Prussian Blue [06 – END]

Prussian Blue © fikeey & Fantasy Giver

Warning:
Language using and triggering materials. Read it wisely.

In my hour of need I truly am indeed alone again, naturally.

Hal tersulit yang akan kau alami bila kau bekerja di departemen kepolisian dan baru saja menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan adalah duduk di ruang interogasi sambil memuntahkan kebenaran tentang motif kejadian dan penyebab kematian. Ya. Bertahun-tahun berkutat di sana, Jungkook masih berpendapat sama seperti saat pertama kali ia mulai bekerja.

Lelaki itu memasuki ruang interogasi dengan langkah yang tak terburu; terlihat tenang dan berwibawa sementara Taehyung duduk di samping kakak tirinya—yang menjaga jarak tentu saja—dengan posisi tak nyaman. Ia sempat menangkap pandangan mata Taehyung yang seolah berkata: “Tidak apa, sudah biasa,” ketika Jungkook terang-terangan menunjukkan rasa tak suka. Namun kemudian ia tersadar akan kewajibannya lantas mengambil tempat duduk kosong.

Well, sang detektif junior boleh saja membuka pembicaraan ini dengan setetes rasa gugup tapi ia sudah ada di sini terlalu lama jadi memanipulasi emosi bukanlah hal sulit baginya.

Dua puluh menit berikutnya, udara di sekitar mereka hanya diisi oleh suara Jungkook ditemani rekam foto kejadian, bukti hasil lab yang diberikan Seokjin, serta sketsa sederhana berisi rentang waktu sejak Madam terpapar substansi pembunuh hingga tewas. Lalu permukaan meja besi di hadapannya berangsur nihil kembali dan Jungkook menyilakan keluarga korban untuk memberondongnya dengan pertanyaan.

“Maaf, Detektif.” Kim Jaehyung adalah orang pertama yang mengambil kesempatan tersebut. Jungkook bisa membaui saratnya emosi dalam suara sang pria dan dwimanik yang beberapa hari lalu terasa tajam dan menusuk, kini hanya diisi oleh kepiluan yang mati-matian ditahan. “Apakah kau baru saja menjelaskan bahwa Mama bunuh diri secara implisit?” tanyanya dengan suara seperti ditarik. Jungkook memerhatikan bagaimana pria itu melempar pandangan kotor ke arah Taehyung dan ia berusaha menahan kekesalan.

“Ia tidak bunuh diri. Madam Kim hanya kebetulan tidak menyadari kikir kukunya berada sangat dekat dengan agen beracun saat ia menyimpannya.” Sang detektif junior menjawab dengan suara berat. “Berdasarkan hasil uji sidik jari, tidak seorang pun di kediaman Madam meletakkannya secara sengaja di sana. Hanya ada jejak milik Madam,” jelasnya; kemudian ia menangkap lagi gestur rendahan dari Jaehyung. “Dan tidak pula sidik jari Taehyung, Direktur.”

Suara Jungkook terdengar final dan mengancam; namun ia berusaha memberi dukungan moral pada Taehyung ketika pria itu melayangkan ucapan terima kasih secara bisu lantas menundukkan kepala.

“Kau yakin orang ini tidak mengenakan sarung tangan waktu menyelundupkan racunnya?” Jaehyung masih mempertahankan nada menuntut waktu memuntahkan pertanyaan.

Demi aum Tyrannosaurus-rex, si berengsek ini butuh ditinju.

“Ya. Dan aku akan berterima kasih sebanyak-banyaknya jika kau berhenti memperlakukan tamuku yang lain seolah ia tak pantas, Direktur.” Jungkook mendesis dan rahangnya mulai mengeras. “Atau kau ingin menyudahi pembicaraan ini dan keluar dari ruanganku?

Wajah Jaehyung terlihat seperti lobak yang terlalu lama didiamkan di lapangan tandus bermandi sinar matahari. “Ya, dengan senang hati. Aku akan pergi sekarang juga,” katanya dengan sikap arogan serta nada bicara yang tak sedikit pun terdengar bersahabat. Tubuh jangkungnya menjulang dan ia mengirimkan pandangan menyelidik pada Pengacara Nam yang telah menerima undangan Jungkook untuk hadir. “Tolong rangkaikan waktu bertemu yang cocok untukku karena tidak seperti dia, aku punya banyak pekerjaan.”

Nam Jookhae—sang pengacara—hanya mengangguk tenang dan Jungkook luar biasa berterima kasih ketika pria di awal lima puluhan itu memberikan pegangan mendukung di bahu Taehyung kala pintu ruangan tertutup dengan debum keras. Si detektif junior menghela napas lalu meleburkan atensinya pada dua orang yang tersisa. Seluruh bukti dan penjelasan kasar telah kembali dalam amplop cokelat khusus, maka Jungkook menelurkan ucapan terima kasih—sekaligus tawaran lain kalau-kalau Taehyung atau sang pengacara hendak hadir di konferensi pers lima belas menit ke depan.

Pengacara Nam memberikannya senyum kecil sebelum menggelengkan kepala. “Mungkin aku akan melewatkan tawaran ini, Detektif, banyak yang harus kulakukan untuk pertemuan selanjutnya,” katanya sembari menghadap Taehyung yang juga bangkit dari duduknya. “Aku akan menghubungimu tentang waktunya, oke, ‘Nak?”

Sahabatnya menganggukkan kepala dan menjawab dengan intonasi sopan. Kadang Jungkook berpikir terlalu jauh bahwa mendiang Tuan Kim pastilah mengawasi dan mengajarkan tentang perilaku beradab dengan baik. O, ya, dan keluarga Jung tentu saja.

Thank you so much.” Taehyung—yang masih setia mengenakan pakaian kebesaran—melempar senyum. “Setidaknya aku bisa tidur nyenyak setelah ini. Well, aku tidak bersyukur sedikit pun atas kematian Madam tapi kuharap ia akhirnya bisa tenang. Iya ‘kan, Jungkook?”

Yeah.” Si junior membalas dengan lengkungan kecil di bibirnya namun ia tak bisa menghentikan perasaan melilit yang membungkus perutnya. “Can I visit you sometimes? You know, after your disappearance at our graduation day ….”

Taehyung lantas memamerkan senyum lebarnya. “Of course!” katanya; dan Jungkook merasakan kelegaan membanjiri ketika ia mendapati ekspresi yang sama dengan milik pria itu semasa SMA.

“O, and do you remember my childhood friend I told you? Kemarin dia menghubungiku. His name is Park Jimin, by the way. I’ll introduce you to him later; he’s friendly, loud, but a little bit pervert you know.” Tuhan, rasa-rasanya Jungkook ingin terbahak sekarang. “Maybe we can go on a triple date? With our respective girlfriend? Haha. Tapi jangan kaget jika Jimin muncul dengan dua wanita berbeda.”

Is he that popular?” Senyum Jungkook melembut ketika Taehyung terlihat sangat bersemangat dan sesekali memunculkan ekspresi aneh kala mendeskripsikan Park Jimin—hah, ia bisa menggunakan kata-kata Taehyung sebagai senjata untuk mempermalukan sang ketua nanti. Dengan sampainya mereka di ujung lorong, si junior lantas menekan tombol lift untuk sahabatnya dan menunggu di sana.

Yup. And the smuggest of all,” respons Taehyung sambil melangkah masuk ketika bunyi ‘ding’ terdengar. “I’ll see you soon, yeah?

Pria itu melambaikan tangan ketika pintu lift hampir menutup dan Jungkook membalasnya. Ia lantas kembali ke kubikel untuk menenangkan diri sebelum lima belas menit lagi berdiri di depan pers yang haus akan kebenaran di balik kasus pemilik Joli(e).

