Domestic Monsters: Pomme de Sang

by Io

[cr picture: here]

.

“Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born.”

— Anaïs Nin

.

Hyacinth Ansell jatuh cinta pada pandangan pertama dengan London.

Jangan salah, ini bukan karena ia berasal dari Bibury lantas terpesona pada hiruk pikuk kota yang sangat kontras dengan desanya. Tidak. Kebalikannya dari Bibury, London penuh dengan satwa dan makhluk gaib yang sukses membuat Hyacinth terpaku takjub.

Gadis bersurai cokelat itu masih ingat kali pertama dirinya menginjakkan kaki di London; putih salju menyelimuti kota dan dingin yang menggigit jari. Ia baru saja melewati pintu keluar London Paddington saat atensinya teralihkan oleh kepakan keras sayap seekor griffin yang mendarat dan bertengger di atap bangunan stasiun. Mata gadis itu membulat. Dengan kekaguman yang jelas terlukis di wajah ia menelusuri sosok menakjubkan sang griffin; kepala dan kaki depan berwujud seperti elang sementara bagian tubuhnya berwujud seperti singa dengan sepasang sayap kuat di punggung. Bulu hitam satwa gaib itu berkilat indah kebiruan kala pijar lampu kota mengenainya.

Iris hijau cemerlang Hyacinth berbinar. Selama enam belas tahun hidupnya, baru kali ini ia bertemu langsung dengan seekor griffin. Di Bibury terdapat satwa gaib, tapi kau dapat menghitung jenis mereka menggunakan satu tangan dan griffin tidak termasuk di dalamnya. Kawanan basilisk yang akan lebih bijak jika kau tidak mendekati mereka, peri hutan yang sangat pemalu dan hampir tidak pernah menampakkan diri di hadapan manusia, dan tak lupa crup-crup jinak yang berkeliaran di sepanjang desa.

Butuh beberapa menit bagi Hyacinth untuk memutuskan atensinya dan melanjutkan perjalanan, dan selama itu pula, beberapa kali ia berpapasan dengan para griffin yang tengah bersantai—nampak tak terganggu oleh hawa dingin yang menusuk. Dari apa yang didengarnya, griffin memang satwa gaib favorit Sri Ratu, karena itulah populasi mereka cukup banyak tersebar di daerah ini.

Sungguh, dengan pemandangan menakjubkan ini sebagai sambutan, Hyacinth bisa melihat bahwa keputusannya menerima beasiswa dari London College for Gifted Human and Magical Beings bukanlah sebuah kesalahan.

.

.

Sayangnya, dua bulan kemudian, gadis bersurai cokelat itu menanyakan kewarasannya memutuskan bersekolah di London.

Jadi begini, Hyacinth rela meninggalkan kampung halamannya untuk memenuhi beasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama yang terletak di jantung kota London. Perguruan tinggi ini memiliki asrama bagi para pelajar yang tengah menempuh jenjang pendidikan di sana. Dan karena peraturan mewajibkan murid baru untuk berasrama, Hyacinth pun mengisi formulir aplikasi yang dikirim bersama surat penerimaan. Satu kamar akan ditempati oleh dua anak—tidak boleh lebih ataupun kurang. Kamar ini sendiri lebih seperti flat mini sebenarnya; terdapat dapur, kamar mandi, ruang belajar, dan kamar tidur dengan kasur berseberangan. Dua lemari kayu yang cukup besar tersedia di ruangan tersebut, ditambah sebuah jendela kaca besar yang mengarah ke balkon dan menampilkan pemandangan kota.

Seminggu sebelum kegiatan kampus benar-benar dimulai, dengan berlandaskan petunjuk dari Kepala Asrama, ia tiba di depan kamar yang dimaksudkan untuknya dan melihat papan persegi kecil di sebelah pintu kayu bertuliskan:

Ansell, H

Bartholomew, I

Si teman sekamar, yang rupanya sudah tiba lebih dulu dan tengah menata barang-barangnya di dalam, adalah seorang vampir—vampir menawan dengan dwimanik keemasan dan surai merah bergelombang yang membingkai wajah berbentuk hati. Kulitnya bak pualam, dengan lekuk tubuh proporsional yang akan membuat model mana pun iri setengah mati.

Nah, Hyacinth sama sekali tidak keberatan berbagi kamar dengan si vampir—garis wajahnya terlihat ramah—kalau saja dia tidak menguras tenaganya hampir setiap hari.

