Domestic Monsters: The New Beginning

by Lt. VON

 

There’s always a moment that separates the past from the future,

And that moment is now.

—Anniekee Tochukwu Ezekiel

.

“Oh, sejak kapan ada sarang burung di pohonku?”

Lueur mengerjap tiga kali, memastikan penglihatannya telah bekerja dengan sempurna di pagi hari. Keraguan menyelimuti, karena bisa jadi pandangannya tengah terdistraksi oleh paparan sinar matahari yang menerobos lebatnya dedaunan hingga menciptakan ilusi bayang sarang burung di salah satu ranting pohonnya.

Namun lebih dari apa pun, ia tidak dapat mengabaikan cericip bayi-bayi burung yang nyata tertangkap oleh sepasang gendang telinganya.

“Pohonmu?” Terdengar suara bariton menyela lamunannya.

Ketika berbalik, Lueur mendapati sosok pria jangkung dengan jas putih tengah memandang ke arahnya. Dengan tangan kanan menggenggam botol berukuran medium, entah berisi apa, tangan kirinya digunakan untuk menghalangi pandangan dari sorot matahari yang menyilaukan hingga menyembunyikan separuh wajahnya.

“Kau bilang ini pohonmu? Apakah kau menanamnya sendiri? Kau memiliki bukti kepemilikan yang sah? Sertifikat, misalnya?” Pria tersebut merajut langkah mendekat sembari membombardir gadis yang dituju dengan rentetan pertanyaan tanpa henti.

Lueur bingung harus menjawab yang mana dulu. “Secara teknis, pohon ini memang milikku karena aku tinggal di sini,” tukas Lueur sembari menilik tatapan skeptis yang diarahkan pria tersebut kepadanya. Entah semata karena sengatan sinar matahari, atau juga karena keseluruhan penampilan Lueur yang ganjil—sepasang manik oranye terang dan rambut sebahu warna hijau tua.

Ketika berada di bawah perlindungan bayang pohon ash, tangan pria itu tak lagi membayangi matanya dan menampakkan manik cokelat susu yang kukuh memancarkan pandangan sangsi pada pernyataan Lueur. “Well, aku minta maaf karena telah lancang meletakkan sarang burung itu di pohonmu.

“Rumah mereka dipotong karena usianya yang tua dan batangnya rapuh. Warga sekitar khawatir pohon itu bisa roboh sewaktu-waktu dan menimpa rumah mereka, jadi … aku tidak punya pilihan.”

Melihat reaksi nihil dari gadis yang tetap diam dan bergantian menatap pria itu serta sarang burung di atas mereka, si pria kembali berkelakar, “Jika kau keberatan aku akan menurunkan mereka sekarang juga.”

“Oooh, tidak, tidak, tidak, kau tidak perlu naik! Nanti jasmu kotor.” Lueur berseru panik ketika pria tersebut dengan giat menanggalkan jas dokternya tanpa menanti respons darinya.

“Baguslah kalau begitu.” Si pria tersenyum lebar, lantas menyodorkan jas dokter miliknya ke lengan Lueur, kemudian melepas sepatu dan kaus kaki yang ia kenakan. “Karena aku hanya punya cukup waktu untuk memberi mereka sarapan, bukannya mencarikan rumah baru.”

Lueur tidak sempat meneriaki pria yang kini sudah mencapai salah satu batang pohon. Dengan susah payah ia membuka penutup botol dengan gigi—karena tangannya yang lain ia gunakan untuk memeluk badan pohon—lalu ia menuangkan seluruh isi botol ke dalam sarang burung. Selama lima detik ke depan, udara di sekitarnya diisi oleh cicitan anak burung yang terdengar sepuluh kali lipat lebih riuh.

Segera setelah kedua kaki pria itu menyentuh bumi dan telah kembali mengenakan kaus kaki lengkap dengan sepatu, Lueur mengembalikan jas dokter yang tersampir di lengannya.

“Terima kasih banyak, dan maaf, tampaknya aku akan menyewa pohonmu untuk sementara waktu sampai aku menemukan pohon lain yang aman untuk mereka tinggal.”

“You’ve gotta be kidding me.”

Alis si pria berjingkat dan Lueur membalasnya dengan senyuman. “Kau tidak perlu menyewa pohon ini. Serius. Aku tidak masalah dengan kehadiran mereka di rumahku.”

“Well, that’s a good news, really. I do hope we can work well together.” Si pria lantas mengulurkan tangannya, “My name is Dirksen. Kinos Dirksen.

Tersenyum, Lueur menjabat tangan di hadapannya. Lueur. Lueur Fraxinus. A wood nymph.”

*

Setengah jam kemudian Lueur mulai sibuk mendorong kereta penuh vas dari kamar ke kamar, dari lantai ke lantai. Ia berkeliling seantero rumah sakit untuk memberi bunga segar pada setiap kamar pasien yang ada di sana. Setiap tangkai yang ia bawa berbeda satu sama lain, menyesuaikan dengan kebutuhan psikologis para pasien.

Pekerjaan yang tampak mudah, namun cukup menguras tenaga. Karena selain harus berkeliling ke penjuru rumah sakit yang luas bukan main, sehari sebelumnya Lueur terlebih dahulu menelusuri setiap sudut hutan untuk mengunjungi peri-peri demi bunga yang ia butuhkan.

Jadi, begini sistem kerjanya. Secara kontrak, para nymph hutan yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit bertugas membawakan bunga yang dapat membuat pasien merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Apa saja asal dapat menunjang kestabilan psikis mereka untuk mempercepat proses penyembuhan.

Tentunya dibalik semua anugerah itu ada peri-peri yang merawat bunga dan memberikan energi positif pada setiap tangkai yang mereka kembangkan, untuk kemudian dibawa para nymph hutan ke rumah sakit. Tanpa bantuan para peri, tentu bunga yang tiba di rumah sakit tak lebih dari sekedar tanaman indah warna-warni yang sedap dipandang dengan aroma memikat.

Lueur bukanlah satu-satunya nymph hutan yang bekerja di rumah sakit tersebut. Hanya saja, ada satu hal yang membedakannya dengan rekan sesama nymph lain, yaitu penampilannya yang lebih alami. Ia menolak mengenakan samaran untuk mengubah penampilan, semata agar lebih diterima seperti yang acapkali dilakukan rekan sejawatnya—mengubah warna rambut menjadi cokelat keemasan dengan tekstur bergelombang, memberi ilusi pada permukaan kulit agar tampak semulus pualam, dan tak lupa contact lenses hijau terang serta bulu mata tebal nan lentik.