Jimin menyuruhnya maju dan berbicara dengan alasan: “Aku harus mendiskusikan beberapa hal penting dengan Kapten Yoon, oke? Dan taruhan … ini akan memakan cukup banyak waktu.” Lalu sebelum Jungkook sempat membuka mulut untuk merespons, si ketua melanjutkan dengan kekeh menyebalkan. “Seokjin akan menolak sebelum kau bertanya apakah ia bisa menggantikanmu atau tidak. So, there you go, Champ!”

Seorang opsir mengetuk dinding kubikelnya kemudian; memintanya bersiap selama lima menit ke depan. Jungkook mengekor di belakang sang opsir—Lee Chan—yang berkali-kali mengabarkan jumlah pers yang membludak. Lelaki itu tak menyalahkan—toh kasus ini memang mengundang banyak pertanyaan dan lagi hal demikian menimpa seorang pemilik perusahaan besar.

Absennya Kapten Yoon di ruang pertemuan—yang sudah penuh dengan flash kamera serta riuh rendah konversasi antar wartawan—seolah menjadi jawaban bisu untuk pertanyaan Jungkook ketika ia menelengkan kepala mencari sosok Jimin atau Seokjin. Lee Chan menyenggolnya dengan gelagat sopan dan memberikan spasi di belakang podium untuk dirinya.

Jungkook berdeham pelan dan ruangan kini berangsur sunyi. Ia membukanya dengan sapaan singkat, tujuan diadakannya konferensi pers, dan sedikit banyak peringatan untuk tidak membuat berita miring. Ketika hampir semua kepala mengangguk dan aroma penasaran mulai mengambang di udara, Jungkook berhenti selama beberapa saat dan masuk ke inti berita.

Madam Kim—pemilik Young-ja BioTech sekaligus direktur utama perusahaan kosmetik Joli(e)—yang ditemukan tewas hari Selasa telah dinyatakan mengalami keracunan substansi berbahaya. Menurut hasil lab yang diselidiki oleh ahli patologis forensik kami, terdapat kandungan talium sebagai agen pembunuh dalam jumlah melewati dosis minimal di lambungnya. Madam Kim diperkirakan telah terpapar selama kurang lebih dua minggu. Racun yang bersarang menumpuk, kemudian setelah jumlah melebihi batas normal saat itulah tubuhnya mulai bereaksi.

“Menurut penuturan saksi; beliau telah menunjukkan beberapa gejala sebelumnya. Mual, muntah, rambut rontok, dan yang paling terakhir adalah kuku yang mengeriput.” Jungkook membiarkan kalimatnya menggantung sebelum melanjutkan. “Madam ditemukan oleh pelayan pribadinya hari Selasa pagi setelah diperkirakan tewas sejak Senin sore.”

Sementara ia menghentikan kalimatnya lagi, seorang wartawan yang duduk tiga bangku dari depan mengangkat tangan. “Bagaimana racunnya bisa membunuh? Apakah seseorang memasukkannya ke makanan?”

Jungkook melayangkan senyum palsu yang singkat. “Madam memiliki obsessive-compulsive disorder dan hal demikian membuatnya harus memastikan tangannya bersih sebelum makan. Ia selalu mengikir kukunya, membasuh tangan dengan cairan anti-bakteri, dan setelah itu barulah ia percaya segalanya bebas dari kuman. Alat kikir kuku Madam ditemukan tak jauh dari lokasi mayat dan benda itulah yang berperan sebagai pengangkut.

“Ahli patologis forensik kami menemukan kandungan talium yang terpapar di permukaan alat kikir.” Si junior mengangkat tangan dan memberi peringatan bisu bahwa dirinya belum selesai berbicara. “Madam meletakkan koleksi alat kikirnya di laci—terbukti dari dua lainnya yang kami temukan. Dan di sudut terdalam laci nakas yang sama, Madam meletakkan sebongkah racun tikus berbentuk padat karena akhir-akhir ini kediaman Kim tengah memiliki masalah dengan binatang pengerat. Kemungkinan besar Madam meletakkan alatnya terlalu dekat lantas membuat alat kikir tersebut terkontaminasi.”

Selama dua puluh menit ke depan ruangan itu dipenuhi oleh suara wartawan yang saling bertanya dan jawaban Jungkook yang pendek serta padat. Jika Lee Chan tidak lantas meneriakkan peringatan soal waktu yang sedikit, mungkin si detektif junior akan menggebrak meja demi menghentikan pertanyaan yang lama-kelamaan menyerempet pada kehidupan lama Madam Kim. Fokusnya adalah Taehyung; dan mengingat bahwa pria itu sudah mengalami terlalu banyak hal, ia tak ingin para wartawan haus berita ini mendatangi sahabatnya di kediaman Kim dengan tingkah anarkis.

Sementara Lee Chan menutup sesi, ia menangkap sosok mungil Jimin yang berdiri sambil mendekap kedua tangannya di antara kamera berlabel portal berita. Sang ketua memberi gestur untuk mengikutinya.

Are you done there?” Jimin menelurkan pertanyaan ketika Jungkook tiba di hadapannya.

Sang junior mengangguk. “Yeah,” jawabnya lantas menaikkan sebelah alis ketika Jimin tidak berbelok menuju ruangan kerja mereka. “Where are we going?

Come, Seokjin’s waiting.”

Ketiganya berakhir di mobil Seokjin dan sang dokter memberitahunya bahwa Kapten Yoon memberi izin untuk meninggalkan kantor lebih cepat.

You can’t fucking do that!” Jungkook berteriak di depan wajah Jimin yang tak sedikit pun bereaksi; seolah sang ketua sudah memperhitungkan skenario ini sebelumnya. “What makes you do this? Are you punishing yourself? And you!” Kini sang junior beralih pada Seokjin yang berdiri sama tenang. “You know better than putting your damn badge on Captain’s desk. Are you fucking out of your mind?

Kid, listen to me—“

No, you listen to me, Park Jimin!” Lelaki itu memotong kata-kata sang ketua tanpa ampun, memenuhi ruang tengah apartemen si pria dengan suaranya yang kian meninggi dan sarat emosi. “After all you did for Taehyung, after all of your damn sacrifice and now you’re going to walk away like this? He’s damn happy when you’re back in here, okay? Are you really having a heart to tell him so?

Seokjin menghela napas. “Jungkook, calm down, please?

I’ll be calming down if you two give me a concrete reason for your stupid decision.” Sang junior berkata dengan desis pelan sebelum menjatuhkan dirinya di sofa. “And I’ll be waiting.”

Jimin memberi gestur pada Seokjin berupa anggukan pelan dan pesan singkat itu membuat sang dokter mengambil tempat di sisi lain sofa.

First, yes Kid, I’m punishing myself because I know what I’m doing was wrong in the eye of the law. But still I did this for the sake of my friendship with Taehyung. Tapi yah, aku masih memiliki secuil akal sehat, oke? Dan karena itulah aku mengambil keputusan ini.” Sang ketua berbicara dengan nada pelan. “Aku tahu impianku adalah menjadi polisi. Hell, aku tak akan membuang pendidikanku di universitas apabila aku tidak sungguh-sungguh, bukan?

But then I found Taehyung in a state like that. Remember when I asked you about how would you feel when you’re unable to do anything meanwhile someone close to you is suffering?” Jungkook menganggukkan kepalanya pelan atas jawaban untuk pertanyaan sang ketua; maka Jimin melanjutkan, “Then you’ll understand.” Dan mengakhiriya dengan cengiran lebar.