.

.

“Aroma darahmu enak sekali.”

“… Maaf?”

Hyacinth tidak akan mengakuinya, tapi mulutnya menganga lebar mendengar komentar yang terlontar dari bibir merah itu kali pertama mereka bertatap muka.

Si vampir mengangguk, tampak tak menganggap ada yang aneh dari ucapannya. Ia meneruskan, “Kau manusia, ‘kan?”

“Uh .…” Hyacinth berusaha menguasai diri. “Iya. Aku manusia, kok.”

Sepintas si vampir melemparkan sorot penuh makna yang tak mampu Hyacinth pahami. Sedetik kemudian, ia menyeberangi ruangan, memangkas jarak antara mereka berdua—dan dengan mata berbinar menyodorkan tangan. “Well, hello. Aku yakin kau pasti sudah tahu namaku dari papan yang terpasang di luar, tapi rasanya tidak sopan kalau tidak berkenalan secara langsung, benar?” cicipnya diiringi senyum menghiasi wajah.

“Iryn Bartholomew, at your service.

Mengerjap, Hyacinth menyembunyikan keheranan yang dirasakan dan menyambut uluran tangan si vampir. Dingin.

“Hyacinth. Hyacinth Ansell.”

“Haya—aku boleh memanggilmu Haya, ‘kan?” kata Iryn bersemangat dan tanpa menunggu respon dari si manusia, ia melanjutkan, “senang bertemu denganmu. Semoga kita menjadi teman sekamar yang baik, ya?”

Dan Hyacinth hanya bisa mengangguk menanggapi, terlalu sibuk dikagetkan oleh tingkah eksentrik si vampir. Bukankah seharusnya vampir itu identik dengan kemisteriusan dan keanggunan?

.

.

Bunyi keramik pecah menyentak perhatian Hyacinth dari layar laptopnya.

Oops.

Yeah, kau ingat soal vampir yang merupakan simbol kemisteriusan dan keanggunan? Hal itu tidak berlaku untuk Iryn.

Dia benar-benar ceroboh—dimana ceroboh di sini memiliki artisi vampir kadang lupa kalau ia memiliki kekuatan super dan bukan karena kikuk atau apa. Iryn dan apa pun itu yang terbuat dari kaca, keramik, atau porselen, sama sekali tidak memiliki hubungan harmonis. Dan entah suatu hal yang bagus atau tidak (oh kau bercanda, tentu saja tidak bagus), korban tangan kikuk Iryn  adalah cangkir dan gelas yang sangat mereka butuhkan. Hanya dalam beberapa hari Hyacinth menyadari ini dan melarang keras Iryn menyentuh barang pecah belah di dapur.

Iya, Hyacinth mendapat tugas tetap mencuci.

Beranjak dari tempat duduk, ia kemudian berjalan menuju dapur di mana suara itu berasal. Hyacinth mengangkat alis kala melihat teman sekamarnya berdiri di depan bak cuci, pandangan menunduk ke arah cangkir yang terbelah dua.

Cangkir yang sangat familier, kalau ia boleh menambahkan.

“Maaf ….” Iryn memainkan ujung kerah baju dan ekspresi penyesalan tergambar di wajah ayu itu. “Aku merasa bersalah membiarkanmu mencuci peralatan makan terus, jadi kupikir kali ini aku yang melakukannya. Tapi … well ….” Si vampir mengangguk sedih pada cangkir yang pecah.

Dan si gadis bersurai cokelat hanya bisa menghela napas panjang sembari memijat kening. Entah sudah berapa cangkir yang dipecahkan Iryn—dan semuanya miliknya. Tapi sungguh, bagaimana ia bisa mengomeli si vampir kalau—kali ini—dia memang tak sengaja?

“Iryn …,” kata Hyacinth kemudian, menghela napas. “Sudah kubilang, masalah mencuci piring dan sebagainya serahkan saja padaku. Aku tidak masalah mengerjakannya, kok. Sungguh.”

“Tapi—”

Ah, ah.” Gadis bersurai cokelat itu menggoyangkan jari telunjuk di depan wajah si vampir. “Percayalah, Iryn, ini akan sama-sama menguntungkan bagi kita berdua. Setelah makan malam nanti, kau temani aku untuk membeli cangkir baru, Nona.”

