Pulang untuk Pergi Lagi

picture was taken from here.

angelaranee©2017

.

“Aku pulang, untuk melepas rindu dengannya.

Aku pulang, untuk berhenti berjalan bersamanya.

Aku pulang, untuk menjadi sendirian.

Aku pulang, untuk pergi lagi.”

.

Banyak hal yang aku suka tentang pulang ke rumah, setelah sekian lama berkelana di kota yang padat oleh populasi manusia namun terasa begitu sepi, di antara gedung-gedung pencakar langit, dan di bawah gemerlapnya cahaya lampu. Banyak hal, begitu banyak hingga kata “begitu” bertransformasi menjadi “terlalu”. Katanya, yang terlalu banyak itu tidak baik, tetapi aku tidak peduli. Terlalu banyak yang aku rindukan dari kampung halaman dan kadang hal ini menuai cemooh bernada susah move on atau semacamnya, tapi masih… aku tidak peduli. Dan sesungguhnya, salah satu yang menjadi alasan mengapa aku ingin sekali pulang ke rumah adalah pria ini.

Di sinilah kami sekarang, duduk berhadap-hadapan, dengan sebuah meja kayu berbentuk bundar yang menjadikan kami tidak bisa membunuh jarak. Secangkir kopi dan teh yang masih mengepul uapnya berada di atas meja tersebut. Ya, setelah sekian lama, ia masih hapal betul akan adiksi tidak sehatku pada kopi. Ia juga masih hapal bagaimana aku menginginkan kopiku; dengan satu sendok teh gula pasir dan dua sendok teh krimer.

“Jadi…” ia berucap. “…bagaimana Jakarta?”

“Menarik,” jawabku sekenanya. “Tapi aku tidak suka.”

“Kenapa tidak suka?” tanyanya lagi.

“Karena kotanya terlalu sibuk dan tidak hangat,” ujarku. “Satu-satunya hal yang aku suka di sana adalah pekerjaanku dan gaji yang kudapat darinya.”

“Oh, ya? Bagaimana dengan gaya hidup dan fasilitas di sana?” ia menyeruput teh hangatnya. “Biasanya perempuan suka Jakarta, karena kota itu menyediakan semua yang mereka mau, kota itu memanjakan sisi hedonis mereka.”

“Jakarta memang punya fasilitas yang jauh lebih lengkap dari Semarang,” aku menghela napas. “Tapi ia tidak punya kamu.”

Aku sadar, sadar seratus persen kalau kalimatku barusan patut dinominasikan sebagai Kalimat Terbodoh di Dunia di ajang penghargaan mana saja. Tetapi rindu ini terlalu besar, lebih besar dari rasa malu dan peduliku pada harga diri.

“Tapi ia tidak punya aku?” tanyanya, mencoba memastikan. “Kenapa harus aku?”

“Entahlah,” jawabku sembari mengendikkan bahu. “Sekarang coba aku yang tanya, apa kabarmu?”

“Tidak begitu baik, terutama akhir-akhir ini,” jawabnya jujur.

“Kenapa tidak baik?”

Ia tidak menjawab. Hanya meletakkan sesuatu yang tampak seperti undangan pernikahan di atas meja. Aldi dan Fani. Ah, rupanya ia betulan menjadikan wanita manis itu sebagai tambatan terakhir hatinya.

“Rupa-rupanya aku tidak bisa jadi sepertimu,” ujarnya sembari tersenyum pahit. “Aku gagal menjadi egois.”

Kali ini aku tertawa garing. “Kenapa kamu anggap itu sebagai kegagalan? Keegoisan bukan sesuatu yang patut dijadikan life goal.”

Ia menggelengkan kepala. “Aku tidak siap, tidak akan pernah siap.”

Kami jatuh dalam sunyi yang menyayat hati. Aku tahu betul karakternya. Kami sudah kenal sejak tahun kedua kami di SMA. Kami sudah saling kenal dengan monster-monster yang mendiami kepala kami. Aku sudah tahu sisi baiknya, pula memahami segala keburukannya. Termasuk keinginannya untuk tidak menikah dan menjadi sosok berjiwa bebas, keinginan yang senada dengan milikku.

Tapi pada akhirnya, ia harus mengalah. Pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa meski hidup itu miliknya, tapi tidak semua keputusan ada di tangannya. Selaku anak bungsu dalam keluarganya, ia sudah terlalu banyak dimanja, terlalu banyak dituruti kemauannya. Kali ini, giliran sang bunda yang ingin dituruti. Ibunya sudah tua, sudah sering jatuh sakit, dan beliau bersumpah tidak mau mati sebelum melihat putra bungsunya berdiri di pelaminan.

