Prussian Blue [02]

Prussian Blue © fikeey & Fantasy Giver

Warning:
Language using and triggering materials. Please read wisely.

Suddenly I’m not half the man I used to be. There’s a shadow hanging over me.

Kim Taehyung masih tampak sama seperti terakhir kali Jungkook mengingatnya—surai gelap yang selalu terlihat tak pernah disisir, pakaian berlengan panjang dengan ukuran satu nomor di atas yang seharusnya, serta kebiasaan menggigit bibir apabila sedang gugup. Sang detektif junior menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk berdiri agak lama di pintu; seolah meyakinkan diri sendiri bahwa, hei, seseorang yang kini berada satu ruangan dengannya benar-benar Kim Taehyung, sahabatnya semasa SMA yang tiba-tiba menghilang sehabis upacara kelulusan.

Jimin pernah berkata padanya soal memanipulasi emosi diri sendiri ketika tengah berhadapan dengan saksi maupun tersangka, maka Jungkook menarik napas pelan dan melangkahkan kaki menuju kursi plastik di hadapan sang anak lelaki kedua. Iya. Ia berbohong jika mengatakan dirinya tidak gugup karena ia merasakan tatapan mata Taehyung terpancang tajam pada setiap gerak-geriknya.

Well, dari ribuan skenario yang mampu ia bayangkan, tak pernah sekali pun terbersit di kepalanya akan bertemu lagi dengan sang lawan bicara dalam situasi dan kondisi seperti ini. Hah. Selama tiga tahun keduanya berteman dekat, kini Jungkook mulai merasa bahwa ia tak pernah mengenal Taehyung sedalam yang ia kira.

You’ve never mentioned about working in a police department, Jungkook.” Suara Taehyung sengau, hampir tak terdengar, dan semburat merah masih dengan setia mewarnai hidungnya ketika ia menelurkan awal pembuka konversasi. Selalu begitu. Kim Taehyung dan segala kelihaiannya mengusir rasa canggung. Senyum pria itu kecil; nyaris menghilang bahkan, jika Jungkook sempat mengalihkan pandang barang sedetik. “And being the one assigned to this case.” Kalimatnya diakhiri dengan volume yang berangsur lirih.

“Taehyung, I’m …,” pandangan sang detektif junior bersirobok dengan milik pria di hadapannya, “I’m sorry for your loss.” Untuk sejenak, Jungkook menghela napas karena setidaknya ruangan itu tak lagi diisi oleh isakan Taehyung. Yeah, menyaksikan sahabatnya menangis tak pernah menjadi hal favoritnya, tentu, meskipun respons itu disebabkan oleh jalan cerita menyedihkan dari seri anime yang sering mereka tonton bersama dulu.

Namun kemudian Taehyung mengeluarkan suara seperti tercekik dari tenggorokannya dan detik berikutnya, bendungan di songket mata pria itu buyar lagi. “T-thank you ….” Ia menghela napas tajam sementara dua tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu. “I-I’m sorry, I can’t. She was …. Oh my God, I’m sorry ….”

Hey, hey. Calm yourself, okay? We’re going to do this slowly, yeah? We’re not in a rush.” Jungkook berkata pelan kala Taehyung masih belum mengangkat wajahnya.

Apabila ada sebuah kelegaan yang terasa seperti beban di bahumu terangkat, maka Jungkook sedang mengalaminya sekarang ketika pria di hadapannya menganggukkan kepala. “Okay,” jawaban Taehyung berupa bisikan samar disusul aktivitas lain menggosok mata dengan lengan sweter. “Okay, Jungkook.”

Sang detektif junior melayangkan senyum kecil yang meyakinkan Taehyung bahwa ia akan menunggu. Yeah, kadang ruangan ini memang bisa diisi dengan bentakan kasar dan sederet kata rutukan dari mulutnya; tapi tidak. Tidak ketika sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya; rapuh dan seolah tak memiliki pegangan apa pun untuk membuatnya tetap waras. Jadi ketika sang lawan bicara mengangkat wajahnya dengan sebuah helaan napas kuat seakan menyemangati diri sendiri, Jungkook menangkap gestur demikian sebagai tanda untuk melanjutkan.

Ia memulainya dengan pertanyaan paling mudah dan bahasa yang diperhalus. “Bisa kau ceritakan padaku kejadian di hari Madam tewas?”

Ada jeda sebelum Taehyung berbicara, “Tidak banyak hal yang aneh, sejujurnya.” Dan kelegaan Jungkook muncul samar terkait fakta bahwa suara sahabatnya lebih stabil sekarang. Ia mulai bersiap dengan mulut bolpoin di permukaan buku catatan. “Aku … well, kukira Madam sedang tak ingin diganggu ketika ia tidak turun untuk makan malam. Kami selalu makan di waktu yang berbeda. Madam hadir di meja pukul tujuh dan ketika Hoseok mengetuk pintuku pukul 7.15; kupikir ia menginginkan makan malamnya diantar ke kamar. Mungkin Madam sakit? Selama dua minggu ini ia terlihat kurang sehat. The others say Madam has been vomiting a lot.”

Jungkook merasakan kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi. “Keluarga macam apa yang makan malam di waktu berbeda, Taehyung? Dan bukankah kalian tinggal di bawah atap yang sama?” Well, ditambah dengan kenyataan penggunaan nama sapaan yang terdengar seperti lelucon di telinganya.

Taehyung tersenyum getir dan kenyataan bahwa sang detektif menangkap presensi lingkaran gelap di sekitar mata sang lawan bicara tidak sedikit pun mengurangi gejolak tak nyaman yang lama-kelamaan tumbuh. “Sebuah keluarga yang tidak menginginkan dirimu berada di dalamnya, mungkin?” Dan jawaban Taehyung sungguh kelewat pelan. “Aku tidak tahu kapan tepatnya tapi semenjak Dad meninggalkan kami dan Jaehyung keluar dari rumah bersama keluarga kecilnya … well then she’s stuck with me.”

Jaehyung. Kim Jaehyung—dan pikiran Jungkook kembali pada foto keluarga gigantis dengan ukuran yang begitu mendominasi dinding cokelat pucat di ruang tengah; bersama dengan foto pernikahan Madam Kim, tentu saja. Anggota keluarga ketiga dan anak lelaki satu-satunya (seperti yang semula menjadi spekulasi sang detektif). Lelaki itu lantas melarikan tangannya membuka file kasus yang diberikan Jimin, meraih tiga buah rekam foto keluarga Kim lantas meletakkannya secara berjajar di meja.