Mengabaikan ilusi, Lueur menyembunyikan warna kulit aslinya dengan mengenakan stocking hitam sebelum rok kerja selututnya, dan kemeja lengan panjang serta sarung tangan, agar tidak membuat pasien lari atau pingsan karena kaget saat melihat warna kulit aslinya. Sementara untuk warna rambut yang berubah-ubah seiring dengan perubahan warna daun sesuai musim, Lueur tidak memberikan perlakuan khusus apa pun.

Cukup menggelikan bagaimana diskriminasi tak kasat mata semacam ini masih saja ada, kendati manusia dan para magical creatures telah hidup berdampingan dalam kurun waktu yang tidak sebentar.

*

Tepat tengah hari, Lueur telah menyelesaikan tugasnya. Saat itu gumpalan awan setebal gula kapas tengah berarak-arak di langit dan berhasil menyembunyikan sorot terik matahari, serta memberikan sedikit kesejukan di musim panas.

Nymph hutan tersebut tengah bersandar di bawah satu-satunya pohon ash yang tumbuh di halaman rumah sakit tempatnya bekerja, ketika ia mendengar sebuah entakan napas yang tertahan. Memutar pandangan, ia mendapati Kinos berdiri terpaku tak jauh darinya.

Lueur tengah beristirahat, yang mana artinya menanggalkan sepatu hak dan sarung tangan yang ia kenakan, serta menggulung kemeja lengan panjangnya sampai ke siku. Tentu ia dapat dengan mudah menebak penyebab dari keterkejutan yang muncul pada raut wajah pria yang baru ia temui pagi tadi.

“Belum pernah melihat kulit asli nymph hutan, Mr. Dirksen?” Dengan gemulai ia melambaikan punggung tangannya yang sewarna kulit pohon ash, cokelat muda keabu-abuan, di hadapan pria yang akhirnya kembali dapat menguasai diri dan beranjak mendekat.

“dr. Dirksen, please.”

Lambaian tangan Lueur berhenti di udara, lantas ia menatap pria di sampingnya dengan pandangan menyelidik. Pria ini … apakah ia terbentur tiang infus saat bertugas? Apakah ia pria yang sama dengan yang ia temui pagi tadi?

“Pardon?”

“Aku tidak lulus kuliah kedokteran hanya untuk menguras rekening orangtuaku, oke? Jadi sedikit apresiasi atas keberhasilanku membebaskan diri dari siksaan fakultas terkutuk itu tidak akan berlebihan, ‘kan? Kurasa tidak.”

“Baiklah, baiklah. Jika itu maumu, dr. Dirksen.” Ah, bagaimana caranya Lueur tetap kesal kalau sudah begini?

“May I have a word, Lueur?” tanya suara sedingin besi yang datang dari balik batang pohon, menyela perbincangan di antara Lueur dan Kinos.

Sontak keduanya berbalik dan mendapati sosok menjulang dengan jas putih bersih serupa milik Kinos tengah berdiri di teras yang menghubungkan ujung sayap kiri bangunan dengan halaman belakang.

Rambut perak sepunggungnya diikat asal-asalan dengan seutas pita warna merah darah. Ia memiliki sepasang manik lavender, tulang pipi menonjol, dan bibir mungil merah jambu yang tampak sekeras baja untuk dapat dibengkokkan membentuk seuntai senyuman. Meski begitu, keseluruhan tampilannya tetap memesona.

Kinos nyaris menyapanya dengan ‘Oh halo, nona cantik. Apakah kau juga dokter di rumah sakit ini? Boleh aku minta nomor ponselmu?’ namun ia kalah cepat dengan Lueur yang menyapa dengan antusias.

“Sure, Lancdon. Give me a second.”

Mengalah, Kinos memilih merekam dengan cekatan silabel identitas yang baru saja diutarakan si gadis nymph hutan. ‘Lancdon. Benar-benar nama yang indah. Cocok dengan pemiliknya.’

“It’s okay, Lueur. Take your time.” Suara si pemilik paras rupawan kembali mengudara, kali ini lebih lembut dan disertai untaian senyum tipis yang tidak hanya diarahkan kepada Lueur, tapi juga Kinos. Senyumannya setipis kertas folio, karena pada detik berikutnya senyum itu telah hilang seolah tidak pernah ada.

“Wah, dia benar-benar wanita yang dingin, ya,” ujar Kinos.

“Apa? Siapa?” Lueur yang tengah mengenakan sepatunya beralih menatap Kinos yang beranjak bangkit dari duduk.

“Siapa lagi? Tentu saja temanmu itu.” Kinos mengarahkan dagunya pada sosok yang tengah memperhatikan seekor kupu-kupu pada tanaman merambat.

“Lancdon?”

Anggukan Kinos menghentikan gerakan tangan Lueur yang hendak mengenakan sarung tangan kirinya, dan tawa nyaring si nymph meledak seketika.

“Blimey! Lancdon is a mandr. Dirksen! What makes you think that he is a woman?”

Seketika tenggorokan Kinos tercekat, ia kehilangan suara. Aliran darahnya menyebar ke seluruh permukaan wajah dengan kecepatan kilat, hingga dapat dipastikan kini leher dan cuping telinganya juga telah berubah warna menjadi merah padam.

Dengan dua tarikan nafas teratur, akhirnya Lueur dapat menghentikan histerianya. “He is an elf, after all. Surely, he inherits his families’ flawless genes.”

“Jadi tolong berhati-hati jika ingin memacari elf, oke. Pastikan terlebih dahulu mereka ‘benar-benar’ wanita.”

Tepat setelah membisikkan petuah bijaksananya pada Kinos yang masih terpaku di tempat, Lueur segera berlari menghampiri elf laki-laki yang sedari tadi mengarahkan tatapan penuh tanda tanya kepada keduanya. Si nymph hutan rupanya tidak ragu membongkar prasangka Kinos terhadap elf rupawan yang baru ia temui. Seketika senyum lebar terpeta di wajah pualam yang tengah memandang milik Lueur, kemudian sebelum melangkah pergi, manik ungu terang Lancdon mengedip jahil ke arah dokter baru yang juga tengah memandang ke arahnya.

Dan Kinos sendiri tidak yakin mana yang lebih menyakitkan. Kenyataan bahwa Lancdon adalah pria dengan kecantikan luar biasa, atau karena Lueur membongkar aibnya tanpa berpikir dua kali, atau bahkan keduanya.