Hyacinth benar-benar mempertimbangkan untuk membeli cangkir plastik.

.

.

Larut dalam pikiran, iris hijau Hyacinth bergulir mengikuti tiap deret kalimat yang tercetak di buku bersampul biru di atas pangkuan yang baru saja didapatnya dari kelas psikologi. Di luar, langit mulai gelap dan lampu-lampu jingga hangat yang mengelilingi asrama bersinar terang. Tenggelam dalam ketenangan yang menyelimuti ruang, tiba-tiba saja rungunya menangkap seruan Iryn,

“Haya, xiàn zài jǐ diǎn?[1a]

“… Huh?”

Satu kebiasaan si teman sekamar yang selalu membuat Hyacinth kelabakan; ia suka berbicara dalam bahasa asing tanpa disadari. Satu menit si vampir berceloteh dengan bahasa Inggris, maka menit berikutnya ia akan berbicara menggunakan bahasa Belanda. Gadis itu tidak tahu apa penyebabnya, tapi bisa jadi karena Iryn menguasai lebih dari lima bahasa dan tidak dapat mengontrolnya dengan baik sehingga semuanya bercampur aduk. Code switching si vampir bekerja dengan cara yang tak dipahami Hyacinth.

Tadi sepertinya ia berbicara menggunakan bahasa Mandarin. Atau bahasa Jepang?

Iryn menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi dan kembali bertanya, “Xiàn zài jǐ diǎn?

Oke. Itu bahasa Mandarin … mungkin.

English, Iryn, please.

Si vampir mengerjap beberapa saat, bingung. Namun sedetik kemudian ia tersentak. “Oh. Ya ampun, maaf. Quelle heure est-il?[1b]

Hyacinth membenamkan wajahnya pada telapak tangan.

.

.

Hyacinth tengah berjalan menuju kafetaria dengan langkah lebar-lebar. Perutnya keroncongan setelah duduk di kelas sosiologi selama dua periode, mendengarkan ceramah membosankan Mr. Lane yang seperti tak berujung. Di sampingnya, Iryn tengah berceloteh ria dengan siapa pun itu di ujung sambungan telepon … yang rupanya kenal dekat dengan si vampir jika dilihat dari binar yang terlihat jelas di iris keemasan itu dan nada sayang yang menyelimuti kata-katanya.

Si gadis bersurai cokelat tengah menghapus spam surel kala atensinya ditarik oleh sosok yang berjalan anggun di depan mereka.

Ooh!

Iryn mengerjap, kaget melihat si manusia yang mendadak memekik girang dan bertingkah layaknya seorang penggemar melihat sang idola. Menggumamkan ‘bye’ pelan pada si penelepon, si vampir menggeser tubuh ke samping, ingin tahu siapa yang sukses memancing reaksi drastis dari Hyacinth. Alisnya terangkat tinggi saat melihat Hyacinth berjalan mendekati … seekor kucing?

Dengan ketertarikan yang tak sedikit Iryn mengamati teman sekamarnya. Namun belum sempat dia menyentuh bulu indah hewan itu, kucing yang perhatiannya tertarik oleh suara halus Hyacinth mendesis keras dan meloncat, berlari menjauh meninggalkan si gadis bersurai cokelat yang membeku di tempat, terkesiap.

“Ah.”

Hyacinth mendongak, dan melihat si vampir berjengit akan apa pun itu yang tergambar di wajahnya.

“Kurasa dia mencium aromaku.”

Lawan bicaranya mengernyit, membuka mulut, hendak bertanya apa maksud dari ucapan itu. Namun sedetik kemudian pemahaman datang membanjiri pikiran Hyacinth. Matanya melebar.

Ya tentu saja.

Beberapa minggu bersama Iryn yang eksentrik rupanya membuat Hyacinth lupa bahwa sejatinya kaum vampir adalah predator kelas kakap. Seekor kucing jelas akan menjauh begitu mencium aroma mereka karena insting mempertahankan hidup yang kuat. Hewan berkaki empat tadi jelas menangkap aroma vampir yang menempel pada Hyacinth dan menganggapnya sebagai ancaman.

Iryn menepuk pundak gadis itu dengan penuh simpatik.

“Mau kutraktir kue karamel di kafetaria?” tawar Iryn kemudian, kikuk. “Rasanya enak, kok.”

