Kesaksian Perempatan Jalan

pexels-photo-96449.jpeg

credit pic  Ghost Presenter on pexels

cherryelf © 2017

Aku adalah yang tersibuk dari yang paling sibuk. Jangan pernah mengaku sibuk jika kau belum jadi aku. Pengendali, pengatur, penegur. Jam kerja dua puluh empat jam, tanpa rehat. Tak terbayang jika aku jenak berleha-leha, niscaya jalan penuh karut-marut.

Mengedip tiap satu menit sekali. Tidak lebih, tidak kurang. Tak pula kuperpanjang merah, apalagi memperpendek hijau. Jika saja ego kuterjang, mungkin para penggerutu berbondong-bondong melempariku batu. Menjadikanku tiang sakral jelmaan iblis.

Pagi menggeliat. Tenda warung pinggir jalan di pasang. Spanduk pilkada tahun lalu geser fungsi jadi peneduh. Gambarnya wajah calon yang dulu tak mereka kenal. Kini semakin tak dikenal, sebab disapu terik. Letup minyak penggorengan mulai terdengar. Penjualnya adalah janda muda beranak dua, yang tengah menunggu pelanggan. Kebanyakan tukang becak dan sopir angkot yang rakus makan dan buaian.

Di seberang, berkumpulnya segerombolan anak berpakaian kumal, berwajah kumal, dan berambut kumal. Seolah mereka memang lahir dari kekumalan yang abadi. Berkelakar polos sambil menyandang sekotak alat semir, senampan gorengan, dan setelapak kecrek. Kaki-kaki kecil mereka yang bersandal tipis merayapi aspal. Beralih dari satu mobil ke mobil lain. Terusir dari makian satu ke makian lain.

Ketika siang beranjak, saat knalpot makin meranggas jalan dengan kepul dan asap, jumlah mereka tak juga berkurang. Sesekali dengan was-was diliriknya seberang jalan. Pada sosok tinggi, kurus, badan penuh coretan. Penampakannya tak beda jauh dari tiang listrik di sebelahnya. Dia Sang Ketua, berdiri mengawasi. Menanti lembar dan koin terkumpul. Diam menanti kesalahan yang siap ia beri kepalan tangan. Dia alasan lapar dan haus para anak tertahan di dasar perut yang keroncongan.

Mobil berpelat merah terhenti tepat saat titik merah berkedip. Anak-anak kumal seketika berkerumun. Namun jendela mobil mewah itu tidak dibuka untuk kemiskinan mereka. Bisa kutebak, pengendaranya adalah manusia berkepala kuda, yang kedua matanya terbungkus kacamata kuda. Mungkin itu yang membuatnya tak dapat melirik kanan dan kiri.

Si Manusia Kuda menyibak lebar-lebar koran hari ini. Wajah kawannya terpajang di sana, terbalut kaos oranye dengan kepala tertunduk. Tangannya bergetar-getar sementara matanya menyusuri baris-baris kata dengan nanar. Kerut usia di dahinya makin mengerut. Ia membayangkan, bagaimana jika wajahnya–yang kini berganti tikus–tercetak di koran. Tepat di halaman pertama dengan inti berita yang mengurai rahasia perut dan kepalanya. Catatan hitam puluhan tahun dari masa jabatannya, yang tentu hanya Tuhan dan kawan sekumpulannya saja yang tahu.

Tidak boleh ada yang tahu! Tidak boleh terjadi!

Asap mengepul-ngepul di kepala tikusnya. Aku tertawa-tawa saja saat ia memijit-mijit kepala sementara kecrek para anak di balik jendela terus berkecrek. Asap di kepalanya meledak. Dilemparnya koran itu lalu digesernya jendela separuh terbuka. Menumpahkan isi kebun binatang dari mulut tikusnya. Anak-anak cepat-cepat menyisih, kabur.

Di seberang jalan, janda beranak dua berjongkok, mencuci piring. Si Kepala Tikus berubah wujud menjelma buaya. Terbesit ide untuk mendinginkan kepalanya yang berasap. Aku langsung tahu pilihannya. Perjalanan malam di perempatan remang-remang.

Yang kumaksud perempatan remang-remang tak lain dan tak bukan ialah diriku sendiri. Makin pekat malam, makin panas kegiatan manusia mengotori diriku ini. Meski sejatinya aku benci sebutan remang-remang. Karena yang sesungguhnya remang-remang bukanlah aku, tapi hati para manusia itu.

Lihat, bagaimana Si Kepala Buaya menepi! Merayu satu, dua wanita penjaja. Sebelum ia bisa memungut terbaik dari mereka, iring-iringan polisi jaga datang mengumandangkan peringatan. Membubarkan para manusia remang-remang. Si Kepala Buaya melesat pergi. Di belokan persimpangan, seorang anak yang ikut lari-lari, melintas memotong jalan. Rem belum sempat terinjak, tubuh anak itu terpelanting jauh ke depan.

Si Ketua seketika datang mengambil peran. Dipukulnya kaca mobil  membabi-buta. Matanya yang merah melotot-lotot. Dimuntahkannya segala ancaman dan maki-makian. Si Kepala Buaya seketika direndam panik. Tak ingin berpikir panjang dan memanjangkan masalah, dilemparnya segepok uang.

Si Ketua bungkam dan menyeringai. Si Kepala Buaya melenggang damai. Sementara anak-anak berkerumun. Bertanya-tanya apa yang akan ketua mereka lakukan dengan uang dan kawannya yang terkapar.

Advertisements

10 thoughts on “Kesaksian Perempatan Jalan

  1. Aduh getir banget ceritanya, Fatim. Tapi aku sukaa. Apa ya? Sindirannya tajam, relevan dengan keadaan saat ini. Cuma ada beberapa bagian yang kayaknya perlu diperbaiki, misalnya di pasang yang harusnya dipasang, trus ada beberapa bagian yang seperti diulang-ulang, seperti ‘kerut usia di dahinya makin mengerut’

    Keep writing!

    Like

    1. amiii,
      ya, ah, keknya dulu pas di word udah ‘dipasang’. kalau online segera kuperbaiki ><
      itu memang sengaja kubuat perulangan, hehe dipertegas aja niatnya. kalau jadinya ga enak, duh maaf ya xD

      makasih, amiii <333

      Like

  2. KAFATIM LONG TIME NO SEEEEEE!!

    apasih, titan baca ini kok sedih sendiri. getir juga huhu. sindirannya nancep kak, sama relevan banget sama situasi-situasi sekarang ini. which is way too sad smh :”(

    keep writing kafatim! ❤

    Liked by 1 person

  3. KAKFATIM!! Mengutip kaktitan, LONG TIME NO SEEEEEEEEE! Ini tamparan banget untuk orang-orang yang enggan menatap realita dan gelitik yang bikin orang pecinta realita tersenyum miris. Aku suka banget tiap kata dan diksi yang kakak pake. Ini menyentuh tanpa perlu mengucap kata-kata sedih dan sangat related sampe aku rasanya mau klik like sejuta kali. I love this! Such a great fic for my saturday morning haha 😀 keep it great, kakak!

    P.s : aku bener bener suka ini gimana dong huhu. suka banget sama deskripsi yang kayak ginii

    P.s.s : ini fic yang kucaricariiiii ❤❤❤❤

    Liked by 1 person

    1. Dhiluuuuuuu;;;;; baca komen dhilu aku merasa tertampar,lama bnget ya wbku, sejak jaman gajah ga bisa terbang T___T maakeun. Harus gimana balesin komen dhila cus its such a sweet coment <33333 😘

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s