohol karena mabuk siang bolong. Jungkook cuma bisa mengeluarkan cengiran jahil, memandang Seokjin yang balas menatapnya bersama tawa kecil.

Hampir sepuluh menit kemudian, perkumpulan ketiganya berpindah dari meja Jungkook menuju sedan Jimin yang beraroma mirip kayu manis. Jungkook duduk di belakang, namun memenuhi spasi antara kursi sopir dengan kursi penumpang depan dengan torsonya. Maniknya berpindah antara Jimin dan Seokjin, mendengar penjelasan kasus dari bibir keduanya secara bergantian.

Madam Kim, janda pemilik Young-ja BioTech sekaligus direktur utama perusahaan kosmetik Joli(e)—kau tahu, ‘kan, Jeon, kerja sama dua perusahaan besar itu, lho—ditemukan tewas di kamarnya sekitar sejam yang lalu.” Jimin menyalakan lampu sein ke kiri pada sebuah persimpangan yang mengarah menuju Pyeongchang-dong. “Informasi yang masuk baru mengenai orang-orang yang saat itu berada di rumahnya: satu wanita—pelayan pribadi Madam Kim; dua sopir keluarga; seorang tukang masak dan pria bernama Jung Hoseok.”

“Dan apa relasi Jung Hoseok ini dengan Madam Kim?” Jungkook bertanya, mulai membolak-balik berkas kasus yang diserahkan Kapten Yoon pada Jimin. Ia menatap daftar riwayat Madam Kim beserta catatan kriminalnya—yang kosong, omong-omong—kemudian milik orang-orang yang disebutkan si ketua. Seokjin ikut mengintip dari tempatnya.

“Entahlah.” Jimin mengangkat bahu. “Tidak disebutkan dia siapa—kupikir salah satu pelayannya yang lain, akan tetapi dari data yang didapat para opsir patroli yang sudah berangkat terlebih dahulu, Jung Hoseok mengaku bukan bagian dari pekerja milik Madam Kim.”

Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya, menerima tawaran sebotol air dari Seokjin—supaya si termuda bisa memeriksa sendiri data-data dasar dengan lebih teliti, alibinya—kemudian memundurkan tubuh ke belakang. “Mencurigakan.” Ia bergumam pelan, sementara maniknya sampai pada foto dari seseorang bernama Jung Hoseok; seorang laki-laki, mungkin berumur sedikit di atas Jimin; dengan dagu lancip dan hidung mancung. “Kita harus menyelidikinya lebih lanjut nanti.”

Sure.

Jimin mengganti saluran radio menjadi koleksi musik beraliran alternatif favoritnya—sesuatu yang terdengar seperti campuran rock dan blues. Mengingat betapa sering Jimin memutar lagu itu di mobil, Jungkook sampai hafal liriknya: ‘cause all has been lost and all has been won and there’s nothing left for us to save’ dan mau tak mau mengasosiasikan kalimat itu dengan pekerjaan mereka: menikmati kebersamaan di antara para bajingan yang berusaha membahayakan dunia.

Keren sekali.

(Iya, terkadang Jeon Jungkook memang sesentimental itu.)

Mencapai bagian reff, suara Jimin bergema makin keras, memenuhi seluruh ruangan di mobil hingga ancaman tarik-rem-tangan Seokjin menghentikan pria itu dan memulai perang baru. Dua orang itu memang benar-benar, deh—Jungkook yang termuda di antara mereka, tapi terkadang ia merasa menjadi yang paling dewasa?

Beruntung ketika memasuki menit kedua puluh lima perjalanan mereka, diikuti perubahan lagu berikutnya, ketiganya akhirnya berhasil sampai dengan selamat pada daerah permukiman termewah seantero ibukota. Dan anggapan Jungkook tak pernah berubah mengenai Pyeongchang-dong: dingin dan sepi. Keangkuhan terpatri pada setiap tembok rumah, berikut gengsi serta individualisme. Berjarak dan tanpa simpati.

O, ya, Jungkook kurang suka berhubungan dengan orang kaya, jujur saja.

Jimin sengaja memarkir mobilnya beberapa blok sebelum alamat yang dituju, membuat mereka perlu berjalan beberapa meter, dan seperti yang sudah diprediksi Jimin—“Mengingat betapa berpengaruh Young-ja dan Joli(e) di Republik Korea Selatan yang raya ini, kita akan sulit menembus kerumunan yang bakal terbentuk di depan rumah,” ungkapnya komplet dengan desah dramatis—ratusan orang telah berkumpul di luar garis polisi. Setengah di antaranya adalah manusia yang membawa peralatan lengkap—kamera, buku catatan, mikrofon—baik untuk liputan langsung ataupun artikel koran esok hari, sementara sebagian lagi diisi oleh beberapa lapis masyarakat yang penasaran.