Si manusia menghela napas panjang, kemudian mengangguk. Ia mendengar nada penyesalan yang menyelimuti tawaran Iryn, dan mau tak mau berpikir bahwa ia harus membiasakan diri untuk tidak menghampiri kucing selama berada di sini.

Hyacinth mencintai kucing, tapi menjauhi Iryn hanya agar dapat berinteraksi dengan hewan manis itu bukanlah suatu pilihan.

.

.

“Aku tidak tahu vampir bisa sakit.”

“Banyak yang tidak kau ketahui tentang vampir, Haya.”

Hyacinth menggumam tak jelas. Saat ini ia tengah duduk di pinggir kasur teman sekamar yang tengah tergeletak pucat. Iryn benar. Memang masih banyak yang tidak ia ketahui tentang vampir, kendati dirinya sendiri tinggal bersama dengan salah satu kaum penghisap darah itu.

“Miranda pernah bilang bahwa jika kalian butuh regenerasi yang cepat, darah segar manusia akan membantu,” kata Hyacinth, menatap lekat dwimanik keemasan yang mengingatkannya pada fajar. “Apa kau mau meminum darah untuk membuatmu lebih baik?”

Iryn membelalak. “Darah … siapa?”

Well, darahku, tentu saja,” kata si gadis bersurai cokelat sembari mengacungkan telunjuk ke mukanya. “Manusia, ingat?”

Saat lawan bicaranya tak kunjung memberi respon, kerut terpeta di dahi Hyacinth. “Apa?

“Haya ….” kata si vampir lamat-lamat.“Apa kau sadar penawaran macam apa yang baru saja kau ajukan padaku?”

“Tentu saja,” jawab si manusia. Kerutan di dahinya terlihat semakin dalam. “Memang kenapa?”

Manik keemasan Iryn bergulir pada jenjang leher Hyacinth. Ada kilat ketertarikan yang terpantul jelas di sana. Sejenak Hyacinth mengira dirinya akan mendengar Iryn menyetujui penawaran yang diberikan secara cuma-cuma ini, namun detik berikutnya si vampir malah memejamkan kelopak mata.

“Tidak, terima kasih.”

Dan Hyacinth tak mengerti mengapa penolakan Iryn menorehkan kekecewaan yang dalam di hatinya.

.

.

Mungkin hanya perasaan saja, tapi akhir-akhir ini setiap ia berpapasan dengan seorang vampir, mereka akan melempar pandang aneh ke arahnya.

Miranda Moon, seorang vampir juga teman sekelas di kelas psikologi yang duduk tepat di sebelah Hyacinth, terus-terusan memberinya tatapan penuh kontemplasi yang menusuk sepanjang pelajaran berlangsung.

What is it?” bisik Hyacinth akhirnya, menoleh ke arah si vampir, resah.

Memiringkan tubuh, alis sempurna Miranda berjingkat. Vampir itu mengibaskan rambut pirang pucat yang menyapu bahu, lalu menyandarkan pipi di telapak tangan dan membuka mulut,

How did you do it?

Si manusia mengerjap. “How did I do what?”

Being Bartholomew’s Pomme de Sang.” Mata Miranda menyipit. “It’s a big deal among our kind, you know. So how did you do it?

Dan Hyacinth hanya bisa membalas dengan tatapan kosong, tak mengerti. “I’m afraid I don’t understand.

Sesuatu yang terlalu cepat ditangkap artinya oleh Hyacinth terpantul di manik biru cemerlang Miranda. Bibir merah itu membentuk garis tipis.

.

.

Si gadis bersurai cokelat berjalan menjauhi gedung sekolah, dan selama perjalanannya menuju ke asrama, pikirannya berulang kali memutar percakapan singkat dengan Miranda yang menjelaskan mengapa para vampir di sekolah ini bertingkah keheranan saat berpapasan atau berada satu ruangan dengannya. Plus, apa yang diterangkan teman sekelasnya itu membuka pandangan baru akan tingkah laku Iryn yang akhir-akhir ini suka menempel seperti limpet pada Hyacinth sejak si vampir sembuh dari sakitnya.

Ia membuka pintu kamar dan segera melayangkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari vampir bersurai merah yang presensinya ia temukan di ruang belajar, tengah berkutat dengan iPhone di tangan.

“Jadi …,” gadis bersurai cokelat itu meletakkan tasnya di meja dan mengambil tempat duduk tepat berhadapan dengan si teman sekamar.“Pomme de Sang, hm?”