Jeon Jungkook sangat, sangat membenci situasi di mana kata-kata sang ketua bisa memengaruhinya sedemikian rupa; membuat deret kalimat yang barusan sudah terasa di ujung lidah menunggu dimuntahkan terasa membeku tiba-tiba. Awalnya lelaki itu akan mengatakan bahwa alasannya picik, bahwa Jimin tak berpikir panjang, namun kemudian Seokjin angkat bicara dan sang junior hanya bisa mendorong punggungnya ke belakang.

We’re still a cop, Jeon. Apa yang kami lakukan menentang hukum; dan aku serta Jimin tak ingin hidup dalam rasa bersalah lantaran telah mengkhianati pekerjaan kami sendiri.” Si tertua tersenyum kecil. “Jadi kami harap hal kecil ini bisa membayar kesalahan kami.”

Jungkook mendengus; tiba-tiba mendapat sekepal ide yang tiba-tiba mampir di kepalanya. “Okay, let’s say you two are leaving. Where will you go anyway?” Sumpah demi Tuhan si junior tidak bisa menahan senyumnya yang penuh percik kemenangan. “Finding a job is a tough work and you can’t ju—“

I’ll be leaving for Tokyo once this is all settled down.” Seokjin menjawab tenang.

Masih di posisi yang sama, Jimin mengumbar cengiran lebarnya. “Dan aku akan kembali ke Busan; mengabdi pada kantor polisi daerah, mengistirahatkan pikiranku dari kesibukan Seoul, dan yah, membayar dosa,” katanya dengan nada jenaka. “See? I’m not as cruel as Seokjin. I’m on your side. He left us.”

Jungkook tak merespons selama beberapa saat. Dadanya tercekik.

If you quit then I’ll quit too.” Lelaki itu berkata serius kemudian, namun toh Jimin selalu menganggap Jeon Jungkook yang memberengut adalah pemandangan super imut; jadi si junior lantas mengabaikan wajah sang ketua yang terlihat seperti baru saja menyaksikan Tom dan Jerry berbaikan.

Don’t be stupid, Jeon.” Seokjin menggeleng. “Kau tak melakukan apa pun selain menjalankan apa yang kami minta. Besides, it’s not like we’re leaving tomorrow. Administration work is shit, okay? You’re not getting rid of us that easy.”

Masih berdiri di posisinya, Jimin melempar senyum. “Lagi pula Kapten Yoon pasti akan curiga jika kita bertiga sama-sama menyerahkan lencana,” tuturnya; namun Jungkook masih belum menghilangkan ekspresi merajuk di wajahnya. “Now help me grooming my room, yeah? We’re going to have a little celebration here.”

What celebration?

Pertanyaan sang junior dijawab oleh denting bel yang terdengar nyaring dari arah pintu disusul gumaman pelan Seokjin yang berkata: “It must be them.” Dan dalam waktu singkat lelaki itu ingin sekali meninju hidung sang ketua karena frustrasi.

Sosok mungil Yoongi adalah hal pertama yang tertangkap pandangan Jungkook ketika ia menolehkan kepala, disusul oleh Hoseok dengan beberapa kantong plastik di kedua tangannya, dan ya … tentu saja oknum terakhir yang menjadi alasan mengapa si junior sibuk bersungut-sungut. Jimin mengantarkan ketiga tamunya ke ruang tengah dan Jungkook dengan otomatis menjaga pandangannya pada Kim Namjoon untuk mengawasi di mana pria itu duduk. Ya. Ia masih sekesal itu padanya. Hah.

Isi kantong plastik di tangan Hoseok telah berpindah ke meja rendah: empat boks besar ayam goreng, lima botol cola, dan beberapa macam keripik serta camilan. Seokjin adalah orang pertama yang membuka pembicaraan; menanyakan bagaimana keadaan kantor Joli(e) maupun Young-ja sembari meneguk cola dari gelas plastik.

Sementara Yoongi dan Namjoon menyuarakan jawaban mereka, Jungkook mengalihkan atensinya pada Hoseok yang kala itu duduk di sebelahnya. Sofa telah digeser, jadi mereka berenam memosisikan diri dalam bentuk lingkaran di sekitar meja.

Did you drop Taehyung off earlier?” tanya sang junior dengan bungkus keripik di pangkuan. “Want some?

Hoseok melayangkan senyum kecil. “For someone who had made my nose bleeding it’s really sweet of you offering me chips,” katanya dengan nada ringan. Pria itu bahkan meloloskan tawa pelan ketika Jungkook memberengut lagi.

Hey, come on, I’ve apologized million times, okay?” Si junior merajuk dan kantong keripiknya terlupakan. “Besides you were giving me hard times back then.”

Sang asisten kini ganti menyodorkan segelas cola pada Jungkook. “First, yeah I drove him home and he asked me to go refreshing myself. He said he wanted to nap for a while. O, and I forgave you, Detective. I was just testing your patience and how close you were with Mister Tae,” tuturnya sembari menaruh kembali gelasnya sendiri di meja. “I’ve known you for a long time, Jeon Jungkook, I’ve told you that. Tapi aku merasa butuh mengetes keyakinanku sendiri sekali lagi.”

Sang junior tahu bahwa keadaan di sekitar mereka kini berangsur sunyi ketika Seokjin menyenggol bahu Jimin untuk mengecilkan volume suaranya maupun Yoongi yang akhirnya melipat lengan dan menyandarkan punggung di bibir sofa. Tapi toh pertanyaan Jungkook sudah menghantuinya selama beberapa jam terakhir dan ia tahu bahwa dengan mengangkat permasalahan ini ke permukaan—setelah kasus ditutup—adalah keputusan yang tak bijaksana.

Namun sekali lagi; lelaki itu memiliki kepala sekeras batu—Jimin sering mengatainya begitu. Dan sumpah demi Tuhan … ia tak akan tidur tenang sebelum segalanya jelas.

“Bagaimana ….” Jungkook berdeham pelan. “Bagaimana kau memersuasi Jimin hingga ia memiliki rencana seperti ini?”

Awalnya mimik Hoseok menunjukkan rasa bingung yang membayang namun pria itu dengan mudah menggantinya dengan lengkungan tipis di bibir kemudian, “Aku tidak memersuasinya sama sekali, Detektif. Pembunuhan atas Madam hanyalah menjadi fantasi terliarku saja termasuk menyaksikannya menderita dan tak memiliki kuasa apa-apa lagi di dunia ini. Aku tak pernah sekali pun berpikir untuk mewujudkannya.” Kata-kata sang lawan bicara dengan telak memaksa sisi rasional Jungkook bangkit kembali. “Jimin bertanya padaku hal apa lagi yang sering Madam lakukan pada Tuan Tae dan aku menceritakan segalanya. Hanya itu. Tidak ada satu indikasi pun yang mengandung ajakan membunuh Madam.”

“Kau hendak mengatakan bahwa ini semua adalah keinginan Jimin?” Ya, Jungkook tak peduli kalau sang ketua ada di dekatnya dan bisa mendengarnya dengan jelas.

Believe me, Jeon Jungkook. Kau pun akan memiliki pemikiran demikian apabila kau ada di sana bersama kami waktu itu.” Jimin menimpali dan begitu si junior mengganti atensi, ia mendapati sang ketua tengah mengumbar senyum kecil. “Bukan hanya Hoseok yang bercerita tapi juga Mister Lee dan beberapa pelayan lain. I didn’t know what I was thinking but I’m seeing red, Kid. You don’t need to hear more confession from me because I already told you everything, yeah?

“Dan kau juga yang memastikan bahwa kasus ini dibebankan pada tim kita?” Jungkook bertanya dengan tatapan menyelidik.