*

“Petugas keamanan shift malam adalah werewolf, pegawai kebersihan adalah para siren—pastikan selalu menyiram toilet dengan bersih, atau kau akan keluar dari toilet dengan telinga berdarah dan nyaris kehilangan pendengaran karena mendengar nyanyian mereka. Sepertiga dari pegawai administrasi adalah penyihir, karena mereka dapat bekerja dengan eifisien dengan satu-dua ayunan tongkat dan mantra.

“Beberapa perawat adalah nymph karena mereka mengenal tanaman obat-obatan jauh lebih baik daripada manusia mengenali anatomi tubuhnya sendiri. Jabatan dokter umum sejauh yang kutahu masih didominasi manusia, tapi dapat dipastikan posisi dokter spesialis nyaris separuhnya diisi oleh para vampir—dengan gelar spesialis ganda atau bahkan berlapis—juga beberapa elf.

“Sayang kedua kubu tidak benar-benar bisa bekerja sama, dikarenakan dasar pengetahuan medis mereka sudah jelas bertentangan. Selama belum terjadi yang terburuk, kurasa rumah sakit akan tetap mempekerjakan kedua belah pihak. Oke, saatnya sesi pertanyaan dibuka.”

Baik Kinos maupun Lueur sama-sama terdiam. Entah Kinos tengah mengingat-ingat segala detail yang disampaikan Lueur, atau justru sibuk memikirkan elf bermata lavender yang ia temui kemarin. Baru saja Lueur akan menanyakan soal Lancdon, Kinos rupanya sudah buka suara.

“Baik, aku sudah mengingat semuanya. Tidak ada pertanyaan.”

Tanpa catatan kecil di tangan, Lueur benar-benar meragukan kapabilitas Kinos dalam merekam seluruh informasi dalam waktu singkat. Ah, sudahlah. Yang terpenting ia sudah menyampaikan apa yang perlu laki-laki tersebut ketahui.

Perkara suatu hari jasad Kinos digantung terbalik di salah satu pohon setelah dijadikan kudapan oleh para werewolf, atau makhluk lain, ia berharap tidak seorang pun dari mereka yang akan memilih pohon miliknya.

“Omong-omong kau dokter umum atau spesialis, dr. Dirksen?” tanya Lueur.

Veterinarian.”

Mengangguk mengerti, Lueur beralih pada pertanyaan selanjutnya. “Kalau selama ini kau bekerja di sekitar Britain, kurasa kau sudah tidak perlu kaget ketika bertemu nymph hutan dan elf rupawan macam Lancdon di tempat umum seperti rumah sakit ini.”

Well, aku baru saja pindah ke London. Selama ini sibuk berpindah-pindah dari savana satu ke yang lainnya di Afrika. Aku memilih hidup terisolasi dari media sosial, lalu tiba-tiba saja semuanya berbeda.”

“Aku ingin membiarkanmu tidak tahu apa-apa, tapi menemukan mayat dokter baru digantung terbalik di pohonku adalah hal terakhir yang kuinginkan.”

“Hal seperti itu pernah terjadi?” Pandangan Kinos melebar hingga Lueur khawatir sepasang bola mata lelaki tersebut akan melompat keluar sewaktu-waktu.

“Kenapa tidak? Ada cukup banyak vampir dan werewolf yang lapar setiap saat di sini.” Lueur mengambil jeda dan mendapati Kinos memberinya tatapan tidak percaya. “Tidak peduli betapa ‘profesional’nya mereka.

“Lagi pula kaum kita sudah bekerja sama sejak kurang lebih lima ratus tahun yang lalu, dr. Dirksen. Mustahil untukmu menutup diri.”

“Aku tidak lahir saat perjanjian kerja sama itu dibuat, oke? Sebelum pergi berkelana aku juga tidak terlalu memedulikan jati diri orang-orang di sekitarku. Setelah tinggal di Afrika aku terlalu fokus menjalin hubungan dengan anak-anak singa yang manis untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar savana. Aku bahkan baru tahu hari ini, kalau rumah Teletubbies sudah menggunakan lift sebagai pengganti papan seluncur spiral.”

“Oh, acara anak-anak itu? Sesekali aku juga menontonnya ketika mengunjungi bangsal anak-anak.” Entah mengapa Lueur merasa bangga ketika mengutarakan hal tersebut.

“Hal mendasar soal kemajuan hiburan anak-anak saja aku tidak mengikuti, apalagi kesepakatan hidup berdampingan antar makhluk hidup yang rumit semacam ini.” Kinos mengarahkan telunjuknya bergantian kepada Lueur dan dirinya.

“Lalu berapa usiamu?”

“Dalam tata krama manusia, bertanya umur itu tidak sopan, Miss Lueur.”

“Benarkah? Usiaku baru 316 tahun, jadi maaf saja kalau aku belum khatam menghafal tata krama kalian.”

“Oh, wow! Kau benar-benar definisi jomblo lapuk rupanya.”

Berdeham dengan cukup keras, Lueur memandang kesal ke arah Kinos. “Aku termasuk muda untuk ukuran nymph, dr. Dirksen!”

“Maaf, aku hanya bercanda. Kau sendiri kenapa memilih bekerja di rumah sakit? Dengan bakatmu mengenali beragam bunga, kau bisa membuka toko bunga, kan?”

Well … aku datang kemari sebagai seorang nymph yang buta huruf. Tidak pernah terpikirkan untuk mengurus perizinan mendirikan usaha, terlebih jika harus berurusan dengan proses peminjaman modal pada bank—kudengar urusan administrasinya rumit bukan main. Syukurlah Lancdon mau memberiku sedikit pelajaran membaca dan menulis sejak ia pindah kemari, kurang lebih sejak dua abad lalu.”

“Itu artinya nanti ketika kau sudah tidak buta huruf, kau bisa—”

“Tidak mungkin aku meninggalkan Lancdon begitu saja dan membuka toko bunga. Itu tidak etis.”

“Karena hutang budi?”

“Semacam itu.”

Keheningan kembali mengisi jeda, sementara keduanya menyerap informasi dari masing-masing pihak.

“Kau bilang kau mencintai anak-anak singa yang hidup bebas di savana, ‘kan?” Lueur bertanya dan mendapatkan anggukan dari Kinos sebagai respons. “Lalu kenapa kau kembali ke London dan bekerja di rumah sakit?”

