Domestic Monsters: Jam Session

© 2017, Catstelltales

Featured image is taken from: Unsplash (Photo by Patrick Schöpflin)

Dari: Laboum Fawkes

Untuk: Siapa pun yang memperoleh undangan ini.

Perihal: Pesta besar di rumahku, kalian bisa ajak pasangan masing-masing, tidak perlu bawa apa pun (kecuali kalau kalian suka merek minuman tertentu yang disuling secara tradisional dan rasanya seperti balsam pijat).

Lokasi: 170-178 Kitamura Apartment, 7th Avenue, Park Slope, Brooklyn, NYC.

PS: Mohon kirimkan RSVP ke alamat yang sama, sebagai bahan pertimbangan acara.

Baru satu minggu kemarin sebelum induk semangnya pulang ke Jepang, Laboum menuai peringatan dari Mr. Kitamura. Katanya, para tetangga bermasalah dengan kegaduhan yang dibuat wanita itu gara-gara selebrasi kenaikan pangkatnya yang tidak tanggung-tanggung—pesta sampai pagi. Lalu keesokan harinya, Laboum mendapatkan sorot tidak menyenangkan dari siapa pun yang berpapasan dengannya.

Kecuali mungkin Smoothie-C, seorang produser musik kulit hitam bertubuh gempal dan punya aksen yang sangat hip hop. Katanya, “Pesta yang keren, Laboumababes! Seharusnya aku mampir dulu semalam! Sudah kecapekan, tahu, kan, sibuk. Tapi musiknya oke banget, apa mereka band baru?”

Ck, Smoothie-C memang tetangga paling punya selera sejagat raya.

Ini peringatan pertama sejak Laboum pindah kemari—yang berarti ada sekitar seratus pesta sebelumnya dan baru kali inilah ia kecolongan. Pasti ada yang salah dengan sihir kedap suaranya.

Mempertimbangkan reputasinya di kalangan tetangga, Laboum meminta Lucille untuk datang lima jam lebih cepat dan menangani akustik apartemen itu.

“Bagaimana warna antingku?” Dengan jemari tangan sebelah kanan, karena tangan kirinya sedang meraba dinding, Lucille menunjukkan daun telinganya pada Laboum, yang mana kontan membuat wanita itu jengkel, karena pertama, Lucille terlambat dua jam, dan kedua, persetan dengan anting barunya.

“Terlalu dini untuk pamer.”

“Hei,” Lucille terbahak. “Ini anting penyensor sihir yang menyimpang. Warnanya akan berubah sesuai analisis—oh, ya, analisis, dia lebih pintar darimu. Nah jadi, sekarang bagaimana warna antingku?”

“Kelabu,” jawab Laboum, menuai reaksi agak tak terduga dari saudarinya itu karena Lucille buru-buru melepaskan tangannya dari dinding berlapis kertas motif dan ia tampak menahan napas.

“Oh tidak,” katanya.

“Oh tidak?”

“Memang ada yang salah.”

“Memang ada yang salah?” Laboum membeo.

“Ini gawat.”

“Gawat?”

Lucille menyibakkan helai-helai ikal pirangnya ke belakang. Raut wajahnya mengindikasikan kepanikan luar biasa. Ketika Lucille panik, wanita itu diam, bernapas pendek-pendek, lalu mengipasi dirinya sendiri dengan telapak tangannya yang gerakannya makin lama makin cepat—reaksi tubuh sebagian penyihir wanita ketika mereka tidak sedang dalam keadaan tenang. Kini tangan yang digunakan Lucille untuk mengipasi wajahnya sudah bergerak dengan kecepatan supersonik hingga tak terlihat. Helai rambut ikalnya terbang ke sana kemarim, sampai akhirnya Laboum menghentikan gerakan itu dengan sebaris mantra. Bukan mantra yang bisa menghilangkan panik—itu agak ilegal dan butuh izin dalam penggunaannya—tapi yang mampu menghentikan reaksi demikian.

Lucille berkedip beberapa kali, seakan ia baru saja disiram air dingin. Air mukanya tidak senang dan ia memandang saudarinya dengan tatapan tersinggung. “Apa kau memantraiku?”

“Mari fokus pada permasalahan mantra kedap suaranya, boleh? Pestaku tiga jam lagi dan aku bersumpah tidak akan lagi menggunakan sihir Katering Memasak Sendiri. Mantra itu tidak pernah berhasil dan makin lama makin buruk. Terakhir kali aku melakukannya, sup ayamku rasanya seperti campuran sup kaus kaki dan kotoran simpanse, dan yang menikmatinya hanya Phillipson bersaudara karena mereka punya lidah zombie.”