Aku hanya bisa terdiam. Bagaimanapun juga, kalau sudah menyangkut orangtua, aku tidak bisa lagi turun tangan. Nanti aku malah disangka kurang ajar lantaran ikut campur urusan keluarganya.

“Ah, sudahlah,” ia mengibaskan tangan. “Mau tidak mau aku harus menjalani ini, bukan?”

Aku hanya bisa merespon ucapannya dengan senyum pahit. Demi surga dan seluruh isinya, Prasetyo Aldi Prakoso, aku mencintainya. Aku mencintai pria ini seperti duri pada setangkai mawar. Biarkan aku menjadi durinya, yang akan selalu melindunginya dari tangan-tangan usil yang ingin memetiknya secara paksa.

Aku menyayanginya, jenis rasa sayang di mana aku tidak ingin menjalin hubungan asmara atau bersatu dengannya dalam ikatan pernikahan. Ini adalah jenis rasa sayang yang membuatku ingin selalu melindunginya, melindungi seringai jelek di wajahnya agar tiada satu pun orang yang bisa melenyapkannya dari sana. Dan melihatnya harus mengambil keputusan yang tidak pernah ia inginkan membuatku merasa begitu sedih. Tidak, aku tidak ingin Aldi menikah, kalau bukan karena keinginannya.

“Aku mencintai wanita itu,” ia bergumam lirih. “Aku mencintai segala perbedaan di antara kami, tapi aku tidak mau melangkah sejauh ini, tidak jika dengannya.”

“Lalu dengan siapa kamu mau melangkah?” tanyaku asal.

“Denganmu,” ia menjawab cepat, bukan jawaban yang aku harapkan, tentu saja. “Aku ingin terus melangkah denganmu, kemana pun kaki kita membawa kita pergi. Kamu memang tidak akan pernah menjadi pendamping hidupku, tapi aku mau kamu selalu jadi teman hidupku.”

Iya, aku juga menginginkannya. Tetapi dengan fakta akan ada wanita lain yang bertahta dalam hatinya, maka sebisa mungkin harus kupendam keinginan itu. Kami bersahabat sejak lama, dan aku mengenalnya jauh lebih dalam, tetapi dengan hadirnya wanita itu, aku harus mulai belajar menjaga jarak.

“Maafkan aku,” ujarku. “Tapi kita tidak bisa melangkah lebih jauh dari ini.”

Ia tidak menjawab, sehingga aku segera melanjutkan,”Biarlah dia yang mendampingimu berjalan, menggantikan aku.”

Aku beranjak dari kursi yang telah kududuki selama hampir dua jam terakhir. “Aku harus segera pergi, aku belum sempat bertemu Eyang sejak kepulanganku dari Jakarta kemarin malam.”

“Terima kasih sudah datang,” jawabnya, memaksakan seulas senyum. “Terima kasih sudah menemuiku.”

Tangannya meraih undangan yang masih tergeletak di atas meja, menyodorkannya padaku. “Setidaknya datang, aku ingin melihatmu ada di sana.”

Aku mengangguk ragu-ragu. “Tentu saja, terima kasih undangannya.”

Aku berbalik kendati rasanya berat. Mulai hari ini, aku harus belajar berjalan sendirian tanpanya. Mungkin suatu hari nanti aku akan seperti dirinya, menemukan teman baru untuk merajut langkah bersama. Mungkin juga tidak.

.

.

.

-fin.

Advertisements

28 thoughts on “Pulang untuk Pergi Lagi

    1. Hai, Kak Mala!
      Memang dua-duanya saling mencintai, but love doesn’t always win, right? Sometimes we have to let go those who we love for goodness sake.
      Terima kasih sudah baca, Kak 😀

      Liked by 1 person

  1. Yah kok gituu 😦
    Aku ngerasanya ini lebih sedih daripada dua orang yang memang saling mencintai diam-diam (dan ingin melanjutkan ke hubungan yang lebih serius) terus kandas.
    Keren Rani, keep writing yaa

    Like

    1. Hai, Kak Ami!
      Di sini mereka berdua emang saling mencintai tapi hubungannya serba nanggung, hahaha… Sahabat bukan, pacar apalagi.
      Terima kasih sudah baca, Kak!