“Aku pulang untuk ibuku yang sedang sakit keras dan harus segera mendapat pengobatan. Ayahku sudah pergi lama sekali, mungkin itu sebabnya ibu susah untuk pergi meninggalkan rumah. Kupikir dengan bekerja di rumah sakit, aku dapat membujuknya kemari.”

“Kalau boleh tahu, beliau sakit apa?”

“Aku juga belum tahu pastinya. Hanya saja, beliau sesekali tampak kesulitan bernapas.”

Lueur mengangguk mengerti. Ia ingin bertanya lebih lanjut, namun ia urungkan ketika mendapati jam istirahat makan siang akan segera berakhir.

“Aku harus segera ke kantor Lancdon. Tidak ada pembicaraan serius, aku hanya akan membantu mengepang rambut panjangnya agar tampak lebih rapi. Kau mau ikut?”

“Aku?”

“Ia spesialis jantung terbaik di rumah sakit ini. Kupikir mungkin kau bisa berkonsultasi dengannya mengenai ibumu?”

“Ah, ide yang bagus.” Kinos tampak serius mempertimbangkan saran Lueur untuk sepersekon. “Aku akan mencoba menemuinya, tapi mungkin lain kali. Karena aku juga harus segera kembali ke ruanganku.”

*

Hari-hari selanjutnya Lueur terlibat dalam kegiatan monoton Lancdon dan Kinos, yang mana di antaranya mengisi jam makan siang dengan topik riwayat kesehatan Mrs. Dirksen sembari berkumpul di bawah pohon ash milik Lueur, kemudian mendiskusikan masalah kesehatan yang dialami Mrs. Dirksen pada saat jam praktek Lancdon dan Kinos berakhir di sore hari, dan yang terakhir adalah merundingkan cara-cara untuk membujuk Mrs. Dirksen agar mau dirawat di rumah sakit.

Dengan keseluruhan topik yang berada di luar jangkauan Lueur, mau tak mau ia harus puas dengan peran sebagai pendengar setia. Meski begitu, tampaknya tidak ada di antara kedua dokter tersebut yang berniat segera membebastugaskan si nymph hutan dari rutinitas yang luar biasa membosankan ini.

Dan syukurlah, sebelum Lueur sempat mengajukan protes, Kinos sudah terlebih dahulu menghampirinya dengan sebuah berita bahagia pada saat jam makan siang tiba.

“Semalam Lancdon pergi mengunjungi kami dan tadi pagi ibuku berkata bahwa beliau bersedia menjalani pemeriksaan dan dirawat di rumah sakit ini!”

Lueur tidak menyangka Kinos dan Lancdon akan nekat menggunakan pesona si elf rupawan ke dalam salah satu rencana mereka untuk membujuk Mrs. Dirksen pergi berobat—yang ajaibnya berhasill—dan membuat Lueur turut merasa senang, hingga tanpa berpikir dua kali segera menyatakan ia siap melakukan apa saja, selama berada dalam jangkauan kemampuannya, untuk membantu mempercepat proses kesembuhan Mrs. Dirksen.

*

Sudah seminggu berlalu sejak Mrs. Dirksen dirawat di rumah sakit dan seperti biasa Lueur menghabiskan jam makan siang dengan mengunjungi kantor Lancdon, sementara Kinos mendekam di bangsal ibunya untuk makan siang bersama.

“Bagaimana keadaan Mrs. Dirksen, Lueur?” tanya Lancdon kepada nymph hutan yang lebih memilih mengunci mulut sementara jari-jemarinya menari lincah di antara helaian rambut keperakan si elf yang sibuk membaca beberapa dokumen menggunung di permukaan meja.

Gerakan jemari Lueur terhenti untuk beberapa detik, sebelum kembali bekerja seperti semula. “Kau yakin tidak salah menanyakan hal tersebut padaku?”

Well, operasi untuk Mrs. Dirksen akan dilaksanakan dalam waktu dekat dan aku ingin mengetahui pantauan kondisi psikis beliau langsung dari pengamatan seorang perawat yang andal.”

Meski samar, pendengaran tajam Lancdon berhasil menangkap satu dengusan kesal Lueur dari balik bahunya.

“Berhenti mengejekku, Lancdon! Aku sedang tidak ingin membotaki kepalamu,” tukas Lueur sembari mengikat rapi hasil kepangannya dengan sedikit kasar, semata agar si empunya rambut mengaduh kesakitan.

“Ayolah, itu tadi benar-benar sebuah pujian, Lueur. Sungguh, kau punya pengamatan yang lebih baik di antara para perawat yang lain!”

Dengan manik oranyenya si nymph hutan menelusuri detail raut wajah lawan bicaranya yang kini telah memutar kursi, hingga posisi mereka berhadapan secara langsung. Namun ia tidak menemukan sedikit pun tanda-tanda si pemilik manik lavender tersebut sedang membual.

“Kutebak sampai dengan tadi pagi totalnya sudah ada lima vas?”

“Dan aku yakin besok akan ada yang keenam.” Lueur menimpali dengan uring-uringan. Maniknya telah beralih dari wajah Lancdon ke lantai.

“We couldn’t deny the fact that Mrs. Dirksen is a florist, Lueur. Therefore, she surely knows every meaning of those flowers that you brought into her room very well.”

“Then she should not act like—”

“Bagaimana kalau mulai besok kau mencoba memberi beliau pilihan?”

Terperangah, Lueur hanya membalas pertanyaan Lancdon dengan tatapan bingung.

“Kau bisa membawakan beberapa bunga sekaligus kepada beliau besok dan biarkan Mrs. Dirksen memilih sendiri bunga mana yang paling beliau senangi untuk diletakkan dekat dengan dengannya.”

Untuk beberapa menit Lueur mencoba menimbang saran yang diberikan kepadanya. Ia tengah sibuk memperhitungkan keefektifan dan efisiensi langkah tersebut ketika lagi-lagi elf bersurai keperakan di hadapannya sudah kembali memotong dengan tidak sabaran.

“Ini hanya tebakanku, tapi kurasa Mrs. Dirksen ingin mengungkapkan sesuatu, namun beliau tidak tahu bagaimana caranya. Kalau tidak, mana mungkin beliau sampai nekat memecahkan vas bunga lima hari berturut-turut, bukan?”

Dengan santai Lancdon mengedikkan bahu sebagai respons atas tatapan penuh tanya yang diberikan kepadanya.