“Ha, perkiraanku memang tak pernah salah. Lihat cecunguk-cecunguk itu; sudah berkumpul seperti burung nazar menemukan bangkai segar. Atau … secara harfiah memang demikian?” Tawa Jimin terdengar mengerikan kala ia mengenakan kacamata hitam andalannya seraya menyeringai puas. Iya, Jungkook tahu dark humor is Jimin’s forte—tapi sekali lagi dia didesak keinginan melaporkan pria itu karena menceplos tidak pada tempatnya.

As heat, let’s fire up the situation, Guys.

Sejurus kemudian, Jungkook ingin sekali menjegal kaki yang bersangkutan lantaran sudah memimpin jalan tanpa menunggu persetujuan kedua rekannya. Si termuda cuma bisa menghela napas singkat, menoleh pada si tertua yang menatap datar, lantas memberikan isyarat bagi pria itu untuk berjalan terlebih dahulu, menunduk dan menghindari jepretan flash kamera dan berondongan pertanyaan milik pers.

Rumah para pengusaha—seperti yang sudah pernah ia saksikan pada banyak sekali kasus sebelum ini—pastilah memiliki kesan tajam dan arogan bahkan ketika jejak kakimu baru terhitung lima langkah dari bibir pintu. Jungkook disambut dengan aroma ruangan bergaya middle-east, wallpaper dinding yang bernuansa cokelat dan krem, serta sepercik rasa angkuh di setiap garis pembatas antara ubin satu dengan yang lain. Di antara decit sepatu para penyidik yang tersebar di seluruh ruangan, ia menyayangkan minimnya rasa kekeluargaan yang mampu ditawarkan.

Seorang opsir bertubuh mungil yang memiliki tanda pengenal Lee Chan menghampirinya di ruang tengah dengan napas terburu dan buku kecil di tangan. “Kami belum memindahkan mayatnya, Sir,” tuturnya—lebih kepada Jimin yang tiba-tiba muncul. “Mungkin kau dan tim akan memeriksanya terlebih dahulu? Kami hanya menaruh beberapa penanda bukti di sekitarnya.”

Jimin menebar senyum kemudian. “Yeah, good job, then. Kau tahu Seokjin akan lebih menghargai segalanya apabila ia sempat melihat kondisi mayat di tempat kejadian perkara secara langsung.” Dengan anggukan pendek dari sang opsir yang lalu memutar tubuh, Jimin menepuk bahu Jungkook. “Dan kau pun begitu, hm? Jeon Jungkook yang bahkan tidak memercayai kerja kamera milik para pengumpul bukti.”

Shut up.”

“Ya, kau memang seperti itu.” Jimin masih bersikeras sementara tawanya mengisi udara di sekitar mereka. “Teliti mayatnya untukku, oke? Aku akan berkeliling dan menanyai para saksi.”

“Kau akan berkeliling dan menggoda pelayan wanita di rumah ini.”

Ouch that hurts, Jeon.”

Jungkook memutar bola matanya dan meneriakkan sumpah serapah non-verbal sementara sang ketua tim memanuver langkahnya menjauh—yeah, satu lagi kelihaian Jimin; memiliki kemampuan ulung sebagai pengumpul informasi. Mungkin kapabilitas lidahnya memelintir kata hampir menyamai Seokjin karena pria itu pernah dengan halus menghujani Jungkook dengan kalimat persuasif: “Berkumur dengan urin akan membuat gigimu putih bersinar.”

Dan si detektif junior dengan tolol mencobanya keesokan pagi. Berengsek.

Lorong yang memisahkan ruangan penyambut di depan pintu dengan ruang tamu yang tak kalah mewah diisi dengan sejumlah lukisan abstrak kaya warna. Merah, cokelat, dan emas. Tiga rona yang mendominasi pajangan, dinding, pun corak lantai yang berkilau tertimpa cahaya lampu.

Ada foto raksasa yang memamerkan sejumput rasa kasih sayang di dinding terjauh begitu ia tiba di ujung lorong. Foto pernikahan Madam Kim; dan kendati ukurannya benar-benar mengambil spasi cukup besar, masih ada perasaan tak bersahabat yang terpancar dari tiap sudut bingkainya. Dan seolah pemandangan yang terlihat palsu itu belum cukup membuat alis sang detektif terangkat tinggi, foto lain yang menyajikan kenampakan ketiga anggota keluarga beberapa jarak di sebelahnya tak membantu sedikit pun.

