Prussian Blue [05]

Prussian Blue © fikeey & Fantasy Giver

Warning:
Language using and triggering materials. Read it wisely.

At the curtain’s call, it’s the last of all. When the lights fade out, all the sinners crawl.

Jungkook ingat ayahnya pernah menjelaskan mengapa seorang terpidana mati diharuskan mengenakan kain hitam yang menutupi seluruh bagian kepalanya, lalu meminta satu sampai empat orang penembak untuk berdiri bersisian di hadapan calon korban. Begitu pula dengan penekan tombol kursi listrik di era hukuman yang lebih lama. Ah, ya, dan fakta bahwa semua algojo pengambil nyawa selalu pulang dalam keadaan mental tak stabil lantas mengurung diri mereka berhari-hari di kamar hingga tiba tugas berikutnya. Iya. Jungkook masih menyimpan ingatan itu dengan rapi dalam folder di kepala.

Karena rasa bersalah, jelas sang ayah dengan suara pelan. Karena jika mereka melihat wajah para korban yang nyawanya melayang, perasaan tak nyaman itu akan bertambah dua kali lipat—tiga atau empat malah, bahkan mungkin dapat menyebabkan yang bertugas lantas memotong leher mereka sendiri. Jungkook bergidik kala itu, berjanji pada diri sendiri untuk tidak sekali pun mengotori hatinya dengan perasaan demikian.

Namun toh Jungkook ternoda juga. Pada sahabatnya sendiri pula; sesuatu yang mungkin akan ia ingat sepanjang masa—bagaimana dirinya terlalu picik dan tolol untuk sekadar menyadari.

Sementara pedal gas di bawah sana hampir membentuk posisi sejajar dengan lantai mobil, Jungkook merasakan gempuran tak nyaman memenuhi seluruh dirinya. Pikiran, hati, bahkan jika seseorang bisa mati akibat campuran stress dan penyakit maag, barangkali ia bisa menjadi salah satu contoh. Seorang trendsetter, mungkin. Hah. Pathetic. Ketika dulu ia berpikir tidak dilahirkan dalam keadaan beruntung—ayahnya membanting meja dan ibunya menangis saat Jungkook menyuarakan cita-citanya mengabdi di departemen kepolisian—nyatanya masih ada individu lain yang bahkan kehadirannya tidak diinginkan; seolah jika ia bernapas, orang-orang akan menganggap helaan karbon buangannya juga mengandung nuklir.

Belokan tajam menuju rumah keluarga Kim—tidak, sekarang milik Taehyung, dan Jungkook akan memastikan hal itu sendiri—telah tampak di depan matanya dan si detektif junior bahkan tidak sedikit pun memelankan laju kendaraan.

Masa bodoh jika mobil Jimin beset di beberapa bagian akibat menabrak boks sampah di pinggiran dinding atau menyenggol penjual susu. Yang penting ia butuh berada di sana secepatnya dan membuktikan pada Kim Namjoon bahwa tidak; ia tidak melewatkan satu hal kecil pun. Hah. Apa yang dimengerti seorang karyawan IT mengenai blind spot seorang detektif kepolisian?

Bullshit. Semua ucapan Kim Namjoon yang bertele-tele hanyalah pertahanan untuk kedoknya.

Garis kuning polisi meninggalkan tanda konkret bahwa dalam jangka beberapa waktu wilayah yang dimaksud masih terisolasi dan Jungkook membuat mental note di kepala untuk segera menyelesaikan urusannya di sini. Pintu rumah menjeblak terbuka ketika lelaki itu membantingnya tanpa peduli. Langkahnya lebar-lebar waktu ia berjalan dan dengan susah payah tidak menyentuh satu pun keramik pajangan Madam Kim kala darahnya mendidih akan kenampakan foto keluarga di ruang tengah yang sama.

Satu per satu anak tangga dilewatinya dan Jungkook lantas memacu kaki menuju satu ruangan yang belum pernah ia selidiki sejak kedatangannya yang pertama. Kamar tidur Madam Kim—yang membutuhkan lebih banyak garis kuning serta papan penanda ‘Under the Right of Seoul Police Department’—ia lewati begitu saja lantas tungkainya menuju lorong temaram yang waktu itu pernah ia telusuri.

Pintu kayu di ujung lorong menyambutnya dan Jungkook mendorong permukaannya dengan gerakan pelan. Sepanjang perjalanan kemari kepalanya dipenuhi asumsi kecil: bahwa mungkin di sinilah Taehyung berlindung; bahwa mungkin ruangan yang tak seberapa besar dibandingkan kemewahan di seluruh penjuru rumah yang lain ini telah menjadi satu-satunya saksi bisu penderitaan sahabatnya.

Napas sang detektif junior berangsur tenang dan dwimaniknya menghalus kala pandangannya menangkap pajangan jerapah mungil di nakas, gelas yang setengah terisi, koleksi standing figure tokoh superhero di lemari gantung minimalis, dan buku novel dalam keadaan terbalik. Jungkook ingat Taehyung pernah bekata padanya suatu hari: “Latihan, Jungkook. Walaupun mereka membuatku mual, aku tetap harus memaksanya. At least I’m trying, right?

Dan tidak ada yang aneh. Tidak satu pun. Lemari baju, meja baca, kamar mandi, semuanya terlihat normal. Jika titik buta yang dimaksud Kim Namjoon adalah fakta bahwa Jungkook pernah melewatkan keberadaan ruangan ini; yeah, ia benci mengakuinya tapi sang kepala departemen IT telah menohoknya tepat sasaran. Iya. Jika lelaki itu mengetahuinya sejak hari pertama ia sampai di sini, setidaknya ia tak perlu mengalami mental breakdown waktu menghadapi Taehyung di ruang interogasi pun membiarkan emosinya meroket setelah mendengar kesaksian si pria. Tidak. Tapi toh bagaimanapun kasus ini tetap mengetes tiap inci kesabaran dalam diri sang detektif.

Lagi pula bagaimana Kim Namjoon tahu kalau Jungkook tidak pernah berkunjung ke ruangan ini? Siapa yang waktu itu memanggil namanya sebelum ia sempat melangkah lebih jauh?

Jung Hoseok. Suara dalam kepalanya berbicara lagi. Iya. Jung Hoseok.

Tidak apa-apa. Ia sudah menelepon Seokjin untuk meminta Jimin membuat surat penangkapan atas Jung Hoseok dan Kim Namjoon. Tidak apa-apa. Ia hanya perlu memeriksa rumah ini sekali lagi dan memastikan tidak ada yang terlewat—mungkin mencari bukti tambahan untuk memberatkan dua tersangkanya di pengadilan. Tidak apa-apa. Ia hanya harus tenang dan keluar dari sini sebelum instingnya bermain dan membuatnya melakukan hal di luar akal.

Tidak apa-apa. Jimin akan datang kemari sebentar lagi dan Jungkook akan menjelaskan segalanya.

Jung Hoseok membunuh Madam atas motif ingin menyelamatkan Kim Taehyung dari jerat kejahatan wanita itu. Ia meminta bantuan Kim Namjoon yang notabene kekasih gelap Madam, membalurkan talium pada hadiah yang pria itu berikan, dan membiarkan wanita itu terpapar selama hampir dua minggu sebelum racunnya terakumulasi dan membuatnya terbunuh. Iya. Begitu deduksinya. Selesai.

Tapi Jungkook masih merasa ada sesuatu yang mengganjal; seperti ketika kau mengerjakan puzzle dan satu kepingannya hilang ditelan anjingmu. Dan penglihatan lelaki itu dibutakan seleret cahaya ketika ia menendang pintu kamar Madam hingga terbuka. Ia berdiri di tengah ruangan, macam seseorang yang baru tersadar dari hangover sementara pandangannya berlarian ke setiap inci ruangan.

Mana bukti yang terlewat? Mana?

“Demi Tuhan, Jeon Jungkook, aku tak mengerti mengapa kau masih saja keras kepala.”

Suara Park Jimin berperan sebagai bel nyaring yang menyuruh asumsi menyedihkan si junior kembali mendekam di otaknya, tinggal di sana, dan kembali pada mode menerima fakta. Sosok sang ketua yang menyandar di pintu kamar Madam adalah satu-satunya hal yang terlihat memberi harapan waktu Jungkook memutar badan.

“Jim, di mana—”

“Surat penangkapan atas Jung Hoseok dan Kim Namjoon?” Jimin bertanya dengan nada halus sementara Jungkook menganggukkan kepala. “Entahlah. Komputerku rusak, Jeon. Lagi pula printer di ruangan kita tersiram air pendingin ruangan. O, dan Seokjin kecewa karena kau tak memerhatikan penggunaan bahasa waktu meneleponnya.”

