Bonnie

Ditulis dalam rangka mengikuti event Pantura, dengan prompt: Senyummu menambah bonku

© Catstelltales, 2017

Featured image credit: Photo by Rab Fyfe on Unsplash

“Maggie si Kecut sudah mencatatnya.”

Pramusaji baru itu bernama Bonnie Miller. Kabar bahwa ia adalah pramusaji paling cantik yang mungkin pernah kaulihat sepanjang hidupmu sudah tersiar ke mana-mana dan ramai disambut layaknya selebritas baru di East Harlem. Bonnie Miller punya sepasang mata hijau zamrud yang menatap tanpa sungkan, helai-helai rambut hitam trendi ala enam puluhan yang mengingatkanmu pada film Breakfast at Tiffany atau semacamnya dan Bonnie tentu saja adalah Holly Golightly karena semua gadis cantik berhak menjadi Holly Golightly, dan senyumnya—tarikan yang membentuk kurva penuh nan memesona itu—sangat menarik. Memerangkap hingga kau terperosok dan tak ingin diselamatkan.

Itu sih, katanya. Para pria di proyek pembangunan rumah-toko ini gemar sekali menabur kelakar pada topik yang sedang hangat. Aku tidak percaya bahwa setelah debat sengit soal politik, mereka kini banting setir membicarakan seorang wanita—hanya satu orang, bukannya sekelompok penghuni baru apartemen sebelah proyek dan sebagainya. Bukannya aku peduli. Hanya saja, topik yang bikin telinga kebas dan aus lantaran tak hentinya mengudara ini mulai memancing rasa penasaranku. Dan aku menyukai diriku sendiri ketika sedang penasaran.

Untuk catatan awal saja, aku menyiapkan sendiri bekalku sehingga aku jarang menapak jejak di kedai mana pun untuk makan siang. Jadi aku tidak pernah tepat waktu dalam mengikuti berita terbaru, dan bukan salahku jika aku ingin membuktikan bahwa Bonnie Miller yang terkenal itu tak ubahnya pramusaji biasa yang kebetulan bersikap kelewat ramah pada siapa saja. Lalu ketika aku menangkap lagi pembicaraan lain soal Bonnie Miller di proyek ini, aku akan menghampiri rekan-rekanku sambil menenteng kopi di ruang pekerja dan bilang, “Masih Bonnie Miller, Sobat? Serius?”

Berikutnya, aku tidak bawa bekal. Alih-alih, aku bergabung dengan teman-temanku pergi ke sana. Kupikir hanya perasaanku saja, tapi teman-temanku tampak terlalu bersemangat. Mereka bahkan membiarkanku duduk di meja berkapasitas dua orang, sementara yang lainnya bersempit-sempit di meja pojok. Aku merasa mereka merencanakan sesuatu, atau hanya sepakat bahwa ini akan jadi tontonan menarik.

Lalu seseorang menghampiriku. Bukan Bonnie Miller.

Maggie mendekati mejaku dengan malas-malasan. Ia wanita berusia tiga puluhan yang ekspresinya berubah menjadi asam dan kecut sekali tiap mencatat pesanan pekerja proyek, aku tidak tahu sebabnya dan tidak peduli.

“Menu spesial hari ini adalah daging asap,” Maggie mengumumkan dengan suara yang diseret-seret. Notes dan pulpen sudah siaga di tangannya, siap mencatat.

“Apakah Bonnie Miller ada?” tanyaku langsung. Muka Maggie langsung bertambah kecut sampai-sampai mulutku jadi ikut-ikutan pahit.

“Bonnie Miller tidak ada di menu hari ini,” tukas Maggie, tampak kesal.

“Maaf, aku tidak bermaksud buruk. Oke, Meg, donat dan kopi saja.”

Maggie melesat bagai anak panah usai mencatat pesananku, dan itu memberikanku kesempatan untuk memindai seluruh sudut ruangan, mencari Bonnie Miller. Entahlah, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya, jadi pencarianku hanya bermodalkan hafalan wajah. Yang belum pernah kulihat sebelumnya pastilah dirinya.

“Ada yang bisa saya bantu? Anda sudah pesan?”

