Hello, Stranger

Braile Hudson punya penggemar yang merahasiakan dirinya.

.

Satu minggu semenjak kepindahanku ke rumah berlantai satu ini, kudapati Braile Hudson memasang tampang kuyu berketerusan. Wanita di pertengahan dua puluhan itu begitu berbeda dengan yang lainnya. Ia tak pernah menyerok sisa es di pekarangan kala musim dingin, mencuci mobilnya dengan banyak busa di musim panas, apalagi menyesap secangkir teh panas di beranda rumah ketika dedaunan meranggas. Braile agaknya lebih suka membiarkan dirinya tanpa kawan. Bagi orang kebanyakan, sifatnya sungguh membosankan. Namun, tidak bagiku. Braile begitu memikat dengan tanpa adanya teman sekalipun.

Oh, Braile Hudson bisa jadi merupakan wanita paling menarik yang pernah kuperhatikan sejauh ini. Bagaimana tidak? Ia memiliki bentuk tubuh ideal dalam balutan pakaian-pakaian yang cukup modis, pula warna-warna monokromatik yang tidak biasa. Hidung Braile mancung, pipinya merona alami, helai rambut sepunggungnya acap kali dibiarkan tertiup sepoi angin. Wanita itu mandiri, tak pernah kulihat Braile menggandeng orangtua, saudara, teman, pun lelaki lain ke dalam rumahnya. Ia benar-benar tipeku.

Awalnya aku tak mengerti mengapa Braile-ku menjadi muram begitu. Kuasumsikan yang menjadi penyebab utamanya adalah tempat kerja yang tidak membuatnya nyaman. Well, kenyamanan merupakan salah satu faktor utama penentu kebahagiaan seseorang. Tetapi lambat kuperhatikan, wanita itu justru lebih bersemangat ketika menyiapkan diri untuk pergi bekerja. Ia akan bersenandung sembari mengambil beberapa potong pakaian untuk bekerja, membawanya keluar ruangan, untuk kembali dengan berpasang-pasang pakaian kerja yang telah rapi. Tas kerjanya akan ia jejerkan di meja dekat tempat tidurnya, sementara sepatu-sepatu berbeda model diposisikannya di lantai. Paginya ia akan bangun dengan senyuman dan doa, lantas menyambut hari cepat-cepat. Dengan itu, kucoret problema tempat kerja dari daftarku.

Lima hari kemudian, masih tanpa konversasi yang ditukar maupun kontak mata, Braile akhirnya membawa orang pertama ke rumahnya. Wanita dengan rambut pendek sewarna jagung beserta anjing kecil yang rasnya tak kuketahui.

“Emina, please. Ini berkaitan dengan yang kuceritakan kepadamu kemarin lalu. Tidakkah kau merasa diawasi?” kata Braile, suaranya terdengar samar.

Ia baru dapat kembali kulihat ketika sudah melewati pintu kamar, berjalan masuk sembari menggandeng lengan temannya. Aku mengernyitkan dahi. Siapa?

“Tidak bisa, Braile. Adikku sendirian di rumah, ibu akan membunuhku bila tahu putra bungsunya ditinggal seorang diri. Besides, kau mengundangku ke sini hanya untuk mencoba teh aroma mawar yang baru kaubeli kemarin. Hubungi saja aku jika terjadi apa-apa.”

Aku tidak dapat mendengar bisikan mereka selanjutnya, tetapi rintihan Braile ketika Emina memberi pelukan perpisahan jelas memberitahuku satu hal. Braile akan sendirian lagi malam ini. Wanita itu kembali ke kamar setelah mengantar kepergian rekan kantornya. Langkahnya terseret, bahunya turun, beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Kutangkap lirikan matanya ke arah langit-langit selama sepersekian sekon, lantas ia bergidik dan berlari ke luar ruangan. Oh, Braile. Apa yang sedang mengganggumu?

