Flowing Chansonnette

Flowing Chansonnette © Fantasy Giver

Take all my loves, my love, yea, take them all;
What hast thou then more than thou hadst before?

Have I told you lately that I love you?

“Your friends are hot.”

Sungguh Leah harap pernyataan itu hanya selorohan siang bolong. Tapi Eugene dan tangannya yang sibuk menggerakkan mouse, menyelidik satu per satu foto liburan kelompok pertemanannya ke Hawaii musim panas kemarin—ditambah sorot matanya yang bersinar-sinar, wajahnya yang memerah dan senyumnya yang muncul—sudah bisa membangunkan seekor monster dari dalam perut si wanita.

Monster yang merasa terancam.

“Apa? Coba ulang.”

Mungkin Eugene sudah bosan hidup saat ia menoleh dan mengulir kurva paling menyebalkan sejagad raya. “Your friends. Are. Hot.” Kemudian tawanya membakar si monster hidup-hidup dan Leah harus menahan diri supaya tidak meninju hidung pacarnya sampai copot. Kini berani-beraninya pria itu mengambil tangannya dan membawa mereka ke depan layar monitor.

Betul ‘kan? Melihat apa yang terpampang di sana, si monster langsung mengaum ganas. Seumur hidup, Leah tak pernah merasa sebegini sebal dengan teman-temannya. Ia merasa berdosa, tapi di sisi lain butuh pembenaran.

Eugene berengsek.

I hate you.

“Iya, aku tahu. Tapi kau lihat gadis itu—iya, dia yang paling jelek dan paling kerempeng dan paling kumal di tengah itu?” Eugene mengumbar kebencian lewat mulutnya yang beracun. Maksudnya? Iya, siapa lagi selain Leah, ‘kan? Si wanita merengut sebagai jawaban. Dan si pria tak mengambil tedeng aling-aling untuk mendaratkan cubitannya ke hidung sang kekasih.

“Tidak ada satu pun yang sekeren dia.Satu cubitan lagi di pipi. “And maybe … just maybe, I can’t find a way out when I fell in love with her.”

Leah mendengus pelan. “Ha. Serves you right.”


I need to know what’s on your mind, these coffee cups are getting cold.

Adalah sebuah kegiatan yang selalu disukai Summer setiap kali ia pulang. Duduk berjam-jam di depan komputernya, memilah mana foto yang bagus, mana yang biasa saja dan mana yang benar-benar jelek untuk kemudian dipindahkan ke dalam tiga folder berbeda tujuan. Yang paling bagus akan dikirimnya ke redaksi, katanya. Kemudian yang biasa saja akan diletakkannya sebagai arsip. Dan yang benar-benar jelek—well, untuk bahan pembelajaran.

Dan Rolf kira ditinggal selama beberapa bulan hanya untuk menangkap gambar hewan-hewan liar sudah buruk—tidak perlulah diduakan dengan mereka lagi di rumah. Tolong. Sekali-sekali, perhatikan dia. Kadang Rolf sampai curiga apakah kalau ia mengajak wanita itu liburan berdua ke Maldives, Summer akan memilih zona migrasi capung alih-alih sebuah pantai untuk rekreasi.

Tapi mana mungkin Rolf merengek-rengek bak bayi, ‘kan? Maka, karena dia pintar, Rolf mudah saja mencari cara agar Summer mau menoleh padanya barang lima menit saja.

“Kau benar-benar menikmati pekerjaanmu, ya?” tanyanya sambil meletakkan teh kamomil kesukaan si wanita di meja komputer. Summer langsung melirik—yes, dia mendapat atensinya. Sekarang saatnya beraksi. “Kau pernah tidak, sih, berpikir untuk cuti sebentar dan liburan bersamaku?”

Summer menunjukkan senyum yang bisa membuat Rolf gila seketika. Ia mengangkat cuping gelasnya, lantas menghirup aroma tehnya lamat-lamat. “Tentu saja pernah,” cericipnya. “In fact, this is my last work before I take a break. Maybe for a year?”

