(Semoga) Merdeka!

indonesia-439430_1920

(Semoga) Merdeka!
by gy

.

“Semangat mencapai kemerdekaannya, ya, Dik! Merdeka!”

.

Nisan kakek saya berada di salah satu nisan pejuang-pejuang di makam ini, maka sudah menjadi tradisi bagi keluarga kami untuk mengunjungi kompleks taman makam pahlawan setiap hari kemerdekaan.

Hari ini, saya tidak pergi bersama siapa-siapa. Tentu, karena hari ini tanggal 19 Agustus. Ayah, ibu dan kedua adik saya sudah berziarah dua hari yang lalu. Saya mempunyai alasan tersendiri mengapa bisa telat ‘merayakannya’. Saat itu, istri saya sedang sakit, saya tidak bisa pergi ke mana-mana. Sekarang pun sebenarnya kondisinya belum begitu pulih. Namun, yah, setidaknya tidak seperti kemarin. Jadi saya pikir bisalah saya meninggalkannya barang sebentar.

Ketika hendak meninggalkan tempat selepas memanjatkan beberapa doa di samping makam si Mbah, mata saya menangkap sesosok remaja—kira-kira semuruan adik bungsu saya—berdiri persis di tengah kompleks pemakaman.

“Lapor!” suasana yang sepi membuat suaranya terdengar cukup lantang. “Saya, Johannes Arian Simatupang, dengan ini memohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatan saya! Hormat!”

Alih-alih meninggalkan makam, saya malah mengamati anak itu walaupun sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya.

Seorang laki-laki muda, masih memakai seragam sekolah, datang ke taman makam pahwalan di tengah hari yang panas, dan mengucapkan hal-hal yang tidak umum diucapkan di depan berpetak-petak tempat peristirahatan jiwa yang sudah tenang. Menarik.

Anak itu kemudian duduk simpuh. Dari samping, saya dapat melihatnya memejamkan mata sembari mengaitkan kedua tangan di depan dada. Hening sejenak.

Selanjutnya, anak itu pergi mengunjungi salah satu makam di ujung depan sana, memberi hormat dan meletakkan di atasnya setangkai bunga yang dia ambil dari tasnya. Begitu seterusnya, sampai pada akhirnya dia sampai di makam Mbah saya.

Dia melirik saya. Kami berdua bertukar anggukan sopan.

“Mau saya bantu?” tawar saya, begitu saja.

“Eh? Boleh, Mas. Makasih!”

Selang beberapa menit, kami akhirnya sampai di makam terakhir. Mengelap dahinya yang berpeluh, anak itu memamerkan senyum bangga.

“Sekali lagi makasih, ya, Mas!”

Saya mengangguk sebelum menebas rasa penasaran, “kamu sering ke sini?”

“Hmmm … enggak, sih. Saya ke sini setiap tanggal 17 Agustus. Ini lagi telat aja, soalnya kemarin saya ada keperluan.”

“Oh … saya juga sering ke sini, lho.” Jawab saya. “Tapi rasanya saya jarang lihat kamu, ya?”

Johannes—atau Jo, akan saya panggil anak itu seperti itu saja—tersenyum malu. “Saya ke sini kalau udah sepi, Mas. Habisnya … malu, suka dilihatin orang-orang, hehe.”

Merasa dapat memahami, saya mengangguk lagi. Tetapi, karena rasa penasaran saya belum terbayar tuntas, maka, “saya boleh nanya lagi?”

“Tentu, Mas!”

“Kamu … barusan ngapain? Buat apa? Jarang saya lihat peziarah sampai ngasih bunga buat semuanya. Paling ke satu atau beberapa makam tertentu. Seperti misalnya saya, yang cuma ke makamnya Mbah saya.”

“Oh, itu …” barangkali, sembari mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan saya, Jo memainkan ujung tali tasnya. Dia melanjutkan, “ya … saya ziarah, Mas. Ziarah ke semuanya,”

Saya tak lekas menjawab karena Jo terlihat seperti akan menjelaskan lebih lanjut.

“Sebagai ganti karena saya belum pernah ziarah ke makam buyut saya di Medan sana. Juga, sekalian mengenang jasa-jasa para pejuang. Kalau dulu enggak ada yang seberani mereka, mungkin sekarang Mas atau bahkan saya juga sedang berjuang, melepas masa muda demi sebuah usaha memperjuangkan kebebasan. Seperti mereka.

“Kalau Mas perhatikan, enggak semua nisan punya keterangan lengkap. Ada yang tertulis namanya aja, atau tanggal lahir dan tanggal meninggalnya aja, atau tanggal meninggalnya aja. Bahkan ada yang tanpa keterangan. Ada juga yang masih muda kalau saya hitung-hitung umurnya. Sekitar lima belas sampai tujuh belas tahun, seumuran saya. Lumayan banyak malah.”

Jo melirik saya. “Meski nama mereka tidak besar, tapi setidaknya dulu mereka ada untuk kota ini. Saya, sebagai seseorang yang lahir di kota ini dengan langsung menggenggam kebebasan, tentunya ngerasa gimana gitu kalau gak ngucapin terimakasih ke mereka … eh, anu ….” Jo mengusap tengkuknya. “Saya kedengerannya kolot, ya?”

Saya tertawa. Jo juga. “Enggak kok, Dik. Kamu keren, malah. Waktu jaman saya seumuran kamu, saya jarang mikirin yang gini-gini.”