Lucille menurut, tapi telapak tangannya tak lagi ditempatkan pada permukaan dinding. Ia menggamit Laboum untuk duduk di sofa sementara wanita yang satunya melambaikan jemarinya dan bersamaan dengan itu, dua gelas anggur terhidang. Lucille pandai menggunakan sihir kuliner. Jika tidak dirundung rasa percaya diri yang berlebihan dari hasil latihan amatir di program Pandai Mantra Kuliner dalam Waktu Satu Minggu sehingga melepaskan Lucille dari tanggung jawab masak-memasak, pesta Laboum yang lalu-lalu pasti tidak akan mendapat insiden pada hidangannya. Sup kaus-kaki-kotoran-simpanse bukan yang pertama.

Tidak ada yang membuka mulut sebelum tegukan pertama. Lantas setelah merasa cukup santai, Laboum memulai konversasi kembali. “Coba jelaskan.”

“Tidak ada masalah dengan sihir itu. Sihir asinglah yang menangkal mantra kedap suaranya.”

“Menurutmu ada yang berusaha menembus sihir kedap suara?”

“Menurutku ada yang berusaha merusak pestamu.”

Laboum menyandarkan punggungnya ke sofa, dahinya berkerut dan alisnya nyaris bertaut. “Tapi kenapa?”

Mengabaikan saudarinya, Lucille bangkit dan memindai seluruh ruangan. Tidak ada yang ganjil di sekitarnya. Balon-balon hitam metalik yang tergantung masih saling bergesek, menimbulkan suara seruling. Meja prasmanan masih kosong, menanti campur tangannya. Semuanya masih normal—masih magis, dan jauh dari aroma manusia. Tidak ada yang terasa mengganggu.

“Coba kauganti pemutar musiknya.”

“Oh, pffttt.” Laboum menyemburkan tawa meremehkan dan melambai-lambaikan tangannya. “Aku tidak pernah pakai pemutar musik. Kami mengundang grup musik.”

Lucille memelototi. “Grup musik apa?”

“NY Rocky Road.”

“NY ROCKY ROAD?!” Lucille seakan bangkit dua kali dari kubur—mengulangi atraksi bangkit dari kubur dua ratus tahun yang lalu ketika semua penyihir dibakar hidup-hidup. Bola matanya bersinar terang dan berbahaya.

“Kenapa?” tanya Laboum. “Mereka keren. Band baru, tapi keren dan sangat anak muda.”

“Dan bukan penyihir.”

“Aku mengundang semua makhluk ke pestaku, dan sihir kedap suara tidak tebang pilih.”

Lucille memijat batang hidungnya, mulai memercayai kalau bodoh itu tidak berbatas dan saudarinya bisa jadi contoh konkrit.

“Laboum saudariku,” kata Lucille pasrah. “Pestamu penuh dengan mantra, Laboum. Sihir bertebaran di mana-mana. Bahkan balon-balon ini bisa meniup dan mengikat diri mereka sendiri! Dan jangan lupakan bahwa semua tamu penyihir, siren, vampir, dan lain-lain punya cara sendiri untuk mengobrol.”

Laboum mengerutkan dahi, lebih karena ia merasa tersinggung. “Hei, aku sudah memantrai opini mereka. Segemilang apa pun hal-hal yang aku dan tamu-tamuku lakukan, NY Rocky Road hanya akan peduli pada musik yang mereka bawakan.”

Lalu wanita itu menambahkan bahwa para manusia itu bahkan berkolaborasi dengan salah satu siren yang diundang dan ketika sirip-sirip bermunculan di wajah dan tangan si siren tiap kali ia menyanyikan nada tinggi, NY Rocky Road hanya mengangguk dan bersorak.

Tanpa memedulikan air muka Lucille, Laboum meneguk habis minumannya dan melambaikan tangan. “Aku yakin bukan mereka penyebabnya.”

Menahan hasrat tidak sehat untuk menjambak rambut saudarinya, Lucille menarik napas panjang. Ia bangkit dan memutuskan untuk mulai memantrai meja prasmanan sehingga tamu pertama nanti bisa menikmati hidangan ringannya. Mereka berdua mengenal sekumpulan warlock yang sangat tepat waktu, dan warlock entah kenapa selalu menghampiri meja prasmanan lebih dulu ketimbang menyapa tuan rumah.