Dan Lueur tidak ingat kapan ia merekatkan sebuah plester untuk menutupi luka di ujung jari telunjuknya, yang diakibatkan tergores pecahan vas di kamar Mrs. Dirksen pagi ini, sampai Lancdon meraih tangan kanannya dan menyerahkan sebuah kertas pembungkus plester ke dalam telapak tangannya.

“I know that you still care about her health as much as Kinos and I do, Lueur. So, please, bear with her unique attitude a little more, okay?”

*

Terhitung lima hari lamanya sejak terakhir kali Lueur bertukar sapa dengan Kinos. Lima hari sebelum operasi Mrs. Dirksen akhirnya dilaksanakan, yang kemudian menelan hilang keberadaan dokter eksentrik tersebut seluruhnya. Bahkan presentase berpapasan secara tidak sengaja pun tidak menembus angka satu persen. Di kantin, di halaman belakang, Lueur tidak dapat menemukan pemilik sepasang manik cokelat susu tersebut.

Lancdon juga sama tidak tahunya ke mana pria yang sempat jatuh cinta padanya itu akhir-akhir ini. Terakhir kali ia bertatap muka dengan Kinos adalah saat melaksanakan kunjungan rutin ke bangsal Mrs. Dirksen setelah menjalankan operasi beliau, yang mana berarti dua hari lalu.

Yang tersisa dari bukti kehadiran Kinos tinggallah cicit nyaring anak-anak burung yang bersarang di pohon ash milik Lueur.

*

Satu bulan tepat berlalu saat Lueur tidak sengaja menangkap presensi Kinos melangkah keluar lift dan pergi ke ruang prakteknya. Hari itu Sabtu pagi dengan langit abu-abu gelap yang siap menumpahkan air hujan kapan saja.

Segera, setelah menyelesaikan tugasnya di siang hari, Lueur memutuskan pergi ke salah satu ruangan berlabelkan drh. Dirksen. Ia mengetuk dan mendapat tanggapan singkat dari dalam yang mengizinkannya masuk.

Betapa kagetnya ia mendapati ruangan Kinos telah bersih dari peralatan praktik dan dipenuhi kardus berbagai ukuran. Nyaris seluruh isi lemari buku dan hiasan di dinding telah dipindahkan ke dalam beberapa kardus, sementara sang empunya ruangan sendiri tengah berjibaku mengemasi barang-barang di meja kerjanya.

“dr. Dirksen, ruanganmu—”

“Oh, hai, Lueur. Kau sudah datang duluan rupanya, padahal aku baru saja akan berpamitan, karena seluruh isi ruangan ini dan pemiliknya akan pindah ke Richmond besok.”

Lueur memilih diam dan membiarkan Kinos memberitahukan detailnya tanpa ia perlu bertanya.

“Ah … begitu rupanya.”

Keheningan menggelayut untuk sepuluh menit lamanya. Tepat setelah Kinos menutup kotak terakhir, ia baru kembali membuka mulut.

Mind if I ask you something, Lueur?

Sure.

Well, aku tahu sudah sepantasnya tidak lagi membahas hal ini.” Kinos berdeham, sebelum akhirnya menatap manik oranye Lueur yang balas manatapnya tenang. “Tapi, sebagai perawat, kau bilang bunga dapat menyembuhkan, membahagiakan, dan menstabilkan psikis pasien untuk menunjang penyembuhan mereka. Yang kemudian kuketahui bahwa hal tersebutlah yang membedakan rumah sakit ini dengan yang lain. Lalu kenapa—”

“Aku dan Lancdon telah berusaha semampu kami, dr. Dirksen. Ibumu juga.”

“Dan tetap berakhir pada kematian?”

“Mrs. Dirksen telah memilih akhir yang beliau inginkan. Sudah sepantasnya kita menghargai keputusan beliau.”

“Memilih akhir yang diinginkan? Jangan bercanda, Lueur!”

“Jawabannya ada pada bunga dafodil.”

Pandangan skeptis serupa yang pernah dilayangkan Kinos saat pertama kali bertemu Lueur kembali muncul. Kali ini kedua alis tebalnya bertaut cukup dalam.

“Ingat betapa seringnya beliau membanting vas bunga yang kuberikan selama beliau dirawat inap? Bougenvil, liatris, passiflora, lily, mullein—semuanya hancur berantakan. Setelah lima hari berturut-turut, sesuai saran Lancdon aku mencoba membawa beberapa bunga berbeda sekaligus dan meminta beliau memilih bunga yang beliau suka, yang paling sesuai dengan suasana hatinya. Dan pilihannya jatuh pada bunga dafodil.

“Which means a new beginning.”

Kinos terpekur di tempat, sementara Lueur manarik napas yang sedari tadi ditahannya sembari menata kata-katanya sedemikian rupa. Sebatas agar kalimat yang ia ucapkan selanjutnya tidak menghancurkan Kinos lebih dari yang diperlukan untuk dapat mengembalikan laki-laki tersebut pada realita.

“Beliau tetap melaksanakan operasi semata untuk memenuhi janjinya kepadamu. Lebih dari itu, beliau berharap ia dapat memberikan kembali kebebasanmu untuk bepergian ke mana pun kau mau, bukannya menjadi beban dengan membatasi ruang gerakmu di London.

“Untuk itu, kita semua tahu, secanggih apa pun alat operasi yang digunakan, seahli apa pun dokter spesialis yang melakukan operasi, semuanya akan sia-sia jika sejak awal pasien menolak untuk diobati. Sebagai seorang dokter, kau—”

“Aku dokter hewan, bukan dokter manusia, Lueur!”

Kinos memijit pelipisnya yang berdenyut nyeri bukan main. Ia tahu tidak sepantasnya ia mengarahkan emosinya pada nymph hutan yang telah banyak membantunya. Namun amarahnya membeludak begitu tiba-tiba, sehingga ia tak tahu harus melampiaskannya ke mana lagi.

Untuk tidak memperburuk keadaan, Kinos memilih bangkit dan memunggungi Lueur. Berharap dengan memandangi lanskap kota London dari ketinggian lantai empat akan membantu mengalihkan perhatiannya.

“Bagaimanapun juga, seorang dokter tetaplah dokter. Kau juga punya pasien dan tahu benar kesembuhan bukanlah satu-satunya solusi.”

Dengan satu sapuan tangan, Lueur memunculkan sebuket bunga zinnia di atas meja praktik Kinos. “Sebaiknya kau menemui ibumu sebelum pergi. Jarak London dan Richmond cukup memakan waktu, beliau pasti akan merindukan kunjungan rutin darimu, dr. Dirksen.”

