Professionals

by Io

[cr image: here]

.

“He with the cleanest clothes isn’t necessarily the cleanest.”  
― Mokokoma Mokhonoana

.

Day 1

Di sebuah rumah yang berdiri sendirian jauh dari pusat kota Portland, sosok jangkung bersurai merah tengah mengurung diri dalam salah satu ruangan yang ada. Suara jemari beradu dengan keyboard komputer terdengar jelas di sana dan duduk di bangkunya, seorang pria menyesap bir disertai alis yang mengerut. Sebuah kacamata bergagang hitam bertengger di hidung, lensanya memantulkan cahaya layar yang telah disetel sesuai dengan penerangan ruangan. Sesekali si pria akan melarikan jemari pada rambutnya yang dipotong pendek, membuat helai itu semakin berantakan.

Reymond Walker, 28 tahun, tengah mempelajari blueprint rumah mewah yang terletak di kawasan perumahan elit California. Susah payah ia mendapatkan dokumen ilegal itu melalui jaringannya di pasar gelap. Dan dalam kurun waktu dua minggu, berbekal pengalaman selama bertahun-tahun, ia dan komplotannya telah menyusun sebuah rencana dengan persentase kegagalan tak lebih dari angka nol.

Ada antisipasi besar yang menggelegak dalam diri Reymond atas kenyataan bahwa ia akan segera turun kembali ke lapangan.

Tak sampai setengah jam kemudian, desis lega terselip dari mulut si pria. Ia menyandarkan punggung pada kursi mesh empuk sembari meregangkan otot. Bibir tipisnya meliuk membentuk senyum penuh kemenangan. Ia pun merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan menekan tombol speed-dial.

Hey, Babe. The blueprint’s done. Tell the others.


Day 2

Campuran gin dan tonik mendesis keluar dari bibir kaleng yang didekatkan Jeremy Collins ke mulutnya. Si pria bermanik biru menyesap perlahan alkoholnya, memanjakan lidah dengan sensasi yang tajam dan dingin. Kobaran dari perapian di ruangan mengusir hawa beku yang menusuk kendati musim dingin belum mengetuk.

“—berharga. Langsung menuju ke kamar utama. Hindari loteng dan—”

Pria yang berprofesi sebagai hacker dalam komplotan itu menulikan rungu. Reymond selalu mengulang nasihat yang sama setiap kali mereka menggelar diskusi. Dari sudut mata, ia melihat Erin Campbell, 25 tahun; juga sama tak mengindahkan perkataan si pria berambut merah dan malah menelusuri foto target rumah yang diambil satu minggu lalu dari berbagai sudut, seolah berusaha menanam tiap detail visual yang tersaji di ingatan. Helai cokelatnya digelung ketat ke belakang, meninggalkan leher jenjang yang dilingkari oleh sebuah choker hitam.

Sementara duduk di sebelah Erin adalah Isabel Walker, sepupu Jeremy. Perempuan berusia 24 tahun itu jelas pura-pura mendengarkan dan hanya mengangguk di saat yang tepat. Wajahnya yang berbentuk hati terbingkai oleh tirai pirang keemasan yang terjuntai di punggung dan terpotong rapi.

 “Kau sudah tahu siapa yang akan kita hadapi nanti?” potong Jeremy; meletakkan kaleng di meja dan bergabung dengan lingkaran kecil yang dibentuk ketiga orang tadi di ruangan.

A British posh,” jawab Erin, masih mengamati foto di tangan dengan teliti. Ia lalu meletakkan rekam gambar itu dan mengambil yang lain. Objek fotonya adalah seorang pria bersurai platinum mengenakan setelan jas necis hitamtak menghadap ke arah kameranamun perempuan itu dapat menangkap iris abu merkuri dari balik kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


Day 3

Gadis manis dengan senyum cerah yang membukakan pintu untuk Isabel dan Jeremy agaknya memaksa mereka menyusun rencana tambahan saat kembali nanti.