Sementara Taehyung yang duduk di seberangnya tidak mengatakan apa pun—seolah membiarkan Jungkook menyelesaikan teka-teki ini sendiri—sang detektif junior mulai membiarkan kepalanya dipenuhi satu, dua kemungkinan paling mendekati. Dan Jungkook sangat membenci salah satunya.

“Kau tidak—“

“Tidak diinginkan di dalamnya, iya, aku adalah sebuah kesalahan, Jungkook.”

Jungkook meminta penjelasan, lantas sepuluh menit setelahnya diisi dengan cerita panjang lebar Taehyung mengenai dirinya; well, setidaknya seperti itulah cara sang detektif junior menuangkannya dalam bentuk deskripsi kata-kata.

Kim Taehyung dilahirkan dari hubungan gelap Tuan Kim bersama kekasih lamanya sebelum pria pewaris Young-ja BioTech tersebut menikah dengan Madam Kim, sang pemilik perusahaan kosmetik Joli(e). Iya, situasi paling klise, mungkin, dan sering diangkat sebagai inti masalah dalam sebuah drama. Tuan Kim dinikahkan tanpa dasar apa-apa selain untuk memperlebar bisnis dua keluarga dalam suatu kerja sama. Jungkook menghela napas panjang pada bagian ini sementara Taehyung melayangkan senyum setengah hati.

“Aku tak pernah bertemu Mom.” Sang anak lelaki kedua berkata dengan bahu yang turun. “Well, ibuku yang sebenarnya, maksudku. Dad bilang ia meninggal waktu melahirkanku dan sejak saat itu Dad berjanji akan menjagaku dan memastikan hidupku baik-baik saja. Lalu Dad membawaku ke sebuah rumah yang besar sekali waktu aku mulai duduk di sekolah dasar.”

“Di mana kau tinggal sebelum itu dan siapa yang mengurusmu?”

Taehyung mengangkat wajah. “Di rumah keluarga Jung,” katanya. “Mereka yang menjagaku. Dad menceritakannya pada ulang tahunku yang kesepuluh. Ia menunjuk Hoseok yang kala itu berdiri di sebelahku dan mengatakan bahwa ia mempercayakan hidupku padanya—well, ketika umurnya sudah cukup, tentu saja.”

“Pada Jung Hoseok?”

Dan pertanyaan Jungkook dibalas oleh anggukan sang lawan bicara. “Umurnya tiga tahun di atasku dan Dad bilang, aku boleh bercerita apa pun padanya karena saudara laki-laki tak akan pernah menyembunyikan sesuatu. Aku, sih, sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri, jadi mudah saja melakukan permintaan Dad.

Sang detektif junior melayangkan senyum kecil dengan gestur mengamini.

“Sampai suatu hari … Dad meninggalkanku.” Taehyung mengeluarkan sebuah suara pelan yang mirip suara deham dan Jungkook menyadari bahwa pria di hadapannya sedang berusaha menenangkan diri. “Hoseok tidak mengatakan apa-apa selama perjalanan pulang, tak sedikit pun sementara sopir pribadi Dad mengambil jalan yang berbeda dari biasanya. Kupikir Dad akan mengajakku berkunjung ke makam Mom atau hal tak terduga lain karena Dad senang menyiapkan kejutan.” Ada senyum yang membayang waktu Taehyung menatap langit-langit seolah memutar kembali ingatan tersebut dalam kepalanya. “Tapi kemudian kami berhenti di depan bangunan yang sungguh asing dan hal pertama yang kulihat adalah … adalah foto Dad di tengah-tengah karangan bunga.

“Aku tidak ingat berapa lama aku menangis di bahu Hoseok dan Nyonya Jung berdiri di dekat kami untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja,” lanjutnya. “Entahlah, mungkin hingga keadaanku berantakan waktu itu namun aku tak peduli. Hanya ada satu waktu di mana aku sangat kecewa pada diriku sendiri dan meminta pada Tuhan supaya Beliau mengambil nyawaku saat itu juga.”

Jungkook tidak mengatakan apa-apa, pun berniat mengeluarkan komentar karena Taehyung tengah mengambil ancang-ancang untuk kalimat berikutnya.

Dad memiliki seorang pengacara keluarga yang sangat ia percaya. Dua hari setelah pemakaman, Pengacara Nam meminta kami semua berkumpul di ruang keluarga. Ya, dengan Jaehyung juga tentu saja.” Taehyung menarik tangan kanannya yang semula ada di atas meja dan kini Jungkook menebak pria itu lagi-lagi tengah berusaha mengontrol diri. “Pengacara Nam membacakan seluruh hak kami dan tiba pada suatu situasi dimana kami harus membaca bagian itu sendiri ….”

Suara Taehyung berangsur halus lalu menghilang, sementara Jungkook merasakan aliran darahnya membeku.

They all laughing at me.” Taehyung berujar pelan. “Well, not literally laughing. They’re just too good at hiding it but I noticed them.” Lalu disela dengan helaan napas ringan. “I don’t have Hoseok by my side to ask him to help me and yeah, that day I felt like I’m being a disgrace to both my dad and mom.

Maybe I’ve been progressed enough in a good way when I’m in high school, but still, words make my head dizzy.” Surai cokelat Taehyung ikut melambai ketika sang empunya melepaskan tawa pelan yang serak. “Tapi tidak dengan masa kanak-kanakku, Jungkook, karena kala itu semua hari-hariku penuh dengan jadwal—it’s all about visitations. Pediatricians, therapists, doctors.”

“Taehyung, what—“

“Guru kami pernah memberi tugas untuk membuat karangan. Kau tahu apa yang diimajinasikan seorang bocah kelas lima, ‘kan, Jungkook? Petualangan ini, petualangan itu. Dan bahkan aku sudah membayangkannya selama sisa pelajaran di sekolah.” Sorot dwimanik Taehyung terarah pada langit-langit ruangan seolah pria itu tengah membuka kembali simpanan memori lamanya. “Aku menulisnya hingga tanganku kram karena menggenggam pensil terlalu erat; lalu kepalaku pusing dari ribuan hal yang terus bermunculan. Ya. Dad mengunjungiku malam itu di rumah keluarga Jung dan mereka memberitahunya bahwa aku sudah kelewat bersemangat sejak pulang sekolah. Dad bertanya padaku apakah ia boleh mengintip, lalu kujawab tidak karena karanganku akan menjadi kejutan untuknya. I’m gonna make it this time, I know.

“Aku masih ingat hari pengembalian tugas kami, Jungkook. Selasa pagi dan lapangan sekolah terlihat lebih menyilaukan dari biasanya—hari yang indah, bukan?” Jungkook membiarkan kedua sisi bibirnya menempel satu sama lain membentuk sebuah garis tipis. Dan sedikit banyak ia tahu ke mana arah pembicaraan ini menuju serta perasaan tak nyaman yang terus-menerus terbentuk.