“Ada yang membuatku takjub,” kata Lucille usai berhasil membuat sup iga favorit keluarga mengepul di atas pemanas tersembunyi. “Bagaimana bisa para manusia itu keluar hidup-hidup tanpa menjadi salah satu dari para tamumu?”

“Sihir proteksi, tentu saja,” Laboum menjawab ringan. “Aku memantrai mereka semua dengan satu paket sihir: Pembatas Opini, Proteksi Semua Gigitan dan Sihir, dan Tukang Sanjung.”

“Sihir Tukang Sanjung?”

“Tidak ada hubungannya dengan apa pun. Mereka hanya harus memuji tuan rumah, apakah permintaanku terlalu muluk?” Laboum mengangkat tangan rendah dan memandang Lucille seakan saudarinya itu seharusnya sudah tahu.

Lucille memberikan sentakan sihir terakhir pada mangkuk-mangkuk besar limun dan ember es besar di meja lain yang sudah diisi dengan beberapa botol sampanye untuk tamu penting—daftar tamu penting Laboum tidak pernah berubah, sebagian besarnya penyihir yang berasal dari Rumania. Kemudian wanita itu menyelesaikan sihir kuliner dengan sebaris mantra dan lengkaplah sudah isi meja itu. Ia kembali duduk berhadapan dengan saudarinya.

“Ada yang mengatakan bahwa jika manusia terlalu sering dan banyak menerima sihir, maka tubuh dan pikirannya akan bereaksi. Ia akan kebal sihir, tapi sistem imunnya akan melemah terhadap kaum lain. Ia akan melihat kaum lain sebagai manusia biasa, sampai ketika mereka memangsanya.”

“Tunggu,” potong Laboum. “Kukira itu hanya mitos.”

“Itu teori,” Lucille meralat.

“Baiklah, teori. Kita tidak pernah memercayai teori sebelum ada yang membuktikan sampah itu.”

“Biarpun pembuktiannya mesti mencelakai manusia?”

Laboum mengangkat bahu, menepis rasa bersalah karena Lucille menatapnya seakan ia penyihir hitam jahat yang tidak menginginkan apa pun kecuali menguasai dunia. Lalu katanya, “Semua pemangsa manusia sudah terikat undang-undang mengenai hal itu dari negara asal mereka.  Undang-undang vampir Rumania memang agak lembek, tapi bekerja, dan Rumania itu jauh dari Brooklyn. Lagi pula, bukankah kita berdua punya situasi yang lebih darurat dari membahas soal melemahnya sistem pertahanan manusia?”

Bagi Lucille, Laboum memang bebal. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, barangkali teori yang dibacanya dari majalah penyihir itu memang tidak terbukti benar. Tetap saja, manusia tidak bisa melindungi dirinya sendiri dan Laboum terlalu tak acuh untuk memedulikannya.

“Begini. Aku tahu kau tidak akan menerima saranku, tapi harap dipertimbangkan yang satu ini. Kita terapkan sihir akustik terbaik yang pernah ada, dan biarkan NY Rocky Road bermain. Aku akan bertamu ke pintu sebelah dan jika masih terdengar ribut-ribut, aku akan kembali.”

Alis Laboum menari penuh keberatan, tapi ia setuju, lebih karena Lucille sudah berjasa menyelamatkan prasmanannya dan sup kaus-kaki-kotoran-simpanse.

“Miss Fawkes, bisakah kami bicara dengan Anda?”

Laboum tidak pernah berkeberatan meluangkan waktu untuk bicara pada siapa saja (atau makhluk apa saja). Tapi jelas permintaan waktu luang untuk bicara dari sekumpulan anak muda dengan gaya rambut seakan mereka lahir dari kaleng cat, merupakan kasus lain. Terutama setelah Laboum dan Lucille terlibat dalam perdebatan soal sihir yang terlalu banyak diaplikasikan pada manusia. Jangan-jangan keempat pemuda NY Rocky Road ini mulai mengendus sesuatu yang tidak beres. Jangan-jangan mereka kena gigit vampir. Jangan-jangan mereka menyadari bahwa beberapa tamu di sini punya sisik dan sirip.

Jangan-jangan mereka akan menuntut Laboum yang berujung dengan ritual pengusiran penyihir.

Bagaimanapun, Laboum meletakkan minumannya di meja, lalu memaksakan senyum. “Tentu, tentu.”

Briann, yang rambutnya paling aneh seakan ia keramas dengan piloks grafiti dan bersikeras bahwa namanya memiliki dua huruf N, maju mewakili anggota lainnya.

