Not-So Playboy

A woman is always right. Just sometimes confused, misinformed, rude, stubborn, unchangeable, senseless … but never wrong.

by La Princesa

.

Ocean bukannya tak mau membantu sahabatnya yang sedang kesusahan.

Tapi menjadi konsultan masalah percintaan bagi Orion yang sedang perang dingin dengan Caramel jelas bukan keahliannya. Tidak, karena dirinya saja masih sering berdebat kusir perkara tak penting dengan Vanilla, bahkan sampai membuat si gadis mengamuk tiap kali kalah argumen.

“Temanmu itu berengsek sekali, memang,” adalah sambutan yang didapat Ocean saat ia memasuki kubikel dengan perut sedikit melilit karena tak sengaja minum susu basi. Salahnya juga, sih, yang bangun kesiangan dan buru-buru minum susu karton di kulkas tanpa melihat tanggal kedaluwarsa.

Lelaki bermanik samudera itu sama sekali tak mengharap akan mendapat ucapan selamat pagi dari rekan samping kubikelnya—yang notabene sama acuhnya seperti Orion, dan ya, kalimat ini mengandung sindiran. Namun mendapat kata makian seperti barusan, walaupun bukan untuknya, jelas bukan cara yang semarak untuk memulai sebuah hari, apalagi untuk meredakan sakit di pencernaannya.

Untung kesabaran Ocean seluas namanya.

“Belum baikan juga?” tanyanya seraya menaruh tas di spasi kecil bawah meja sebelum mendudukkan pantatnya di kursi.

“Selama Orion belum minta maaf karena melupakan janjinya, berarti belum.” Caramel menjawab ketus. Tatapannya yang tajam memicing ke arah lelaki malang di sampingnya, dan di dalam sudut hatinya yang paling dalam, Ocean bersyukur gadis itu tak memiliki kekuatan sejenis sinar laser atau jidatnya sudah berlubang saat ini.

Lalu—dan tanpa dipersilakan si pemilik telinga—Caramel akan memulai rutinitasnya setiap hari; menyirami Ocean dengan monolog panjang mengenai betapa menyebalkannya Orion, atau bagaimana setiap malam ia menanti telepon berisi permintaan maaf. Namun setiap malam juga gadis itu harus mendapati realitas bahwa harapannya terlalu muluk-muluk karena kekasihnya belum punya kesadaran minta maaf. Atas alasan itu pula yang menyebabkan mood Caramel serupa kerak gula yang menggosong, dan menjadikan Ocean—yang sebenarnya tidak rela—sebagai karung sampah isi hatinya.

Sementara Ocean cukup pintar untuk tidak banyak membantah, apalagi mendeklarasikan pembelaan untuk sahabatnya. Ia sendiri cuma setengah-setengah mendengarkan, kok; masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tapi jika disuruh mengulang semua keluhan Caramel tanpa membuat teks catatan, Ocean yakin ia bisa melakukannya dengan sempurna, karena demi Tuhan … rekannya ini sudah melakukannya selama seminggu terakhir. Tanpa absen sama sekali.

Si gadis bersurai pirang itu baru akan berhenti jika salah satu dari mereka mengikuti meeting. Ocean bukan tipikal karyawan yang gemar ikut rapat-rapat membosankan, tapi belakangan agenda tersebut sampai masuk ke daftar kegiatan favorit. Apalagi kalau bosnya sudah menyuruhnya ikut rapat dadakan, ia tak akan habis-habis mengucap syukur karena lepas dari jerat mematikan pidato Caramel setidaknya untuk satu jam ke depan. Meskipun privilege itu akan kandas saat jam makan siang berakhir dan mereka sudah duduk bersisian kubikel. Ocean harus merelakan telinga kirinya panas mendengar rutinitas yang sama sampai jam kerja selesai.

Manik samuderanya memejam kala ia mendesah napas keras. Caramel menunggu Orion minta maaf, sementara yang ditunggu tak merasa ditunggu. Terus saja begitu sampai ladang gandung disiram cokelat dan jadilah sereal superbeken yang iklannya wara-wiri di televisi. Ocean harus melakukan sesuatu jika ia tak mau sebelah kupingnya tuli permanen karena kehidupan percintaan sahabat dan rekan kantornya yang kurang mulus.

.