Iryn, yang sempat menoleh dan menyapanya, membeku. Satu momen hening terlewati sebelum akhirnya si vampir mengalihkan atensi dari layar ponsel dan menatapnya lekat.

“Kau tahu soal itu?” tanyanya, hati-hati.

Hyacinth melempar sorot datar. “Kau benar-benar berpikir aku tidak akan tahu soal ini?”

Seulas senyum menghiasi wajah ayu si vampir. Ia kemudian memiringkan kepala. “Honestly? No.

But why?” Hyacinth melanjutkan kala Iryn mengangkat alis, “Why did you claim me as your Pomme de Sang?

Kali ini ia berhasil menarik atensi penuh si vampir dengan nada keheranan yang terdengar jelas dalam pertanyaannya. Gadis bersurai cokelat itu melihat ketenangan tercermin di manik keemasan Iryn kala mereka bertemu pandang. Dengan kalem si vampir berkata,

I protect those whom I consider precious the most. And that’s including you, Haya.”

Mata Hyacinth membulat.

“Kau tidak sadar kalau darah manusiamu menggoda sekali, ya?” kata Iryn, meletakkan ponselnya. “Manusia jarang sekali mau belajar di sini karena populasi vampir yang cukup padat. Khawatir akan keselamatan mereka. Semua tahu sumber makanan vampir itu darah manusia.”

Hyacinth terhenyak. Dan baru ia sadari, memang sedikit sekali manusia yang ia temui selama ia berada di sini. Kebanyakan yang memenuhi perguruan tinggi ini adalah makhluk gaib seperti elf, manusia serigala, nymph, dan vampir. Ada beberapa makhluk gaib lain yang jenisnya tak ia kenali, tapi tidak mungkin Hyacinth menghampiri mereka begitu saja lantas menanyakan: Hey, I didn’t recognize your kind. What are you?

Yeah, right.

“Aku memutuskan untuk memberikanmu perlindungan setelah apa yang kau berikan kepadaku selama ini.”

Tunggu, apa?

“Apa yang kuberikan padamu selama ini?” ulang Hyacinth, bingung.

Bibir Iryn meliuk membentuk senyum lembut. Ia menghela napas panjang, penuh sayang. “Oh, Haya. So oblivious.

Dan si vampir menjelaskan kepada Hyacinth, bagaimana ia merasakan keingintahuan yang kuat kala Hyacinth tidak lari ketakutan begitu mengetahui bahwa dirinya akan berbagi kamar dengan seorang vampir, kekaguman atas kesabaran si manusia yang tak menendangnya keluar kendati telah sering memecahkan cangkir-cangkirnya dan sering berbicara dengan bahasa campuran, keheranan yang dirasakan ketika Hyacinth tak menjauh kendati itu berarti nol interaksi dengan hewan kesayangannya, serta ketakjuban yang muncul saat ia menawarkan darahnya hanya untuk mempercepat proses penyembuhan Iryn.

Di akhir penjelasan, mulut Hyacinth membentuk huruf ‘o’ kecil. Ada semburat merah yang menghiasi pipinya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Iryn memberi perhatian begitu besar pada hal-hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

I have no idea ….

Iryn melempar pandang geli. “No. You do not.

Gadis bersurai cokelat itu memandangi sosok Iryn yang kembali berkutat dengan ponselnya, seolah mereka berdua tidak baru saja membicarakan hal penting yang menyangkut tradisi lama kaum vampir. Ia pun menunduk, menimbang apa yang dilakukan selanjutnya. Ia tahu Iryn tak akan tersinggung jika Hyacinth mengakhiri percakapan mereka cukup sampai di sini. Namun tindakan itu terasa salah bagi Hyacinth. Kembali ia menatap sosok si vampir—dan sebuah keputusan pun terbentuk.

Hyacinth memanggil Iryn, menarik perhatian si vampir lagi. Ia lantas mengulurkan pergelangan tangannya, menempatkan sedemikian rupa hingga pembuluh nadinya terlihat jelas. Si gadis pernah membaca mengenai hal ini di perpustakaan beberapa hari lalu dan ingin menawarkannya pada Iryn saat ini juga.

“Haya?” kata Iryn kemudian, nadanya tajam.

“Aku ingin membalas perlindungan yang kau berikan kepadaku,” kata Hyacinth.