Aneh, tapi ada aura familier yang menguar dari foto tersebut. Masalahnya, Jungkook belum pernah melihat rupa korban mereka hari ini—kecuali dari file tentu saja. Madam Kim memiliki tulang pipi tinggi, bibir tipis dipoles gincu merah, dan rambutnya yang digelung ketat dengan telak menambah aura galak serta sulit didekati. Di sebelahnya, mendiang Tuan Kim terlihat luar biasa ramah dengan tatapan mata sedikit sayu, senyum yang terpoles, dan garis alis yang tebal. Sang anggota keluarga ketiga mewarisi lengkung tipis ibunya dan kenampakan alis ayahnya. Lantas Jungkook memutuskan saat itu juga—hanya dengan sekali lihat—kemungkinan besar sang anak satu-satunya lebih banyak tertular gen ibunya.

Ia bertemu dengan beberapa penyidik lain di ruang tengah; yang masing-masing memberikan anggukan kecil padanya dengan satu, dua kantong bukti di tangan mereka. Jungkook hanya berharap para penyidik ini berhasil mendapatkan data sidik jari, contoh DNA, dan rekam foto seluruh penghuni rumah. Karena sekali lagi, ia benci hal yang tidak sempurna. Jimin boleh mengetuai timnya tapi bukan berarti ia perlu bekerja sesuai cara pria itu, right?

Tangga melingkar di hadapannya terasa luar biasa panjang sementara lukisan—yang lagi-lagi—hanya menyajikan coretan abstrak serta warna tajam yang melimpah masih melingkupi hingga ia sampai di lantai dua. Jungkook bahkan menghentikan langkahnya beberapa ubin dari bibir tangga hanya untuk mengingat-ingat; jadi hanya ada dua buah rekam foto yang menjadi bukti bahwa wanita ini pernah berkeluarga?

Ketika ia berpikir teman terdekat pertamamu di dunia adalah keluarga, maka kasus ini mampu mematahkannya.

Madam Kim masih belum rela melepaskan aroma middle-east bahkan hingga lantai dua rumahnya—well, selera tinggi para orang kaya.

Jungkook menemukan Seokjin tengah bersimpuh di samping tubuh kurus yang terbujur kaku di sebelah tempat tidur; matanya membelalak dan kuteks merah di kuku jemari rampingnya bahkan terlihat layu. Ia menghampiri sang dokter dan hendak mengeluarkan buku mungil yang selalu dibawanya ke mana pun ketika suara Seokjin lebih dahulu memotong.

“Tidak ada luka fisik,” kata pria itu sembari mengangkat sebelah tangan sang mayat dengan gerakan anggun. “Luka defensif nihil dan tidak ada senjata tajam dalam rentang minimal kecuali alat kikir kuku. Kau tahu apa artinya, Jeon?”

“Racun?”

“Tepat.” Seokjin tersenyum, lantas menunjuk tas kecilnya yang tersandar di nightstand. “Ambilkan aku kantong bukti. Aku perlu mengambil sampel rambutnya untuk meminimalisasi daftar racun yang kemungkinan menjadi agen pembunuh.”

Awalnya Jungkook tidak memerhatikan, namun kemudian Seokjin melarikan jemarinya pada jajaran surai korban mereka dan tidak memerlukan tarikan seminimal apa pun hingga beberapa helainya kini berpindah posisi. Sang dokter tersenyum kecil begitu ia menyadari perubahan minim di wajah Jungkook.

“Kukunya ….”

Do we have the same thoughts that our victim digested too much shits?

Jung Hoseok di kehidupan nyata tidaklah seberapa tinggi seperti yang Jungkook bayangkan. Pria itu tak mungkin berbeda sekian tahun terlalu jauh dari umurnya, berperawakan biasa dengan tubuh tegap, dan menelurkan aura defensif. Jungkook melihatnya ketika dia tengah mengelilingi tiap ruang di lantai dua setelah mayat Madam Kim dipindahkan. Tidak ada yang menarik perhatian di atas sini sebenarnya; hanya ruang tamu lain yang tak kalah gigantis, kamar tidur utama, kamar tidur tamu, dan sebelum Jungkook sempat melangkahkan kakinya menuju pintu lain yang masih tertutup di sudut terakhir lorong, saat itulah ia mengenali Jung Hoseok dari file kasus tadi pagi.

Seluruh pertanyaan standarnya dijawab jujur—bekerja di bidang ini setelah sekian lama memberi insting tersendiri bagi Jungkook untuk menilai mana yang berbohong dan mana yang tidak. Si lawan bicara bahkan sukses menutupi keterkejutannya akan kepergian sang Nyonya Besar. Well, mengingat desas-desus di antara para pelayan seperti yang ia curi dengar, tidak sedikit orang yang menaruh benci pada Madam Kim. Tidak para koleganya, bahkan karyawannya sendiri.

Jadi menyimpulkan sedikit bukan sesuatu hal jahat, ‘kan?