Asumsi keduaku adalah menstruasi. Mungkin aku mengenalnya terlalu cepat, sehingga pengetahuanku nol ketika membicarakan tentang siklus menstruasi yang dialami Braile. Ah, jangankan ia, siklus menstruasi wanita kebanyakan pun aku tak paham. Omong-omong kuasumsikan demikian karena Braile menunjukkan perubahan emosional yang terlalu kentara. Akhir-akhir ini ia sering kembali ke kamar dengan air mata mengalir di kedua sisi wajahnya, tangisnya pecah ditemani selimut tebal berwarna putih. Kemudian ia akan menepuk pipinya, seakan menyadarkan dirinya bahwa ia tak boleh menangis lagi. Lantas dibawanya sebuah bantal dan selembar selimut tipis dari lemari ke luar ruangan. Oh, Braile yang malang.

Tetapi, lagi-lagi asumsiku dipatahkan. Kali ini dengan pahitnya. Braile meniduri lelaki pertama yang kulihat di rumah itu. Jangan tanya apakah aku memerhatikan, karena kini aku benar-benar marah. Braile Hudson, milikku, membawa pulang lelaki yang sama tiga malam dalam seminggu terakhir, tidur dengannya semalam suntuk. Tentu bukan menstruasi. Bukan siklus itu yang membuatnya menjadi murung. Kali ini, akan kupastikan alasannya bukan karena Braile membutuhkan laki-laki.

            Langkahku begitu pelan kala menyentuh lantai yang sama dengan yang tengah mengalasi telapak kaki Braile. Untuk pertama kalinya, aku dapat melihat apa yang ia lihat, dari sudut pandang yang persis sama. Braile tengah mengocok telur di mangkuk, bibirnya terbuka menyenandungkan nada yang tak kukenali. Aku berada tak jauh darinya, ingin lekas-lekas merengkuhnya ketika kakiku tak sengaja menabrak sebuah keranjang di sudut lain ruangan. Braile menatap awas ke sekelilingnya. Ia menaruh mangkuk yang sedari tadi dipegangnya begitu saja. Dapat kulihat bahunya menegang. Oh, Braile. Jangan takut.

“Siapa itu?”

Tak ada respons.

Wanita itu kemudian lari membawa telepon genggamnya, melalui pintu dapur yang dibiarkan terbuka lebar bahkan setelah ia keluar. Aku menunggunya pulang. Sirine di luar mengacaukan pendengaranku ketika lima orang berseragam polisi mendobrak pintu utama tepat di belakangku. Ada kericuhan singkat sampai dua orang aparat menertibkanku. Braile masuk tak lama setelah aku dibekukan. Wanita itu memandangku liar, irisnya penuh dengan rasa takut yang selama ini bersarang dalam dirinya. Teriakannya tak pernah benar-benar meninggalkan memoriku usai kukatakan, “Jangan takut, Braile Hudson. Aku Tom, I live just upstairs your bedroom.

—fin.

a/n:

  • Remake dari fiksi yang belum sempet di-publish.
  • Kritik dan saran sangat diterima! : )
  • HALOOO SEMUAAA, so glad to be home.
  • Terima kasih khusus untuk kakfika yang selalu menemani di kala tidak online, plus beta fic ini ❤ Aku padamu, kak!
Advertisements

10 thoughts on “Hello, Stranger

  1. karena namanya Tom, langsung kepikiran itu Tom si Kucing kan, padahal ya ampun aku belum bisa nebak pengagum rahasianya itu siapa atau apa. Kalau kucing kan boro2 tahu mode pakaian, monokrom dan mentruasi ya, kan? hehe Atau mungkin aku yang kurang teliti kalau ada clue berserakan sepanjang cerita. Yah, aku masih berasumsi Tom itu sejenis binatang liar mungkin, kayak sigung atau coyote, hehe
    Btw, salam kenal Kak, Amelia desu 😄

    Liked by 1 person

    1. Halo, Amelia! salam kenal aku Dhila dari garis 98😊 Sebenernya si Tom ini kubuat 100% orang looh, tapi kayaknya kalo diliat dari sudut pandangmu sedikit bisa nih dikira kucing atau hewan lainnya haha. meski bukti konkret kalo dia manusia itu ada di akhir cerita, di mana Tom dibekuk polisi dan ngenalin dirinya ke Braile.

      ini unique nih pandangan kamu, mal! ucu juga kalo dia kucing atau binatang liar. kayak-kayaknya fic ini bisa jadi open ending hehe. Nvmind tho😁 Makasih amalia udah main dan meninggalkan komentar! seeya around😋

      Liked by 1 person

    2. Hehe iya kak, apalagi kalo di luar negeri sana kan sering ada binatang liar masuk ke rumah, si braile kan cewek jadi takut gitu sama binatang. Kalo yg si tom ngomong bisa jadi di ngomong tp nanti jd genrenya creepy. Atau si tom ngomong tp dalam bahasa hewan yg artinya ngomong demikian. Hehe panjang y kak teoriku, padahal udah dijelasin penulisnya, tp aku suka sih nebak2 kayak gini.