Kerut terpeta di dahi si vampir. Ia pun berkata, “Kau tidak perlu membalasnya, Haya. Aku melakukan ini dengan suka rela.”

“Maka anggap ini sebagai simbol pertemanan kita.”

“Apa kau tahu apa yang—”

“Aku tahu,” potong si gadis bersurai cokelat. “Iryn, kau menganggapku sebagai teman, ‘kan?”

“Tentu saja.”

“Kau memercayaiku?”

“Iya. Tapi Haya—”

“Dan kau yakin aku tidak memiliki maksud tersembunyi dengan menjadi temanmu?”

“Benar.”

“Lalu kenapa kau meragukan tindakanku kali ini?”

Iryn ternganga. Dan Hyacinth harus menahan kikik yang nyaris keluar dari mulutnya. Selama ini dia yang dibuat kehabisan kata oleh si vampir dan tingkah eksentriknya. Melihat situasi terbalik merupakan pemandangan yang cukup … memuaskan. Ia mencoba mengalirkan seluruh kesungguhan dan keseriusannya pada Iryn yang masih tampak bimbang.

Well ….” Iryn menjilat bibirnya. Manik indah keemasan itu bergulir ke arah pergelangan tangan Hyacinth, di mana ia dengan jelas melihat nadi yang berdenyut, penuh oleh kehidupan. “If you insist ….

Perlahan, ia meraih pergelangan tangan Hyacinth—memberi kesempatan bagi si manusia untuk mengubah pikirannya. Namun manik hijau itu memantulkan kilat keras kepala yang Iryn tahu akan percuma untuk dilawan. Kebulatan tekad yang terlihat di sana patut sekiranya untuk diacungi jempol. Si vampir tahu bahwa manusia di hadapannya ini akan kukuh pada pendiriannya—dan tidak ada yang mampu meruntuhkan itu.

Maka Iryn pun menutup kelopak mata, membubuhkan ciuman halus pada pergelangan tangan itu—tepat di atas denyut nadi Hyacinth[2].

Then, I shall hold onto this honour, o precious friend of mine.”

.fin

.

Catatan (panjang):

  1. Xiàn zài jǐ diǎn? dan Quelle heure est-il? sama-sama memiliki arti Jam berapa?
  2. Membiarkan seorang vampir mencium pergelangan tangan manusia, tepat di atas pembuluh nadi, adalah simbol kepercayaan mutlak yang manusia berikan pada vampir. It’s basically like you hands a knife to someone then turn your vulnerable back on them, trusting them not to stab you. Please note that nothing romantic about this gesture, unless you deliberately misunderstood its meaning.
  3. Pomme de Sang adalah istilah yang dipakai untuk seseorang yang berada dalam perlindungan seorang vampir dan pendonor darah bagi si vampir. Iryn took Hyacinth under her wing by engulfing the human her scent as a warning to other vampires. That’s the reason why she clings to Hyacinth like a limpet pfft.
  4. You’re probably wondering how on Earth 16-year-old girl is already in college. That’s UK’s education system for you. College here actually means a sixth form college, which starts at age 16-18. Psychology and sociology are subjects which Haya takes for her A-levels.

 

Advertisements

11 thoughts on “Domestic Monsters: Pomme de Sang

  1. Nggak biasanya aku menikmati cerita supranatural (ada segelintir pengecualian seperti BSD) tapi aku sangaaat menikmati cerita ini. Apa, ya? Anggun, elegan khas titan sekali 😀

    Liked by 1 person

    1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ASKADHAJSKGFASHJGFASJKAGAJ!!! im so humbled huhu thank you so much kaami!! u flatter me so augh :”D

      laf laf kaami ❤

      Like

  2. Alasan kenapa harus keki sebelum ikutan series Domestic Monsters:
    1. PROJECTNYA KAFIKA MAMEN HUHU KALO LECEK TULISANNYA MAU DIBUANG KE KUBANGAN MANA HARGA DIRIKUH?
    2. Yang ikutan literally mbak-mbak jempolan (selamat menanti siapa saja line-upnya gaes wqwqwq), kalau hasilku bikin sakit mata berapa duit harus digelontorkan untuk pengobatan para pembaca??
    3. GOODNESS GRACIOUS IO IKUTAN HAHAHAHAHAHAHA UDAHLAH SKAKMAT AKU SKAKMATKAN

    BAHKAN SEBELUM SEMUA LINE UP MUNCUL, BAHKAN SEBELUM KAFIKA KELUAR PANGGUNG, ASINGKAN SAJA AKU DI SUDUT PAPAN CATUR ….