“Tidak ada seorang tamu pun yang datang ke sini sejak kemarin sore.” Pertanyaan Jungkook dijawab singkat dan padat. “Madam tiba di rumah sekitar pukul dua siang, meminta pelayan membawakan makan siangnya ke kamar, dan tidak pernah keluar atau memanggil lagi setelahnya.”

“Apa kau yang bertugas mengantar dan menjemput Madam?

Jung Hoseok menggeleng dengan dahi berkerut. “Aku bekerja di bawah suruhan mendiang Tuan Kim.”

“Tapi bukanka—“

“Ayahku adalah asisten pribadi Tuan Kim dan sekarang aku berada di bawah perintahnya untuk menjaga anak kesayangan mereka.” Dan jawaban itu terdengar final di telinga Jungkook sekaligus mengingatkannya pada rekam foto keluarga di ruang tengah. “Bisakah aku permisi sekarang, Detektif? Park Jimin menyuruhku menemuinya di kantor polisi untuk sesi interogasi. Selamat siang.”

Dengan anggukan singkat Jungkook, saksi utama mereka lantas memutar tubuh dan menuju tangga. Ia baru akan melanjutkan tur kecilnya ketika suara Jimin dari arah kamar tidur utama memanggilnya.

“Kau meminta Jung Hoseok menemuimu di kantor?”

Sang ketua tim yang kala itu berdiri di sebelah penanda jejak bubuk putih menganggukkan kepalanya tanpa menoleh. “Yeah,” responsnya. “Got something interesting, maybe. Dan terlalu banyak pers di sini. Aku tidak bisa mengambil risiko dan lagi, kita bermain dengan salah satu orang yang memiliki pengaruh besar. Are you with me?

Jungkook membiarkan kata-kata Jimin memenuhi kepalanya dan ya, sejak beberapa waktu yang lalu ia tiba di rumah ini bersama kedua rekannya, para opsir patroli di garis depan terus-terusan meminta tambahan petugas untuk membantu. Pers menggila dan bukan tidak mungkin mereka berani mengeluarkan banyak lembar won demi berita. Spektakuler pula.

Maka ia kembali pada kondisi ruangan yang tidak memancarkan petunjuk apa-apa kecuali sebelah sisi tempat tidur yang jelas bekas ditiduri, kotak make-up dan segelas air di nakas sebelahnya, serta tas tangan yang tergeletak begitu saja di kaki meja. Tidak ada yang menarik di matanya hingga Jimin berdiri di tengah ruangan, di sebelah meja bundar dengan dua buah kursi minimalis diletakkan berhadapan. Jungkook menjawab panggilan sang ketua tim dengan bangkit dan berjalan ke arahnya.

“Marshmallow?”

Jimin mengangguk bisu.

“Kau berpikir Madam mengonsumsinya?”

“Mungkin.” Si lawan bicara mengangkat bahu. “Bagaimana menurutmu, Jin?”

Tiba di sebelah Jungkook, sang patologis forensik hanya mengangkat bahunya pendek. “Aku belum sempat memeriksa keadaan organ dalam korban jadi yah, untuk sekarang aku hanya bisa berspekulasi bahwa racunnya masuk secara oral.”

“Penyelidikan kita terpoin pada jenis racun apa yang masuk ke tubuh korban, kalau begitu?” Kalimat Jimin menggantung di udara dengan anggukan dua rekannya sebagai tanda setuju. “Bubuk putih yang ditandai di sana mungkin bagian dari ceceran kudapan ini—well, not guilty until proven. Tapi dengan minimnya hal-hal yang bisa dimak—“

“Kau melupakan hidangan makan siangnya, Jim.” Jungkook menghela napas, menunjuk seporsi besar hidangan lengkap yang mulai mendingin di nakas sisi tempat tidur yang lain—sepiring nasi dengan sekerat daging mungil, semangkuk sup, dan kudapan manis bertabur gula halus. “Marshmallow tidak seharusnya meninggalkan jejak bubuk seperti di sana, hm?”

Di tempatnya, senyum Jimin melebar.

Pria itu tengah berdiri dengan gaya khas berpikirnya—yang kadang selalu mengundang cemooh Jungkook dan gelak tawa Seokjin—jadi ketika dia tiba-tiba membanting setir dan menghampiri meja bundar di tengah ruangan, Jungkook agak terkejut juga. Tangan Jimin yang berlapis sarung tangan karet menelusuri permukaan marshmallow sembari menghitung jumlahnya; satu, dua, tiga, empat—tiga buah memiliki bentuk yang tak lagi bulat, sementara satu sisanya berbentuk lingkaran sempurna yang mengingatkan Jungkook akan hasil jiplakan uang logam.

