Akhir Pelarian

by aminocte

Ikutlah bersamaku untuk akhir yang bahagia.

Di tengah kubangan lumpur yang seolah tak bertepi, seonggok jasad tampak bergerak. Adalah keajaiban bagi seorang manusia untuk bisa bertahan hidup di dalam miskinnya oksigen, tetapi barangkali jasad itu sekadar bergoyang tertiup angin, bukannya bergerak secara volunter sebagai pertanda kehidupan. Namun, tunggu dulu. Sejak tadi angin bahkan tidak berembus, lalu bagaimana bisa aku sampai pada kesimpulan itu? Baiklah, kuralat ucapanku. Jasad itu agaknya benar-benar masih hidup. Lihat saja sekarang sebentuk tangan berangsur keluar dari genangan lumpur yang basah. Warnanya abu-abu gelap dan baunya busuk seperti tahi kerbau. Sekarang kedua tangannya telah keluar dengan sempurna. Tak lama kemudian, kedua kakinya berangsur-angsur terentang, sehingga posisi jasad itu lebih menyerupai laba-laba yang sedang bersiap untuk membuat sarang.

Kalian mungkin heran mengapa aku masih berada di sini. Sama, aku pun heran dengan diriku sendiri. Apa asyiknya memperhatikan sosok asing yang merayap keluar dari kubangan lumpur? Namun, aku kadung penasaran. Aku ingin mewawancarainya untuk memperoleh rahasia bertahan hidup di lingkungan ekstrem. Tapi itu nanti, jika suatu saat tatapan mata kami bersirobok. Kalau dia tidak melihatku, ya sudah. Rahasia itu bukan lagi menjadi urusanku.

“Sudah berapa lama kau berada di sini?”

Tiba-tiba aku mendengar suara. Kuarahkan pandanganku ke sekeliling. Seonggok jasad itu — ya, tadi aku menyebutnya seakan ia lebih dekat kepada kematian ketimbang kepada kehidupan — kini berdiri menatapku, dengan wajah coreng-moreng oleh lumpur yang mengering. Ia sibuk menyeka wajahnya, upaya yang nyaris sia-sia untuk membuat parasnya lebih sedap untuk dipandang.

“Sejak beberapa menit yang lalu, kurasa.”

Sepasang mata itu tampak menerawang.

“Lalu, sudah berapa lama aku ada di sini?”

“Mana aku tahu? Mungkin sudah sejak ratusan tahun yang lalu?”

Ia mencebik. “Mana mungkin? Umurku masih dua puluh tahun.”

Aku mendengus.

“Ha, jadi kau masih ingat umurmu rupanya. Kenapa kau bisa-bisanya terperosok ke dalam lumpur?” tanyaku seperti menertawakan kebodohannya tanpa tahu apakah ia benar-benar bodoh atau tidak.

“A-aku melarikan diri,” ucapnya terbata.

“Melarikan diri?”

“Melarikan diri dari penguasa yang zalim.”

“Kukira hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi di zaman sekarang.”

“Kau salah. Penguasa yang zalim itu ada di setiap masa. Kau saja yang barangkali tidak merasakannya. Lihat saja, suatu saat nanti, penguasa zalim itu akan mengusik kehidupanmu. Pada saat itu, kau tak punya pilihan lain selain melarikan diri.”

“Sepertimu?”

“Tidak harus sama persis sepertiku, tapi kurang lebih begitu.”

“Lalu apa rencanamu setelah ini? Kembali ke rumah?”

“Rumah? Rumahku adalah dunia ini.”

Aku mengerutkan dahi. Sosok lelaki ini barangkali kehilangan kewarasannya, entah sejak lama atau sejak insiden yang membuatnya terjebak di dalam kubangan lumpur. Kudengar dari dokter tua di dekat rumahku, kekurangan oksigen dapat mengganggu kerja otak. Barangkali lelaki ini adalah salah satu contohnya.

“Mengapa harus pulang jika dunia ini adalah rumahku?” tanyanya retoris, lalu terkekeh. Aku menaikkan sebelah ujung bibirku, nyaris tak percaya karena ujaran semacam itu pun mampu membuatku tersenyum meski senjang. Aku bahkan ikut terkekeh bersamanya.

“Lihat, kau bahkan tertawa bersamaku. Kupikir kita tidak jauh berbeda.”

Ia meraih tanganku, membuatku merasa jijik. Terlintas di benakku untuk membantingnya hingga jatuh ke kubangan lumpur itu, agar ia menghabiskan sisa hidupnya di sana sekali lagi. Namun, itu terlalu ekstrem untuk kulakukan. Bagaimana jika sidik jariku yang tertinggal membuatku harus menghabiskan hidup di bui?

Akhirnya, kutepis ia dengan halus. Namun, kehendaknya masih kuat. Ia memaksa untuk menggenggam tanganku.

