Mengeja Siksa

Mengeja Siksa © ANee

“Ingin Mama beri tahu sebuah rahasia?”

-.

Setahuku perasaan manusia adalah satu di antara ribuan hal yang mudah berubah, entah itu atas kehendak sendiri atau memang ada faktor eksternal yang begitu menuntut. Intinya, tidak ada orang yang benar-benar sama setiap harinya. Mereka bermetamorfosis sesuai kebutuhan.

Aku tidak ingin menghakimi siapa pun di sini, tapi enggan juga pura-pura bersahabat atas perubahan seseorang. Terlalu nyaman kehidupan yang terjadi di sekitarku, sampai rasanya sangat asing atas suatu hal yang terjadi belakangan.

Ah.

Jujur saja, sejak duduk di bangku SMA, tidak ada lagi kata damai dalam kamus harianku. Selalu ada keributan ini dan kebisingan itu. Rumah yang sejak lama jadi tempat paling nyaman sejauh ke mana pun aku melangkah, kini tak lagi layak untuk sekadar disinggahi. Hingga separuh diriku ingin berontak, dengan separuhnya lagi memendam asa; berharap semua kembali seperti semula.

Sadar diri bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan, sebagai konklusi atas kecamuk yang sangat menyita pikiran, bertahan bukan lagi sebuah pilihan melainkan keharusan. Ada seorang berharga yang mesti kupastikan kabar baiknya, dan keegoisan tidak akan membantu banyak. Lagi pula masih ada kedua tangan yang dengan senang hati mengunci pendengaran kapan pun aku mau—meski tingkat keberhasil tidak seratus persen.

Menutup buku yang sejak satu jam lalu kutekuni, aku tidak lagi punya cukup konsentrasi untuk memecahkan soal logika di halaman tiga puluh tiga. Suara kaca pecah dan kupastikan cangkir di rak dapur berkurang lagi. Isakan seorang wanita mengiringi berikut bibirku tergigit tanpa permisi.

Seharusnya aku lari saja; menjauh dari radius suara-suara kacau itu biar tidak jadi dengar apa-apa, biar keputusanku tak mudah goyah juga. Tapi, kata ‘lari’ itu pun tidak semestinya terlintas di kepala. Sebab ia tak menjamin apa-apa untukku yang kemampuan kakinya nol besar.

Benar sekali.

Bukan, bukan salah siapa-siapa. Ini hanya semacam keberuntungan yang tak memihak, aku akui. Iya, sejak awal kecelakaan itu terjadi, dalam benak hanya tersebersit sebuah asumsi bahwa hidupku akan baik-baik saja. Kakiku boleh kehilangan daya, tapi selagi ada Mama dan Papa … entahlah aku hanya percaya semuanya akan jadi mudah berkat mereka.

Awalnya seperti apa yang kuharapkan, namun setelah beberapa musim berlalu perubahan itu akhirnya menunjukkan eksistensi. Aku jadi layu. Gelora untuk terus menghirup udara masih ada, tentu saja. Aku meyakinkan diri kalau Mama—wanita yang begitu berharga—masih membutuhkanku, tapi sesekali ada juga semacam perasaan tak berguna yang menepuk pundak; memintaku berpaling.

Dulu adalah dulu, begitu pula sekarang bukan tentang masa lalu. Papa yang seringnya dikuasai amarah iblis membuatku buta akan segala perhatiannya waktu itu. Jerit bercampur umpatan menulikan telingaku atas tutur lembutnya kemarin lalu. Lambat laun aku meragukan ayahku. Birunya kertas memudar jadi abu-abu.

“Mama,” panggilku di suatu pagi, di sela-sela acara sarapan kami. Hanya berdua. Papa sudah tidak di rumah, dalihnya bekerja dan aku hanya harus percaya.

“Habiskan makanannya, Minghao. Keburu dingin,” sahutnya tanpa membalas tatapanku.

“Mama.”

Mampuku hanya memanggil seraya menggenggam tangkai sendok erat-erat—mengumpulkan keberanian. Di wajahnya terdapat lembam yang samar, dan aku khawatir hatinya pun demikian—atau bahkan lebih parah.

“Tidak baik bicara saat makan.”

Lanjut mengunyah, aku berkontemplasi. Sudah benarkah tindakanku sebagai anak? Apa tidak masalah untuk memihak?

Realitasnya, Papa berubah lantaran rasa kecewa terhadap dirinya sendiri yang mengaku tidak becus menjagaku sampai tragedi itu merenggut fungsi kakiku. Tapi melihat Mama disakiti sedemikian rupa tanpa perlawanan membuatku benci pada sosoknya yang tak lagi sama. Orang-orang berubah, termasuk aku. Hanya saja, wanita di hadapanku seolah lupa kalau ia pantas bahagia sampai-sampai tendensinya stabil padahal aslinya terluka.

“Apa Mama sungguh baik-baik saja?” tanyaku pada akhirnya. Nasi di mangkuk kami sudah pindah ke perut sepenuhnya.

Mama mendongak sekaligus mengukir kurva; isyarat pembenaran dari keraguanku. Tentu saja aku tahu itu hanya pura-pura, sebab senyumnya tak sampai ke mata.