Geligi lelaki itu saling bergemeletuk. “Jim, shut the hell up. Don’t fucking test my patience.”

No, you shut up.” O, demi seluruh koleksi pisau bedah Kim Seokjin, si junior tak pernah sekali pun mendengar bagaimana kegetiran terasa begitu menggigit keluar dari vokal sang ketua. Tatapannya tajam dan Jungkook hafal pada siapa biasanya sorot itu ditunjukan. “Now, sit.”

Maka Jungkook melakukannya sembari menekan jauh-jauh emosinya. Protokol. Jimin adalah ketuanya dan ia harus tunduk.

“Apa yang pertama kali kita temukan di ruangan ini, Jungkook?” Jimin menelurkan pertanyaan sementara ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Dwimaniknya mengawasi Jungkook yang kala itu mengambil tempat di kursi meja bundar tempat mereka menemukan boks marshmallow yang mengambil nyawa Madam.

“Mayat,” jawab Jungkook singkat. “Mayat, makan siang, dan boks marshmallow.”

Si ketua memuntahkan senyum kecil. “Good. Sampai sini pandanganmu masih terbuka lebar, Kiddo,” tuturnya dan ia tertawa melihat sang junior yang lantas memberengut. “Dan apa yang kita lakukan setelahnya?”

“Seokjin yang pertama kali tiba. Ia memeriksa mayat Madam, menyimpulkan apa kemungkinan hal yang membunuhnya tapi belum menyebut nama substansi apa pun. Lalu aku keluar sebentar untuk menca—“

No, Jeon. Hanya yang terjadi di dalam sini saja.” Jimin memotong kalimat si junior yang menatapnya balik dengan pandangan menyelidik. “Because you’re seriously missing this one blind spot.”

Why does everyone talk about a fucking blind spot?” Jungkook merasakan lidah emosi kembali menjilat lagi pun pikiran negatif di kepalanya mulai melakukan aksi pamer diri. “First Kim Namjoon and now, you. Do I look like some damn pathetic detectives who would miss something important?

Jimin menghela napas. Lengannya tak lagi menyilang dan kini ia mengambil satu, dua langkah mendekati juniornya; pandangan terpaku dan suara masih sama kaku. “Answer my question, Jeon Jungkook, what happened after we found the body? What happened after Seokjin told us that it is indeed poisonous substance digested by our victim? What happened after that?” Vokalnya bahkan terdengar tidak bersahabat sama sekali saat ini—namun Jungkook tak peduli. “Look. Doesn’t something clicked on your head when you put Kim Namjoon and me in a damn sentence?

What the frickin’ fu—“ Dan detik berikutnya Jeon Jungkook merasa segalanya runtuh lantas menggenang; membentuk suatu barisan fakta yang mungkin dengan tolol ia lupakan. “Kau—shit. Kita membahas jalur masuk racun yang dimaksud Seokjin; entah melalui makan siangnya atau marshmallow pemberian. Lalu terkait sindrom yang diderita Madam, ada kikir kuku yang merupakan satu-satunya benda tajam di sekitar mayat dan setelah itu ….”

“Aku meyakinkanmu bahwa marshmallownya tidak beracun. Bukan begitu, Kid?

“Ya.” Jungkook menjawab pelan; kepalanya memutar kembali ingatan yang telah lampau.

Empat langkah di hadapan sang detektif junior, Jimin melayangkan senyum. “Dan bagaimana aku meyakinkanmu soal marshmallow yang bersih?”

Shit.” Berengsek. Kepalanya sakit. “You ate it, Jim. You can’t fucking eat an evidence, you can’t, you—“

That’s it! You found that damn blind spot, Jeon Jungkook!”

Jungkook tak habis pikir menyaksikan Park Jimin bertransformasi dari seorang ketua yang kata-katanya penuh kegetiran saat melemparkan fakta bahwa juniornya melewatkan sesuatu, ke mode biasanya—yang penuh dengan senyum lebar dan kata candaan—bukanlah satu-satunya kejadian yang mampu membuat kepalanya berputar. Tidak. Tidak ketika kau digeret tanpa kata menuju ruang tengah lantai dua keluarga Kim dan di sana—di tiap sofanya—duduk Kim Seokjin beserta tiga orang lain yang dalam jangka waktu dua hari ini ia temui. Dan berperan membuat kepalanya sakit juga:

Jung Hoseok, Min Yoongi, dan tentu saja Kim Namjoon.

Awalnya sang junior hendak mengeluarkan sederet rutukan—apalagi Kim Namjoon ada di satu ruangan dengannya; bebas, tersenyum, dan terlihat tak berdosa—namun Seokjin lebih dulu bereaksi. Sang dokter mengangkat tangannya, menyuruh Jungkook tutup mulut, dan menelurkan kalimat perintah yang dibalut nada halus. “Duduk, Kid. Dan biarkan kami menjelaskan segalanya padamu.”

Kami?” Sang detektif junior mengulang pernyataan Seokjin. “Have you freakin’ lost your damn mind? Apa maksud—“

“Jeon Jungkook.” Tapi omelannya terpotong oleh deham halus dari sisi kanan. Di ujung sofa dan mengenakan kemeja berantakan dengan tanda pengenal dikalungkan, Min Yoongi menumpu satu kaki di atas kaki lainnya. Pandangannya intens namun vokalnya pelan. “Do you remember how words like bullying and abuse triggered me and left me occupied by them? How I hated those moments, how I want to go back in time and standing right in front of the younger me to stop them.

But I can’t, right? Kecuali aku menyewa seorang penemu mesin waktu, tentu saja.” Candaannya dibawa angin dan satu-satunya yang memeta senyum hanyalah Jimin. “Kemudian nama Kim Taehyung sampai padaku; dengan segala cerita hidupnya dan perlakuan macam binatang yang ia terima. Kau tahu berapa lama aku harus menenangkan diri supaya tak meninju kaca di kamar mandiku waktu itu, Detektif? O, atau melempar vasku ke layar teve.” Jungkook menatap balik dwimanik Yoongi yang mengawasinya. “Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan orang lain menderita hal yang sama. Siapa pun. Abusing is not one bad situation. It’s way worse. It kills you softly, slowly, cruely.

Pikiran lelaki itu kembali diburamkan emosi. Locked. Half-starve. Attempted suicide.

Berengsek.

He’s someone dear to my close friend, Detective, and he’s abused. How could you just sit there and do nothing, then?” Yoongi memunculkan senyum asimetris selanjutnya lantas ia menepuk bahu Kim Namjoon yang duduk tepat di sebelahnya. “Good thing is, this man is my roommate. And he plays the most important role.”

Jungkook mengalihkan pandangan dari sosok mungil Yoongi kepada Namjoon—yang kala itu duduk sembari menyandarkan punggungnya di kursi dan mempertahankan senyum. Demi Tuhan tolong hentikan dirinya sebelum ia bangkit dan meninju hidung sang kepala IT.

I always know she has something for an intelligent man and I have no idea how she was attracted to me like that.” Pria itu memulai sembari menumpu dagu di atas kepalan tangan. “Waktu kerjaku belumlah mencapai setahun dan sejauh yang kuingat, tak pernah sekali pun aku melakukan hal heroik yang bahkan bisa mendorong seorang pimpinan perusahaan menaikkan pangkatku sebagai kepala departemen IT. She fired the last department head even, and wow … just wow. Aku sudah membaca gerak-geriknya sejak awal, Detektif, percayalah. Kantor Joli(e) bukan satu tempat di mana kau ingin menaruh rahasiamu yang paling kotor.

“Wanita kaya, dengan seorang anak lelaki, dan keduanya memegang perusahaan besar yang masa depannya menjanjikan. Jika aku adalah orang picik dengan tujuan memperkaya diri pastilah aku akan menyambut permainan Madam dengan tangan terbuka, bukan?” Namjoon menelurkan pertanyaan lantas membiarkan kalimatnya menggantung di udara hingga Jungkook sadar menganggukkan kepalanya dengan gerakan pelan. “Tapi tidak. Aku sudah terlalu sering mendengar apa yang orang-orang bicarakan tentangnya: bahwa ia kejam. Karena menyiksa anak tirinya? Bukan. Tidak ada yang tahu keberadaan Kim Taehyung waktu itu. Ia kejam karena untuk membangun Joli(e), wanita itu menghalalkan segala cara yang bisa memudahkan jalannya.”

Si detektif junior lantas mengawasi gerak-gerik Namjoon dengan alis berkerut. “Dan cara apa yang kau maksud?”

