Blitzkrieg [5]

by aminocte

blitzkrieg (n.): lightning war; a military technique used by Germans in WW II  based on speed and surprise

A set of short fictions, consists of <200 words.

The Unrequited Love Poem

[87 words]

Perempuan itu tersenyum, tetapi bukan untukku. Matanya mengerling, tetapi bukan kepadaku. Tawanya demikian renyah dan hangat, tetapi bukan karenaku.

Di atas singgasananya, ia menjadi ratu sehari. Di sebelahnya, seorang lelaki menggenggam tangannya. Dialah rajanya, penakluk hati perempuan itu sejak lama.

Orang-orang menghampiri mereka untuk bersalaman dan memberi ucapan selamat. Aku masih setia berdiri, menunggu giliran. Berkali-kali aku tersenyum sendiri, mencoba untuk terlihat tulus dan menyenangkan, tetapi aku tidak yakin.

Ah, tersenyumlah, Boi. Hanya untuk hari ini, pun. Esok lusa, belum tentu kau berjumpa dengannya lagi, ya kan?

The Vessel

[143 words]

Selamat datang. Silakan duduk di kursi Anda masing-masing. Kita akan berangkat menuju … apa tadi? Oh, ya, ya, kita akan menuju Mars! Sekadar informasi, Mars adalah destinasi wisata terfavorit setiap pekannya sehingga suasana di sana nantinya akan cukup ramai. Namun, maskapai kami senantiasa berusaha memberikan yang terbaik kepada Anda. Dengan armada yang eksklusif, kursi yang bisa diatur dalam berbagai posisi, makanan dan minuman yang beragam, sarana hiburan yang lengkap, serta perlengkapan keselamatan yang memenuhi standar dunia, kami berharap Anda menikmati perjalanan dengan baik. Rute perjalanan ini telah terintegrasi dengan fasilitas akomodasi bintang lima yang dibangun di tempat tereksotis di Mars, jadi Anda tidak perlu khawatir. Eh, tunggu, tadi saya bilang Mars, ya? Salah, harusnya Venus. Hahaha. Atau Jupiter, ya? Aduh saya lupa. Hahahaha. Eh, eh, saya mau dibawa ke mana? Lepas! Lepaskan saya! Saya nggak mau balik ke tempat itu lagi! Nggak mau!

Greeting

[152 words]

Halo.

Aku menyapamu pagi itu dari ujung telepon. Kau menggerutu, kesal karena merasa terganggu. Ini masih malam di Leiden, katamu. Kukedikkan bahu, mana aku tahu? Yang aku tahu aku rindu kamu. Kamu gantian tertawa. Katamu aku gombal. Kubalas, aku manusia, bukan kanebo, apalagi gombal. Lalu kita bicara ini-itu. Kau bercerita tentang masa-masa homesick yang sudah berlalu. Aku bercerita tentang posisi baru di kantor. Kita saling menimpali, saling berdebat, saling memuji, saling berharap. Bagiku, harapan itu hanya satu. Bertemu denganmu. Entah bagaimana halnya denganmu. Mungkin bagimu harapan itu ada sejuta. Atau tak terbilang laksana bintang.

Halo.

Aku menyapamu sore ini dari atas tanah. Kuburan ini masih basah. Pelupuk mataku pun juga demikian. Harapanku yang hanya satu itu ternyata pupus terlalu cepat. Pesawat yang kau tumpangi ternyata lebih mengejar samudra alih-alih merindukan daratan. Bukankah sudah kubilang padamu, kita akan bertemu? Lalu mengapa kamu pergi lebih dulu? Apakah kau juga lebih merindukan tanah ini ketimbang diriku?

Addict

[123 words]

Di sudut gang sana, ada bocah yang gemar menghirup lem kaleng. Berkali-kali ia mengendus, seakan takut kehabisan aromanya. Setelahnya, ia akan tertawa-tawa. Perasaannya menjadi seringan kapas, lalu ia ‘terbang’. Fisiknya saja yang terfiksasi pada tanah, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Jangan harap bisa bertanya arah pasar atau nomor angkot kepadanya pada saat seperti itu. Jangan harap pula bisa menariknya untuk kembali ke bumi secara paksa. Tidak akan bisa. Bahkan orang tuanya pun tidak kuasa.

Mereka bilang, dia kecanduan, meski yang ia hisap bukanlah serbuk getah candu, melainkan lem murah yang bisa didapat di mana-mana. Mereka bilang, hanya anak-anak tak terurus seperti dirinya yang menggantungkan kebahagiannya pada sekaleng lem. Seakan lupa  bahwa anak-anak mereka di sekolah mungkin sedang tertawa-tawa setelah mengendus ujung spidol.

Commotion

[182 words]

Ya, semuanya harap bersabar. Sekali lagi, harap bersabar. Jangan berdesakan. Jangan saling gencet. Kasih jalan untuk lansia. Eh, ada apa itu di sana? Hei, hei, kamu! Sudah saya bilang jangan berdesakan. Sabar, semua pasti kebagian. Satu orang dapat satu jatah sembako. Jangan ada yang ambil lebih. Hei, siapa suruh ambil dua? Hei, malah kabur! Satpam, kejar orang itu! Dia ambil jatah lebih. Catat namanya, kalau perlu di-blacklist untuk pembagian selanjutnya.