“Huruf D di kertas mengolok-olokku tapi guru kami adalah seorang wanita yang sangat baik. She said my story was fantastic, hell the best out of the class even, but the spelling and grammars ….” Taehyung mengedikkan bahu sambil terkekeh. “Beliau menghukum lima orang sekaligus kerena mereka melemparkan lelucon soal kemampuan mengejaku. Hell, padahal kupikir mereka ada benarnya. Satu-satunya hal yang bisa kueja dengan benar hanyalah namaku. Tapi, siapa tahu saat itu aku juga salah mengejanya, hm? Dad tidak marah. Ia memelukku dan berjanji akan menyelipkannya di buku agenda supaya ia bisa membacanya kapan pun bahkan saat meeting di kantor.”

Jika seseorang bisa merasa muak pada dunia karena sebuah cerita masa kanak-kanak orang lain, maka Jungkook yakin ia tengah mengalaminya sekarang. Tidak. Ia tidak sedikit pun merasa perlu mengasihani Taehyung pun menenangkannya dengan mengatakan hei, begitulah keadaan segalanya saat ini karena orang-orang tak pernah bisa menilik sedikit lebih jauh untuk saling mengenal. Penampilan luar dan sejauh mana kemampuanmu mengambil tempat di masyarakat adalah aturan utama; hell, dan Jungkook luar biasa berang akan hal itu.

Taehyung’s much stronger than that and Jungkook just knows it.

Ada gemetar yang kentara terlihat ketika tangan kanan Taehyung bergerak pelan menuju gelas plastik berisi air yang sama sekali belum disentuh—Jungkook berterima kasih sebanyak-banyaknya pada siapa pun yang telah menempatkannya di sana. Taehyung selalu berbicara terlalu banyak dan terlalu cepat; entah ketika tengah menelurkan cerita senang maupun getir. Karena alasan demikian pria itu selalu membawa-bawa ke mana pun botol air minumnya. Dulu. Jungkook membayangkan Taehyung terlalu diliputi rasa syok pagi ini kala ia diminta pergi ke kantor polisi.

Every weakness presents in each individual is what makes them human, Taehyung.” Sang detektif berkata pelan. Ia disambut dengan kekeh samar kemudian; terlalu halus dan akan dengan mudah terlewatkan apabila suasana di sekitar mereka tidak sesenyap ini.

But Jaehyung didn’t screw up like I do, Jungkook. He didn’t go around put his finger in every socket, drink bleach, or running to the street nearly hit by a truck. No.” Taehyung mendesah. “He’s a perfect son; get good grades, entering college, and having family on his own. And me? I’m a disgrace to the family.”

Jungkook menghela napasnya dalam diam. “You forget some peoples who are there to accept who you are and genuinely care about you.”

By some peoples you mean yourself, Hoseok, and his family.” Pria di hadapan Jungkook melemparkan senyum timpang namun sang detektif tidak sedikit pun kehilangan ekspresi getir di matanya. “And my childhood friend, he’s always been a hero to me. That’s it. Dad, of course. And maybe Mom.”

Jungkook benci dirinya sendiri ketika ia tak mampu menambahkan daftar nama yang telah disebutkan Taehyung.

I thought I understand my best friend back then and it turns out I know nothing about him.” Jungkook mendesaukan pikirannya sementara ia dan Jimin berjalan bersisian menuju ruangan Seokjin satu lantai di bawah ruangan mereka.

Sang ketua tim sudah menghilang ketika Jungkook mengantarkan Taehyung ke lobi—dan sesuai prediksi, Jung Hoseok telah menunggu keduanya di sana. Ia melambai pada Taehyung dengan sebaris janji akan mengabarkan padanya apabila penyelidikan ini membawa hasil. Pesan singkat dari Jimin masuk ke ponselnya beberapa saat kemudian—ketika bokong mobil Taehyung sudah menghilang di belokan—hanya berbunyi: Meet me at the lift. Seokjin’s got something interesting.

“Hoseok told me lots about him.” Jimin merespons; suatu kemajuan yang sangat bagus karena tidak ada ejekan yang keluar dari mulut sang ketua saat Jungkook berbicara serius. “Kau mendapat sesuatu?”

Si detektif junior mengangguk singkat. “Funny how things work isn’t it? I used to be the one seeking for advice and some understanding about my family and the way I can’t quite satisfied with my own self. And then there’s Taehyung who’s all bubbly and optimistic and he said to me that of course my family loves me despite my lack of everything.” Jungkook menghela napas. “I thought he lived in a loving environment and beautiful family surrounding him when in fact … he’s suffering, Jim. Aku tahu alasan utama mengapa ia membenci bahasa dan literatur; tapi saat tadi ia bercerita. Damn it.”

Jungkook tidak mengelak ketika pintu lift terbuka dan ia merasakan rekannya melarikan sebelah tangan lantas meremas bahunya tanda memberi semangat. Suatu gestur yang jarang dilakukan, sekali lagi, dan diam-diam ia berterima kasih pada Tuhan karena setidaknya Jimin ada di sana dan mengeluarkan seluruh dukungannya. “Sometimes there’s this ugly feeling churning inside your gut when you unable to protect someone close to you doesn’t it?” Pertanyaan Jimin menggantung di udara sebelum Jungkook mengangukkan kepala.

Yeah,” katanya. “Aku hanya berharap bisa mengetahui hal ini lebih cepat. Taehyung is a good man, you know. He doesn’t deserve it.”

Nobody does, Jeon.”

Seokjin menyambut dua rekannya di belakang meja operasi dengan perut Madam Kim yang hanya setengah tertutup (ia selalu bersikeras membuat Jungkook dan Jimin mengintip isi abdomen korban mereka sebelum menjahitnya secara penuh). Untuk berbagi penderitaan, katanya.

Beruntung tidak ada satu pun di antara keduanya yang trauma akan organ dalam manusia jadi kini semuanya berkumpul di tengah ruangan temaram—Seokjin sudah menyalakan presentasi kecilnya; sebuah kebiasaan yang sungguh sulit ia hilangkan. Lebih baik menyajikan sesuatu daripada melapor secara verbal karena ia takut ada yang terlewat.

“Jadi apa pembunuhnya kali ini, Jin?” Jimin adalah orang pertama yang mengeluarkan suara di tengah-tengah ruangan yang hanya didominasi oleh deru lembut mesin komputer di meja kerja dan sesekali kerja autopilot pendingin ruangan.