“Kami ingin mengakui sesuatu.”

Baiklah, pikir Laboum. Mengakui sesuatu kedengarannya lebih menarik ketimbang kami tahu sesuatu. Lalu Briann berdeham dua kali.

“Ini soal sihir kedap suara di apartemen Anda.”

Ada saat-saat ketika Laboum merasa tenggorokannya tiba-tiba kering karena terlalu heboh terperangah—bisa jadi ketika ia mendengar gosip tak sedap tentang selebritas favoritnya, atau ketika ia melupakan salah satu bahan ketika masakan coba-cobanya sudah jadi, atau yang satu ini: sekumpulan makhluk yang selama ini dikiranya manusia, ternyata menyebut-nyebut soal sihir di depannya.

“Kami pikir kami berutang maaf pada Anda, Miss Fawkes. Kamilah yang menghapus sihir kedap suara di sini, sehingga segala keributan yang ada sudah pasti sampai ke seluruh penghuni apartemen. Kami dengar Anda dapat teguran dari pemilik gedung.”

Laboum berusaha menutup mulutnya, yang ternyata sulit karena tiba-tiba kepalanya dibombardir dengan tanda tanya raksasa.

“Tunggu,” kata Laboum. “Tatap mataku dan katakan bahwa kalian bukan penyihir.”

Briann mengerutkan dahinya. “Kami pikir Anda sudah tahu …?”

Alis Laboum bertaut, dan ia kehabisan kata-kata. NY Rocky Road tidak memiliki tanda-tanda penyihir yang mana seharusnya akan langsung terendus oleh indra penciuman Laboum begitu ia bertemu dengan mereka. Laboum pikir ia mungkin kena flu dan ia tidak menyadarinya.

“Mungkin masalahnya ada pada cologne yang kami pakai. Buatan manusia, Miss, tenang saja. Tapi mungkin aromanya terlalu pekat.”

“Lupakan soal cologne … jadi kalian benar-benar penyihir?”

Keempatnya mengangguk. Lalu Briann membuka mulut lagi. “Kami minta maaf karena sudah menghapus sihir kedap suaranya. Kami tidak ingin mengacau, tentu saja. Tapi yang kemarin itu adalah satu dari sedikit kesempatan kami agar Smoothie-C mendengarkan musik kami secara tidak sengaja.”

“Smoothie-C?”

“Begini, Miss Fawkes,” Kyle—yang warna rambutnya paling bersahabat dengan selera penyihir berumur ratusan tahun seperti Laboum—menimpali. “Label kami bermasalah, dan terpaksa harus tutup. Nasib band kami terkatung-katung. Kami butuh seseorang yang bisa membantu. Dan ketika kami menerima undangan dari Anda, Miss Fawkes, kami pikir inilah saatnya menarik minat Smoothie-C yang tinggal satu gedung dengan Anda.”

“Dia produser yang sangat keren dan kami yakin kami cukup potensial untuk seleranya,” sahut yang lain.

Inginnya Laboum menyihir mereka jadi tarantula, tapi ia tidak punya alasan bahkan untuk marah. Sudah cukup kasihan mendengarkan kisah band ini dan marah adalah hal terakhir yang bahkan tidak Laboum kehendaki.

Baiklah, saatnya gencatan senjata.

“Terus-terang saja, kalian sangat menyusahkan.” Laboum mengambil minumannya kembali dan menyesapnya. “Kabar baiknya, Smoothie-C bilang padaku bahwa permainan kalian keren.”

“OH?” Briann menganga dengan manik mata membulat. “Benarkah?”

“Dia bilang apa, Miss Fawkes?” Kyle menyerobot.

Laboum mengulas senyum asimetris, memutar bola matanya, dan menyihir Kabut Rekorder di mana terdapat kilas balik pertemuannya dengan Smoothie-C waktu itu.

“Pesta yang keren, Laboumababes! Seharusnya aku mampir dulu semalam! Sudah kecapekan, tahu, kan, sibuk. Tapi musiknya oke banget, apa mereka band baru?”

Setelah itu, Briann dan Kyle serta yang lainnya tampak seperti kontestan audisi buta The Voice yang mendapatkan empat I Want You dari para mentor dan pujian khusus dari Adam Levine. Mereka menatap Laboum penuh terima kasih, lalu bersorak.

“Untuk diingat saja, anak-anak,” Laboum mengangkat tangannya. “Smoothie-C bukan penyihir atau vampir atau siren atau apa pun yang kalian mungkin pikirkan. Jangan gunakan sihir apa pun.”