Somebody told me Madam uses nasty way to bring down her competitor. Mencemarkan nama baik, menggunakan jalan belakang, dan seribu cara kotor lain.” Sang lawan bicara berkata pendek dan pandangannya beralih seolah meminta izin. “Kau tahu keuntungan lain bekerja di bagian IT; bahwa kau memiliki akses penuh terhadap file penting perusahaan. Dan semuanya tertulis di sana, Detektif. Target, rencana, dan jadwal eksekusi. Hal menjijikan, bukan?”

Jungkook tak menjawab.

“Awalnya aku memutuskan untuk mengikuti permainan Madam karena hei, kapan lagi hidupmu dijamin oleh seseorang yang kaya raya?” Namjoon mengulas senyum timpang dan Jungkook bersumpah bahwa pemandangan demikian akan masuk ke daftar hal yang paling ia benci. “Namun kemudian alasanku berubah ketika membaca satu per satu fakta kotor perusahaan. It’s the secrets that I want. Benar-benar sampah. Jadi kubiarkan ia mendapatkan kesenangannya dariku sementara aku mencari-cari sesuatu yang dapat kutumpahkan kemudian di meja makan publik. O … dan bersamaan dengan itu, Yoongi mengajakku bicara. Such a good coincidence, hm, Detective? Even God wants to condemn her in hell. So I thought, why don’t I bring the hell to her myself? I’ll serve it as pretty as possible.”

Jungkook mendengus skeptis. “And you bought her the marshmallow using your credit card. For a second, I doubt your well-known intelligence.

Well, you were the one who gawk on my wordsalso, made a really uneccesarry commotion back at the restaurant. Besides, I need to leave something to lure you into me, right?” Kalimat Namjoon membuat Jungkook makin sebal dengan pria itu, sementara ia menunjukkan seringai yang sama. Akan tetapi, sedetik kemudian sang kepala departemen IT mengangguk. “And I’m not lying about her wanting that damn marshmallow, Detective. Aku hanya perlu mengajaknya berjalan-jalan ke tempat di mana tokonya berada, sesekali mengatakan bahwa marshmallow di sana adalah satu yang terbaik di dunia, dan ya. Bless her addiction on sweet things and Yoongi’s mind for predicting. And of course with a little help from your doctor here.”

Jungkook memang telah mempersiapkan sederet kalimat rutukan pada Namjoon dan segala kelihaiannya menguji tiap tetes terakhir kesabaran yang ia miliki, namun si junior lebih memilih mengalihkan pandangannya kepada Seokjin dalam rentang waktu singkat dengan gestur menagih jawaban. Kepalanya mulai sakit dan sungguh, Jungkook membenci momen-momen seperti ini.

Namun dwimanik Seokjin memandangnya dengan sorot meminta maaf yang dilapisi oleh ekspresi lain—satu yang tak pernah ia saksikan mampir di sana. Kim Seokjin selalu menjadi seorang penyayang, penengah, dan mampu mengendalikan setiap kesulitan yang mereka hadapi dengan kepala dingin. Jika sang dokter tidak ada di antara mereka, maka mungkin hari-hari Jungkook di kepolisian akan diwarnai dengan perseteruan tak berujung dengan Jimin.

Jadi ketika Seokjin angkat bicara, sang detektif junior rasa-rasanya ingin melompat dari lantai dua.

She brought my family down to nothing, Jeon.” Suara sang dokter terbawa angin namun Jungkook dapat merasakan sekujur tubuhnya menegang. “My dad was her competitor and she didn’t want to be left behind that easy. She’s a lunatic, I told you. Satu saat kau mengira akan mengejar mimpimu dengan mudah dan detik berikutnya seluruh bayangan itu berjatuhan di depan hidungmu … how would you feel?

Dan rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Jungkook tak pernah tahu bahwa Seokjin berasal dari keluarga mantan pengusaha. Bahwa ibunya yang seorang guru SD, juga ayahnya yang membanting tulang dengan berjualan parfum murah buatan rumah pernah berada di puncak rantai kejayaan. Mereka yang bahkan selalu rendah hati dan menerima Jungkook apabila iseng berkunjung.

Demi Tuhan.

“Mimpiku sedari dulu memang menjadi seorang dokter, tapi bukan—tidak patologis forensik. Do you know how hard it is to get rid of your nightmare after dissect body parts of corpses. Berpikir apa yang menewaskannya, bagaimana mereka dibunuh, membuat reka dalam kepalamu. Hell.” Seokjin memoles sebuah senyum kecut yang membuat hati Jungkook serasa diremas-remas. Dikiranya selama ini membedah mayat adalah bidang yang memberi si dokter napas kehidupan; bahwa tanpa aroma formalin, hidup Seokjin terasa kopong.

I want to be a pediatrician. Selama sekolah, aku berusaha mati-matian mewujudkan keinginan tersebut. But just before I apply to medical school, Dad’s company went bankrupt. She accused him of fraud, corrupt and oppression. His business lisence was taken; even almost putting him in jail.” Seokjin menatap Jungkook tepat di mata. Di sana, si detektif junior mendapati kebencian yang tak pernah dibayangkannya. “Ya, orangtuaku memang bekerja super keras untuk membayar pendidikanku selama beberapa tahun kemudian, akan tetapi aku harus melepaskan keinginanku pula. Aku sudah pernah cerita padamu: ada banyak sekali yang dikurbankan, so I try to keep my ego. Mom and Dad had suffered, and I had became a doctor. Tapi spesialisku kugeser ke forensik lantaran bidang itu yang paling murah.

“Lalu suatu hari Jimin datang padaku dengan wajah kusut dan suasana hati yang buruk. He’s my friend so I asked him why, and then he spilled everything.” Seokjin memeta senyum kecil. “Kau tahu reaksiku waktu Jimin menyebut nama Madam dan bagaimana hal itu membangkitkan keinginan terpendamku untuk balik menjatuhkannya? Hah. Kau seharusnya ada di sana, Jeon. Terlebih ketika terungkap bahwa Madam mengurung seseorang di rumahnya, memperlakukannya secara tak manusiawi. Kau pikir aku akan hidup tenang sementara kesempatan untuk membalasnya menari-nari di depanku?”

Sesuatu membengkak dalam dada Jungkook dan ia merasa hina ketika masih sempat membuat pembelaan. “But now you’re a cop, Jin, why—“

“Jimin’s my friend and I need to avenge my family, Jeon. And talking about cops … I’ve never wanted to become one.” Seokjin menjawab simpel dan Jungkook dapat merasakan asam lambungnya berderak tak nyaman. “Jadi aku memilah jenis racun yang paling mudah ditemukan dan sulit terdeteksi. Dan tentang hasil tes marshmallow … aku memasang satu fotonya yang tak bulat sempurna. Ingat, Kid?” Yang ditanya menganggukkan kepalanya pelan. “Madam menderita obsessive-compulsive, benar? Jadi menurut Yoongi, aku hanya perlu membubuhi marshmallow yang bulat sempurna. Tapi Yoongi juga memintaku menyiapkan marshmallow bertanda lain supaya Jimin bisa dengan sengaja memakannya di depanmu dan aku mengetes satu.”

Lelaki itu mengarahkan pandangannya pada Jimin yang masih belum bersuara sejak mereka sampai di ruangan ini tapi tidak; sang ketua tidak juga mengatakan apa pun. Jimin duduk di tempatnya: santai dan dengan gestur bisu menyuruh Jungkook untuk tetap memerhatikan.

Seokjin telah kembali ke posisi duduk yang semula dan si junior dengan kentara menangkap ekspresi lega yang menyelimuti wajah rekannya.

Ada bunyi halus sofa yang berderit ketika pengakuan lain akan dimulai. Jungkook meleburkan atensinya pada Jung Hoseok yang duduk tepat di samping Jimin; ekspresinya tidak berubah banyak sejak terakhir Jungkook melayangkan tinjunya.

He’s telling me lots about you, Jeon Jungkook. Tentang sahabatnya di sekolah yang tidak akan menyemburkan kalimat menyakitkan apabila datang bidang studi literatur atau pelajaran lain yang memaksa para siswa membaca paragraf demi paragraf tulisan.” Pria itu berkata pelan namun tidak sedikit pun memindahkan pandangan. “Jadi ia meminta padaku, benar-benar meminta untuk tidak menjemputnya langsung di sekolah. Sudah cukup siswa lain membuat rumor buruk tentangnya, tak perlu ditambah dengan kenyataan bahwa Kim Taehyung dijemput oleh mobil mewah, Kim Taehyung begini, Kim Taehyung begitu. Tapi ada alasan lain yang membuatnya berlaku demikian, Detektif.