Aku mendongak ke sumber suara. Selagi memandangnya, aku berusaha mengingat-ingat ciri-ciri Bonnie Miller yang sering digembar-gemborkan di obrolan pria di lokasi kerja. Bahwa para pria lajang ingin mengajaknya ke bioskop, dan bahwa … tunggu, bagaimana rupanya Bonnie Miller yang sering mereka ceritakan?

Tidak, aku tidak ingat. Otakku tumpul gara-gara sosok di samping bangkuku saat ini dan aku tidak punya kesempatan bahkan untuk menengok ke arah teman-temanku.

“Bonnie Miller?”

Oh, bagus sekali, Wilmer, memanggil namanya secara langsung adalah tindakan yang sangat kasual. Wanita itu mengerutkan dahi, lalu tampak berusaha keras untuk tersenyum. Kau tahu hal terburuk dari semua kabar yang tak ingin kaupercayai? Benar, yang terburuk adalah bahwa kabar itu ternyata benar. Bonnie Miller adalah gambaran dari semua yang wanita lajang inginkan—ia cantik, dan cantik, dan cantik.

Dan memesona tanpa harus berusaha keras.

Kukatakan padamu, pramusaji di sini adalah pramusaji yang mengenakan seragam paling biasa yang pernah kulihat—hanya kaus polo berukuran superbesar dan celana drill warna hitam.

Tapi Bonnie Miller membawa seragam itu naik ke level yang berbeda. Seragam yang serbagombrong dan tidak menarik itu kini terlihat sangat bagus ketika ia mengenakannya. Bagaimana hal-hal tersebut terjadi dengan begitu tidak saintifiknya, aku tidak tahu. Tidak ada sains untuk kecantikan sekelas Bonnie Miller.

“Saya Bonnie Miller. Anda sudah pesan makanan?”

Aku mencoba memastikan bahwa aku tidak amnesia dan bahwa aku memang sedang tidak mengencani siapa pun.

“Maggie Si Kecut sudah mencatatnya.”

Alis Bonnie Miller bertaut lagi, sangat cepat sebelum ia tersenyum, sehingga aku nyaris tidak menyadarinya.

“Sejujurnya, Miss Miller—apakah Miss atau Mrs.? (Ia menjawab ‘Miss’, satu ikan sudah menyambar kail pancingku) teman-temanku membicarakanmu di proyek. Jadi aku penasaran dan datang ke sini untuk membuktikannya sendiri. Kurasa mereka benar.”

Tunggu, apakah tadi aku memasukkan ‘merayu Bonnie Miller’ ke dalam agenda? Ah, masa bodoh.

“Begitu?” Suara Bonnie Miller terdengar sejuk dan renyah seperti kraker keju mint. “Apa persisnya kebenaran yang mereka bicarakan?”

“Entahlah, coba kuingat-ingat. Oh! Mereka bilang kau cantik dan memesona. Mereka juga membicarakan alismu tapi aku bukan tipikal yang memedulikan detail.”

Wilmer Howard sedang menggoda wanita, inilah agendaku hari ini. Maksudku hey, aku lajang dan ia juga belum menikah.

“Itu berlebihan, Tuan—“

“Howard. Panggil saja aku Wilmer, kumohon.”

“Wilmer.” Ia memindahkan notesnya dari tangan kiri ke kanan. “Rasanya tidak tepat menilai seseorang begitu saja lalu membicarakannya di belakang. Maksudku, aku tidak hanya punya nama. Aku punya kepribadian, punya aksen, punya sesuatu yang kusukai dan tidak kusukai.”

Bingo, wanita ini sedang mengajakku untuk mengenal satu sama lain. Terlepas dari aksennya yang familier—aku merasa pernah mendengar seseorang berbicara dengan aksen serupa.

Apakah aku sudah menyebutkan soal senyumnya? Kau seharusnya menyaksikannya sendiri, tapi baiklah, akan kujelaskan. Jika kau menyukai senyuman dengan lekukan kecil di masih-masing sudut bibir, maka Bonnie Miller adalah gadis favoritmu. Jika tidak, maka ia masih akan menjadi gadis favoritmu, karena ia punya deretan gigi putih yang rapi, dan batang hidungnya nyaris selalu berkerut tiap kali ia tertawa. Aku kehilangan petunjuk waktu ketika berbicara dengannya, aku bahkan tidak ingat kami membicarakan apa.