“Mari sama-sama melarikan diri dari penguasa yang zalim. Dunia tempatmu tinggal bukanlah untukmu. Ikutlah bersamaku untuk akhir yang bahagia.”

Aku baru saja berpikir untuk melaksanakan niatku semula saat suara-suara asing terdengar sayup dari kejauhan.

“Kemarin saya melihatnya berada di sekitar sini, Pak.”

“Bagaimana ciri-cirinya?”

“Laki-laki, umur sekitar dua puluhan, berbaju putih lengan pendek dengan celana putih selutut.”

Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu memaksaku untuk menunduk. Di sebelahku, ia menaruh telunjuknya pada bibir, memaksaku untuk diam dan bersembunyi.

“Itu dia penguasa zalim yang kuceritakan. Jangan coba-coba mendekat. Ia akan memenjarakanmu di sel bawah tanah dan menyiksamu dengan berbagai cara.”

Di mataku, kedua orang itu tampak bagai dua lelaki biasa. Yang satunya terlihat seperti petani dan yang satunya lagi lelaki berseragam. Mungkin pegawai pemerintahan atau semacamnya. Raut wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan kebengisan atau apa pun itu. Lantas, mengapa lelaki di sebelahku ini sedemikian takutnya kepada mereka?

“Aku tidak percaya. Lihat, mereka tampak biasa-biasa saja. Penguasa zalim mana yang mau menghabiskan waktu di kubangan ini? Ia bisa menyuruh pengawalnya atau siapa pun itu.”

“Yang di sebelahnya itu adalah pengkhianat. Dulunya ia sahabatku. Ia yang menunjukkan tempat persembunyian ini. Tapi ia malah memberitahukan keberadaanku kepada penguasa zalim itu. Memang dunia sudah mendekati akhirnya. Kepercayaan begitu mudah dikhianati. Persahabatan pun begitu mudah untuk dibeli.”

“Mungkin itu prasangkamu saja.”

“Tidak, itu adalah kenyataannya. Dunia ini kejam. Jauh lebih kejam daripada yang kau kira.”

Mungkin dia benar, tetapi aku menolak untuk percaya. Kuabaikan desisannya yang terus menyuruhku untuk bersembunyi. Aku bangkit dengan susah payah; kedua kakiku terbenam dalam lumpur hingga setinggi betis.

“Itu dia orangnya!”

Seseorang berseru. Tidak kuperhatikan asal suara itu. Yang membuatku terkejut justru tangan mereka yang tertuding ke arahku. Lelaki berseragam itu berlari menghampiriku, diikuti oleh lelaki yang tampak seperti petani itu.

“Kau pun sama saja. Pengkhianat.”

Lelaki berlumpur itu pun ikut-ikutan menudingku. Apa maksudnya itu?

“Tunggu!” seru si lelaki berseragam sambil mengangkat kedua tangannya. “Lihat, saya tidak bersenjata. Saya tidak akan membahayakanmu.”

Lelaki yang di belakangnya diam saja, menatapku waspada. Mengapa justru aku yang menjadi target mereka?

“Aku bukan orang yang kalian cari. Orang yang kalian cari ada di sebelahku. Kalian lihat, ‘kan, lelaki itu? Ia terus menceramahiku tentang penguasa zalim, dunia yang kejam dan hampir kiamat, sahabat yang berkhianat, dan entah apa lagi. Baiknya kalian tangkap ia sekarang juga.”

Saat aku mengalihkan pandanganku, sosok itu sudah tidak terlihat.  Kuperhatikan diriku sendiri yang penuh dengan bekas lumpur yang mengering. Lelaki berseragam itu segera mengunci kedua pergelangan tanganku. Aku digiring ke suatu tempat yang tidak kuketahui. Barangkali aku akan dibawa ke suatu tempat yang mirip penjara Bastille untuk ditanya-tanyai. Kalau lelaki berlumpur itu benar, mungkin aku akan dipaksa untuk meminum tuba atau disengat listrik berulang kali. Barangkali mereka akan memenggal kepalaku jika aku enggan berkompromi.

Sementara bisikan lelaki berlumpur itu tak henti-hentinya menggerogoti telingaku.

“Pengkhianat! Bukankah sudah kukatakan padamu, larilah bersamaku atau bersembunyi!”

Lalu tawanya berderai, terasa begitu renyah di telinga. Apakah itu pertanda bahwa aku dan dirinya adalah sama?

Bagaimana menurut kalian?

fin.