      Like

  2. Dhila^^ aku udah pernah kenalan belom ya wkwk gapapa deh intro lagi aja.
    Aku washfa, 98l. Kita seumuran deh 🙂

    Btw btw, aku mikirnya ini creepy2 gimana gitu. Kebayangnya ada seseorang yang hidup di atas langit2 kamar dia, trus ngintipin dari bolongan plafon 😨 makanya pas si braile natap langit2 dia langsung shiver gitu. Duh imajinasi liarku menyeramkan. 😱 Gakebayang pas malem2 di atas kamar lo ada suara2 dikirain tikus lari2 ternyata orang 😲

    Wkwkwk itu sih tebakanku dhil gatau lah pokoknya aku merasa ini serem 😂😂

    Liked by 1 person

    1. Halo, Washfa! Maafkeun kujuga lupa apakah kita udah kenalan atau belom, jadi salam kenal yaa, Washfa! 😊

      HUHU THATS RITE 😦 aku juga nulisnya sambil lirik-lirik plafon abisnya semenjak melihat sebuah video di youtube yang isinya ada orang asing di plafon dan turun setiap malem buat nyuri makanan dan alat mandi tuh aku selalu merasa kripi sehingga hidupku tidak pernah sama lagi haha. (beneran creepy sih itu video😫😖)

      yup tebakanmu bener kok fa! Tom ini emang 100% orang. which is semakin bikin serem soalnya dia bisa ngelakuin apa aja kannnnn huhu braile hudson 😦

      anyway makasih yaa udah main ke fic ini! seneng nambah temen 98l 😁 seeya!

      Liked by 1 person

  3. DHILUUUUUU WELKAMBEEEEKKKKKKK!!!

    Ha
    Ha
    Ha
    Ha
    Ha
    Tom tolong ya dikondisikan keponya 😦
    Tinggal ‘literally’ di atas rumah 😦
    SEREM.YHA.LORD!
    Quqira itu tadi masnya setan bikos nabrak keranjang tapi ga ditabok teflon … syukurlah ternyata masih manusya :>

    DIZ IZ GWEAAAAT AILAIKET DHILUUUU ❤

    Liked by 1 person

    1. KAPANG! KAPANG! KAPANG!
      Hug me please huhu im scared of Tom 😦 mezkipun nama Tom itu bikin trigger tom felton tapi aku malah kebayang Tom ownernya Leaky Cauldron yang ada di movie-nya HP3 huhuhuhu SO KRIPIIIIIII.

      kayaknya kalo dia setan lebih bagus karena selain nakutin dan bisa bikin manusia melakukan hal-hal negatif, really setan gabisa jahatin langsung:( kalo orang kan……… apalagi yang gak stable kayak tom gt. ……. (kabur)

      YEAYY THANK YOU KAKPANG! YOU’RE MY BUNGEOPPANG 💞💞💖 Glad you like it! 😊😊😊

      Liked by 1 person

  4. HALO DHILAAAAAA
    kangen banget deh sumpah!

    Tulisanmu udah ya gak perlu dikomen lagi; 102% sempurna.

    Aku pikir si Tom ini rada pyscho dan NIAT.BANGET.STALKERIN.ORANG. DAH. HAHA.

    Liked by 1 person

    1. KAKLIA HALOOOOO!
      AKU JUGA KANGEEEEN 😍😍

      kaklia aku jadi maloe hehehe. TERIMA KASIIIIH ^^
      true kak, emang si Tom ini psiko gt deh kan serem edan banget sampe tinggal di atas plafon kamarnya Blaire.

      makasih kaklia udah mampir 😘 seeyaawww

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s