Sontak, Rolf gelagapan. Sejak kapan? Wanitanya begitu mencintai pergi untuk memfoto; kemudian sekarang mengambil cuti untuk setahun? Tidakkah akan membuat kehidupannya menjadi kering?

Ekspresi itu rupanya dapat ditangkap Summer, membuatnya menarik tangan Rolf sambil tertawa sedikit. “I’ve always liked traveling, Rolf. I don’t want to stuck in one place. I love nature. But lately I realized that I always want to go home whenever I’m on an expedition.” Ia melanjutkan dengan mengedikkan bahu ringan.

“Well, it seems that I’d rather stuck with you now.”


Standing in the light of your halo; I got my angel now.

I’ve got crackers, DVDs, your favorite blanket, mango juiceo, and I’m on my way to buy a bowl of porridge. Do you need anything else?”

Isaac menunggu, namun tak terdengar jawaban di ujung sana. Ia mengerutkan kening khawatir, terpaksa mempercepat langkah sambil memeluk seluruh bawaannya di satu tangan sementara ponselnya terjepit di antara bahu dan telinga dan sebelah lagi yang merogoh kantong demi eksistensi sebuah kunci mobil.

“Ruby, do you need anything else?”

Dan si pria menyesali alarm mobilnya yang terlalu keras, menutupi jawaban sang wanita di ujung sana. Isaac menelan ludah pahit—apakah temannya sedang selemah itu untuk sekadar bicara? Seberapa buruk keadaannya? Demi Tuhan.

Ia menekan seluruh kekhawatirannya dalam-dalam dan tempo pergerakannya hampir berubah jadi lari. Agar kesalahannya tak terulang, ia bertekad untuk mempertanyakan lagi setelah semuanya terkendali. Dengan cepat, si pria membuka kendaraannya, melempar seluruh bawaannya ke tempat duduk di samping dan menyalakan mesin.

Come again, Rube? I didn’t hear you.”

Ada jeda yang diisi helaan napas, lalu wanita itu menjawab serak. “You.” Dan jantung Isaac melompat pada ritme yang tak seharusnya. “Don’t buy anything else, Isaac, just come here. I need you.”

Hubungan itu diputus sebelum Isaac mampu mendengar isakan Ruby untuk kedua kalinya semalaman ini.


I get to kiss you, Baby, just because I can.

Keinginan Lucy sejak ia tahu fungsi lawan jenis merupakan menjadi partner dan bukan musuh adalah melakukan adegan seperti film-film romantis: berjinjit, mencium sang kekasih, lantas mengangkat satu kaki sampai posisi sembilan puluh derajat. Iya, katakan dia klise atau cheesy, terserahlah. Tapi Lucy bersumpah akan melakukannya kalau ia dapat pacar.

Sayang, begitu ia dapat seseorang yang legal dicium kapan saja, pacar yang dimaksud adalah seseorang yang tingginya serupa galah disambung tiang listrik. Dan panjang tubuh si gadis yang hanya setunas kelapa makin menyulitkan keadaan.

Ketika suatu hari Lucy iseng ingin mewujudkan cita-cita rendahannya—bahkan sudah menyuruh Nicholas untuk menutup mata dengan konyol—gadis itu baru sadar bahwa dia membutuhkan sebuah dingklik atau sepatu hak sepuluh senti. Dan demi sup kepala kambing, tidak ada yang pergi ke taman bermain—belakang sebuah arena yang sepi, tepatnya, haha—menggunakan sepatu hak, ‘kan?

Usahanya untuk berjinjit sia-sia karena tanpa melompat, ia takkan bisa mencapai targetnya. Ha. Ujung kepalanya saja hanya sedagu si kekasih.

Jadi, ketika Nicholas membuka mata untuk menatap si gadis yang mendongak dengan campuran antara kesal dan malu, dia cuma menarik napas panjang-panjang.

“Kau mau apa, sih?” tanya Nicholas dengan kedua alis yang bertemu. “Menciumku?”

Warna merah naik dan kini mewarnai seluruh wajah Lucy. “… ya,” akunya pelan sambil menekan seluruh gengsi. “But you’re too tall, Nicky. Damn you.”