Seokjin berdeham—Jungkook tahu sang dokter paling menyukai saat-saat seperti ini dimana kelanjutan kasus berada di tangannya. “Seperti spekulasi pertamaku, Guys, oknum utamanya adalah racun. Sederhana, tapi mematikan. Pernah mendengar tentang talium?” Dengan absennya respons dari Jungkook maupun Jimin, si pria tinggi lantas melanjutkan. “Golongan IIIA, nomor atom 81, metal transisi. Tidak ditemukan bebas di alam, tak berwarna, larut dalam air, tak berasa, dan seluruh sifat ini dengan cantik membuatnya tersembunyi. A gram of it will kill you—slowly, painfully, over the course of two weeks.

“Ada rentang waktu yang dibutuhkan sampai gejalanya muncul?” tanya Jungkook sementara dwimaniknya menelusuri hasil pemeriksaan Seokjin.

Halaman di layar berganti. “Gejala muncul setelah empat sampai enam jam; menilik dari usia Madam Kim dan mencocokkannya dengan beberapa kasus keracunan talium. Jika hal ini diketahui lebih awal, masih ada antidot yang bisa menyelamatkannya,” terang Seokjin, pandangan masih belum berpindah dari hasil presentasinya sendiri. “Sebuah penelitian di Irak dilakukan pada satu keluarga yang menderita keracunan talium setelah mengonsumsi roti dari pabrik terdekat pada tahun 2008. Dan yeah, semuanya selamat setelah konsumsi rutin antidot yang kukatakan; kecuali seorang balita. Ia terpapar terlalu banyak dan usianya masih sangatlah muda.”

“Kau hendak menjelaskan bahwa ada kemungkinan Madam Kim telah terkontaminasi jauh sebelum ini?”

“Ya, kemungkinan besar.” Seokjin mengangguk ke arah Jungkook, memberikan jawaban final. “Gejala tingkat akhir yang dengan jelas terlihat adalah kerontokan rambut parah dan kuku mengerut seperti yang tadi kau perhatikan, Jeon.”

Di sebelah Jungkook, Jimin melipat kedua tangannya di depan dada. “Dan bagaimana tepatnya talium membunuh korban kita, Jin?” tanyanya; menelurkan pertanyaan kedua setelah ia sampai kemari.

Sang dokter menjawabnya dengan memindahkan slide ke poin berikutnya. Ia berdeham sebelum melanjutkan. “Talium berkompetisi dengan kalium—yang notabene berfungsi sebagai elektrolit dalam tubuh, mengangkut nutrisi dan mengedarkannya. Talium mengganti ion pekerja dengan komponen yang tak berfungsi sama sekali. Dan di situlah semuanya berasal, Guys. Hal demikian menghambat pembentukan energi akibat nutrisi yang tidak terdistribusi.” Slide berganti lagi. “And then we reach the first mild symptom, nausea. This thing can lead to something else after that.

“Aku sudah memeriksa sampel rambutnya dan ya, Madam sudah terpapar cukup lama berdasar dari kondisi rambut, kuku, dan well, kadar yang kelewatan tentu saja.” Seokjin menyelesaikan penjelasannya dengan remote yang kembali ia masukkan ke saku, lantas mulai sibuk mencari benang dan jarum untuk mengembalikan keadaan tubuh sang korban. Pihak keluarga menginginkannya secepat mungkin untuk mengurus pemakaman.

“Jika begitu … kita harus kembali memanggil para pelayan keluarga Kim dan menginterogasi ulang.” Jungkook mengeluarkan ponselnya dan membuat catatan kecil pada aplikasi memo. “Perlukah aku mengumpulkan nama dari seluruh pegawai—”

No, I’ll do it. Kau sudah bekerja sangat keras, Jeon. Thank you, but I’m still the leader so let me do the hard work.” Jimin berkata sambil memamerkan cengiran lebarnya. “Aku bergantung padamu soal hasil pemeriksaan makan siangnya, oke, Jin?”

Sang dokter menganggukkan kepala, tidak mengalihkan atensinya sedikit pun dari objek yang perlu ia perbaiki. “Pergilah makan siang, kalian berdua. Terutama kau, Jungkook. Ini kasus yang menyangkut sahabatmu, ingat? Setidaknya makanlah, supaya kau bisa mengerjakannya dengan benar.”

Jungkook melemparkan senyum kecil sementara ia mengekor Jimin menuju pintu. “I will. Thanks, anyway.”

“Apa kau baru saja menyebutkan Min Yoongi?”

Di kursi penumpang, Jungkook mengangkat sebelah alisnya sementara ia tengah menelusuri ribuan nama karyawan perusahaan mendiang Tuan Kim—Young-ja BioTech—yang kini berada di bawah pimpinan Kim Jaehyung. Entah si detektif junior menyuarakan pikirannya keras-keras ketika tengah membuat catatan mental untuk bertemu para supervisor dari tiap departemen atau Jimin memang selihai itu membaca pikiran seseorang.

“Ya. Min Yoongi sebagai supervisor departemen research and development, lalu Bae Joohyun sebag—“

“Tidak, tidak, Jeon. Aku berbicara tentang Min Yoongi.” Jimin menghentikan laju kendaraannya tepat di belakang zebra cross waktu lampu lalu lintas mengoarkan warna merah manyala. “Kau memiliki fotonya? Hell, dunia sempit bukan begitu? Jika ini Min Yoongi yang sama dengan yang pernah kukenal maka kita akan mendapat banyak kemudahan, Jeon.” Si ketua tim lantas mengeluarkan telepon genggamnya dan meminta Jungkook membacakan nomor telepon yang tertera di data karyawan.

Min Yoongi mengangkat panggilan Jimin pada dering kedua—Jungkook memaksanya menggunakan mode loudspeaker—dan untuk jangka waktu lima menit ke depan; dengan latar belakang suara Jon Bon Jovi dalam Livin’ on a Prayer, ruangan di antara keduanya diisi oleh janji temu di sebuah diner. Si ketua mengangkat ibu jarinya begitu hubungan telepon terputus dan mengambil arah memutar balik di suatu titik.

He’s my roommate in college, Jeon.” Jimin menjelaskan ketika lagi-lagi mereka dihentikan lampu lalu lintas. “He took care of me a lot. Well, sebelum aku memutuskan membuang semuanya dan masuk akademi kepolisian, tentu saja.” Saat menjelaskan bagian ini, Jimin menoleh padanya dan memamerkan sederet geliginya lalu suaranya berangsur serius. “Got some dark past. Bullying.

Di posisinya, Jungkook menolehkan wajah tanda tertarik. “The bad one?