    Openingnya is so Io, how to say this, hmmm your style in writing fantasy is somehow has a certain different vibes, and they were theeeerrreeee!

    Kujadi inget dat debut fiksi yang mbak-mbak mermaid … cengoku masih sama dan maki jawdrop ya tolong dikondisikan fantasynya mbak Io please spare my soul.

    Baru dikasi griffin nemplok genteng aja kusuda menyerah pada semesta: BAPERKAN AKU BAPERKAAAAN!!!

    Baper di London wuwuwuwu apa tak bahagya?????

    Suka sekali karakter mbak Iryn gemas gemas ingin menjadikan tutor bahasa asing, tapi watir belom kelar les kusudah brain bleeding … Mbak Haya engkau seterong!

    Sama satu lagi …

    DAT MOMEN WHEN KUCING MENJAUH … IT’S HURTS :<

    Ah gapapa lah ya gapapa gantinya kucing juga Haya malah dapet protection pomme de sang dari mba O-SO-GORGEOUS Iryn syalalalaaaaa~ fufufu dat notes tho XD

    LOVABLE CHARACTERS,
    POMME DE SANG'S IDEA,
    THE WAY YOU EXECUTE IT,
    DAT NOTES ABOUT LONDON EDUCATIONAL SYSTEM OMONA I NOTED IT!!!
    LONDON ATMOSPHERE, AAAND
    DAT FREE LIVING GRIFFIN!

    QUSUKA SEMWAHHHH ♡♡♡ LUVIT FROM KOPER NEWT SCAMANDER TO KAMAR BAWAH TANGGA HARPOT!

    (((dah kelar kepslok)))
    (((Pulang naik griffin)))

    Liked by 2 people

    1. HAHAHAHAHAHAHAH KAPANG PLS U R SELLING URSELF SHORT DON’T BE!!! akoeh berhasil menyelesaikan ini setelah baca domestic monsters punya kapang so danke schööön!! ❤

      ain't gonna spare ur soul. do you even have any tho? 😦 /slaps

      Iryn akan dengan senang hati jadi tutor bahasa but yha itu… brain bleeding sepertinya tidak akan terelaqkan huahahah. dan saat kucing menjauh itu im practically in pain why o why harus kumasukkan scene itu hvt 😦

      notes untuk memberi pencerahan dan menghindari those who easily got triggered XD

      THANK YOU SO MUCH KAPANG ASDFJK;KLHASJFKHAJGAS UR COMMENT MADE MY DAY!! ❤ ❤

      Liked by 1 person

  3. kak titan aku belum ngikutin apa pun tentang domestic monsters tapi kusudah bisa merasakan sistmance (bromance versi sister itu apa ya kak hahahaha) iryn sama haya heuheu dan terus aku baru tahu kalau DP ini project (merunut dari komennya kapang huehehe) oke aku akan berkelana mencari domestic monsters yahuuuuu! dan kak titan aku suka sekali punchline-nya “Then, I shall hold onto this honour, o precious friend of mine.” so cute so fluffy clumsy vampire iryn pokoknya iya bener kapang mereka berdua sangat lobeuly menghanyutkan pecinta bromance sistmance including meeee :3 yaaaae kak titan semangat selalu keep writinggg!! ^^

    Liked by 1 person

    1. hi bella!! there are currently two other domestic monsters available to read! go check ’em! they are worth it i promise ya ❤ ❤

      hahah and yes! relationship iryn dan haya itu bisa dibilang… sistmance? atau apalah itu. they are so affectionate to each other that i just want to slap them why are u like this?? i mean so fluffy?? augh XD

      thank you so much ya bella heuheu laf laf dari titan ❤ ❤

      Like

  4. KAKTITAN YOU HAVE NO IDEA!!!!!!
    SIST WHY R UR WRITING SO GREAT?????
    Huhu aku jarang baca fantasi kalo di site-site ff atau org fic. Tapi ini😍 so deliciously created. Hawanya magical sekale dengan penyebutan makhluk-makhluk gaib di sana sini. Terus nama keluarganya Iryn sangat fancy dan nama depan Hyacinth sangat menggebuk sanubari. HOW FANCYYYYYY 😁😁

