Slices #2

Ah, jujur saja, alih-alih membuat keributan, sebenarnya aku sangat ingin bisa memainkan lullaby agar mereka makin nyenyak terlelap.

by shiana

Visiting

Denting piano memenuhi ruang pendengaranku, irama dan nadanya memang agak kacau—eh, apa malah terlalu kacau, ya?—karena jemariku hanya menekan tuts dengan sangat asal. Benar, aku cuma berusaha berlagak layaknya pemain piano profesional; cita-citaku yang sampai sekarang belum terwujudkan. Menyedihkan, ya? Tapi tidak apa, toh aku tetap senang karena bisa menarikan jari-jariku di atas tuts hitam dan putih ini. Itu pun sudah lebih dari cukup.

Aku mulai tenggelam dalam memerankan profesi yang sudah lama ingin kusandang ketika cahaya mendadak memenuhi tiap sudut ruangan. Permainanku lantas terhenti. Menoleh ke belakang, aku tersenyum cerah begitu mengenali dua perawakan tak asing masuk ke dalam bingkai pandang. Ayah dan Ibu!

O, pasti mereka hendak mengomeliku karena membangunkan orang tua di tengah malam dengan permainan piano yang awut-awutan. Ah, jujur saja, alih-alih membuat keributan, sebenarnya aku sangat ingin bisa memainkan lullaby agar mereka makin nyenyak terlelap. Tapi, mau bagaimana lagi?

Aku melambaikan tangan. Menyeringai jahil.

Tapi mereka hanya diam di tempat; lengan Ayah melingkari bahu Ibu, sementara Ibu memeluk diri sendiri seakan kedinginan. O, tidak, tampaknya mereka marah besar. Haruskah aku berlari mendekat dan merengek supaya dimaafkan? Cengiranku melebar tatkala mata Ayah bertemu dengan milikku—biasanya Ayah akan serta-merta luluh—namun entah kenapa, sorot matanya menunjukkan seolah Ayah tidak melihatku. Begitu aku beralih mengamati Ibu, wajahnya pucat pasi dan binar ketakutan menyala-nyala di sekitar matanya.

“Aku akan menjualnya besok,” Ayah berujar dengan nada berat. Keningku sontak mengerut. “Tak ada gunanya memilikinya lagi, Sayang, tidak akan ada yang memainkannya.”

Senyumku memudar, tergantikan kebingungan juga amarah yang mulai menggelegak. Apakah mereka hendak menjual piano ini? Tapi … kenapa?

“Apakah kau tidak mendengarnya? Aku tahu kau juga mendengar suara piano itu!” Ibu berbisik pelan penuh emosi. Matanya berkilau, berkaca-kaca.

Ayah menggeleng. “Aku tidak mendengar apa pun, Sayang. Kau hanya masih terlarut dalam kesedihan akan kehilangan.” Ayah kemudian menyenderkan kepala Ibu ke dadanya. Mengelus legam rambut Ibu dengan lembut. “Relakan dia.”

Aku mengernyit. Apa sih yang Ayah bicarakan? Mengapa ia bilang ia tidak mendengar suara pianoku? Permainanku memang sejelek itu, ya, sampai-sampai Ayah berpura-pura tuli?

“Kalau berat bagimu, biarkan aku yang melakukannya, aku akan menjual piano itu besok.”

“Tidak!” seruku seketika menggema dalam ruangan.

Namun Ayah dan Ibu berbalik. Meninggalkanku mematung di sebelah piano. Seolah aku hanyalah kebisuan di antara udara.

Ini kunjunganku yang kesekian kali dan baik Ayah atau Ibu tidak ada yang bisa mendengar ataupun melihatku.

end.

Advertisements

6 thoughts on “Slices #2

  1. haiiiii shia! :)))

    ini dari awal nih aku sudah tau ada yang tidak beres dengan mereka, eh taunya bener kan kalau si aku ternyata hantu yang seneng main piano yaa hehe. aku suka shiii, as always pembawaannya ringan-ringan tapi creepy-nya masih kerasa. aku kasian deh sama si aku habisnya kayaknya dia pengen banget di-notice mama papanya gitu tapi eh ga bisa keliatan :(((

    hmmm… ada satu kritik gapapa, ya, shi? hehe. itu buat penulisan ayah dan ibu harusnya dikapital soalnya kan kamu nulis dari first pov terus berarti ayah sama ibu-nya bentuk sapaan semua. syudaaah itu saja lainnya bagus banget! keep writing shia sayanggggg! ❤ ❤

    Like

    1. Kak eviiiin omo omo!
      Isokey kok kaaak, aku makasih banget malah kalau ada kritikan jadi aku tahu mana yang perlu dibetulin. Aku baru ngeh kalau harusnya dikapital ;_; Thankyouuu kak evin for correcting and dropping by! Yeokshi! ♥♥♥

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s