Yeah. Dan traumanya hebat. Triggered easily by the smallest thing.” Si ketua mengiakan pertanyaan juniornya. “Yoongi menderita hingga pada titik ia memutuskan pergi dari kota kecilnya dan menetap di Seoul. Bersama orangtuanya, jika aku tidak salah ingat. Mereka mengkhawatirkan keadaan mental Yoongi tentu saja. Katakan, Jungkook, jika seseorang pulang di suatu sore dalam keadaan wajah yang penuh luka beset benda tajam, apakah itu normal?”

What the hell ….”

“Dan menurut Yoongi perlakuan itu adalah yang terhalus.” Jimin mengangkat bahu, memutar setirnya ke kanan di persimpangan. “Aku tak tahu perlakuan macam apa yang lebih anarkis, kalau begitu. Hah, membayangkannya saja aku tak sanggup. Orang-orang sampah … bukan begitu, Jeon? Menyiksa orang lain demi kepuasan atau dendam tersendiri; spesies paling berengsek di muka bumi.”

Jungkook melepaskan tawa pelan—sedikit tidak mengira bahwa Jimin akan mengeluarkan ekspresi seperti demikian. “Yeah, agreed.”

Just imagine being unable to do anything meanwhile someone close to you is suffering.” Sang detektif junior merasakan isi perutnya berderak tak nyaman sementara senyum mulai menghilang dari wajahnya. Suara Jimin berangsur tajam dan Jungkook membayangkan hari-hari sang ketua di universitas—menjadi satu-satunya saksi apabila pikiran Min Yoongi mulai bermain-main karena terpicu sesuatu. “How would you feel?

I feel like I could die myself.” Jungkook melepaskan jawaban dengan ingatan pernyataan Taehyung berputar-putar di kepala.

Min Yoongi datang ke diner yang telah ditentukan sepuluh menit setelah makanan pesanan mereka dihidangkan dan Jimin sudah meraup habis hamburgernya; makanan favorit sang ketua akhir-akhir ini. No offense, tapi Park Jimin pernah bilang bahwa ia memiliki tubuh yang harus dijaga. Saat Jungkook memesan take out instan misalnya, Jimin akan mendecih: “You know where this body comes from? Healthy food and gym, Kid. Pricey, yeah. But that’s a sacrifice I’m willing to make so no woman can resist me.  Jimin is a smart guy. Be like Jimin.” Hah. Bullshit.

Jungkook menangkap figurnya sejak sang pria berambut gelap masuk diiringi denting bel di atas pintu, mengawasi tiap inci ruangan untuk menangkap sesuatu yang familier sebelum kemudian Jimin melambaikan lengannya. Pria itu tak seberapa tinggi dibanding dirinya namun Jungkook memiliki insting kecil yang mengatakan: sebaiknya jangan cari masalah dengan orang ini.

Ya. Kadang kemampuannya membaca seseorang terbukti akurat dan kurang lebih Jungkook benci akan hal itu.

Yoongi membuka pembicaraan dengan sederet kata maaf telah menunggu karena kantornya dipenuhi pers super nekat sejauh yang pernah ia tahu. Menyamar menjadi salah satu karyawan, menggertak para penjaga, bahkan mengancam akan membobol pintu lobi apabila tidak diperbolehkan meliput berita. Posisi perusahaan tempatnya bekerja sebagai partner seumur hidup bisnis milik Madam Kim membuat sebagian pers haus akan tanggapan para karyawannya terkait berita kematian yang tiba-tiba.

“Tapi aku berhasil menyusup keluar lewat pintu belakang,” tutup Yoongi heroik, mengakhiri cerita panjang lebarnya ketika nona pelayan datang dan menghidangkan makanan pesanan. “Jadi, bisakah kalian meyakinkanku bahwa kalian tidak akan menjual berita ini?” Pertanyaan Yoongi terkesan kasar dan angkuh namun Jungkook menangkap ada candaan di dalamnya.

Meneguk minumannya hingga habis, Jimin menggelengkan kepala. “Tenang, Yoon, kami tidak akan pernah bermain kotor seperti itu,” katanya, sembari menggerakkan tangan dan melingkarkannya di bahu Jungkook. “Juniorku di sini ingin menginterogasimu sedikit—“ Jungkook memberikan pandangan galak dari tempat duduknya. “—well, jika kau tidak keberatan, tentu saja.”

Yoongi melayangkan senyum ringan. “It’s okay, Kid. Aku bukan tipe karyawan yang rela dibayar untuk menyimpan rahasia perusahaan. So, spill.”

Jungkook sama sekali telah melupakan makan siangnya—seporsi besar sandwich pilihan Jimin karena pria itu bersikukuh ingin si detektif junior makan makanan sehat dan secangkir teh. Seokjin akan memelototinya seharian untuk ini tapi toh jika artinya mendapatkan informasi lebih, kenapa tidak? Lagi pula Jungkook masih bisa mengingat dengan jelas kenampakan mayat Madam Kim di meja operasi Seokjin tadi. Hah.

“Apakah kau pernah kebetulan melihat Madam Kim berkunjung ke kantormu dalam tiga sampai dua minggu terakhir ini?” tanya Jungkook. “Well, untuk keperluan apa pun—meeting, kunjungan bulanan, atau simply menemui Kim Jaehyung?”

Pasta pesanan Yoongi hampir tersisa setengah waktu pria itu menelurkan jawaban. “Aku jarang berada di ruanganku untuk benar-benar mengamati keadaan sekitar, Kid. Lagi pula mereka sering memanggilku ke lab untuk tujuan supervising. Tapi sekitar seminggu yang lalu jika aku tak salah ingat, aku melihat Madam Kim menunggu giliran di depan lift,” jelasnya sembari memasukkan sesendok, dua sendok makan siangnya yang telat. “Sejauh yang aku tahu, ia datang ke kantor hanya untuk meeting atau menemui Jaehyung. Tapi menurutku kunjungannya waktu itu tidak didasarkan untuk pertemuan para direksi.”

“Maksudmu?” Si detektif junior mengangkat sebelah alisnya.

Ada bahu yang diangkat sebelum Yoongi bersuara lagi. “Mungkin Madam datang untuk menemui anaknya—bukan dalam konteks kepentingan perusahaan, sepertinya, karena dua jam setelahnya Jaehyung meminta resepsionis di bawah memanggilkan ambulans.”

Madam Kim ambruk?”

“Kau tahulah, penyakit yang kadang-kadang diderita seseorang di usia-usia mendekati lanjut,” komentar Yoongi sembari mengangkat bahu dan tampak tak peduli. “Yeah, kuakui Madam terlihat jauh lebih muda dan berpenampilan luar biasa menarik. Tapi tentu penampilan macam itu yang menunjang seluruh keinginan kotornya, bukan begitu?”