“Tuan Tae tak ingin menghancurkan pertemanannya denganmu. Ia tak ingin kau ikut menjauhinya juga. Well, abusing is one serious problem, you already know that. Tapi ia bersedia mengubur kenyataan itu.” Hoseok menghela napas. “Tuan Tae berkata suatu hari padaku: ‘Kau tak akan percaya kalau aku menemukan sahabat baru di sekolah!’ dan ia terlihat luar biasa senang.”

“Tapi jika kau memberitahuku lebih awa—“

Hoseok memotongnya dengan tawa yang ditahan. “Dulu kau belum mengetahui apa-apa, Detektif. Tidak sedikit pun. Dan Tuan Tae bukanlah seseorang yang akan mengambil risiko sebesar itu,” katanya dengan nada getir. “Kau tahu mengapa ia tiba-tiba menghilang saat upacara kelulusan?”

Jungkook tak mengambil respons namun ekspresi wajahnya menyilakan Hoseok untuk tetap bicara—sementara geliginya saling bergemeletuk lagi-lagi menyambut insting buas dalam dirinya yang mulai dibutakan emosi.

Madam menolak datang. Hah, sudah terbaca. Namun keluargaku berjanji untuk hadir. He was happy, very happy he even bowed to Mom. Tapi rupanya Madam memiliki pemikiran lain.” Kalimatnya menggantung di udara sementara sisa jiwa yang lain masing-masing menahan napas. “She locked him. Dan sejak itu peraturan di rumah ini ditambah. No college, no going out. Madam doesn’t want somebody knows she’s having another children. Okay, step-child, but still that’s inhuman don’t you think?

“Tuan Tae menerimanya. Dengan lapang, tentu saja. And I appreciate all his decision despite everything as long as he’s alright. Dapatkah kau meminta yang lain setelah setiap hari menjadi saksi perlakuan di luar akal yang ia terima, Detektif?” Jungkook merasakan kepalanya menggeleng pelan waktu pertanyaan Hoseok terarah padanya. “Ketika kukira semuanya baik-baik saja dan Madam mulai kehilangan selera menyiksanya, satu sore wanita itu menyeberang area yang biasanya tak pernah ingin ia datangi.”

Madam melarang Taehyung menginjakkan kaki di lantai bawah selama ia di rumah.” Kalimat Jungkook terdengar seperti sebuah pernyataan dibanding pertanyaan dan Hoseok mengamininya. “Taehyung selalu tunduk padanya, bukan?” Anggukan yang lain. “Jadi apa yang—fuck, he said Madam used to beat him whenever he made a mistake? What is it this time? He said she did this twice—“

He did nothing, Detective. She just stumbled onto Mister Kim’s old love letter with Mister Tae’s Mom: saying he loved her very much and didn’t even care about Madam.” Pria itu mendesis dan Jungkook dapat merasakan amarahnya hampir meroket. “Iya, dari sana dan pengakuan Mister Lee, aku tahu obsesi Madam bukan cuma pada manisan, tapi juga pada pria—the sweet and intelligent one. Dia menerima pernikahan tidak hanya untuk usaha belaka, namun memang rasa suka—yang tidak sehat pula.

Madam berteriak dari luar pintu, meneriakkan kata panggilan paling rendah, dan tentu ketika Tuan Tae keluar ada Mister Lee yang menjemputnya. Katakan padaku, Detektif. Apakah menonton anakmu sendiri disiksa sambil menenggak wine adalah suatu hiburan sore yang menarik? Look at me in the eyes and say it, Detective. Aku berusaha menghentikannya tapi tinju Mister Lee melayang lebih dulu.

“Tuan Tae berteriak padaku kemudian untuk tidak menghentikan Mister Lee dan keluar dari sana; bahwa ini perintah dan ia tidak menerima pengajuan keberatan.” Vokal sang asisten berangsur pelan sementara kepala yang lain satu per satu menunduk. “Aku masih ingat teriakannya, Detektif, dan betapa aku ingin merebut gesper dari tangan Mister Lee lantas menghajar Madam saat itu juga. Tapi tidak. Aku harus tetap waras untuk memastikan majikanku baik-baik saja. Dan ketika itulah sahabat kecil Tuan Tae datang kembali.”

Hoseok mengalihkan pandangan dan Jungkook mengikutinya.

“Aku hampir memastikan Mister Lee tak bernapas saat itu juga kalau Hoseok tak menghalangiku, Jeon.” Jimin melayangkan senyum padanya dan si junior berbohong jika mengatakan bahwa ia tak bergidik. “Aku hendak menuju pintu depan, menemui sahabat masa kecilku ketika pintu samping terbuka dan Hoseok muncul dalam keadaan tak keruan. His nose was bleeding and he’s crying. We used to go to the same school back then; me and Taehyung, so did Hoseok but he’s three years older than us. I knew Hoseok as Taehyung’s half-brother because he told me so. Jadi saat melihatnya demikian, bisakah kau diam sementara Hoseok berbicara tentang Taehyung yang disiksa?

“Pertama kali aku mengunjunginya adalah setahun yang lalu. Day-off di kantor dan aku berpikir hendak menengok sahabat masa kecilku karena dulu aku harus pindah dari kota ini seminggu sebelum tahun ajaran sekolah menengah pertama dimulai.” Jimin menarik napas tajam lalu suaranya turun satu oktaf begitu melanjutkan. “Kira-kira lima atau enam bulan kemudian—screw our job, yeah—aku datang lagi dan menerima jawaban yang sama. Sampah. Jika aku bisa berpikir jauh dan lantas menerjang pintunya. Dan terakhir kali—tiga bulan yang lalu—Hoseok menceritakan segalanya padaku.”

You didn’t meet him that day.”

No.” Sang ketua menggeleng. “Tapi kemudian Hoseok dan Mister Lee berjanji untuk mempertemukanku dengannya ketika Madam sedang tak di rumah. Tiga atau empat hari kemudian Hoseok meneleponku untuk datang dan ya, tentu aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan, ‘kan? My dearly dear bro, Taehyung, who used to be all bubbly and happy greeted me that day with darkened bruise and bloodshot eyes ….”

Sementara Jimin menyelesaikan kalimat, sang detektif junior baru menyadari bahwa sedari tadi kedua tangannya mengepal, napasnya tertahan, dan rahangnya mengeras hingga terasa kebas. Iya. Taehyung sudah menceritakan segalanya kemarin; tentang semua perlakuan Madam yang sungguh di luar akal. Tapi begitu Jungkook mendengar pengulangannya dari bibir orang lain—sahabat masa kecil, persetan; darahnya mendidih lagi.

Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah bangkit dari sofa lalu menembak keramik pajangan secara membabi buta. Di depan Jimin yang akhirnya berhasil mengontrol emosi, ia merasa tak ubahnya orang luar yang tidak tahu-menahu; melepaskan tanggung jawab atas keselamatan sahabatnya sendiri.

Aku menemukan sahabat baru di sekolah. Keparat. Rasanya Jungkook ingin membenturkan kepalanya berkali-kali ke permukaan meja.

That day, I took him anywhere he wants, Jungkook. I want to pay my ignorance; my stupidity for not going through the door on two past occasions when he’s really just there. He’s there but he’s locked. And I couldn’t even tell him I’m having a good time living my dream job.” Sang ketua menggertakkan gigi.

“Aku merasa jahat, Jeon, meraih seluruh mimpiku sementara ia hidup begitu buruk. Pada akhirnya, Park Jimin yang Taehyung tahu adalah seorang manajer produksi di pabrik action figures—benda koleksinya waktu kecil. Aku berpura-pura punya banyak dan menguras setengah tabunganku untuk membelikannya miniatur orisinil tokoh-tokoh Marvel waktu itu. Yeah, standing figure Hulk milikku di meja? Taehyung yang memintaku menyimpannya karena Hulk adalah karakter favoritnya.” Jimin tersenyum tipis sambil mendesah. “Dan … itu pula alasan mengapa aku tidak menunjukkan diri di hadapannya selama kasus ini berlangsung. That’s why I use you as my assignee all the time. I’m sorry, Jungkook.”

Dalam hati Jungkook berteriak bahwa … Jimin berengsek, tapi sebagian lagi merasa ia tak keberatan.

