Keping Uang dalam Genggaman

by Lee Donghae’s

.

Donghae mengayun tungkai menyusuri sebuah jalanan sempit dan ramai yang terletak di dekat pasar, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Seluruh bagian kiri wajahnya terasa sakit setiap kali ia berusaha mengerjap. Sisa-sisa pemukulan yang dilakukan dua orang hyung-nya masih membekas di sana. Kaki kanannya kaku, nyaris tidak bisa ditekuk karena sudah beberapa kali patah dan tidak pernah ditangani dengan baik. Lengan kanannya juga hampir sama, masih dibebat kain kasa yang sudah berubah warna karena belum diganti sejak pertama dipasang oleh pengurus panti, tak lama setelah ia didapati tergeletak di bukit belakang asramanya seminggu lalu. Namun, semua rasa sakit tersebut mendadak hilang saat sebuah toko roti sudah tampak olehnya.

Bangunan itu jauh dari kata luas. Di depannya, tampak sebuah boneka setinggi badan, berbentuk serupa koki gendut yang tersenyum lebar sambil mengangkat pinggan berisi roti. Di bagian dada boneka itu ada tulisan yang dicetak dengan huruf bersambung, memperlihatkan nama toko dan tahun berdirinya. Bagian depan toko sengaja tidak ditembok, hanya ada dinding rendah dan pintu kaca yang membatasi ruangan dengan jalan setapak yang biasa dilalui para pejalan kaki.

Mengikuti aroma roti yang sedang dipanggang, Donghae berjalan terpincang mendekati tujuannya. Di tangan kirinya, Donghae menggenggam empat keping uang logam yang tampak kusam karena terlalu sering berganti pemilik. Bagi banyak orang, keping-keping berwarna perak keruh itu mungkin tidak berarti, tapi hal sebaliknya berlaku pada Donghae. Sekeping saja uangnya berkurang, maka dia tidak akan bisa memperoleh roti kesukaannya. Pemikiran itu membuat dia mengeratkan genggaman, menjaga agar keempat benda itu tidak tercecer satu pun.

Ada aroma manis yang menyapa indra penciuman Donghae saat dia sudah berdiri di depan jejeran pinggan lebar di mana puluhan roti beragam rasa dipajang penjual untuk menarik minat para calon pembeli. Ada roti bertabur abon, sayuran, sosis, keju, dan cokelat dengan berbagai bentuk di sana, tapi perhatian Donghae tercuri oleh sebuah roti bulat berwarna hijau yang menguarkan aroma pandan. Dia menelan liur yang entah sejak kapan membanjir di mulutnya. Jaraknya dengan makanan itu kini hanya dibatasi oleh kaca tipis etalase toko.

Menempelkan lengan kirinya ke arah pintu kaca, Donghae mendorong pintu itu. Tidak ada ucapan selamat datang yang dia terima. Yang ada hanya tatapan sinis dari beberapa pengunjung toko, juga tatapan jijik dari beberapa orang sisanya. Donghae tidak peduli. Dia sudah biasa diperlakukan seperti itu.

Dia menyeret kakinya mendekati satu rak di mana roti pandan kesukaannya terletak. Pria muda berseragam sekolah menengah yang berdiri di sana sambil memegang sebuah kantung plastik di tangan kiri dan penjepit di tangan kanan, langsung bergeser dan memandangnya risi. Donghae tidak menghiraukannya. Dia hanya ingin mengambil roti dan menuntaskan lapar yang sudah dua hari menggerogoti perutnya.

Roti itu mengembang sempurna. Tepat di bagian tengah, sang koki memotongnya dan mengoleskan krim dari gula dan mentega putih. Di atasnya, ada serbuk gula yang menempel, juga dua buah cokelat berbentuk pipih yang sekilas seperti mata yang sedang melotot lucu. Dengan melihatnya saja, Donghae sudah bisa membayangkan bagaimana sensasi yang akan dia alami ketika roti hijau itu beradu dengan indra pengecapnya.

Donghae memindahkan uang logamnya ke tangan kanan. Dia merasa sudah tidak terlalu butuh tenaga lagi untuk menggenggam benda itu. Tangan kirinya yang berfungsi dengan normal lebih baik dia gunakan untuk memegang roti. Menjulurkan tangan, Donghae bersiap mengambil makanan itu dan membawanya ke kasir.

Tangan Donghae tidak pernah berhasil menyentuh makanan yang diidamkannya. Sepasang tangan lain sudah terlebih dulu hinggap di bahunya, menarik paksa tubuh ringkihnya keluar dari toko dan mendorongnya hingga terjerembab di jalan.

“Pergi dari sini, Bajingan! Kau hanya akan membuat semua pembeliku kabur.” Suara berat itu terdengar membentaknya, disusul suara derit engsel pintu yang dibanting dengan kasar, serta bisik-bisik penuh rasa ingin tahu dari orang-orang yang kebetulan lewat.