Awalnya ia kira Jimin sedang melakukan candaan lain di antara sekian lelucon murahan yang dimiliki pria itu ketika Seokjin berkata akan membutuhkan sampel tiap makanan. Otak sang ketua tim memang kadang ditimpa konslet tapi tidak sejauh memakan barang bukti yang kini terletak secara gamblang.

“Jimin what the fu—!”

Sementara yang diteriakkan balik melempar senyum dengan sepasang pipi gembung. “I’m okay, I’m not dead, right?” katanya kalem. “Marshmallow tidak mengandung apa pun. Terkonfirmasi.” Ujung jarinya menunjuk sisa kudapan yang tersisa di kotak—dari semua hal yang bisa ia makan, Jimin menentukan pilihan pada bentuk marshmallow yang tak keruan. Hah. Sungguh. Kadang Jungkook tak mengerti jalan pikiran orang ini.

What are you? A stupid cop?

Jungkook mendengus ketika si lawan bicara membalas dengan kekeh ringan. “I’m not stupid. I’m helping Jin with his work so he won’t need to test these things. Right, Seokjin?” Pertanyaan Jimin menggantung di udara sementara sang pencetus kini tengah melangkahkan kakinya keluar ruangan. “Take my car, Jeon. Aku akan menumpang yang lain. Ada orang yang perlu kuinterogasi dan nikmatilah waktumu di sini.”

Jika melempar pimpinanmu sendiri menggunakan kursi diperbolehkan, maka Jungkook akan mempraktikkannya sekarang dengan senang hati. Lelaki itu baru berhasil menenangkan pikirannya dari kemungkinan Jimin tersedak lalu ambruk gara-gara memakan kudapan beracun ketika Seokjin yang sedari tadi memilih berkutat dengan laporan medisnya menepuk bahu.

You want me to test all of that?” Jungkook tahu yang dimaksud Seokjin dengan semua adalah hidangan makan siang beserta marshmallow-nya, jadi ia menganggukkan kepala.

Thank you.”

Jungkook tiba di kantor tepat ketika pintu ruang interogasi B terbuka dan Jung Hoseok keluar dari sana sementara di belakangnya, Jimin mengikuti dengan setumpuk file di tangan kanan. Sang ketua tim memintanya menunggu—setidaknya itulah asumsi Jungkook sementara ia berjalan menelusuri lorong monokrom ini karena setelahnya, sang asisten pribadi lantas mengambil tempat duduk kosong.

Bersikap profesional walaupun pertemuan pertamanya tadi dengan Jung Hoseok tidak begitu mulus, Jungkook menganggukkan kepalanya singkat sebagai tanda hormat yang dibalas dengan senyum tipis. Well, lanjutan yang bagus kalau begitu, karena walaupun ia memercayai Jimin dengan segala kemampuannya menarik informasi; ada secuil rasa penasaran yang perlu ia hilangkan kali ini.

Arriving early?” Jimin menelurkan pertanyaan—nadanya serius dan Jungkook tahu hal demikian berarti sesuatu.

Ada anggukan pelan yang ia layangkan sebagai jawaban dan menit berikutnya, Jimin menyerahkan tumpukan file di tangan kanannya.

“Anak lelaki kedua Madam Kim,” sebut sang ketua tim dengan nada rendah sementara Jungkook mengangkat sebelah alisnya.

“Maksudmu anak lelaki satu-satunya?”

Jimin menggelengkan kepalanya. “You’ve heard me, Jeon. Anak lelaki yang kedua,” katanya dengan nada yang menyuruhnya untuk bergegas—secara implisit. “Ruang interogasi A. Dan kuharap kau memerhatikan caramu menginterogasinya, oke? He’s still down.” Dari ujung matanya, ia menangkap Hoseok tengah mengawasi keduanya dan memberikan apresiasi bisu atas permintaan Jimin.

Jadi Jungkook menganggukkan kepala dan menjawabnya. “Of course.”

Dan sang ketua meninggalkannya.

Lelaki itu tahu dia tak perlu mengetuk pintu ruang interogasi karena posisinya di kantor ini adalah sebagai apa yang mereka katakan bad cops dan tak jarang ia mengisi bilik di dalam dengan serangkaian sumpah serapah. Jika Jimin menggunakan kalimat persuasif maka Jungkook mengandalkan tingkat emosi para tersangka maupun saksi.

Pintu terbuka dengan derit kecil dan hal pertama yang menyambutnya adalah desis tangis yang sesekali terdengar, tubuh ringkih seseorang di salah satu kursi plastik, dan surai cokelat gelap yang terlihat setingkat lebih muda di bawah penerangan lampu neon. Sang anak lelaki kedua keluarga Kim pastilah menyadari kedatangan Jungkook, karena detik berikutnya ia mengangkat lengan sweter biru lautnya dan menggosok area di sekitar mata dengan buku jari.

