Ichigo Ichie

oleh Angelina Triaf

(mini event: truk pantura)

©pic: pinterest.com

Lupa namanya, ingat rasanya.

.

Mungkin yang bisa dilakukan wanita tua cacat sepertiku hanya duduk di atas kursi roda sesaat sebelum senja tiba. Waktunya memang terlampau singkat, tapi selalu bisa mengantarku pada beberapa memori untuk kupakai bernostalgia.

Contohnya, kenangan saat aku menemani seorang anak kecil bermain lempar bola di halaman muncul dalam benak. Rambutnya yang cokelat berkilau ditimpa sinar matahari pagi. Senyumnya cantik, jika tertawa gingsulnya akan terlihat dan membuatku geli karena ia sangat menggemaskan. Hanya sampai di situ, tanpa kuingat baju apa yang ia kenakan atau sepatu warna apa yang ia pakai.

Selesai dengan hal itu, kembali ada kenangan lain yang hinggap, terputar seperti film di dalam gulungan. Kali ini tentang pesta ulang tahun. Ada satu kue besar dengan lilin berangka lima di atasnya. Jika saja lidah bisa mengingat rasa layaknya ingatan di kepala, mungkin sudah kukecap rasa manis yang lembut. Lagi-lagi kulihat gadis kecil yang sama tengah berdiri di depan kue, dikelilingi orang banyak yang bertepuk tangan. Setelah meniup lilinnya, ia berlari menghampiriku, memelukku sangat erat. Pelukannya pun terlepas dan aku menyadari bahwa mulutnya terbuka, mengucapkan sesuatu padaku. Walau tak bisa mengingat suaranya, entah kenapa aku refleks tersenyum ketika ia memamerkan senyumnya padaku dengan gingsul yang sama.

Kurasa senyum di bibirku masih enggan menghilang, karena anak kecil itu kini tengah melompat-lompat kecil di atas rerumputan, menirukan gaya katak. Sangat imut menurutku, apalagi rambutnya yang dikuncir dua jadi ikut bergoyang-goyang ke kiri dan kanan.

Kaki kecilnya membawa ia melompat lebih jauh. Semakin jauh, sampai hanya punggung mungilnya yang bisa kulihat sebelum akhirnya bias oranye membawa dirinya menghilang. Bersamaan dengan sebuah tepukan di pundakku, lalu wajah lain muncul di hadapanku. Kali ini bukan sebuah ingatan, tapi seorang perempuan dewasa yang nyata.

“Tumben sekali enggak panggil aku. Sudah hampir tiga puluh menit Ibu duduk di sini. Yuk, sekarang kita masuk. Ingat kata dokter, ‘kan?  Jangan lama-lama di luar rumah apalagi sampai kena angin malam.”

Ia berbicara panjang lebar sambil masih mendorong kursi rodaku ke dalam. Berhenti di depan meja makan, semangkuk bubur dan segelas air putih sudah tersedia di sana.

“Buburnya masih hangat. Kali ini harus dihabiskan, ya? Nanti kalau sudah habis kita bisa nonton film sebelum Ibu tidur.”

Biasanya aku akan langsung makan saat ia sudah menyuapkan tiap sendok bubur ke mulutku. Tapi kali ini, kurasa ada yang berbeda. “Saya enggak mau makan. Perut saya rasanya aneh, dadanya juga seperti ada yang nyengat-nyengat dari dalam.”

Tangannya berhenti mengaduk bubur di mangkuk dan raut wajahnya berubah. “Ibu … sakit lagi? Mau diperiksa dokter?”

Aku menggeleng. “Tadi saya ingat pernah main dengan anak kecil yang rambutnya cokelat. Sudah beberapa hari ini terjadi. Dia lucu sekali, punya gigi gingsul di sebelah kanan atas. Waktu ulang tahunnya yang kelima saya datang dan dipeluk sama dia. Sampai terakhir kali saya lihat anak itu sedang lompat-lompat di halaman seperti katak.”

Entah kenapa, perempuan di hadapanku justru menitikkan air mata. “Kamu menangis, Nak?”

“Oh? Enggak kok, Bu.” Tangannya mengusap air mata yang sudah turun di pipinya. Aku ini hanya lumpuh, bukannya buta. Harusnya ia jangan bohong pada orang tua.

“Sekarang perut Ibu rasanya masih aneh? Dadanya masih nyengat-nyengat?”

Pertanyaannya kujawab dengan anggukan. “Ya, sejak tadi ingat anak kecil itu, perut sama dada saya jadi aneh.”

“Bisa jadi itu kenangan yang indah? Kata orang, bahagia itu rasanya seperti ada kupu-kupu di dalam perut yang ingin meledak keluar lewat dada. Lucu, ya?”

Aku tak terlalu mengerti apa maksudnya, tapi melihat dia yang tertawa membuatku ingat pada si anak kecil berambut cokelat. Bahkan gingsulnya pun sama.

“Nah, ayo makan. Aku jamin pasti perut Ibu rasanya jadi enak lagi kalau sudah makan.”

“Benar?” tanyaku.

“Iya, benar.”

Bersyukur aku karena di masa tua yang seperti ini, masih ada orang lain yang peduli dan dengan ikhlas merawatku. Seperti malaikat, ia hadir begitu saja.

“Nak?”

“Iya, Bu?” Ia menatapku, tangannya berhenti mengaduk bubur.

Faktor usia terkadang membuatku mengingat hal-hal samar dan di saat yang sama melupakan sesuatu yang sepertinya pernah diucapkan orang lain padaku. Seperti yang satu ini. “Saya lupa. Kita pertama kali bertemu di mana, ya?”

Sebelum menjawab, ia menatapku agak lama, seolah ada yang ia pikirkan.

“Pertemuan pertama kita di rumah sakit, Bu. Setelah Ibu sadar dari koma panjang akibat kecelakaan saat menolong seorang anak kecil yang hampir tertabrak mobil.”

fin.

  • Ichigo Ichie: “One time, one meeting”; an encounter that only happens once in a lifetime, reminding to treasure every moment, for it will never recur.
Advertisements

3 thoughts on “Ichigo Ichie

  1. Aaaww :’ kenapa aku jadi ikut-ikutan menitikkan air mata :”) aku sensitif banget nih kalo ketemu yang kayak begini. Lupa akan sesuatu gitugitu huhuhu. pokoknya ini sadly sweet and sweetly sad :’ nice fic, kak dian! 😊

    Like

    1. thanks for reading^^ alo dhilaa hihi jangan ikutan menitikkan air mata dong nanti cantiknya ilang *eh hahaha. rasanya jadi si mbak-mbak pasti sedih sedih terharu gitu kali ya cuma diinget pas masih kecilnya aja :’) makasih udah mampir ya ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s