Jimin mengangguk singkat. “Seokjin, lebih tepatnya. Ingat Selasa pagi waktu aku menerima pesan?” Dan si junior memberinya jawaban bisu lantas pria itu melanjutkan, “Itu dari Hoseok. Pelayan rumah hendak membangunkan Madam dan membawakan sarapan untuknya.”

Dari sebelah kanan Jungkook, sang asisten mengamini. “Aku memanggil Tuan Tae pukul 7.15 pada malam sebelumnya ketika seharusnya ia turun ke ruang makan pukul 8. Madam tidak keluar sejak sore tapi biarlah orang rumah menemukannya esok hari,” katanya. “Lagi pula Jimin dan Seokjin sudah memastikan bahwa kalian akan mendapat jatah libur.”

“Dari mana kau bisa yakin bahwa Madam sudah tewas sejak sore? Bagaimana kau menutup kecurigaan penghuni rumah yang lain ketia ia tidak keluar untuk makan malam?” Jungkook tak tahan dengan rasa ingin tahu lantas memuntahkannya kemudian. Ia sudah meleburkan atensinya pada Hoseok, menunggunya berbicara namun ketika kekeh kecil Namjoon melayang di udara, si junior mendengus.

“Pikiranmu terlalu lurus, Kid. Dan kau perlu berhati-hati untuk itu.” Kalimat sang kepala IT dengan telak menohoknya di dada; tapi tidak sekali pun Jungkook akan mengakuinya. “Whether it’s right or wrong, yes or no, it is all manipulation of thoughts and words. Hoseok hanya perlu memelintir kata-katanya saja supaya orang-orang percaya, hm?”

If you’re trying to say that Hoseok indeed doing a little white lie just say so.” Si junior memutar bola matanya sebal namun di sisi lain, Namjoon hanya tertawa ringan menanggapinya.

Good thing is we’re the only one available that day.” Seokjin tiba-tiba menimpali sambil menyeruput minumannya. “Kapten Yoon dengan mudah memberikan kasusnya untuk tim kita. Waktu itu, satu-satunya ketakutanku adalah presensi tim lain di tempat dan Kapten tak ingin membebani kita dengan masalah baru. Well, ia tahu seberapa keras kau bekerja selama dua minggu ke belakang, Kid. Sifat ambisiusmu itu tak hanya terkenal di tim kita, tahu?”

Duduk di antara Seokjin dan Jimin, si kepala departemen riset menelurkan tawa. “Ya. Pikirkanlah apabila kasus ini tak jatuh ke tanganmu,” ujarnya dengan sepotong ayam di tangan kanan. “Aku tak tahu harus memelintir otakku ke arah mana lagi demi rencana B, C, dan aksara lainnya.”

Untuk sesaat, ruang tengah apartemen Jimin penuh dengan derak tawa dan Jungkook bahkan ikut serta terjun ke sana. Sementara isi boks ayam berangsur habis dan botol kosong cola mulai bertambah, Hoseok semakin sering mengecek arloji di pergelangan tangannya. Keadaan belum sepenuhnya stabil. Taehyung hanya bisa menghubunginya lewat telepon biasa—saat ini pria itu mengandalkan telepon hotel tempatnya tinggal sementara.

Sang asisten menggumamkan sesuatu di antara napasnya sembari membereskan gelas plastik miliknya, mengumpulkan remah keripik, dan memastikan tidak meninggalkan sekeping sampah pun. “Aku harus menjemput Tuan Tae. Dalam beberapa jam kediamannya sudah lepas dari masa isolasi kepolisian,” katanya ketika wajah-wajah lain melempar pertanyaan bisu.

“Sampaikan salamku, yeah? Aku akan mampir.” Jimin berkata pendek. “Pastikan ia memakan makanan yang sehat. Pengembalian gizi atau semacam itulah.”

Hoseok mengangguk. “Tentu saja,” responsnya sambil bangkit; dan Jungkook lantas mengikuti nalurinya untuk mengekor di belakang pria itu ke pintu. Ia baru akan meminta sang asisten untuk menyampaikan sesuatu pada Taehyung ketika pria di hadapannya lebih dulu memutar tubuh. “You want to come? I bet he’ll be happy when he sees you there.” Tawaran itu datang dengan diiringi senyum kecil.

Yeah.” Jungkook mengangguk. “Of course.”

Enam puluh hari terasa seperti berlari.

Seolah baru tadi pagi Jimin mengosongkan total kubikelnya, dan tiba-tiba saja Seokjin sudah bertolak ke Tokyo tiga hari yang lalu. Sepi, iya—sedikit banyak Jungkook merasa kopong. Ada yang kurang tiap sepatunya menjejaki ubin kantor kepolisian sementara dinding bata yang mengukungnya berubah asing. Persahabatan yang dijalinnya dengan sang ketua dan sang dokter tidak terbentuk sehari, dua hari belaka; bertahun-tahun lamanya hingga rasanya seperti saudara. Dan kini, saat lelaki itu tinggal sendiri menduduki kantornya, ia merasa linglung lantaran tak ada lagi tawa mengejek Jimin ataupun makan siang buatan Seokjin.

Jungkook menghela napasnya pelan, mengumpulkan konsentrasi dan menyatukan catatan investigasi tentang kasus penyelundupan narkoba terbaru. Kopi di mejanya baru tersentuh setengah—persetan dengan maag, toh tidak ada yang mengingatkan dia lagi—sementara deru halus pendingin udara mengisi spasi yang ada. Selepas Jimin menyerahkan lencananya, ialah yang ditunjuk untuk menggantikan posisi pria itu. Sang detektif kini mengepalai seorang fresh graduate akademi bernama Zhong Chen Le—anak yang serba ingin tahu, sialnya, sampai mampu membuat seorang Jeon Jungkook mengemis pada sahabatnya untuk kembali dan menyuruhnya macam-macam lagi.

Satu jam kemudian, si lelaki berdiri, menutup map dan seluruh berkasnya, lantas bergerak meraih hoodie di kapstok dekat dispenser. Ada janji yang harus ia penuhi—lantas bersumpah untuk mempersiapkan diri supaya tidak menangis tersedu-sedu layaknya bocah TK kehilangan orangtuanya di mall seperti saat mengantar Seokjin ke bandara. O, dan lelaki itu tahu Jimin sudah merekam dan menyimpan videonya di milis yang kini mereka bagi bersama tiga orang lainnya dengan caption: Look at this cute crying little angel. Please protect him when I’m gone. He’s too good for this world, too pure.

Berengsek.

Jungkook benci mengakui hal ini, tapi … ia rindu teman-temannya.

Hoseok dan Taehyung adalah dua entitas yang menyambutnya di lapangan parkir. Taehyung melambai, Hoseok mengulir senyum ambigu. Jungkook membalas dengan kurva yang sedikit dipaksakan. Dia dan Taehyung sempat berbagi fistbump serta lelucon basi tentang kemacetan dengan sang asisten, sebelum si detektif menempati kursi belakang dan berhadapan dengan seseorang yang mampu membuat perutnya melilit seharian ini.

Park Jimin bahkan tak juga memandangnya ketika bicara, hanya melirik sedetik, lalu ganti memerhatikan bangunan yang telah menaunginya selama lima tahun terakhir semakin mengecil dan mengecil.

“Jeon Jungkook, aku mungkin bukan seorang polisi, tapi aku bisa tahu ucapanmu kemarin cuma bohong belaka.” Sapaan ringan khas Jimin. Dan Jungkook didorong keinginan untuk mencekik si mantan ketua tim sekarang juga. “Kau kelihatan kelewat santai untuk seseorang yang sibuk, Detektif. Dan punya waktu untuk mengantarku di sela jam kerja? Wow. I’m flattered.