“Maaf, aku masih belum … maksudku, Madam baru saja—maaf.”

Walaupun kalimatnya terdengar tidak koheren di telinga dan terlapis oleh suara sengau akibat menangis, Jungkook masih bisa mengingat jenis suara ini maupun pemiliknya. Hell, bahkan ia menghentikan langkahnya sebelum menutup pintu dan menunggu objek interogasi di hadapannya mengangkat wajah, karena ia perlu—setidaknya—sekali lagi meyakinkan diri bahwa yang berada bersamanya di ruangan ini adalah,

“Taehyung?”

—-—

[Next update: 24/02/2017 at 7:30 P.M.]

—-—

A/N:

  • foreword’s taken from heathens by twenty one pilots
  • prussian blue soundtrack, part 1. [youtube & spotify]
  • thanks for reading! any thoughts you write on the comment box will be very much appreciated!
Advertisements

16 thoughts on “Prussian Blue [01]

  1. GAES
    GAES
    GAES
    .
    .
    .
    IZIN MENGHENINGKAN CIPTA DULU YA, GAES. JANTUNGKU … BUTUH TABUNG OKSIGEN SEKONTAINER </3

    D4Mn gaiz poster kaleyan buatku lemah iman … TRUS BARU MASUK GERBANG DAH DIKASI WORKAHOLIC JUNGKOOK AS POLICE HAH POLISIIIIIII HAAAAH KALEYAN WHY SO TEGA JANTUNGKU JADI BUBUR :<

    Mana sekantor sama Jimin as om om haus daun muda AKU SIAP JADI SASARAN BANG ASAL JANGAN SENTUH JEON JUNGKOOK T^T #disebutdengansimbiosismutualisme

    GAES TOLONG KASUSNYA DIKONDISIKAN YA INI BARU DATENG KE TKP KUSUDAH CEMAAASSSSS DEG DEGAN HAHAHAHA DAMN DAT CLOSING WITH TAEHYUNG TOO GAKUAT GAKUKU GANANAAAAAAAA GABISA ADEK GABISA DIGINIIN WAHAI PANUTANQ DEAR EVIN DAN KAFIKAAA

    Nih btw kalo setting date hape kumajuin tanggal 24 next chapter bisa langsung muncul gak yah thors next thors this iz daebakidaaaaaaaaaaaaaa~~~ ♡♡♡♡♡♡♡♡

    Kafika, Evin, BTS tujuh oknum
    .
    .
    .
    9 bullets dah lah aku mo berkubang di mangkok syupeo bubur dulu sambil membasuh luka tembak … SALAM OLAHRAGA!!!!! #OlahragaJantungalaKafikafeatEvinMahGini

    Like

    1. KAK FILZ
      KAK FILZ
      KAK FILZ

      komennya kakak so hype sampe jadi bahan fangirling aku dan kak fika di pc line HUEHUE SOOOO BIG BIG THANK YOU FOR YOU OUR LOVELY KAK PANG LT.VON AWSOMNIM YANG TER-JJANG! SEMOGA KAKAK DIBERKAHI KEHIDUPAN YANG RUAAAR BIASA DAN BISA KETEMU DETEKTIF TAMPAN YANG GEMAR MEMBANTU MASYARAKAT LEMAH HATI CEM JEON JUNGKOOK ATAU PARK JIMIN TO LIGHTEN UP UR DAY!

      iya ya jeon jungkook emang (sensor) makin ke sini makin bikin gemetar hebat wae nae mameul heundeuneun geonde diulang 3x gitu 😦 kami yang nulis saja tida kuat pas mencari foto yang tepat rasa-rasanya hampir sakaw dan overdose (kurang dan kelebihan, ya. kontradiksi sekali memang (sensor) kamu jeon jungkook!) APALAGI baru-baru ini tanpa disengaja visualisasinya keluar dengan sangat pas dibintangi oleh oknumnya sendiri entah workaholic jeon atau omomhausdaunmuda jimin. sampe curiga sepertinya laptop-ku dan kak fika telah disadap antek-antek big hit :((

      (hormat) lapor: kasus telah dikondisikan sebaik mungkin. mohon perintah selanjutnya.

      DAN SAMPAI KETEMU NANTI MALAM KAK FILZ DI CHAPTER 3 HUAHUAHUAHUA SALAM OLAHRAGA! ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. Ini demiapa banget my two favorite writers kolab ya omooo. Kubisa bayangkan modelnya dek jk jd detektif dan humor banget itu pas dia minum urin wkwk. Jimin as womanizer itu hmm gimana ya, meski wajahnya dia kiyowo kita sama2 taulah deepdown gimana seksinya mas jimin. Aku pribadi emang penyuka genre misteri2 gitu sih palagi detektifnya seaduhai dek jk hehehew. Masih part 1, dan bakal selalu kutunggu part2 selanjutnya.