“Keinginan kotor?” Jungkook mengulang pernyataan Min Yoongi dengan nada rendah.

You should thank me later, Kid. It’s a big, big secret.” Sang lawan bicara tersenyum kecil sebelum mencondongkan tubuhnya ke depan. “She’s always got a thing for intelligent men.”

—-—

[Next update: 03/03/2017 at 7.30 P.M.]

—-—

  • foreword’s taken from The Beatles’ Yesterday.
  • prussian blue soundtrack, pt.2 [spotify ; youtube]
  • thank you for reading! any thoughts or critics will be very much appreciated!
Advertisements

18 thoughts on “Prussian Blue [02]

  1. Halo Evin! Halo untuk Kak Fika! ^^

    Ini kali pertama aku mampir dan komen di ws untuk part 2 ff ini ((bikos part 1 aku komen di blog evin)) dan rasanya helaan napas berat di pagi hari baru aja keluar habis baca ini sampai habis hehe xD

    Aku rasanya susah untuk komen yg lebih bermutu selain luar biasa! Padahal dari awal paragraf ampe akhir udh nyiapin kata-kata, eh pas di box komen langsung ilang -_- oke abaikan otak lemot ini

    Mengingat kembali bahwa diriku hardcore shipper VKOOK dan YOONMIN rasanya pen teriak klo mrk saling berhubungan dahulu :”) Thank you! 💜
    Di part 1 aku udh berkomentar tentang karakteristik yg pas pada porsinya dan kali ini muncul Taehyung dan Yoongi yg karakternya emang gajauh-jauh dari asli mereka. Itu kece parah aku suka sekali! 💜

    Sedikit terharu waktu Jungkook menginterogasi Tae yg kesannya malah kaya lagi denger temen curhat huhu kesian anakku pas banget malah playlist keputer stigma pas baca bagian itu :”(
    Terus lanjut ke ruang bedah Jin yang astaga Seokjin-ie wae itu aku ngebayangin banget muka mas-mas dokter kece cerdas bikin klepek-klepek 😂 Dan untuk pengetahuan tentang racunnya sungguh luar biasa matang 👍

    Aku sangat suka bagian ini: Pria itu tak seberapa tinggi dibanding dirinya namun Jungkook memiliki insting kecil yang mengatakan: sebaiknya jangan cari masalah dengan orang ini.
    Mau ngakak so hard bikos the real BTS’s Suga banget xD Mau nyari masalah? Awas disindir lewat Cypher pt. 5 ntar XD Tapi pas baca dia hobi di bully wae nyesek sekali :”

    Bagian ending … selalu penuh misteri ya walaupun misteri ff ini blm terpecahkan kesannya ending ngasih spoiler klo masih ada sisi lain dari si Madam itu sendiri.

    Done.
    Kayanya kepanjangan komen tapi spam banget gak bermutu but sampai bertemu di tgl 3, guys! 😊
    Semangat dan kalian luar biasa! 😘

    Liked by 2 people

    1. hai hai julia! ^^ first thing first makasih banyaaak sudah ngikutin cerita ini dari chapter 1 hihi.

      aaaa its okay, aku juga sering kayak gituu kalo mau komen dan sering! omg i know dat feeling giliran mau ngetik di boks komen malah bengong lha tadi perasaan banyak yang mau ditulis sampe sini malah ngilang :” why.

      vkook yoonmin kya!! me too, me too. aku honestly suka aja mereka tuh abisan kalo taehyung jungkook kan kaya anaq bocah ilang kalo dibiarin berdua takut diculik sama orang jahat gitu, meanwhile yoongi jimin yang satunya diem banget satunya bubbly banget; kalo ngobrol yoongi cuma ya ya ya, meanwhile jimin cerita panjang lebar xD (oke aku malah rambling maafkan hehe)

      tbh ini kim seokjin as dokter di jaman dope bener-bener susah banget diilanginnya haha. walopun dia sekarang jadi super receh banget teteup aja kebayang kalo pake jas dokter hahah. btw … iya kook awas entar dibikinin khusus cypher pt.5 wqwq. lalu lowkey tidak sabar menunggu bangtan release cypher pt.5 someday featuring kim taehyung xD

      makasih sekali lagi buat julia yang udah ngikutin hehe. nanti malem rilis chapter 4 hehe. stay tune! 😀

      Like

    1. halo! first thing first thank you for reading and commenting hehe. dont forget to breathe x) chapter 4 rilis nanti malem, stay tune hihihi 😀

      Like

  2. haaii kak fika… haii evin… aku datang setelah kemarin dulu baca tapi ngga ada kuota jadi blm komen hehe maafkeun. nah terus ini aku baca lagi biar greget pas nulis komen wkwkwk tetep yaa ngga ngebosenin tulisannya pliiss aku ngga ngerti kenapa enak gitu meski dibaca dua kali 😂

    oke ke tkp (nemuin bang jin he)

    taehyung… kenapa ceritamu bikin aku agak gloomy ya jadinya huhuhu antara kasian tapi juga naruh curiga. mau tepuk tangan dulu buat jungkook yg ehm salut lah ya dgn keprofesionalannya meski batinnya berkecamuk juga. terus jimin jugaaa kok aku jadi ehm naksir kamu yaa, kawan? bisa serius juga ternyata woo 😘

    daaaannn bang jin halloooo hahaha scene yg paling kutunggu yuhuu bayangin dokter jin presentasiin perut org yg kebuka masyaallah betapa kerennya dirimu dalam imajiku, pak dokter TT mau juga lah aku di posisi jungkook, diingetin buat makan huhu why dy perhatian lantas kulupa tadi bilang naksir jimin, udah balik lagi aja ke seokjin wkwkwk (ani pliiis)

    jim pliis jim kok kamu pede selangit gitu ketularan pak dokter apa gimana? untung temen ya kamu hahaha

    jreeng jreeng ternyata min yoongi baru nongol di sini TT dy tetep ya kayak kulkas berjalan. jungkook pinter juga baca karakter orang woo detektif gituu 😂 makasiih mas agus udah bantuin kasus mereka dan yeah, berkat kamu jim dan aku berpikir dunia ini memang sempit. oiya, salut sama mas agus yg tabah setelah jadi korban bully. keep survive yeah, yoon! ^^

    oke, kak fika.. evin… segitu saja cuap cuapku maaf jika tak berfaedah tapi aku mo makasih udah bikin fiksi ini huhuhu mana bang jin jadi dokter kan aku ngga kuku TT semangaaat kutunggu update annya besok lusa uyeee!! SEMANGAAATTT!!!! ^^

    Liked by 2 people

    1. halo ani! hehe take your timeee, ceritanya tida ke mana-mana kok hoho. dan terima kasiiiih kyaa kami seneng kalo misal bahasanya ngga ngebosenin bikos jujur aja bakal heavy description ini xD btw udah ditungguin jin tuh di tkp HAHAHA.

      bikos jimin gitu-gitu bisa serius juga wqwq jadi jangan terkecoh kalo jimin-nya playful bikos dia maenannya tembak sana tembak sini kalo marah /apa/ HAHAHA hayo hayo mau kasian ama curiga ke tae hayoooo xD and yash! jeon jungkook mah always profesional kapan pun, di mana pun.

      hahah kim seokjin mah mother by nature dia mah tidak bisa membiarkan rekan satu timnya kelaparan. walopun masakannya ala ala yang penting temennya makan hahahaha. BIKOS PARK JIMIN MAH ALWAYS PEDE HAHAH TULUNG.