      Like

  2. A side of being adult that im afraid of 😦
    Bahkan aku lebih rela mencintai sendirian daripada saling cinta tapi tak bisa bersatu. Sakitnya berlipat-lipat ((malah curcol 😅))

    Klise sih, tapi ya gimana. Kak, bahasanya bagus banget huhuu daku iri ingin bisa sepertimu :”) Emang yah jadi dewasa tuh mau gamau bakal begitu. Gabisa egois dan suka2 kita mau ngapain. Banyak orang dan pihak yg terlibat even if the decision we’ll take is for ourself.
    Ah gatau lagi deh kak mau ngomong apa. Pokoknya tulisan ini kembali mengingatkan aku pada realita :”

    Like

    1. Hai, Asanayuuki! Seems like this is the first time I saw your comment in my writing (atau mungkin sudah pernah, maaf aku anaknya pelupa banget).
      Well, I am not an adult yet (I’m not even 17 yet, hahaha…) but this one’s based on my conversation with my best guy friend one day dan waktu kita ngobrolin ini kita mendadak sedih sendiri karena… yeah, we want to remain as best friends forever but if one of us decides to settle down one day, maka yang lain juga harus berusaha jaga jarak. Walaupun mungkin kita udah kenal sama dia jauh lebih lama, tapi pada akhirnya bakal kalah sama orang lain yang bakal terikat ikatan yang jauh lebih jelas dan bisa dipertanggungjawabkan alias pernikahan //halah bahasamu ran
      Terima kasih sudah baca, ya 🙂

      Liked by 1 person

    2. Yea ran… aku juga baru tau kamu lebih muda dari aku wkwk. Habisnya kamu nulis cem begini (?)

      Oiya lupa intro 😂 aku washfa, 98. Udah tua ya 😦 seneng deh komen aku dinotice hahah… oke ran, semangat terus ya kamuu :))

      Like

  3. raniiiiiiiiii! halooooo! :))

    setuju sama kak mala, kak ami, sama washfa di atas. ini sedih banget :(( apa ya. pertama karena mereka sahabatan kan, terus persahabatannya diwarnai cinta eh tapi akhirnya malah ga bisa bersatu padahal dua-duanya sama-sama sayang 😦 why so menyayat hati, ran. aku emosi bacanya karena somehow aku bisa merasakan apa yang dirasakan si aku? and that line: “tapi ia tidak punya kamu.” thoooo :((( kamu bisa aja deh kepikiran ide kayak gini, huhuhu. apalagi pas si aku ini masih mau berkorban gitu lho dateng ke pernikahannya KENAPA SIH PENYIKSAAAN BATIN SEKALI HUHUHU

    anyway, aku ada dua koreksian nih, gapapa ya? yang pertama: hapal, itu bentuk baku di kbbi-nya hafal. sama kemana yang harusnya di tulis: ke mana, karena dia tetep preposisi jatuhnya. selain itu sudah bagus sekaliiiii! semangat terus yaa, rani! keep writing! :))

    Like

    1. Hai, Kak Evin!
      Iya di sini mereka ceritanya sahabatan deket, saking deketnya udah saling sayang, tapi di sisi lain juga mereka sama-sama nggak mau step on the next level alias pacaran atau bahkan menikah. Tapi ya pada akhirnya harus berpisah juga karena salah satu bakal menikah sama orang lain.
      Walah aku kira yang baku malah hapal, terus ke mana itu aku kira juga digabung, sepertinya wawasanku tentang EBI masih harus diperluas lagi, nih. Makasih banyak buat koreksinya!
      Terima kasih sudah baca, Kak ^^

      Like

  4. Raniiii!!! Wah waah kamu tetiba nulis bawa bahasan berat plus bikin baper :’)
    Kusuka sensasinya, terus gimana pemikiran si tokoh utamanya ini. Dia tuh independen banget gitu ya ga mau terikat terlalu jauh tapi juga cinta. Ya gimana juga sih emang harus memilih. Terus kusuka tanggepan dia pas nerima undangan sang mantan huhuhu dia setrong banget duh salut! XD

    Dari sejak dulu2 baca tulisan kamu, kayanya kamu semakin meningkat, Ran. Apa ya, lebih rapih, terus narasinya juga lebih padet dan ‘berisi’. Emosi dalam narasinya juga ikut kerasa. Keep writing ran! ♥

    Like

    1. Hai, Kak Tita! Long time no see!
      Heuheu sebenernya si “aku” ini cuma berusaha act strong padahal hatinya rontok. Because in my opinion, there’s no person who wants their best friend lives a life they don’t like.
      Wih masa, sih? Seneng deh kalo ternyata semakin ke sini my writings are improving a lot 😀
      Terima kasih sudah baca, Kak! ❤