Dengusan Hoseok terdengar dari kursi sopir, sementara Taehyung tertawa renyah. “You can arrest him if you want, Jungkook,” tanggap sang tuan muda sambil mengganti kanal radio.

Dan sungguh Jungkook ingin menjawab: detektif matamu, dasar sialan, kembalilah dan ayo bekerja, tugas kita menumpuk tapi yang seharusnya keluar dari mulutnya adalah jawaban sehari-hari berupa: “Haha. Lucu sekali. Kau mau coba berada di posisiku?”

I’d love to. Jadi seorang detektif? Pasti seru sekali menangkap dan menjaga perdamaian di kota seperti Batman. Tapi sayang sekali, Jeon, aku tidak punya kredibilitas di bidang kriminologi.” Jimin nyengir luar biasa lebar saat Jungkook mengepalkan tangan penuh kesumat. “Aku penasaran; boleh tidak kau bercerita tentang kasus apa yang sedang kautangani sekarang? Pembunuhan seseorang?”

Dan Jungkook terpaksa mengubur keinginannya mendorong Jimin dari tebing. Alih-alih mengomel seperti yang seharusnya, ia malah mengedikkan bahu cuek. “Ada kasus penyelundupan narkoba dekat Incheon dan juniorku masih belum mengerti apa-apa. Dia terlalu banyak merengek.” Ingin membalas perlakuan Jimin sedikit, sang detektif menambahkan. “Dan akan lebih mudah bila rekan kerjaku yang lama tidak dipindahtugaskan.”

Hoseok terbatuk hebat di kursi sopir, sementara Jimin mengeluarkan tawa tak bersuara. Dia sempat meninju lengan Jungkook cepat dan si mantan junior sempat membalas dengan pelototan. Ah, kemampuan sandiwara mereka belum berubah sama sekali—mengingat Jimin dan Hoseok pernah menipunya luar biasa dan dengan les singkat dari mereka pula, skill akting Jungkook berkembang. Taehyung, di sisi lain, sama sekali tak bereaksi. Vokalnya mengisi spasi, mengikuti alunan tembang dari radio.

“Aku yakin rekan kerjamu yang lama super hebat, ya, kalau kau menyesalinya begitu?” Hoseok melirik dari spion tengah. Ada senyum jahil yang muncul di sana—beberapa kali menghabiskan waktu bersama sang asisten membuatnya mulai mengenali pola ketika pria itu sedang dalam mood yang bagus.

Well ….” Jungkook mengernyitkan hidung sebal. Dia melirik sang rekan, namun hebatnya, ekspresi Jimin tak berubah. His skill in manipulating expression is on another level, indeed. Hah. Jungkook tidak akan bisa mengalahkannya. “He’s almost as good as me.”

Almost as good as you? Nah, I think he’s better.” Dan saat Jungkook merengut, tawa Jimin kembali berderak kencang-kencang dalam mobil hingga alunan Alone Again milik Gilbert O’Sullivan tertutup. Satu-satunya orang yang berada dalam dimensi blind di mobil tersebut menoleh ke belakang, menumpukan tangannya di sandaran kepala dan mengeluarkan cengiran andalannya.

But it’s true, though, Jim,” kata-katanya membuat Jungkook mencelus. Iya, syukur kepada semesta, sejak mereka sering menghabiskan waktu berempat, Jungkook tak lagi jadi bahan bully Jimin. Taehyung adalah pembela di waktu sulit (yang sialnya punya persepsi salah terhadap dunia). “Jungkook’s really good cop. Mungkin kalau bukan Jungkook yang menangani kasusku kemarin, akhirnya tidak akan seperti ini. Iya, ‘kan, Seok?”

Sang asisten mengiakan pelan, diikuti dengan tawa Taehyung yang lain, membuktikan hipotesis ketiganya bahwa frekuensi tawa si pria makin bertambah. Ada yang merasa sedikit tenang. Yah, setidaknya apa yang diperjuangkan membuahkan hasil bagus.

I agree with Mister Tae.” Hoseok mengabaikan protes reguler Taehyung, lalu melanjutkan, “Jungkook is a really good cop if he can control his emotion.”

Kalau Taehyung absen dari mobil, sudah pasti Jungkook telah menjegal Hoseok dengan sarkasme, begitu pula penolakan dalam hatinya: Jeon Jungkook? Polisi yang baik? Yang benar saja. Akan tetapi, di sini Jungkook harus menanggapi riang, “See, Jim? They know my skill.”

Miris. Sebab menurut sang detektif, Park Jimin adalah polisi yang jauh lebih baik, jika saja Taehyung tahu kebenarannya. Jungkook merasa dirinya hanya segelintir manusia yang terciprat citra yang tak seharusnya jatuh di atas namanya.

Ini rumit.

Setengah perjalanan berikutnya, Jungkook memutuskan untuk lebih banyak mengamati. Ia ingin menyimpan ingatan ini dalam bilik memorinya: tentang kisah Taehyung terkait shiba inu barunya yang diberi nama Shinu—lalu Jimin mengatainya tidak kreatif; lelucon murahan Jimin—yang ditanggapi Hoseok dengan tawa hebat; dan cerita masa lalu keduanya dari Hoseok. Iya, dua bulan kemarin benar-benar menyenangkan dan Jungkook berharap bisa berlalu selamanya.

Dua bulan yang lalu, sesekali Jimin masih datang ke kantor untuk menyapa seluruh polisi wanita yang bertugas, sementara Seokjin masih menyelesaikan beberapa berkas di lab. Kemudian mereka akan makan siang bertiga dengan atmosfer yang sama seperti sebelum kasus kematian Madam Kim. Jika suasana sedang baik, malamnya, Jimin biasa mengajak Taehyung ke tempat-tempat nongkrong asyik—masih untuk menggoda para gadis—dan karena tak ingin tertular kesintingannya, Taehyung mengajak Jungkook.

O, pertama kali mereka “dikenalkan” Jungkook nyaris menembak kepala Jimin karena pria itu menggelitik telapak tangannya. Sangat sulit menekan keinginan buas kala ia harus memertahankan air wajah netral, bukan yang penuh api dan ajakan perang. Park Jimin tahi kuda.

Dan sekarang Jungkook merasa marah. Selama ini ia bergantung pada asumsi fana bahwa semuanya baik-baik saja. Tak akan ada yang pergi atau ditinggalkan. Tak ada yang digelayuti dosa rasa bersalah. Tapi ketika dua orang yang paling ia percaya di antara semuanya—orang yang menjadi pemandunya, orang ia tahu yang akan selalu membelanya, teman baiknya—harus angkat kaki, lelaki itu bingung bagaimana mengulang rutinitas.

Demi Tuhan dia ingin sekali menarik Jimin ke tempat yang lebih privat, menghajarnya hingga pria itu tak bisa bergerak, hingga senyum jeleknya hilang, dan berakhir dibawa ke rumah sakit, membuat kepergiannya ditunda—atau minimal, mengucapkan salam selamat tinggal yang sebenarnya.

Stasiun Seoul terlihat sibuk seperti biasa. Hoseok memarkir mobilnya di area yang paling dekat dengan pintu masuk, sementara mereka turun dan Taehyung menjadi orang pertama yang membantu mengeluarkan koper super masif milik si mantan ketua tim dari bagasi. Hoseok melempar rengutan pada Jungkook, bermakna: kenapa-bukan-kau-saja-yang-membantu-tolol tapi si lelaki mengibasnya jauh-jauh.