      BENTAR AKU NGAKAK. kulkas berjalan astaga xD awas ani nanti kamu dibash pake cypher pt.5 loh hahaha. iya dong agus mah kan sangat baik dan tidak sombong walopun mukanya galak dan dia sangat tsundere //apa// iya dia mah strong atuhda heuheu min yungi :3

      makasih yaa ani sudah baca dan komeen hehe. ditunggu chapter 4-nya yaaa nanti malem hoho stay tune!

      Liked by 1 person

  3. OH MY GOOOD.
    Suka sekaliiii. Rasanya beneran ngalir dari awal sampe akhir, sampe kaget sendiri begitu tau ini chapter udah beres. Aku langsung kayak, “lohh??? Kok bersambung?”
    TERUUSSS. Di pt. 1 aku lupa ngomongin yang gimana aku kebayang si Jungkook kalo lagi marah-marahin tersangka di ruang interogasi. Duh pasti rambutnya acak-acakan pake muka garang, tapi tetep ganteng. ((Slapped))
    Dan kayaknya, gara-gara baca yang part Jin jadi pengen jadi dokter. T___T kerjaannya Jin kedengeran menggiurkan- lol.
    TERUS TERUS TERUS. Bagian cerita masa lalunya Taehyung bikin sedih 😦 kebayang aja gitu gimana Taehyung yang ceria itu nyimpan banyak sedih, mana dia tuh member yang paling jarang ngeluh kan… 😦

    Semangat nulisnya!!! ❤❤❤

    Liked by 2 people

    1. halo! first thing first makasih banyaaaak sudah ngikutin cerita ini dari chapter 1 hoho. dokter forensik emang pekerjaannya (menurutku) menariik! gatau kenapa mungkin karena aku sering nonton channel foxcrime gitu malah jadi pengen tapi tidak tercapai (oke ini fikanya malah curhat) hahahaha. maafkeun. IYA. tae mah udah jarang ngeluh, sering all smiley, heu :”

      sekali lagi makasih yaaa udah ngikutin hihi. chapter 4 rilis nanti malem so stay tune! 😀

      Liked by 1 person

  4. Nuhuniseyo gaaaeees commentnya nyusul bikos kumasi jeda makan malaaaam :`

    YA LAH YA TANGGAL BERAPA RILIS BARU BACA TANGGAL BERAPA TOLONG AMPUNI AKU

    KALO NGGA ADA REPLYAN EVIN AKU GA SIYOK LYKE: HAH BAB TIGA HAH BAB DUANYA MANA??? KOK BELOM BACA?????

    (((Yang selanjutnya terjadi adalah momen jedotkan jidat pada bantalan sofa)))

    Hamdalah akhire baca

    Dan

    Apa … apa … apa yang SEBENARNYA KAFIKA DAN EVIN RENCANAKAN DI BALIK KEDOK PRUSSIAN BLUE INI, APAAAAA?????

    DEAREST THORS Y R U ALL TEGA MEMBUAT TAEHYUNGKUH (DAN TAEHYUNGNYA ARMY SEJAGAD RAYA) DYSLEXIA? APA SALAH DAN DOSA IA????? T^T

    Gak itu komen alay itu, kalo masi usernem osomnim aku bakal begitu, tapi kini kusudah naik pangkat jadi Lieutenant VON jadi harus beda (hm)

    Tapi serius gaes gaes gaes im shooooook! HAHAHA edyan tenan berdua puja lele ajaibbb!

    Those way you guys explained Taehyung’s special condition, his suffering, his hard times, and also Jungkook’s feelings. Tolong dong bonus aspirin satu di akhir chapter mabu nih aku pusing … kelar seri kayanya aku bakal sakaw.

    Dan ini tuh rich of knowledge yang tricky yang mana kalau salah cara delivernya kuyakin bakal bikin reader: skip ajalah skip uda ada pelajaran kimia juga di sekolah ngapain masi ada beginian juga di fenfiksyen.

    BUT DIZ IZ W.W.AAA.W.W.

    Ada jin botol gak? Aku mau make a wish balik SMA kelas 10 trus Evin sama Kafika jadi guru eksaktaaaaa!!! BIKOS AKU JADI KANGEN KIMIA DAN ANTEK-ANTEKNYA SETELAH BACA INI LYKE: HOH MY WHOLE MISERY IN THE PAST WERE ALL LIES. HOAX. TIDA NYATA. KIMIA ITU MENARIK DAN SEHUEBAD INI!

    Dan asli kimia tuh berasa gerbang menuju life hack. Dengan larutan ini segini kamu akan bisa membuat perubahan sebesar iiiiiiinih!

    Standing applause for both of you!!! It’s not just a mere fanfiction! SEMUA HARUS BACA BIAR SELAIN BAHAGIA KALEYAN JADI PINTER GAES!!!!! CAMKAN ITU CAMKAN!!! THERE’S A FUN WAY TO LEARN SOOOO MANY THINGS AT ONCE AND ALSO LIFE HACK, AND HERE IT IS!!!

    Duh gaes duh

    Aku berada di titik gamau mikir, gamau nebak tersangkanya, mau nikmatin the whole ride: olengkan aku kakaaa olengkan kapalkuuuuu

    Bikos this is sooooooo byutipul! Pol-polan byutipulnya, siriusly dua-sirius!

    ANW, KEINGET REPLYAN EVIN AKU MAU KETEMU DETEKTIF GANTENGGGGG!!! KEMAREN AKU DAH KETEMU POGAN (POLISI GANTENG) DUA KEPALA AWAWAWAAAA

    apa aku kudu praktek kriminal dulu?

    #404notfound

    Kaleyan kolablah dengan tenang ya … aku akan menanti sambil berkubang dalam derita dulu.