“Kau belum minta maaf juga pada Mel?” tanya Ocean saat karibnya datang sebagai tamu tak diundang di apartemennya. Mau pinjam DVD katanya, tapi si tuan rumah tidak bodoh. Ia yakin kedatangan Orion menyimpan ihwal yang lebih penting dari sekadar pinjam-meminjam. Menanyakan kabar Caramel misalnya, atau mengorek informasi tentang kestabilan mood kekasihnya melalui cerita-cerita Ocean, atau apa pun, deh, yang bisa jadi penawar rindu bagi Orion yang sebenarnya dirundung kangen tapi gengsi.

Ah, lagu lama.

“Kenapa harus aku duluan yang minta maaf?” yang lebih muda melempar sungutan tak terima, jemarinya bergerak semakin heboh di atas joystick dengan tatapan tak lekang dari layar televisi. “Kenapa tidak dia yang minta maaf?”

“Terus saja kalian begitu sampai seluruh salju di Everest meleleh dan menghanyutkan kalian ke laut terdekat,” Ocean membentak frustrasi, semakin keki karena jagoannya di video game mati ditembak Orion. “Asal kau tahu, Mel tak habis-habis meributiku tentang betapa berengsek kekasihnya yang tak mau minta maaf.”

“Dia merindukanku tidak?” Bukannya introspeksi, Orion justru memanfaatkan momentum. Tak tahu malu, memang, apalagi memikirkan perasaan sahabatnya yang muak dengan kelakuan bocah sepasang insan ini. Pun begitu, niat Ocean untuk menjawab Orion dengan sindiran-sindiran pedas menguap entah ke mana ketika tangannya menjangkau ponsel dari coffee table. Ia hendak menghubungi Vanilla, sebelum ingat bahwa terakhir kalinya mereka berkomunikasi malah berujung pada pertengkaran yang tak kalah sepele dari masalah Orion dan Caramel.

Ironis bagaimana Ocean menjadi moderator masalah percintaan padahal ia sendiri mengalami problematika yang sama. Ha!

Bertahun-tahun menjalin hubungan dengan gadisnya tak merta menjadikan Ocean seorang pakar dalam memahami wanita. Sungguh, ia saja masih sering kebakaran jenggot kalau Vanilla mendadak galak dan punya hobi eksentrik; meluapkan emosi pada siapa pun pria yang menjabat sebagai kekasihnya. Dibegitukan oleh Vanilla, Ocean masih bisa dengan nyaman berpikir bahwa ia tak punya salah apa-apa. Menurutnya, para wanita itu saja yang terlampau sensitif dan membesar-besarkan masalah sepele. Tapi jika ia berani berargumen demikian, dengan liciknya para wanita akan menyanggah sampai membuat dirinya kehabisan kata-kata.

“Kalau menurutmu berpacaran dengan wanita itu merepotkan, kenapa tidak coba berpacaran dengan pria?”

Well … bisa menjawab apa lelaki sepertinya?

Berpacaran, ‘kan, tidak sekadar kecocokan, tapi juga masalah preferensi! Begitu-begitu, Ocean lelaki normal yang orientasinya lurus dan menyukai wanita. Kenapa ia justru ditempatkan di situasi sulit begini?

“Wanita memang makhluk rumit yang susah dipahami,” Orion mendesah panjang, suaranya seperti terdengar dari nun jauh di sana. Inginnya Ocean tak setuju, bagaimanapun gengsinya masih melarang ia merasa demikian. Tapi di sisi lain, Ocean sadar ia baru saja mengamini sahabatnya keras-keras dalam hati.

“Mel pernah bilang, kalau aku tak mau berusaha memahami wanita lebih baik aku berpacaran dengan pria,” Orion bersuara lagi.

“Wanita di mana-mana sama saja,” si tuan rumah jadi ikut menimpali, terpancing sahabatnya yang sedang dalam mood menumpahkan kegundahgulanaannya pada langit malam. “Van juga pernah mengatakan hal yang sama.”

“Tapi kita juga masih di sini.” Nada vokal Orion cenderung datar tapi sarat keputusasaan. Seolah ia baru menyadari bahwa begitulah takdirnya; untuk tetap tertarik pada wanita dan mau tak mau menghadapi kompleksitas mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menerima.

Memang benar jika ada pepatah yang menyebutkan bahwa wanita selalu benar. Jika mereka tidak benar, harap baca ulang kalimat pertama.

.