Sang ketua tim melanjutkan sebelum Jungkook sempat menerima permintaan maafnya. “Keinginanku membunuh Madam muncul begitu saja saat mengantarkannya pulang. No—not my only wish actually.” Pria itu menoleh ke arah Hoseok dan melayangkan gestur tersembunyi. “I told Yoongi because he’s damn sensitive about this kind of thing and I know he’d help me. We told Namjoon as the person closest to Madam. And I asked Seokjin to help us to cope with the way of murder. What I didn’t expect is … Seokjin’s family past.”

Jungkook memejamkan kedua matanya lambat-lambat, setengah mati mencari sisi rasional dalam dirinya bahwa apa yang dilakukan lima jiwa lain di ruangan ini adalah kesalahan. Salah satu yang besar, bahkan, dan dirinya sendiri bisa menjebloskan mereka ke penjara dengan berbekal kesaksian berharga. Lagi pula, sudah pasti rumah ini memiliki CCTV canggih, ‘kan?

Namun sisi lain dirinya yang lebih gelap, lebih beringas, dan bergantung pada emosi yang telah menumpuk sejak pertama kali ia menginterogasi Kim Taehyung mengatakan bahwa ia perlu berterima kasih sebanyak-banyaknya. Mengajak mereka minum-minum, mungkin. Karena Jungkook berbohong apabila ia tidak lega ketika akhirnya Madam tewas; ketika akhirnya Taehyung bisa hidup normal seperti orang-orang kebanyakan tanpa harus dibatasi peraturan tolol ini dan itu. Well, jika Kim Jaehyung nanti akan mengambil alih segalanya, persetan. Jungkook bisa bekerja pagi dan malam untuk memeriksa dokumen keluarga mereka dan memastikan sahabatnya hidup tenang mulai sekarang.

Sorot dwimaniknya tertuju pada Seokjin yang balik memerhatikan dengan gestur tenang dari posisinya di sebelah Namjoon; lalu pada Jimin yang seolah dengan sabar menunggu reaksi lelaki itu selanjutnya. Jungkook menghela napas.

You still know what you did was wrong, right? You’re a cop.”

Tolol. Jungkook bahkan tak mempercayai suaranya sendiri ketika ia berbicara. Yang mereka lakukan adalah salah: melanggar hukum, membunuh orang, melakukan manipulasi. Tapi mengapa kepalanya berkali-kali menyuruhnya bersyukur dan berselebrasi.

Jimin mendengus kemudian. “I don’t fucking care, Jeon Jungkook.”

Sang junior merasakan napasnya tercekat lagi.

What would you do if one day you want to meet your old childhood friend and his mom says he’s out with his friends when he’s just right behind closed door; gagged, unable to say anything?

I’ll fucking kill her, pikiran Jungkook yang menjawab.

What would you do if you come back here five months later and his mom says he’s busy studying when he’s lying sick on his bed because said mom fed him shit?

I’ll make sure said mom rot in hell.

What would you do when you’ve finally meet him and he’s all bruised. Not enough to put him in a hospital but bad enough to make him flinches when you hug him?” Suara dalam kepala sang junior tidak berkata apa-apa lagi sekarang sementara Jimin bangkit dari tempat duduknya. “That’s what happened. And I thought that cops should be protecting the weak. Especially when the weak is your best friend.” Sang ketua tersenyum sembari menyugar rambutnya ringan. “You’ll protect him with your life. Right, Jeon?”

Jungkook tak mengatakan apa pun; ia hanya duduk di sana dengan pandangan kosong dan membiarkan seluruh kenyataan ini memenuhi ruang-ruang dalam kepalanya. Saat ia berpikir bahwa Jimin telah selesai dengan pengakuannya, suara halus Seokjin adalah hal selanjutnya yang menggantung di udara.

He’s vulnerable, Jungkook.” Sang dokter menggunakan nama depannya sebagai panggilan dan ia tahu tidak ada sarkasme yang menyelimutinya kali ini. “Do you think Jimin would sit here and let the said mom kills him slowly?” Selalu begitu. Kim Seokjin dan segala kelihaiannya berbicara sebagai penengah. Dan Jungkook benci bagaimana dirinya selalu terpengaruh. “Tinggal sedikit lagi, Kid. Kau satu-satunya yang tak bersalah di sini. Namjoon sudah merekam semua pembicaraan ini dan kau bisa menyerahkannya sebagai bukti.”

Sesuatu dalam diri Jungkook berdesir dan kedua matanya membelalak. “You’re not—“

“O, we did.” Jimin tersenyum lebar kali ini seolah runtutan pengakuan yang ditumpahkan di ruangan ini hanyalah berkisar antara membuat mobil seseorang terbeset atau tangki bensin yang lupa diisi. “I beat you again ain’t I?” Kalimat Jimin keluar ketika sang junior menghela napas frustrasi lantas bangkit dan menuju ke pintu.

“Taehyung knows nothing about this, right?

Lima kepala di ruangan itu mengangguk berbarengan. “No.” Hoseok buka suara; mewakilkan jawaban yang tidak disuarakan oleh empat lainnya.

If you’re going to arrest us, do it fast. Tak perlu bawa bala bantuan, aku janji tak akan memberontak.” Yoongi menyeletuk dengan senyum kecil di wajahnya.

Yeah. We’re the most perfect suspect you could ever find.” Namjoon menimpali.

Inginnya ia segera minggat, namun ketika suara Jimin yang memanggil namanya mengisi udara, Jungkook menghentikan kaki di bibir pintu. Otomatis. Lelaki itu memutar tubuh dan pandangannya bersirobok dengan milik sang ketua. Tidak ada sorot memohon supaya Jungkook tetap tinggal dan menahan diri. Tidak. Jimin berdiri di sana dengan mimik wajahnya yang seperti biasa.

Sinting. Berengsek. Keparat.

So are we going to sit here or what?” Sang ketua bertanya dengan nadanya yang jenaka. “I’m not getting any younger, Jeon. Aku masih ingin bisa menikah saat bebas nanti.”

Sementara si junior mengangkat sebelah alisnya. “What are you talking about?

You’re going to to do that, right? Arrest us?

Jungkook mendengus sambil meneruskan langkahnya. “What I want to do is going back in time and join all of you.”

—-—

Don’t wanna let you down, but I am hell bound. Though this is all for you, don’t wanna hide the truth.

—-—

A/N:

  • foreword’s taken from Imagine Dragons’ Demons.
  • prussian blue soundtrack, part 5. [youtube & spotify]
  • thank you guys yang udah ngikutin fiksi ini dari awal sampai sekarang HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA akhirnya sampai juga ke revealing chapter, ya. Semoga kalian puas dan senang selama lima minggu terakhir. thank you thank you thank you pokoknya ga akan habis-habisnya kami berterima kasih! ❤
  • yang sudah menjawab Hoseok, berarti jawabannya 1/5 benar. selamat! hadiah peluk dan cium dari kami akan dikirim dan diterima besok pagi. terima kasih sudah berpartisipasi di quiz madam and the seven dwarfs.
  • anyway, kalau ada yang penasaran di mana kami meletakkan clues tentang 5M, coba buka link ini.
  • boleh ga minta deduksi, kritik dan saran kalian buat fiksi ini? misal merasa ada yang ditutupi, atau ngerasa kayak dibohongi. please do share em with us! kami akan sangat senang kalau ada koreksi yang bisa membangun ke depannya atau menjawab keraguan-keraguan yang mungkin masih ada (sebab almost every act in this fiction has a background story). muehehehe.
  • e e e cliffhanger. kasusnya ditutup gimana? apakah 5M ditangkep atau dilepas? apa jungkook resign dari kepolisian saking frustasinya? apa taehyung hidup bahagia? coba dong share juga harapan ke depannya HEHEHEHE siapa tauuuuu (SIAPA TAU) masih berlanjut.
  • once again, thank you guyyyys! have a nice night!
Advertisements

26 thoughts on “Prussian Blue [05]

  1. HAVE A NICE NIGHT, TAEHYUNG, SAYANGKU AKHIRNYA KAMU BISA TIDUR NYENYAK MALAM INI!!! KAK FIKA EVIN KAK FIKA EVIN KAK FIKA EVIN HAHAHAHAHAHAHAHAHA AKU SAMA SAKIT KEPALA KAYAK DETEKTIF JEON!
    “What would you do when you’ve finally meet him and he’s all bruised. Not enough to put him in a hospital but bad enough to make him flinches when you hug him?”
    NANGES AKU NANGES AKU NANGES TTTTTTT KALO DISURUH PILIH BAGIAN YANG NOTED MAU AKU KOPAS DI SINI SEMUA BOLEH GAK????
    Pertama-tama aku ngerasa dibohongi! Sama jimin sama seokjin karena KENAPA MEREKA NGGAK BILANG DARI AWAL SE? PASTI JUNGKOOK UDAH JOIN SEJAK JAMAN BAHULA TAPI YEAA KAK FIKA SAMA EVIN EMANG THE SECOND BEST OF NGETROLL AFTER BIGHIT DANDARANDANDAN BULTAOREUNE FIREEEEE!