Kemudian ia menyelipkan payung lipat ke dalam kantong jas kerja si pria yang disampirkan pada lengan kursi, sementara pemiliknya kukuh memunggungi presensi Lueur. “Jika kau pergi sekarang, kau akan tiba di sana saat hujan turun. Perhatikan langkahmu, aku yakin tanahnya licin.”

Dengan satu tepukan lembut di bahu Kinos, Lueur mengakhiri monolognya dan berbalik pergi. Ketika akan mencapai daun pintu, saat itu pula sang empunya ruangan memecah keheningan.

“Terima kasih.”

Langkah kaki Lueur terhenti, namun ia tidak berani berbalik untung memandang Kinos. Belum.

“Untuk semuanya, terima kasih banyak, Lueur. Tolong sampaikan juga salamku untuk Lancdon. Ia dokter yang luar biasa.”

Ketika berbalik, Lueur mendapati Kinos tersenyum kepadanya—matanya sembap dan di kedua pipinya yang memerah terdapat jalur air mata yang mengering. Lueur ingin berlari dan memeluk Kinos, namun ia tahu seberapa besar pria tersebut membenci hal melankolis semacam itu.

Jadi ia memilih diam di tempat, menyunggingkan senyum terbaik yang dapat disorot sinar matahari di balik punggung Kinos.

“You are very welcome, Kinos. And goodluck with Richmond.”

*

Fin.

VON’s Notes:

  1. Flowers’ language:
  • Daffodil (Narcissus) . . . New beginnings
  • Zinnia (Zinnia) . . . I mourn your absence
  • Passion flower (Passiflora) . . . Faith
  • Bougainvillea (Bougainvillea spectabilis) . . . Passion
  • Liatris (Liatris). . . I will try again
  • Lily of the valley (Convallaria majalis) . . . Return of happiness
  • Mullein (Verbascum) . . . Take courage

Credit: Victoria’s Dictionary of Flowers

  1. Terima kasih banyak kepada Kak Fika (fikeey), Titan (Io), dan Evin (fantasygiver) karena sudah bersedia menjadi beta-reader.
  2. Jika ada kesalahan penulisan dan informasi yang kurang akurat, please kindly inform me~ ^^
  3. Thanks for reading.
  4. Credit picture: here
Advertisements

7 thoughts on “Domestic Monsters: The New Beginning

  1. KAK FILZKUUUUUUH NULIS FANTASY AKHHHH HOW CAN I LIVE. sebentar sebentar, ini banyak yang mau kuungkapkan (tsah) jadi kak filz brace your eyes, okay?

    firstlyyyy! aku suka banget banget sama idenya yang memadukan hidup manusia sama magical creatures. werewolf jadi security? elf jadi dokter dan vampire??? semoga bukan surgeon ya nanti kalau lepas kontrol gimana he he he he. this is genius, kak filz! diramunya juga pas banget deh ah pokoknya oke oce! terus terus aku suka deskripsi wood nymph-nya kak filz apalagi masalah warna rambut itu aaaa itu lucu sekali!

    dan karakternya lueur dong, dia carefree sekali. dan aku masa ngeship dia sama lancdon sih kak. kayak mereka cute gitu bareng-bareng melulu ehe ehe ehe (ayo kalian jadian! ayo!) dan kalau sama kinos tuh lebih ke rasa temen banget ya xD apalagi adegan mereka bertiga ketemu di taman itu dan si kinos pengen godain lancdon HAHAHAHA itu lutju sekaliiii.

    but but, huhu, i’m sorry i have to say this. kak filz jangan marah ya (atau marah aja gapapa deh kalau aku kesannya sok tau dan menyinggung, huhu), but apakah kak filza lagi kena wb atau apa ya pas nulis ini? tapi percayalah, effort-nya kak filz selama nulis terasa banget. aku bisa ngerasain kalau kak filza bener-bener berusaha menjadikan fanfic ini bagus (dan memang BAGUUUUSSS!!!) cuma feel-nya kok agak kurang kak filz yang biasa, huhu. aku nemu cukup banyak typo, sama tanda baca yang miss, di antaranya: kedepan (ini harusnya dispasi krn preposisi), sesame (pasti autocorrect deh heu), Veterinarian (ga di-italic), terus mr. mrs. dr. itu penulisannya juga agak kurang konsisten, ada yang di-italic ada yang engga. masalah plot sih dari awal sampe yang konversasi tentang determinasi si kinos balik ke london mulus lus lus luuuuus kayak jalan tol habis di-refresh aspalnya, cuma aku agak kaget setelah itu kok kayak tiba-tiba mamanya kinos dioperasi dan tiba-tiba meninggal, jadi aku agak ngerasa rushing di situ aja sih kak. huhuhu once again i’m sorry i have to say this 😦 😦

    nah, buat aspek lainnya? MANTAP SOUUUUUUUUL. fantasy is my jam yo, dan kak filz berhasil menyuguhkan selai-selai ini ke roti tawarku jadinya kenyang deh malem-malem HUEHUEHUE so thank you, kak filzkuuu! OH IYA SATU LAGI. AS ALWAYS KALAU KAK FILZ BIKIN SETTING DI ENGLAND, THIS FEELS SO BRITISH LAH ❤ ❤ ❤ huhu kak filz kapan-kapan harus ajarin evin bikin tulisan yang soooo british ya, kak. hehehe xD

    yosh kusuka sangat! semangat terus kak filzku tersayangkuuuuuh ❤ ❤ ❤ keep writing wiu wiu wiu!

    Liked by 1 person

    1. HALO, HALO, HALOOOOOO EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEVIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!!!
      VIN, FIRST THINGS FIRST, KUINGIN KAU TAHU DAN TEMPE BAHWA AKU SANGAT, SANGAT, DAN SUPER SANGAT SENANG DAPAT EVALUASI DETAIL DARIMUUUHHHH SECEPAT DAN SEKOMPLIT INI!!! ❤ JADI JANGAN CAPEK PEGAL LINU UNTUK SELALU EVAL MY CLUMSY WRITING EEEEVIIIIN YAWWW!!!