    Like

    1. halooooo, kak nisa!

      aaa terima kasih pujiannya huhu aku terharu :”)) HAHA emang deh dek jk-nya dong dong aja udah tau omongan jimin ga ada yang bener, masih aja diikutin. huhu. IYA KAN KAK NISA DIA DIAM-DIAM WOMANIZER! apalagi pas dance not today itu yaelah jim yaelaaaaah huhu. makasih kak nisa udah baca dan komentaaar! sampai ketemu nanti malem di part 3! :))) semangat terus kaak!

      Liked by 1 person

  3. Woof woof woof fantasy giver x fikeey ft. bts means the death of me okay. Dan ini crime omo 😦 😦

    apalah, baru baca intro-nya sudah disuguhi pemandangan jeon jk sebagai polisi, rasanya tuh aku mau menggaruk dinding aja heuuu. Terus jimin di sini agak … miring? HAHAHAHA tapi aku suka sih. Banyak banget guyonannya yang bikin ngakak aseli astaga kayak kumur-kumur urin, like seriously tho jim. Dan dengan bodohnya jk mencobanya. Why. Why.

    Terus rasanya aku mau misuh-misuh sekaligus memuja taehyung tapi bagiannya di sini baru seumprit jadi aku nggak tahu mau ngomong apa???

    Duh kakfika kakevin kalian sangat membahayakan hidupku!!! Aku pada kalian pokoknya ❤ ❤ ❤

    Like

    1. woof woof jangan mati shiiii nanti park jimin kehilangan satu subyek gombalan terus nanti dia sedih dia ga bisa bilang ke kamu “Please, step out of the vehicle and walk a straight line into my life.” atau “Stop! Don’t you know it is illegal to look that fine? I have to charge you in my own prison.” HUEHUEHUE jadi jangan mati dulu ya xD

      nah kalo garuk dinding sih bole bole aja, tapi nanti kerusakan ditanggung sendiri ya HEHEHEHEHE dan jimin…. bukannya aslinya dia sudah miring? (kemudian diborgol jimin) emang tuh harus dijagain jk-nya biar ga ketularan jimin deh :(( bahaya banget dia pengaruhnya.

      bagian taehyung sudah keluar banyak niiih di chapter 2. gimana? puas ga, shi? huehue. karena aku dan kak fika puas HAHAHAHAHAHA (ketawa setan lv. 20). semangat juga shiaaaaa! kami pada kamuuuu! ❤ ❤ ❤

      Like

  4. WAAH WAAH WAAH kakfika dan evin kolab sementara aku kolaps(?) ((Apasih))
    .. ini ga bisa dianggurin aja sih parah penasaraaannn!!

    Pertama, pembukaan dengan seting ruang kerja detektif dan jungkook yg workaholic mengingatkanku pada kostum di Dope era. Heuh. Terus terus jimin juga karakternya emang minta dipites tapi cerdik kan kesel.

    Kedua, waahh penyebab kasus pembunuhan masih samar2 kan tentang racun apa yang dipake. Tapi makin penasaran lagi sama pelakunya. Terus di ending kenapaa?? Jungkook kenal ama taehyung apa gimana??

    Ketiga, setting tempat, terus deskripsi karakter yang konsisten, dialog2nya, udah kece parah semuanyaa..

    POKOKNYA PENASARAAANN!! KAK FIKA DAN EVIN SEMANGAT!

    Like

    1. KAK TITAAAAAAA WAH WAH WAH jangan kolaps! nanti kita yang dipanggil ke kantor polisi lho kalo kakak kolaps terus ketemu det. jeon dan det. jim cuma berdua, jadi mending daripada cuma berdua kak tita ikut dengan keadaan sehat sentosa hehehehe. terus kita main deh bareng-bareng mereka (apasih vin) (ga)

      dan iya ya, hehe, di dope si jeon jadi polisi sama jin jadi dokter gituuu :”)) ayo kak jiminnya dipites aja dipites, gapapa kok hehehehe. kasus pembunuhan sama hubungan taehyung udah mulai diperjelas di chapter 2 kemaren dan (mungkin, HEHE) bakal lebih naik lagi di chapter 3 yang akan keluar…. JENG JENG malam ini!!! stay tune yaa kak tita hehehehe (shameless)

      makasih banyak kak tita udah baca dan komentar panjaaang. we’re so happy! semangat juga kak tita, keep writing! ❤ ❤ ❤