    huf capek ya baca kepslokan semua pasti oke aku ganti gaya pake huruf kecil.

    aku nggak kuat dong sama gayanya yoongi pas duduk sambil tumpang kaki tuh HAHAHAHAHAA YOONGI AND THE SIX DWARFS DAN DIA DONG YANG TERNYATA BULUS HAH NGGAK KAGET TAPI TETEP AJA KAGET (katanya tadi pake huruf kecil, ok, kambek).

    tadi waktu awal, yang si jims nyinggung-nyinggung buat throwback aku udah: “JIMIN MAKAN MARSHMALLOWNYA!” tapi sijeon masih mikir keras aja TUMBEN SIH MASNYA. EH KITA SEUMURAN YHA. aku bisa related kok sama akhirnya dan aku pribadi merasa ini NO PLOTHOLE SSAKDABULTAEWORA BOW WOW WOW SERIUS AKU HARUS LES PRIVATE PRUSSIAN BLUE SAMA KAK FIKA SAMA EVIN HAHAHAHAHAHHAHA.

    sebelum ingkar janji untuk ke sekian kali TERIMA KASIH KAK FIKA DAN EVIN SUDAH MEMBUAT MASTERPIECE INI ❤ ❤ ❤ ❤ lanjutannya japri!!!

    Like

    1. HAI HAI HAI AKU BALIK LAGI c.u.m.a ngingetin kalo di chapter ini taehyung belum keluar sama sekali jadi hmmm hmmm hmmm kayaknya butuh sekuel yhaaAAA IM HIGHKEY ROOTING FOR IT. KAK FIK KALO PERLU AKU BOM BOKS KOMEN INI TAPI SUNGKAN 😦 jadi dadah lagi byee~

      Like

    2. (taehyung to bella: sekarang aku sudah bisa bobo nyenyak, kamu juga jangan sampe kurang istirahat yaa <3)

      HAHAHAHAHA EMANG 5M TUKANG BIKIN SEMUA ORANG SAKIT KEPALA! PENJARAKAN SAJA BEL, PENJARAKAN HAHAHAHAHA nanti minta bantuan kapten yoon soalnya det. jjk-nya biased nih ke temennya jadi mematahkan prinsip dia. yeokshi min yoongi, rencanamu berhasil, mas! HAHAHAHA e e e eeee ada itu alasannya kenapa jeon tida diajak oleh jimin. coba ketik reg (spasi) jimin gantenk kirim ke aku dan kak fika siapa tau terjawab……… ngga ya. gimana nih kak fika @fikamarissa HAHAHAHA x'D

      wait sebentar AHAHAHAHA YOONGI AND SIX DWARFS kok aku ngakak bayangin yoongi nyanyi "i'm wishing, i'm wishing" ost-nya snow white di pinggir sumur :)) iya emang deh jeon oblivious-nya tingkat dewa, kalo di chara sheets, doi udah di pojok kiri jadi bikin semua orang ingin mengamuk padahal dia sendiri juga tukang ngamuk.

      awawawawaw les privat prussian blue x'D jangan bel, nanti kamu digodain mulu sama jimin kan repot huhu. dia suka liar gitu, soalnya. bahaya atuh. harusnya dikerangkeng aja……. e sayang, ternyata malah kabur dia.

      HAHAHA TERNYATA ADA EPILOGUE DAN EPILOGUE-NYA BIKIN YANG NULIS JUGA BAPER GEGARA DISPONSORI SPRING DAY ((INI SERIOUS YET SERIOUSLY SHAMELESS)), SUDA DIPOOOOOST! JADI SELAMAT BACA BELLA, MAKASIH BANGET UDAH NGIKUTIN THE ADVENTURE OF DET. JEON JUNGKOOK ANGER DEVELOPMENT SEJAK CHAPTER 1 SAMPAI SEKARANG WE LOVE YOUUUUU TO THE INFINITY AND BEYOND! ❤ ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAHHAHAHAHAHAH

    Aku gatau ini aku yg merasa bodoh atau ini ff emang di luar ekspetasiku selama ini astaga aku ngestuck ini serius banget gatau mau komen apa 😂

    Makasih! Makasih banyak untuk Kak Fika sama Evin udh ngasih hiburan dalam rangka gabutku dengan ff ini yg tiap minggu paling aku tungguin update-nya dan sekarang end. Gitu aja? Selesai? Padahal nungguin JJK jadi polisi-mafia bareng 5 orang berengsek itu astaga aku sejujurnya mau nangis tapi kok gabisa 😂

    Why? Why plot twistnya harus gini? Why astaga itu mulus banget sumpah rencana paling luar biasa yg pernah aku baca buat ngebunuh orang … WHY?
    Aku setuju sih klo Madam harus mati tapi yg ngebunuh itu ampe 5 orang tak terduga… astaga tolong aku masih blm move-on!

    Apalagi…

    Maaf klo beneran ini gak mutu banget komennya bikos emang beneran nge-blank gatau mau gimana 😂
    Kapan-kapan boleh gak nyewa mrk buat ngebunuh orang /plak

    e e e cliffhanger. kasusnya ditutup gimana? apakah 5M ditangkep atau dilepas? apa jungkook resign dari kepolisian saking frustasinya? apa taehyung hidup bahagia? coba dong share juga harapan ke depannya HEHEHEHE siapa tauuuuu (SIAPA TAU) masih berlanjut. – HARAPAN SIH PEN INI DI LANJUTIN GITU AKU NGERASA INI KLIMAKS YANG DI GANTUNG IH PADAHAL KUKIRA BAKAL LANJUT DI PART SELANJUTNYA GITU 😂 /CAPS ON/

    boleh ga minta deduksi, kritik dan saran kalian buat fiksi ini? misal merasa ada yang ditutupi, atau ngerasa kayak dibohongi. please do share em with us! kami akan sangat senang kalau ada koreksi yang bisa membangun ke depannya atau menjawab keraguan-keraguan yang mungkin masih ada (sebab almost every act in this fiction has a background story). muehehehe. – Aku sih merasa di bohongi ya jujur loh ini beneran aku merasa paling bodoh setelah tau pelakunya 😂 kritik… nope. Cuma ya aku tau ini bahasanya billingual tapi boleh dong kalimat/kata english yg ‘susah’ alias kata yg jarang di pake (?) ganti jadi bhs indo boleh gak? Kadang agak ribet bolak-balik kamus sih but nggak terlalu mengganggu kok ^^ terus aku nemu typo (tapi aku gatau ini typo atau emang ada kata seperti itu) ‘kopong’ yg harusnya ‘kosong’ bukan? di bagian ini “bahwa tanpa aroma formalin, hidup Seokjin terasa kopong.”

    And last, THANK YOU SO MUCH GUYS YOU NEED AWARD FOR WRITE THIS FIC AND I AM SO PROUD AND GLAD ABOUT THIS! 💜

    Like

    1. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA :”)) IYA NIH YA RENCANANYA MIN YOONGI TERNYATA BERJALAN LANCAR SAMPE AKHIR SAMPE GA ADA YANG CURIGA SAMA PARK JIMIN FT. KIM SEOKJIN PADAHAL SI JIMIN MAH KALO NGOMONG SEMBARANGAN :”))

      awawawawaw kayaknya kita yang harusnya makasih ke kak julia karena udah ngikutin dari chapter 1 sampe chapter 6 tadi pagi, thank you so so so so so so muchieeeee ❤ setelah tadi pagi……….. iya, nih selesai HEHE tapi siapa tau aku dan kak fika collab lagi atau menghasilkan sesuatu lagi someday, ditunggu aja, kak julia xD

      lha iya habis ini kan mereka bikin organisasi pembunuh bayaran namanya rogue, kak HAHAHAHAHAHAHAHAH no, nooooooooooo ga boleh ngomong gitu, pokoknya semua komentar berharga buat aku sama kak fika!

      harapannya sudah terkabul ya, kak, tadi pagi HEHE xD terus noted buat kritiknyaaaa, nanti akan lebih kami perhatiin ke depannya lagi. tapi seru kan kak bilingual biar bisa sekalian belajar bahasa inggris biar ga kalah-kalah amat lah sama si kim namjoon HUEHEHEHE (tabok saja aku, tabok) oiyaaa, kopong itu ada kok kak di kbbi. artinya bagian dalam yang berongga, kayak tahu pong (ini serius, deskripnya itu). jadi bukan typo, but thanks for noticing!!!

      sekali lagi makasih kak julia udah setiaaaaaaaaaaaa sekali sama prussian blue! det. jjk otw ke rumah kakak ya! HEHE have a nice night! ❤ ❤

      Like

    2. huhu iya vin rasanya pagi tadi itu udh kaya mimpi itu part 6 tetiba muncul aduh kesayangan ❤

      Rogue… kok kayanya gak asing ya ._. punya kak fika bukan sih? aku lupa tapi kaya pernah liat ada ff judulnya begitu. Klo iya hoho harus baca aku nih xD

      Hoho yg pasti tetep seru kok pokoknya kutunggu kemunculan kalian lagi yg maybe ada project baru gitu hehe 😂
      Salam hangat dan cinta dariku

      Like

    3. kayak mimpi :”) aku yang berasa mimpi liat kak julia bilang prussian blue kesayangan HEHEHE. iyeeeees, rogue punya kak fika, kak julia. bagus bangeeeet xD kalo ada waktu dibaca aja :)))) awawawaaaa, baiklaah! makasih banyak kak juliaaaa!