      So, here it is my confession(s)~ Please brace yourself ugha yha Vin bikos it’s going to be a super long long long reply HAWQHAWQHAWQ 😀

      1. Yash, ini adalah pertamakalinya aku berani untuk menulis genre fantasy, berkat proyek Domestic Monster dari Kafika yang super menggiurkan, akhirnya aku nekat, terpikat, dan taraaa aku benar-benar culture shock! Yang aku takutkan semuanya jadi nyata hahaha iku piye rasanya aku ingin gelantungan di poni oppa~

      2. Alasan aku selama ini tidak pernah main ke area fantasy adalah karena aku percaya dengan preference nulisku yang lebih ke misteri dan tragedy (?), fantasy itu jaaaaaaaaauh lebih sulit dan rumit. Butuh imajinasi warbyazah, ketelitian, details, and ofkooooooooooorsss extra dose of patience. Dan demi Teletabis sixpack, aku mawas diri bahwa aku satu dari sejuta umat yang mengidap penyakit lack in patience-nisme akut. Itulah kendala terbesar yang menahanku selama ini untuk ngga mencoba fantasi, dan kenapa aku respect Evin dan juga gaiz-gaizku yang jago banget bikin fantasy. KALEYAN WARBYAZAH SABARNYA GAIZ CIUSAN INI AKU SUDAH MERASAKANNYA DAN RASANYA AKU MAU … KELONAN SAMA BAYGON BAKAR AROMA LAVENDER SADJA.

      3. Setelah buka feedback dari Evin aku niatnya mau okelah kita babat besok, sekarang mari istirahat, karena kebetulan aku baru balik ngampus jam 9 malem, niat bobo cantik jam 10 TAPI DAT PLOT BUNNY DAN URGENCY UNTUK MENYELAMATKAN MY TRIO FANTASY BABIES (LUEUR, LANCDON, AND KINOS) BENER-BENER GA BISA DITAHAN SOALE KUYAKIN KALO KUABAIKAN MEREKA AKAN MENUSUKKU DARI BELAKANG LALU AKU DIKUTUK WB SEUMUR HIDUP KEK GOBLIN :,<

      4. Iyep, Evin tepat sekali soal WBkuhhh. Dengan genre baru aku sudah merasa dagdigdug, dan asli WB tuh ngga membantu, tapi kuyakin kalo aku tidak mulai menulis, proyek ini sampai Menara Pisa bisa kayang juga ngga bakal kelar, dan akhire aku garap untuk memperjuangkan nasib my precious babiesss satu-dua-tiga akhire nyampe 3000 kata … anjir sumpah Vin ini the longest fic yang pernah kutulis semenjak aku aktif nulis lagi, alias semenjak aku gabung WS dan kalau ada typo, error, dan syalala itu selain WB dan ngga teliti adalah ya karena aku ngga teliti #slaps T^T Ampun ya aku nulis 1000 words aja masih suka ada aja yang ketinggalan errornya ini malah 3000, ((dan sekarang 4000, setelah aku rombak lagi)) aku gatau harus bilang apa selain makasih dan saranghaeyo ke kamu Vin, kafika, dan Titan yang sudah kulibatkan dalam eval dan beta-read jahannam ini :’ AKU TERHARU!!!

      5. Untuk italic, typo, dan penulisan mrs., mr., dan dr., sudah kuperbaiki Vin, dan asli aku rasanya mau marathon ke pluto bikos Evin sudah bertahan membaca 3000+ words ini dan masih bisa point this that error out tuh aku terima kasih banyaaaak banyak Vin serius, terima kasih sudah peduli denganku, tulisanku, dan Lueur-Lancdon-Kinos aaaaaaa thank a lot!!! ❤

      6. Last but not least, ada kabar gembira sekaligus berita bencana (haha) aku barusan menolak tidur adalah karena AKHIRNYA aku menemukan inspirasi untuk ngisi black hole (karena uda kegedean buat dibilang plot hole rasanya) yang ada di tengah cerita, yaitu soal Mrs. Dirksen yang tau-tau mati, yap itu WB dan aku bener-bener bingung tiga bulan buka tutup Ms. Word untuk ngisi bagian itu, karena aku pernah nyoba satu plot yang mana malah fokusnya end up nyeleweng ke masalah kesehatan Mrs. Dirksen sepenuhnya, padahal yang ingin kujadikan fokus adalah Lueur, detail dan konsekuensi pekerjaan dia, lingkungan kerja, dan orang-orang di sekitarnya. Lalu kupilih jalan sesat dengan menginstankan cerita ke momen Lueur-Kinos membahas bencana lima vas pecah. Tapi asli itu sampis banget astaga sejatinya aku ingin mencakar layar tiap kali sampe di bagian itu. Untuk itulah aku sangat bersyukur karena hari ini aku dapat pencerahan setelah baca feedback dari Evin, ah, I should add this and that, to cover the holes!!! Dan seperti kubilang di atas, kalau ini diabaikan, aku khawatir dikutuk WB seumur hidup bikos kalau ditunda aku ngga yakin kapan aku bakal ada kesempatan untuk memperbaiki ini. For the love of my first fantasy baby (awww) and all of three characters inside, aku rela ngediskon tidurku haahahaw~ Dan kuharap, sedikit banyak, black holenya sudah teratasi.

      7. FINALLY, THANKS A LOT EVIN. AKU NGGA AKAN KAPOK DENGAN FANTASY, KARENA BIAR JUGA SULIT MINTA AMPUN FANTASY ITU SERU??????? KUHARAP NGGA ADA YANG TRAUMA JUGA BACA FANTASYKU HAHAHHAHAHAHAHA AAAAAAAAAAAAAAND AND AND ALSO FEEDBACKMU AKAN KUTUNGGU SELALU EVIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!!! ❤ ❤ ❤ #THORHUG #HULKHUG #SPIDEYHUG #HACHIKOHUG #TELETABIESHUGSSSSS

      Like

  2. KAPANG!!! TAU GAK AKU UDAH NAHAN-NAHAN BUAT ENGGA BACA DULU PAS BELOM ADA MOOD HAHAHAHA DAN INI BARU MAMPIR MOOD-NYA. AKHIRNYA!! AKHIRNYA AKU BISA NGEBOM KOMEN BOKS KAPANG PAKE CAPSLOCK YES! KAPANG JANGAN MARAH SAMA AKU YA. BIKOS THIS IS GONNA BE LONG AND PLEASE BEAR WITH IT. KALO KUAT BACA SAMPE AKHIR SEMOGA ENTAR DI JALAN KETEMU PA POLISI GANTENG KAYA JEON JUNGKOOK HAHAHAHAHAHA. OKE HERE WE GO.