 

  • image credit: here
  • Maaf baru kembali lagi
  • Mohon maaf lahir dan bathin semuanya
  • Selamat mudik bagi yang mudik! 🙂

 

Advertisements

8 thoughts on “Akhir Pelarian

  1. AAAAAAAAAAAAAA KAK AMIIIIIIIIII!!!
    AKU KAGET MASNYA KESURUPAN HUHU :((
    Gakdeng bukan kesurupan tapi serius I was lyke … lah masnya tadi yang abis di lumpur mana lah loh lah loh lah

    Aku yang akhir-akhir ini baca yang selow-selow kena tulisan kak ami langsung jdyarrrr nak bangun nak mari kita berpikir dan menalar XD ((but this one is a good thing, really))
    Meski harus baca dua kali untuk meyakinkan aku dapat pesannya aku sangat sangat sangat menikmati ini dan juga karakternyaaa!
    Masnya semacem lelah lari dan dikhianati lalu denial, lalu delusi, lalu ketangkap lagi 😦

    kapan aku bisa menulis penuh faedah seperti ka ami huhu T^T KEEP WRITING KAAAAAK! ❤ ❤ ❤

    Liked by 1 person

    1. Haeee kakpaang 😀
      Iya kurang lebih masnya seperti itu. Ini nggak seperti yang kurencanakan di awal tapi aku senang ceritanya cukup lumayan haha (lumayan bisa dinikmati) karena aku khawatir ini absurd sekali.
      Kapan aku bisa nulis berdarah-darah kayak kakpaang KEEP WRITING KAKPAANG ❤ ❤

      Liked by 1 person

  2. Amiiii. Baca ini bikin mikir. Baca pertama, mikir. Baca kedua, makin mikir.
    Makna tersiratnya bikin kita mikir lagi tentang isinya hehehe.
    Dunia ini memang kejam.
    Berkali-kali itu ditulis di dalam cerita ini untuk mengingatkan pembaca juga. hehe.
    Keren, Ami!!!

    Tbh, aku serem juga pertama bacanya. Udah wanti-wanti nganjangan ini cerita horor wkwkwk.
    KEEP WRITING AMIII!!! ❤❤

    Like

    1. Kakmalaa semoga ga trauma ya karena jadi harus berkali-kali baca (maaf kalau jadinya musingin). Tidak horor kok kak karena aku juga belum bisa nulis yang horor-horor paling kripi kripi dikit haha
      KEEP WRITING KAK MALAA ❤ ❤

      Liked by 1 person

  3. KAK AMIII WOW PLOT TWISTNYA BIKIN AKU MELONGO NIH
    First aku kira ini dystopia ya ampun ada apa dengan aku dan dystopia kayanya aku segak sabar ini nunggu the death cure rilis. Terus pas si laki-laki berlumpur itu mulai ngoceh dan muncul lelaki berseragam sama bapak petani, aku jadi mikir si laki-laki berlumpur ini orang gila. Kak Ami tau ga dulu sempat ada berita heboh ditemukan jasad di sawah taunya itu orang gila tiduran di sana? Nah aku mikirnya jangan-jangan bakalan kaya gini, nih ending ceritanya kan bakal kocak, tuh. Tapi pas udah sampe ending aku kaya “HAAA JADI INI YANG GILA SIAPA DONG JANGAN-JANGAN SAYA” hadeuh jos tenan endingnya aku hampir oleng xD
    Aku udah siap-siap mau ngetawain orang gila berselimut lumpur ditangkep aparat kepolisian malah dibikin merinding gini wkwkwk pokoke sakjose tenan lah iki! Ditunggu karya-karya hebat selanjutnya, Kak! Keep writing! ❤

    Liked by 1 person

    1. WOW RANIII
      Iyaa aku inget kasus yang ituu *tapi mendem aja nggak jadi cerita* sampai tiba-tiba aku mendapatkan ide tentang lelaki yang bangkit dari kubangan (tapi rencana awalnya nggak seperti ini, sayang aku juga nggak inget original endingnya seperti apa)
      Aku juga pengen twist humor seperti itu kapan-kapan haha karena pas garap ini sama sekali ga kepikiran twist humor.

      Makasih Ranii, keep writing too! ❤ ❤

      Liked by 1 person

  4. GREGET, BOSQU! GREGET! Huhu aku tuh selalu seneng sama twist bikinan anak ws huhu yorobun kalian semua sangat jjang! 💙 Iya bener kata kakMala, baca ini bikin mikir (dan bagus karena aku udah lama gamikir). Anyway tadinya kukira si ‘aku’ ini tuh pencabut nyawa gituu kayak The Book Thief mengingat dia mencurigakan and all. eh gataunya…….. KAKAMI NEOMU NEOMU. Gila ya. Dunia bukan cuma kejam aja, tapi juga full of madness dan ya itu tadi, kejam:(

    p.s : favoritku dari fic di atas tuh penyebutan lelaki lumpur sebagai jasad. itu nendang banget deh ampuuun

    Liked by 1 person

    1. WAAAH DHILUU my adorable lil sissyyy
      Aku udah lama nggak ngetwist percayalah (jadi aku khawatir maksa?) dan maksain ceritanya buat rumit padahal ini let it flow aja, eh kepikiran kalau si aku adalah si dia yang lagi waham dan paranoid. Aahh seriuously dhiil your comment make my day! ❤ ❤ keep writing yaa

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s