Sang tuan rumah rupanya turut membawa serta si adik ke Westshore Lake Tahoe untuk berlibur. Baik Isabel maupun Jeremy bertanya-tanya, bagaimana mungkin mereka bisa melewatkan presensi gadis itu yang sama menonjolnya dengan sang pemilik rumah selama pengamatan berhari-hari? Namun disertai senyum otomatis yang terpoles sempurna, sepupu Jeremy dengan riang mengutarakan maksud kedatangan mereka—memperkenalkan diri sebagai tetangga baru di seberang jalan (yang saat itu memang tengah mengantisipasi kedatangan penghuni baru seperti yang telah Reymond perhitungkan).

“—di sini tidak untuk waktu yang lama,” kata si gadis bersurai platinum sembari menghidangkan teh dan scones—khas keramah-tamahan orang Inggris yang tengah kedatangan tamu. Isabel dengan semangat berceloteh; memberikan informasi yang batas antara benar atau tidaknya dipertanyakancara terbaik untuk menyesatkan lawan bicaramu. Beberapa pertanyaan dorongan Isabel yang sangat halus dan terselubung menghasilkan informasi yang mereka inginkan: sudah berapa lama dia dan si kakak memiliki rumah ini, siapa saja yang tinggal di sini, hingga siapa yang bertanggung jawab mengurus rumah saat mereka tak ada.

(Anjing? Oh, tidak. Tidak ada anjing. I’m not a dog person, you see. Besides, we already have a pretty good security system here.)

Isabel mengibas rambut palsu yang menyapu pundak; tersenyum hangat dan bercerita tentang pengalamannya memiliki anjing penjaga.

(Meskipun kami datang kemari untuk berlibur, kakakku masih harus menangani beberapa urusan di Sacramento. Pagi-pagi benar dia akan berangkat dan baru kembali saat petang. Gracious, it’s so annoying. I don’t even see the point of ‘taking a break’ anymore.)

Si adik, Jeremy berpendapat, adalah gadis yang polos sekali. Ia akan merasa sangat bersalah di hari pelaksanaan aksi mereka.

Tapi, yah, mereka profesional. Tidak ada waktu untuk tenggelam dalam rasa bersalah.


Day 4

Agen perumahan akan dengan pintar menawarkan lokasi yang membuat rumahmu terlihat apik dilihat semua orang, terutama bagi tetangga dengan jarak pandang mulai dari seberang jalan. Well, begitu pula bagi pencuri.

Langkah pertama yang harus kau ambil saat menentukan target perampokan di sebuah perumahan besar adalah menelusuri semua akses jalan yang ada, menentukan mana yang dapat dilewati dengan aman dan mana yang dapat berfungsi sebagai pilihan akses darurat. Kau juga harus mencari tahu jadwal sekuriti yang akan berpatroli pada jam tertentu.

Dari mobil, Erin mengamati rumah target dengan saksama. Bangunan itu berdiri di tengah-tengah blok perumahan; dengan jarak antar poin satu dengan yang lain sekitar 300 meter. Halamannya ditumbuhi rerumputan rapi dan segar—sang tuan rumah mempekerjakan seorang tukang kebun yang akan datang setiap hari Rabu, menurut penuturan Isabel dan Jeremy. Reymond bilang akan memulai rencana ketika malam datang dan kloroform milik Erin pun sudah disiapkan. Well, Reymond benci jika harus berurusan dengan senjata; jadi ia mengiyakan ide rekannya untuk menggunakan obat bius.

Daripada benci, lebih tepat jika disebut malas membersihkan noda darah yang sulit hilang, pikir Erin menggerutu.

Perempuan bermanik cokelat itu melirik jam digital di dashboard. Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Kunjungan dua rekannya yang tak kurang dari 24 jam lalu mengkonfirmasi kebiasaan sang tuan rumah yang meninggalkan kediaman di pagi hari. Pintu garasi akan terbuka pada pukul delapan lewat sepuluh menit, kemudian Bentley putih akan meluncur ke luar area perumahan dan baru akan kembali pukul tujuh malam.

Si perempuan mengetukkan jemari pada setir dengan ritme teratur. Hanya dalam waktu dua hari, bisa dipastikan angka nol yang tertera pada rekeningnya akan bertambah pesat. Target mereka sekarang benar-benar tangkapan besar. Mungkin kali ini ada jeda cukup panjang sampai perampokan selanjutnya, pun pergantian area yang harus dilakukan secara acak untuk menghilangkan jejak.