    – FIRST THING FIRST KAPANG MAKASIH UDAH IKUTAN DOMESTIC MONSTERS-NYA FIKA HUHUHUHUHU AKU TERHARU DAN MAKASIH ATAS CERITA TENTANG NYMPH-NYA YANG CETAR BEGINI OMG. Aku bilang kemaren di grup juga ingin sedikit merevisi apabila pembangunan karakter monsternya kurang TAPI APALAH AKU INI POTATO KALO URUSAN MONSTER SEBENERNYA DAN DARI SUMBER YANG KUBACA, KARAKTER NYMPH-NYA INI DAPET BANGET KAPANG YAAMPUN AKU MO MELUK KAPANG SAMA LUEUR, LANCDON, DR. DIRKSEN, SEMUANYAAAA :’)
    – BENTAR MASIH MAU NGAKAK SOALE SI DR. DIRKSEN MALAH SMITTEN PAS NGELIAT LANCDON. HEY KALIAN PLEASE JANGAN MEMELINTIR RATING CERITA INI YHA PLEASE.
    – aku masih amaze dan masih sangat sangat sangat sangat sampe sejuta kali jatuh cinta sama dunia yang dibikin kapang. lyke, seriously hospital yang dihuni oleh makhluk-makhluk dunia lain(?) dan memiliki jobdesc masing-masing astagaaaa:’) semoga yang biasanya clash-clash di sini mereka baik-baik aja ya kapaaang hehe. ngga bisa ngga cinta juga sama lueur yang sangat percaya diri sampe nggamau nutupin traitsnya dia. really, quirk yang kucinta banget dari diaaa. dan kebayang di aku dia tuh yang periang gituuu kyaaw. tapi strong dan bisa nempatin diri di berbagai keadaan huhu kapaaaang. satu lagi karakter yang kucinta dari sekian oc yang dibikin hehehe. (tentu kutidak melupakan jane sama jake HEHEHEHEHE).
    – mau bilang makasih banyaaaaaak sama evin buat ngasih poin yang kelewatan ngga aku revisi huhu (salam sayang ke evin). ❤ ❤ oiyaaa, dan walaupun cerita ini masih sedikit terciprat feel webe; tapi aku pribadi (sejauh seringnya aku ngikutin tulisan kapang yaaa hehe) ini masih ngegambarin kalo 'wah ini punya kapang!' hehehehe. makanya kemaren tida terlalu aku gubris hehe. bikos takutnya malah keilangan feel kapangnya huhu maaf :"
    – POKOKNYA MAU BILANG MAKASIH LAGI YANG BANYAK BUAT KAPANG UDAH MAU IKUTAN SERI KECIL-KECILAN AKUUU HEHE. KAPANG, KAPANG, KALO AKU MO BIKIN SERI LAGI ENTAR IKUTAN LAGI YAAA. ENTAR AKU MO NYARI TOPIK YANG ANEH DULU HEHEHEHEHE 😀

    makasih banyak makasiiiih. makasih udah nyelesein satu dari lima (apa enam ya) partnya kapaaang. semoga nanti pas udah kekumpul semua dan akhirnya tiba giliran aku buat ngewrap-up semua; ngga mengecewakan HEHE. kapang pas nanti udah bagian aku, kalo aku japri berkenaan karakter lueur jangan marah yaaa hehehehe pasti kubakal banyak nanya :')

    MAKASIH BANYAK MAKASIH POKOKNYAAAA. SALAM OLAHRAGA!! SEMOGA KAPANG KETEMU POLISI GANTENG DI JALAN HAHA xD see youuuu ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. KAFIKAAAAAAA AKU TADI AKHIRE KETEMU PAPOL GANTENG PAS PULANG ROMUSHA! PAPOLNYA ADA DUAAAAAAA!!! AAAAAAA AKHIRE AKU BISA BALES KOMEN KAFIKA! YES! AKU MENUNGGU KETEMU PAPOL GANTENG :”””

      BIAR JUGA GA KEK JUNGKOOK TAPI GANTENG

      BIAR JUGA CUMA SEKEDIPAN PENTING GANTENGGG HAHAHAHA

      MAKASIH AAAAAA KAFIKA AKU TUH YANG MAKASIH BANYAK BANYAK KE KAFIKA T.T

      TERIMA KASIH SUDAH MENGIZINKAN ANAK BUTA FANTASY INI IKUTAN PROJECT KAFIKA.

      TERIMA KASIH SUDAH BERSEDIA JADI GUIDE AKUH SEJAK MULAI SAMPAI BETA READ YANG SEMOGA TIDA BUAT KAFIKA JERA.

      TERIMA KASIH UNTUK DOA PAPOL GANTENGNYA AKU KETEMU DUAAAAA (LAGI)

      AKHIR KATA KUHARAP JADI SYUKSES SANGAD PROJECT KAFIKA AND YESSS KUAKAN SEDIA SETIAP SAAT JIKA KAFIKA INGIN KENALAN DENGAN MBAK LUEURRRR EHREWEEWEWE

      PASTINYA KU AKAN BELAJAR BANYAK DARI KAFIKA, EVIN, TITAN, SOAL FANTASYYYYYYY!!!

      MANSAE! MANSAE! KAFIKA MANSAE!!!! #HULKHUGKAAAAAJ

      Like

  3. LANCDON!! HAHAHAHAHAHAHAH MAZ PLS AKU TERTIPU! KUSUDAH MIKIR LANCDON IS MASCULINE NAME BUT I THOUGHT MMH MAYBE I WAS WRONG BUT THEN TURNS OUT LANCDON IS REALLY A HE! goddamm i forgot a bout the whole androgyny thing smh

    i’m really fond of lueur here (jake’s still my favourite tho), especially her interaction with kinos and lancdon asdfjklhkha usually the fem character will have romantic feeling toward the male characters or vice versa but not this one. glad to read sth different once for a while ❤

    though, i can feel your struggle and perhaps frustration in this one, i still greatly enjoy the whole story. the flower language is a nice touch too!! your dedication here is no kidding 😀

    keep writing, kapang! ❤

    Liked by 1 person

    1. ANDROGINY MEMBUATKU SAWAN!

      Apalah wanita apalah lelaki jika engkau dilahirkan menjadi lelaki cantiq jelita?- Lancdon, sesosok pria maruk.

      My struggles are real :` but thank God I could overcome it with YOUR SUPPORT TILL THE END QAQA TANPAMU AKU BUTIRAN DEBU DI POJOKAN LAYAR LEKTOP!

      LUV YOUR CLUMSY YET LOVABLE VAMPIRE TOOOOOOO!!!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s