Man, do you really have to go now? We just met and you just got close with Jungkook. Let’s have some fun together. Kalau kau memang dipecat dari tempat kerjamu yang lama, kau bisa cari kerja di Seoul, ‘kan? Atau … kau mau kerja di Young-ja? Ingat Kris Wu yang Jungkook ceritakan waktu itu? Rekomendasi dari Min Yoongi—atau siapa, Kook, nama temanmu? Yah, pokoknya dua minggu lagi Kris akan dilantik sebagai kepala divisi agribisnis yang baru dan aku bisa melobi dirinya untuk memasukanmu ke salah satu bagian di kantor. And we’ll meet there after I graduate from college.” Taehyung menggeser koper Jimin pada yang punya saat mereka sudah di depan pintu keberangkatan, memandangi rengekan itu dengan senyum kebapakan. Akan tetapi terbiasa menonton mana kejujuran dan mana kebohongan, Jungkook sadar bahwa dwimanik Jimin punya kilat lain yang berbeda.

I’d like to stay but I can’t. Sorry, Tae. Really.” Dia menepuk bahu Taehyung dua kali. “But it’s good to hear you finally enroll to a college. University of Seoul and a major in business administration, yeah? What a great achievement. I promise I’ll come on your graduation day.” Kemudian maniknya melompati Jungkook yang berdiri di tengah-tengah menuju Hoseok sambil menyulam satu kurva lagi. “Seok, please take care of this idiot.

“You know I’ll do it, Jim. That’s my job.” Lalu Hoseok terkekeh saat Jimin tertawa.

“Kau dengar itu, Tae. Dia yang akan mewakiliku menghancurkan koleksi figurinmu kalau sampai nilaimu jelek.”

Dan di situlah sang detektif ikut masuk. Ia muak mendengar konversasi remeh-temeh demikian dan sebagian dari otaknya mengutuk diri sendiri yang kembali dibuncahi emosi hingga ia mampu menyatakan apa yang mengganggu dirinya sejak pagi. “But … I guess he’s true, Jim. Kau punya kesempatan yang lebih besar di Seoul. Why don’t you stay?

Jimin menggeleng dan ketika manik mereka bersingunggan, senyum pria tersebut akhirnya sedikit luntur. “I have my own reasons. O, aku tak pernah mengatakan ini sebelumnya, Jeon, tapi karena ini perpisahan, jadi … you’re a pretty cool cop, Man. Thanks for being with Taehyung when I’m not.

Ada yang jatuh dari dadanya; sang detektif mencelus.

Itu sebuah sarkasme, Jungkook paham. Bahwa Jimin menagih janji-janji yang selama ini terucap otomatis dari bibir Jungkook. Selama kasus berlangsung, pemulihan dan ketika mereka menata rencana untuk hal-hal selanjutnya.

Kebencian yang teramat sangat tiba-tiba saja muncul. Kini kepergian Jimin terasa seakan pria itu tanpa pikir panjang melepas tanggung jawabnya setelah membunuh Madam Kim dan meletakan bebannya di pundak Jungkook. Ialah yang harus membereskan semuanya sendirian di Seoul, sementara oknum yang sebenarnya berleha-leha di Busan. Katakan, teman macam apa yang melakukan hal demikian?

Tapi di sisi lain, lelaki itu tahu pikirannya salah.

Jimin berhak memilih setelah ia mengurbankan seluruhnya demi mencapai titik ini—harga dirinya, kariernya, hati nuraninya—dan sekarang giliran Jungkook untuk melakukan hal yang sama. Ia juga punya dosa, mungkin yang paling berat, dan ia juga harus menanggungnya.

Sialan.

Memotong pikiran liar sang detektif, monitor yang menempel beberapa meter di sebelah kanan mereka berkedip, diikuti suara wanita beraksen monoton dari stereo, mengabarkan bahwa KTX yang ditumpangi Jimin akan berangkat dalam waktu sepuluh menit. Sang mantan ketua tim mengembalikan ekspresinya semudah menjentikkan jari, lalu menepuk bahu Jungkook dengan tatapan ambigu.

Seketika memori Jungkook berputar dan kemarahannya remuk kala ia ingat itu ekspresi sang mantan detektif saat membongkar seluruh cerita di kamar Madam.

That’s my cue. Gotta go now,” ujar Jimin pelan, menarik napas dan mengeluarkannya lagi. Gestur yang sangat tidak biasa.

Sang pria mengambil satu langkah maju kemudian menarik Taehyung dalam satu pelukan persaudaraan singkat. “Don’t be too kind, Tae, it’s a trap. You’re not Cinderella. Too much kindness won’t get you anywhere.

Kemudian Hoseok, yang balas menepuk punggungnya beberapa kali. “Don’t get in a fight with anyone. Visit me sometimes, yeah? With or without Taehyung.”

Dan terakhir Jungkook yang awalnya menolak, namun tetap tak punya pilihan. Ia sedikit bersyukur ada Taehyung mengawasi mereka; jadi sang detektif tidak bisa mengulangi perbuatan memalukannya seperti dengan Seokjin. Susah-payah, sang lelaki berusaha mengontrol diri sebaik Jimin. Dia menutupi bibirnya dengan tangan saat berbisik, menuturkan harapan kosong yang sudah ribuan kali diulang tanpa lelah:

Could you not go if I protect your name, you freakin’ moron?

Listen to me now, my precious little Jeon Jungkook who has to grow up so quick—” Jungkook tak melihat wajah Jimin, namun ia yakin pria itu juga tengah bertarung dengan emosinya sendiri karena bisikannya yang pecah di akhir kalimat serta jedanya yang tak biasa, “—I’m sorry I have to go. You know why. I’ll tell you everything else later, I promise. We can’t talk too long because we just met and I don’t want him to think I’m gay because I’m not. Just fulfill your duty to take care of Tae and please do the same to the rest of the crew, including Namjoon. Remember to eat on fucking time, not too much coffee, protect the justice of this city and guide your new petite junior well. But I’m still your team leader, though, so reach me or Seokjin if you need advice for new cases; we’ll be gladly help. Also, don’t quit!” Sang mantan ketua mengatakan pesan terakhir dengan suara normalnya—rupanya sudah memiliki pegangan di saat Jungkook masih tenggelam. Dia tertawa dan bahkan menghadiahkan satu cubitan di pipi Jungkook.

Tingkah Jungkook yang melompat penuh kehororan bukanlah bagian dari sandiwara kecil mereka, akan tetapi benar bahwa ia sulit melepaskan rasa sesak yang membesar dalam dadanya.

That’s disgusting.” Taehyung menegur dengan ekspresi jijik, sementara asistennya memilih untuk memandangi banjaran mobil di lapangan parkir. “And you scared him.

“Did I?” Jimin mengedip pada Jungkook dan si detektif hampir memborgol tangannya. Dia tertawa kelewat keras, nyaris seperti orang gila. “Sorry.

Detik ini, demi dusta racun tikus Madam, Jungkook menyesali keputusannya tidak mengurung sahabat-sahabatnya dalam sel. Setidaknya, Jimin ‘kan jadi tak perlu pergi. Dan Seokjin tak harus mengambil pekerjaan baru di Jepang. Dan mereka tak perlu mengucapkan hal-hal yang membuat mata bodohnya berkaca-kaca di hadapan Taehyung.