Erin menyandarkan punggung. Bahkan dalam pengintaian, ia sudah bisa merasakan antusiasme yang tak pernah luput hadir saat menjalankan aksi. Ada ketidaksabaran yang turut menemani, membayangkan bagaimana reaksi sang tuan rumah dan adiknya saat tahu aset mereka berkurang drastis.

Bibir merah Erin melengkung membentuk senyum yang tak bias dibilang bersahabat.


Day 5

“Alarm keamanan mereka memakai produk buatan perusahaan terkenal yang berada di Malibu. Usianya kurang lebih tiga tahun.”

Jeremy hanya menggumam tak jelas. Didampingi oleh Mac kesayangan, ia tengah memanipulasi sistem keamanan rumah target dengan kelihaian seseorang yang telah bergelut di bidangnya selama bertahun-tahun. Alarm keamanan milik Frontlink Co. adalah jenis yang paling ia benci, mengingat perusahaan tersebut terkenal dengan firewall yang sulit diretas. Agaknya si pemilik rumah juga telah membayar mahal untuk meningkatkan kepekaan motion sensors[1] yang ada. Tak mudah untuk menyusupi program yang berjalan di sanatapi bukan berarti tak mungkin. Bagaimanapun, predikat cumlaude dan gelar BCS[2] yang dikantongi Jeremy tidak bisa dipandang sebelah mata.

Tugasnya kali ini adalah memastikan bahwa alarm itu bergeming di waktu yang telah ditentukan.

Isabel, yang tengah memoles pistol dan mengecek persediaan peluru untuk kondisi tak terduga, berkata, “Sudah selesai?”

Not for a while,” jawab Jeremy, mendecak pelan kala pemecahan dua dinding sekuriti terakhir berjalan jauh lebih lamban dari yang diperkirakan. “This fucking security system gives me a run for my money.

Sepupunya mendengus. Meletakkan pistol di atas sapu tangan bersih, Isabel berjalan menuju meja di seberang ruangan dengan kotak besar hitam di permukaannya. Kotak hitam itu berisi setangkup benda yang akan membantu penyamaran. Spasi paling atas; foundation, concealer, powder, bronzer—empat hal yang paling dibenci Jeremy dalam keseluruhan rencana mereka, kendati ia telah mengenal dan memakai produk-produk itu selama ini. Lensa kontak yang masih tersegel menempati wadah tingkat di tengah, sementara bagian dasar berisi benda penyempurna lain: lipstik, pensil alis, bahkan bulu mata palsu. Tepat di sebelah meja itu berdiri sebuah lemari kaca berisi jejeran wig berwarna pirang dan cokelat yang tak akan membuat pemakainya tampak mencolok.

Pengalaman mengajarkan bahwa lebih baik mengubah struktur wajah, warna mata, dan menyembunyikan warna asli rambut untuk menghindari hal yang tak diinginkan saat beraksi.


Day 6

Tepat pukul satu dini hari; Isabel, Erin, Jeremy, dan Reymond berhasil menyelinap masuk ke rumah kediaman si kakak-beradik. Ruang tamu tempat mereka berada diterangi oleh cahaya lampu jalan yang menerobos tirai, memberikan cukup pengelihatan dalam gelap. Jeremy yang memegang kendali atas control panel[3] telah sukses menonaktifkan motion sensors dan cellular backup unit[4] beberapa menit sebelumnya.

“Lima belas menit,” desis Jeremy pelan. Pria itu melihat ketiga rekannya mengangguk, lantas berpencar dan melesat tanpa suara menuju ke ruangan yang telah mereka pelajari dengan baik. Erin menuju lantai atas; mengendap dengan dua botol kloroform berbentuk gas di tangannya. Satu akan berakhir di kamar utama, sementara satu lainnya di ruangan si adik yang hanya terpisah tiga ruangan. Isabel yang menemani akan meraup barang berharga apa pun itu yang sanggup mereka bawa dengan mudah: perhiasan, arloji, ponsel, laptop.