Dan aku masih tidak ingat soal aksen yang dimiliki wanita ini. Otakku tidak bisa bekerja.

Hingga Maggie si Kecut menghampiri kami dan memberikan kertas tagihan. Aku mendongak padanya lalu melemparkan tatapan kesal. Tatapan kesal itu ditangkap dengan baik lalu dioper pada Bonnie. “Dilarang mengobrol dengan tamu ketika masih bertugas!”

Tak lantas menghapuskan senyuman wanita itu.

“Bisa selesaikan pembayarannya, tidak? Aku masih harus mengelap meja sana,” Maggie makin cemberut. Aku merogoh dompet, dan baru menyadari sesuatu. Bukan, bukan hanya bahwa aku menyadari kalau uangku tidak bisa menutupi angka yang tertera pada kertas tagihan ini, tapi karena—oh, ya Tuhan.

AKSEN ATLANTA!

Itu dia! Aksen Atlanta!

Bagaimana mungkin aku tidak menyadari kesamaan dialek yang dimiliki Maggie dan Bonnie! Bagaimana mungkin aku tidak mengacuhkan betapa familiernya aksen itu ketika Bonnie berbicara.

Dan.

Oh ya.

“Oh, kau mengenal kakakku, Maggie si Kecut.” Bonnie melingkarkan tangannya di pundak Maggie si Kecut yang langsung membuat Maggie bereaksi bagaikan keselomot panci panas. Senyum indahnya masih merekah, tapi kali ini punya arti lain.

Aku berusaha mengabaikan gelak tawa teman-temanku di meja belakang, menyebut-nyebut bahwa ‘akhirnya Wilmer kena juga!’ dan ‘senasib sepenanggungan, teman!’ dan ‘maaf, Wilmer, tapi kau harus kena juga!’ dan ‘kan kau juga setuju soal julukan itu!’ dan sebagainya. Aku tidak percaya mereka sepakat untuk merahasiakan ini dari yang ‘belum tahu rasa’.

Teman-teman sialan.

Kertas tagihan sialan.

Angka-angka tidak masuk akal sialan.

Aku terlalu terpana pada gadis itu sehingga kubiarkan ia mengambil alih. Oh, aku benci ketika seseorang berhasil mengambil alih!

Bonnie Miller meninggalkan mejaku, sementara aku berada di bawah hidung dan napas Maggie si Kecut (masa bodoh, ia tetap Maggie si Kecut).

“Jadi begini—“

“Kami menerima kartu kredit,” Maggie memotong tak sabar.

“Yah, masalahnya aku tidak punya kartu kredit,” ujarku menebalkan muka.

Maggie menghela napas panjang seakan aku adalah beban terberat yang tidak seharusnya ia tanggung selama bekerja di sini.

“Kami menolak utang, tapi karena kau jarang datang kemari, dan mengingat bahwa kau baru saja dikerjai, silakan bayar tagihannya besok saja. Jangan berkelit, aku tahu tempat kalian bekerja!”

Jadi, Maggie si Kecut—seperti akhir tak terduga dari sebuah film misteri—membebaskanku hari ini, yah, hanya hari ini, karena aku harus kembali besok untuk membayar tagihan dari makanan yang bahkan tidak kunikmati seluruhnya.

Lain kali aku mendekati wanita lajang dengan aksen Inggris saja.

FIN.

Advertisements

4 thoughts on “Bonnie

  1. eng ing eng. twist, yoksi! bacain tentang wilmer yang cuma denger doang kalo temennya lagi drooling over some hottie somehow bikin aku related haha. jadi kasian sama wilmer udah gapunya duit pake acara ilang muka juga 😂 seng sabar mas ayuk kerja yg semangat. btw kalo gini bisa-bisa bonnie miller jadi adik ipar HAHAHAHA yes good kakeci kusuka 💟💟💟

    Like

    1. aksen Bonnie sama kayak aksen Maggie, thats why keduanya menunjukkan indikasi satu sama lain. wilmer berasa pernah denger aksennya bonnie karena pernah bicara sama maggie (which dia ga sadar bahwa mereka punya aksen yang sama soalnya dia terpesona sama bonnienya sendiri). makanya pas maggie balik, dia baru sadar bahwa kedua perempuan itu aksennya sama, assuming ini restorannya bukan di atlanta, georgia, jadi aksennya beda.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s