      Like

  5. KAK FIKAAA EVIIIINNN AKHIRNYA ANI DATAAAANG YUHUUUU 😂

    (matiin capslock) oke! aku mau happy duluuuu bikos ada bang jiiin sebagai dokter di siniiiiiii huwaaa aku selalu mengagumi dy dengan jas putihnyaa tolongiiiin TT terus pak jimiin masyaallah emang ya kalau sama jungkook tuh embuhlah… gokilnya semenamena gitu. ucuuul. pekerjaan mereka harusnya serius tapi kok becanda muluuukk tapi tapi justru bikin yg baca betaah ehe 😂
    bang jin ngga kalah koplak yaaa dgn advise dy yg nyuruh kumur pake urin tuuhh tapi yg dikasih advis ngga tau deh mau kusumpahserapahin tapi kok ya temen HAHAHA

    dan yes!!! kasus pembunuhan pake racuun. bikin inget brother tapi pasti beda donk yaa? ehe 😂 semoga ada scene-nya bang jin dibanyakin entar pas di rs (modus) anw, ketua min ituu? min yoongi kan ya? iya kan? oke. kalau iya berarti dy udah muncul. terus hoseok udah juga calon tersangka bareng taehyung wkwkwk (mulai curiga tapi buremnya kebangetan bikos masih chap 1) 😂

    EHM!!! saluuut bgt sama riset author-nim niihh dari setting tempatnyaa masyaallah aku sampe kek di tkp gitu pas baca huhuhu kenapa kalian soo spektakuler gini siih?? terus dapet kasusnya juga. unch ngga ngerti deh ngga ngerti. andai kehebatan kalian berdua itu sejenis virus, aku pengin cepet2 terjangkit! KEREEEENNNNN!!! ILUUUVUUU KAK FIKA EVIIIN!!! KEEP WRITING!!! ditunggu next chap! salam sayang buat kim seokjin 😘 /eh

    Like

    1. KAK ANEEEEEE HALOOO SELAMAT DATANG!

      iya nih si abang jin jadi dokter SOALNYA KITA GA BISA MELEPAS BAYANG-BAYANG DIA SEBAGAI DOKTER GIMANA KAK ANEEE hehehe. jimin+jungkook pokoknya jangan disatuin dalem satu kamar kalo sewaktu-waktu mereka nginep di rumah kakak ya, kak. bisa luluh lantak nanti. iterus iyaaa mereka emang enjoy pekerjaannya jadi jalan aja sambil ngobrol-ngobrol dan bercanda. tapi tenang, bisa serius di saat yang dibutuhkan kok. ditunggu saja masanya HEHEHEHEHEHEHE :”)))

      beda dong sama brother. bedanya apa? ditunggu saja HEHEHEHEHEHEHE_2 tenang, bang jin bakalan muncul lagi kok, kak anee. kapan? ditunggu saja HEHEHEHEHEHEHE_3 yoongi-nya udah keluar kemaren di chapter dua yaaa hihi si kulkas berjalan :))

      awawawa pujiannya bikin overdose, kak anee, timakaci banyaaak! uncch. tulisan kakak ga kalah bagus, kok, percayalah! pokoknya kak anee semangat terus dan keep writing yaaaah! we love you so much! dan dapet salam balik dari kim seokjin! ❤ ❤

      Like

  6. Siapapun yang punya ide minum urin itu bener-bener gila guys.
    Duh kok bisa lancar banget ya kalo baca fanfict ini bayangan yang paling lancar dibayangin itu ekspresi Jimin disetiap moment. Krrrrgggghhhhhhh!!!! Keren iyooooottttttt
    Ditunggu update selanjutnya.

    Like

    1. E E E EEEEEEEEEE WUXI’S FRIEND! iya guys, gila guyyyys WAKAKAK ekspresi jimin emang (peep) sik. tapi (peep)-an jeon jungkook. thx coeee! mangadh kuliahnya. jangan maen hp mulu di kelas!

      Like

  7. WHOAAAAAAAA.
    Ini pas banget gak sih aku bacanya sehabis nonton V App-nya Bangtan yang mereka jadi polisi-polisian. Jadi kebayang banget;;;

    Aku paling suka di paragraf yang berkumur pake urin. Bodoh banget sih Jungkook pake nyobain segala 😂

    Btw, salam kenal, Kak! Aku Nissa 😊

    Like

    1. haloooo, nissa! salam kenal, aku evin! hehehe.

      iyaaa aku juga sekaget itu mereka bikin skit tentang cops pas ini keluar gitu, jadi berasa disponsori (apa) (ga) hehehehe. itu berkumur pake urin emang deh si jungkook ga mikir dulu langsung telen aja, jadi deh pagi-paginya dia cobain hahahaha xD makasih banyak yaa, nissa, udah baca dan komentar! semangat teruuus dan sampai ketemu nanti malam di chapter 3! (maaf evin shameless) (maaf) :)))

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s