“Ya gitu deh, Mas. Saya juga belum lama kayak gini. Kalau enggak salah semenjak masuk SMA. Waktu itu, dari sekolah ada kunjungan ke taman makam pahlawan sebagai bahan pembelajaran pelajaran sejarah. Guru saya menceritakan bagaimana perjuangan para pejuang di kota kecil ini, sesuatu yang enggak ada di buku pelajaran. Dari situ hati saya mulai terketuk. Saya sadar bahwa yang namanya perjuangan dan pengorbanan tidak ada besar-kecilnya. Cerita itu kemudian membekali saya dengan ajaran bahwa sekecil-kecilnya hal baik yang kita lakukan, pasti ada manfaat yang dapat merubah keadaan kita, entah itu sebuah hasil nyata atau sebuah proses lain dalam menjemput hasil nyata tersebut.

“Apalagi sekarang, saya sedang melewati fase-fase menuju kedewasaan. Yang namanya remaja, ya, labil. Saya juga ngerasain. Dulu saya masih suka nurutin emosi daripada kewajiban, datang ke sekolah terlambatlah, bolos ekskullah, ngerjain PR pagi-pagi di sekolahlah—sambil nyontek pula. Sekarang, sih, udah enggak terlalu parah.”

Jo mengambil napas. “Saya memang gak sekeren mereka yang terbaring di sini, Mas. Tapi, gini-gini saya juga sedang berjuang. Berjuang memperbaiki diri dari godaan masa muda yang begitu luas. Setidaknya saya berjuang untuk diri sendiri dulu, sebelum memperjuangkan yang lain. Setidaknya saya berusaha untuk memerdekakan diri saya dulu.”

Bahkan sampai Jo mengakhiri kalimatnya, saya masih tercenung. Mau tak mau saya menyelami masa lalu, dimana saya seumuran dengan Jo. Dulu, saya selalu menjadi anak kebanggaan orang tua, guru dan bahkan sekolah. Prestasi saya di bidang akademik dan nonakademik terjaga dengan baik. Sebagai remaja, saya juga tidak pernah berbuat macam-macam. Saya bermain aman. Untuk beberapa alasan, saya iri pada anak muda yang berdiri di samping saya ini.

Jo begitu apa adanya, tapi saya merasa dia justru jauh lebih keren dari saya. Sepintar-pintarnya saya dahulu, saya sepertinya tidak pernah menemukan sendiri apa makna dari perjuangan, apalagi hanya dari sebuah kunjungan ke makam para pejuang, selayaknya Jo.

Well, saya menghargai bagaimana jungkir baliknya perjuangan mereka, saya juga berterimakasih. Namun … sudah. Begitu saja. Tidak seperti Jo yang kemudian mengadaptasi semangat para pejuang dalam versinya.

“Semangat mencapai kemerdekaannya, ya, Dik! Merdeka!”

Semoga merdeka, Mas!”

Saya menyelipkan gelak sebelum menepuk pundaknya. “Terima kasih, ya.”

“Eeeehh, terima kasih buat apa, Mas?”

“Saya banyak belajar dari kamu.” Kata saya, tersenyum.

Mulai sekarang, kamu membuat kunjungan saya ke taman makam pahlawan menjadi bukan sekadar kunjungan pada si Mbah saja.

Tapi untuk semuanya, untuk mereka yang berbaring di bawah tanah pemakaman ini.

Terimakasih, anak muda.

 .

END

.

A/N :
– Cerita ini mengalami sedikit perubahan dari naskah awal
– Cerita ini pernah dipublish di blog pribadi dan storial.co atas nama pena gisel heidi

Halo, gy / gisel (terserah mau panggil apa) di sini. Aku kontributor baru WS yang sedang dalam semacam… masa percobaan? 😀
Salam kenal!

Advertisements

6 thoughts on “(Semoga) Merdeka!

  1. hi and hello! kak gisel, welcome to WS~ ❤

    eheh, jarang banget lho titan nemu tulisan dengan genre seperti apa yang kakak tuangkan di sini. dan Jo kritis sekali ya, jadi terharu :") i'd like to think myself like Jo but pfft that's, unfortunately, a bit difficult. sebuah perenungan sepertinya perlu dilakukan :")

    o ya, sedikit koreksi, kak, kalau kak gisel ngga keberatan… terimakasih itu bakunya 'terima kasih' 🙂

    keep writing ya kak gisel! 😀

    Liked by 1 person

    1. haaaaaii titan!
      makasih udah mampir ke ceritaku ehe.
      makasih juga buat koreksinya!!! sama sekali gak bikin keberatan kok wkwk dan emang eyd ku masih berantakan, udah digecek(?) pas eval juga. kedepannya Inshaa Allah membaik! yoshaaaaa~ :3

      Like

  2. Hello, Gisel.
    Aku suka tipe cerita kayak gini, yg lbih umum ditemuin waktu 17an hhehehe jadi inget masa sekolah, smangat bnget tiap upacara 17an dan pas lgu kebangsaan berkumandang, diam2 nangis, ga nyampe sesenggukan. Cuma terharu aja dan ngerasa jd anak bangsa ga guna. 😟😟😟😭

    Ada tipo dikit ☺ seumuran, tp di situ km tulis semuruan ya? Trus ada dialog yg kurang tanda petik, ga aku catet paragraf berapa 😫
    Dan ada kata yg dobel;
    ‘Ada yang tertulis namanya aja, atau tanggal lahir dan tanggal meninggalnya aja, atau tanggal meninggalnya aja.’

    Githu aja, ditunggu karya lainnya 😊

    Liked by 1 person

    1. ini… bentar… fatim ya??? 😀
      ah iya tah ada typo? maafkan :”D
      untuk koreksi lainnya makasih ya… jd catetan buat aku juga untuk lebih teliti :”D
      terima kasih udah baca! :3

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s