    Have no idea kalo ini series :’) bagaimana hatiku yang rapuh dapat mengikuti siris lainnya huhu KUATKANLAH!

    aku terhibur banget sama Iryn yang suka gak sadar dia beda bahasa dan segala yang lain tentang dia. hubungan keduanya asyik buat diikutin dan dude, hidup ini memang bukan cuma tentang romens jadi ini jempoooooool sekalii. Aku baru tau istilah Pomme De Sang yeayy thank you kaktitan kujadi tauu!
    lebih-lebih apa yang ada di after note kakak. sangat educating dan sangat related karena kucinta London 💐💐💎💓 luv luv kaktitan

    Liked by 1 person

    1. DHILU HAAEEEE AJSGFALGSALJSJHLSAJAH YOU’RE HERE I MISS U SO MUCH :”((

      jangan rapuh dulu dhiluu masih ada dua lagi seri domestic monsters available to read hoho go check ’em!! ❤

      and yees, not everything about romance. that's why i love writing iryn and haya relationship here. they are so… domestic? they left me feeling warm just thinking about it hahah. and you're very welcome! senang bisa berbagi ilmu hoho

      thank you so much dhilu sudah mampir dan leaving a trail. ur comment made my day!! ❤

      Liked by 1 person

  5. KAK TITAAAAAAAAAAAAAAAAN

    akhirnya setelah janji-janji pejabat aku melunasi juga utanganku hehehe ❤ aku tadi siang reread dan masih sama terpukaunya dong sama fantasy-nya kak titan. yeokshi, fantasy finder has found a really awesome fantasy :") aku akan menannti kuliah umum kak titan nanti HEHEHEHEHE

    dari awal ini kan london london gitu, terus london+fantasy iz lyfe DAN KAYAKNYA AKU HARUS BERGURU SAMA KAKAK-KAKAK LINE UP DOMESTIC MONSTERS BUAT BIKIN BRITISH SETTING FICTION HABISNYA INI TERASA SEKALI DOOOOONGGGGGZZZ kapankah kakak-kakak bikin les privat bcs aku ingin mendaftar.

    dan karakternya awawawawa haya dan iryn lovable sekali pengen aku karungin dan bawa pulang. eksentriknya iryn kerasaaaaaaaaaa sampai ke tulang-tulang dan haya yang pengertian juga kerasaaaa kayak kecap bango deh pokoknya: memang lebih enak! dan aku ngebayangin banget loh visualnya iryn dengan golden eyes dan red hair pendek sesuai gambarnya kak titan yang istimewaaa jadi makin vivid gitu HEHE (kemudian bernyanyi andaikan aku bisa gambaaar~)

    last but not least, plotnya seger. ceritanya enak. classy dan nyaman kayak marshmallow dicampur cokelat panas nyum nyum nyum! kak titan kak titan, mau jadi pomme de sang-ku ga? HEHEHEHE ❤

    Liked by 1 person

  6. EVIIIINNNN ASAKASHFKJAHJASHKJSAH sik sik, titan nguquq baca janji-janji pejabat itu why selera humor titan kaya gini hvt :”

    hoho kuharap di kuliah umum nanti im not disappointing anyone. kusudah kumpulin bahan tinggal di pilah aja ehe :”)

    dan london + fantasy itu sesuatu yang udah lama pengen titan tulis jadi seneng banget gitu pas ikut project ini akhirnya keinginan terlaksana auh. sempat khawatir kalau suasana london-nya kurang ngena ehe but it seems u have them right there so im so happy rite now :”D

    eccentric iryn is the best and fit her just right with haya who is probably the normal one here. ashdagshjgahgfask im having this silly smile when i type this u flatter me so stahp :”

    thank you so much evin uu kugemas sama evin pengen kubuntel selimut terus bawa pulang. ALSO U DON’T HAVE TO ASK I’LL GLADLY BECOME UR POMME DE SANG!! ❤ ❤

    Like

  7. speechless. kak titan what you’ve just done????? nabil gaakan bosen bilang kalo i adore your writings so much!!! this is… ah susah kalo nandain salah satu tulisan kak titan sebagai masterpiece-nya… semuanyaaa kusukaaa 💓💓💓💓

    dan namanya ya ampuuuun. Iryn Bartholomew??????? What a beautiful name 😍😍😍😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s