      Like

  3. /deep breathe/

    KAKFIKAAAA KAKEVIIIIN OMO APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA SHIA HEUHEUHEUHUEHU AKU TUH BACA PART INI KAYAK “HUH? HUHHH???? HUH?????” AKU GABISA SANTE GIMANA DONG 😦

    Aku merasa dikhianati.

    Firstly first, aku salah nangkep clue LOL INGIN TERTAWA SAMBIL MENYEDOT INGUS but this is the art of reading a crime fiction huhuhu awalnya aku yang desperate sekali habis baca part 4, aku mulai mikir keras di mana clue-nya omo dan berdasar pada informasi gugel aku menetapkan lukisan yang ada di rumah madam itu mencurigakan HAHAHAHAHA plz jangan tertawa. Terus waktu cairan antibakteri datang aku ingin musnah di pelukan taetae saja. DAN BODOHNYA JUSTRU CLUE-NYA MEMANG PENYAKITNYA MADAM TAPI WHY WHY WHY AKU MIKIRNYA NGGAK SAMPE YANG MARSHMALLOW ITU YA TUHAN. Malah cairan antibakteri. Huft.

    Pokoknya yang mencurigakan emang hoseok sih. Tapi jimin seokjin????????? Why why why. I totally dropped my jaw ketika baru ngeh yang dimaksud old childhood friend-nya taehyung itu jimin. UGH. LIKE WHY DID NOT I NOTICE THAT. Mau mara-mara heu 😦 padahal clue bertebaran di mana-mana.

    Terus seokjin+jimin yang masalah marshmallow itu sih yang paling bikin geregetan. Like kenapa sih shia ga curiga jimin tiba-tiba makan barang bukti dan jin justru sante-sante aja???

    YOONGI YOURE DA REAL MVP OKAY ih rasanya mau nabok dia kenapasih kenapasih mas kamu kok keren 😦 (salah fokus) waktu baca kumpulan clue bagian yoongi tuh … rasanya mau garuk tembok.

    Dan please bagian ini menyayat hati banget oke 😦
    “What would you do if you come back here five months later and his mom says he’s busy studying when he’s lying sick on his bed because said mom fed him shit?”

    Uri taehyungieeee 😦

    Wahai kakak-kakak panutanku, ini betulan bikin speechless 😦 Hubungan antara jimin seokjin hoseok yoongi sampe namjoon bikin aku sesak napas. Dunia memang sempit. Paling ga menduga tuh seokjin ya Tuhan nak eh mas terima kasih sudah membuatku ambyar!

    e e e cliffhanger. kasusnya ditutup gimana? apakah 5M ditangkep atau dilepas? apa jungkook resign dari kepolisian saking frustasinya? apa taehyung hidup bahagia? coba dong share juga harapan ke depannya HEHEHEHE siapa tauuuuu (SIAPA TAU) masih berlanjut. — TAEHYUNG AKAN BAHAGIA KUYAKIN. Sebaiknya begitu plz 😦 dan maunya sih 5M dilepas HE HE HE terus jungkook resign terus case-nya remains unsolved.

    Btw setuju sama kakbella, di sini taehyung ga muncul??????? Dan ga ada rambu-rambu end atau fin di akhir, so i expect a sequel muehehehehe.

    And last but not least to dearest kakfika and kakevin, terima kasih sudah membuat shia ambyar seambyar-ambyarnya. I’m rooting for you both ❤ ❤ ❤

    Like

    1. DAN MERASA PERLU MENAMBAHKAN

       “What I want to do is going back in time and join all of you.”

      👆 PFT JJK YOURE DA BOMB.

      Like

    2. shia shia shiaaaaaaaaa xD firstly, aku mau terharu dulu ini komen kamu sooper panjangggggggggggggg huhu what did we do to deserve this much. tapi sumpah, seneng banget bacanya! terima kasih! why so conyonyow sini kita group hug dulu deh bareng kak fika juga dan bareng 7 perintilan ini ihi ihi ihi ❤ ❤ ❤

      anywayyyy, maaf ya telah mengkhianati kamu, tapi ini demi kehidupan kim taehyung yang lebih baik :")) HEHE. terus terus iyaaaaaa kutau deduksi kamu tentang lukisan! waktu itu kan kamu share ya sama kak fika, terus kak fika cerita ke aku dan kita gemes bangeeeeeeeeet tau sama kamu pingin peyuuuuuk! dan tida, tida, semua deduksi itu menarik banget buat diliat, jadi tidak ada deduksi yang jelek. lagian kalo ditilik satu satu kan siapa tau bisa dipake buat rencana membunuh jaehyung selanjutnya? HEHE. terus min yoongi, the mvp, terinspirasi dari deduksi yang ada deh buat bikin masterplan baru!

      iyaaaaaaaa jimin paling banyak drop hints sebenernya, sebanyak itu, karena dia emang tugasnya membuka jalan bagi jeon jungkook e tapi ternyata jeon-nya oblivious banget makanya clues-nya jatuhnya subtle HEHEHEHE terus seokjin………… punya cerita sendiri dong yang pasti 😉

      ENDINGNYAAAAAAAAAAA HEHE SUDAH KAMU BACA, SHIA. TAEHYUNG BAHAGYA KAN, IYA DONG BAHAGYA, DIA PUNYA PUPPY LHO UNTUK MENEMANI HIDUPNYA, TERUS BEBAS DARI MADAM DAN JAEHYUNG, DAPET KULIAH, JADI HARAPAN KAMU TERWUJUD JUGA MESKI BUKAN JJK YANG RESIGN DAN CASE-NYA DISEMBUNYIKAN DEH BWEHEHEHE

      makasih banyaaaaaaaaaak shia udah setia sama kisah penderitaan taenderella 6 part yang panjang berturut-turuuuut! we love you so much and have fun ya field trip-nya! ❤ ❤ ❤

      Like

  4. Aku rasa semua yang baca ngerasa BENER BENER DIBOHONGIN SAMA FFNYA. HUAAAAAAA… MY CHIMCHIM SAMA HOSIKI HOSIKI SEOK JINIE MIN SYUGA MAS NJUUNN KENAPA INIEH???????? MAU BUNUH MADAM KOK GAK AJAK AJAK.loh
    Pantes ya Evin selalu nanya “Menurut lu siapa yang bunuh?” dan sasaran pertama langsung ke Jhope. Huwaaaaaaa…
    Keren keren. DITUNGGU YANG SELANJUTNYAM IYOOOOOTTTTTT

    Like

    1. HAHAHAHAHAHA KAN W UDAH BILANK COEEEEE, e e e eee bunuh orang tuh harus ngajak sesama pendosa. emang u pendosa? ga kan. jd kan salah, harusnya mereka aja w EWQWQWQWQ moral value: jangan berperisangka pada bias sendiri. enjun aja tidak kuprasangai HEHE. thanks ya coeee udah setia ngomong “YEEEY BESOK JUMAT” tiap malam jumat. luv u ga ya? ga lah. mlz.

      Like

  5. 1/5 BENER HAHAHAHA

    DIBOHONGI ATAU ENGGA AKU GA PEDULI HAHAHA

    CUMA PEDULI TAEHYUNG AKHIRE BISA MAMAM ENA HAHAHHA

    DAT CLIFFHANGER!!! GAPAPA GAPAPA BIARKAN AKU BERIMAJINASI JUNGKOOK GABUNG PART DUA EKSEKUSI KAKAKNYA TAEHYUNG (E E E E E)

    Apalah deduksi sabun cuci tanganku dibanding rencana pembunuhan terapih abad ini dari lima sekawan.