Ada gelombang rasa sakit tidak terperikan yang kembali menghantam tubuh kurus Donghae saat itu. Dia terjatuh tepat di bagian di mana tubuhnya terluka paling serius. Tangan dan kaki kanannya kini semakin berdenyut, mendatangkan nyeri tidak karuan yang sempat membuatnya berpikir dia mungkin tidak akan bisa menggunakan bagian itu lagi kelak. Bahkan aroma manis roti sudah tidak lagi bisa menjadi anastesi baginya.

Namun, Donghae tidak ingin menyerah. Dia sudah melakukan perjuangan besar untuk bisa sampai ke tempat ini. Dia hanya ingin membeli roti. Dia sudah menabung. Pemilik toko roti tidak perlu tahu betapa susahnya dia mengumpulkan empat keping logam itu, yang jelas dia sudah punya uang sekarang.

Oh, tunggu dulu. Uangnya!

Donghae melemparkan pandangan ke arah tangan kanannya yang tertindih saat jatuh tadi. Tangan itu terbuka, dan uangnya sudah terlepas dari sana. Panik, Donghae menoleh ke kiri dan ke kanan. Matanya menyipit, aktif memindai jalan, berharap bisa segera menemukan kepingan uang logamnya dan kembali ke toko itu untuk membeli roti kesukaannya.

Bukan hal mudah bagi Donghae untuk melakukan itu. Jalanan di sekitarnya sudah kembali ramai setelah sebelumnya, saat ia diusir oleh pemilik toko roti, orang-orang sengaja berjalan agak jauh darinya. Dia menemukan keping logamnya yang pertama setelah mencari hampir lima menit. Seseorang kebetulan menyenggol tubuhnya dan membuat pandangannya tertuju pada kisi-kisi saluran air. Logam bulat yang kusam itu tergeletak hanya beberapa senti dari lubang saluran air. Kesadaran dengan cepat menghampiri Donghae, dan di saat yang hampir bersamaan mengiris hatinya. Kepingan logamnya yang lain mungkin sudah menggelinding sedikit lebih jauh hingga akhirnya jatuh. Dia cepat-cepat menyeret tubuh remuknya dan memungut uang itu sebelum seseorang tidak sengaja menendang dan menjatuhkannya. Setidaknya memiliki satu uang logam masih lebih bagus daripada tidak sama sekali.

Seseorang kembali menyenggol tubuh Donghae yang saat itu masih bersimpuh di jalan, membuat rasa sakitnya datang lagi. Tidak ingin terus-terusan seperti itu, Donghae mencoba berdiri, menyingkir dari jalan yang sesak itu.

Donghae sudah terbiasa diperlakukan dengan buruk. Di panti asuhan tempatnya dirawat, dia adalah sasaran empuk segala bentuk penyiksaan. Setiap kali sumbangan dari para dermawan berkurang jumlahnya, penjaga panti akan melampiaskan kekesalan tak beralasannya kepada anak-anak yang seharusnya ia jaga, termasuk Donghae. Setiap kali Kangin dan Shindong–dua orang yang juga tumbuh di panti asuhan itu–merasa kesal dan ingin memukuli seseorang, mereka akan mencari Donghae.

Mungkin karena Donghae penakut hingga tidak pernah berani melaporkan apa yang dialaminya kepada orang lain, mungkin juga karena dia kadang berharap di ujung pemukulan itu nyawanya bisa melayang dan dia bisa segera lepas dari penderitaan, dia selalu menerima begitu saja setiap kali bilah rotan atau bogem mentah menghantam tubuhnya.

Rasa sakit sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari hari-harinya. Tetapi hari ini, rasa sakit yang dialaminya berbeda. Yang sakit bukan hanya tubuh, melainkan juga hatinya. Hati yang dikiranya sudah kebas karena terlalu banyak menderita itu ternyata masih bisa tersakiti lebih dalam. Lucunya, ini terjadi karena sepotong makanan dan tiga keping uang yang kini sudah tidak lagi dimilikinya.

Usianya tujuh tahun kala itu, dan yang ia inginkan hanyalah roti yang masih baru. Hanya sepotong roti. Apakah itu terlalu berlebihan?

-end-

Catatan Penulis:

Hai! Aku anggota baru di keluarga Writers’ Secrets. Salam kenal dan mari berteman! 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Keping Uang dalam Genggaman

  1. Hello, ini cherry, 94liner! salam kenal yaw :)) seneng bisa nemu yg sefandom hihi (walau skrng ga terlalu aktif)

    Jadi ini kisah donghae waktu kecil ya. Penasaran gimana gedenya dan apa dampak peristiwa ini di masa2 dewasanya. /halah/ xD kutunggu karya2 yg lain :))

    Like

    1. Halo, cherry. Makasih udah baca. Aku jg seneng bgt bisa nemu sesama elf di ws. Kenalin, aku Aya, 90liner.
      Donghae gedenya nanti jd polisi (cakep) yg nyambi sbg tukang roti. Haha..

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s