      Like

  5. RAAAANIII its been a long time aku ngga baca tulisan kamu. Dan ini kece gaboong. Hawanya adem tapi sedih 😦 mengutip kak evin: “tapi ia tidak punya kamu.” thooo :(( (2) di akhir cerita tuh aku kayak menghela napas bikos “mungkin juga tidak.” Semoga mba-nya ketemu ‘ia’ yang lain yaaa! Keep writing buddy! ♥

    Like

    1. Hai, Shia!
      Heu gimana yha awalnya aku kira ini bakal jadi cheesy dan menggelikan loh, wkwkwk… Waduh mbanya ketemu “ia” yang baru ga ya? Tunggu episode selanjutnya ajalah //apa sih ran
      Terima kasih sudah baca, Shia! ❤

      Like

  6. Raniiii.

    Somehow somehow… Aku sangat amat relate sama ceweknya dan itu ngebuat cerita ini jauh-jauh lebih sakit buatku HAHAHA. Tujuan hidup tuh rasanya mau bebas, punya temen deket cowok, tapi nikah ntar dulu deh.

    Dan… Jujurnya mereka, if only aku punya temen cowok, aku mau kayak gini—gak dengan bagian akhirnya kita pisah sih HAHAHA.

    Anyway, this is so beautiful written and it becomes one of my favorite story ever written in wordpress ❤

    Have a nice day 🙂

    Liked by 1 person

    1. Hai, Kak Tari! Long time no see!
      I think every girl who has a best guy friend can relate with the character, deh, hehehe… Walaupun nggak pengen pacaran sama temen cowoknya, tapi kalo temen cowoknya harus ngejalanin hidup yang ga mereka inginkan pasti ikut sedih :”
      Thanks for the compliment and thanks for reading, Kak Tari! Have a nice day as well ❤

      Like

  7. duh dek ditinggal nikah TT semangat mbak kamu pasti bisa move on dan nemuin “dia” yg lain.
    aku suka pembawaannya… adem gitu betah bacanya.

    keep writing ranee!!! ^^

    Like

    1. Hai, Kak Ani!
      Huhuhu tapi kayanya walaupun udah ketemu dia yang lain tetep bakalan susah move on deh :” Apalagi kalo udah temenan lama kaya si mbanya ini.
      Thanks for reading, Kak 🙂

      Liked by 1 person

  8. Halo raniiii hehehe aku adore banget sama kedewasaan ‘Aku’ di sini dan seperti yang di atas-atas, ucapan “tapi ia tidak punya kamu” kalau mengutip istilah kak fika dia sangat cobonyiii :(( soalnya dia dalam keadaan serius bukan gombal-gombalan. Dan yang paling miris waktu Aldi bilang kalau dia juga mencintai calon mempelainya tapi pengin menjalani hidupnya sama ‘Aku’. Somehow pas baca itu aku merasa dia sedikit egois tapi dia bukan di tempat yang bisa dibilang egois (apa ya, soalnya mereka sahabatan dan keduanya sama-sama ngerasa begitu. Nyambung sama maksud aku nggak, Ran? Belibet banget ya mesti hahahhahaa).

    Pokoknya keep writing Rani ini keren sekaliiii!!!

    Like

    1. Hai, Kak Bella! Maaf telat banget balesnya, huhuhu :”
      Tadinya aku kira line tsb bakal jatohnya cheesy, syukurlah kalo nggak, hahaha… Iyaaa aku paham yang dimaksud Kak Bella. That feeling when you love someone but you just don’t want to spend the rest of your life with them, you just simply adore them.
      Terima kasih sudah baca, ya, Kak! 😀

      Like

  9. tadinya kukira si aku cowok 😁 eh ternyata perempuan. bijak banget si mbak, karena kalo mereka lanjut, it will brings more harm than good 😟 go rani!

    Like

    1. Hai, Kak Dhilu! Long time no see!
      Iyaaa si “aku” ini perempuan, Kak. Ya gimana juga memang harus stop sampai di sini kisah mereka karena cowoknya mau nikah. Glad to know kalo judul, quotes, dan isi ceritanya bikin Kak Dhilu tersentuh 😀
      Terima kasih sudah baca, Kak!

      Liked by 1 person

  10. RAAANN Kenapa sedih banget sih huhuhu hatiku ran hatiku… dari judulnya udah hawa2 sendu terus tambah quotenya di awal makin2 laaah tapi gimana aku tetap cinta sama ceritanya♥

    Keep writing Ran!

    Like

    1. Hai, Kak Nurul!
      Huhuhu kenapa sedih kaaakk hatinya diobatin dulu 😦
      Glad to know you like it, Kak! Thanks for reading and commenting! Keep writing juga buat Kak Nurul!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s