Apa? Ada yang pingsan? Di mana? Berapa orang? Tolong kasih pertolongan pertama. Cepat! Jangan sampai kejadian ini masuk TV. Membahayakan citra kandidat yang kita usung. Tunggu, apa? Pagar rumah dirusak warga? Kenapa bisa? Ck, dasar satpam nggak becus? Memangnya mereka nggak bisa meng-handle warga? Mereka bukan dari daerah sini, ‘kan? Jangan-jangan itu suruhan lawan, biar acara kita kacau. Kurang ajar betul mereka itu.

Ada laporan apa lagi? Sudahlah, jangan bikin saya pusing! Ada wartawan? Jangan dikasih masuk. Dengar ya, jangan izinkan mereka masuk. Saya mau lapor atasan dulu. Kamu di sini, gantikan saya. Iya, saya tahu, di sini kacau. Makanya kamu coba rasakan sendiri susahnya menangani situasi. Jangan dikit-dikit lapor, dikit-dikit lapor!

Advertisements

13 thoughts on “Blitzkrieg [5]

  1. haloooo, kak ami!

    ini bagus banget aku suka dari awal sampe akhir semuanya tulisannya rapi, khas kak ami. hehehe. favoritku itu yang vessel sama addict! vessel karena plot twist-nya kena banget awalnya kukira sci-fi gimana gitu ya, kak. eh ternyata dia penghuni rsj sepertinya huhuhuhu. kalo yang addict….. karena ini related banget gitu HEHEHEHE sama bau bensin juga deh. aku ga suka bau spidol, tapi kusuka bau bensin? HAHAHAHA tapi aku bukan junkie kak, percayalah evin minum alkohol aja belum pernah huhuhu

    yosh semangat yaaa, kak ami! keep writing hi hi hi ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. Halo eviin!
      Duh aku nggak nyangka karena ini bikinnya agak dadakan, kecuali prompt terakhir yang udah lama nyangkut di laptop haha. Tapi makasih banyaaak. Soal plot twistnya itu juga dadakan, padahal awalnya kepingin yang nyerempet sci-fi tapi gagal :D. Aku suka bau spidol, dulu, tapi kalau bau bensin malah nggak suka huhu. Semangaat eviin, keep writing juga yaa ❤

      Like

  2. Bagus banget Kak Ami :”) favorit aku ada tiga. The Vessel, Greeting, sama Addict. Bahkan yang Greeting berhasil bikin aku emo banget dan sama kayak evin, plot-twist di The Vessel ngena sekali :”) selalu suka sama tulisannya Kak Ami yang rapiiii heuheu Kak Ami semangaat!!

    Liked by 1 person

    1. Hai Bella, makasih banyak! Aku juga suka tiga itu *tos*. Jujur aku juga takut bablas emo pas nulis yang Greeting dan Vessel itu percayalah twistnya dadakan hahaha. Makasih Bella, keep writing juga yaa! Semangaat

      Like

  3. KA AMIIIIIIIII AKHIRE KUBISA BACA TULISAN KAK AMI SELAIN DI CHATROOM AAAAAA :`>

    Asli kangennya banged pake D, abis main ke wordpress bisa dihitung jari sekarang … Dan dan daaaan PLOT TWISTSnya naga bonar mantab djiwa Ka Ami!!!

    Amboi rancak bana delisyus semua-mua-muanya! Tanpa menghilangkan kekhasan kak ami: serius, moral value, inspiratif, daily life, slentingan humor yang bikin senyum sendirian, plus plot twist, fix semua paporit akuhhh!!! ♡♡♡

    After all this time? ALWAYYYYSSS ❤

    Liked by 1 person

    1. KAPANG AKU GA BISA BERKATA-KATA LAGI WHYY I DON’T DESERVE IT :”
      Aku cuma bisa bilang makasih dan big hugg, semoga tulisanku bisa lebih baik lagii
      ❤ ❤

      Liked by 1 person

  4. KAAMI APA INI HELP KUSUKA SEMUAAAAAAAA ❤ ❤

    dat unrequited love poem. ouch. addict tuh kalo titan suka sama bau bensin. awalnya sempat mikir eh titan aneh banget sih suka bau bensin. taunya ngga titan doang. it's somewhat a relief for me :"D

    yang paling jleb tuh greeting. augh :") plot twist di vessel bikin nepuk pipi kirain teh sci-fi tapi ternyata… you got me there :"D

    yang commotion ntapz sekali kak johoho titan kok ngerasa itu semacam sindiran ya. relevan pula sama situasi sekarang ini.

    keep writing kaami! ❤

    Liked by 1 person

    1. Halooo titaan 🙂 glad to know that karena aku merasa ini eksperimental sekalii apalagi yang vessel itu apaan coba. It’s okay titan you’re not alone 😀
      Iya commotion memang terinspirasi situasi saat ini titaan hehe. Keep writing juga titaan ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s