Sementara Reymond akan menguras ruang tamu, di mana terdapat banyak barang berharga yang dapat dijual kembali dengan harga yang tinggi. Isabel dan Jeremy mendapatkan foto-foto bagus dari kunjungan mereka beberapa hari lalu, memudahkannya bergerak dalam kegelapan karena posisi yang telah diketahui secara pasti.

Setidaknya, itulah rencana yang dijalankan setelah sukses menyelinap.

Lima menit berlalu semenjak mereka memasuki rumah ini. Jeremy yang tengah memperhatikan detik jarum di arloji mendadak merasakan hantaman keras benda tumpul di kepala. Bintik-bintik gelap mengisi pandangan. Mula-mula lutut yang menghantam lantai pualam, disusul kemudian tubuhnya. Samar-samar rungu pria itu menangkap suara lembut adik sang tuan rumah yang terdengar nyaring di tengah kesunyian.

“Seems your plan is going splendidly.” Tarikan napas panjang. “But when you said taking a break, what I had in mind is going on a vacation, not accepting a request in capturing these thieves. Honestly, Brother.”

“You know I can’t just turn down Duke Harold’s request, Estelle.” Suara halus sol sepatu mendekat. “After all, his daughter-in-law was one of their victims a year ago. Quite slippery fellows, they are. Then again, these people should have known better than to mess with a British nobility.”

Wha—?

Don’t you think so—” Genggaman kuat di rahang Jeremy memaksa si pria untuk menengadah, untuk pertama kalinya bertatap muka dengan sang pemilik rumah yang kini mengulum senyum dingin. “—Mr Jeremy Collins?

Dan kepanikan luar biasa menguasai Jeremy sebelum kesadarannya sirna.

.fin

.

Notes:

  1. Motion sensors – Will detect an intruder who enters your home.
  2. BCS – Bachelor of Computer Science.
  3. Control panel – Main hub for the security system.
  4. Cellular backup unit – Provides an alternative method for your security system to notify the monitoring center of a break in.
  5. Thank you for reading!
Advertisements

12 thoughts on “Professionals

  1. I do believe that Jeremy cs. is actually a group of super useful experts but but BUT THEY ARE AT THE WRONG TIME AT THE WRONG PLACE, really. 🙂

    MAS OY MAS LAIN KALI INGET INGET YA DIINGET JANGAN MASUK RUMAH GA ADA ANJINGNYA TAPI ADA PREDATOR PIRANGNYA 🙂

    Apalagi yang punya sodara cewe polos 🙂 jangan. Itu. Hanya. Kedok.

    Ah tapi sudah terlambat sudah digaplok HAHAHAHAHAHAHA DAMN IO IS BAAAAAAACKKKK!!!!!

    Takada abang badut psycho bolela ada duo predator berdarah dingin beku kutub utara yang jadi sasaran pencurian mutakhir … padahal kusudah excited mencatat how to jebol rumah lyke an expert tapi tapi tapi ho ho ho langsung ciut dan ingin tertawa cemas di tengah cerita pas ada si adek cewe, bikos omegod im gonna scream: u r done guys guys guys abort missiooooonnnn nowwwww–so bad. But then, ah okay just enjoy the ride~ let’s see how Io will close this case~

    AND U EXECUTE IT MARVELLOUSLY! A 100 FOR Y! FUNTASTICCCCC!!!

    Like

    1. JEREMY AND THE REST ARE PROFESSIONALS AND IM NOT EVEN KIDDING BUT GUESS THEY SLIP UP HERE XD

      ((dat ‘predator pirang’ tho hahah))

      jadi buat reminder aja kalau punya misi jebol rumah atau apa pun itu segara triple check tida ada seseorang bermarga corvin yang ada di skenario otherwise it will be game over anytime soon pft. thank you so much syodah mampir dan meninggalkan jejak kapang u made my day ❤ ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. AMPUN JEREMY CS. KENAPA KALIAN BISA SALAH TARGET BEGITU HEUHEUHEUHEUHEU 😦😦😦😦😦 ampun iya mereka tuh rencananya udah bagos banget dan yes pastinya expert sekali tapitapitapi

    AKU KAGEEEET! gak nyangka ini yang dimaling kediaman Corvin! ampun banget deh ini ciamik uuuuuuh! sayang banget plan mereka gak bia berjalan sesuai dengan kepercayaan diri mereka di awal cerita but girl that was such a nice twist i couldn’t argue😚😍😍

    aku forever in luv sama tulisan kaktitan dan forever respect your knowledges tentang england dan uk dan everything 💟💟💝 i wonder di mana pengetahuan-pengetahuan tsb kakak pelajari.

    with great luv,
    dhilu.