Dan ketika akhirnya Jimin mengencangkan tali ransel serta mulai menarik koper, melambai sambil berjalan mundur, Jungkook tak berani mengambil risiko untuk mengumbar kedoknya di hadapan Taehyung. Pelan-pelan, si lelaki mundur, bersembunyi di balik troli dan pura-pura menjatuhkan sesuatu di sana sementara Hoseok mengawasinya lewat ekor mata. Persetan dengan Jimin yang mungkin akan marah-marah ketika menghubunginya nanti—bahwa Jungkook tidak sopan dan sebagainya—dalam pembelaannya, melihat punggung Jimin yang menghilang bisa membuatnya menangis. Dan tentu tak ada di antara mereka yang ingin hal demikian terjadi.

Entah berapa lama hingga Jimin pergi di balik pintu keberangkatan, namun ketika Taehyung menepuk bahunya, bertanya apa yang dia lakukan, Jungkook hanya menjawab dia kehilangan koin, dan menjadi yang paling pertama meninggalkan lokasi.

Ketiganya kembali berjalan menuju mobil dan Taehyung berkata dengan lengan yang melingkari bahu sang detektif. “Jimin … he can be a little crazy sometimes, but he’s pretty good, right? It’s a pity you got to know him in such a short time.

Yeah. I liked him.” Jungkook mengulir senyum, menoleh pada Hoseok yang masih menghindari tatapannya, kemudian bertanya, “Can I drive? Can we go to some happy place?

Hoseok melirik Taehyung dan ketika ia mengangguk, si asisten mengeluarkan kuncinya, menjawab ringkas, “But please drive carefully. Aku tak mau kita semua mati di jalan.”

“But then it’s you who have to drive home tonight.

Senyum Hoseok muncul kala ia memberikan dukungan pada bahu kanan Jungkook. “Sure.

Ah, Jungkook butuh minuman paling keras yang bisa didapatkannya malam ini.

—-—

Time is so cruel, I hate us. Now it’s hard to even see each other’s faces.

Stay there a little longer.

—fin.

  • foreword and end-word taken from BTS’ Spring Day.
  • the playlist [spotify ; youtube] ; the visual [pinterest]
  • fun question: what is prussian blue? hoho. yang menang nanti dikunjungin detektif jjk.
  • never get tired to say thank you, thank you, and thank you for keeping up with us, hehe. maybe, maybe, there’ll be more coming~
  • nanti lagu credit endingnya Spring Day dulu terus dilanjut So Far Away. Semesta bersama Bangtan dan Agust D mendukung pembuatan cerita ini. HAHAHA. (terus ngumpet).
  • lotsa love from fika and evin. see you soon! ♥~
Advertisements

11 thoughts on “Prussian Blue [06 – END]

    1. Karena ini the lastest last aku mau fangirlingan di prublue 6 :(( (padahal biasanya juga fangirlingan).
      Biasanya kutak membuat poin-poin tapi di sini tuh kayak “YA AMPUN SCENE FAVORITKU,” tapi terus lanjut baca “OMG SCENE FAVORITKU!” dan begitulah seterusnya sampe habis jadi kurasa sesi ini mungkin lebih panjang dan lebih sampis dari biasanya (maafkan aku ws, kak fika, dan evin ini ngga papa aku eklas buat dispam terus dimasukin tong sampah huhuhu).

      – Jujur ini shameless tapi emosian dan grusa-grusunya jk di sini agak nyerempet ke watak yoonbi juga gitu (LAH KENAPA JADI PAKE NAMA SAMARAN HAHAHAHA) DAN ITU MIRIS jadi seiring baca ini aku jadi yang kayak … “okay tiap ada masalah emang kudu dipikir baik-baik ya kalo perlu pinjemlah kacamata dari optik daripada nyaman pake kacamata kuda tapi ngga tau apa-apa di sekeliling kan jadinya zonk (dan masih menyesal karena sempat mencurigai nae saekki uri taehyung).”
      – Baju kebesaran taehyung selalu jadi kelemahanku 😦
      – “Setidaknya aku bisa tidur nyenyak setelah ini. Well, aku tidak bersyukur sedikit pun atas kematian Madam tapi kuharap ia akhirnya bisa tenang. Iya ‘kan, Jungkook?” Ini susu cokelat sama chic choc aku masih ada, tae, buat kamu semua dah serius nda papa! Tapi asalkan janji sikat gigi dan tidur yang nyenyak. Ya ‘kan, Kook? (BAPER ABIS).
      – HELP setiap kali taehyung describing about jimin to kuki kak fik dan evin PLEASE HELP ME INI URGENT HELP MY HEARTEU!!! :(((
      – BTW AWAS YA JIMIN SESAT U NGAJAKIN KIMTAE KE TEMPAT DAN NGAJARIN YANG NGGA BENER!
      – DI MANA ADA WANITA DI SITU ADA JIMIN AS OM-OM GEMAS SELALU MEMBUATKU NGUQUQ xD
      – Kemarin sih biasa aja tapi kenapa sekarang mulai ikutan kesel sama namjoon yha sejak dia bilang “Whether it’s right or wrong, yes or no, it is all manipulation of thoughts and words.” YEOKSHI LOVERNYA MADAM CIE.
      – NAH ADEK CHENLE YANG SABAR YA DAPET ATASAN KAYAK JUNGKOOK TABAHKAN DIRIMU, NAK! MBAK AKAN SELALU MENDUKUNGMOE. Apalagi kasus narkoba tuh beneran deh ngga main-main, dek, serius deh percaya sama mbak. :”””))))))
      – THAT MOMENT WAKTU BEREMPAT ADA DI DALEM MOBIL :”””)))) Please akting kalian why so sangat membuatku lembek perlakuan kalian terhadap taehyung please aku lembek melebihi lembeknya super bubur yang airnya satu senti di atas mangkuk kuningnya 😦 IYA, TUMPEH-TUMPEH GITU :((
      – APALAGI WAKTU TAEHYUNG PUTER BALIK DARI JOK MOBIL DAN BILANG KALO JK EMANG THE BEST COP YA ALLAH KUATKAN HAMBA ATAS COBAAN YANG ENGKAU BERIKAN MELALUI JARI-JARI LINCAH KAK FIKA DAN EVIN INI :(( itu terlalu inosen dan fluffy tapi pedih buat jimin dan kuki I KNOW DAT FEELING iya aku bisa tahu soalnya diri ini sejatinya jadi mbak-mbak figuran yang digodain jimin tuh yang namanya dirahasiain sampe sekarang :((
      – Kenapa cubitan pipi jimin ke kuki membuatku patah hati karena habis itu langsung pisah :(( kesel w! DUH BAKAL KANGEN JIMIN YANG APA-APA DIBIKIN BECANDA INI GIMANA DONG 😦 btw kuki kenapa ngga sekalian hati kamu aja yang dijatohin biar jimin yang gantian nangis-nangis dan nggak jadi pergi? :”)
      – KUKI TOLONG DIDENGARKAN YHA PESAN DARI MAS JIMIN-NYA. MAKAN TERATUR BIAR MAAG NGGA KAMBUH, JANGAN CUMA MINUM KAFEIN (iya, bisa kopi atau teh tarik). DIMOHON SEKALI YA BAIK UNTUK KUKI DAN KAK FIKA (LOH).
      – SHIBA INU = SHINU AKU HAMPIR YAKIN 100% KALO YANG INI TULISAN EVIN HUEHEHEHEHE KARENA SHIBA INU YANG COBONYI (tapi cmiiw kalo salah kumohon dengan sangat komen ini dispam aja bcs maloe-maloein :”)

      TERIMA KASIH EPILOGUE-NYA KAK FIKA DAN EVIN HEUHEU AKU BELAJAR BANYAK EXPLORE CHARACTER DI SINI (ini serius padahal awal tadi udah berusaha nggak se-emosional jk tapi makin ke sini kok kepslokan sih SEBAL). Sangat recommended baca sambil repeat spring day huehehe. Bogoshipda~ bogoshipda~ gitu kan vin?? wkwkwkwkwkwk xD