“Seperti Sihir Tukang Sanjung?” seseorang dari NY Rocky Road bersuara, entah siapa, lalu mereka terbahak.

“Yah.” Mau tak mau, si tuan rumah mengangguk-angguk dan menebalkan muka. “Seperti Sihir Tukang Sanjung.”

FIN.

PS: Laboum adalah ‘pesta’ dalam bahasa Prancis. Saya menamai sihir-sihir di sini dengan Bahasa Indonesia (alih-alih bahasa lain), terinspirasi dari cara J.K. Rowling menamai buku-buku dan sihir di serial Harry Potter. Kehadiran makhluk fantasi lain seperti siren, warlock, dll didasarkan hasil diskusi dengan Fika selaku yang punya acara Domestic Monster, dan terinspirasi juga dari novel berseri Hex Hall, yang melibatkan berbagai makhluk fantasi di jalan ceritanya.

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Domestic Monsters: Jam Session

  1. Sisus ini keren, two tumb, daebak, sugoi lah.
    *efek sihir tukang sanjung, wkwk*

    I dont know why, somehow aku juga pengen bikin fantasi yang minjem plot harpotnya bu J.K. macem ff ini. But imajinasiku belum bisa secemerlang itu.

    Like

    1. Halo, Fafa. Sebelumnya, aku mau ngelurusin kekeliruan dulu nih. Aku nggak minjem plot Harry Potter. Aku menyebut Harry Potter di author notes karena caraku menamakan sihir, itu menggunakan gaya JK Rowling dalam menamakan apa pun. Contoh di novel itu, Kacang Segala Rasa, Buku Monster Tentang Monster, nah itu semua dibahasakan kan, bukan pake bahasa asing. Jadi aku menggunakan gaya itu juga dalam menamakan sihir di sini (contoh: sihir tukang sanjung, sihir proteksi, dll), tujuannya ya biar ngga repot ngarang nama latin dll.
      Jadi bukannya aku meminjam plot Harry Potter. Hehehe.
      Anyway makasih Fafa sudah mampir kemari. Sering-sering kunjungi Writers’ Secrets yaaa. Love and hugs! 🙂

      Like

  2. HAHAHAHAHAHA LABOUM AND LUCILLE BICKERING GIVES ME LIFE!! gracious, they are so domestic i just want to squeeze them #what

    itu sihir Katering Memasak Sendiri, mau dong huhu asik banget kalau ini bukan fiksi but reality hurts it shouldn’t be lyke this hvt

    dan mmm, sempat terbawa pemikiran sih kalau NY Rocky Road ini memang manusia biasa. ternyata mereka penyihir. penyihir dengan bumbu udang di balik batu. my condolences, miss Fawkes XD

    also, for some odd reasons i really like ‘smoothie-c’. probably bcos it rolls nicely on my tongue hahah

    keep writing, kaeci! ❤ ❤

    Like

  3. KEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEREWNNNNNNNN KAECIIIIIIIIII!!!

    First things first, qusuqa nama-namanya! Semuanya membuat lidah menari tanpa keseleo, dan dan daaaan mantranya juga! Sounds so asique dan menggoda untuk bergelung dalam kubangan imajinasi yaampon apa itu chef kalau kubisa sihir masak, apa itu wallpaper kedap suara kalau kubisa sihir kedap suara!!!

    Rangorang bandnya sangat gemas ya ingin kujitak tapi semua demi dinotis senpai adalah halal yokseeeeeeeeeeeeehhhh ❤
    Dan berantemnya, eh bukan berantem tapi ke diskusi penuh kilatan amarah, yang saudaraan-erat-seamplop-seperangko material juga gemasssssssssss!!!

    KUSUKA SEMUANYA KAECIIIII INI MARVELLOUSSSS DAN DOMESTICCC!!!

    Like

  4. YEOKSHI KAK CI KYAAAAA!!!
    Baru pertama kali nikmati fiksi di sini udah disuguhi diksi yang novel-terjemahan-able sekali 😍😍😍
    Kusuka 💕💕💕
    Last, keep writing, Kaci 💪🏻

    Like

  5. kak, ini keren, udah gitu aja, soalnya ini emang bener-bener keren 🙂
    Aku pengen bisa nulis kayak gini, tapi kok rasanya sulit 😦

    Like

  6. Rasa terjemahannya kental sekaliii. Abis baca ini bayangin si penyihir2 itu gimana wujudnya sih. Trendy apa gaya old fashion haha.

    I enjoyed it kak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s