    Like

    1. they say ignorance is bliss but nope ignorance atas keluarga corvin itu Bencana dengan kapital B ha ha ha

      jeremy cs selalu sukses maling rumah dan mungkin ini penyebab mereka ngga memperhitungkan kalau something is not right with the owner of the house. terlena deh mereka di sini 😦

      huhu thank you so much suda mampir dan meninggalkan jejak dhiluu ❤ ❤ also, u gave me too much credits. google helps me a lot here ehe :")

      xoxo

      Liked by 1 person

  3. CRIME-NYA AMPUN KEKENTELAN. DAN TWIST-NYA KAK TITAN YOU’RE DA QUEEN OF TWIST DAH!!!!

    aaaaaaa i adore your writings so much kaaaak, apalagi yang ini. nabil niat nih, mau ngelist kalimat apa aja yang nabil sukain hahahaha

    1. Kobaran dari perapian di ruangan mengusir hawa beku yang menusuk kendati musim dingin belum mengetuk.

    2. Pria yang berprofesi sebagai hacker dalam komplotan itu menulikan rungu.

    3….seolah berusaha menanam tiap detail visual yang tersaji di ingatan.

     (DAT MUSIM DINGIN BELUM MENGETUK, MENULIKAN RUNGU, DAN MENANAM DI INGATAN SANGAT CANTIK SEKALI KAK TITANNN. permainan /lah permainan/ katanya ituloooh nabil ndak kuat sangaat panutan-able sekaleeee)

    4. Daripada benci, lebih tepat jika disebut malas membersihkan noda darah yang sulit hilang, pikir Erin menggerutu. (DIZ SAVAGE LINE OMO. reaksi nabil saat baca adalah: ia tersenyum miring, menganggukan kepala beberapa kali penuh arti HAAHAHA

    perfectly written kak titan as always 👌👌👌👌

    Liked by 1 person

    1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAA U GAVE ME TOO MUCH COMPLIMENT NABIL STAHP but seriously tho u flatter me so asdfjklhggh :”)))

      thank you so much nabil aaaaaaaaaaaa tulisan titan masih rada abal gatau kemaren kesambet apa jadi bisa nulis kaya gitu hahah :”)

      (also, erin is actually the most savage in the group but guess i didn’t show it as much as i want to augh)

      laf laf nabil ❤ ❤

      Like

  4. ANOTHER BRITISH BADASSES HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA aku belum mengenal siapa estelle dan siapa kakaknya karena aku tbh belum membaca semua karya kak titan (huhu and i’m sorry), tapi apakah mereka temennya keluarga vaughan milik lt.von hmmmmmm hanya waktu yang dapat menjawab.

    bcs jeremy, lain kali, risetnya harus sampe ke dasar-dasar abis bahaya ah mau nyuri di rumah orang-orang kayak gini, yang ada nanti kamu dan temen-temenmu digantung 😦 hayo hoya hayo hoya kan serem 😦 😦 i wish all the best for you, jeremy cs. kalau ga selamat pun, semoga ga jadi setan gentanyangan ya huhu.

    OUTSTANDING FROM O.W.Ls GRADING SYSTEM TO KAK TITAN!!!! ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. asdfjklhg isokey eviiin!! estelle sama si kakak ini tokoh tetap titan sih but titan juga jarang ngeluarin mereka partly bc of their /complicated/ personality augh

      btw, hubungan duo pirang ini bisa dibilang antara benci sama cinta sama keluarga vaughan HAHAHA ((terus dibegal kapang))

      jeremy cs terlena gegara selama ini nyuri di rumah orang lancar sentosa but not for this one lol. tbh bahkan estelle pun gatau mereka ini mau diapain. planning nya cuma nangkep mereka and the rest adalah urusan duke harold hoho

      THANK YOU SO MUCH EVIN U MADE MY DAY AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ❤ ❤

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s