Untung bagi Ocean karena esok paginya ia mendapati mood Caramel tak sekecut tujuh hari ke belakang. Saat ia memasuki kubikel, kekasih sahabatnya itu memberinya sapaan selamat pagi dan senyuman singkat. Ha, si gadis gula itu bahkan membawakan Ocean secangkir café bombon dari kedai kopi di lantai dasar.

Usut punya usut, ternyata Caramel dan Orion sudah berdamai. Sahabatnya tak langsung pulang sekembalinya dari apartemen Ocean tadi malam. Dia menyempatkan mampir ke apartemen kekasihnya untuk minta maaf dan menemaninya mengerjakan laporan, walau itu artinya Orion tidak jadi menonton film. Tapi apalah artinya DVD dibanding sambutan hangat dari yang seseorang yang kita rindukan, bukan? Hitung-hitung menebus kesalahannya juga, toh Orion-lah yang sejak awal menyulut perang dingin keduanya. Caramel yang sejak awal hanya ingin Orion minta maaf tak punya alasan untuk tidak langsung memaafkan.

Masalah selesai semudah itu rupanya. Lalu apa tujuannya Caramel marah-marah semingguan ini?

“Wanita itu bukan makhluk rumit yang susah dipahami, tahu,” Caramel tiba-tiba berkomentar, melirik si manik samudera yang terlihat lemas dan tak bersemangat. “Kudengar, kau juga sedang bermasalah dengan Van?”

Dasar Orion ember, Ocean memaki dalam hati. Pun begitu, ia tetap menjawab Caramel dengan anggukan singkat. Sebelah tangannya mengaduk café bombon dengan gerakan lambat saat derai tawa rekannya mengudara.

“Kenapa tidak mau minta maaf, sih? Kuyakin Van sama rindunya denganmu.” Pertanyaan retoris susulan, cenderung sok tahu kalau menurut Ocean. Tapi ia cukup pintar untuk tidak memamerkan keterusterangannya di depan mantan siluman singa betina. Sudah cukup Ocean menjadi saksi betapa mengerikannya Caramel kalau sedang kesal, ia tak mau jadi korban selanjutnya.

“Kenapa harus aku duluan yang minta maaf?” Sebuah sungutan, persis Orion tadi malam saat dikonfrontasi oleh Ocean yang berusaha memediasi. Dalam hati merasa tak adil karena bukan salah dirinya juga, ‘kan, jadwal futsal di kantor berubah sampai ia tak sempat membawa Mary Jane—kucing mereka—ke veterinarian?

“Karena seringnya, wanita mengharapkan pria dulu yang mau minta maaf bukan karena mereka benar-benar marah atau menyimpan gengsi yang terlalu tinggi, apalagi sampai berniat mempermalukan kalian para lelaki.” Caramel menjawab mantap. “Tapi karena ingin menguji sejauh mana kalian peka terhadap perasaan mereka. Yang mana seringnya tak pernah terpikirkan oleh kalian sampai sana.”

Itu, yang Ocean tak tahu. Kalimat Caramel barusan sederhana, diucapkan tanpa nada menghakimi, tapi mampu membuat si manik samudera menghentikan adukannya. Selama ini Ocean sering menjustifikasi kalau Vanilla berlebihan dan membesar-besarkan masalah sepele, sampai di titik dimana dia termakan gengsinya yang turut membesar dan malah menunggu Ocean minta maaf dulu.

Kalau Caramel tak memberitahunya, ia tak kepikiran sampai ke sana.

Saat Ocean memancing ponsel dari saku kemejanya, rekannya itu sudah kembali ke kubikelnya dengan kurva yang awet bertengger di ujung bibir. Senyum Caramel manis, tapi tak ada yang melebihi manisnya senyum Vanilla. Ocean jadi sangat, sangat merindukan gadisnya itu.

Pesan yang terkirim dari ponselnya tak hanya berisi permintaan maaf dan pemberitahuan bahwa ia akan datang ke apartemen Vanilla sepulang kantor, tapi juga sebagai pengingat supaya Ocean mulai belajar sedikit lebih peka terhadap wanita.

Setidaknya untuk Vanilla, gadisnya.

.

END.

.

  1. I don’t mean to degenerate any gender here, so please take this as humor. thank you.
  2. and I’m resigning from WS, so this fiction will probably my last post here. see you around, guys.
Advertisements

One thought on “Not-So Playboy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s