    I luv it the way that they’re actually connected to each other, meski yanf kunotis sepertinya hanya ketika part Yoongi bikos loh loh kok tau-tau kenalan katanya trus bubar ambyar kedistrrk figurin marvel (yha).

    KUECE PISAN KAFIKA & EVIN, MY DUO ASPIRIN, THANKS A LOT FOR CREATING DIZ OWSOM FIKSYENNNNNN!

    PROJECT COLLAB KALEYAN SUNGGUH MEMBAWA KEBAHAGIAAN DI AKHIR PEKAAAAAAN :` SUGOOOOOIIII!

    Pesan moral dari project ini adalah: fokus, teliti, sabar, telaten, dan jangan sekali-kali kedistrek figurin marvel.

    Seqian.

    Aku bahagya gaiz.

    Xoxo Xoxo

    Evin, Kafika, Madam, and 7 ♡♡♡♡♡♡♡ (luvs)

    Like

    1. KAK FILZKOOOOOOOOOOOOOOOOOOH ❤ ❤ ❤ ❤ IYA SELAMAT SUDAH 1/5 BENAR NANTI JIMIN, ASPIRIN SPECIAL EDITION DAN FIGURIN MARVEL-NYA AKAN DIKIRIM VIA ONE NIGHT SERVICE JADI BESOK PAGI SEMOGA SUDAH SAMPAI DI DEPAN KESET RUMAAAAH! YAY!

      AYO MAMAM ENA BERSAMA TAEHYUNG KAK KAYAKNYA DIA MAU TUMPENGAN SETELAH TERBEBAS DARI MADAM DAN KASUSNYA HE HE HE DAN DAT CLIFHANGER RUPANYA HANYA TROLL BCS AKU DAN KAK FIKA INGIN MENGALAHKAN BIG HIT DALAM HAL TROLL MENGETROLL JADI LANJUTANNYA SUDAH BISA DIBACA DI UPDATES! YAY! DITUNGGU SEMANGAT HARI-HARINYA KAK FILZ YANG SELALU BISA BIKIN EVIN DAN KAK FIKA FANGIRLING BERSAMA! ❤ (shameless evin iz shameless) (sorryyyyyyyyyyyyyyyyy 😦 )

      iya kak harus connected soalnya jimin tidak bisa membunuh sendirian. jimin adalah ekstrovert sejati. jimin 99% ekstrovert dari hasil mbti-nya jadi dia suka ngajak-ngajak orang (berbuat dosa). tapi ini super serius. huehuehue.

      kami juga bahagya, kak filz! thank you sudah setia sekali tidak seperti park jimin yaaaaaaaa! we love u uri sunshineee! Xoxo Xoxo kembali from evin, Kafika, Madam, and 7 ♡♡♡♡♡♡♡ (luvs)

      Liked by 1 person

  6. Penutupnya gokil kak!

    “What i want to do is going back in time and join all of you.”

    Kritik saran apa ya? Paling itu sih bahasa inggris yg rada unfamiliar bisa di indonesia kan saja HAHA. Sisanya mah you are da best lah!

    Like

    1. halo, eve! kita udah pernah kenalan belum sih? hehe. maafkan kalo udah dan lupa tapi, seinget aku aku pernah kenalan sama eve, tapi penname-nya evelyn. jadi… aku evin. salam kenal ya! (dan sepertinya kamu udah kenalan sama kak fika? karena kamu like post kak fika di trashy treasure? kalau belum… aku nulis ini berdua sama kak fika, so say hello to her too! hehe)

      aaa terima kasih udah baca dan komentar ya, eve. buat kritiknya noted! akan lebih diperhatikan lagi ke depannya. terus mmm chapter akhirnya rupanya ada di chapter 6! jadi kalau mau baca, silakan, karena sudah dipost tadi pagi!

      once again, thank you and have a nice night! :))

      Like

    2. Tapi emang aku belum banyak jenalan sama writer sini sih. Emang dasar kurang sopan aku 😅😧 hihi

      Iya ih kirain ini teh ending. Ternyata bukan yak. Wkwk yg chapt selanjtnya aku blm baca. Belum sempet 😦
      Duet kalian parah lah. Cetar!

      Samasamaaa

      Like

  7. HAHAHHAAH AKU MAU KETAWA DULU HAHAHA AKU UDAH GILA. Bukan ketawain ficnya yang kece badai ini bukan. Aku ketawa buat diri sendiri karena ngerasa pusing pas udah kebuka semuanya

    ANJIIRR??

    Ternyata dugaanku tentang tae salah total. Kukira tae tak sengaja bunuh terus orang2 yang pernah kuduga di awal2 cerita (termasuk hosok dan yoongi) sengaja buat nyembunyiin tae. TAPI KENAPA?? KENAPA MALAH SEMUA ORANG PELAKUNYA???

    Aku mendadak pusing di bagian sokjin dan jimin ampuuunn. Pas bagian marsmallow emang agak mencurigakan sih. Apalagi di chap sebelumnya menjelaskan kalau racunnya ada di situ terus aku pusing (soalnya jimin kan makan di chap awal) sampe mengabaikan. Dan ternyata semua sudah direncanakan. Great! Korelasinya sangat pass! Mulai dari keluarga sokjin sampe jimin, dan segala kejahatan si madam huh

    Pokoknya ini projek yang berkesan banget walau kucuma jadi pembaca yang ga teliti HAHAH thank you buat kakfik dan evin yang sudah semangat buat bikin deduksi dan bikin pembaca geregetan. Kalian luar biasyaa ♥♥♥

    Like

    1. HAHAHAHAHA KAK TITA JANGAN GILA :(( mending merutuk banyak-banyak saja (karena cerita ini diisi 70% rutukan, jadi rutukan sangat diizinkan di boks komentar) asal kak tita jangan sampe gila. kami sayang kak tita, pokoknya kak tita harus be save dan tidak boleh sama sekali diacak-acak oleh 5M!

      HEHE taehyung dapet tuduhan melulu ya, jadi kasian. tapi emang dia bisa jadi tersangka utama sih kak, wong awalnya kan juga jeon curiga ke tae. AKAN TETAPI, tae sesungguhnya hanyalah big baby full of fluffiness yang karena takdir terombang-ambil dalam kehidupan yang keras ini 😦 dia harusnya masuk cagar alam supaya tidak punah, tapi karena tae manusia kan, dilindunginnya sama temen-temennya deh hehehe, jadi mereka mending membunuh yang bisa membunuh tae (a.k.a si madam).

      iya aku bangga min yoongi bikin rencananya sukses :”) tbh aku dan kak fika setiap kali diskusiin komen (YANG LEBIH BANYAK FANGIRLING BCS YOU GUYS ARE SO KIND) gatau harus takut atau seneng kemudian tos sama sang mastermind pas dari chap 1-4 ga ada yang mencurigai jimin dan seokjin. HEHE. tapi kalau bisa bikin kak tita seneng di chapter (hampir) akhir ini, kami sangat sangat bahagia pulaaaa!!!

      it’s supposed to be us, who thank you, kak tita, karena udah baca dan setia dari chapter 1 sampe sekarang. ya ampun, we are really really grateful karena kakak udah mau drop deductions dan nyempetin waktu buat baca multichapter yang per chapter-nya panjang-panjang begini belum lagi disemangatin! pokoknya makasih-makasih-makasih-makasih-makasih sampe setriliun kali! akhir kata, nanti ditunggu namanya di chapter 6 ya kak! HEHE (maafkan evin karena shameless) (racuni saja diriku dengan racun madam)

      have a nice night kak tita we luv uuuu! ❤ ❤ ❤

      Like

  8. kak, aku nggak tahu bisa disebut reader baru atau nggak, yang jelas aku sering ke sini. Tapi mungkin jarang komen, maaf, maaf. Hehehe…..
    aku ijin baca aja pokonya, soalnya mau aku simpan dulu halaman ceritanya.
    Semangat terus buat bikin karya lainnya, kak. Ditunggu selalu

    Like

    1. halooooo, riyani88!
      firstly first, salam kenal. aku evin. terus aku nulis ini bareng kak fika (fikeey), jadi bisa sekalian kenalan juga nanti sama kak fika yaa :)) isokey isokey, gapapa kooook hehe. ceritanya ga akan kemana-mana, jadi kalau suatu saat mau balik buat komen feel free yaaa! hehehe. silakan dibaca! semoga bisa dinikmati juga ya! have a nice night! ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s