    Liked by 2 people

    1. KAPAAAAAANG! HAHAHAHAHA KENAPA SIH KOMEN KAPANG SELALU WORTH BUAT DI-FANGIRLINGIN HAHAHAHAHA. WE LOVE KAPANG! menyanyikan miss right dedicated to kapang /apaini/

      anw shantay kapang, kapang makan dululah bikos kalo tida makan nanti tida enak perutnya meraung-raung kasihan haha. jedotin jidatnya jangan keras-keras kapang :((( APA YHA APA YHA AKU AMA EVIN MERENCANAKAN APA YHA HAHAHAHAHA wait and see kapang, wait and see wkwkwkwk.

      seriusan kapang, tadinya tae ngga dibikin disleksia. tapi tapi apalah artinya karakter kalo tidak ditorture sepenuh hati HAHAHAHA. believe me aku ama evin nulisnya kasian ga kasian hahah, tapi demi jalannya cerita semua itu harus dilawan. harus. wajib.

      kapang jangan sakaaaaaw :(( entar kalo sakaw ga ketemu pak pol ganteng gimana heuheu. dan thankyou kapaang soal taehyung’s special condition hehe. honestly awalnya bingung gimana caranya menjelaskan tanpa terkesan nyinet wqwq.

      buset hahaha aku jadi guru eksakta yang ada sekelas berantakan kapaang wkwk. but yes, kimia itu menyenangkan sebenarnya! heu. ada hacks-nya banyaaak, dan makasih lagi kapaang. sejujurnya agak gimana juga nyempilin materi di tengah-tengah fanfic takut malah membunuh suasana haha. tapi syukurlah pabila tidak (guling-guling).

      ayo kapang entar pas kelar baca chapter 4 setor nama yha HAHAHAHA makasi kapang atas komen-komennya yang selalu cetar. stay tune chapter 4 nanti malaaaaam hehehehe 😀 we love kapang!!

      Liked by 1 person

  5. Kakfik dan eviiinn!! Sebenernya daku udah baca beberapa hari yg lalu tapi lupa buat komen… maafkan.. :”((

    Terus, sumpah sumpah chapter ini nguras emosi banget. Apalagi bagian awal pas Taehyung cerita kehidupannya yg berat. Entah aku yang lemah atau emang kakfik sama evin bisa bikin suasananya jadi sendu plus nyampe di hati huhuhu semua orang tau lah gimana rasanya diremehin.. terus aku suka kalimat ini : ” Penampilan luar dan sejauh mana kemampuanmu mengambil tempat di masyarakat adalah aturan utama; hell, dan Jungkook luar biasa berang akan hal itu.”. Bener, biasanya orang cuma bisa judge perilaku seseorang tanpa tau apa yang sebenernya trjadi sama orang itu dan apa yang mendasari dia melakukan itu. Pengakuan yg penting di dunia kaya gini huft

    Pas yoongi muncul kutaktahu harus berkata apa. Ada beberapa oknum yanh mulai kucurigai di sini. Terus semakin penasaran sama rahasia yang disimpen rapat2 huhuhu aku bakal meluncur di chaphter selanjutnya setelah ini!! Keep writing buat kalian berdua!! ♥♥

    Liked by 2 people

    1. halo tita! hehe its okay take your time. btw kamu ama shia tuh yaa udah di chatroom dp-nya mirip terus di sini komennya atas bawah hahaha dasar xD

      HAHAHAHA TAU GAKSIH itutuh pendapat pribadiku juga issssh paling gasuka sama orang yang cuma nilai dari luarnya aja, gimana banget gitu hih kesel. pokoknya literally ngejudge dari luar tuh astaga aku sebel banget -__- (evin mana evin aku mau tos sama evin) hehe. seriusan aku ama evin pun nulisnya kasian ga kasian tapi yah demi cerita wqwq. dan syukurlah pabila feelnya nyampe ke tita hehehehehe. but we all love tae, kok 😀

      KYAHUUUUU. tita nanti setor nama yah setor nama, aku penasaran hohohoho. chapter 4 rilis nanti malem, stay tune yaaa 😀

      Like

  6. Mengawali komenku ini aku mau highlight komennya kak filza yang, “Those way you guys explained Taehyung’s special condition, his suffering, his hard times, and also Jungkook’s feelings. Tolong dong bonus aspirin satu di akhir chapter mabu nih aku pusing … kelar seri kayanya aku bakal sakaw.”

    Taehyung whyyyyyyy 😦 aku jadi kebayang clipnya taehyung yang stigma dan dan dan kayanya emang pas banget sama atmosfer di siniii apalagi di videonya juga taehyung duduk di kursi interogasi duh duh duh feels bertebaran di mana-mana 😦 tae why so tampak rapuh 😦 ingin shia peluuuuk why why whyyy kakfika dan kakevin bisa tega sih nulisnya 😦 aku mikir dua kali mungkin huhu tapi demi series ini harus tega yha agar lantjar djaya sentosa

     “You know where this body comes from? Healthy food and gym, Kid. Pricey, yeah. But that’s a sacrifice I’m willing to make so no woman can resist me. Jimin is a smart guy. Be like Jimin.” tau ga aku juga mau bullshit-in kamu mas. Bye.

    Pria itu tak seberapa tinggi dibanding dirinya namun Jungkook memiliki insting kecil yang mengatakan: sebaiknya jangan cari masalah dengan orang ini. – tepat sekali jk! Jangan cari-cari masalah kalau gamau jadi ayam geprek oke

    Kakfika kakevin selalu semangat oke! ♥♥

    Liked by 2 people

    1. tuhkan bener, komennya kapang tuh selalu worth buat difangirlingin sumpah hahaha xD okey balik.

      HAHAHAHAHA. peluk aja taehyung-nya shia, kasian dia merana banget heu. (meanwhile fika sama evin tertawa jahat). believe me shia, kita nulisnya pun kasian ga kasian tapi yha demi cerita semua itu harus diterjang! harus. wajib. hahaha. LHOIYA BARU NYADAR. iyaya di stigma dia kasian banget gila aku sebel muvonnya lama banget dari short movie-nya stigma heuuuuuu :(( kenapa harus gitu sih mukanya aku sebel. actor tae please make another appearance :”

      ((mau ngakak)) ((sabar ya jimin, sabar))

      AYAM GEPREK. SHIA IH xD iya bener. kalo gamau jadi ayam geprek atau dibash di cypher pt.5 hahahah. anw makasih banyak sudah baca dan komen ya shiaaa. kamu semangat juga yaaa ❤ see you di chapter 4 nanti malem! hohoho.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s