Kekehan renyah Nicholas berderai di udara. Pemuda itu menggelengkan kepalanya lalu mendesah pelan. Mungkin sekarang imajinya di kepala sang kekasih sudah sangat rendah. Serendah tubuhnya? Ha, menyebalkan sekali.

Tapi detik berikutnya, lengan Nicholas sudah melingkar di pinggangnya dan gadis itu terangkat ke udara. Awalnya Lucy terkejut, tentu—ia bahkan hampir berteriak kalau Nicholas tidak memotong dengan ucapan, “Do what you like to do,” sambil tersenyum jahil.

Jadi … yah, untuk mempersingkat cerita, cita-cita Lucy tercapai.

(Meski dua kakinya yang terangkat ke udara, bukan cuma satu. Tidak apa-apa. This is more than enough.)

.

Fin

.

.

A/N:

  • who needs a dose of fluff? (me!)
  • happy easter to those who celebrate it!
  • some are inspired by some illustrations. terus baru dipasangin sama lagu yang pas (halo by lotte kester, bukan yang beyonce. bcs saya suka banget gentle-gentle gimandos gitu. hehe.). foreword from Shakespeare’s Love Sonnet 40.
  • thanks for reading!
Advertisements

12 thoughts on “Flowing Chansonnette

  1. who needs a dose of fluff? MEEEEEEEE! *angkat tangan sambil loncat2*
    Abis baca ini rasanya hatiku jadi penuh cinta. Haha.. Yg diromantisin siapa, yg berbunga2 siapa 😂😂
    Eniwei, yg di kalimat pertama cerita pertama, you’re-nya sengaja ditulis kayak gitu?

    Like

    1. halooooo, kak ayaaa!

      ayo kita cari asupan fluff bersama-sama! hehe. awaaaa gapapa berbunga-bunga, kak aya, ini semua aku romantisin kok he he he. IYAAAAAAAA kemaren aku kayak distracted gitu terus your kok jadi you’re tapi udah kubenerin, kak ayaa, makasih yaa koreksiannya dan makasih udah baca! :))

      Like

  2. OMO KAK EVIIIINNN THIS IS WAY TOO KYOT MANA AKU BACANYA DI LAB KOMPUTER SEKOLAH PIYE IKI AKU GABISA FANGIRLING ><
    Tau ga sih kak pas baca yang pertama tuh aku udah bete duluan aku pengen nabok Eugene pake raket listrik mana aku bayanginnya tuh ini Eugene Lee Yang a.k.a co-worker Buzzfeed yang sassy-nya minta ampun itu -_-
    Ini kalo kata anak hits zaman sekarang mah sangat relationship goals, hahaha… Padahal relationship goals itu yang gimana aku aja masih nggak mudeng.
    Ih pokoknya nae neomu joha eonnie yaelah ngomong apa aku nih, keep writing Kak Evin ❤

    Like

    1. HAYO RANI BELAJAAAAAAAAR! HAHAHAHA

      IYA EUGENE LEE YANG AKU TAU TUH ORANG YANG DI TRY GUYS KAN hahahaha masa aku jadi kepikiran dia tau pas kamu nulis ini xD habis dia emang ngeselin gitu kan orangnya, hahahaha. relationship goals xD HAHA jangan lah, raaan. bikin goals sendiri aja, gausah ikut-ikutan hahahaha. makasih nae dongsaeng kamu semangat terus ya dan jangan main hp terus di kelas dan buka yang aneh-aneh di lab komputer raaaaan! ❤

      Like

  3. kaak eviiinn… ini manisnya tumveh tumveeehhh. gak bisa berhenti senyum2 pokok 😀
    itu si eugene dibungkus bawa pulang asik kali yaaaa…
    kucintakucintakucinta ❤

    Like

  4. “who needs a dose of fluff? (me!)” — ME TOO!!

    demi apa evin, titan pagi-pagi buka ws dan udah disuguhin cerita floofy kaya gini aaaaaaaaaaaaaaaaaaa my heart!! :”)))

    i think i have cavities. your fault.

    ajari titan nulis romance dong vin bc seriously, this is gold ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s