“Ma, aku punya permintaan. Bolehkah kuutarakan?”

“Tentu saja.”

Ada jeda sebelum aku kembali menelurkan silabel. “Aku tahu Mama adalah wanita paling sabar di dunia ini, wanita yang paling mencintai Papa. Tapi jika memang semua ini harus diakhiri, tolong lakukan saja, Ma,” jelasku dihadiahi tatapan intens olehnya.

“Maafkan aku, Ma. Hanya saja aku pikir Mama sudah tampak lelah, dan aku … khawatir.”

Lagi-lagi ia tersenyum, dan kedua tangan yang sedari tadi kutautkan di atas meja diraihnya berikut diberi tepukan-tepukan lembut—entah untuk menenangkanku atau menenangkan dirinya sendiri.

“Sedikit lebih lama lagi,” tuturnya lirih, tapi beruntung telingaku masih berfungsi dengan baik.

Senyum Mama berubah timpang. Ia menjauhkan tangannya dariku, lantas kutekuni sorot manik yang entah bagaimana tidak seredup sebelumnya. Mereka-reka apa makna di balik kata-katanya, aku meneguk separuh air dalam gelas tanpa melepas pandangan. Mungkinkah mereka akan berubah lagi? Menjadi lebih baik begitu?

Jadi, secangkir teh di pergi dan pulangnya Papa bukan sekadar formalitas dan Mama kukuh mengikat harapannya. Aku sangsi atas fakta ini, tapi setengah hati aku percaya keduanya masih punya sisa-sisa cinta.

Mama berdeham sebelum akhinya kembali bicara dan menatapku lekat. “Ingin Mama beri tahu sebuah rahasia?”

Kepalaku naik-turun, tanpa jawaban verbal kubiarkan Mama kembali unjuk vokal.

“Seseorang berbuat baik pada ia yang telah menyakitinya adalah pertanda bahwa kabar kematian akan segera tiba.”

Aku bergeming berikut menelan ludah. Kalimat barusan terdengar mengerikan dan aku berharap ucapan Mama tidak seserius air mukanya.

“Mama tidak sebodoh itu merelakan kebahagiaan dengan begitu gampangnya, Minghao. Kau tahu teh yang setiap hari kuseduh? Selain gula, nyatanya racun pun begitu menarik untuk dimasukkan. ”

Ah.

Kukira Mama berbeda, tapi ternyata ia pun hanya manusia biasa. Terbukti bahwa tidak hanya dirinya yang tengah mengeja siksa, melainkan Papa juga sama.

—END—

A/N : Halo semua. Saya Ani, senang bisa ada di sini, dan salam kenal ya! hehehe thank you for reading ^^

Advertisements

4 thoughts on “Mengeja Siksa

  1. Aku pertama ngira ini cerita tentang keluarga biasa, terus apa yang istimewa? Ternyata twist-nya.
    Pertama kukira juga Anee bikin orific. Dari judulnya ‘Mengeja Siksa’ terasa sekali feel orificnya. Sampai pada kalimat di mana ada nama Minghao. Lah. Minghao. Duh, dedek Minghao. Hahaha. Aku langsung ngebayangin berondong Chinese yang satu itu. Duhduhduh~

    Tulisan ini bikin aku sadar kadang kita semua adalah manusia biasa. Twist-nya luar biasa. 😀
    Keep writing, Anee!

    Like

  2. KAK ANIIIIIII!!!!!! IZINKAN AKU MENJERIT SEJENAK
    AAAAAAAAARRRRRRRGGGHHHHHHHH
    PLOT TWISTNYA… /bentar tak matiin dulu capslocknya/
    Aku kaget ya ampun, kirain pas mamanya bilang soal kematian itu mamanya punya penyakit atau apa … eh ternyata… racun memang menarik buat dicampurin ke teh ya wkwkwk xD jangan-jangan papanya ga pulanh karena …
    Eh kak omong-omong aku awalnya pikir mamanya mau bunuh Minghao xD /otakku mulai kriminal/

    Keep nulis kak^^

    Like

  3. “Sedikit lebih lama lagi. ” entah pas baca kalimat itu udah timbul kecurigaan sebenernya dan jengjengggggg ternyataaaa mama tidak seputih yang saya kiraa 😭😭😭 (padahal udah antisipasi ada something wrong tapi tetep aja kaget wkwk)

    Ini ceritanya Minghao cacat kaki begitu? Gara-gara bapaknyaaa? Correct me kalo aku salah kaak hehe

    Im in love sama twistnya pokoknya kaaak 😭😭😭😭 by the way, salam kenal kak yaaa 😂

    Like

  4. Halo kak Ani 😊
    Mel bingung mo komen dari mana, itu mamanya diem2 psikopat juga. Tapi emang dari awal dari summarynya aku udah merasa kalo endingnya pasti gini. Bukannya mel tahu mamanya bakalan naruh racun, cuma dari segi kalimat dan pembawaan keknya udah menjurus kesana/mel kamu ngomong apa si/ maaf kak mel kalo ngomen suka tdk beraturan hehe
    Keep writing 😊😊😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s