      OH IYA! Prussian blue itu penawar talium, ya? Terus pikiran mellow-ku bereaksi kalo mereka nih seolah jadi prussian blue buat taehyung gitu huehuehue terharu :””””

      Gyaaaaah terima kasih atas semua ini :”))) ditunggu project selanjutnyaaa semangat semangat much love from meeeee!! ❤ ❤ ❤ ❤

      Like

  1. HOHO FIKA EVIN WAE AKU BARU BACA NOTIF INI PRUSSIAN BLUE ADA LAGI HUWAA KUINGIN MENANGIS AMPE BERAPA KALI KEPENCET UNFOLL-FOLLOW BLOG WS SAOLOH SAKING SENENG SKROL ITU TANDA KEPENCET MULU NANGIS BENERAN HUHU INI BUKAN APRIL MOP KAN ADUH SAYANG-SAYANGKUH T.T /PLS SKIP INI AJA GPP KOK/ :”)

    Aku mau terharu dari atas ampe bawah boleh? Soalnya tiba-tiba update part end trus isinya bawang semua ini aku ampe nangis terharu bikos ada ketawa juga kayanya udh dikira gila di tempat kerja ini wae huhu 😂
    Kangennn bangetttt ❤ serius kangen banget sama ff ini ampe gak sadar waktu itu 2x ngulang baca ini gak bosen-bosen :”)

    Ini chapter paling the best, tapi semuanya the best kok xD ((juls tentukan pilihanmu))
    Mau komen apa disini ampe gatau yalord berikan jalan terbaik untuk hambamu ini :”

    Cuma mau ketawa aja dek chan sama dek chen(le) kenapa jadi bawahan jjk semua mau ketawa aku serius dedek muka imut xD
    Hoho dan selalu suka bagian mereka sandiwara HAH pinter banget mending jadi aktor sama kakak-kakak serius aku kesel tapi nangis klo acara perpisahan gitu ((terkutuklah dikau park jjmin!) dan kutipan spring day … makasih kak aku baper setengah mati habis ini :”))

    Wae Tae masih gatau bagaimana 6 orang di belakangnya bersandiwara sedemikian rupa ampe ninggalin jjk sendiri gitu aku rasanya pen pukpukin huhu

    Ciri khas ff ini emang segala umpatan itu gak pernah hilang ^^ Park Jimin tahi kuda best of the best! ❤ HAHAHA
    Trus ngebayangin banget lohh bagian ini “Look at this cute crying little angel. Please protect him when I’m gone. He’s too good for this world, too pure.” AIGUU BABY JUNGKUKI KAMU TIDAK SENDIRI KOK NAK KUJUGA BAPER ABIS :”)

    Habis itu ya pesan terakhir jimin ituloh -_- gak di dvd epilogue, gak disini sama aja ngajakin baper terus nangis :” gak kebayang jjk tanpa mrk berdua itu gimana huhu gaes ini diluar ekspetasiku banget endingnya sedih ae semua pada berakhir dengan jalan masing-masing

    Apalagi ya….

    fun question: what is prussian blue? – OH IYA INI HAHAHA DARI AWAL PENASARAN BANGET SAMA ARTI JUDULNYA TAPI TETEP AJA GATAU MAU NANYA TAPI MALU XD HAHAHA

    Intinya makasih banyak untuk part bikin kangen ini! ❤
    Walau berat menerima ff ini selesai, tapi kalian udh kerja keras gaes makasih banyak!
    Oh iya pict-pict di pinterestnya juga makasih hehe gambarannya luar biasa mengesankan!
    Sebenernya mau komen panjang lebaarrrrrrr tapi lupa gaes maafkan aku 😂

    Salam hangat dan cinta dariku 💕

    Like

  2. JIMIN HUHUHUHUHU

    oke, pendahuluan dulu. YEAY ITS FINALLY THE END congrats kakfika kakevin kalian emang luar byasaaa!

    Part ini tuh soooo touching :””) terutama antara jimin-jk omo aku mau nangis huhuhu kakfik kakev siapkan ember pokoknya ya gamau tahu nih kalau kebanjiran 😦 mereka tuh apa ya, minta dibawa pulang bangetlah intinya. dan bagian pinched on da cheek thoooo HAHAHAHA jk ah sosoan deh, kan jarang-jarang jimin unyu-unyuin kamu.

    duh aku nggak tahu mau komenin apa lagi huhuhu ini daebak pancen oye! ditunggu projek duo F selanjutnya! ♥♥

    Like

  3. Akuuu tuhhh, belum baca chapter 4&5 tapi kok baper bangetttt baca ini. Terlepas dari ketertinggalanku di 2 chapter sebelumnyaa (yg bakal segera kutebus hehew), aku menikmati banget baca chapter ini soalnyaaa duh friendshipnya kental bgtt dan kusyukaaa. Jiminnnn tuh yang… awww bikin ku semakin pengen ngebias dia wkwk. Keep up the goodwork kak fika dan evin.

    Like

  4. WEEEEEEE
    Karena saya ga ninggal komen di 5 jadi saya rapel di sini
    Aaaaargh keren bgt sumpah twistnya, jjk kok ga dilema dan lgsg ngambil langkah seperti itu ya hmm rada ga sreg sih tapi gapapa deh gapapa
    GAPAPA DEH YAAA SOALNYA JJK UNYUUU
    Udah jadi polisi aja masih unchunch gitu sih aih bayinya Seokjin.
    Aku harus komen apa, kurasa semuanya sdh benar … Yg bagian ‘dispose of me that easy’ itu harusnya easily bukan? Eh aku lupa kalimatnya sebetulnya
    Yg lain keren sih keren pokoknya ya review ini sungguh tak berguna tapi jariku gemes pingin ngetik -.-
    Aku gatau prussian blue apaan, tadi nengok kunci dari Bella, itukah jawabnya? Ehe
    Keep writing kak Fika dan evin!
    PS itu Zhong chenle ngapa di situ -.- masih pake popok juga. Kalo org cina bisa masuk ke kepolisian Korea ya ternyata?

    Like

  5. TAHI KUDA TUH APA SIH AJARI AKU MISUH DENGAN SENI KOTORAN HEWAN PLIS QQ QQ
    .
    .
    .
    Sek ini kenapa ada Kris Wu HAH KENAPA HAAAAAAAAAAAAAAAAAAH?!?!?!?!?! GAK CUHKUPZ KAH KAK FIKA DAN EVIN MEJENGIN 7 KURCACI GIZI BURUK (yang mana membuat mereka setinggi Namsan Tower)??????????????????????????

    HAHAHAHAHAHA AKU TUH KEMAREN SKROLL TUH PERCAYA GAK PERCAYA
    ha ko ada chap enam
    ha ko the end
    ha ko ada lagi ini kayae kemaren ku sudah ngomen
    ha
    ha
    haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaasemeleh

    anak didikan bighit tuh kenapa ya bikin ubanan di awal umur :((

    btw,
    Evin sama Kafika kayanya uda cocox jadi trainee BigHit abis trollnya uda kek gini uban material
    .
    .
    .
    Jadi, kapan kaleyan berdua mau berangkat ke korea? Korea utara?

    Like

  6. Berasa banget ya atmosfir friendshipnya disini. Tapi taehyung emang gitu ya karakternya haha, kalo depan org diem, asik sendiri terus ya happy.
    Sepanjang aku baca, dia lebih sedikit dialognya drpd jungkook jimin. But its not a big deal lah. Endingnya manis semanis senyum taehyung.

    Well done kak fika, kak evin!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s